• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya seni rupa bertema budaya Batak Toba

2.3 Kebudayaan Batak Toba dan Seni Rupa

2.3.6 Karya seni rupa bertema budaya Batak Toba

Upaya melestarikan unsur budaya rupa Batak Toba dalam seni rupa tampak dari peran Unimed (Universitas Negeri Medan) di program studi seni rupa, khususnya pada mata kuliah ragam hias, seni kriya, seni lukis, seni grafis dan seni fotografi. Upaya untuk mengangkat budaya leluhur Batak Toba banyak muncul pada karya-karya seni lukis (fine art) mahasiswa seni rupa di Unimed, seperti Ferdinan Sibagariang, Hareanto Pasaribu, Salomo Fredicho Purba dan alumni-alumni seni rupa Unimed lainnya, seperti: Mangatas Pasaribu, Bom Brata Simbolon, Lenni S.R Pasaribu, juga oleh pelukis-pelukis Medan seperti Andreas Manik, Alwan Sanrio, Farida Lisa Purba, dan Oloan Situmorang. Bukan hanya tentang keluhuran budaya Batak Toba saja yang menjadi gagasan dalam berkreativitas dalam seni murni. Pargonsi23 dan keindahan Danau Toba juga tak luput masuk ke dalam karya-karya para perupa Medan, baik dalam karya seni lukis, maupun fotografi. Narasi simbolik dari karya seni lukisnya juga ada yang

23

Pargonsi merupakan sekumpulan beberapa orang yang memainkan alat musik khas Batak (gondang). Bagi masyarakat parmalim, peran musik khususnya gondang sangatlah penting dalam setiap upacara ritual yang dilaksakan. Komposisi musikal dalam pertunjukan gondang yang disajikan pargonsi merupakan bagian dari ungkapan ―doa‖ (tonggo) yang ditujukan bagi Sang

menyiratkan kritik terhadap pemerintah wilayah administratif Danau Toba yang tidak turut menjaga lingkungan Danau Toba.

Lukisan bertema Batak juga menjadi inspirasi Oloan Situmorang pelukis realis yang merupakan pensiunan dosen di seni rupa Unimed ini pernah

melukiskan tentang ritual upacara ―Pameleon Bolon” ummat Parmalim pada

acara ‖Si Paha Lima‖, lengkap dengan borotan, dan kerbaunya, yang dilukiskannya secara illustratif dengan gaya dekotarif yang digarapnya dengan warna tanah yang hangat dengan kesan kedalaman warna yang menyiratkan kesakralan sebuah ritual dengan latar belakang keindahan alam tanah Batak Toba.

Mangatas Pasaribu, seorang dosen di seni rupa Unimed, juga kerap mengangkat tema budaya Batak Toba, baik dalam karya seni lukis, seni instalasi dan performance art, dengan mengangkat simbol-simbol, filosofi dan kosmologi warna-warna Batak. Karyanya dalam karya seni lukis diantaranya yang berjudul

Pesta Bolon‖, ―Gejolak Amarah‖, ―Hulubalang‖ dan masih banyak lagi, yang dilukiskan dengan komposisi yang sederhana dengan menggunakan kosmologi warna Batak Toba: merah, hitam dan putih.

Gambar 2.7

Karya Mangatas Pasaribu, ―Hulu Balang‖, 90 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas. Sumber foto: Mangatas Pasaribu.

Pelukis muda yang selalu mengangkat tema Batak di antaranya adalah Ferdinan Sibagariang alumni seni rupa di Unimed, yang lahir di Siborong-borong pada 9 Februari 1984. Ferdinan selalu terlibat dalam pagelaran pameran ―Jong Batak Art Festival‖, dan sejak mahasiswa memang selalu mengangkat tema simbolik dari budaya Batak yang digarapnya dengan cat minyak di kanvas dengan teknik pewarnaan yang tipis dan transparant seperti menggunakan cat air, judul

lukisan Ferdinan di antaranya ―Guru Mangalipa‖ (sebutan untuk sang raja) dan

Tonggo Panggoaran‖, serta banyak lagi.

Dalam karya ―Tonggo Panggoaran‖, yang berarti ―doa untuk anak pertama laki-laki‖, merupakan sebuah karya yang dipersembahkan untuk anaknya yang masih di dalam kandungan. Pada lukisan ditemukan ikan yang dalam istilah

Batak merupakan ―dekke simudur-udur yaitu sebagai simbol pembawa ke hal-hal yang baik, simbol rezeki, kesehatan dan keberlimpahan. Si bayi laki-laki yang

duduk di atas perahu orang Batak yang pada kepalanya menyerupai ―ulupaung”

(punak di atas rumah adat Batak) disimbolkan akan sebuah perjalanan yang

meninggalkan kampung halaman (merantau) yang diiringi dengan simbol ―desa nawalu‖ (arah delapan mata angin), yang dimaksudkan agar kemanapun si anak merantau, dia akan menemukan arah tujuannya (berhasil/sukses), juga ditemukan

adanya simbol ―Hariara Sundung Dilangit” (pohon hayat Batak) yang berkisah tentang kosmologi budaya Batak, adanya simbol tali merupakan tali pusat yang

menghubungkan si ibu dengan bayinya. Penulis bertanya, ―Mengapa lukisan itu

berwarna hitam?‖, Ferdinan menyebutkan karena ―karya ini merupakan doa yang belum tentu bisa dikabulkan Tuhan‖.

