BAB II PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG DBD
2.4. Kasus Kematian yang Disebabkan oleh DBD
memperbesar kemungkinan untuk sembuh kembali. Apabila salah satu anggota keluarga menderita sakit demam berdarah, karena mudah menular melalui gigitan nyamuk, sebaiknya segera berobat untuk memastikan apakah tertular demam berdarah atau tidak.
2.4. Kasus Kematian yang Disebabkan oleh DBD
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat dalam salah satu situs web, penyakit DBD selalu ada sepanjang tahunnya. Dan kematian merupakan akibat yang dapat ditimbulkan dari penyakit DBD tersebut apabila penderita yang menunjukan gejala DBD tersebut terlambat untuk ditangani. Tidak hanya itu saja, beberapa kasus penyebab kematian berdasarkan data yang diperoleh ternyata juga dapat disebabkan karena salah persepsi bagi penderita gejala DBD tersebut. Demam tinggi merupakan salah satu gejala yang umum dirasakan seseorang terserang penyakit DBD, namun yang menyebabkan pada akhirnya penderita terlambat untuk ditangani sehingga dapat menimbulkan kematian dalam hal ini penderita kurang tanggap akan apa sebenarnya penyakit yang dialaminya tersebut dan dapat pula disebabkan kurang cepat dalam melakukan penanganan. Biasanya penderita mengira bahwa demam yang dialami merupakan demam tinggi biasa atau pun gejala penyakit lain seperti misalnya tifus. Apabila penderita memiliki daya tahan yang kurang dan lambatnya dalam melakukan penanganan maka hal tersebut dapat menimbulkan kematian bagi penderita. Namun jika seseorang memiliki daya tahan tubuh yang kuat, maka dapat memperkecil kemungkinan untuk tertular penyakit DBD tersebut.
Menurut beberapa informasi data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan bahwa, kematian yang disebabkan oleh DBD ialah karena keterlambatan seseorang dalam menangani penyakit DBD tersebut sehingga membawa
24
penderita pada keadaan yang lebih parah dan menimbulkan kematian apabila didukung dengan ketahanan tubuh yang rendah. Sehingga kemungkinan kematian apabila seseorang terlanjur terjangkiti penyakit DBD tersebut akan dapat dihindari dengan perawatan dan penanganan yang cepat dan tepat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari situs “Suara Pembaruan” oleh Ruht
Semiono, yakni data DBD dari Dinas Kesehatan Jawa Barat mengenai jumlah penderita DBD, kota Bandung merupakan kota yang paling banyak penderita DBD pada tahun 2009 sebanyak 5.292 penderita DBD.
Tabel 2.1. Jumlah penderita DBD di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat tahun 2009
Oleh karena itu kampanye mengenai cara penangan yang cepat dan tepat terhadap bahaya DBD di wilayah Bandung dirasa tepat dilakukan melihat mayoritas penderita DBD terbanyak ialah pada wilayah kota Bandung, karena termasuk kota padat penduduk.
25
2.5. Persepsi dan Perilaku Masyarakat Dalam Penanganan DBD
Persepsi masyarakat dalam mengenai masalah yang ditimbulkan oleh DBD tentunya tidak selalu sama, dan akan berbeda satu dengan yang lain. Dari stimulus dan informasi yang diketahui akan mempengaruhi perilaku dan tindakan yang mereka ambil ketika harus dihadapkan dengan masalah DBD tersebut, terutama dalam melakukan penanganan seperti apa yang dilakukan.
2.5.1. Persepsi Masyarakat Dalam Penanganan DBD
Menurut Sandy (26), seorang karyawan suatu perusahaan dan juga salah satu responden yang pernah mengalami penyakit DBD mengatakan bahwa dirinya sudah melakukan pola hidup bersih di lingkungan rumahnya, namun Sandy tidak menyangka akan sampai tertular penyakit DBD tersebut, padahal dirinya merasa lingkungan tempat tinggalnya sudah cukup bersih. Namun Sandy tersebut mengaku lebih banyak melakukan aktivitas sehari-harinya di luar rumah, seperti di kantor dan tempat lain ketika kumpul bersama teman-temannya dan hanya berada di rumah ketika malam hari.
