BAB II SETTING SOSIAL HISTORIS DARI BIOGRAFI R.A. KARTINI
B. Kartini dan Sahabat-sahabat Pena dari Eropa
Susalit yang kemudian diasuh oleh ibu Kartini, Ngasirah dan Bok Mangunwikromo. Empat hari setelah kelahiran tepatnya tanggal September Kartini meninggal dunia di usia tahun.
B. Kartini dan Sahabat-sahabat Pena dari Eropa
Kartini disebut dengan Blandis sebab kebanyakan teman Kartini adalah orang Belanda. Perempuan Belanda bagi Kartini adalah orang yang maju peradaban dan bebas kebudayaan dibandingkan dengan perempuan Jawa yang masih terjerat dengan adat Feodal yang bagi Kartini mendiskriminasikan perempuan. Banyak sahabat-sahabat Kartini yang berasal dari Eropa. Ada yang bertempat tinggal di Indonesia, dan ada yang tinggal di Eropa. Berikut adalah sahabat-sahabat Kartini yang berasal dari Eropa yang biasa menjadi tempat curahan hati Kartini melalui surat.
. Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya R.M. Abendanon Mandri
Nama lengkap Mr. J.H. Abendanon adalah Jacque Henri Abendanon. Sahabat pena Kartini yang mengumpulkan surat-surat Kartini untuk dibukukan pada dengan judul Door Duisternis tot Licht yang dalam alih terjemahan Armijn Pane menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mr. J.H. Abendanon adalah seorang ahli hukum. Setelah beberapa tahun mengabdikan diri di Hindia Belanda, Mr. J.H. Abendanon naik pangkat menjadi Direktur Pengajaran Kementerian Pengajaran dan Kerajinan pada tahun .
Kartini mengenal Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya R.M. Abendanon Mandri di saat kunjungan di kadipaten Jepara untuk
menemui ayah Kartini. Pertemuan tersebut berlanjut dengan persahabatan Kartini melalui surat menyurat, terlebih mengenai pendidikan perempuan yang diperjuangkan Kartini. Niat Kartini untuk mendirikan sekolah perempuan mendapat dukungan dari Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya R.M. Abendanon Mandri. Keakraban yang muncul menyebabkan Kartini menganggap Nyonya R.M. Abendanon Mandri sebagai ibu (Ulum, ).
. Nona Stella Zehandelaar
Stella Zehandelaar lahir pada tahun , merupakan gadis Yahudi yang cerdas dan seorang dokter. Kartini berkenalan dengan Stella melalui majalah De Hoolandse, majalah wanita yang memberikan banyak kontribusi di bidang sosial dan sastra. Stella dianggap kakak oleh Kartini serta pemikiran Stella banyak mempengaruhi Kartini.
Meskipun Kartini dekat dengan Stella, akan tetapi Kartini tidak menceritakan tentang ihwal agama Islam kepada Stella. Hal ini karena ketundukan Kartini kepada undang-undang agama. Stella sempat dibuat keheranan ketika Kartini menerima lamaran K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki isteri. Padahal Kartini di waktu itu mengecam poligami yang menjadi musuh besar (Ulum, ).
. Ir H. H. Van Kol dan Nyonya J.M.P. Van Kol Porrey
Ir H. H. Van Kol adalah seorang insinyur yang ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengurus pembangunan dan
pengairan di Hindia Belanda. Dengan sifat sosialnya, membuat Ir H. H. Van Kol tidak tega melihat kondisi masyarakat Hindia Belanda yang di waktu itu tertindas. Akhirnya Ir H. H. Van Kol mengambil cuti dan dipenjara selama bulan oleh kerajaan karena dianggap menghasut masyarakat bumiputera namun akhirnya dibebaskan.
