BAB II
LATAR BELAKANG KEBUDAYAAN DAN PENGALAMAN
BERKESENIAN TIGA SENIMAN SENI RUPA MEDAN
Pada bab ini, latar belakang kebudayaan dari tiga seniman seni rupa yang diteliti sekaligus meliputi pengalaman berkeseniannya amatlah penting diulas, adalah untuk melihat gagasan dan nilai-nilai budaya yang diterapkan dalam karya masing-masing. Seperti ungkapan Uhi (2016: 161) yang menyatakan bahwa:
Dalam kebudayaan tercakup hal-hal bagaimana persepsi manusia terhadap lingkungan serta masyarakatnya, seperangkat nilai yang menjadi landasan pokok untuk menentukan sikap terhadap dunia luarnya, bahkan memotivir setiap langkah yang hendak dan harus dilakukannya, serta menyangkut pola hidup, juga mengenai tata cara kemasyarakatan.
juga sebagai makhluk yang mamiliki kemampuan untuk mencipta dan mengkreasikan karya seni.
―Kata budaya berasal dari bahasa latin cultura, yang berarti sampai atau
mengolah/membudayakan‖ (Kim, Yang dan Hwang, 2010: 16). Seni diciptakan
dan dihadirkan untuk kehadiran manusia akan kontemplasi, yaitu suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan (Mustopo, 1988: 122).
Untuk melihat aspek sosiohistoris dan kebudayaan dari tiga seniman yang diteliti berkaitan dengan karyanya, pada bab ini pendekatan etnografi sangatlah relevan digunakan karena metode ini sering digunakan untuk pendekatan penelitian kebudayaan. Etnografi merupakan bagian dari cabang ilmu antropologi yang bertujuan untuk menggali kehidupan masa lalu seseorang atau kelompok. Pengertian Etnografi dalam KBBI (2007: 309) adalah: ―(1) deskripsi tentang kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup; (2) ilmu tentang pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yang tersebar di muka bumi.‖ Kuntjara (2006:75), menjelaskan bahwa istilah yang digunakan dalam metode ini bermacam-macam, ada yang menggunakan istilah sejarah lisan, studi kasus, wawancara mendalam sejarah kehidupan, wawancara biografikal, sejarah kehidupan, dan narasi personal.
Dalam kajian etnografi pada bab ini, peneliti memfokuskan kepada ―latar
belakang kebudayaan dan biografi tiga seniman yang diteliti‖, berkaitan dengan
karyanya secara emik5 dan etik6 untuk mempelajari prilaku budaya dari ketiga seniman yang diteliti. Dalam konteks penelitian ini adalah untuk menemukan ideologi dan gagasan dalam berekspresi ke dalam karya seni rupa serta hubungan dengan kebudayannya, lingkungannya dan sosialnya.
2.1 Latar Belakang Kebudayaan Masyarakat Urban di Medan
Penelitian ini, dibatasi dengan kajian etnografi sebagai latar belakang dari tiga seniman seni rupa Medan yang diteliti, yaitu berupa deskripsi yang mengulas tentang kebudayaan yang mewakili bekaitan tentang produk karya seni rupa yang dihasilkan, berupa: budaya Karo oleh Rasinta Tarigan dengan karya seni lukisnya; budaya Batak Toba oleh Mangatas Pasaribu dalam karya seni rupanya; dan latar budaya Jawa (Deli) oleh M. Yatim Mustafa dalam karya seni lukisnya.
Sebelum memasuki ruang lingkup pembahasan mengenai latar belakang kebudayaan mereka, alangkah baiknya dibahas mengenai kondisi geografis kota Medan, sejarah berdirinya kota Medan, serta etnik-etnik yang ada di Sumatera Utara. Sebagaimana Medan—ibukota Sumatera Utara memiliki masyarakat yang heterogen, dikelompokkan berdasarkan kelompok-kelompok etnik natif (asli) yang
5
Dalam etnografi, ―emik‖ merupakan perspektif native, yang mencatat atau
mendeskripsikan pandangan dari si prilaku yang diteliti, berkaitan dengan konteks penelitian. Pada
penelitian dengan pendekatan ―emik‖, peneliti haruslah benar-benar menggunakan bahasa ungkapan yang diteliti. Pandangan dari peneliti tidak diperlukan di sini.
berasal dari kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara, juga terdapat etnik pendatang yang berasal dari nusantara, dan etnik pendatang dunia. Mengulas hal ini untuk sekedar mengetahui latar belakang budaya apa saja yang ada di sekitaran Medan dan Sumatera Utara.
2.1.1 Kondisi geografis kota Medan dan Sumatera Utara
Sumatera Utara merupakan sebuah provinsi yang berada di Pulau Sumatera Republik Indonesia yang beribukota Medan. Pada sisi Utara berbatasan dengan Nangroe Aceh Darussalam, pada sisi Timur berhadapan dengan Selat Malaka, pada sisi Selatan berbatasan dengan Sumatera Barat dan Provinsi Riau, pada sisi Barat berhadapan dengan Samudra Hindia. Sumatera Utara juga berada di jalur perdagangan Internasional, karena dekat dengan Malaysia dan Singapura.
Peta 2.1
Ditinjau dari letak wilayah geografis dan letak topografinya, wilayah Sumatera Utara terletak diantara 10-40 Lintang Utara dan 980-1000 Bujur Timur dengan Luas wilayah mencapai 71.680,68 km2 atau 3,72 % dari luas wilayah Sumatera Utara yang memiliki 162 pulau, yaitu 6 pulau di Pantai Timur dan 156 pulau di Pantai Barat.7
Peta 2.2
Peta wilayah administratif kota Medan.
Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan (http://www/disdukcapil.pemkomedan.go.id).
Sumatera Utara terdiri dari beberapa Kabupaten yang memiliki budaya etniknya sendiri. Hal ini, disebabkan karena pada masa lampau, pengklasifikasian wilayah regional digunakan untuk membaginya kedalam wilayah etnik. Seperti pada zaman Belanda yang membagi wilayah Sumatera Timur dan Tapanuli.
7
Wilayah yang paling terkenal di Sumatera Utara sebagai destinasi wisata adalah Danau Toba yang merupakan danau terbesar se Asia. Selain itu, Sumatera Utara terkenal akan keberagaman etnik dari masyarakatnya, serta hasil sumber daya alamnya, baik dalam perikanan maupun pertanian.
Berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia no. 35 tahun 1992 tentang pembentukan beberapa kecamatan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan, wilayah kota Medan kini terbagai atas 21 kecamatan dan 151 kelurahan dan 2.001 lingkungan. Wilayah kota Medan merupakan dataran rendah dengan topografi yang senderung miring ke Utara dan menjadi tempat pertemuan dua sungai, yaitu sungai Babura dan sungai Deli. Secara administratif, pada sebelah Utara berbatasan dengan Deli Serdang dan Selat Malaka, sebelah Selatan, Barat dan Timur berbatasan dengan kabupaten Deli Serdang (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintahan Kota Medan).8
2.1.2 Sejarah kota Medan
Pada zaman dahulu, wilayah kota Medan terkenal dengan nama Tanah Deli9, dengan kondisi tanah berawa-rawa yang diperkirakan luasnya mencapai 4000 hektar. Orang yang pertama sekali membuka perkampungan Medan adalah Guruh Patimpus, yaitu seorang bersuku Karo yang menikah dengan putri kerajaan Brayan yang memeluk agama Islam. Lokasi perkampungan kecil tersebut berada di Tanah Deli dengan masyarakatnya yang beretnik Melayu. Pada awal
8
perkembangannya, perkampunagn yang didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring
Pelawi dan istrinya pada tahun 1590 yang disebut dengan ―Medan-Putri‖10.
Karena letaknya yang berada di wilayah Tanah Deli, orang selalu menyebutnya dengan Medan-Deli.
Asal mula kata Medan mempunyai beberapa versi, ada yang
menyebutnya berasal dari kata ‖Medina‖ (asal tempat di Arab/Timur Tengah) dan
ada pula yang menyebutnya berasal dari bahasa India ―Meiden‖. Tetapi bila melihat dari peran Guru Patimpus yang seorang tabib, kata Medan sendiri relevan
bila disebutkan berasal dari bahasa Karo yaitu: ―Madan” yang berarti sembuh.
Sekitar tahun 1612, sejarah perluasan kota Medan tidak luput dari datangnya panglima Aceh (bernama Gocah Pahlawan) di Tanah Deli utusan dari Sultan Iskandar Muda (sultan Aceh) yang menjajah kesultanan Deli, yang berhasil membuka negeri baru di kawasan Sungai Lalang hingga berhasil memperluas wilayah kekuasannya hingga wilayah kecamatan Percut Sei Tuan dan kecamatan Medan Deli. Selain itu, Gocah Pahlawan juga berhasil mendirikan kampung-kampung, diantaranya: Gunung Klarus, Kota Bangun, Sampali, Pulau Brayan, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara.
Pada Tahun 1863 orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Tanah Deli yang sempat menjadi primadona. Sejak itu perekonomian terus berkembang hingga menjadikan Medan-Putri sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan di Sumatera Utara. ditandai pada tahun 1879 dipindahnya ibukota Asisten Residen Deli dari Labuhan Batu ke Medan, kemudian pada 1887 ibukota
10
Residen Sumatera Timur pindah dari Bengkalis ke Medan, juga pindahnya istana Kesultanan Deli dari kampung Bahari Labuhan ke Medan pada tahun 1891 yang juga selesainya pembangunan istana Maimoon yang sekaligus pula pindahnya ibukota kesultanan Deli.
