• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Implementasi Penerapan Hukum Pidana Korupsi di

1. Kasus Posisi Pada Putusan No

Bahwa pada tahun 2007 dan tahun 2008 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone mendapatkan anggaran untuk pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) dengan perincian:

- Tahun Anggaran 2007 sebesar Rp.2.414.381.250 (dua milyar empat ratus empat belas juta tiga ratus delapan puluh satu ribu dua ratus lima puluh rupiah) yang sumber dananya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Bone.

- Tahun Anggaran 2008 sebesar Rp. 350.309.000 (tiga ratus lima puluh juta tiga ratus sembilan ribu rupiah) yang sumber dananya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Bone.

Pembangunan Balai Beni Ikan (BBI) terdapat 23 (dua puluh tiga) item pekerjaan pada Daftar Penyedia Anggaran (DPA) Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone dan dari 23 (dua puluh tiga) item pekerjaan tersebut hanya 21 (dua puluh satu) item pekerjaan yang dikontrakkan dengan perincian 10 (sepuluh) item pekerjaan dilakukan pelelangan umum (tender) dan 11 (sebelas) item pekerjaan dilakukan dengan sistem penunjukan langsung.

Kemudian terdakwa H.Kahar selaku Direktur CV. Harga ditunjuk untuk mengerjakan Pembangunan Kolam Pembesaran II berdasarkan Kontrak Nomor: 028/DP/BBI-PPI/VIII/2007 tanggal 29 Agustus 2007 dengan nilai kontrak sebesar Rp. 49.500.000 (Empat puluh Sembilan juta lima ratus ribu rupiah). Dan selain pekerjaan tersebut, terdakwa juga mengerjakan 5 (lima) item pekerjaan dengan menggunakan/meminjam perusahaan lain, yaitu :

1) Pembangunan Kolam Induk Betina II oleh CV Thries dengan Nomor Kontrak : 040/DP/BBI-PPI/VIII/2007 sejumlah nilai kontrak Rp. 49.500.000 (empat puluh Sembilan juta lima ratus ribu rupiah) tertanggal 22 Oktober 2007.

2) Pembangunan Kolam Induk Jantan I oleh CV. Armas dengan Nomor Kontrak : 042/DP/BBI-PPI/VIII/2007 sejumlah nilai kontrak Rp. 49.500.000 (empat puluh Sembilan juta lima ratus ribu rupiah) tertanggal 22 Oktober 2017.

3) Pembangunan Talud Pasangan Batu oleh CV. Waspada Jaya dengan Nomor Kontrak: 06/DP/BBI-PPI/VIII/2007 sejumlah nilai kontrak Rp. 284.697.000 (dua ratu delapan puluh empat juta enam ratus Sembilan puluh tujuh ribu rupiah) tertanggal 29 Agustus 2007.

4) Pembangunan Pagar (tambahan) oleh CV. Satria Madiri dengan Nomor Kontrak: 044/DP/BBI-PPI/X/2007 sejumlah

nilai kontrak Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah) tertanggal 22 Oktober 2007.

5) Pembangunan Jalan Kompleks oleh CV. Kursia dengan Nomor Kontrak: 030/DP/BBI-PPI/VIII/2007 sejumlah nilai kontrak Rp. 40.000.000 (empat puluh juta rupiah) tertanggal 29 Agustus 2007.

Selanjutnya dari 6 (enam) item pekerjaan pada Tahun Anggaran 2007 yang dikerjakan oleh Terdakwa H. Kahar Husain Dg. Pagessa tersebut tidak satupun yang selesai sehingga diluncurkan anggarannya ke tahun 2008. Pada tahun 2008 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone menganggarkan lagi anggaran sebesar Rp. 1.175.662.500 (satu milyar seratus tujuh puluh lima enam ratus enam puluh dua ribu lima ratus rupiah) sebagai dana luncuran untuk Pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) terhadap item-item pekerjaan yang tidak selesai tahun 2007.

Pada tahun 2008 tepatnya pada bulan Oktober 2008 sampai dengan Desember 2008 keenam item pekerjaan sesuai kontrak tahun 2007 dan yang dikerjakan oleh terdakwa H. Kahar dilaporkan telah selesai 100% dengan berdasarkan pada dokumen-dokumen pelaksanaan pekerjaan, diantaranya:

- Berita Acara Penilaian Hasil Pekerjaan (PHO) serah terima awal pekerjaan yang ditandatangani oleh Muh Amir,S.Pi selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (Pihak Pertama) dan Para

Rekanan sebagai Pihak Kedua yang menyatakan “seluruh rangkaian pekerjaan yang terdapat dalam surat perjanjian telah dilaksanakan dengan baik oleh para rekanan, apabila masih terdapat kerusakan/ ketidaksempurnaan untuk diperbaiki/

disempurnakan dengan waktu pekerjaan selama masa pemeliharaan”.