Ir H. H. Van Kol menikah dengan Nellie Van Kol yang sepaham. Kartini mengenal keluarga Van Kol melalui majalah De Hollandse. Kartini sering menceritakan agama Islam kepada nyonya Nellie karena Nyonya Nellie yang beragama Nasrani sering memberikan nasehat kepada Kartini tanpa harus mengkristenkan Kartini (Ulum, ). Bahkan Kartini juga pernah bercerita mengenai hal-hal ghaib, sebab Ir H. H. Van Kol adalah seorang ahli dalam bidang okulltisme
(kepercayaan kepada kekuatan gaib yang dapat dikuasai manusia). . Nyonya M.C.E. Ovink Soer
Nyonya M.C.E. Ovink Soer adalah sahabat pena Kartini yang dianggap ibu sebagaimana Nyonya Abendanon Mandri. Nyonya M.C.E. Ovink Soer adalah isteri Residen Ovink yang ditempatkan di Kabupaten Jepara pada tahun . Tugas di Jepara membuat Nyonya M.C.E. Ovink Soer mengenal Kartini beserta saudara-saudara Kartini, dan karena Nyonya M.C.E. Ovink Soer tidak memiliki anak maka kasih sayang senantiasa tercurahkan kepada Kartini dan saudara perempuan yang lain.
Karena keakraban yang telah terjalin maka ketika keluarga Ovink dipindahkan ke Jombang sedihlah hati Kartini. Namun setelah perpisahan tersebut Kartini sering berkirim surat dengan Nyonya M.C.E. Ovink Soer dan sering mencurahkan isi hati (Ulum, ). . Dr. N. Adriani
Dr. Nicolas Adriani adalah seorang penginjil yang didatangkan dari Belanda untuk meneliti bahasa-bahasa Toraja di Sulawesi Selatan. Kartini akrab dengan Dr. Nicolas Adriani melalui surat-surat. Karena Dr. Nicolas Adriani merupakan seorang penulis dan penggemar buku, maka Dr. Nicolas Adriani pernah memberikan hadiah buku-buku yang ada nuansa Nasrani kepada Kartini. Selain buku Kartini juga pernah mendapatkan kiriman sebuah foto dari Dr. Nicolas Adriani (Ulum,
).
. Nyonya H.G. de Booy Boissevain
Hilda Gerarda de Booy Boissevain lahir di Amsterdam tanggal Juli . Putri Charles Boissevain seorang sastrawan dan pemimpin redaksi harian Algemeen Handelsbald. Menikah dengan opsir laut Hendrik de Booy pada tahun , dan pada tahun suami H.G. de Booy Boissevain diangkat menjadi ajudan Gubernur Jenderal Rooseboom.
Kedekatan dengan Kartini bermula saat ayah Kartini menghadiri undangan Gubernur Jenderal untuk berkunjung di Bogor. Ketika itu ayah Kartini mengajak Kartini, Rukmini dan Kardinah. Dari hubungan
ini muncul ketertarikan Kartini untuk menjalin hubungan meskipun hanya melaui surat menyurat.
Nyonya H.G. de Booy Boissevain adalah seorang ahli dalam kesenian, kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan. Nyonya H.G. de Booy Boissevain adalah pengurus “Kartini Fonds” yang didirikan pada tahun yang bertujuan untuk mengimbangi
perkumpulan-perkumpulan “Ramabai Fonds” yang ada di Inggris dan Amerika.
Nyonya H.G. de Booy Boissevain sering memberikan ceramah tentang Kartini dan buah pemikiran Kartini (Ulum, ).
. Prof. Dr. G.K. Anton
Prof. Dr. G.K. Anton adalah seorang guru besar ilmu-ilmu kenegaraan di Yena (Jerman), dan isteri adalah seorang wanita Belanda. Perkenalan Kartini dengan Prof. Dr. G.K. Anton dimulai ketika Prof. Dr. G.K. Anton dan isteri melakukan study tour di Pulau Jawa dan menyempatkan diri singgah di kediaman ayah Kartini. Semenjak itu Kartini berkenalan dan akrab dengan Prof. Dr. G.K. Anton. Prof. Dr. G.K. Anton pernah memberi Kartini beberapa buku hasil karyanya. Kepada Prof. Dr. G.K. Anton, Kartini pernah memohon supaya di bumiputera diusahakan sebuah pengajaran dan pendidikan bagi kaum perempuan (Ulum, ).
C. Keadaan Masyarakat Pada Masa Kartini
Kartini hidup antara tahun sampai , sebuah zaman yang menurut Dr. Suhartono ( ), adalah zaman politik kolonial liberal.