2.1.3 Etnik-etnik di kota Medan
Kota Medan sebagai kota urban, penduduknya terdiri dari keberagaman etnik yang terdiri dari etnik-etnik lokal, etnik-etnik pendatang nusantara dan etnik-etnik pendatang mancanegara. Penduduk Medan membawa latar belakang kebudayaan (etnik native) yang melekat di dalam darah dan warisan dari orang tua dan leluhur-leluhur mereka. Penduduknya meliputi Etnik asli Sumatera Utara, yaitu: Melayu, Pakpak Dairi, Simalungun, Batak Toba, Karo, Mandailing, Angkola, dan Pesisir. Selain itu, Sumatera Utara juga meliputi masyarakat yang ber-etnik pendatang nusantara, meliputi: Alas, Gayo, Aceh, Minangkabau, Jawa, Sunda, Banjar, Bugis, dan lain-lain. Selain etnik asli dan pendatang nusantara, Sumatera Utara juga memiliki masyarakat yang berasal dari etnik pendatang dunia, di antaranya berasal dari Cina (Tionghoa), Tamil, Punjabi, dan berbagai etnik Eropa.
2.2 Kebudayaan Karo dan Seni Lukis
2.2.1 Kondisi geografis dan wilayah administratif tanah Karo
Karo) yang terbentang di dataran tinggi sekitar Gunung Sinabung, Gunung Sibayak dan Bukit Barisan. Wilayahnya yang terkenal adalah Kabanjahe dan Berastagi, terkenal karena keindahan dan kesejukan udara pegunungannya, sekaligus sebagai tempat pariwisata bagi turis lokal dan mancanegara.
Peta 2.3
Peta wilayah administratif Tanah Karo. Sumber: karo-karo.go.id
Wilayah etnik Tanah Karo kemudian oleh pemerintah dijadikan sebagai Kabupaten Karo dengan ibukota Kabanjahe, dengan kecamatan-kecamatan meliputi: kecamatan Mardinding, Laubaleng, Tigabinanga, Juhar, Barusjahe, Tigapanah, Simpang Empat, Payung, Kutabuluh, Munte, Merek, Merdeka, Naman Teran, Tiganderket, Dolat Rayat, dan Berastagi (Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo, 2013)11.
Ditinjau dari kondisi topografi luasnya mencapai 212.725 hektar yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan dengan elevansi terendah + 140 meter di atas permukaan laut dan terendah + 2.451 meter di atas permukaan laut (Gunung
11
Sinabung). Sebagian besar wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian /elevansi + 140 – 1.400 meter di atas permukaan laut.12
Tanah Karo merupakan daerah yang banyak menghasilkan sayur-mayur, buah-buahan dan bunga-bunga segar. Hasil panennya, dikenal bukan saja untuk memenuhi kebutuhan rakyat Sumatera Utara, tetapi juga untuk (di eksport) ke Malaysia dan Singapura.
2.2.2 Sejarah masyarakat suku Karo
Banyak versi yang menyatakan tentang asal-usul orang Karo. Ada yang menyatakan bahwa suku Karo merupakan pecahan dari suku Batak, ada pula yang menyatakan bahwa suku Karo bukanlah Batak, melainkan berasal dari India yaitu dari seorang panglima India bernama Karo dan putri Raja India. Bahkan ada pula yang menyatakan bahwa asal mula suku Karo sama dengan asal mula suku Melayu.
Suku Karo duhulu dipercaya memiliki sejarah dan persamaan dengan budaya Melayu karena didasari oleh sejarah yang sama, yaitu berawal pada kerajaan yang sama, yaitu kerajaan Haru (Takari dan Dja‘far, 2014: 89). Suku Karo yang dulunya berasal dari kerajaan Haru yang akhirnya terbelah dua akibat kehancuran kerajaan tersebut karena ulah Belanda, satu sisi menjadi suku Melayu yang tinggal di wilayah pesisir atau dataran rendah dan sisi lain adalah suku Karo yang tinggal di wilayah pegunungan.
Kebenaran tentang hubungan kerajaan Haru dengan orang Karo bisa diterima bila melihat menurut sejarah asal mula kata Karo yang berasal dari Haru dan Haro yang lama-lama menjadi Karo. Nasution menjelaskan catatan Elisa Ginting bahwa suku Karo masuk ke wilayah Sumatera Timur ketika zaman batu. Terjadi perpindahan orang Tiongkok Selatan Hindia Belakang dan bangsa-bangsa Hindia Belakang terdesak dan kemudian banyak pindah ke Selatan, antara lain Campa, Siam maupun Kamboja. Kemudian ada yang menyebar melalui Malaya dan hijrah ke Sumatera. Menurut Prof. G. Ferrnad, perpindahan suku tersebut terjadi pada kira-kira tahun 1500 tahun SM yang disebut dengan ras Proto Malay (Melayu Tua). Sedangkan pendapat Prof. Dr. Kern, perpindahan ras Proto Malay ini terjadi kira-kira 4000 SM dan perpindahan ras Detro Malay terjadi kira-kira 2000 tahun SM (Nasution, 2016: 2-3).
2.2.3 Agama suku Karo
Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen di Tanah Karo, masyarakat Karo dahulunya menganut aliran animisme13 atau kepercayaan tradisional yang disebut dengan Parbegu yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Pamena (Kineteken Si Pemena) yang mengsakralkan dan menghormati roh leluhur. Kini, masyarakat Karo banyak yang memeluk agama Islam, Budha, Kristen protestan, dan Kristen Katolik.
Kineteken si Pemena yang dikonotasikan sebagai ―kepercayaan asli‖ orang
Karo, yang dalam ungkapan bahasa Indonesia disebut dengan ―belum masuk
13
agama‖ yang tidak diekspresikan secara sistematis, tidak ada kitap suci, serta
tidak ada dogma di dalamnya. Unsur yang relevan adalah yang disebut dengan begu yang diartikan sebagai roh-roh seseorang atau leluhur yang telah lama meninggal (tendi) (Ginting, 2014: 11).
Agama Islam masuk ke tanah Karo melalui pesisir pantai Sumatera dan Nangroe Aceh Darussallam. Sedangkan agama Kristen di bawa masuk dan diperkenalkan oleh misionaris Belanda yang bernama NZG (Nederlandch Zendeling Genooscapt) sejak tahun 1894 atas dukungan oleh J.T.H. Gremers yang seorang Direktur Perkebunan Tembakau Deli Maatschappij pada saat itu. Agama Nasrani atau Kristen masuk melalui desa Buluh Awar, kecamatan Sibolangit, kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara (Ginting, 2014: 81).
2.2.4 Budaya Karo
Munthe, Juhar, Tigabinanga, Kutabuluh, dan Mardinding. (2) Dialek Kabanjahe atau cakap kalak julu merupakan dialek yang terdapat di kecamatan Kabanjahe, Tigapanah, Simpang Empat dan Barusjahe, dan (3) Dialek jahe-jahe atau cakap kalak Karo jahe yang meliputi wilayah kecamatan Pancurbatu, Biru-Riru, Sibolangit, Lambekeri, Namorambe, serta kabupaten Langkat Hulu seperti Salapian, Kuwala, Bahorok, dan lain-lain.
Di Medan, tokohnya yang terkenal adalah Guruh Patimpus Sembiring Pelawi. Guruh patimpus merupakan seseorang tabib bersuku Karo yang mendirikan perkampungan Medan-Putri di wilayah Tanah Deli pada 1 Juli 1590. Guru Patimpus dulunya beragama Pamena, yang kemudian memeluk agama Islam dan menikah dengan putri kerajaan Pulo Brayan.
Dalam konsep konsep kekerabatan masyarakat Karo dikenal dengan sebutan Tutur Siweluh, yang merupakan konsep penuturan (Partuturan dalam istilah Batak Toba), yang terdiri dari delapan golongan, yakni: (1) Puang Kalimbubu, (2) Kalimbubu, (3) Senina, (4) Sembuyuk, (5) Senina Sipemeren, (6) Senina Sipengalon/Sedalanen, (7) Anak Beru, dan (8) Anak beru Menteri. Masyarakat Karo telah dikukuhkan oleh sistem kekerabatan, yaitu: merga silima, rakut sitelu, dan tutur siwaluh. Merga Silema yaitu pengelompokkan masyarakat ke dalam lima merga, berupa merga (1) Tarigan, (2) Sembiring, (3) Karo-karo, (4) Parangin-angin dan (5) Ginting. Dari setiap kelima merga ini, terbagi lagi ke dalam merga-merga kecil (sub merga).
Rakut Sitelu (sangkep nggeluh atau dalikan si telu) yang secara metaforik
ikatan kelengkapan hidup‖. Filosofinya merupakan sebuah kisah suatu kondisi
yang menyatakan: ―ketika sedang memasak di dapur, periuk haruslah ditempatkan
di atas tungku yang berkaki tiga. Kalau kaki tungku kurang dari tiga, maka pasti
periuk itu jatuh dan pecah.‖ Jadi, dalam masyarakat Karo, ungkapan Rakut Sitelu
tersebut adalah bagian atau lembaga inti dalam masyarakat Karo yang terdiri dari 3 kelompok, yaitu: (1) Kalimbubu (keluarga pemberi istri), (2) Anak Beru (keluarga yang mengambil atau menerima/istri) dan (3) Senina (keluarga inti semerga) (Bangun, 1988: 611-62).
