INTERAKSI DENGAN MAKHLUK HALUS
5.4 Kasus-kasus Pelaksanaan Upacara Kelahiran
Ridha Jelia atau biasa dipanggil Lia adalah anak pertama dari Ibu Lismawati yang saat itu sedang mengandung anak pertamanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang wanita yang sedang hamil saat usia kandungannya memasuki 3 sampai 9 bulan, proses mandinya akan berbeda. Sebelum mandi, mereka dianjurkan melumuri rambutnya dengan minyak makan. Setelah itu, rambut yang telah dilumuri minyak makan tersebut dibilas dengan air mulai dari kepala hingga ujung kaki. Saat air hendak melalui wajah, mulailah Lia membacashalawatdalam hati lalu menyemburkan air tersebut. Pelaksanaan ritual ini bertujuan untuk kiranya diberi kemudahan pada saat proses kelahiran tiba semudah air yang telah disemburkan tadi.
Tak hanya itu, Lia juga harus memakai Uncang yang ia letakkan selalu di dalam kantung celananya. Uncang ini selalu dibawa kemana pun Nisa pergi karena Uncang ini berfungsi sebagai penangkal dari makhluk-makhluk halus yang datang untuk mengganggu khususnya Langsuir yang diyakini suka menggoda bahkan mengganggu Ibu Hamil.
Sampailah Sembilan bulan sepuluh hari usia kandungan Lia yaitu di mana waktunya si bayi dalam kandungan sudah harus dilahirkan. Pada saat itu pukul 19.45 WIB Nisa segera dilarikan ke Klinik persalinan. Persalinanya dibantu oleh seorang Bidan. Di saat bersamaan Ibu Lismawati menelpon anak-anaknya yang
lain yang sedang berada dirumah untuk segera membuka semua pintu, jendela, lemari dan benda-benda lain-lain yang memiliki pintu. Aktivitas ini merupakan perilaku simbolik bahwa keluarga di rumah ini siap menerima karunia yang diberikan tuhan dengan lahirnya seorang bayi yang akan menjadi penerus keturunan.
Setelah berjam-jam melewati proses persalinan akhirnya lahirlah bayi perempuan yang dinanti-nantikan selama ini. Keesokan harinya saat Lia dan bayinya pulang kembali ke rumahnya, ayah kandung Lia segera memasang sebuah jaring dengan cara digantung di atas pintu rumahnya. Jaring tersebut diikatkan juga dengan Pandan berduri. Selain diikatkan diatas pintu rumah, jaring tersebut juga diikatkan di kedua kaki dan tangan Lia menyerupai sebuah gelang. Jaring dan pandan berduri ini digantung di atas pintu dan dikenakan oleh Lia mulai dari pulangnya ia dari Klinik sampai habisnya masa nifas atau 40 hari setelah melahirkan, karena dianggap masa-masa ini seorang wanita dan bayinya masih dalam keadaan rentan akan bahaya-bahaya gaib.
Berbicara soal jaring yang digunakan orang Siombak untuk menghalau masuknya makhluk-makhluk gaib yang hendak mengganggu si ibu dan bayinya, keluarga ibu Lismawati pernah mengalami kejadian yang aneh. Pada saat itu keponakannya baru saja melahirkan dan menjadi kewajiban anggota keluarga yang lain untuk memasang jaring tersebut di atas pintu. Saat itu anak laki-laki ibu Lis yang diminta untuk memasang jaring tersebut. ketika hendak mengikat jaring tersebut, tiba-tiba ia merasa tangannya ada yang mencakar. Ia langsung berteriak kesakitan ketika melihat tangannya terluka cukup parah. Mereka pun langsung
membawa anak tersebut ke “orang pintar”. Menurut orang pintar, peristiwa itu terjadi sebagai bentuk kebencian makhluk gaib kepada jaring yang diletakkan diatas pintu karena dengan adanya jaring tersebut makhluk gaib pun akan terhalau masuk ke rumah si ibu dan bayinya.
Peristiwa ini akhirnya menjadi perbincangan yang hangat baik itu dikalangan keluarga maupun tetangga-tetangga sehingga apa yang semula bersifat pengalaman individu lantas diyakini bersama hingga menjadi kepercayaan yang bersifat kolektif. Hingga akhirnya mereka menyimpulkan bahwa adalah suatu kebenaran yang telah diajarkan orang tua dahulu untuk selalu memasang jaring diatas pintu dan mengikatkan jaring dikedua tangan dan kaki tersebut agar terhindar dari bahaya-bahaya gaib yang tidak diinginkan.
Sejalan dengan anjuran, Lia pun tetap menjalankan berbagai pantangan- pantang demi keselamatan si bayi yang dikandungnya seperti tidak tinggal jauh dari rumah lalu pada saat matahari tenggelam, ia juga memiliki kewajiban untuk menutup semua pintu dan jendela di rumah, serta pantang untuk keluar rumah pada saat tengah hari dan setelah maghrib.
