UPAY KARISM ST. CAR PENAN Progr YA PENGE MA BUNDA ROLUS BOR NAMAN NI SMA S Di ram Studi I P KEKH FAKUL EMBANGA A ELISABE RROMEU ILAI DALA TELLA DU iajukan untu Memperole lmu Pendid PROGRAM HUSUSAN JURUS LTAS KEG UNIVERS Y AN PEMAH ETH PADA US, AGAR M AM PEND UCE I SUP SKRIP uk Memenu eh Gelar Sa dikan Kekhu Oleh Maria Nga NIM: 0711 M STUDI IL PENDIDIK SAN ILMU GURUAN D SITAS SAN YOGYAKA 2011 HAMAN D A SUSTER MEREKA DAMPINGA PADI, YOG PSI uhi Salah Sa arjana Pendi ususan Pend h atmini 24007 LMU PEN KAN AGA U PENDIDI DAN ILMU NATA DHA ARTA 1 DAN PENG R-SUSTER MAMPU M AN REMA GYAKART atu Syarat idikan didikan Aga DIDIKAN AMA KATO IKAN U PENDID ARMA GHAYATAN CINTAKA MELAKUK AJA ASRAM TA. ama Katolik OLIK DIKAN N ASIH KAN MA k
iv
P E R S E M B A H A N
Dengan penuh syukur dan pujian skripsi ini kupersembahkan kepada Para Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus (CB) Provinsi Indonesia
v
M O T T O
“Hatiku bernyala-nyala karena cinta buatlah aku cakab dalam pengabdian-Mu tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja, pun juga
bagi keselamatan sesama manusia” (EG. 39)
viii
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul UPAYA PENGEMBANGAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN KARISMA BUNDA ELISABETH PADA SUSTER-SUSTER CINTA KASIH ST. CAROLUS BORROMEUS AGAR MEREKA MAMPU MELAKUKAN PENANAMAN NILAI DALAM PENDAMPINGAN REMAJA ASRAMA SMA STELLA DUCE 1 SUPADI, YOGYAKARTA.
Penulisan skripsi ini berlatar belakang karya pelayanan para Suster CB yang terlibat dalam pendampingan remaja asrama di SMA Stella Duce 1 Supadi, Yogyakarta dan perkembangan jaman yang semakin berpengaruh dalam setiap aspek kehidupan warga masyarakat, termasuk juga remaja asrama yang sedang dalam proses pencarian jati diri.
Untuk menanggapi situasi tersebut di atas, penulis melihat pentingnya pendampingan bagi remaja ini. Pendampingan yang mau diangkat dalam skripsi ini ialah pendampingan penanaman nilai yang berinspirasikan pada karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi CB.
Untuk itu penulis mengadakan studi pustaka tentang karisma Bunda Elisabeth dan pendampingan dengan penanaman nilai. Penulis juga melakukan wawancara untuk mengetahui sejauh mana para suster CB yang terlibat dalam karya pelayanan pendampingan remaja asrama ini disemangati oleh karisma Bunda Elisabeth. Selain itu wawancara ini juga untuk mengetahui sejauh mana pendampingan penanaman nilai terhadap remaja sudah berjalan.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa mereka sudah disemangati oleh karisma Bunda Elisabeth, namun masih perlu ditingkatkan. Mereka juga berharap, pendampingan penanaman nilai dapat membantu remaja bertumbuh dan berkembang dalam kualitas hidup khususnya dalam menghadapi tantangan jaman ini.
Untuk menindaklanjuti hasil wawancara tersebut, penulis mengusulkan evaluasi kritis atas kegiatan yang dilaksanakan. Dari evaluasi ini diketahui hal-hal yang belum berkembang serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama proses pendampingan. Selanjutnya penulis mengadakan program bina lanjut pendampingan guna mengembangkan pemahaman dan penghayatan karisma Bunda Elisabeth pada Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus agar mereka semakin mampu melakukan penanaman nilai dalam pendampingan remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta.
Penulis menyarankan, hendaknya para suster di dalam mendampingi remaja asrama SMA Stella Duce I menggunakan penanaman nilai, peka, berani hadir untuk memberi kesaksian hidup yang sejujur-jujurnya melalui sikap, kata dan perbuatan. Para suster hendaknya setia menggali semangat karisma Bunda Elisabeth dalam bina lanjut yang dilaksanakan oleh kongregasi secara terprogram dan terencana serta membaca secara pribadi buku-buku pendalaman spiritualitas Bunda Elisabeth, pendiri Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus.
ix ABSTRACT
This thesis has the title THE EFFORT ON DEVELOPING APPROPRIATION AND COMPREHENSION OF MOTHER ELISABETH’S CHARISMA ON COMPASSIONATE NUNS OF CAROLUS BOROMEUS CONGREGATION IN ORDER FOR THEM TO BE ABLE TO CONDUCT VALUE CULTIVATION IN THE GUIDANCE OF DORMITORY ADOLESCENTS OF STELLA DUCE 1 HIGH SCHOOL SUPADI, YOGYAKARTA.
The writing of this thesis has the backgrounds on the service work of Carolus Boromeus Nuns who are involved in adolescents guidance in Stella Duce 1 High School and on the growth of this era which gives much more influence on the every community’s aspects of life, including the dormitory adolescents who are in the process of searching for their true self.
To respond on the situation above, the writer of this thesis sees the importance of a guidance for those adolescents. The guidance going to be discussed in this thesis is the value cultivation which is inspired by the charisma of Mother Elisabeth, the founding of Carolus Boromeus Congregation.
It is for that purpose that the writer of this thesis conduct a literature research on Mother Elisabeth’s charisma and on value cultivation. The writer also conduct interviews to find out how far the Carolus Boromeus Nuns who are involved in this working service of dormitory adolescents guidance are inspirited by the charisma of Mother Elisabeth. On the other hard, the interviews are made to find out how far the value cultivation on the adolescents has taken place.
The result of the interviews shows that they have been inspirited by Mother Elisabeth’s charisma, but still need improvement. They also hope that value cultivation can help the adolescents to grow and develop in their quality of life especially in dealing with the challenges of this era.
Following up the result of the interviews, the writer suggests to conduct critical evaluation on the programme that has been carried out. The evaluation has discovered things that has not improved, also the difficulties that have been faced during the guidance process. Then the writer conducts advance construction program to improve the understanding and comprehension on Mother Elisabeth’s Charisma on Compassionate Nuns of Carolus Boromeus so that they are more able to apply value cultivation on dormitory adolescents of Stella Duce 1 High School, Supadi, Yogyakarta.
As the suggestion, in guiding the dormitory adolescents of Stella Duce 1 High School, the nuns are supposed to apply value cultivation, be sensitive, be courageous to present to give honest life witness through their attitudes, speeches, and conducts, be faithful to discover the spirits of Mother Elisabeth’s charisma in a programmed and planned advance development which is carried out by the congregation, and personally read books on the spirituality of Mother Elisabeth, the founding of Compassionate Nuns of Saint Carolus Boromeus.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah yang Mahakuasa atas berkat dan rahmat-Nya yang berlimpah kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul UPAYA PENGEMBANGAN PEMAHAMAN DAN
PENGHAYATAN KARISMA BUNDA ELISABETH PADA SUSTER-SUSTER CINTAKASIH ST. CAROLUS BORROMEUS, AGAR MEREKA MAMPU MELAKUKAN PENANAMAN NILAI DALAM PENDAMPINGAN REMAJA ASRAMA SMA STELLA DUCE I SUPADI, YOGYAKARTA.
Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan dan upaya penulis sebagai seorang anggota Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus terhadap kemampuan memberi pendampingan dengan penanaman nilai bagi remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk membantu para suster pendamping asrama dalam upaya pengembangan pemahaman dan penghayatan karisma Bunda Elisabeth pada Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus, agar mereka mampu melakukan penanaman nilai dalam pendampingan remaja asrama
Penulisan skripsi ini dibantu dan didukung oleh banyak pihak. Oleh karena itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Drs. H.J. Suhardiyanto, S.J., selaku dosen pembimbing utama, yang telah meluangkan waktu, penuh kesabaran dan keterbukaan hati mendampingi dan membimbing penulis, memberikan sumbangan pemikiran yang memperdalam
xi
penulisan serta kritikan yang membangun sehingga memotivasi penulis menuangkan ide dalam penulisan skripsi ini.
2. Dra. Y. Supriyati, M. Pd., selaku dosen pembimbing akademik atau dosen wali, yang dengan penuh kesetiaan mendampingi penulis dari awal studi sampai penyelesaian penulisan skripsi ini.
3. Y. Kristianto, SFK., M. Pd., selaku dosen pembimbing kedua, yang telah mendampingi dan memberikan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
4. Segenap Staf Dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah membimbing serta membekali pengetahuan dan keterampilan bagi penulis selama studi hingga penulisan skripsi ini diselesaikan.
5. Sr. Carolina Nuryati, CB., selaku Pimpinan Provinsi Kongregasi CB, yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk menimba ilmu di prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 6. Sr. Krispiani Sukarwanti, CB., selaku pendamping suster studi, yang setia
mendukung serta memberi motivasi dan usul saran kepada penulis hingga penulisan ini diselesaikan.
7. Sr. Elsa Maryudah, CB., selaku Ketua Yayasan Tarakanita Pusat, yang telah memberikan kesempatan dan memberi fasilitas kepada penulis selama masa studi.
8. Dra. Sr. Surani, CB., selaku Kepala Kantor Yayasan Tarakanita Kantor Wilayah Yogyakarta, yang telah mendampingi dan memberi fasilitas kepada penulis selama masa studi.