2.2.5 Budaya rupa suku Karo
` Suku Karo memiliki banyak karya rupa, di antaranya adalah: rumah adat Karo, benda-benda rumah tangga dalam bentuk wadah dari anyaman bambu, uis (kain tenun khas Karo), gundala-gundala (topeng khas Karo), gana-gana14 (patung khas Karo), sertali (perhiasan yang terbuat dari perak), pisau tumbuk lada (pisau khas Karo), perlatan musik Karo dan lain sebagainya. Karya seni rupa yang dihasilkan oleh budaya Karo yang paling menonjol dan monumental adalah rumah adat Karo, yang saat ini sudah mulai berkurang jumlahnya dan bisa dihitung oleh jari. Kini, pemerintah lokal seperti Kabanjahe dan Berastagi masih menggunakan
14
sebagian dari rumah adat Karo, yaitu gerga-nya untuk menghiasi bangunan modern, seperti pada kantor Bupati Tanah Karo.
Estetika rumah adat Karo dapat dilihat dari dua sisi, yaitu pada estetika arsitektur bangunan dan pada gerga (ragam hiasnya). Selain dari segi estetika, rumah adat Karo memiliki fungsi identitas yang memiliki makna simbolis yang membedakannya dengan etnis lain (bersifat ciri khas) yang dapat dikenali dari konstruksi atapnya yang besar serta tinggi, terbuat dari bahan kayu dan ijuk. Selain sebagai identitas wilayah admisnistratif kesukuan, rumah adat Karo dapat juga menunjukkan status sosial dari pemiliknya dilihat dari ukuran besar bangunan dan tinggi atapnya, yang memiliki anjungan (kepala kerbau) juga dapat dilihat dari gerga-nya. Sebab, dari besarnya kayu-kayu yang digunakan juga oleh banyak dan indahnya gerga pada rumah adat Karo, menunjukkan kemampuan pemilik rumah untuk membayar pengrajin.
Hal ini sesuai dengan tulisan Erdansyah (2013: 29-30), yang menjelaskan hasil wawancara dengan narasumber dalam penelitiannya, yang menyatakan, bahwa:
Keberadaan gerga yang sebelumnya sudah berkembang sebagai kerajinan pada kalangan masyarakat Batak Karo kemudian digunakan untuk memperindah rumah adat raja-raja Batak Karo, khususnya pada masa kerajaan Lingga, yaitu Raja Sendi Sibayak Lingga dan putranya, yaitu Raja Kalilong Sebayak Lingga. Oleh karena itu, rumah adat Batak
Karo disebut juga ―Rumah Gerga‖ atau ―rumah raja‖.
Karo juga diperindah dengan adanya ragam hias-nya. Ragam hias rumah adat Karo meliputi: melmelan yang diposisikan paling bawah, yang terdiri dari susunan beberapa gerga, yaitu: Tapak Raja Sulaiman, Bidu Natogog, Embun Sikawiten, Bunga Gundur, Pantil Manggis, Teger Tudung, Takal Dapur dan Tutup Dadu (Erdansyah 2013: 68).
Di samping ragam hias gerga yang diletakkan di bawah bangunan, pada dinding-dinding rumah juga dipasang gerga pengreret yang menyerupai bentuk cicak berkepala dua, yaitu kepala cicak terbentuk dari dua arah depan dan belakang yang tidak mempunyai bagian ekor. Pengreret dibuat dari bahan ijuk yang dipintal seperti benang dan dibentuk di antara dinding-dinding rumah. Masyarakat percaya, pengreret dapat menangkal niat-niat jahat yang datang dari orang lain melalui celah-celah dinding.
Bila ditinjau dari seni lukis, ragam hias (gerga) yang memperindah rumah adat Karo, memiliki unsur lukis didalamnya karena terdapat unsur bentuk dan mewarnai, sekaligus memiliki makna simbolis yang menyiratkan tentang kosmologi budaya Karo. Seperti pola sulur-suluran dedaunan dan bunga yang disebut dengan mel-melan.
Orang Karo juga memiliki budaya rupa yang sangat khas, yaitu kain tenun seperti songket pada orang Melayu atau ulos pada Batak Toba. Kain tenus khas
Karo ini disebut dengan ―uis‖ yang digunakan untuk pakaian sehari-hari dan
pakaian ritual adat, baik adat kelahiran, perkawinan, maupun kematian.
batujala, uis kelam-kelam, uis bekah buluh, gobar dibata, uis pementing, gatip gewang, gatip jongkit, gatip cukcak, uis gara-gara, uis parembah, uis jujung-jujungen, uis nipes ragi mbacang, uis nipes padang rusak, uis nipes mangiring, dan uis nipes benang iring (Tarigan, 2010: 156-161). Warna-warna pada uis Karo juga beragam, yang paling banyak berwarna dasar hitam dan merah, yang bercorak hitam, emas, kuning dan putih.
2.2.6 Budaya Karo dalam karya seni lukis seniman Medan
Karya seni lukis sebagai karya fine art banyak kembali menggali unsur-unsur budaya (culture) yang bersifat tradisi. Budaya Karo dalam karya seni lukis sering dan pernah dilukiskan oleh seniman senior Medan, yaitu almarhum M. Saleh yang melukiskan tentang suasana perkampungan Karo yang dilukiskannya secara dekoratif dengan warna-warna tanah yang hangat serta terkesan mistis.
Seni lukis yang menggali unsur-unsur tradisi tampak pada simbol-simbol budaya Karo yang digambarkan oleh para seniman seni lukis di Medan pada kanvasnya. Diantaranya adalah Rasinta Tarigan yang selalu menggambarkan tentang perkampungan Karo yang ditandai dengan rumah adat khas Karo, topeng Karo (gundala-gundala), ragam hias Tapak Raja Sulaiman juga memunculkan figur-figur pengantin perempuan Karo di antara simbol-simbol segitiga-segitiganya juga salib sebagai simbol religius dari mayoritas orang Karo yang memeluk agama Kristen.
berupa sapuan kuas bercat minyak di atas kanvas. Hal tersebut mengkonotasikan, walaupun budaya modern akibat pengaruh Barat mengisi setiap sendi kehidupan, unsur-unsur tradisi Karo sangat melekat di dalam diri mereka yang bersuku Karo sebagai identitas diri dan kebanggaan sebagai orang Karo, hal ini memunculkan rasa cinta kepada warisan leluhur yang harus dijaga, yang bukan hanya dalam benda-benda budayanya saja, tetapi juga dalam kepribadian mereka.
Gambar 2.1
Karya seni lukis Rasinta Tarigan. Sumber Foto: Rasinta Tarigan.
Hal tersebut di atas juga terjadi pada putra Karo, yaitu Teradim Sitepu
yang saat ini menetap di Medan. Pada karyanya yang berjudul ―Pengantin Karo‖,
menimpa tanah Karo, hingga memunculkan lukisan berjudul ―Mengungsi‖.
nuansa tentang Kedamaian, keindahan dan keluhuran budaya Karo juga dilukiskan dalam lukisannya yang berjudul ―Kampung Karo‖ yang bersifat illustratif, dan masih banyak lagi karyanya yang menggambarkan rumah adat Karo.
Gambar 2.2
Karya Teradim Sitepu, ―Pengantin Karo‖, 60 x 60 cm, akrilik di atas kanvas.
Sumber foto: Fitri Evita.
suasana keindahan perkampungan Karo yang ditandai dengan rumah-rumah adat Karo. Karya-karya realisnya juga kerap menampilkan figur-figur beretnik Karo.
Gambar 2.3
Karya Nelson Tarigan, tentang suasana kampung Karo, cat minyak di atas kanvas. Sumber foto: Fitri Evita.
Sutrisno, Suhendra Hamid, Sayang Bangun, serta lukisan Rumah adat Karo oleh Soenoto HS. dan masih banyak lagi.
Gambar 2.4
Karya Nazwir Nazar, ―Tanah Karo‖, 2016, 35 x 20 cm, cat minyak di atas kanvas. Sumber foto: Nazwir Nazar.
Gambar 2.5
Karya Nazwir Nazar, ―Gunung Sinabung di Tanah Karo‖ 2016, 35 x 20 cm,, cat minyak di atas kanvas
2.3 Kebudayaan Batak Toba dan Seni Rupa
2.3.1 Kondisi geografis dan wilayah administratif Batak Toba
Peta 2.4
Peta wilayah Batak Toba.
Sumber foto: www.togapardede.wordpress.gif
2.3.2 Sejarah masyarakat Batak Toba
Parlindungan dalam Erdansyah (2013: 12-14), menjelaskan bahwa:Orang Batak berasal dari suatu ras, yaitu Proto Malayan Tribes yang berasal dari pegunungan Burma/Siam (Thailand). Bangsa Batak telah hidup selama 12.000 tahun dengan suku-suku bangsa Proto Malayan Tribes lainnya, yaitu suku bangsa Karen, Igorot, Toradja, Bontoc, Ranau, Meo, Tayal, Wadjo, dan masing banyak lagi suku-suku lainnya. Orang Proto Malayan Tribes secara bergelombang mendarat di pantai Barat pulau Andalas dan kemudian terpecah menjadi tiga gelombang, yang pertama berlayar sampai ke pulau Nias, Simelur, Mentawai, Siberut, bahkan sampai ke Enggano. Kedua, masuk sampai ke pedalaman Sumatera melalui sepanjang sungai Simpag Kiri hingga ke Kutacane dan menduduki semua pedalaman Aceh. Ketiga, mendarat melalui sungai Sorkam (antara Barus dan Sibolga), kemudian menuju ke wilayah yang lebih tinggi, yaitu Pusuk Buhit (sebuah tempat di wilayah tepi Barat Danau Toba). Pada gelombang ke-tiga ini, suku Batak terpisah menjadi beberapa suku, di antaranya yang disebut dengan Batak Karo.