Dimana pada masa itu pengaruh Barat telah masuk di kehidupan bumiputera. Dengan berbagai pengaruh tersebut maka muncul ide-ide untuk meniru orang Belanda supaya maju kehidupan masyarakat bumiputera. Pengajaran dan berbagai hal yang datang dari Barat dianggap membawa kemajuan di kehidupan masyarakat Barat. Namun tentu pengajaran dan berbagai hal dari Barat yang diambil adalah yang bisa diterapkan dan tidak menyalahi adat maupun tradisi di bumiputera. Ketika pandangan mengenai Barat telah terbuka maka akan muncul rasa pemberontakan terhadap tradisi maupun adat istiadat yang terlalu mengekang di masyarakat bumiputera pada saat itu. Namun tindakan nyata untuk mengubah tradisi itu belum sepenuhnya nyata dan hanya sebatas wacana sehingga adat istiadat dan tradisi yang terlalu mengekang tetaplah berjalan.
Kartini juga termasuk orang yang memiliki pemikiran bahwa pengajaran maupun pendidikan Barat akan membawa kemajuan masyarakat bumiputera khususnya perempuan. Namun apalah daya ketika adat istiadat diwaktu itu tiada membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja diluar rumah apalagi menduduki suatu jabatan. Hanya pernikahan saja hal yang boleh dicita-citakan oleh anak perempuan. Perempuan itu hanya wajib mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Ketika berumur tahun dipingit anak perempuan itu untuk menunggu hari pernikahan.
Keadaan yang seperti itu membuat Kartini merasa terkekang dan kecewa terhadap adat istiadat negeri Kartini sendiri. Hal itu terurai dalam suratnya kepada Nona Zeehandelaar (Pane, ).
Dan gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tiada akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. Sesungguhnyalah perempuan yang sebenarnya cerdas tiada mungkin merasa berbahagia dalam masyarakat Bumiputera, selama masyarakat itu tetap saja seperti sekarang.
Namun bukan berarti pendidikan perempuan sama sekali tidak ada di masa tersebut. Berikut data perempuan yang sekolah di zaman Kartini (Pane, ):
. Tahun di sekolah kelas dua di pulau Jawa dan Madura ada orang anak gadis;
. Tahun di semua sekolah particulier di seluruh Hindia ada . orang anak gadis;
. Tahun di sekolah gubernemen kelas satu (sekolah Belanda) di Pulau Jawa cuma .
Berdasarkan angka tersebut dapat kita ketahui bahwa sudah ada anak perempuan yang sekolah namun jumlahnya jauh dari kata banyak. Terlebih itu adalah sekolah tingkat rendah sehingga pendidikan yang didapat perempuan masih sangat sempit. Terlebih lagi perempuan yang berhak mendapat pengajaran di sekolah adalah perempuan-perempuan keturunan ningrat dan bangsawan, sehingga perempuan dari kalangan rakyat biasa sama sekali tidak mendapat pendidikan di bangku sekolah.
Melihat kondisi yang seperti itu maka Kartini tampil untuk memperjuangkan nasib perempuan. Usaha yang dilakukan adalah mendirikan sekolah perempuan di Jepara. Bahkan ketika pada akhirnya Kartini mau untuk dinikahkan juga dengan alasan bahwa calon suami yang sangat mendukung cita-cita Kartini sehingga berdirilah sekolah Kartini yang kedua di Rembang. Namun pandangan Kartini terhadap Barat mulai berubah ketika mulai mengenal Islam lebih dalam. Pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat adalah awal kembalinya Kartini pada pemikiran Islam.
BAB III
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN R.A. KARTINI DALAM BUKU HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
A. Keadaan Perempuan Pada Masa R.A. Kartini
Keadaan perempuan pada masa Kartini tidaklah sebebas keadaan perempuan di zaman sekarang. Pada masa itu budaya Feodal masih sangat kuat berkembang di masyarakat. Dengan adanya budaya Feodal itulah kebebasan maupun pemikiran perempuan tidak ada artinya. Keberadaan perempuan tenggelam diantara keberadaan laki-laki. Perempuan sepenuhnya patuh dan tunduk di bawah kekuasaan para kaum laki-laki. Hal ini terungkap dalam surat Kartini kepada Nona Zeehandelar tanggal Mei (Pane, ), berikut:
Kami, gadis-gadis masih terantai kepada ada istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi belajar ke sekolah, ke luar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat. Ketahuilah, bahwa adat negeri kami melarang keras gadis ke luar rumah. Ketika saya sudah berumur duabelas tahun, lalu saya ditahan di rumah_saya mesti masuk “tutupan”; saya di kurung didalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi, bila tiada serta seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya dengan tanpa setahu kami …
Surat-surat Kartini tersebut terlihat bahwa kehidupan perempuan sangatlah jauh dari kata kebebasan. Bahkan untuk pergi keluar rumah dibatasi sampai berumur tahun, apalagi untuk mendapatkan pendidikan yang merupakan hal yang tabu diperoleh perempuan di masa tersebut.