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xix
BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 7 C. Tujuan Penulisan ... 8 D. Manfaat Penulisan ... 8 E. Metode Penulisan ... 9 F. Sistematika Penulisan ... 9
BAB II. KARISMA BUNDA ELISABETH PENDIRI KONGREGASI SUSTER-SUSTER CINTA KASIH ST. CAROLUS BORROMEUS DAN PENANAMAN NILAI DALAM PENDAMPINGAN REMAJA ... 12
A. Karisma Bunda Elisabeth Pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus ... 12
1. Sejarah Pendiri Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus ... 12
xiv
3. Karisma Kongregasi CB ... 17
a. Arti Karisma ... 17
b. Karisma CB ... 18
c. Memahami Karisma Bunda Elisabeth ... 22
d. Butir-Butir Karisma Bunda Elisabeth, Pendiri Kongregasi CB ... 22
1) Hidup rohani Bunda Elisabeth Gruyters ... 22
2) Keterbukaan hati Bunda Elisabeth Gruyters ... 24
3) Bunda Elisabeth Gruyters memiliki iman yang dalam ... 25
4) Kesetiaan Bunda Elisabeth Gruyters dalam doa ... 26
5) Pengharapan Bunda Elisabeth Gruyters tak kunjung henti ... 28
6) Cinta yang bernyala dalam diri Bunda Elisabeth ... 29
7) Pengalaman Bunda Elisabeth Gruyters akan Salib ... 31
8) Salib Kristus menyentuh hati Bunda Elisabeth untuk berbelarasa ... 31
9) Panggilan Bunda Elisabeth Gruyters kepada mereka yang lemah miskin dan menderita ... 33
10) Memuliakan Tuhan ... 35
B. Penanaman Nilai dalam Pendampingan Remaja ... 37
1. Gambaran Remaja ... 37
a. Remaja pada umumnya ... 37
b. Perkembangan remaja ... 38
c. Permasalahan remaja ... 39
d. Minat remaja ... 40
xv
2. Pendampingan Remaja ... 45
a. Pengertian pendampingan secara umum ... 45
b. Pendampingan remaja ... 46
c. Prinsip-prinsip pendampingan ... 46
3. Penanaman Nilai ... 47
a. Pengertian penanaman nilai ... 47
b. Pengertian tentang nilai ... 48
c. Pokok-pokok yang harus dimiliki oleh pendamping dalam penanaman nilai ... 50
d. Proses penanaman nilai ... 52
e. Pendekatan-pendekatan dalam penanaman nilai ... 53
4. Butir-Butir Karisma Bunda Elisabeth, Inspirasi dalam Penanaman Nilai ... 63
a. Penanaman nilai melalui keteladanan hidup Bunda Elisabeth ... 63
1) Iman yang dalam ... 63
2) Keterbukaan hatinya pada Allah ... 64
3) Cinta kasih tanpa syarat dan berbelarasa ... 65
4) Relaberkorban dan melayani sesama dengan tulus ... 66
5) Membangun keharmonisan ... 66
6) Memiliki kemauan untuk maju berkembang ... 67
7) Memiliki daya juang ... 67
8) Kepemimpinan Bunda Elisabeth ... 68
9) Melayani dengan hati ... 68
b. Penanaman Nilai oleh Bunda Elisabeth melalui Pembiasaan Hidup ... 69
C. Visi dan Misi Kongregasi CB dan Implikasinya ... 70
1. Visi Kongregasi CB ... 70
2. Misi Kongregasi CB ... 72
xvi
D. Pembentukan Kualitas Hidup di Asrama ... 75
1. Akar ... 75
2. Sayap ... 76
BAB III. PENELITIAN DAN EVALUSAI KRITIS PERAN PENDAMPING DALAM PENDAMPINGAN PENANAMAN NILAI BAGI REMAJA ASRAMA SMA STELLA DUCE I SUPADI, YOGYAKARTA ... 78
A. Asrama SMA Stella Duce I Supadi Yogyakarta ... 78
B. Penelitian Pendampingan Penanaman Nilai pada Pendamping Remaja Asrama SMA Stella Duce I Supadi Yogyakarta ... 80 1. Pendahuluan ... 80 a. Latar belakang ... 80 b. Permasalahan penelitian ... 81 c. Tujuan penelitian ... 82 d. Manfaat penelitian ... 83 2. Metodologi penelitian ... 83 a. Pendekatan penelitian ... 83 b. Tempat penelitian ... 83 c. Responden penelitian ... 84
d. Tekhnik pengumpulan data dan instrumen penelitian .... 84
e. Teknik analisa data ... 85
f. Keabsahan data ... 86
3. Laporan Hasil Penelitian ... 86
4. Pembahasan Hasil Penelitian ... 102
a. Proses pelaksanaan pendampingan penanaman nilai oleh para suster CB bagi remaja di asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta ... 102
b. Kesulitan yang dihadapi dalam pendampingan penanaman nilai remaja di asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta ... 104
xvii
c. Manfaat yang di peroleh dalam pendampingan penanaman nilai bagi remaja asrama SMA
Stella Duce I Supadi, Yogyakarta ... 105
d. Penanaman nilai dalam pendampingan bagi remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta ... 106
5. Kesimpulan ... 107
C. Evaluasi Kritis Terhadap Pendampingan Penanaman Nilai pada Pendamping Remaja Asrama SMA Stella Duce I Supadi Yogyakarta ... 108
1. Pelaksanaan Pendampingan Penanaman Nilai ... 108
a. Hal-hal yang sudah baik ... 108
b. Hal-hal yang masih kurang dan perlu ditingkatkan ... 110
2. Peran Pendampingan dalam Pendampingan Penanaman Nilai ... 112
3. Pelayanan Para Suster dalam Pendampingan Penanaman Nilai Disemangati oleh Karisma Bunda Elisabeth ... 117
BAB IV. USULAN PROGRAM BINA LANJUT SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENGEMBANGAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN KARISMA BUNDA ELISABETH PADA SUSTER-SUSTER CINTAKASIH ST.CAROLUS BORROMEUS, AGAR MEREKA SEMAKIN TERINSPIRASI PENANAMAN NILAI SEHINGGA MAMPU LEBIH EFEKTIF MENJADI PENDAMPING REMAJA ASRAMA SMA STELLA DUCE I SUPADI, YOGYAKARTA ... 119
A. Latar Belakang Pemilihan Program Bina Lanjut ... 120
B. Alasan Pemilihan Tema Program Bina Lanjut ... 122
C. Rumusan Tema dan Tujuan Tema Program Bina Lanjut ... 123
D. Penjabaran Tema Program Bina Lanjut ... 130
E. Contoh Satuan Pertemuan Bina Lanjut ... 131
F.. Evaluasi Program Bina Lanjut Pendamping Asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta ... 174
xviii BAB V. PENUTUP ... 176 A. Kesimpulan ... 176 B. Saran ... 178 DAFTAR PUSTAKA ... 181 LAMPIRAN Lampiran 1: Pedoman observasi ... (1)
Lampiran 2: Pedoman wawancara ... (4)
Lampiran 3: Deskripsi Hasil Wawancara Para Suster CB pendamping asrama SMA Stella Duce I Supadi Yogyakarta ... (6)
a. Hasil wawancara dengan Sr. Wilhelmi, CB ... (6)
b. Hasil wawancara dengan Sr. Trisiani, CB ... (10)
c. Hasil wawancara dengan Ibu Emi ... (14)
d. Hasil wawancara dengan Sr. Anunsita, CB ... (18)
Lampiran 4: Lagu Bunda Elisabeth... (22)
Lampiran 5: Evaluasi program bina lanjut pendamping asrama SMA Stella Duce 1 Supadi, Yogyakarta ... (23)
Lampiran 6: Gambar Pendiri Kongregasi dan karya kerasulan Yang pertama di Belanda ... (25)
xix
DAFTAR SINGKATAN
ARDAS KAS : Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang. ART : Artikel
ASPI : Asrama Putri CB : Carolus Borromeus
DIR : Direktorium Kateketik Umum Dr : Doktor
EG : Elisabeth Gruyters, Pendiri Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus
Hal : Halaman
IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi KS : Kitab Suci
Konst : Konstitusi Dokumen Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus
KV II : Konsili Vatikan II LCD : Liquid Crystal Display
LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili
Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964. Luk : Lukas
Mzm : Mazmur
PC : Perfecte Carietatif, Ensklik Paus Yohanes Paulus II
tentang tugas perutusan penebus, 1992. Prof : Profesor
xx Rom : Roma
SJ : Serikat Jesus
SMA : Sekolah Menengah Atas Sr : Suster St : Santo Yes : Yesaya Yoh : Yohanes 1 Kor : 1 Korentus 2 Kor : 2 Korentus 1 Yoh : 1 Yohanes
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era globalisasi merambah kehidupan manusia dengan begitu cepat. Perubahan yang berdampak pada semua sisi kehidupan manusia nyaris tak terkendali, tidak terkecuali pada semua orang dari usia muda sampai tua pada sikap dan perbuatannya. Sementara dunia berubah dengan cepatnya, banyak orang yang kurang siap untuk menghadapi dan mengambil sikap terhadap arus tersebut. Mereka semakin mabuk dengan kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia sehingga semakin kuatlah sikap individualis dan semakin kurang memperhatikan sesamanya. Lebih parah lagi, tidak sedikit orang semakin acuh tak acuh dengan sesamanya dan tidak peduli pada nilai-nilai persaudaraan, cintakasih, kedisiplinan, kejujuran, kerjasama, tanggung jawab. Dunia yang carut marut seperti ini membuat banyak orang tua kawatir akan perkembangan hidup anak-anaknya yang mulai menginjak masa remaja.