2.3.3 Kebudayaan Batak Toba dan pesebarannya
Dengan adanya simbol marga sebagai identitas turun temurun yang melekat pada nama-nama orang Batak Toba, menjadikan orang Batak Toba harus turut dan tunduk kepada koridor-koridur peraturan tentang hubungan kekeluargaan/kekerabatan yang melarang menikah dengan se-marga. Karena marga yang dibawa sebagai identitas, orang Batak-Toba sangat mudah beradaptasi dan berkumpul di lingkungan manapun karena bisa menemukan kerabat se-marga atau partuturan-nya, karena hanya dengan menyebut marga saja, rasa persaudaraan secara otomatis akan terkontak dan terhubung satu sama lain.
Batak Toba memiliki falsafah Dalihan Na Tolu (somba Marhula-hula, Mangat Mardongan Yubu, dan Elek Marboru) yang merupakan pranata tata hubungan interaksi sekaligus landasan pola tingkah laku terhadap sesama. Ketiga unsur Dalihan Na Tolu melahirkan panggilan kekeluargaan atau panggilan kekerabatan Batak Toba (partuturan) yang menunjukkan strata, ikatan kekeluargaan/kekerabatan berdasarkan nilai-nilai luhur dan kesopanan. Tuturan (panggilan sistem kekeluargaan/kerabat) tersebut meliputi: Ompung, bapa, inong, anak boru, angkang, anggi, lae, tunggane, eda, inang bao, namboru, amang boru, inang baju, tante, tulang, nantulang. Arti dan maknanya dijelaskan oleh Hutasoit
dalam bukunya berjudul ―Keluhuran Budaya Batak-Toba‖, sebagai berikut.
suami (tunggane doli), saudara laki-laki ibu/mamak (tulang, nantulang) dan lain sebagainya (Hutasoit, 2011: 8).
Pada saat ini, masyarakat Batak Toba menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, dan Parmalim, dengan mayoritas masyarakatnya menganut agama Kristen Protestan. Penyebaran agama Kristen awalnya dibawa masuk oleh Pendeta Burton dan Ward pada tahun 1824 pada kawasan Silindung (sekarang Tarutung), yang mula-mula tidak diterima oleh masyarakat Batak Toba. Hingga berganti-ganti pendeta yang datang untuk melakukan penginjilan dari tahun ketahun. Puncaknya pada tahun 1862, dengan dipimpin oleh Dr. Ingwer Ludwig Nomensen, penginjilan di tanah Batak terjadi dengan pesat, kemudian melakukan penyebaran atau perluasan (penginjilan) pada tahun 1903 yang berhasil di daerah Simalungun dan Tanah Karo.
Kini, mayoritas orang Batak Toba beragama Kristen Protestan. Dalam budaya Batak Toba yang menganut agama Kristen Protestan tetap tidak menghilangkan unsur kebudayaan Batak Toba yang melekat dalam diri mereka,
yaitu: adanya ―Buku Ende‖ yang merupakan sebuah buku yang berisi lagu-lagu
pujian dalam bahasa Batak yang secara umum dipakai dalam kebaktian gereja Kristen Batak di Indonesia, juga dalam ritual ritus peralihan seperti kelahiran, pernikahan hingga kematian.
2.4.2 Parmalim
Sisingamangaraja XII, yang dahulunya Raja Sisingamangaraja memiliki Agama Hamalimon yang artinya kesucian dan kebersihan. Selain Raja Sisingamangaraja ada tokoh-tokoh lain yang amat berperan dalam Parmalim, yaitu: Guru Somalaing Pardede, yaitu seorang tokoh yang kharismatik, sebagai tokoh spiritual, tokoh dan ahli politik, ahli strategi yang selalu nekad melakukan aksi pengorganisasian Hamalimon. Tokoh yang satunya adalah Raja Mulia Napospos yang sebelum menjadi pemimpin Parmalim Hutatinggi, beliau adalah Raja Parbaringin Bius Laguboti.
Dalam Ugamo Malim, ada beberapa Figur Supranatural dalam jajaran Parmalim Nasiak Bagi Hutatinggi, yaitu: (1) Debata Mulajadi Na Bolon, (2) Debata Na Tolu (Batara Guru Doli, (3) Sori Sohaliapan dan Bala Bulan, (4) Si Boru Deak Parujar, (5) Naga Padoha Ni Aji, (6) Boru Saneang Naga, (7) Patuan Raja Uti, (8) (Tuhan) Simarimbulubosi.
penjelmaan dari wujud Samarimbulubosi yang telah mengalami kematian sebanyak tiga kali15.
Parmalim atau Ugamo Malim, resmi diakui oleh pemerintah Belanda pada tahun 1921, yang kemudian memiliki Parmalim School yang berdiri pada tahun 1931. Kemudian pemerintah Indonesia mengakui Parmalim pada tahun 1980 di bawah Menteri Pendidikan dan Pariwisata (P dan K), yang penelitiannya dilakukan oleh budayawan Usman pelly. Kini, komunitas Ugamo Malim sudah tersebar keseluruh Indonesia.16
Gambar 2.6
Upacara Sipaha Lima pada hari ritual Pameleon Bolon yang dilaksanakan oleh ummat Parmalim. Sumber foto: Fitri Evita (2016).
Parmalim Hutatinggi Laguboti sebagai pusat dari komunitas Parmalim yang tersebar di seluruh Indonesia mempunyai tujuh aturan atau ajaran, antara lain:
15
Untuk lebih jelasnya tentang konsep teistik yang menjadi landasan ritual peribadatan keberagamaan Parmalim dapat dilihat pada buku Harahap yang berjudul ―Hatani Debata‖ yang diterbitkan di bulan Juli 2016, hal. 92-113.
1) Marari Sabtu (ibadah yang dilakukan setiap hari Sabtu). 2) Martutu Aek (penabalan nama kepada anak yang baru lahir).
3) Pasahat Tondi (Permohonan pengampunan kepada yang telah meninggal selama 40 hari).
4) Mardebata (Pengucapan syukur dan meminta pengampunan atas dosa-dosa sendiri, anak dan orang tua).
5) Mangana Paet (makan yang pahit), adalah acara puasa selama satu hari satu malam (24 jam) dimulai dengan memakan pahit dahulu dan berbuka dengan memakan yang pahit-pahit juga.
6) Sipaha Sada (hari kelahiran Tuhan Si Marim Bulu Bosi sekaligus tahun baru orang Batak).
2.3.4 Seni rupa dalam budaya Batak Toba
Karya seni rupa yang bersifat tradisi dalam budaya Batak Toba banyak ditemukan, diantaranya dalam karya arsitekturnya, yaitu bentuk rumah adat-nya yang memiliki gorga (ragam hias pada rumah). Selain itu Batak-Toba juga memiliki karya-karya kerajinan yang memiliki kosmologi simbolis pada seni patungnya, pada tongkat-tongkat khas Batak-Toba, pada seni pertunjukannya (seperti Sigale-gale), pada seni perhiasannya dan pada kain ulos-nya.
Ciri khas rumah adat Batak-Toba yang terbuat dari kayu adalah memiliki bentuk yang besar dengan ciri atapnya yang terbuat dari ijuk berbentuk tinggi menjulang, dengan bentuk melengkung ke atas yang kedua sisinya menjulang tinggi ke-atas berhiaskan patung Ulupaung17, yaitu patung berukir yang berbentuk menyerupai atau stilasi kepala kerbau yang diwarnai hitam, merah dan putih, sebagai simbol bahwa penghuni rumah selalu ingat dan hormat kepada leluhur.
Bentuk karya seni rupa yang bersifat tradisi pada etnik Batak Toba tampak pada patung Singa-singa18, patung Gaja Dompak19, patung Ulupaung, juga pada ukiran gorga yang diukir berbentuk sulur-suluran yang dicat berwarna merah, hitam dan putih. Ukiran Gorga mempunyai banyak ragamnya, diantaranya Gorga Silinggom, Gorga Silintong, Gorga Silonggi, dan masih banyak lagi jenisnya yang masing-masing memiliki arti.
17
Gorga/patung Ulupaung berjumlah dua buah, yang satu disebut Ulupaung ginjang yang diletakkan dibagian atas yang tidak jauh dari puncak bangunan, dan yang paling bawah disebut dengan Ulupaung (lihat Siahaan, 2015, hal. 42)..
18
Patung Singa-singa patung penghias rumahberbentuk berupa stilasi kepala singa yang biasanya diukir berpasangan, diyakini berfungsi sebagai menjaga dan mengawal rumah (Ibid, hal. 38).
19
Karya seni rupa tradisi dalam budaya Batak Toba lainnya juga terdapat pada tongkat-tongkat para Raja Batak Toba, yaitu Tunggal Panuluan yang terbuat dari kayu berbentuk panjang yang diukir berbentuk 3 dimensi dengan ukiran patung-patung berbentuk figur-figur Batak yang sedang duduk tersusun menunggangi binatang, dari bentuk yang paling kecil dibawah hingga ke yang paling besar pada bagian atas yang dihiasi oleh rambut. Tunggal panuluan panjangnya berkisar antara 150 - 175 cm dengan garis tengah sekitar 5 cm yang diukir menggunakan kayu donggala atau piu-piu tangguli20.