- Berita Acara Penilaian Hasil Pekerjaan (PHO) serah terima awal pekerjaan yang pada pokoknya menerangkan bahwa “pihak kedua menyerahkan kepada pihak pertama menerima baik dari pihak kedua hasil pekerjaan sesuai dengan surat kontrak pelaksanaan pekerjaan.

- Berita Acara Serah Terima akhir pekerjaan (FHO), yang ditandatangani oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (Pihak Pertama) dan para rekanan sebagai pihak kedua yang pada pokoknya menyatakan bahwa pihak kedua menyerahkan kepada pihak pertama menerima baik dari pihak kedua hasil pekerjaan sesuai dengan Surat Kontrak Pelaksanaan Pekerjaan, sehingga kepada Pihak Kedua telah berhak menerima pembayaran 100% dari nilai kontrak.

Bahwa ternyata terhadap iterm-item pekerjaan yang dikerjakan oleh terdakwa H. Kahar Husain semuanya telah dibayarkan 100%, namun terdapat kekurangan volume pekerjaan sesuai hasil pemeriksaan fisik oleh Instansi Teknis Dinas Tata Ruang dan Kimpraswil (TARKIM) Kabupaten

Bone bersama dengan Tim Audit dari BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi-Selatan, yang dihadiri saksi H. Muh Amir,S.Pi. adapun kekurangannya yaitu:

a) Pekerjaan Pembangunan Kolam Pembesaran II sebesar Rp.

22.170.203

b) Pekerjaan Pembangunan Kolam Induk Betina II sebesar Rp.

23.077.348

c) Pekerjaan Pembangunan Kolam Jantan II sebesar Rp.

22.171.047

d) Pekerjaan Pembangunan Talud Pasangan Batu Rp.

183.937.021

e) Pekerjaan Pembanguna Pagar (tambahan) Rp. 2.985.000 f) Pekerjaan Pembangunan Jalan Komplek Rp. 20.531.290

Bahwa perbuatan terdakwa tersebut bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yakni Pasal 36 Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Adapun dalam surat dakwaannya penuntut umum mendakwa terdakwa menggunakan dakwaan Primair yaitu Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 ayat (1) butir b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan

atas UU Nomor 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 jo Pasal 64 KUHP.

Dan dakwaan Subsidair yaitu Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat (1) butir b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 jo Pasal 64 KUHP.

2. Tuntutan Jaksa, Putusan Hakim dan Pertimbangan Hakim pada Putusan No. 74/Pid.Sus/2014/Pn.Mks

a) Tuntutan Penuntut Umum

Adapun tuntutan yang diajukan oleh Penuntut Umum kepada Majelis Hakim untuk dapat di putus perkaranya adalah :

1) Menyatakan Terdakwa tidak terbutki bersalah sebagaimana dakwaan primair;

2) Mebebaskan terdakwa oleh karenanya dari dakwaan primair tersebut;

3) Menyatakan Terdakwa H. Kahar Dg. Pagessa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara berlanjut sebagaimana diatur dalam pasal 3 jo pasal 18 ayat (1) huruf b UU No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, sebagaimana dalam dakwaan subsidair.

4) Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa H. Kahar Dg.

(enam) bulan dikurangi sepenuhnya dengan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dan denda sebesar Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) subsidari 2 (dua) bulan kurungan;

5) Menghukum terdakwa H. Kahar Dg. Pagessa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp. 45.786.493 (empat puluh lima juta tujuh ratus delapan puluh enam ribu empat ratus sembilah puluh tiga rupiah), dan jika Terdakwa tidak membayar uang pengganti tersebut dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan setelah putusan Pengadilan berkekuatan hukum tetap, harta bendanya dapat disita dan dijual lelang untuk membayar uang pengganti tersebut, dan jika terdakwa tidak memiliki harta yang cukup, maka dipidana dengan penjara selama 2 (dua) bulan kurungan;

6) Menyatakan barang bukti tetap terlampir dalam berkas perkara untuk digunakan dalam perkara lain;

7) Menetapkan terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp.

5.000 (lima ribu rupiah);

b) Putusan & Pertimbangan Majelis Hakim

Putusan pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Makassar Nomor 74.Pid.Sus/2014/Pn.Mks yang amarnya berbunyi:

1) Menyatakan Terdakwa H. Kahar Daeng Pagessa, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pada dakwaan primair;

2) Membebaskan terdakwa oleh karena itu dari dakwaan primair tersebut;

3) Menyatakan terdakwa H. Kahar Daeng Pagessa, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana KORUPSI YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA DAN BERLANJUT;

4) Menjatuhkan pidana leh karena itu kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 2 (dua) bulan dan pidana denda sebesar Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila pidana denda tersebut tidak dibayar maka aka diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan;

5) Menghukum pula terdakwa membayar uang pengganti sebesar Rp. 45. 786. 493 (empat puluh lima juta tujuh ratus delapan puluh enam ribu empat ratus Sembilan puluh tiga rupiah), dengan ketentuan jika terpidana tidak membayar uang pengganti tersebut paling lama 1 (satu) bulan sesudah putusan ini memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta benda milik terpidana akan disita oleh jaksa dan dilelang untuk membayar uang pengganti tersebut dan dalam hal

terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka diganti dengan pidana penyara selama 2 (dua) bulan;