Anak-anak masih memiliki masa depan yang harus dikejar. Maka dari itu demi perkembangan hidup dan masa depan anak, orang tua mengupayakan pendidikan anak dengan menyekolahkan di sekolah yang berkualitas. Selain sekolah yang berkualitas, orang tua juga memikirkan tempat tinggal bagi anak mereka yaitu sekolah yang memiliki asrama. Asrama putri “Stella Duce” adalah asrama pelajar SMA Stella Duce Yogyakarta yang didirikan oleh suster-suster cinta kasih St. Carolus Borromeus (CB) dengan dasar pendidikan agama Katolik.
Adapun tujuan asrama adalah mendampingi para warga untuk mencapai kepribadian yang utuh, mampu menghayati iman Kristiani, cinta dan menghargai martabat pribadi manusia, mandiri serta tanggap terhadap kebutuhan sesama dan lingkungan sekitarnya (Asrama Putri “Stella Duce”. 1999: 1).
Ada begitu banyak alasan mengapa orang tua memilih asrama sebagai tempat tinggal akhir bagi anak-anaknya yang memasuki usia remaja. Alasan itu bersifat pribadi dan umum. Alasan pribadi antara lain karena situasi ekonomi keluarga yang menuntut kedua orang tua harus bekerja mencari uang dari pagi hingga malam. Mereka kurang memiliki waktu untuk memperhatikan dan membimbing anaknya secara lebih intensif dalam hal belajar. Dengan tinggal di asrama, orang tua berharap bahwa anak mereka lebih aman dan terhindar dari pergaulan bebas. Pergaulan bebas disebabkan antara lain oleh pengaruh dari perkembangan iptek dan media massa, sehingga sebagai akibatnya anak ingin selalu mencoba-coba, misalnya masuk ke dalam pergaulan seks bebas, menggunakan obat terlarang, menghisap sabu-sabu, pergi ketempat-tempat hiburan yang memberi kenikmatan sesaat, mengikuti gaya hidup dengan penampilan yang “wah”. Dengan mengikuti pergaulan bebas mereka tidak ada waktu lagi untuk belajar secara lebih serius sehingga berdampak tidak baik untuk anak. Pergaulan bebas inilah yang menjadi kekuatiran dan permasalahan bagi banyak orang tua pada umumnya.
Dari kenyataan hidup dan tinggal di asrama bersama dengan teman yang berasal dari daerah dan budaya yang berbeda, anak remaja kerap dihadapkan dengan berbagai macam kesulitan. Kesulitan yang muncul dari dalam diri mereka
sendiri antara lain mereka kurang mampu untuk menata diri yang mengakibatkan anak menjadi egois dan cepat emosi, sulit terbuka, sulit rendah hati, sulit memahami teman lain, tingkat kesadaran akan tanggungjawabnya masih rendah, dan sering kali membesar-besarkan masalah.
Dalam pendampingan pada kenyataannya anak remaja membutuhkan figur pendamping yang mampu memberi keteladanan dan memiliki hati. Hati yang berkobar untuk memberi pelayanan dengan tetap memperhatikan pokok-pokok pendampingan penanaman nilai yaitu memiliki pengetahuan yang memadai, mengetahui setiap perubahan irama anak, memiliki kesabaran, ketulusan hati, kerendahan hati, keberanian, kepercayaan, tanggung jawab, mampu memberi pengharapan dan mempersatukan anak.
Mengingat latar belakang keluarga, perbedaan suku, budaya dan agama, maka sangat pentinglah mereka mendapatkan figur pendamping yang memiliki kualitas nilai yang dapat membawa mereka pada suatu sikap dan kesadaran untuk tidak hanya mendengar dan memahami tentang penanaman nilai dalam ranah kognitif saja tetapi benar-benar mengalaminya dalam berbagai tingkatan dan menjadikan nilai-nilai tersebut bagian dari hidup mereka serta mampu mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Anak remaja zaman sekarang perlu melihat efek-efek perilaku dan pilihan-pilihan mereka serta mampu mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan yang sadar akan lingkungan. Dengan demikian nantinya mereka akan membawa serta nilai-nilai tersebut, tidak hanya dalam kehidupan pribadi mereka sebagai anak remaja saja melainkan juga ke dalam masyarakat yang lebih luas, sehingga sangat pentinglah
mereka untuk memiliki figur yang dapat memberikan inspirasi penanaman nilai sekaligus contoh sikap teladan hidup dan pembiasaan yang memiliki keutamaan nilai hidup. Dengan pendampingan pendekatan penanaman nilai yang benar disertai sikap hidup yang berkualitas dari para pendamping, diharapkan dari hari ke hari anak remaja yang tinggal di asrama semakin dapat memaknai dan menjunjung nilai-nilai kehidupan.
Fenomena anak asrama menjadi perhatian tersendiri bagi para Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus, khususnya pada mereka yang tinggal di asrama. Dilandasi semangat pendiri, Bunda Elisabeth Gruyters yang selalu ingin membantu sesama yang menderita dan miskin, maka para suster Carolus Borromeus (CB) Provinsi Jawa bergerak mendampingi remaja asrama. Hal ini dipertegas lagi dalam Kapitel umum dan kapitel provinsi 1999 “ Perutusan kita sebagai religius dalam Gereja dan masyarakat pada abad ke – 21”, bahwa tujuan Kongregasi adalah berdaya upaya dengan segenap hati, agar Tuhan dimuliakan dengan menguduskan diri serta melaksanakan berbagai karya bakti untuk membantu sesama yang mengalami kesesakan hidup dan yang berkekurangan (Konst. Hal.7).
Kerasulan yang dilaksanakan oleh Kongregasi merupakan upaya Kongregasi untuk terlibat secara langsung dengan dunia yang saat ini sedang terluka akibat kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, dan ingin memperjuangkan kehidupan sesuai dengan martabat manusia. Maka diharapkan para suster CB semakin tanggap dengan kebutuhan akan pelayanan dan mampu bekerjasama dengan mitra kerasulan supaya dapat merefleksikan dan mendalami Kharisma,
Visi, Misi Kongregasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, bahwa pada dasarnya hidup religius merupakan panggilan terhadap pelayanan kerasulan, karena itu Konsili meminta agar setiap religius dalam hidupnya diresapi oleh semangat merasul (PC. Art. 8).
Bersemangatkan karisma Bunda Elisabeth, yaitu cinta tanpa syarat dan berbelarasa dari Yesus Kristus yang Tersalib, para suster CB yang berkarya dalam pendampingan remaja asrama berupaya melakukan pendampingan dengan penanaman nilai, mencintai tanpa syarat dan total melalui keteladanan dan pembiasaan kepada remaja yang didampingi.
Kerinduan Bunda Elisabeth akan sebuah biara, di mana Tuhan diabdi tulus sempurna mewujudkan berdirinya Kongregasi. Kerinduan itu juga disertai dengan kerinduan dan usaha untuk berkarya dan melayani mereka yang miskin, menderita dan terlantar. Kesediaan melayani kaum miskin, adalah salah satu karisma yang ada pada Bunda Elisabeth. Karisma merupakan anugerah Roh yang menjadi daya penggerak untuk mengabdi, tetapi juga menjadi daya kekuatan hidup (Pendalaman konstitusi. 2006: 12).
Kongregasi menyadari panggilan sebagai pengikut Bunda Elisabeth yaitu panggilan untuk melayani mereka yang miskin, lemah, dan menderita. Inilah jiwa merasul dari Bunda Elisabeth yang diwariskan pada pengikutnya. Dengan pernyataan dan kesadaran itu Kongregasi telah memilih untuk setia pada panggilan dan tujuan semula berdirinya Kongregasi ini. Demikianlah hal itu semakin ditegaskan dengan apa yang tertulis dalam konstitusi“ dalam menjawab tantangan Zaman, dengan kegembiraan dan kesederhanaan kita mengabdi sesama
terutama mereka yang mengalami kesesakan hidup. Dengan keyakinan teguh bahwa Kristus Sang Tersalib memanggil kita melalui mereka, kita rela berbagi harta rohani dan jasmani dengan mereka” (Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus, 1856, art. 3).
Kaum miskin, lemah dan menderita dijaman ini tidak terbatas pada mereka yang secara fisik mengalami kemiskinan dan penderitaan, namun juga kemiskinan dan penderitaan mental dan rohani. Dalam hal ini termasuk diantaranya adalah remaja asrama yang membutuhkan figur pendamping yang mampu memberi pendekatan dalam penanaman nilai dengan teladan dan pembiasaan hidup yang memiliki nilai.
Pelayanan penanaman nilai dalam pendampingan terhadap remaja asrama membutuhkan kepekaan, keteladanan, dan pembiasaan. Sebagai putri-putri bunda Elisabeth, para suster ditantang untuk menjadi saksi hidup yang berkualitas dengan keutamaan-keutamaan nilai di jaman ini. Dalam tantangan jaman ini kadang api semangat pelayanan para suster mulai redup. Banyak faktor yang menyebabkan meredupnya api semangat tersebut antara lain para suster yang terjun dalam pendampingan asrama banyak merangkap tugas baik di komunitas atau tempat karya sehingga kurang konsentrasi pada karya yang digeluti, kurangnya tenaga terlatih untuk bidang pelayanan tersebut. Hal ini perlu ditinjau kembali sejauh mana Karisma Bunda Elisabeth Kongregasi Suster-suster Cinta kasih St. Carolus Borromeus menjadi inspirasi yang mampu menyemangati para suster dalam tugas pelayanan pendampingan penanaman nilai terhadap remaja asrama. Untuk tetap mampu menjaga nyala api semangat bunda Elisabeth tersebut
maka setiap saat perlu upaya pengembangan dan penghayatan kembali Karisma Bunda Elisabeth yang termuat dalam Konstitusi Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus.