Berbeda dengan Tunggal Panuluan, masyarakat tradisi Batak Toba juga memiliki Tungkot Malehat yang agak berbeda dan lebih sederhana, dengan ukuran yang lebih pendek. Bahannya terbuat dari bambu atau kayu, dengan variasi ukiran yang lebih beragam yang memiliki khas hiasan berupa patung dan rambut yang ditempelkan diujung tongkat beserta gelang dari logam. Tungkot Malehat umumnya dimiliki oleh raja (datu) dan memiliki kekuatan magis yang lebih besar dari tunggal panuluan.21
Di Batak Toba ada wadah tempat obat/menyimpan ramu-ramuan yang disebut dengan naga morsarang, terbuat dari ukiran tanduk kerbau sebagai batang tubuh yang dihias sangat indah, dan dengan tutupnya terbuat dari kayu berukir menyerupai wajah binatang dan wajah manusia yang distilasi dan dideformasi dengan mata yang melotot sangat lebar, hidung mancung dan dagu menonjol ke depan. Tepat di atas tubuh dan kepalanya diukir beberapa bentuk figur manusia
20
Untuk lebih mengenal tentang bentuk dari tongkat tunggal panuluan, dapat dilihat pada
dengan posisi menunggang singa atau kuda. Jumlah yang menunggang tidak selalu sama, ada kalanya hanya seorang, tetapi ada yang sampai berjumlah enam orang.22
Karya seni rupa yang berkaitan dengan seni rupa pertunjukan adalah boneka Sigale-gale (penari yang lemah gemulai) yang diciptakan oleh seorang orang tua yang memiliki anak tunggal laki-laki yang sudah meninggal dunia sebelum berumah tangga. Hal ini dilatar belakangi karena kepercayaan orang
Batak Toba, yang dijelaskan oleh Siahaan (2015: 374) bahwa: ―menurut
kepercayaan orang Batak, nasib buruk yang dialami sebuah keluarga jika putra
tunggalnya meninggal sebelum berumah tangga.‖ Diciptakanlah boneka
Sigale-gale yang cukup besar untuk menghilangkan duka lara ayahnya, yang digerakkan seperti bermain dan menari seolah-olah anak itu sedang bermain.
Patung-patung pada Budaya Batak dahulu sebelum masuk agama dibuat berlandaskan akan ketakutan penduduk terhadap serangan roh jahat, maka dibuatlah patung-patung berbentuk manusia yang bersifat sebagai penjaga. Selain itu, ditemukan juga patung nenek moyang, patung penolak bala/pengawal kampung, Pohung penjaga kebun, patung peramal, patung batu, dan patung
bernoda.‖ Penggunaan Ulos Jugia memiliki aturan dan tidak boleh dipakai oleh
sembarang orang, kecuali yang sudah ―saur matua” yang atinya semua anaknya,
baik laki-laki dan perempuan harus sudah menikah dan memiliki anak dan cucu. Berarti, harus sudah memiliki cicit.
2.3.6 Karya seni rupa bertema budaya Batak Toba
Upaya melestarikan unsur budaya rupa Batak Toba dalam seni rupa tampak dari peran Unimed (Universitas Negeri Medan) di program studi seni rupa, khususnya pada mata kuliah ragam hias, seni kriya, seni lukis, seni grafis dan seni fotografi. Upaya untuk mengangkat budaya leluhur Batak Toba banyak muncul pada karya-karya seni lukis (fine art) mahasiswa seni rupa di Unimed, seperti Ferdinan Sibagariang, Hareanto Pasaribu, Salomo Fredicho Purba dan alumni-alumni seni rupa Unimed lainnya, seperti: Mangatas Pasaribu, Bom Brata Simbolon, Lenni S.R Pasaribu, juga oleh pelukis-pelukis Medan seperti Andreas Manik, Alwan Sanrio, Farida Lisa Purba, dan Oloan Situmorang. Bukan hanya
menyiratkan kritik terhadap pemerintah wilayah administratif Danau Toba yang tidak turut menjaga lingkungan Danau Toba.
Lukisan bertema Batak juga menjadi inspirasi Oloan Situmorang pelukis realis yang merupakan pensiunan dosen di seni rupa Unimed ini pernah
melukiskan tentang ritual upacara ―Pameleon Bolon” ummat Parmalim pada
acara ‖Si Paha Lima‖, lengkap dengan borotan, dan kerbaunya, yang
dilukiskannya secara illustratif dengan gaya dekotarif yang digarapnya dengan warna tanah yang hangat dengan kesan kedalaman warna yang menyiratkan kesakralan sebuah ritual dengan latar belakang keindahan alam tanah Batak Toba.
Mangatas Pasaribu, seorang dosen di seni rupa Unimed, juga kerap mengangkat tema budaya Batak Toba, baik dalam karya seni lukis, seni instalasi dan performance art, dengan mengangkat simbol-simbol, filosofi dan kosmologi warna-warna Batak. Karyanya dalam karya seni lukis diantaranya yang berjudul
―Pesta Bolon‖, ―Gejolak Amarah‖, ―Hulubalang‖ dan masih banyak lagi, yang
Gambar 2.7
Karya Mangatas Pasaribu, ―Hulu Balang‖, 90 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas. Sumber foto: Mangatas Pasaribu.
Pelukis muda yang selalu mengangkat tema Batak di antaranya adalah Ferdinan Sibagariang alumni seni rupa di Unimed, yang lahir di Siborong-borong pada 9 Februari 1984. Ferdinan selalu terlibat dalam pagelaran pameran ―Jong Batak Art Festival‖, dan sejak mahasiswa memang selalu mengangkat tema simbolik dari budaya Batak yang digarapnya dengan cat minyak di kanvas dengan teknik pewarnaan yang tipis dan transparant seperti menggunakan cat air, judul
lukisan Ferdinan di antaranya ―Guru Mangalipa‖ (sebutan untuk sang raja) dan
―Tonggo Panggoaran‖, serta banyak lagi.
Dalam karya ―Tonggo Panggoaran‖, yang berarti ―doa untuk anak
pertama laki-laki‖, merupakan sebuah karya yang dipersembahkan untuk anaknya yang masih di dalam kandungan. Pada lukisan ditemukan ikan yang dalam istilah
Batak merupakan ―dekke simudur-udur‖ yaitu sebagai simbol pembawa ke hal-hal
duduk di atas perahu orang Batak yang pada kepalanya menyerupai ―ulupaung”
(punak di atas rumah adat Batak) disimbolkan akan sebuah perjalanan yang
meninggalkan kampung halaman (merantau) yang diiringi dengan simbol ―desa
nawalu‖ (arah delapan mata angin), yang dimaksudkan agar kemanapun si anak merantau, dia akan menemukan arah tujuannya (berhasil/sukses), juga ditemukan
adanya simbol ―Hariara Sundung Dilangit” (pohon hayat Batak) yang berkisah
tentang kosmologi budaya Batak, adanya simbol tali merupakan tali pusat yang
menghubungkan si ibu dengan bayinya. Penulis bertanya, ―Mengapa lukisan itu
berwarna hitam?‖, Ferdinan menyebutkan karena ―karya ini merupakan doa yang
belum tentu bisa dikabulkan Tuhan‖.
Gambar 2.8
Karya Ferdinan Sibagariang, ―Tonggo Panggoaran‖, 2016, 30 x 30 cm, tinta di kanvas. Sumber foto: Ferdinan Sibagariang.
Unimed kelahiran Sibolga, yang memiliki skill teknikal yang tinggi dalam melukis realis. Sebagai mahasiswa yang masih mencoba kemungkinan-kemungkinan berkarya dengan beberapa alternatif berekspresi kesenian, Hareanto juga terinspirasi oleh budaya Batak Toba atau memperoleh stimulus dari karya dosennya Mangatas Pasaribu. Untuk memenuhi hasratnya dalam melukiskan sesuatu yang terinspirasi oleh budaya Batak, Hareanto melukiskannya secara imajinatif suryalistik dipadu abstraksi geometrik dengan mengangkat warna-warna Batak, seperti pada lukisannya yang berjudul ―Ulubalang”,“Gundala
-gundala”, ―Nagamosarang‖, dan masih banyak lagi, yang karya-karya tersebut
pernah dipamerkan pada ―Jong Batak Art Festival‖.
Gambar 2.9
Karya Hareanto Pasaribu, ―Ulubalang‖, 2013, 100 cm x 100 cm, cat minyak di kanvas. Sumber foto: Hareanto Pasaribu.
lukisnya. Ia adalah Salomo Fredicho Purba. Karya-karyanya yang sarat akan simbolis kebudayaan Batak Toba dan kritik terhadap pemerintah dan pengusaha di lingkungan Danau Toba tersebut dipamerkan pada pameran tunggal perdananya di Taman Budaya Medan pada Mei 2017.
Gambar 2.10
Karya Salomo Fredicho Purba, ―Penjaga Kewarasan‖, 2017, 90 cm x 70 cm, cat minyak di kanvas. Sumber foto: Salomo Fredicho Purba.
Pada karyanya yang berjudul ―Penjaga Kewarasan‖, Fredicho, perupa
Ada juga karya Lenni Sri Rezeki Pasaribu, pelukis perempuan alumni seni rupa Unimed yang lebih sering melukis bertema kehidupan perempuan dengan gaya surealis yang sering dipadu dengan teknik kolase pada kanvasnya. Leni juga melukiskan tentang karya berpola narasi simbolik etnik budaya Batak, dengan hanya menampilkan esensi benda yang mewakili berupa atribut yang dikenakan pengantin perempuan, seperti: ulos, bunga melati untuk hiasan rambut serta bunga
yang biasa dipegang oleh pengantin. Karyanya ini, diberinya judul ―Hasian‖ yang
digarap menggunakan media cat minyak pada kanvas dengan motif ulos menggunakan teknik kolase kertas lembar emas bungkus rokok.
Gambar 2.11
Karya lenni Sri Rezeki Pasaribu, ―Hasian‖, 2016, 100 x 50 cm, mixed media di atas kanvas. Sumber foto: Lenni S.R Pasaribu
atas merupakan orang-orang yang sangat faham akan kebudayaan Batak Toba yang sudah terpatri di dalam jiwa mereka, sehingga walaupun banyaknya arus modernisasi dan gempuran akan estetika formal Barat dalam wujud seni rupa modern di akademisi, yang menuntut konsep kebaruan pada karya fine art, malah memunculkan kesadaran dengan mengangkat nilai-nilai tradisi dan memunculkan kembali kebanggaan menjadi orang Batak Toba. Dengan harapan untuk terus memvisualkan kebesaran dan keluhuran budaya Batak Toba yang beradat dan beradab, dalam karya seni lukis dan seni rupa.
