Gbr. IV.13. Kartun bertema: Jual Beli Proyek Edisi : 27 Januari 1984
Sumber: HU Sinar Harapan (Pusat Dok. Suara Pembaruan)
Pada karya ini, Pramono mengkritik perilaku pejabat yang melakukan tindakan jual-beli proyek yang merugikan negara. Pramono mengambil figur tikus yang mengenakan jas hitam dan kacamata hitam sebagai metafora dari pejabat Pemerintah sebagai pelaku kejahatan. Selain meminjam bentuk tikus, Pramono juga menggambarkan dalam ukuran yang lebih besar dari figur yang lain. Gambar lainnya adalah pengusaha yang digambarkan dengan figur laki-laki yang membawa tas dan uang.
Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam karya ini, berikut diuraikan secara bertahap berikut ini diuraikan berbagai aspek pada karya:
a. Deskripsi Pra-ikonografi
Kartun ini menyajikan dua figur. Figur yang di kiri bidang gambar adalah laki-laki dengan rambut yang tipis sedang membawa tas dan tangan kanan menggenggam lembaran bertuliskan “RP”. Figur ini terlihat berjalan dengan agak membungkuk. Ekspresi tampak gembira dan mengatakan “BELI SATU LAGI… ” Figur ini terlihat bersih karena garis hanya digunakan untuk menciptakan kontur tubuh tanpa ada arsir. Pengambilan gambar figur ini dilakukan secara long shoot.
Figur lainnya adalah seekor tikus yang berperilaku sebagai manusia. Figur tikus ini memiliki telinga bundar dan besar. Pengambilan gambar figur ini dilakukan secara long shoot. Berkacamata hitam dan sedang merokok cerutu. Ukuran postur jauh lebih besar dari figur laki-laki. Pakaian yang dikenakan stelan jas. Ekornya menjuntai keluar. Figur tikus ini sedang duduk bersandar. Tampak mempermainkan jari-jari tangan. Terlihat tersenyum lebar dengan ekspresi yang sinis dan meremehkan. Dibelakangnya tampak tumpukan kotak dalam ukuran yang berbeda. Setiap kotak bertuliskan kata PROYEK dengan jenis font yang berbeda-beda. Pada gambar ini garis selain untuk menggambar gambar juga digunakan untuk menciptakan kedalaman melalui goresan arsir dibeberapa bagian.Warna hitam muncul pada bagian telinga, hidung dan stelan jas. Raster muncul pada ekor memberikan kesan warna abu-abu. Bagian atas bidang gambar diberi sapuan warna hitam.
b. Analisa Ikonografi
Kasus yang dikomentari oleh kartun ini adalah kasus mantan bupati Donggala yang terlibat manipulasi dana Inpres (berita Sinar Harapan-25 Januari 1984). Mantan Bupati Donggala tersebut mengeluarkan berita acara fiktif kepada sejumlah kontraktor agar dapat mencairkan dana Inpres. Diungkapkan terdapat proyek pembangunan SD Inpres yang sama sekali tidak dikerjakan oleh kontraktor, sementara pembayaran pekerjaan borongan dicairkan 100 persen dengan menggunakan berita acara fiktif.
Berikut analisa ikonografi dari kartun yang bertema jual beli proyek:
Gambar tikus pada kartun ini mirip tokoh Miki Mouse, terutama dibagian telinga yang bulat lebar dan berwarna hitam. Figur ini mengenakan jas warna hitam, kacamata hitam dan menghisap cerutu. Pesan artifaktual yang disampaikan dari cara berpakaian adalah figur ini berasal dari masyarakat kelas sosial atas. Raut yang diperlihatkan oleh figur ini menunjukan pesan fasial yang mengejek dan sinis. Pesan postural yang disampaikan dari cara duduk dengan wajah yang mendongak dan jari yang dipermainkan adalah figur ini memiliki kekuasaan. Apabila dikaitkan dengan konteks permasalahan, gambar tikus merupakan metafora dari pejabat pemerintah yang melakukan penyelewengan dan korupsi.
Dibelakang figur tikus terdapat tumpukan kotak bertuliskan PROYEK. Besar kecilnya ukuran kotak dapat menunjukan besar kecilnya nilai proyek. Bagian atas bidang gambar terlihat arsir dengan arah diagonal dan sapuan warna hitam yang memunculkan kesan menekan dan mencekam.
Gambar figur seorang laki-laki yang sedang berjalan kearah figur tikus. Pose figur yang tampak membungkuk menunjukan pesan postural menghormati. Figur ini akan memberikan lembaran bertulis “RP” kepada figur tikus. Dari kalimat yang diucapkan, dapat diketahui bahwa figur ini adalah seorang pembeli/pengusaha yang akan bertransaksi dengan figur pejabat untuk mendapatkan proyek. Kalimat “BELI SATU LAGI… ” menunjukkan bahwa transaksi telah berulang kali terjadi.