Budaya pingitan merupakan budaya yang menunjukkan betapa lemah kaum perempuan. Dengan adanya budaya pingitan akses perempuan ke dunia luar benar-benar ditutup. Perempuan diharuskan berada di dalam rumah sampai ada seorang laki-laki yang mengambil menjadi seorang isteri. Bahkan siapa laki-laki yang akan menjadi suami tiada diketahui terlebih dahulu. Perempuan harus rela dijadikan isteri yang kedua ketiga atau bahkan keempat. Budaya poligami merupakan hal yang biasa yang ada di masyarakat dan perempuan tidak mempunyai hak untuk menolak.
Istilah “Swargo nunut neroko katut” yang dalam bahasa Indonesia
diartikan “Surga turut neraka ikut” begitu kental dianut dalam masyarakat
Jawa pada masa Kartini, kemana laki-laki mengarahkan pandangan kesitu perempuan pergi tanpa ada hak untuk bertanya maupun menolak.
Adat istiadat di waktu itu tidak membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja di luar rumah, menduduki jabatan di dalam masyarakat (Pane, ). Perempuan tidak boleh mempunyai cita-cita maupun keinginan, mereka hanya boleh tunduk dan patuh kepada peraturan maupun budaya yang ada. Hanya satu cita-cita yang boleh dimiliki oleh seorang perempuan yaitu pernikahan. Pernikahan itulah satu tujuan hidup yang dimiliki oleh seorang perempuan. “Selama ini hanya satu jalan terbuka bagi gadis Bumiputra akan menempuh hidup, ialah
„kawin‟”(Surat kepada Nona Zeehandelaar, Agustus ).
Hal itu tentu berbeda dengan laki-laki yang boleh mempunyai banyak tujuan hidup maupun cita-cita. Perempuan itu cuma wajib
mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya (Pane, ). Perempuan di masa itu hanya dibentuk untuk menjadi budak kaum laki-laki. Perempuan tidak boleh memiliki kemauan dan ditutup dari dunia luar sejak usia tahun. Dengan kata lain perempuan di masa Kartini banyak kewajiban namun tidak satupun hak.
Akan tetapi ketatnya budaya Feodal sepenuhnya hanya berlaku di kalangan ningrat maupun bangsawan saja. Di kalangan rakyat biasa budaya itu tidak seketat mengekang perempuan. Namun kebebasan itu kebanyakan disebabkan karena kondisi masyarakat yang harus bekerja mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarga atau membantu keluarga yang kondisi perekonomian tidak stabil. Dengan begitu tetap saja pendidikan perempuan di masa Kartini masih merupakan suatu hal yang tabu bahkan dianggap melanggar adat istiadat. Kehidupan perempuan kalangan pribumi yang bukan ningrat sangat jauh berbeda dengan kehidupan perempuan ningrat. Perempuan pribumi sangat tertindas, berbeda dengan perempuan ningrat yang disembah dan dilayani segala kebutuhan.
Dengan keadaan yang masih sangat mengekang kebebasan perempuan, maka sebagai seorang perempuan yang sudah mendapatkan pendidikan Kartini merasa terbebani dan gerah dengan berbagai peraturan adat yang mengekangnya. Hal itu tertuang dalam surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar tanggal Agustus (Pane, ), berikut:
Dan gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tiada akan sanggup lagi hidup di
dalam dunia nenek moyangnya. Sesungguhnyalah perempuan yang sebenarnya cerdas tiada mungkin merasa berbahagia dalam masyarakat Bumiputra, selama masyarakat itu tetap saja seperti sekarang.