2.4 Kebudayaan Jawa Deli (Pujakesuma) dan Seni Lukis.
2.4.1 Asal mula orang Jawa di SUMUT
Arus datangnya orang Jawa ke Sumatera Timur pertama sekali dibawa oleh Belanda berkisar pada tahun 1875 hingga 1920-an untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan kelapa sawit, coklat, karet, dan tembakau yang tersebar di Sumatera Timur yang dibangun dan dikelola Belanda. Sebutan untuk orang-orang
yang datang dari pulau Jawa ini dulu adalah ―Jawa kontrak‖ disebabkan oleh
sistem kontrak minimal tiga tahun berdasarkan undang-undang yang dibuat oleh
pihak perkebunan (Belanda), tetapi ada juga yang menyebutnya dengan ―Jawa
Deli‖ yang merupakan bias dari adanya kesultanan Deli dan seni pertunjukan
―Ketoprak Dor‖ dan ―komunitas Jawa Deli‖ di Sumatera Utara.
Sejarah tentang masuknya orang Jawa di Sumatera Utara dijelaskan oleh
Broessma dalam Takari dan Dja‘far (2014: 87), yang menyatakan sebagai berikut:
berasal dari daerah Bagelan di Jawa Tengah. Pada tahun 1875, untuk awal kalinya rombongan kuli kontrak dari Bagelan ini tiba di Sumatera Timur. Tenaga kerja dari daerah Bagelan ini dimanfaatkan oleh pihak perusahaan Belanda untuk merekrut tenaga baru di Jawa, baik di desanya atau desa-desa lainnya. Kota Jakarta, Semarang dan Surabaya, merupakan tempat terakhir bagi para calon kuli kontrak untuk di bawa ke Sumatera Timur, dan muncullah biro-biro tenaga kerja di kota-kota tersebut yang pada prinsipnya merugikan tenaga kerja. Oleh karena itu, pada tahun 1917, DVP (Deli Planters Vereneeging), yang membawahi perusahaan tembakau dan AVROS (Algemeneine Veregde Rubberplanters Oostkust van Sumatra) yang membawahi perkebunan karet mendirikan biro sendiri untuk melindungi hak calon tenaga kerja dari pihak biro-biro tersebut di atas. Biro-biro mereka ini ada yang di Tanjong priok, Jati Negara (Meestere Cornelis), Bandung, Surabaya, Purwokerto, Yogyakarta, Magelang, Garut, Malang, Kediri, Madiun, Solo, dan Cilacap (Broessma, 1922). Kemudian nasib tenaga kerja ini juga selalu dirugikan oleh pihak tuan kebun, sehingga pemerintah Belanda mengeluarkan Ordonansi Kuli (Kuli Ordonante) pada tahun 1880, yang pada intinya menjamin hak-hak tenaga kerja. Namun demikian, pada praktiknya, majikan selalu menekan hak-hak mereka. Pada tahun 1920, orang-orang Jawa yang ikut Arus terakhir perekrutan tenaga kerja di Sumatra Timur memutuskan untuk menetap disebabkan bergejolaknya perang melawan penjajahan Belanda pada tahun 1940-an yang menghantarkan kemerdekaan kepada Republik Indonesia, menjadikan perkebunan Belanda diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, menghantarkan kepada penghapusan kontrak yang berakhir pada tahun 1960-an, yang kemudian dikelola oleh PT. Perseroan (PTP). Hal tersebut menjadi babak baru bagi Jawa Kontrak yang akhirnya terus menetap di Sumatera Utara yang berulang-ulang kali berganti nama. Kini, perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara lebih dikenal dengan sebutan PTP. Nusantara.24
24
Tetapi berdasarkan informasi yang peneliti peroleh, bahwa pada sekitar tahun 1980-an, tepatnya di antara 1983-1984 pada perkebunan PTP.VI di Tinjowan, masih di datangkan para pekerja Jawa Kontrak langsung dari Jawa untuk menggarap pembukaan lahan baru di perkebunan Tinjowan dan sekaligus menjadi akhir dari masuknya arus Jawa Kontrak di Tinjowan. Dengan berakhirnya masa kontrak, ada beberapa yang menetap dan ada pula yang kembali pulang ke Jawa.25
Selain datang sebagai ―Jawa kontrak‖, orang-orang Jawa datang melalui
program pemerintah Indonesia tentang pemerataan penduduk, yaitu
―transmigrasi‖, sebutan untuk orang-orang Jawa yang datang melalui jalur
transmigrasi adalah ―Jawa transmigran‖. Selain itu, banyaknya jumlah tentara
-tentara bersuku Jawa pada Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut Republik Indonesia di Medan, juga memberikan sumbangsih bertambahnya penduduk bersuku Jawa. Diperkuat apabila para tentara-tentara muda asal Jawa tersebut mempersunting gadis lokal maupun gadis Jawa Deli dan memutuskan untuk berdomisili di Medan hingga pensiun. Pada tahun 1960, jumlah penduduk Jawa yang ada di Sumatera Utara diperkirakan sudah mencapai 35 % , yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah etnik penduduk asli di Sumatera Utara, dengan mayoritas beragama Islam.
25
2.4.2 Kebudayaan Jawa Deli
Orang Jawa Deli sudah tidak mengenal pembagian golongan atau strata sosial berupa: santri, priyayi dan abangan yang terdapat pada orang Jawa asal (pulau Jawa). Mereka hidup selaras berbaur dengan masyarakat lokal yang berdampak kepada bahasa sehari-hari yang digunakan yang sudah tidak seperti bahasa Jawa asalnya. Hilangnya bahasa asli Jawa karena para orang tua tidak membawakan bahasa ibu mereka dalam berkomunikasi dengan anaknya, yang mengakibatkan ketidak-mampuan generasi muda dalam berbahasa Jawa, walaupun mereka mengerti arti dan maksudnya. Secara garis besar, bahasa Jawa yang kini digunakan bersifat ngoko26, karena sudah mendapatkan faktor akulturasi budaya lokal, walaupun masih memiliki dialek Jawa dalam bahasa kesehariannya. Saat ini, nilai-nilai budaya Jawa masih dipraktekkan oleh masyarakat Jawa Deli atau Jawa kontrak dalam ritual masa peralihan. Seperti pada acara syukuran bila habis melahirkan dengan membagikan nasi kepada tetangga dengan lauk pauk
berupa ―urap-telur-peyek‖, juga masih sering ditemukan syukuran tingkepan
nasi kuning (tumpeng) yang selalu memiliki simbol dan makna serta filosofinya sendiri dalam penyajiannya. Begitu juga dengan batik tradisional Jawa yang dalam motif-motif pada batik Jawa selalu memiliki makna pada simbol-simbol yang digambarkan, begitu juga dengan seni pertunjukan seperti wayang dan sebagainya sampai pada kidung dan tembang serta seni kesusastraannya yang sarat dengan simbol dan pemaknaan yang mendalam serta selalu disesuaikan dengan konteksnya yang disebut dengan memiliki pakem-pakemnya sendiri. Pakem-pakem tersebut hingga sekarang menjadi tradisi dan diharapkan tetap dijaga oleh keturunan-keturunan orang Jawa.
Kebudayaan Jawa Deli atau Pujakesuma di Sumatera Utara bila digeneralkan berkiblat kepada kebudayaan Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Hal ini tampak pada penanda yang ditandai dengan pakaian pengantin dan serangkaian ritual yang digunakan, walaupun sering ditemukan terdapat inkulturasi budaya dan akulturasi di dalamnya, tetapi masih mengkonotasikan ciri bawaannya. Dalam ritual perkawinanpun, ritual-ritual Jawa juga masih tetap dipertahankan walaupun sudah tidak selengkap budaya asli seperti yang di pulau Jawa.
Dalam ritual adat perkawinan juga terdapat inkulturasi pada budaya
Melayu, seperti ―balai pulut‖27 yang diletakkan di sebagian sisi pelaminan, serta
tabuhan musik nasyid (rebana) atau marhaban yang merupakan unsur Melayu. Dengan demikian, Kebudayaan Jawa Deli memiliki pengaruh globalisasi yang ditandai dengan modernisasi28. Kreativitas dan inovasi ditemukan pada hampir
27
Balai pulut merupakan pulut kuning dengan lauk rendang daging sapi yang diletakkan pada wadah kayu berukir yang ditata bertingkat dengan hiasan bendera dan telur rebus yang dimasukkan dalam wadah hiasan.
28
atau sebagian dari unsur kebudayaan, yaitu hanya mewakili simbol-simbol yang dianggap penting dan menyederhanakan ritual yang panjang yang kemudian menyelipkan unsur budaya luar di dalamnya. Dari hal tersebut tampak bahwa masyarakat Jawa menganut prinsip diplomasi dalam melangsungkan pernikahan. Fungsi Pernikahan dalam Masyarakat Jawa dipengaruhi oleh struktur pemikiran masyarakat Jawa yang bersifat epistomologi yakni untuk memperluas kekuasaan atau memperbesar Klan Jawa yang berujung pada kekuasaan atau kekuatan.