Dari pernyataan tersebut ternyata bisa saja seseorang sudah melaksanakan hidup bersih di lingkungan tempat tinggalnya, namun bagaimana apabila seseorang tersebut berada di luar rumah saat melakukan aktivitas, mengingat ancaman DBD tersebut bisa terjadi dimana saja di lingkungan yang cukup padat. Berbeda dengan Katrina (22) seorang mahasiswi mengatakan bahwa, dirinya tinggal di lingkungan yang sekitarnya tidak terlalu terjamin kebersihan lingkungannya, namun disaat salah seorang penduduk di lingkungan tempat tinggalnya terkena DBD, Katrina
26
masih tetap sehat dan tidak sampai tertular penyakit tersebut meskipun berada dekat di tempatnya tinggal. Daya tahan tubuh dan metabolisme yang baik dan kuat, memungkinan resiko untuk terkena DBD tersebut akan rendah. Oleh karena itu, apabila suatu keadaan tidak lagi menjamin untuk seseorang akan terhindar atau sampai terkena bahaya penyakit DBD walau segala bentuk pencegahan telah dilakukan, maka untuk menghindari keadaan tersebut kepada keadaan yang semakin parah seperti kematian yang dapat disebabkannya, maka kewaspadaan akan gejala dengan perawatan dan penanganan yang tepat disini sangat diperlukan dan perlu untuk lebih ditingkatkan. Karena berat ringannya dampak yang akan ditimbulkan oleh DBD tersebut dapat dipengaruhi oleh suatu keadaan lingkungan dan kekuatan daya tahan tubuh atau metabolisme tubuh seseorang yang apabila tertular penyakit DBD tersebut.
2.5.2. Perilaku Mayarakat Pada Saat Terkena DBD
Berdasarkan hasil angket kuisioner dan wawancara kepada masyarakat yang diwakili oleh tiga puluh orang responden yang pernah ataupun tidak pernah terkena DBD sebelumnya yang memenuhi segmentasi khalayak sasaran yang telah ditentukan, didapatkan beberapa respon dan tanggapan yang bermacam-macam ketika mereka atau salah seorang keluarga mereka terkena terkena DBD. Serta pengetahuan mereka selama ini tentang DBD dan cara penanganannya disamping melakukan pencegahan yang tentunya sudah tidak asing lagi di dengungkan setiap tahunnya kepada masyarakat. Berdasarkan jawaban dari pertanyaan melalui angket yang disebarkan kepada tiga puluh orang responden, maka didapatlah jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan seperti:
27
1) Dua puluh sembilan dari tiga puluh orang responden menjawab mengetahui apa itu demam berdarah dengue, dan sebagian menjelaskan penyebab demam berdarah tersebut yakni adalah nyamuk Aedes Aegypti. Berdasarkan data yang diperoleh, faktor penyebab DBD ialah virus dengue, namun cara penularannya kepada manusia ialah melalui gigitan nyamuk betina Aedes Aegypti.
2) Dua puluh empat dari tiga puluh responden menjawab pernah mengalami dan terkena DBD.
3) Dua puluh sembilan dari tiga puluh orang responden menjawab mengetahui ciri dan gejala seseorang terkena DBD, dan sisanya mengaku tidak tahu. Dan gejala dan ciri yang mereka sebutkan merupakan gejala yang biasa diperlihatkan jika seseorang terkena DBD, seperti demam yang tinggi, bintik merah di kulit, pegal serta linu pada tubuh.
4) Dua puluh delapan dari tiga puluh orang menjawab mengetahui cara pencegahan DBD seperti 3M dan sudah melakukan pencegahan, sedangkan satu orang lainnya mengaku mengetahui tapi belum melakukan pencegahan, lalu sisanya menjawab tidak tahu.
5) Dua puluh enam dari tiga puluh orang menjawab mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mereka atau salah seorang anggota keluarga mereka mengalami demam selama 1-3 hari, yakni 12 responden memilih langsung diperiksakan ke dokter, 4 responden memilih untuk merawat/menanganinya sendiri seperti diberi obat penurun panas, dan 2 orang responden memilih untuk dibawa langsung kerumah sakit.