Namun tentu adat istiadat tidaklah dapat diubah apalagi dihilangkan begitu saja. Terlebih lagi adat istiadat yang satu akan berhubungan dengan adat istiadat yang lain. Tentulah sesuatu yang mustahil untuk menghilangkan adat istiadat itu. Mengenai adat pingitan Kartini tidak dapat menghindari. Meskipun keinginan kuat untuk terus belajar, akan tetapi tradisi berkata lain. Kartini menceritakan usaha untuk melawan adat pingitan yang harus dijalani kepada Nyonya Abendanon melalui surat pada Agustus (Ulum, ) berikut:
Ia memohon kepada ayahnya agar diizinkan bersama-sama dengan anak laki-laki pergi ke Semarang untuk bersekolah HBS di sana. Ia akan selalu belajar giat sehingga orang tuanya tidak akan mengeluh tentangnya. Ia berlutut di hadapan ayahnya, dengan tangan terkatup di atas lututnya. Dengan keinginan yang besar, mata kanak-kanaknya ditengadahkan. Dalam ketegangan yang cemas-cemas serasa putus nafas ia menanti jawaban sang ayahnya. Sambil membelai-belai, ayahnya mengelus-ngelus kepala yang kecil hitam. Jarinya menyingkapkan rambut yang tak beraturan dari dahi si kecil dan perlahan-lahan tetapi pasti keluar dari mulutnya: “Tidak!”.
Anak itu melompat. Ia tahu arti “tidak” yang diucapkan ayahnya. Ia lari dan masuk kolong tempat tidur. Ia ingin bersembunyi, seorang diri saja bersedih hati dan bersedu sedan tak henti-henti.
Bahkan Kartini merasa seperti burung yang dipaksa kembali ke
sangkar. “Diajar orang dia bebas lalu dimasukkan orang dia ke dalam
terungku; diajar ia terbang, lalu dimasukkan ke dalam sangkar”(surat kepada Nona Zeehandelaar tanggal Agustus ).
B. Pendidikan Yang Dialami R.A. Kartini
Dengan berbagai adat istiadat yang berlaku, Kartini tetap mendapat pendidikan hal itu disebabkan kakek Kartini merupakan Bupati yang terkenal karena suka kemajuan dan merupakan Bupati yang pertama-tama menyekolahkan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan dengan pelajaran Barat (Pane, ). Dan hal itu menurun kepada pendidikan cucu-cucu beliau seperti Kartini. Hal itu tertulis dalam surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar tanggal Mei (Ulum, ) berikut:
Almarhum kakek saya bernama Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, sangat menyukai kemajuan, merupakan Bupati Jawa Tengah yang pertama membuka pintunya untuk tamu dari jauh seberang lautan, yaitu Peradaban Barat. Semua putranya (kebanyakan dari mereka sudah tiada), yang mengenyam pendidikan Eropa, mewarisi kecintaan kemajuan dari ayah mereka. Pada gilirannya kemudian, mereka memberikan putra-putranya pendidikan yang dulu mereka nikmati.
Meskipun termasuk perempuan bangsawan, Kartini tetap mendapatkan pendidikan. Bukan hanya pendidikan umum namun juga pendidikan agama dipelajari Kartini.
. Pendidikan Umum
Ketika usia Kartini sudah masuk usia belajar, Kartini disekolahkan di sekolah rendah yang didirikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda (Ulum, ). Kartini bisa masuk sekolah tersebut karena termasuk keluarga bangsawan. Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda membatasi pelayanan pendidikan hanya untuk rakyat tertentu. Hal ini dikarenakan Pemerintah Belanda tidak menginginkan rakyat Bumiputra menjadi cerdas sehingga tidak akan mau lagi bekerja untuk
Pemerintah Belanda. Ayah Kartini pernah berkata seperti berikut (Ulum, ):
Pemerintah tidak mungkin dapat menyediakan nasi di piring bagi setiap orang Jawa untuk dimakannya, tetapi apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah ialah memberikan kepadanya daya upaya agar ia mencapai tempat di mana makanan itu berada. Daya upaya ini ialah pengajaran. Pemberian pengajaran yang baik kepada anak negeri samalah halnya seolah-olah pemerintah memberi suluh ke dalam tangannya, agar selanjutnya ia menemukan sendiri jalan yang benar yang menuju ke tempat di mana nasi berada.