Tak hanya itu, keluarga Lia juga telah menyiapkan Bambu kuning, Labu panjang, Lidi kelapa hijau dan Pandan berduri untuk diletakkan secara sejajar dibawah kolong tempat tidur di mana Nisa dan anaknya akan tidur. Uncang pun yang semasa hamil dipakai terus oleh nisa, kini diletakkan tepat dibawah bantal tempat tidur si bayi perempuannya. Benda-benda ini dianggap memiliki kekuatan
untuk mengusir atau menangkal makhluk-makhluk gaib yang akan datang untuk mengganggu si ibu dan bayinya yang masih rentan tersebut.
Pada saat sore menjelang malam, mulailah si ayah atau anggota keluarga yang lain khususnya laki-laki untuk melaksanakan ritual mengasapi. Di mana si ayah akan mengumpulkan bawang merah, cabai yang sudah busuk serta ban bekas untuk segera dibakar di halaman rumahnya. Yang dituju dari ritual mengasapi adalah asap dari hasil pembakaran ini. Ritual ini dilakukan mulai dari hari kelahiran si bayi hingga masa nifas berhenti atau lebih kurang 40 hari.
Lia dan keluarganya tidak menjalankan tradisi menyiapkan kain gendong khusus kepada si bayi seperti penjelasan sebelumnya. Keluarga yang menjalankan tradisi ini adalah keluarga ibu Rubiah. Kain tiga warna tersebut selalu digunakan rubiah saat sedang menyuapi makan anaknya yaitu Adit, menenangkan Adit saat ia menangis, juga menina-bobokan si anak saat akan tidur setelah Adit tidur pun kain ini juga dijadikan alas kepalanya.
Menurut pengakuan ibu Rubiah, saat Adit masih bayi ia sempat diganggu sampai beberapa hari oleh makhluk halus yaitu Orang Bunian. Gangguannya berupa demam tinggi, badannya lemas, suaranya hampir hilang karena menangis setiap saat. Kondisi ini berlangsung hampir seminggu. Ketika itu ibu Rubiah membawa pergi Adit ke dokter, segala obat-obatan yang dianjurkan dokter telah dimakan tapi Adit tak juga sembuh akhirnya ibu Rubiah beserta suami membawa Adit ke “orang pintar” untuk berobat. Orang pintar tersebut mengatakan bahwa Adit sedang diganggu oleh Orang Bunian karena ia suka dengan Adit, tetapi nasib
Adit cukup beruntung karena tidak dalam jangka waktu yang lamaOrang Bunian tersebut dapat mengganggu Adit karena biasanya jika ia sudah menyukai seorang bayi ia akan terus mengganggu bayi tersebut. Itu semua terjadi karena kain gendong 3 warna yang diwariskan keluarga suami ibu Rubiah yang telah menangkis kehadiran Orang Bunian yang datang untuk mengganggu Adit. Itulah sebabnya mereka tetap mewarisi kain tiga warna ini ke anak cucu dan memperlakukan kain ini seperti benda yang sakral.
Kita telah melihat bagaimana pemaknaan warga di Siombak mengenai makhluk halus dan segala interaksinya. Keberadaan makhluk halus seperti Langsuir, Lembidai dan Orang bunian tidak terlepas dari bagaimana seorang informan memaknai makhluk halus tersebut berdasarkan pengalaman- pengalamannya, baik itu mengenai kehidupannya di masa kecil, budaya yang berlaku di keluarganya atau juga informasi-informasi yang diperoleh dari kesehariannya. Bruner dalam salah satu karyanya pernah menggambarkan bagaimana membedakan antara kenyataan(reality), pengalaman(experience)dan ekspresi(expression). Kenyataan adalah apapun yang sebenarnya ada, sedangkan pengalaman adalah ketika kenyataan tersebut hadir dalam kesadaran seorang diri manusia dan ekspresi adalah bagaimana menyikapi pengalaman tersebut dan diartikulasikan. (Bruner, 1986: 6)
Mengaitkan dengan teori Bruner diatas, maka kenyataan yang dimaksud adalah keberadaan makhluk halus yang kemudian diinterpretasikan ke dalam bentuk narasi atau cerita, narasi atau cerita tersebut diproduksi oleh informan berdasarkan cerita yang didengarnya dan juga dipengaruhi oleh pengalaman-
pengalaman semasa hidupnya yang kemudian hasil interpretasi tersebut diartikulasikan dalam bagaimana menyikapi keberadaan makhluk halus tersebut yang lalu menimbulkan hasrat warga di Siombak untuk berinteraksi dengan mereka.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Orang di Siombak meyakini keberadaan tiga makhluk halus yaitu Langsuir, Lembidai dan Orang Bunian. Keberadaan tiga makhluk halus tersebut kemudian diinterpretasikan ke dalam bentuk narasi atau cerita, narasi atau cerita tersebut diproduksi oleh informan berdasarkan cerita yang didengarnya dan juga dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman semasa hidupnya yang kemudian hasil interpretasi tersebut diartikulasikan dalam bagaimana menyikapi keberadaan makhluk halus tersebut.