Dengan melihat kenyataan dan pemikiran di atas, maka penulis memilih judul skripsi:
UPAYA PENGEMBANGAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN KARISMA BUNDA ELISABETH PADA SUSTER-SUSTER CINTAKASIH ST. CAROLUS BORROMEUS, AGAR MEREKA MAMPU MELAKUKAN PENANAMAN NILAI DALAM PENDAMPINGAN REMAJA ASRAMA SMA STELLA DUCE I SUPADI, YOGYAKARTA.
Penulis berharap, skripsi ini dapat bermanfaat untuk membantu para suster CB dan tim pendamping asrama untuk semakin bersemangat dan berkualitas dalam pelayanan mereka mendampingi remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus?
2. Apa yang dimaksud dengan penanaman nilai?
3. Butir-butir manakah dari karisma Bunda Elisabeth yang cocok sebagai inspirasi pelayanan pendampingan remaja yang memakai penanaman nilai?
4. Pokok-pokok penanaman nilai untuk mendampingi remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta?
5. Bagaimana proses penanaman nilai ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan tentang karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta kasih St. Carolus Borromeus.
2. Mendeskripsikan tentang penanaman nilai.
3. Mendeskripsikan butir-butir karisma Bunda Elisabeth yang cocok sebagai inspirasi pelayanan pendampingan remaja yang memakai penanaman nilai. 4. Mendeskripsikan pokok-pokok penanaman nilai untuk mendampingi remaja
asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta. 5. Mendeskripsikan proses penanaman nilai.
D. Manfaat Penulisan
1. Tersedianya sumbangan inspirasi bagi para suster CB serta tim pendamping asrama dalam pendampingan remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi Yogyakarta melalui pendekatan penanaman nilai.
2. Penulis bertambah wawasan dan pengetahuan dalam pelayanan pendampingan remaja, khususnya dalam pemakaian penanaman nilai kepada remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta.
3. Tersedianya bahan yang bisa memotivasi para suster CB untuk semakin bersemangat dalam pelayanan pendampingan remaja yang memakai
penanaman nilai yang berakar pada karisma Elisabeth pendiri Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif analitis. Maksud dari metode ini adalah penulisan yang dilakukan berdasar kajian teori yang ada, disertai dengan analisis-analisis atas permasalahan yang sedang dibahas. Penulisan ini juga disertai penelitian melalui wawancara untuk mendapatkan sejauh mana melakukan pelayanan pendampingan penanaman nilai pada remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta.
F. Sistematika Penulisan
Judul skripsi yang dipilih penulis adalah “Upaya pengembangan pemahaman dan penghayatan karisma Bunda Elisabeth pada Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus, agar mereka mampu melakukan penanaman nilai dalam pendampingan remaja asrama SMA Stella Duce I Supadi, Yogyakarta.” Judul ini penulis bahas dalam lima bab, yang akan diuraikan sebagai berikut:
BAB I : Berisi pendahuluan yang meliputi: Latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II : Berisi karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi Suster-suster
Cintakasih St. Carolus Borromeus, penanaman nilai dalam pendampingan remaja dan visi misi Kongregasi CB serta implikasinya. Karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta kasih St. Carolus Borromeus meliputi: sejarah kehidupan pendiri Kongregasi CB, identitas Kongregasi CB, karisma Kongregasi CB, butir-butir karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi CB. Sedangkan penanaman nilai dalam pendampingan remaja meliputi: pertama gambaran remaja, remaja pada umumnya, perkembangan remaja, permasalahan remaja, minat remaja dan potensi remaja, kedua, pengertian pendampingan secara umum, pendampingan remaja, dan prinsip-prinsip pendampingan remaja, ketiga, penanaman nilai meliputi pengertian penanaman nilai, pengertian tentang nilai, pokok-pokok yang harus ada dalam penanaman nilai dan penanaman nilai dalam pendampingan remaja asrama, keempat, butir-butir karisma Bunda Elisabeth, inspirasi dalam penanaman nilai. Visi dan misi Kongregasi dan implikasinya meliputi visi Kongregasi, misi Kongregasi, implikasi visi serta misi Kongregasi CB.
BAB III : Berisi penelitian atas pendekatan penanaman nilai dalam
pendampingan remaja asrama SMA Stella Duce I, Supadi, Yogyakarta serta evaluasi kritis terhadapnya.
BAB IV: Berisi program bina lanjut dan contoh satuan-satuan pendampingan bagi
penanaman nilai dalam pendampingan remaja asrama SMA Stella Duce I, Supadi, Yogyakarta, yang meliputi program pendampingan dan beberapa contoh satuan persiapan pendampingannya.
BAB V: Adalah penutup yang meliputi kesimpulan dan beberapa saran agar
pendampingan remaja asrama SMA Stella Duce I, Supadi, Yogyakarta dengan penanaman nilai dapat maksimal sesuai dengan Visi dan Misi Kongregasi CB.
BAB II
KARISMA BUNDA ELISABETH
PENDIRI KONGREGASI SUSTER-SUSTER CINTA KASIH ST. CAROLUS BORROMEUS DAN PENANAMAN NILAI
DALAM PENDAMPINGAN REMAJA.
Bab II ini berupa kajian pustaka yang akan penulis uraikan dalam dua bagian. Pertama, tentang Kongregasi CB yang meliputi: Sejarah pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta kasih St. Carolus Borromeus, identitas Kongregasi, karisma Kongregasi CB, butir-butir karisma Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi CB. Kedua, penanaman nilai dalam pendampingan remaja yang meliputi: gambaran remaja, pendampingan remaja, penanaman nilai, visi dan misi Kongregasi CB, implikasinya dan pembentukan kualitas hidup remaja di asrama.
A. Karisma Bunda Elisabeth Pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus
1. Sejarah Pendiri Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus
Elisabeth Gruyters lahir di desa Leut, terletak di pinggir sungai Maas, Provinsi Limburg, Belgia, pada tanggal 1 November 1789. Sebagai anak bendaharawan di puri milik Putri van Mewende Felz, ia tinggal di rumah di samping puri itu. Pada tahun itu pula pecahlah Revolusi Perancis yang menimbulkan gejolak di seluruh Eropa termasuk di Belanda dan Belgia. Revolusi tersebut membawa akibat yang sangat buruk bagi seluruh segi kehidupan, sosial,
politik, ekonomi maupun kehidupan beragama. Selama tiga tahun lebih, Belgia dijadikan tempat jarahan orang-orang Perancis. Pajak yang harus dibayarkan juga sangat tinggi dan dirasa mencekik. Belgiapun jatuh miskin. Banyak orang kelaparan dan mati entah karena kelaparan, penyakit ataupun dibunuh. Rakyat diwajibkan untuk ikut berperang, memperbaiki jalan-jalan yang rusak karena perang. Rakyat pun mulai mengadakan perlawanan bawah tanah, namun kekuatan mereka lemah sehingga tidak sanggup memberi perlawanan yang berarti. Keadaan menjadi semakin kacau. Kejahatan semakin merajalela. Perampokan tidak hanya di rumah-rumah, tetapi juga di jalan. Pembunuhan dan pemerkosaan menjadi hal yang biasa. Bisa dibayangkan betapa buruk kondisi iman mereka. Keputusasaan mulai melanda sebagian rakyat yang tidak berdaya mengatasi situasi penuh penderitaan itu.
Dalam situasi penuh kemelut seperti itulah Elisabeth Gruyters lahir, tumbuh dan berkembang. Di saat orang mulai goyah dan tidak ada harapan, disposisi batinnya justru tumbuh subur. Suasana kacau, penuh penderitaan, suara tangis dan jeritan memilukan yang dilihat dan didengarkan setiap saat membawanya kepada pengalaman Yesus Tersalib yang menderita dan kesepian. Situasi tidak menentu itu menimbulkan ketergantungannya pada Tuhan yang dia yakini tidak pernah meninggalkannya. Demikianlah situasi politik, sosial ekonomi yang buruk telah membentuk pribadinya menjadi seorang perempuan yang tangguh, berani, penuh percaya, berpengharapan, tekun dan setia.
Pada usia 32 tahun (1821), Elisabeth Gruyters meninggalkan Leut, menuju Maastricht, Belanda dengan tujuan mencari pekerjaan. Tindakan serupa juga
dilakukan orang-orang muda lainnya. Setiba di Masstricht, Elisabeth bekerja pada keluarga Nijpels sebagai pengurus rumah tangga. Tuan Nijpels adalah seorang kaya raya dengan empat orang anak yang semuanya tinggal di luar negri. Keluarga tersebut sudah lama meninggalkan kehidupan rohani mereka dan hidup dengan amat sangat duniawi. Nyonya Nijpels sudah lama menderita sakit, sementara Bpk. Nijpels seringkali hanya menghabiskan hartanya untuk berfoya-foya di Paris. Di rumah keluarga Nijpels itulah panggilan Tuhan dalam dirinya semakin kuat. Selain menghabiskan waktunya untuk mengurus rumah beserta merawat Ny. Nijpels yang sakit, pada hari minggu ia sering meluangkan waktunya juga untuk mengunjungi orang-orang sakit di Calvarieberg yang tidak jauh letaknya dari rumah. Di rumah sakit itupun banyak penderitaan orang-orang yang dilihatnya baik penderitaan lahir maupun batin. Elisabeth merasa sungguh prihatin bahwa para penderita di Calvarieberg mengalami bahaya kematian tanpa ada pendampingan rohani dan tidak terurus keselamatan jiwa mereka.