Gambar 2.8

Karya Ferdinan Sibagariang, ―Tonggo Panggoaran‖, 2016, 30 x 30 cm, tinta di kanvas. Sumber foto: Ferdinan Sibagariang.

Pelukis lainnya yang melukis beberapa karya lukis yang terinspirasi dengan budaya Batak Toba adalah: Hareanto Pasaribu, mahasiswa seni rupa

Unimed kelahiran Sibolga, yang memiliki skill teknikal yang tinggi dalam melukis realis. Sebagai mahasiswa yang masih mencoba kemungkinan- kemungkinan berkarya dengan beberapa alternatif berekspresi kesenian, Hareanto juga terinspirasi oleh budaya Batak Toba atau memperoleh stimulus dari karya dosennya Mangatas Pasaribu. Untuk memenuhi hasratnya dalam melukiskan sesuatu yang terinspirasi oleh budaya Batak, Hareanto melukiskannya secara imajinatif suryalistik dipadu abstraksi geometrik dengan mengangkat warna- warna Batak, seperti pada lukisannya yang berjudul ―Ulubalang”,“Gundala-

gundala”, ―Nagamosarang‖, dan masih banyak lagi, yang karya-karya tersebut

pernah dipamerkan pada ―Jong Batak Art Festival‖.

Gambar 2.9

Karya Hareanto Pasaribu, ―Ulubalang‖, 2013, 100 cm x 100 cm, cat minyak di kanvas. Sumber foto: Hareanto Pasaribu.

Ada mahasiswa yang sangat peduli terhadap lingkungan alam Danau Toba. Tema-tema yang mengangkat ikon-ikon dan simbol-simbol keluhuran

lukisnya. Ia adalah Salomo Fredicho Purba. Karya-karyanya yang sarat akan simbolis kebudayaan Batak Toba dan kritik terhadap pemerintah dan pengusaha di lingkungan Danau Toba tersebut dipamerkan pada pameran tunggal perdananya di Taman Budaya Medan pada Mei 2017.

Gambar 2.10

Karya Salomo Fredicho Purba, ―Penjaga Kewarasan‖, 2017, 90 cm x 70 cm, cat minyak di kanvas. Sumber foto: Salomo Fredicho Purba.

Pada karyanya yang berjudul ―Penjaga Kewarasan‖, Fredicho, perupa

muda yang akrab dipanggil Rico ini merasa marah akan banyaknya tragedi yang menimpa Danau Toba yang disebabkan oleh pengusaha-pengusaha asing yang membuang limbah di Danau Toba, hingga memunculkan banyaknya berkembang biak lintah dan kutu air di Danau Toba. Simbol penjaga kewarasan itu adalah patung singa-singa, yang dalam kosmologi budaya Batak Toba bertugas mengawal dan menjaga rumah.

Ada juga karya Lenni Sri Rezeki Pasaribu, pelukis perempuan alumni seni rupa Unimed yang lebih sering melukis bertema kehidupan perempuan dengan gaya surealis yang sering dipadu dengan teknik kolase pada kanvasnya. Leni juga melukiskan tentang karya berpola narasi simbolik etnik budaya Batak, dengan hanya menampilkan esensi benda yang mewakili berupa atribut yang dikenakan pengantin perempuan, seperti: ulos, bunga melati untuk hiasan rambut serta bunga

yang biasa dipegang oleh pengantin. Karyanya ini, diberinya judul ―Hasian‖ yang digarap menggunakan media cat minyak pada kanvas dengan motif ulos menggunakan teknik kolase kertas lembar emas bungkus rokok.

Gambar 2.11

Karya lenni Sri Rezeki Pasaribu, ―Hasian‖, 2016, 100 x 50 cm, mixed media di atas kanvas. Sumber foto: Lenni S.R Pasaribu

Dengan menampilkan lukisan yang berpola narasi simbolik budaya Batak Toba yang dipaparkan para seniman seni rupa Medan yang berlatar belakang etnik

atas merupakan orang-orang yang sangat faham akan kebudayaan Batak Toba yang sudah terpatri di dalam jiwa mereka, sehingga walaupun banyaknya arus modernisasi dan gempuran akan estetika formal Barat dalam wujud seni rupa modern di akademisi, yang menuntut konsep kebaruan pada karya fine art, malah memunculkan kesadaran dengan mengangkat nilai-nilai tradisi dan memunculkan kembali kebanggaan menjadi orang Batak Toba. Dengan harapan untuk terus memvisualkan kebesaran dan keluhuran budaya Batak Toba yang beradat dan beradab, dalam karya seni lukis dan seni rupa.

2.4 Kebudayaan Jawa Deli (Pujakesuma) dan Seni Lukis.

Dokumen terkait