• Tidak ada hasil yang ditemukan

---Beda sekali dengan saya Layaknya nol dibelakang koma Dengan bilangan bulat di depan koma Tiada bilangan lain yang mendampingi

---Hatinya sungguh berbeda

Tak dapat ditebak hanya dengan logika Semua rumus telah mencoba

Mencari nilai “n” yang berharga di dalamnya

---Tapi tak kusangka

Memang tak butuh logaritma yang rumit Yang kubutuhkan hanyalah

Mendifferensialkan hati

Karya Mareta Hasna Hidayat (8C)

Hidup

Hidup ini seperti roda yang terus berputar Bagi orang orang yang mau bekerja keras Perjuangan hidup ini seperti lingkaran

Yang tidak pernah ada sudut batasnya untuk menyerah

---Jika kita menyerah bagaikan garis yang dihadang asimtot Tidak akan ada jalan untuk melangkah

Maka kita harus meniadakan asimtot itu Dan menumbuhkan semangat layaknya bilangan

---Yang tidak ada batasnya

Tidak ada alasan kita untuk menyerah Karena kita adalah titik pusat

Dan lingkaran bagaikan orang orang yang selalu disekeliling kita

---Mereka bagaikan jari jari Dan kita bagaikan diameter

Karena diameter tidak akan ada tanpa jari jari 1 – 1 = 0

Layaknya kita tanpa mereka

24

alhaMdulillah, itulah ungkapan keg-embiraan yang dirasakan siswa-siswi SMP Al Muslim begitu juga Ustadz dan Ustadzahnya.

Rangkaian panjang waktu mempersiapkan kegiatan ujian kelas IX sampai detik terakhir UNBK hanya tinggal menambahkan doa is-tiqomah agar semua berjalan sesuai harapan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Insyirah “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain .“ ( Q.S.Al Insyirah 94: 7) tidak ada waktu yang akan terbuang percuma. Rangkaian kegiatan pasca UNBK, diawali dengan pengambilan foto untuk album kenangan yang berlokasi di

“Bakti Alam Pasuruan” pada hari Selasa (8/5), dilanjutkan hari Rabu masuk seperti biasa dengan materi motivasi yang diisi dari SMA Al Muslim, kemudian libur 3 hari dan siswa masuk kembali seperti biasa untuk persiapan wisuda Tilawati.

Kegiatan full dengan drill Al Quran selama 5 hari karena banyak siswa kelas IX yang diwisuda pada hari Sabtu (20/5), jadi selain mereka berjuang untuk akademik mereka juga berjuang untuk lulus munaqasah.

Berikutnya kegiatan penguatan dan pen-erapan materi Leadership sebagai unggulan dari SMP Al Muslim, dengan memasak ber-sama sesuai tugas dan tanggung jawabnya

yang dilaksanakan pada hari Senin (22/5).

Hasil masakan mereka dinikmati bersama seluruh ustadz dan ustadzah sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih atas perjuang-anya selama ini.

Selanjutnya kegiatan menyeleksi peserta paskibraka atau mencari kader paskibraka menjadi tanggung jawab siswa kelas IX.

Mereka berlatih membagi dan mengamalkan ilmu juga pengalaman pada adik kelas. Tang-gal 5 Juni 2017 mereka masuk kembali untuk persiapan pelepasan yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu (10/6), semoga kegiatan ini berjalan lancar seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya. (riroh/ guru sMP)

salat adalah paramater ibadah bagi setiap muslim, jika baik ibadah salatnya maka baik pula amal ibadah yang lainnya dan sebaliknya. Oleh sebab itu dalam rangka memeringati Isro’ Mi’roj, SMP Al Muslim menggelar pelatihan salat khusyuk yang dibimbing oleh Ustad H. Abdul Aziz pad Jumat (21/4) pukul 07.30–11.30 WIB diikuti oleh siswa kelas 7 dan 8. Acara diawali pembacaan ayat suci Al Quran oleh Najwaa Afifah Fauziah dan Amanda Nabila Putri Aliyah.

Siti Aminah (Ketua Panitia) dalam sambu-tannya menyampaikan bahwa mendirikan salat bukanlah hanya sekedar menggu-gurkan kewajiban, namun harus menjadi kebutuhan bagi setiap muslim. Pelatihan salat khusyuk ini sebagai pembelajaran bagi siswa-siswi agar kualitas diri dan ibadahnya dapat lebih meningkat.

