INTERAKSI DENGAN MAKHLUK HALUS
5.2 Pada Saat Kelahiran
Upacara kelahiran merupakan salah satu macam dari berbagai upacara adat Melayu. Upacara kelahiran adat Melayu ialah sebuah tradisi yang sudah ada sejak dahulu dan turun-temurun keberadaannya. Upacara kelahiran juga merupakan rangkaian upacara yang dilakukan dalam rangka kelahiran sang bayi sebagai rasa syukur atas kelahiran sang bayi yang dikaruniakan Tuhan terhadap keluarga tersebut berupa keselamatan bayi yang baru saja dilahirkan dan si ibu yang mengandung selama Sembilan bulan. Sebagian besar masyarakat di Siombak masih melaksanakan upacara kelahiran yang sesuai dengan adat istiadat.
Menurut Koentjaraningrat, (1990, 252-253) upacara bertujuan untuk mencari hubungan dengan dunia gaib yang sering juga disebut upacara keagamaan (religious ceremonies). Dalam setiap upacara dapat dibagi dalam empat komponen, yaitu; (1) tempat upacara, (2) saat upacara, (3) benda-benda upacara, (4) orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara.
Upacara ini dilaksanakan di rumah di mana si ibu yang melahirkan tinggal. .Adapun orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan Upacara kelahiran ini adalah sebagai berikut:
a. Ibu yang hamil
b. Bidan yang akan membantu proses persalinan c. Suami selaku pemimpin upacara
d. Anggota keluarga yang berada di rumah tempat diadakannya upacara.
Diawali dengan menyiapkan bahan-bahan kelengkapan untuk melangsungkan upacara termasuk menentukan waktu yang paling baik dalam melaksanakan ritual ini. Adapun waktu yang dianggap baik melaksanakan upacara ini menurut orang Siombak adalah setiap hari kecuali tanggal satu suro. Karena sesuai dengan kepercayaan orang Siombak, adalah hal yang pantang melaksanakan upacara apapun pada tanggalsatu suro ataubulan Muharram, baik itu upacara perkawinan, kelahiran dan lain-lain. Mereka memiliki kepercayaan, saat itu para dukun sedang mencuci kerisnya untuk menjaga dan memantapkan daya gaibnya. Itu sebabnya mereka tidak dibenarkan menggelar upacara apapun.
Sesuai dengan tulisan dari International Journal Of the Malay World and Civilasationyang berjudul Falsafah Perkerisan dalam Masyarakat Melayu ditulis oleh Khamis Mohammad, Nik Hassan Suhaimi dan Abdul latif Samian bahwa Bulan Muharram atau tanggal 1 Suro dianggap sebagai bulan ilmu, menuntut ilmu atau membuang ilmu. Kebiasaannya keris ini dicuci, dibersihkan lalu dimandikan
oleh pemiliknya yang diikuti dengan ritual-ritual khusus. Ritual-ritual ini dibuat untuk memantapkan kekuatan yang ada pada keris tersebut.7
Pada saat upacara kelahiran dilaksanakan, di sore hari menjelang malam juga akan diadakan sebuah ritual yaitu ritualmengasapi. Mereka akan membakar cabai yang sudah busuk, bawang merah dan karet dari ban bekas dalam wadah. Yang dituju dari ritual ini adalah asap dari pembakaran ini. Asap ini dimaknai sebagai sesuatu yang dibenci serta ditakuti oleh para makhluk halus yang senang menghampiri ibu yang sedang melahirkan, karena bagi makhluk halus tersebut ibu yang baru melahirkan memiliki darah yang “manis” apalagikondisi dari ibu yang baru melahirkan masih lemah dan rentan sehabis berjuang melahirkan anak yang dikandungnya. Itu sebabnya makhluk halus itu senang menghampiri ibu yang baru melahirkan. Sore menjelang malam adalah waktu yang dianggap baik untuk melaksanakan ritual ini. Ritual mengasapi ini dijalankan setiap hari sampai masa nifas berhenti atau kurang lebih 40 hari setelah kelahiran.
Adapun Peralatan yang perlu disediakan untuk upacara ini ialah sebuah Jaring, beberapa Pandan berduri, sebuah Labu panjang, Bambu kuning, beberapa Lidi kelapa hijau, Bawang merah, Cabai yang sudah busuk, dan Karet ban bekas.
• Jaring : Jaring ini nantinya digantung di atas pintu atau jendela rumah pada saat proses kelahiran. Bahkan ada juga yang mengenakan jaring ini
7http://journalarticle.ukm.my/5489/1/Falsafah_Pekerisan_dalam_Masyarakat_Mel
dengan cara diikatkan di kedua pergelangan tangan dan kaki menyerupai gelang, selama 40 hari setelah melahirkan atau biasa disebut masa Nifas. Jaring yang digunakan dalam upacara kelahiran ini adalah Jaring yang biasanya digunakan para nelayan untuk menangkap ikan. Jenis yang digunakan dalam upacara ini adalah Jaring lempar. Jaring ini biasanya dibentuk oleh benang yang relatif tipis mengikat dan biasanya terbuat dari nilon.