Keprihatinan dijumpai dalam diri orang-orang, baik dalam masyarakat akibat perang dan di rumah keluarga Nijpels yang hidup sangat duniawi serta meninggalkan Tuhan. Para penderita di Calvarieberg yang terancam keselamatan jiwanya membuat ia semakin kuat merasakan panggilan Tuhan untuk ikut serta dalam karya penyelamatan-Nya.
Demi mewujudkan kerinduan hatinya untuk mengabdi dan melayani Tuhan dalam diri orang-orang miskin dan menderita, Tuhan memberikan lebih daripada apa yang dia rindukan. Setelah melalui pergumulan sulit dan perjuangan yang panjang serta melelahkan, ternyata Tuhan justru memilihnya menjadi pendiri
sebuah biara baru pada 29 April 1837 dengan bantuan pastor komisaris Antonius van Baer, seorang deken Gereja St. Servaas, Maastricht. Ia menulis demikian, “Meskipun orang telah membicarakan kami bahwa kami miskin, kota Maastricht telah menjadi kota tertutup sejak enam tahun berselang dan tidak dapat diharapkan adanya perubahan, namun Tuhan memberi kami keberanian untuk mengawali karya ini” (EG. 46).
Dalam proses pengajuan pengakuan dari Roma dan pembuatan konstitusi, Roma meminta Bunda Elisabeth memilih antara menggabungkan diri dengan tarekat yang sudah didirikan oleh St. Vincentius a Paulo atau menerima St. Carolus Borromeus sebagai santo pelindung. Elisabeth memilih yang kedua. Oleh karena itu, nama Kongregasi menjadi Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus.
Elisabeth meninggal pada 26 Juni 1864, dalam usia 75 tahun, setelah seluruh hidupnya diabdikan kepada Tuhan. Semangatnya menjadi inspirasi bagi para pengikutnya untuk mencoba mengikuti jejaknya dan meneruskan semangatnya hingga hari ini yang berinspirasikan, “Mengabdi Tuhan dengan tulus ikhlas dan menyadari bahwa keinginannya itu hanya dapat diwujudkan dengan mengabdi sesama” (EG. 5).
2. Identitas Kongregasi
Gereja dipanggil untuk mewartakan kabar gembira keselamatan dengan membawa seluruh kekayaan cinta penyelamatan dari Tuhan kepada semua umat manusia. Elisabeth Gruyters dipanggil untuk mengambil bagian dalam rencana
keselamatan Tuhan dengan mendirikan Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus. Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus didirikan pada tanggal 29 April 1837 di Maastricht Belanda. Kongregasi ini biasa di singkat CB kependekan dari Santo pelindung yaitu Carolus Borromeus.
Kongregasi CB adalah Kongregasi Internasional yang beranggotakan berbagai suku, etnis, dan bangsa, yang berlatar belakang bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Dalam kebhinekaan itu mereka tetap disatukan oleh Roh Kudus. Roh Kudus cinta Allah Tritunggal. Kongregasi CB berpusat di Maastricht Belanda. Kongregasi CB berkarya di beberapa benua yaitu Afrika, Asia, Eropa dan Amerika, dan beberapa negara yaitu Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Brasilia, Filipina, Indonesia, Indonesia Timur, Kenya, Norwegia, Tanzania, Timor Leste, dan Vietnam.
Kongregasi CB di Indonesia dibagi menjadi dua regio yaitu Provinsi Indonesia berpusat di Jl. Kolombo 19 A, Yogyakarta dan Regio Indonesia Timur berpusat di Kupang. Komunitas CB di Indonesia tersebar di beberapa keuskupan, yaitu keuskupan Palembang, Tanjungkarang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Larantuka, Kupang, dan Sorong, Dengan karya pelayanan di bidang pastoral, pendidikan, kesehatan, karya sosial, maupun pendampingan kaum muda.
3. Karisma Kongregasi CB
Pada bagian ini akan dipaparkan karisma dalam lingkup Gereja Katolik dan secara khusus diuraikan karisma Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus yang dihidupi oleh Elisabeth Gruyters.
a. Arti karisma
Kharisma berarti anugerah khusus Roh Kudus, lebih daripada yang dibutuhkan untuk keselamatan, untuk kepentingan Gereja atau kelompok-kelompok yang selalu dijiwai oleh kasih (1 Kor 13:1). Dalam rangka ini sering dipakai istilah “Pengetahuan yang dianugerahkan” yaitu pengetahuan yang dianugerahkan secara khusus dan cuma-cuma berkat Roh Kudus dalam Gereja (Jacob, 1988; 21-22).
Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Roh Kudus tidak hanya menguduskan dan memimpin umat Allah melalui sakramen-sakramen dan tindakan para pejabat serta menghiasinya dengan keutamaan-keutamaan saja, tetapi Ia membagikan anugerah-anugerah-Nya kepada tiap-tiap orang menurut kehendak-Nya sendiri (1 Kor 12:11) dan kepada kaum beriman dari segala kedudukan dianugerahkanNya rahmat-rahmat istimewa yang menjadikan mereka cakap dan siap untuk membaharui dan membangun Gereja (LG a.12).
Karisma mengandung arti luas dan arti khusus. Karisma dalam arti luas adalah pemberian yang dianugerahkan Allah dengan cuma-cuma, segala pemberian rohani, Roh Kudus, keselamatan dalam diri Yesus Kristus dan kehidupan kekal. Karisma dalam arti khusus adalah pemberian cuma-cuma yang
diterima orang tertentu, sehingga ia mampu, oleh Roh Kudus, melakukan hal-hal yang sesuai dengan kepentingan jemaat. Orang yang menerima karunia khusus Roh Kudus disebut karismatis khusus, misalnya hidup selibat (Jacob, 1980; 25).
Karisma adalah karunia atau kemampuan khusus yang diberikan Allah kepada seseorang atau kelompok untuk memampukan mereka menjadi saluran kasih Allah demi pembangunan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Semua karisma yang diberikan Allah merupakan suatu rahmat besar demi pertumbuhan Gereja. Dalam Katekismus Gereja Katolik no. 2003 dinyatakan bahwa rahmat adalah anugerah Roh Kudus yang membenarkan dan menguduskan umat beriman untuk mengambil bagian dalam karya-karya-Nya serta memampukan orang untuk berkarya demi keselamatan orang lain dan pertumbuhan Gereja. Karisma itu ada untuk pelayanan demi pembangunan Tubuh Kristus (Nota Pastoral Ardas KAS 2011-2015:34).
Karisma adalah daya kekuatan Allah dalam Roh yang memberi kekuatan untuk menjalankan Misi sesuai dengan Visi. Karisma memberikan ciri khas dalam hidup dan dalam menjawab tantangan serta kebutuhan. Karisma merupakan salah satu unsur khas dari kerohanian Kongregasi karena berdasarkan Karisma, Kongregasi memberikan sumbangan khas dalam pelayanan terhadap kemanusiaan dan kehidupan (Karisma, spiritualitas dan perutusan, 2006: 6).
b. Karisma CB
Karisma Kongregasi CB: Cinta tanpa syarat dan berbela rasa dari Yesus Kristus Yang tersalib. Kata Cinta tanpa syarat dan bela rasa mempunyai makna yang hampir sama. Kata cinta tanpa syarat menggambarkan cinta Yesus Kristus yang tanpa batas, cinta yang melulu hanya memberi tanpa memperhitungkan untung dan rugi. Kata bela rasa menggambarkan cinta Yesus Kristus yang sampai memasuki penderitaan manusia. Kedua kata tersebut sama-sama menggambarkan
cinta Yesus Kristus yang merelakan diri-Nya menjadi sama dengan manusia dan wafat di salib demi keselamatan manusia (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 1999. 54).
Perjumpaan dengan Kristus yang menderita dan disalibkan sungguh penting bagi Bunda Elisabeth. Bunda Elisabeth mengalami ketergerakan yang sungguh bersifat mistik mencintai tanpa syarat merupakan suatu gerakan yang berasal dari Tuhan sendiri. Bagi Bunda Elisabeth, perjumpaan dengan Dia yang disalibkan memberi kekuatan, dan menjadikannya mampu untuk berbela rasa dengan mereka yang menderita (EG. 39). Bunda Elisabeth mampu mencintai Tuhan dan sesama tanpa syarat. Pertama-tama ia belajar dari Yesus sendiri sebagai guru dan Tuhan.
“ di rumah yang sama itu, pernah aku memandang salib dengan hati bernyala karena kasihku kepada Tuhan, aku belajar dengan tergagap-gagap mendoakan syair ini:
o…Pencinta hatiku yang manis, berilah aku bagian dalam duka-Mu, semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta, buatlah aku cakap dalam pengabdian-Mu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja,
pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin (EG. 39).
1) O…Pencinta hatiku yang manis
Bunda Elisabeth belajar dengan tergagap-gagap mendaraskan syair itu. Beliau menyadari bahwa dari dirinya sendiri tak akan pernah mampu untuk mencintai Tuhan dan sesama dengan cinta tanpa syarat. Maka, dalam kerendahan hatinya Bunda Elisabeth belajar dari Tuhannya, Yesus tersalib sebagai pencinta hatinya yang manis.