Perkataan ayah Kartini tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Pemerintah Belanda tidak sepenuhnya memberikan pengajaran kepada masyarakat Bumiputra. Pemerintah Belanda hanya memberikan akses ataupun pembuka jalan bagi masyarakat Bumiputra untuk mengembangkan pendidikan melalui pengajaran yang telah mereka terima. Terlebih lagi tidak semua masyarakat Bumiputra dapat merasakan pengajaran, hanya golongan tertentu saja. Bahkan pengajaran yang diberikan juga hanya sebatas pengajaran dasar seperti membaca dan menulis terlebih jumlah sekolah juga sangat terbatas. Pembatasan yang dilakukan ini semakin menjelaskan bahwa sebenarnya Pemerintah Belanda tidak menginginkan masyarakat Bumiputra untuk maju.
Kartini mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan Pemerintah Belanda dalam suratnya kepada Nona Zeehandelaar tanggal Januari (Ulum, ), berikut:
Apa yang dilakukan pemerintah untuk kemajuan rakyat? Untuk anak-anak bangsawan bumiputera ada yang
disebut sekolah-sekolah kepala-kepala, sekolah guru dan sekolah dokter Jawa; dan untuk umum berbagai sekolah Bumiputera, satu dalam tiap distrik. Tetapi pemerintah membagi perguruan-perguruan yang terakhir ini dalam dua kelas. Di sekolah-sekolah pertama, yang hanya ditempatkan di setiap ibu kota sebelah barat, diajarkan mata pelajaran yang sama seperti sebelum pemisahan; tetapi di sekolah-sekolah kedua, anak-anak sekarang hanya belajar bahasa Jawa (membaca dan menulis) dan sedikit berhitung. Disini tidak boleh diajarkan bahasa Melayu seperti dulu, apa sebabnya kurang jelas bagi saya. Saya kira berpendapat, bahwa jika rakyat belajar, mereka tidak mau lagi mengerjakan tanahnya. Meskipun sudah mendapatkan pembatasan, Kartini masih juga terdiskriminasi karena warna kulit. Ketika hendak dipanggil untuk menempati calon kelas diurutkan sesuai warna kulit. Urutan pertama adalah orang berkulit putih, kemudian setengah putih, baru kulit yang berwarna coklat. Selain diskriminasi warna kulit, di sekolah Belanda juga dibedakan status sosial dan susunan kepegawaian. Bahkan para guru segan untuk memberikan nilai yang bagus untuk anak-anak Bumiputera.
Kemudian pada tahun Pemerintah Belanda mengeluarkan keputusan anak Bumiputera (dari umur sampai tahun) tidak diizinkan masuk sekolah rendahan umum yang diperuntukkan bagi bangsa Eropa, kalau anak-anak ini belum dapat berbahasa Belanda, kecuali telah mendapat izin khusus dari Yang Mulia Gubernur Jenderal.
Berbagai pembatasan dan kesukaran dialami Kartini selama mendapatkan pengajaran dari sekolah rendahan umum. Selama pengajaran itu Kartini belajar bahasa Belanda. Namun pengajaran di
sekolah rendahan tersebut hanya Kartini peroleh sampai usia tahun, usia untuk Kartini masuk pingitan. Usaha keras Kartini untuk menolak adat pingitan tetap tidak dapat menggoyahkan keputusan ayah Kartini. Segala keluh kesah dan gambaran penderitaan Kartini untuk memasuki masa pingitan tertuang dalam surat-surat kepada sahabat Kartini.
Setelah memasuki masa pingitan, Kartini belajar sendiri dengan membaca buku-buku maupun majalah terbitan Belanda. Melalui surat kabar dari Belanda Kartini mulai berkenalan dengan orang-orang yang kemudian menjadi sahabat. Dengan itu mulai terbuka pemikiran Kartini sehingga timbullah cita-cita untuk pergi ke negara Eropa mengembangkan ilmu. Namun cita-cita besar itu tidak dapat diraih Kartini karena berbagai kendala.
. Pendidikan Agama Islam
Selain pendidikan umum, Kartini juga mendapatkan pendidikan Agama. Agama yang dianut Kartini adalah agama Islam, kaum Feodal kebanyakan penganut ajaran Islam. Namun Kartini yang merupakan perempuan Feodal lebih mudah mengakses ilmu Eropa dibandingkan ilmu agama Islam.
Kartini hidup di lingkungan yang dikelilingi kaum Belanda yang mendapat siraman spiritual dari para pendeta, maka ia lebih mudah mengakses kitab Injil dibandingkan Al-Qur‟an (Ulum,
). Terlebih lagi Kartini tidak bisa memahami Al-Quran yang