Orang Jawa dikenal memiliki filosofi hidup ―ngelaras‖ (keselarasan) dan
―rukun‖ yang melekat dalam watak setiap orang Jawa yang tercermin dalam
prilaku sehari-sehari. Selain itu orang Jawa selalu menjaga ―kebersamaan‖ dan
―keseimbangan‖ dalam bermasyarakat, hal ini tampak pada semboyan yang masih
sering dikumandangkan oleh orang Jawa Deli atau pujakesuma, seperti: ―mangan
ra mangan yang penting ngumpul”. Bisa diartikan, bahwa dengan kondisi ada dan
tidak ada, yang perlu disyukuri adalah kebersamaan dan kerukunan yang terjalin dalam suatu keluarga dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Kayam yang dikutip oleh Uhi (2016: 128), yang menyatakan: ―keselarasan, keseimbangan dan kebersamaan dalam masyarakat (orang Jawa) sangat dekat dengan nilai
rukun.‖ Hal tersebut kemudian dipertegas oleh pendapat Lesnanto yang dituliskan
oleh Uhi (2016: 129) yang menyatakan, bahwa: ‖masyarakat Jawa memahami
rukun sebagai berada dalam keadaan selaras, tenang dan tentram tanpa perselisihan dan pertentangan, sebab prinsip kerukunan adalah pencegahan
Rukun harus dipahami sebagai sikap penjagaan keselarasan dalam pergaulan. Relasi-relasi faktual diatur agar tidak terjadi konflik besar dan terbuka. Ucapan-ucapan dengan menggunakan bahasa yang halus juga merupakan menjaga keselarasan hidup, meskipun ucapan tersebut mengandung unsur penolakan terhadap sesuatu yang tidak disetujui oleh seseorang. Hal ini merupakan sikap menjaga keselarasan agar tidak menimbulkan rasa tidak enak (Uhi, 2016: 129). Filosofi hidup keselarasan, rukun, kebersamaan, dan keseimbangan bagi orang
Jawa, masih tampak pada konsep ―rewang‖ pada orang Jawa di Medan lebih luas
lagi Sumatera Utara yang masih dipertahankan oleh ibu-ibu pada wilayah tertentu seperti pada wilayah perkebunan, sebagai bagian dari fenomena kehidupan bersosial oleh kaum perempuan Jawa Deli, khususnya kaum ibu.
Penerapan nilai-nilai filosofis kerukunan, keseimbangan orang Jawa tampak pada ritual adat perkawinan Jawa Deli yang memadukan unsur Jawa dengan Melayu, sebagai wujud ngelaras (selaras atau harmonis) dan menghormati budaya Melayu sebagai budaya lokal. Yang kedua latar belakang budaya tersebut mayoritas sama-sama memeluk agama Islam.
Orang Jawa juga memiliki semboyan ―alon-alon waton kelakon” yang
(alon-alon) tetapi pekerjaan selesai dengan baik (kelakon), dari pada terburu-buru tetapi hasil pekerjaan tidak memuaskan dan ada yang terlupakan.
Saat ini, sering ditemukan orang Jawa Deli atau pujakesuma (sebutan untuk putra Jawa kelahiran Sumatera) yang masih mempertahankan dan menggali nilai-nilai luhur dari budaya Jawa asalnya, tetapi juga sering ditemukan
pujakesuma yang sudah ―tidak mengerti ‗Jawa-ne‘ lagi‖29. Mungkin hal ini
disebabkan oleh arus modernisasi secara besar-besaran yang mengikis nilai-nilai budaya tradisi yang disebut dengan globalisasi dan modernisasi.
―Berkarya bagi orang Jawa erat kaitannya dengan ‗memayu ayuning
bawana‘. Artinya, tidak ada maksud berkarya yang tidak meng-hatur-kan30 keindahan dunia‖ (Wiryomartono, 2001: 150). Hal ini sering tampak pada karakter pelukis-pelukis Jawa yang gemar melukiskan keindahan alam dan lukisan yang bersifat realistik yang tampak pada gambar-gambar yang ditampilkan dalam bentuk relief pada candi-candi peninggalan seperti candi Borobudur dan Prambanan yang menceritakan tentang kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana.
Orang Jawa mempunyai karakter pemadu gagasan. Dalam gagasan estetikanya selalu mencari keselarasan antara aspek tradisional dan modern tanpa terjadi benturan yang besar. Dengan demikian, sulit dijumpai karya yang sifatnya
29
Tidak mengerti ‗Jawa-ne‘ lagi , merupakan sebutan untuk orang-orang Jawa atau anak muda Jawa yang tidak tahu dan tidak mencerminkan sikap budaya leluhurnya dalam berprilaku dikesehariannya, terutama dalam berinteraksi sosial dengan tetangga dan kerabat.
30
temuan baru, tetapi lebih banyak yang sifatnya paduan dan pengembangan (Sachari dan Sunarya, 2001: 169). Kaitannya dengan seni lukis dengan seni tradisi dapat dilihat pada wayang sebagai seni lukis surealis yang mengalami deformasi bentuk, yang mana wayang merupakan deformasi bentuk dari wayang purwa, merupakan paduan dari pengembangan terhadap pengaruh Islam yang melarang melukis figuratif manusia dan hewan secara realistik.
Gaya seni rupa modern akibat dari dikenalkannya pendidikan Barat pada golongan ningrat di Jawa pada era politik etis, hingga model pendidikan zaman sekarang, telah mengubah cara berpikir tradisional orang Jawa tersebut ke arah pola berpikir rasionalis seperti yang berkembang di Barat (Sachari dan Sunarya, 2001: 169).
2.4.3 Seni lukis orang Jawa Deli
Dalam karya seni lukis orang Jawa di Medan, banyak ditemukan bentuk ungkapan naturalistik, realistik, ekspresionis, dan surealistik, seperti: Soenoto, Panji Sutrisno, Cecep, M. Yatim Mustafa, Andi Surya, Wisesa, Erdi, Bambang Triyogo, Bambang Soekarno, Pujio, yang lebih cenderung beraliran realistik. Sedangkan Suhendra Hamid, Didi Prihadi yang lebih beraliran naturalis, dan kemudian Endra Kong, Achy Askwana dan Fitri Evita yang beraliran surealis. Semuanya cenderung bertolak dari faham seni rupa modern, yang dibahas pada bab tiga.
generasi ke-3 atau ke-4 yang datang pada tahun 1920 dari perkebunan kelapa sawit PTP.N IV Tinjowan (kabupaten Simalungun), yang kini menetap di Medan. Tentang lukisan peneliti yang membahas keberagaman etnik di Sumatera Utara, ditandai dengan riasan kepala dari pengantin perempuan yang dilukiskan
pada karyanya berjudul ―Pancang Tradisi‖ yang dilukiskan secara surealistik,
maupun ―Jahitan Tradisi‖, yang peneliti lukiskan secara minimalis dengan gaya
dekoratif. Pada karya peneliti yang berjudul ―Jahitan Tradisi‖ merupakan kolase
dari kanvas-kanvas kecil yang disusun, dilem dan dijahit tangan oleh peneliti untuk menonjolkan gagasannya dengan warna-warna cerah terkesan ceria.
Gambar 2.12
Karya Fitri Evita, ―Jahitan Tradisi‖, 2010, 90 x 120 cm, media campuran di kanvas.
Gambar 2.13
Karya Fitri Evita, ―Pancang Tradisi‖, 2010, 120 x 120 cm, media campuran di kanvas.
Sumber foto: Fitri Evita
Seniman seni lukis pujakesuma Medan lainnya yang melukis dengan gagasan bertemakan etnik Sumatera Utara adalah Achy Askwana. Selain melukis beraliran naturalis dan realistik, Achy juga melukiskan tentang ikon Batak Toba yaitu patung Ulupaung yang terbuat dari kayu, yang yang diberinya judul ―Aku
Masih di Sini‖. Achy melukiskan patung Ulupaung tersebut seperti dilupakan,
ditandai dengan banyaknya akar-akar pohon yang menjalar diantara sisa-sisa fondasi bekas bangunan rumah yang sudah rubuh. Karya tersebut digarapnya dengan teknik realis tetapi tampilan visualnya adalah surealistik. Achy berpendapat tentang karya berpola narasi simbolik yang mengangkat unsur tradisi
sangat langka, yang tidak hanya memikirkan ide-ide atmosfir budaya saja, tetapi melibatkan unsur-unsur material geografisnya‖.31
Gambar 2.14
Karya Achy Askwana, ―Aku Masih di Sini‖, 2016, 150 x 180 cm, cat minyak di atas kanvas. Sumber foto: Achy Askwana.
Karyanya yang berjudul ―Aku Masih di Sini‖ dijelaskan Achy dalam
perbincangan peneliti perihal karyanya, sebagai berikut.
Karya tersebut merupakan sebuah makna simbolik, bahwa kaum Batak modernis bergeser dan hampir lupa bahwa ada yang mereka tinggalkan, bahkan miris sampai meniadakan, sengaja atau tidak ke-engganan untuk mengenal, mencintai, bahkan memelihara. Terbukti sebahagian mereka tidak mengenal adat istiadat yang mengikat. Ulupaung hanyalah ikon yang diartikan benda nenek moyang Batak yang senantiasa setia berdampingan dengan tradisinya, marilah kembali, jika kamu lupa atau tidak mengenalku (budaya), aku setia menunggumu.32
31
Selain Fitri dan Achy sebagai orang Jawa yang melukiskan tentang etnik di Sumut pada kanvasnya, ada pula seniman senior otodidak yang suka melukiskan tentang etnik-etnik yang ada di Sumatera Utara, salah satunya adalah Soenoto HS yang sering sekali melukiskan nuansa alam dan aktivitas di sekitar rumah adat Batak, juga tentang sosok-sosok perempuan yang menyimbolkan etnik
tertentu, seperti ―Penari Bali‖, ―Gadis Nelayan‖, dan masih banyak lagi.
Gambar 2.15
Karya Soenoto HS, ―Rumah Adat Batak‖, 80 x 90 cm, cat minyak di atas kanvas. Sumber foto: Fitri Evita.