Menurut pemaknaan mereka, Langsuir dan juga Lembidai adalah sosok makhluk halus penghisap darah hanya saja Langsuir lebih menyukai darah yang dimiliki oleh seorang wanita karena itu dianjurkan untuk setiap perempuan yang ada di Siombak untuk selalu berhati-hati saat melalui masa kehamilan dan kelahiran serta saat si perempuan itu sedang melalui masa menstruasi mereka harus membersihkan pembalut yang mereka gunakan lalu membuangnya ke danau. Di sisi lain Lembidai menyukai semua darah manusia baik itu perempuan maupun laki-laki. Keyakinan pada keberadaan Lembidai yang hidup di dalam Danau Siombak serupa dengan keyakinan masyarakat di dataran tinggi Gayo Kabupaten Aceh Tengah tepatnya di Danau Lut Tawar yang disebut Lembide.
perkembangan cerita Lembide yang ada di Danau Lut Tawar yang telah lama berkembang di dataran tinggi Gayo bagi Lembidai yang ada di Danau Siombak yang notabenenya adalah danau buatan bekas galian tanah timbun tahun 1983 untuk pengerjaan proyek pembangunan jalan tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa (BALMERA). Selanjutnya adalah Orang Bunian. Menurut mereka Orang Bunian adalah makhluk halus yang wujud serta sifatnya mirip dengan manusia karena menurut keyakinan mereka Orang Bunian adalah manusia yang dahulu pernah hidup di masa lampau tetapi akibat serangan kepah yang telah meluluh lantakkan daerah ini telah membuat mereka hilang begitu saja bukan berarti mati. Mereka telah berpindah tempat hidup di tempat yang manusia normal tak bisa melihat keberadaan mereka, tetapi mereka bisa melihat manusia normal tersebut. bahkan jika manusia tersebut berniat mengganggu keberadaan mereka, mereka bisa saja mendatangkan bahaya untuk manusia tersebut karena sifat dari Orang Bunian ini adalah sosok makhluk halus yang tidak akan mengganggu manusia jika manusia tersebut tidak mengganggunya tetapi sebaliknya jika manusia itu mengganggu mereka, maka mereka pun akan mendatangkan ancaman atau bahaya-bahaya kepada manusia tersebut. menurut pemaknaan Orang di Siombak sifat dari Orang Bunian itu sama dengan manusia, mereka makan dan minum, bekerja, memiliki keluarga bahkan memiliki struktur sosial. Perbedaannya terletak pada kekuatannya yang melebihi kekuatan manusia normal.
Keyakinan akan tiga makhluk halus ini selanjutnya diartikulasikan ke dalam bagaimana menyikapi keberadaan makhluk halus tersebut yang akhirnya menimbulkan hasrat orang di Siombak untuk berinteraksi dengan makhluk halus
tersebut demi mengusir atau menangkis bahaya-bahaya gaib yang dapat didatangkan oleh tiga makhluk halus tersebut. sehingga dari tiga tahap ini kita dapat mengetahui konsepsi orang di Siombak mengenai makhluk halus yaitu Langsuir, Lembidai dan Orang Bunian.
6.2 Saran
Dari kesimpulan diatas saran yang dapat diberikan adalah agar sekiranya warga Siombak mencari solusi yang lain yang lebih baik dalam menghadapi masa menstruasi. Sebagaimana yang telah dijelaskan, karena khawatir darah si perempuan saat mengalami masa menstruasi tercium oleh makhluk halus penghisap darah yaitu Langsuir, hal yang tabu bagi mereka membuang pembalut di sembarang tempat dan ketika sesuatu yang disebut tabu sehingga pantang untuk dilanggar maka mereka hanya bisa memahami sebagai aturan yang tidak boleh dilanggar akhirnya menurut mereka solusi paling baik dalam kasus ini adalah membuang pembalutnya ke danau setelah diletak didalam plastik lalu plastik itu dilubangi agar nantinya plastik yang berisi pembalut ini mengendap ke dasar danau. Perilaku ini tentunya akan berdampak buruk pada kondisi kebersihan danau Siombak yang menjadi salah satu objek wisata yang ada di Kelurahan Paya Pasir yang membawa nama kota Medan. Seharusnya warga Siombak dapat mencari solusi yang lebih baik dalam kasus ini.