6) Ketigapuluh orang responden menjawab mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mereka atau salah seorang keluarga
28
mereka terkena DBD. Ada yang memilih untuk cepat diperiksakan kedokter, ditangani sendiri, dan ada yang memilih untuk langsung dibawa kerumah sakit.
7) Dua puluh empat dari tiga puluh orang responden menjawab obat yang mereka berikan untuk seseorang yang terkena DBD adalah parasetamol. Enam orang lainnya memilih untuk memberikan asupan lain seperti sari kurma, atau memberikan obat berdasarkan resep dokter, sedangkan sisanya mengaku tidak tahu obat apa yang harus diberikan/digunakan.
8) Dua puluh delapan dari tiga puluh responden mengetahui untuk memberikan air minum sebanyak-banyaknya jika terkena DBD atau kepada penderita DBD, dan dua orang sisanya tidak mengetahui jika terkena DBD harus diberikan air minum sebanyak-banyaknya kira-kira 2 liter (8 gelas) dalam satu hari atau 3 sendok makan setiap 15 menit. Dengan memberikan minum yang banyak diharapkan cairan dalam tubuh tetap stabil.
9) Dua puluh enam dari tiga puluh orang responden memilih untuk memberikan kompres hangat untuk mengatasi demam tinggi karena DBD. Tiga orang responden memilih untuk memberikan kompres dingin, sedangkan seorang responden tidak tahu harus memberikan kompres seperti apa. Menurut informasi dari data yang diperoleh, seseorang yang mengalami demam tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan kompres dingin, karena kompres dingin dapat menyebabkan penderita menggigil.
10) Dua puluh sembilan dari tiga puluh orang responden memilih perlu untuk memeriksakan darah apabila seseorang memperlihatkan gejala demam yang sangat tinggi selama 1-3
29
hari. Sedangkan satu orang sisanya menjawab untuk tidak perlu memeriksakan apabila dirasa penanganan sendiri sudah cukup. Menurut data yang diperoleh mengenai penanganan DBD, kegawatan masih dapat terjadi selama penderita masih demam sehingga pemeriksaan darah sering kali perlu diulang kembali. Sehingga sangat diperlukan untuk berjaga-jaga.
Untuk selebihnya dapat dilihat dari grafik berikut:
Grafik 2.1 Pengetahuan responden terhadap DBD
Grafik 2.2 Responden yang pernah/tidak pernah terkena DBD
Grafik 2.3 Pengetahuan responden yang mengetahui/tidak mengetahui ciri dan gejala DBD
Tahu Tidak tahu Tidak pernah terkena DBD Pernah terkena DBD Tahu Tidak tahu
30
Grafik 2.4 Pengetahuan responden mengenai cara pencegahan DBD
Grafik 2.5 Pengetahuan responden mengenai apa yang harus dilakukan apabila terkena DBD
Pada grafik 2.5 rata-rata semua responden mengetahui apa yang harus dilakukan apabila mereka atau salah seorang anggota keluarga mereka terkena DBD, tetapi meskipun mereka mengetahui apa yang harus dilakukan tersebut, tidak semua merupakan jawaban yang tepat untuk dilakukan.
Sehingga kesimpulan yang didapat dari jawaban kesepuluh responden tersebut adalah, responden rata-rata sudah mengetahui tentang apa itu DBD, pencegahannya serta penanganannya, tetapi dari jawaban tersebut tidak sepenuhnya menjawab dengan tepat apabila disesuaikan dengan data mengenai DBD mengenai cara pencegahan dan penanganannya yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan. Responden cenderung untuk memberikan penanganan berdasarkan apa yang telah diketahui dan diyakini dapat membantu responden dalam penanganan DBD dengan cara mereka masing-masing diluar dari cara penanganan yang mereka ketahui itu sudah yang paling tepat
Tahu tapi belum melakukan
pencegahan
Tahu dan sudah melakukan pencegahan
Tidak tahu
Tahu Tidak tahu
31
atau bukan. Maka untuk menghindari bentuk penanganan yang salah dan belum tentu efektif tersebut, maka dirasa perlu untuk lebih ditingkatkan lagi pengetahuan mereka mengenai informasi cara penanganan yang cepat, tepat, dan efektif ketika seseorang terkena DBD kepada masyarakat.