2) Berilah aku bagian dalam duka-Mu
Pengalaman akan “cinta tanpa syarat dari Yesus yang tersalib” yang sedemikian itu menggerakkan hati Bunda Elisabeth. Gerakan hati Bunda Elisabeth mendorongnya untuk memohon kepada Yesus yang tersalib untuk ambil bagian dalam duka Yesus yang tersalib, hal tersebut merupakan perwujudan cinta Bunda Elisabeth kepada Yesus yang telah lebih dulu mencintainya tanpa syarat. Pengalaman akan kasih Yesus yang tak bersyarat, Yesus yang tidak mengingat lagi kelakuannya yang tidak setia di masa lampau dan pengalaman akan Yesus yang telah melupakan dosa-dosanya dimasa lampau menggerakkan Bunda Elisabeth untuk senantiasa belajar akan kasih Yesus yang tulus. Cinta yang bernyala akan Yesus menjadi motivator Bunda Elisabeth untuk melakukan segala sesuatu seperti Yesus melakukan segala sesuatu hanya demi cinta-Nya kepada Bapa-Nya saja (EG. 95).
3) Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta
Pengalaman akan kasih Yesus yang tak bersyarat mendorong Bunda Elisabeth untuk belajar mewujudkan kasihnya pada Yesus dalam suatu pengabdian yang nyata. Kasihnya yang bernyala-nyala tidak hanya berhenti pada konsolasi yang dinikmati dengan perasaan melankolis dan bahasa rohani yang suci saja tetapi berbuah dalam tindakan konkret (EG. 105, 113).
4) Buatlah aku cakap dalam pengabdian-Mu
Pengalaman kasih tak bersyarat dari Yesus yang tersalib membuahkan suatu tindakan pengabdian yang nyata. Pengabdian yang konkret dialami bukan sebagai suatu tuntutan atau rasa hutang budi sehingga harus membalas kasih Yesus. Tetapi justru sebaliknya, pengalaman kasih tanpa syarat membuahkan kerinduan disertai dengan kebebasan serta kebahagiaan batin untuk bertindak secara kreatif dan nyata juga tanpa hitung-hitung (EG. 39).
5) Tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja, pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin
Pengalaman kasih tak bersyarat dan berbelarasa dari Yesus tersalib, menggerakkan hati Bunda Elisabeth untuk tidak hanya berpikir bagi dirinya sendiri tetapi mementingkan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Bunda Elisabeth belajar yang sama dari Yesus yang menomorsatukan misi dan kehendak BapaNya yakni keselamatan manusia: ”Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17).
Seluruh hidup Bunda Elisabeth, hatinya, pikiran-pikirannya, tindakannya, dan perjuangannya diarahkan hanya untuk keselamatan jiwa. Pengalaman cinta tanpa syarat dan berbelarasa dari Yesus tersalib mengubah Bunda Elisabeth, berbuah lebat, dan menggerakkan hati banyak para perempuan untuk mengikuti jejak dan semangatnya (EG. 39).
c. Memahami karisma Bunda Elisabeth
Untuk memahami karisma Bunda Elisabeth secara konkret, penting mengetahui kerinduan-kerinduan beliau melalui buku refleksi pribadi yang ditulisnya. Buku refleksi Bunda Elisabeth melahirkan keprihatinan dan spiritualitas yang bersifat personal. Oleh sebab itu untuk menterjemahkan suatu karisma atau memahami karisma ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
1) Kepribadian pendiri, tabiat pengalaman pribadi. Melalui itu semua biasanya Allah mendidik dan mengarahkan seseorang. Unsur-unsur tersebut menerangi kecenderungan pilihan-pilihan pendiri.
2) Lingkungan, budaya, serta mentalitas zaman yang membentuk dan mengkondisikan hidup dan kerja pendiri dengan pilihan-pilihan sebagai wujud penghayatannya.
3) Menelusuri apa sebenarnya yang diterjemahkan oleh Bunda Elisabeth di dalam spiritualitasnya, demikian juga dengan visinya. Hal-hal inilah yang perlu ditelusuri dengan membaca buku Elisabet Gruyters (EG). Lalu untuk menterjemahkannya sekarang ini, perlu juga memahami mentalitas diri beserta kondisi-kondisi lingkungan hidup karena disinilah yang akan menjadi tempat untuk menghayati karisma (Pendalaman spiritualitas CB. 1994: 17-19).
d. Butir-butir karisma Bunda Elisabeth, pendiri Kongregasi CB
Bunda Elisabeth Gruyters memiliki disposisi batin yang subur. Disposisi batin itu nampak pada sikap hatinya yang terbuka mau bekerjasama dengan rahmat Tuhan untuk mengembangkan diri dalam hidup rohani. Ketekunan untuk mengembangkan dan menumbuhkan hidup rohani dalam dirinya terwujud melalui sikap hati dan tindakan yang mengarah pada kehendak Tuhan. Benarlah apa yang dikatakan dalam Mzm 92:13-16:
Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti aras di Libanon: mereka yang ditanam di Bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. Untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya.
Ungkapan dalam Mazmur ini sangat cocok untuk menggambarkan kehidupan rohani Bunda Elisabeth Gruyters. Bunda Elisabeth Gruyters adalah orang benar yang dipilih Tuhan untuk tumbuh dan bertunasnya benih panggilan Tuhan. Seperti pohon kurma, ia tumbuh subur di pelataran rumah Allah. Pada masa tua ia tetap menghasilkan buah segar dan gemuk, bahkan sampai sekarangpun ia terus berbuah yaitu melalui Kongregasi yang didirikannya. Pewartaan akan Tuhan sebagai gunung batu, yang setia dalam kasihNya berkumandang sampai detik ini lewat kehadiran Kongregasi.
Kesuburan hidup rohani Bunda Elisabeth Gruyters tentu saja tidak lepas dari bimbingan kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Panggilan itu telah ditanam oleh Tuhan sejak kelahirannya dan semasa hidupnya dalam keluarganya yang saleh. Tepatlah perkataan nabi Yesaya “Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku” (Yes:49.1b). Dari dirinya sendiri ia juga senantiasa mengusahakan agar iman yang telah ditaburkan
Tuhan dalam hatinya berkembang dan membawa keselamatan bagi orang lain. Inilah sikap hatinya yang menjadi dasar tertanamnya cinta Ilahi dalam dirinya.
2) Keterbukaan hati Bunda Elisabeth Gruyters
Bunda Elisabeth memiliki hati yang terbuka. Hatinya yang senantiasa terbuka akan kehendak Tuhan ditujukan dalam sikap hidupnya yang konkret dan tidak pernah memaksakan keinginan dirinya. Yang dicarinya melulu hanya kehendak Tuhan, meski kerinduan yang berkobar-kobar mendorongnya untuk mengusahakan segala macam cara lain demi terwujudnya kerinduan itu. Elisabeth tetap bersenang hati dan berharap apabila usaha yang dilakukannya ternyata tidak membuahkan hasil sebagaimana diharapkannya. Hal ini dapat dilihat ketika ia menceritakan kerinduan untuk memasuki sebuah biara kepada pastor van Baer. Ia menceritakan dengan penuh harapan akan mendapat jalan serta peneguhan atas kerinduan yang begitu hebat, mengingat usianya yang sudah cukup berumur (EG. 19). Namun, jawaban dari pastur yang didengar justru mematahkan semangatnya, yaitu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi bagi Elisabeth yang sudah lanjut usia dan pasti akan banyak orang lain yang akan mengajukan permohonan untuk diterima. Mendengar itu beliau menuliskan demikian:
ini kudengarkan dengan tenang hati dan jawab yang kuberikan ialah bahwa aku bersenang hati dengan kehendak Tuhan yang Kudus untuk tetap tinggal di luar biara: bahwa aku selanjutnya tidak akan mengganggu beliau lagi: bahwa aku telah berbuat segala sesuatu yang menurut pendapatku harus kuperbuat untuk memenuhi panggilan Tuhan: bahwa kupikir aku tidak usah menanggung perkara ini di hadapan Tuhan: meskipun demikian, aku akan tetap setia kepada Tuhan dan akan tetap bertekun dalam cintakasihNya sampai mati. Begitulah jawabku (EG. 20).
Keterbukaan hatinya mampu membuat ia berpasrah pada kehendak Allah dan melepaskan apa yang menjadi keinginan dirinya. Sikap lepas bebasnya juga nampak dalam kerelaannya untuk melepaskan segala harta milik (EG. 92) dan keinginan hatinya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Akhirnya, yang menjadi penting dalam hidupnya hanyalah terwujudnya kehendak Allah dalam dirinya dan dalam setiap makhluk. Ia menyerah seutuhnya kepada kehendak Allah (EG.12). Keterbukaan hati yang disertai keyakinan akan Allah inilah yang menjadi lahan subur untuk terus bertumbuhnya cinta serta panggilan Tuhan dalam hatinya. Keterbukaan hatinya dapat dikenali dengan sikapnya yang terbuka pada bimbingan Roh Kudus. Ketika ia pertama kali mendapatkan jawaban dari surga bahwa kerinduannya akan terjadi, ia segera membuka Kitab Kencana Thomas a Kempis (Mengikuti Jejak Kristus) untuk melihat pengalaman itu dalam terang Roh Kudus (EG. 8).