Mencapai salat khusyuk bukanlah perkara mudah. Wajib bagi muslim berusaha agar khusyuk itu bisa terwujud dalam shalat. Se-hingga kita termasuk dalam salatnya orang-orang yang sempurna menurut pandangan Allah SWT sebagaimana yang diterangkan

cara supaya salat kita khusyuk? caranya laku-kan dengan tenang dan tumaninah. Salah satu resep kekhusyukan, “Lakukan salat den-gan benar sesuai denden-gan contoh Rasulullah SAW,” tutur Ustad Aziz sapaan beliau.

Sambil praktik setiap gerakan salat, Ustad Aziz menjelaskan bahwa setiap gera-kan menyehatgera-kan badan apabila dilakugera-kan dengan benar. Misalnya manfaat takbiratul ihrom adalah melancarkan aliran darah dan kekuatan otot lengan. Rukuk, postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf, rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah.

Manfaat i’tidal adalah merupakan latihan pencernaan yang baik. Manfaat sujud adalah mencerdaskan karena oksigen bisa mengalir maksimal ke otak.

Beliau berpesan agar setiap gerakan salat yang sudah dipraktikkan, dilakukan setiap salat 5 waktu, selanjutnya dibagi-kan doorprize yang disediadibagi-kan oleh BPKS kepada peserta terbaik pelatihan salat

syiar

& doa

10 MalaM terakhir di bulan Ramadan merupakan malam yang penuh dengan kebarokahan dan kelebihan tertentu. Malam-malam ini yang ditunggu-tunggu oleh seluruh orang mukmin di di dunia. Malam ini disebut dengan malam lailatul qadar. Malam yang dimuliakan oleh Allah SWT, yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan atau 30.000 kali malam biasa. Keberkahan lailatul qadar adalah meru-pakan bagian dari hikmah keutamaan bulan Ramadan itu sendiri. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi perin-gatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Allah menyembunyikan malam lailatul qadar dari pengetahuan kita sebagaimana Dia menyembunyikan segala sesuatu yang lain.

Dia menyembunyikan keridhaanNya pada setiap ketaatan sehingga timbul dalam diri kita keinginan untuk melakukan ketaatan dalam ibadah.

Begitu juga Dia menyembunyikan kemur-kaanNya pada setiap perkara maksiat agar kita berhati-hati dan menjauhi segala maksiat dan tidak memilih antara dosa besar dan kecil untuk melakukannya, karena dosa kecil jika terus dilakukan secara terus menerus akan menjelma menjadi dosa besar jika kita tidak bertaubat dan berusaha meninggalkannya.

apakah tanda-tanda datangnya Malam lailatul Qodar?

Malam lailatul qadar merupakan rahasia bagi Allah SWT, tetapi Nabi Muhammad SAW menggambarkan kepada kita tentang tanda-tandanya, yaitu:

• Udara dan suasana pagi yang tenang.

• Terjadinya pada malam ganjil sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

• Cahaya matahari bersinar dengan lembut keesokan harinya

• Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada angin kencang.

Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan kekhusukan ibadah, ketenangan hati, dan kenikmatkan bermunajat kepada Rabb-nya daripada malam-malam lainnya.

apakah keutamaan Malam lailatul Qodar?

Keutamaan lailatul qadar ialah diampuni do-sa-dosa bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Seperti yang tersirat dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah yang berbunyi “Barang siapa yang melaksanakan sholat di malam lailatul qadar karena iman dan takwa serta mengharap-kan Allah SWT, maka Allah SWT amengharap-kan mengam-puni semua dosa-dosa yang telah lalu”.

Sebagai seorang yang beriman tentunya kita harus mengejar kesempatan yang sangat ber-harga dengan mempersiapkan diri melakukan amalan-amalan yang baik di sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan. Amalan yang bisa dilakukan saat malam malam lailatul qadar, yaitu:

Bersungguh-sungguh dalam ibadah seperti salat, membaca Al-Quran, dan berdoa dalam sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan melebihi ibadah di malam selain Ramadan.