Gambar 2.16
Karya almarhum Panji Sutrisno, 2012, ―Rumah Adat Karo‖, 2012, 60 x 40 cm, cat minyak di atas kanvas.
Sumber foto: Fitri Evita.
Gambar 2.17
Karya Pujio, ―Putri Hijau‖, 100 x 200 cm, cat minyak di atas kanvas.
Sumber foto: Fitri Evita.
keanekaragaman etnik lokal tempat mereka tinggal saat ini, dan turut bangga menjadi bagian masyarakat Sumatera Utara dengan menjaga keselarasan lingkungan dan hubungan sosialnya. Wujudnya dengan mengusung tema nilai-nilai luhur, atribut budaya dan mitos dalam kebudayaan lokal yang dalam karya artistiknya.
2.5 Penerapan Seni Lukis dari Budaya Karo oleh Rasinta Tarigan
Gambar 2.18
Rasinta Tarigan Sumber foto: Rasinta Tarigan.
Medan, Jakarta, Penang, Saigon, San Diego, dan dua kali pameran di Herford, Jerman, dan masih banyak lagi.
Prof. Rasinta Tarigan pernah belajar melukis atas bimbingan almarhum M. Kameil yang sebagai anggota pada perkumpulan ASRI (Angkatan Seni Rupa Indonesia) sekitar tahun 1960-an. Ketika itu Rasinta masih SMA hingga tamat SMA, yang kedudukan ASRI masih di jl. Sentosa lama Medan. Selain oleh Almarhum Kameil, Rasinta dan teman-temannya, antara lain MY. Soekarno, dan Miras L yang juga belajar dari anggota-anggota ASRI lainnya seperti Ibrahimsyam dan S. Serayu. Kegiatan belajar mereka selalu diadakan dengan melukis-melukis atau menyeket-menyeket ke arahTanjung Morawa tepatnya yang dulu disebut dengan Simpang Beringin (karna ada pohon beringin disitu) yang dekat dengan kantor perkebunan. Selain di ASRI Rasinta dan MY.Soekarno juga pernah ikut kursus dan belajar melukis di kawasan di dekat Pintu Gantung Kereta Api berupa gedung besar tempat perkumpulan orang-orang seni. Gurunya merupakan orang pemerintahan yang yang pandai melukis, bernama S. Said yang pada masa itu bersama Irwansyah sering membuat komik-komik.
Gambar 2.19
Mozaik di Biro Rektor USU, karya Prof. Rasinta Tarigan dan Prof. Buchari, 1989. Sumber Foto: Rasinta Tarigan
Gambar 2.20
Dari kiri bawah, no.2 Rasinta bersama teman-temannya ketika belajar bahasa Jerman di Jerman. Sumber foto: Rasinta Tarigan.
Gambar 2.21
Gambar 2.22
Rasinta Tarigan dan istri ketikah menikah dengan pakaian adat Karo. Sumber foto: Rasinta Tarigan
Gambar 2.23
Keluarga Rasinta Tarigan ―masih lengkap‖, ketika anak-anak masih kecil. Sumber foto: Rasinta Tarigan
dengan memunculkan figur perempuan berbusana adat Karo dan rumah-rumah adat Karo. Tetapi, ketika peneliti melakukan wawancara dengan Rasinta Tarigan,
―mengapa lebih sering melukiskan tentang budaya Karo?‖ Beliau menerangkan
bahwa:
Mula-mula dari SD saya memang sudah hidup di dalam lingkungan budaya Karo. Melukis juga sudah mulai hobby sejak SD dan berkawan dengan guru kelas waktu itu, dan sudah mulai menggambar rumah-rumah Karo dan menggambar kerbau. Karena profesi kakek jadi tukang gembala kerbau dan mengambil Nira. Kampung ada di Sibolangit.33
Mengapa Rasinta Tarigan melukiskan ―gigi‖ pada kanvasnya, ternyata
dimulai setelah tamat dari dari dokter Gigi, Rasinta Tarigan pada saat itu lebih
intensif dalam berkarya seni lukis. Inspirasi tentang menempelkan gambar ―gigi‖
pada lukisannya ternyata ia lihat dari tragedi jatuhnya pesawat Mandala Air Line di antara Bandara Polonia dan Jalan sekitar Padang Bulan Medan, pada September 2015 ketika Rajainal Siregar meninggal bersama Tengku Rizal Nurdin Karena kondisi jasadnya yang terbakar hingga tidak dikenali, ternyata dengan gigi bisa dideteksi mana Rajainal Siregar dan yang mana Tengku Rizal Nurdin. Rasinta Tarigan menjelaskan bahwa:
Dari kasus itu, saya melihat bahwa gigi ini merupakan suatu simbol identitas atau simbol daripada kekekalan, walaupun dengan api, dia tidak hancur. Saya merasakan filosofi suatu kekekalan bisa disimbolkan dengan gigi, sehingga saya menempelkan gigi-gigi ini dalam lukisan saya. Supaya kiranya, budaya-budaya Karo akan kekal dalam lukisan, karena dengan perubahan zaman kemungkinan budaya Karo akan punah, dan juga saya harap kebudayaan Karo itu akan kekal dalam buku-buku. Karena saya rasa budaya Karo ini merupakan kebudayaan yang unik, karena di Karo cuma ada lima merga: Tarigan, Karo-Karo, Perangin-angin, Sembiring dan Ginting. Itulah makanya disebut dengan
―Merga Silima‖. Jadi biar bagaimanapun, orang Karo tidak boleh kawin
33
dengan semarga. Jadi bagaimanapun dimanapun berada, orang Karo memiliki kekerabatan. Bila saya bertemu dengan orang Ginting, pasti dia adalah kalimbubu saja.34
Simbol-simbol segitiga pada setiap karya Rasinta memiliki maksud dalam dua konsep filosofi, yaitu konsep kebudayaan Karo dan agama Kristen. Dari segi adat, segitiga dalam lukisan Rasinta merupakan konsep filosofi Dalihan natolu (dalam budaya Batak) dan konsep Rakut si telu atau daliken sitelu dalam budaya Karo. Sedangkan dari segi agama Kristen merupakan konsep trinitas35 dalam agama Kristen.
Ketika peneliti menanyakan tentang lukisan Prof. Rasinta Tarigan yang bila dikategorikan masuk kedalam aliran apa? Apakah modern? Apakah kontemporer? Rasinta menjawab:
Itulah, saya tidak tahu. Karena kan selalu berubah-ubah kan? Kadang-kadang naturalis, Kadang-kadang-Kadang-kadang simbolis. Walaupun naturalis terus terang saya tidak bisa menguasainya, karena terlampau lama rasanya melukiskan naturalis, karena ekspresinya tidak keluar dan tidak sabar. Kenapa? Gak usah lagilah saya buat mengenai jauh dekat dan cahaya dari mana. Saya tidak perlu lagi itu. Saya membuat saja simbol-simbol itu, saya gabung saja dan suka hatilah. Tapi setidaknya itu merupakan suatu pemikiran dalam membuat suatu lukisan.
Selain melukis, Rasinta juga memiliki kesukaan dalam menulis puisi. Hal ini tampak dari performing-nya ketika diwawancarai oleh TVRI Medan dalam rangka sosialisasi pameran donasi untuk Sinabung yang diadakan oleh yayasan SIMPASSRI. Karena Prof. Rasinta Tarigan sebagai pengurus yayasan
34
Ibid.
35
Trinitas/tritunggal merupakan doktrin utama dalam kekristenan, bahwa satu Allah
sebagai tiga pribadi. Secara harfiah kata latin dari trinitas berarti ―tiga serangkai‖, berasal dari kata ―trinus‖ yang artinya ―rangkap tiga‖. Yang menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi
SIMPASSRI (ketua umum). Kegemarannya menulis dan membacakan puisi dilandasi oleh kedekatannya dengan kakeknya yang juga gemar mengarang puisi, serta berkaitan juga dengan kedekatannya dengan almarhum Kameil yang para pelukis pada masa itu sering diundang bila digelarnya acara-acara bernuansa puisi di sekitar kota Medan.
Gambar 2.24
Karya Rasinta Tarigan, ―Kakek dan Nenek‖, 1968, 60 x 90 cm.
Sumber foto: Rasinta Tarigan
Gambar 2.25
Lukisan Rasinta Tarigan yang menggambarkan sosok pendeta Neumann, 2014, 60 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas.
Sumber Foto: katalog pameran lukisan Rasinta Tarigan (2016: 20).
Gambar 2.26
Kepuasan seorang seniman dalam berkarya adalah ketika karyanya diapresiasi dan dihargai dengan dibeli oleh masyarakat. Ketika peneliti bertanya tentang pameran yang paling berkesan bagi Rasinta, Rasinta-pun dengan sumringah menjawab, bahwa:
Pameran yang paling berkesan bagi saya, pertama sekali adalah ketika di Jerman, sayapun surprise karena banyak sekali masyarakat Jerman yang datang.Yang kedua adalah ketika pameran bersama dengan Trans Guntur Siregar di hotel Danau Toba, waduh, saya lupa tahunnya tahun berapa, Karena habis semua lukisan kami. Karena Rajainal Siregar waktu itu datang kesitu membawa kontraktor untuk membeli lukisan kami, jadi habis semua terjual. Dari hasil penjualan lukisan kami waktu itu, sampai kami sama-sama membeli mobil. Tetapi kalau kepuasan Bathin adalah waktu di Jerman itu, karena ada sekitar 20 lukisan yang terjual sekitar tahun 1997.
Gambar 2.27
Rasinta Tarigan bersama Fitri Evita (peneliti), Sofyan Tan dan Fuad Erdansyah Dalam perbincangan mengenai kepengurusan yayasan SIMPASSRI.
Sumber foto: Fuad Erdansyah.