Keterbukaan hati menjadikan Bunda Elisabeth peka untuk menangkap keprihatinan yang terjadi di sekitarnya. Kepekaan yang lahir dari kedekatan relasinya dengan Allah membuat Bunda Elisabeth mampu melihat kehadiran Allah dan keprihatinanNya dalam diri mereka yang menderita. Kepekaan ini yang membuatnya mampu merasakan apa yang dirasakan Allah.
3) Bunda Elisabeth Gruyters memiliki iman yang dalam
Hidup di tengah keluarga yang saleh telah membuat bunda Elisabeth Gruyters menjadi pribadi beriman mendalam. Tentu saja hal itu juga dikarenakan keterbukaan hatinya untuk menerima dan merenungkan sabda Tuhan yang
diterimanya dalam perayaan-perayaan liturgi. Itulah salah satu cara untuk memupuk hidup rohaninya. Kesempatan menghadiri perayaan liturgi di gereja menjadi kesempatan istimewa sebagai wujud dari kehidupan berimannya yang dalam. Terlebih lagi apabila pada perayaan itu Bunda Elisabeth menyambut tubuh Kristus yang disebutnya Tamu Agung. Rasa beriman yang dalam dihidupinya dan terwujud dalam sikap konkrit hidupnya. Untuk melukiskan bagaimana imannya terungkap dalam kecintaannya pada Ekaristi dimana Tuhan sendiri hadir disana, ia menuliskan demikian:
Setelah selesai, kapelan Nijst pergi untuk mengambil Sakramen Mahakudus, dan sementara itu kami mempersiapkan rumah untuk menyongsong Tamu Agung. Kami menyalakan lilin mulai dari pintu depan sampai tempat ibu itu, karena waktu itu malam. Saat itu hatiku bernyala-nyala, aku ingat St. Marta ketika berkata kepada adiknya, Tuhan datang, marilah kita menyiapkan segala sesuatunya (EG. 35).
Kehadiran Kristus yang memberikan tubuh-Nya dalam Ekaristi disambut Elisabeth dengan cinta yang mendalam dan mesra. Peristiwa ini terjadi ketika Elisabeth masih bekerja di rumah keluarga Nijpels. Ia juga menyambut tubuh Kristus sebagai mempelai tercinta. Sambutan ini menunjukkan kecintaan dan relasi yang tulus pada tubuh Kristus.
4) Kesetiaan Bunda Elisabeth Gruyters dalam doa
Kepercayaan Bunda Elisabeth Gruyters akan Tuhan terwujud dalam kesetiaannya untuk senantiasa berdialog dengan Tuhan dan mendengarkan, ia berbicara dalam setiap doa-doanya. Segala peristiwa serta kesulitan yang dihadapinya dibawa dalam doa. Relasinya dengan Tuhan dipupuk dengan
kontemplasi di muka salib Kristus. Kesetiaan untuk hadir di hadapan Tuhan ini menumbuhkan ketenangan dalam hatinya dan mampu melakukan pembedaan roh di tengah segala macam situasi. Sesulit apapun situasi yang dihadapinya ia tidak pernah melarikan diri. Sebaliknya, dalam kepercayaan akan Tuhan ia terus memohon dalam doanya agar diperkenankan menjadi alat-Nya. Banyak tulisannya yang mengisahkan bagaimana ia tak kunjung henti berdoa kepada Tuhan. Kerinduannya agar di Maastricht didirikan sebuah biara diiringi dengan doa yang tak putus-putusnya. Selama enambelas tahun ia berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk kepentingan ini. Kepercayaannya pada kasih Tuhan menumbuhkan rasa percaya diri untuk hadir di hadapan Tuhan, namun Bunda Elisabeth tetap bersikap rendah hati
Seluruh kota Maastricht bergembira bahwa ia bertobat, karena telah bertahun-tahun ia tidak mengaku dosa. Orang berpendapat bahwa kebahagiaan besar ini terjadi karena aku. Aku menjawab bahwa itu mungkin saja, tetapi hanya Tuhanlah yang mengetahui, aku tidak: tetapi aku tak akan menyangkal jika dikatakan bahwa air mata dan doaku telah menggoncangkan surga. Aku ingin berbakti kepada Yesusku dengan berdoa bagi Gereja dan negara, bagi bertobatnya orang berdosa dan jiwa-jiwa yang menderita di api penyucian (EG. 105).
Di lain kesempatan ia berkata “Tuhan, kepada Dikau kuarahkan kerinduanku, dan keluh kesahku tidak tersembunyi bagiMu”(EG. 107). Doa baginya adalah komunikasi mendalam dengan seorang sahabat. Itu sebabnya doa menjadi satu-satunya pegangan hidupnya, karena ia tahu kepada siapa ia percaya. Tuhan menjadi satu-satunya tempat ia sharing, mengeluh dan sekaligus berharap. Semua itu tak lain karena kedekatan relasinya dengan Sang Sumber Cinta melalui Yesus tersalib.
5) Pengharapan Bunda Elisabeth Gruyters tak kunjung henti
Iman yang dalam disertai dengan doa dari relasi yang terus menerus dijalin dengan Tuhan melalui Yesus Tersalib membawa Elisabeth pada pengharapan yang tak kunjung putus. Pengharapan Bunda Elisabeth bersumber pada kepercayaan akan Tuhan yang senantiasa hadir dalam hidupnya. Hal ini membuat Bunda Elisabeth dalam situasi apapun tetap tegar, tenang dalam keseharian hidupnya. Kesetiaannya dalam pengharapan nampak pada kerinduannya yang tak pernah padam selama 16 tahun, yaitu didirikannya sebuah biara di Maastricht. Sambil tetap berpegang pada rahmat Tuhan, penuh ketekunan dan sabar, ia mewujudkan kerinduannya itu. Meskipun nampaknya tak ada harapan, namun bunda Elisabeth Gruyters tetap memohon dalam keyakinan pada Tuhan. Keyakinan akan cinta Tuhan itulah yang menumbuhkan pengharapan teguh dalam dirinya. Ketika orang-orang di sekitarnya mulai putus asa menyaksikan Ny. Nijpels yang semakin parah keadaannya, ia tetap yakin dan penuh harap memohon pada Tuhan. “Dengan iman yang hidup dan cinta yang bernyala-nyala aku berharap bahwa jiwa yang malang ini akan diselamatkan” (EG. 31) demikian ia menuliskan. Ia percaya bahwa Tuhan yang ia imani adalah Tuhan yang tak pernah meninggalkannya, tak membuat kecewa orang yang datang berharap padaNya. Dalam hatinya senantiasa berseru bersama pemazmur bahwa sesungguhnya mata Tuhan senantiasa tertuju kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya (Mzm 33:38).
Ketika hendak memulai Kongregasi ini, banyak orang tidak percaya akan kemampuan Elisabeth, sebab keadaan pada waktu itu memang sangat miskin dan
tidak ada kejelasan. Orang-orang datang bukan untuk memberi dukungan, melainkan mengolok-olok. Namun demikian, Elisabeth tetap teguh berkata: “Harapanku ada pada Tuhan dan tidak seorangpun dapat menggoncangkannya” (EG. 55). Seluruh harapannya diletakkan pada Tuhan dan itu membuatnya merasa cukup kuat untuk mengatasi segala persoalan hidupnya. Bunda Elisabeth Gruyters telah membuktikan bahwa pilihannya untuk mengandalkan diri dan berharap pada Tuhan adalah tepat. Ia juga kiranya menunjukkan kebenaran dari kata-kata pemazmur “lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia” (Mzm. 188:8). Sebab sebagaimana dialami pemazmur “demi nama Tuhan” ia memukul mundur para lawan di sekelilingnya yang mengepung seperti lebah. Bunda Elisabeth Gruyters juga menaruh pengharapannya kepada Tuhan bersama pengharapan para Bapa Bangsa (EG. 2). Inilah yang menjadi senjata rohaninya yaitu kesetiaan dalam iman dan cinta akan Tuhan yang menumbuh kembangkan pengharapan dalam hatinya yang terdalam.
6) Cinta yang bernyala dalam diri Bunda Elisabeth
Pengalaman cinta Allah yang dialami Elisabeth Gruyters menjadi karunia istimewa yang tidak saja mengundang untuk tinggal dalam cintanya. Elisabeth Gruyters mengalami karunia Allah yang senantiasa menjadikan hatinya dipenuhi dengan cinta Ilahi yang bernyala. Pengalaman cinta yang pribadi dan unik menunjukkan adanya kesadaran yang terus menerus dalam dirinya bahwa Allah sanggup mencintai masing-masing pribadi secara khas dan personal. Hal ini
penting bagi perjalanan hidupnya sehingga iapun sampai pada pengalaman paling personal dengan Yesus Tersalib..
Salib dan penderitaan bagi Elisabeth bukanlah suatu akhir, namun dalam salib Kristus senantiasa ada harapan dan kehidupan baru. Demikian Elisabeth pun menemukan makna baru bagi hidupnya dalam kesatuannya dengan sengsara Kristus di salib. Di sinilah perombakan hati dialami bila orang merenungkan cintakasih Yesus Kristus Tersalib. Elisabeth memahami sebagaimana dikatakan oleh St. Paulus bahwa berkat salib Kristus, Allah telah mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri-Nya (2 Kor 5:19). Hal inipun sesuai dengan apa yang diserukan oleh St. Yohanes dalam suratnya yang pertama bahwa berkat salib Kristus, Allah telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yoh 4:10). Pemahaman ini pula yang mendorong Elisabeth berani merentangkan hidupnya dalam penyerahan diri bagi mereka yang menderita. Semua yang dilakukan tidak lain adalah karena cinta. Pengalaman cintanya bersama Kristus Tersalib telah terpatri dalam hatinya dan membuatnya memberi dengan cinta pula, sekalipun harus menderita. Oleh karena cinta pula ia berani memberikan dirinya sebagai kekasih hatinya yang menderita di salib. Cinta Allah menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus tersalib. Demikian pemberian diri Elisabeth bagi mereka yang menderita di sempurnakan oleh karena relasi mendalam dengan Dia yang Tersalib.