Melaksanakan qiyamul lail

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang-siapa yang berdiri (menunaikan salat) pada malam lailatul qadar dengan iman dan harap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni,” (esti apriani/ guru sd)

26

keBerhasilan mendidik anak merupa-kan impian semua orang tua, tak dipungkiri salah satu kewajiban orang tua untuk mem-bentuk pertumbuhan karakter anak dimulai sedini mungkin. Seperti peribahasa “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga,”

para orangtua tentu paham arti peribahasa tersebut. Peribahasa itu mengumpamakan orang tua sebagai atap, bagian paling atas dari rumah, posisi yang memberikan per-lindungan kepada seluruh anggota keluarga, atap jugalah yang kemudian meneteskan air ke pelimbahan, yakni anak-anak kita. Dan, air adalah karakter yang diwariskan kepada anak-anak, meluncur deras sesuai sunnatullah dari atap menuju pelimbahan.

Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali di-lahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” (HR.Abu Hurairah)

Di sinilah peran orang tua tidak hanya menafkahi anaknya secara fisik, namun juga memberikan bekal agama dan akhlak mulia, ibadah, serta berbagai karakter yang bagus lainnya sebagai bekal untuk menatap masa depan yang tentu sangat jauh berbeda dengan masa di mana waktu

orang tuanya mendidik anaknya. Sebab anak adalah cerminan diri dari orang tuanya, anak menerima “pantulan” dari apa yang ia lihat, dari apa yang ia dengar, dan dari apa yang ia contoh bersumber dari orang tuanya. Jika yang selalu ia dengar keburukan-keburukan dari orang tuanya, tentu hal itulah yang terekam dalam kepal-anya, jika kejelekan-kejelakan yang dilihat dan disaksikannya sehari-hari dari orang tuanya, tentu itu pulalah yang ia teladani.

Dalam benak kita pasti bertanya-tanya?

Lah anakku kan seharian di sekolah, komu-nikasi di rumah tidak banyak, anak pulang sekolah ketemu sebentar setelah itu tidur?

Kalimat inilah yang sering kami dengar dari para orang tua, perlu kita pahami di manakah orang tua sewaktu anak-anak kita pada fase golden age? Sudahkah kita sebagai orang tua berperan dengan baik pada fase itu?

Golden Age atau fase emas adalah fase saat otak anak mengalami perkembangan yang paling cepat dalam masa pertumbu-hannya. Kurang lebih 80% otak anak men-galami perkembangan pada usia 0-6 tahun.

Usia inilah yang disebut sebagai fase golden age atau fase emas untuk tumbuh kembang anak. Pada masa ini, setiap informasi akan diserap anak baik berupa

infor-masi yang baik maupun yang buruk dan akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, serta kemampuan kognitif.

Karena itulah fase golden age menjadi fase terpenting bagi perkembangan anak.

Pada fase ini pula berlangsung kematan-gan fungsi fisik dan psikis yang siap mem-beri respon pada stimulasi-stimulasi yang diberikan oleh lingkungan di sekitarnya.

Fase ini pula yang menjadi fase dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif pada anak begitu pula dengan kemampuan motorik, sosio emosional, bahasa, agama, dan juga moralnya. Begitu pentingnya fase golden age ini, maka orangtua dituntut untuk memberikan pen-galaman yang bermanfaat bagi anak-anak, memberikan pendidikan, memberi stimu-lasi dengan maksimal, dan mengenalkan pada berbagai aktivitas yang diminati.

Kesuksesan tumbuh kembang anak di fase ini bergantung pada peran orang tua, keadaan rumah, dan selanjutnya adalah sekolah, dan lingkungan di sekitarnya.

Inilah peran dari berbagai pihak teru-tama orangtua dan keluarga, tidak ada tempat yang lebih aman bagi seorang anak selain di dalam pelukan orangtuanya.

Karena, anak-anak senantiasa membutuh-kan kekuatan untuk bersandar, mengeluh, menangis, dan contoh untuk belajar. Bila kita berikan semua itu pada anak-anak kita, hal itu lebih dari sekadar perwujudan kasih sayang, melainkan juga bernilai ibadah di

sisi Allah SWT.

“Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon,

dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (an-nisaa:1).

Semangat untuk orang tua, karena di balik keberhasilan

mendidik anak berkepriba-dian yang soleh di situ ada

orangtua yang hebat. (nur azizah s.Psi)

Peran Orang Tua untuk

Dokumen terkait