Ibu Lismawati saat mengikat jaring yang nantinya diletak di atas pintu, sumber photo: dokumentasi pribadi
• Pandan berduri : Sebagian orang Siombak mengikatkan daun Pandan berduri ini bersama dengan Jaring, dan sebagian yang lain meletakkan daun Pandan berduri ini di bawah kolong tempat tidur si ibu yang melahirkan. Bagi orang Siombak, tumbuhan ini berguna untuk mengusir makhluk-makhluk gaib dan dipercaya dapat menetralisir kekuatan- kekuatan negatif di sekitarnya karena makhluk halus tersebut tak menyukai aroma dari tumbuhan ini.
• Bambu Kuning : Bambu kuning ini pun nantinya diletakkan di bawah kolong tempat tidur si ibu yang telah melahirkan. Orang Siombak meyakini semisal makhluk halus mendekati bambu kuning ini, dengan segera mereka akan terluka parah.
• Labu Panjang : Serupa dengan bambu kuning, tumbuhan ini juga diletakkan di bawah kolong tempat tidur si ibu yang melahirkan. Menurut pemahaman orang Siombak sifat dari Labu Panjang ini adalah dingin. Itu sebabnya orang Siombak meyakini tumbuhan ini dapat melawan aura panas dari makhluk-makhluk gaib yang hendak mengganggu si ibu dan bayinya.
• Lidi kelapa hijau : Menurut kepercayaan orang Siombak, lidi dari daun kelapa hijau ini dapat mengeluarkan roh-roh jahat dari dalam tubuh manusia misalnya menangkal santet. Dengan mencambukkan lidi kelapa hijau tersebut ke tubuh korban yang disantet, roh-roh jahat tersebut dengan sendirinya akan pergi. Tak hanya itu, lidi kelapa hijau pun diyakini dapat mengeluarkan susuk pada diri seseorang saat sakaratul maut. Dengan kekuatan yang terdapat pada lidi kelapa hijau yang diyakini oleh orang siombak, maka lidi kelapa hijau ini pun dianggap dapat membantu untuk menjaga si ibu yang baru melahirkan. Itu sebabnya lidi kelapa hijau ini diletakkan di bawah kolong bersamaan dengan Labu panjang dan bambu kuning.
• Bawang merah, Cabai yang sudah busuk dan Ban bekas :Tiga hal ini digunakan untuk ritual mengasapi. Pada sore hari menjelang malam
setelah lahirnya si bayi, si ayah sudah mulai melakukan ritual ini di halaman rumahnya. Di mana ia akan mengumpulkan bawang merah, cabai yang sudah busuk serta karet dari ban bekas untuk segera dibakar. Yang dituju dari ritualmengasapiadalah asap dari hasil pembakaran ini.
Unsur terpenting dalam upacara kelahiran adalah simbol, di mana simbol yang sarat makna. Menurut Hall (1997: 3), makna akan sesuatu diperoleh dari bagaimana mempresentasikannya yaitu bagaimana menggunakan sesuatu itu dalam kehidupan, dari apa yang dikatakan, dipikirkan dan dirasakan. Di sisi yang sama, kita memberi makna terhadap benda atau simbol. Makna suatu simbol (benda) diperoleh dari kehidupan sosial dan bukan dari sifat interinsik simbol tersebut. menurut Blumer, manusia bertindak terhadap sesuatu simbol berdasarkan makna simbol itu bagi dirinya. Makna itu diperoleh dari interaksi sosial lainnya yang dialami seorang individu secara lebih khusus, makna itu timbul karena adanya tindakan-tindakan orang lain terhadap si individu dalam rangka simbol yang dihadapi. Selanjutnya, si individu berinteraksi dengan dirinya sendiri, mengolah dan menginterpretasi makna dari objek tersebut. Berdasarkan interaksinya dengan diri sendiri, si individu menentukan tindakannya dan terjadilah interkasi simbolik (Blumer, 1972: 66-68).
Hakekat dari interaksi simbolik adalah bahwa proses sosial dalam kehidupan kelompok yang melahirkan dan mempertahankan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan mempertahankan kehidupan kelompok (Blumer, 1972: 81). Perhatian tidak lagi ditunjukkan pada aturan-aturan yang berada di luar dan mempengaruhi tingkah laku manusia, melainkan bagaimana
manusia itu senantiasa menunjukkan kembali keberadaannya dalam masyarakat, manusia dilihat sebagai makhluk yang menciptakan kembali dirinya.
Saat berinteraksi dengan makhluk halus, warga di Siombak mengenal orang dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan sakti dalam mengusir atau menangkis bahaya-bahaya gaib yang bisa didatangkan oleh makhluk halus tersebut yaitu Orang Pintar (Dukun) dan Jimat.