7) Pengalaman Bunda Elisabeth Gruyters akan salib
Perjalanan hidup Bunda Elisabeth diwarnai dengan kedekatan relasi dengan Dia Sang Cinta membawa Elisabeth untuk membangun kedekatan tersebut dalam dirinya. Oleh karena itu, hal pertama yang dilakukannya setelah mengalami cinta Allah yang memikat hatinya, ia ikut berjalan bersama Sang Cinta. Perjalanan Bunda Elisabeth Gruyters mengalir dan mengalami puncaknya pada peristiwa salib Kristus. Pengalamannya memandang salib Kristus melahirkan kepekaan akan keprihatinan Allah terhadap keterlukaan dunia yang ia jumpai dalam diri orang-orang menderita di sekitarnya. Keterlukaan orang-orang yang dijumpai telah mencekam hatinya, sehingga ia melihat wajah Kristus yang tersalib dalam diri mereka. Oleh cinta Yesus Tersalib, Elisabeth diubah hidup, hati dan jiwanya. Perjumpaan dengan Yesus Tersalib telah menghantarnya pada puncak cinta dan kerinduannya, serta puncak perjalanan bersama dengan Yesus. Inilah yang memberi inspirasi baginya untuk tidak sekedar mengikuti Dia, tetapi masuk dalam misteri sengsara-Nya dan ambil bagian dalam duka Ilahinya. Pengalaman persatuan itulah yang akhirnya menjadi daya bagi Elisabeth dalam memulai dan mengembangkan Kongregasi ini, sebagaimana kerinduan awalnya akan sebuah biara.
8) Salib Kristus menyentuh hati Bunda Elisabeth untuk berbelarasa
Pengalaman cinta Allah yang secara konkret terwujud dalam derita, wafat dan kebangkitan Yesus telah menyentuh kedalaman hati Bunda Elisabeth masuk dalam kesatuan cinta Allah melalui pribadi Yesus Tersalib. Kesatuan cinta yang
dihayati dan dihidupi oleh Elisabeth Gruyters membuatnya berani sedikit menderita demi cintanya. (EG. 100, 95, 106 dan 117). Kontemplasi di muka salib dan penderitaan orang-orang di sekitarnya melahirkan sebuah doa kepada Dia kekasih hati yang dicintainya.
O...Pencinta hatiku yang manis, berilah aku bagian dalam duka-Mu, semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta, buatlah aku cakap dalam pengabdian-Mu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja, pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin (EG. 39).
Demikianlah sepotong doa yang diucapkan oleh Elisabeth dengan tergagap-gagap dalam renungannya didepan salib Kristus. Kerinduan untuk diikutsertakan dalam duka Kristus Tersalib lahir dari cinta yang menjadi pertemua cinta kasih-Nya terhadap Elisabeth dan jawaban cinta Elisabeth terhadap Dia. (P. Humblet, 1989:35) Kesatuan inilah yang menjadi puncak dari pengalaman pribadi Elisabeth yang bersumber dari pengalaman cinta Yesus Tersalib yang menderita. Oleh karena cinta, Elisabeth membiarkan dirinya diubah oleh cinta yang membakar seluruh dirinya sehingga yang diinginkan tidak lain adalah persatuan dengan Yesus Tersalib, Pencinta dan yang dicintainya ( Kapitel Umum dan kapitel provinsi 1999. 17).
Persatuan dengan Allah yang dialami secara khusus dalam duka Yesus Tersalib membuat Elisabeth dapat merasakan kemabukan Ilahi. Ia tidak hanyut dalam kemabukan cinta Allah tersebut, namun justru mengobarkan hatinya untuk mengabdikan diri bagi sesama. Persatuan dengan Sang Pencinta yang tersalib itu adalah harta yang tak ternilai yang ingin dibagikan kepada mereka yang menderita, miskin dan terlantar. Harapannya, ialah bahwa mereka yang menderita,
miskin dan terlantar jiwanya akan mengalami keselamatan jasmani dan rohani serta hidup baru dalam cinta Allah. Maka tidak mengherankan bahwa Elisabeth sejak pertama mendengarkan panggilan Allah lewat orang-orang yang menderita itu. Yang dirindukannya adalah keselamatan jasmani dan rohani mereka. Kasih belarasa Ilahi yang secara total terwujud dalam Diri Yesus Tersalib menggerakkan Elisabeth untuk berbelarasa terhadap mereka yang menderita, miskin dan terlantar. Situasi masyarakat yang penuh penderitaan dan tiada kedamaian mendorong Elisabeth untuk menjadi perpanjangan kasih belarasa Allah dengan pengabdian dan keikutsertaannya mewartakan pertobatan kepada mereka (EG.27-37).
Kepekaan Elisabeth untuk mendengarkan, merasakan dan ikut mencecap keprihatinan Allah tidak lain bersumber pada Yesus Tersalib dan keagungan cinta-Nya. Kasih belarasa yang bersumber pada cinta Yesus Tersalib membuatnya berani untuk memulai karyanya meski banyak rintangan dan godaan menghambat jalannya. Elisabeth senantiasa menyerahkan semuanya di tangan Tuhan yang Mahabaik (EG. 156). Pengalaman cinta dan persatuannya dengan duka Ilahi membawa Elisabeth pada kepercayaan mendalam akan Allah Penyelenggara yang senantiasa memperhatikan umat-Nya (EG. 65).
9) Panggilan Bunda Elisabeth Gruyters kepada mereka yang lemah miskin dan menderita
Kerinduan Bunda Elisabeth Gruyters akan sebuah biara di mana Tuhan diabdi dengan tulus dan sempurna mewujudkan berdirinya Kongregasi ini.
Kerinduannya itu juga disertai dengan kerinduan dan usaha untuk berkarya dan melayani mereka yang miskin, menderita dan terlantar (P. Humblet, 1989:49) Kesediaan melayani kaum miskin, menampakkan bagaimana Kongregasi menyadari panggilan sebagai pengikut Bunda Elisabeth yaitu panggilan untuk melayani mereka yang miskin, lemah dan menderita. Inilah jiwa merasul dari Bunda Elisabeth yang diwariskan kepada para pengikutnya. Adapun karya yang dimulai oleh Bunda Elisabeth adalah:
(a) Karya menerima anak-anak miskin
Karya pertama yang dilakukan oleh Bunda Elisabeth dan para pengikutnya adalah menerima anak-anak miskin. Maksud karya ini adalah membangun dasar baik dalam batin mereka. Mereka juga diberi pelajaran agama Kristen, menjahit, berdoa, serta memberikan dorongan ke arah semangat hidup yang suci (EG. 51). Allah yang Maha baik itu memberkati karya tersebut. Anak-anak miskin datang berbondong-bondong
Jumlah anak-anak miskin setiap hari bertambah, sementara tenaga yang ada terbatas. Pada saat seperti itu, bantuan tenagalah yang paling dibutuhkan, agar sanggup menjawab panggilan Tuhan. Namun sayang tak seorang sanggup menjawab panggilan Tuhan. Ini disebabkan kota Maastricht merupakan kota tertutup, sehingga orang tidak boleh masuk dan menetap disana (EG. 52)
(b) Karya di panti asuhan
Karya di panti asuhan Katolik dimulai pada tanggal 1 Maret 1839 dengan tenaga satu suster, yaitu sr. Coleta. Para suster pemula yang berkarya di panti asuhan banyak mengalami tantangan dan pengorbanan (EG. 146). Dalam keadaan
seperti itu, yang dapat dilakukan Bunda Elisabeth adalah menganjurkan agar para suster tersebut tetap sabar serta selalu memandang Yesus yang menderita karena kebaikan dan cinta-Nya kepada manusia dibalas dengan keaiban dan penghinaan yang keji (EG. 150). Keselamatan anak-anak yatim piatulah yang diutamakan Bunda Elisabeth dan para susternya dalam melakukan pelayanan dan pengabdiannya pada Tuhan.
(c) Karya di rumah sakit Calvarieberg
Karya di rumah sakit Calvarieberg dimulai pada tanggal 1 Agustus 1843. (EG. 113) Kiranya kerinduan Bunda Elisabeth untuk dapat berkarya di Calvarieberg muncul sebelum beliau masuk biara dimana saat itu suasana rumah sakit hanyalah antipati, benci, iri hati, dan saling mempersalahkan. Mereka benar-benar mengalami kekurangan kerohanian sebab tidak ada kedamaian diantara para penderita tersebut (EG. 112).
Suasana seperti itulah yang menggerakkan hati Bunda Elisabeth untuk berkarya di rumah sakit Calvarieberg. Selain itu Bunda Elisabeth dan para suster mendapat dukungan dari pelbagai pihak, yaitu bapak, ibu yang saleh. Allah Yang Maha Baik mulai menggerakkan hati orang-orang sehingga akhirnya dapat berkarya di rumah sakit Calvarieberg.
10) Memuliakan Tuhan
Tujuan akhir dari pengabdian Bunda Elisabeth adalah memuliakan Tuhan. Jika manusia selamat, maka Tuhan dimuliakan. Cara memuliakan Tuhan adalah