Dari analisa visual terhadap gambar-gambar yang hadir, karya ini memiliki ciri-ciri visual sebagai berikut:
Dimunculkannya dua gambar figur, mewakili pejabat Pemerintah yang korup dan pengusaha yang oportunis.
Penggunaan metafora figur binatang untuk mewakili pejabat Pemerintahan yang melakukan kejahatan korupsi.
Postur figur pejabat lebih besar dari figur pengusaha. Keduanya dalam posisi berhadapan.
Pengambilan gambar figur ini dilakukan secara long shoot. c. Interpretasi Ikonologi
Gambar tikus merupakan personifikasi dari seseorang yang melakukan kecurangan dalam masalah proyek. Tikus sebagai hewan pengerat sering menjadi metafora bagi seseorang yang melakukan korupsi atau penyelewengan. Figur tikus pada kartun ini yang mirip tokoh Miki Mouse menunjukan adanya pengaruh dari ikon-ikon yang sudah populer pada diri Pramono masa itu. Perihal ini dibenarkan oleh Pramono, yang mengatakan besarnya pengaruh dari pengalaman masa kecil dan remaja yang sering membaca buku-buku komik dari luar. Walaupun demikian kemiripan ini tidak berarti persamaan dalam karakter.
Lebih besarnya gambar figur tikus (sebagai metafora dari pejabat pemerintah yang korup) daripada figur laki-laki (sebagai metafora dari pengusaha) menunjukan adanya relasi kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki pejabat tersebut lebih besar dari figur pengusaha. Pada masa Orde Baru, hubungan antara pejabat pemerintah dan pengusaha terjalin hubungan yang saling menguntungkan. Keeratan hubungan ini pada titik tertentu mengarah pada praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
Pada kartun ini, Pramono secara terbuka mengomentari praktek-praktek penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah dan pengusaha. Penggunaan idiom tikus untuk menggambarkan watak dari pejabat pemerintah menunjukan keberanian sebagai seorang kartunis. Walaupun berangkat dari
permasalahan yang terjadi di daerah Donggala – Sulawesi Selatan, kartun ini memberi gambaran umum kondisi pemerintahan Orde Baru.
Pramono menciptakan juga beberapa karya yang bertema tentang kriminalitas dengan kasus yang berbeda, seperti berikut:
Gbr. IV.14. Kartun bertema: Penyelundupan Edisi : 8 Maret 1985 Sumber: HU Sinar Harapan (Pusat Dok. Suara Pembaruan)
Gbr. IV.15. Kartun bertema: Menjerat Koruptor Edisi : 8 Agustus 1983 Tema: Sumber: HU Sinar Harapan
(Pusat Dok. Suara Pembaruan)
Karya edisi 8 Maret 1985, bertema “Penyelundupan” mengomentari tentang aparat negara yang merasa berhasil menangkap penyelundup. Peristiwa ini menunjukkan ironi karena yang ditangkap adalah penyelundup “kecil”. Ikan hiu menjadi metafora yang untuk menggambarkan penyelundup. Postur ikan hiu ditampilkan lebih besar dari figur aparat negara. Kedua gambar ditampailkan dengan pengambilan gambar long shoot.
Karya edisi 8 Agustus 1983, bertema “ Menjerat Koruptor” mengungkapkan tentang konfrontasi antara penegak hukum dengan koruptor. Figur Koruptor ditampilkan dengan kaki kiri yang digambar dalam ukuran yang besar dan berkuku tajam. Sementara penegak hukum berpostur kecil dan digambarkan sebagai sosok superhero seperti tokoh-tokoh komik Barat. Sosok superhero itu terlihat mengelilingi kaki koruptor dengan membawa jaring. Terlihat juga sosok komentator yang ditampilkan dengan postur yang kecil. Figur penegak hukum dan
komentator disajikan dengan pengambilan gambar long shoot, sementara figur koruptor dengan pengambilan close up shoot.
Dari tiga karya yang dibahas terlihat pola visual sebagai berikut:
Terdapat dua atau tiga gambar pada setiap karya, untuk memperlihatkan hubungan antara pejabat (yang korup) dengan pengusaha dan pelaku kejahatan dengan Pemerintah.
Figur yang mewakili tindakan kejahatan dibuat lebih besar dari yang lain. Terlihat penggunaan binatang atau gambar yang menunjukkan karakter
binatang sebagai gambar metafora untuk mewakili tindakan kejahatan.