6) Menetapkan masa penahanan kota yang telah dijalani oleh terdalkwa di kurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

7) Menetapkan barang bukti terdiri atas

 1 (satu) bundel dokumen CV. Agil Jaya

 1 (satu) bundel dokumen CV. Waspada Jaya

 1 (satu) bundel dokumen CV. Reski Dwiputri

 1 (satu) bundel dokumen CV. Fasri Trd Copy

 1 (satu) bundel dokumen CV. Bintang Reseki

 1 (satu) bundel dokumen CV. Cahaya Beringin

 1 (satu) bundel dokumen CV. Ersa Indah

 1(satu) bundel dokumen CV. Karya Takka

 1(satu) bundel dokumen CV. Tenriwaru

 1(satu) bundel dokumen CV. Harga

 1(satu) bundel dokumen CV. Kursia

 1(satu) bundel dokumen CV. Thies

 1(satu) bundel dokumen CV. Alfian

 1(satu) bundel dokumen CV. Helmi

 1(satu) bundel dokumen CV. Armas

 1(satu) bundel dokumen CV. Satria Mandiri

 Laporan Hasil Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa kegiatan Pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) Tahun 2007

 Gambar perencanaan kegiatan Pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) tahun 2007

 Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA) tahun 2007

 Surat Perintah pencairan dana (SP2D) kegiatan Balai Benih Ikan (BBI) Tahun 2007

 1(satu) bundel dokumen CV. Karya Utama

 1(satu) bundel dokumen CV. Bintang Lima

 1(satu) bundel dokumen CV. Rusman Jaya

 Dokumen pengadaan alat-alat Laboratorium tahun 2008

 Dokumen Perubahan ANggaran (DPPA) tahun 2008

 Laporan hasil pelaksanaan Barang dan Jasa Tahun 2008

 Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Kegiatan FIsik Balai Benih Ikan (BBI) tahun 2008

 Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Pengadaan Alat-Alat Laboratorium

Terlampir dalam berkas perkara untuk dipergunakan

8) Menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebsear Rp. 5.000 (lima ribu rupiah)

Dalam menjatuhkan putusannya, majelis hakim menguraikan beberapa pertimbangan hukumnya. Pertimbangan hakim yang diuraikan adalah kesesuaian antara perbuatan yang dilakukan terdakwa dengan unsur-unsur tindak pidana korupsi pada pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang di dakwakan kepadanya. Adapun unsur-unsur yang dimaksud adalah :

1. Unsur dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain ataus suatu korporasi.

Dalam pertimbangan hakim, bahwa dengan adanya kekurangan volume pekerjaan senilai dengan harga sebesar Rp.

274.871.909, yang memberikan keuntungan kepada terdakwa dan orang lain yaitu dari setiap rekanan-rekanan yang mengerjakan pekerjaan Pembangunan BBI sesuai dengan bagian masing-masing peritem pekerjaan yang diterima terdakwa hanyalah sejumlah Rp. 47.786.493, dimana keuntungan yang didapat merupakan kekurangan keuangan negara diluar perhitungan keuntungan yang didapat sesuai perhitungan keuntungan berdasarkan mekanismenya yaitu nilai anggaran yang terdapat dalam kontrak sudah termasuk keuntungan yang diperoleh.

Selanjutnya bahwa dari uraian tersebut, bahwa telah tampak jelas bahwa terdakwa telah memperoleh keuntungan sejumplah Rp.

45.786.493, diluar yang telah diperhitungkan berdasarkan nilai kontrak di samping itu juga telah memberikan keuntungan kepada rekanan lain yang dipinjam perusahaannya, keuntungan mana bersal dari Keuangan Negara/Daerah.

Berdasarkan uraian dari fakta-fakta hukum tersebut Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur menguntungkan diri sendiri, orang lain atau korporasi telah terpenuhi.

2. Unsur menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan.

Yang dimaksud menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan adalah menggunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang melekat pada jabatan atau kedudukan yang dijabat atau diduduki oleh pelaku tindak pidana korupsi untuk tujuan lain dari maksud diberikannya kewenangan, kesempatan atau sarana tersebut. untuk mencapai tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. Dalam pasal 3 ini telah ditentukan cara yang harus dilakukan oleh Subyek Tindak Pidana Korupsi, yaitu dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau

sarana yang ada pada jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi.

Menimbang mengenai hal tersebut, pendapat Majelis Hakim berkaitan erat dengan arti atau makna Pegawai Negeri yang dalam ketentuan pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan memperluas arti pegawai negeri yang meliputi :

a. Pegawai negeri sebagaimana Undang-Undang tentang Kepegawaian

b. Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

c. Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan Negara atau daerah

d. Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan Negara atau daerah; atau

e. Orang yang meneriima gaji atau upah korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

Menimbang, berdasarkan perluasan pengertian Pegawai Negeri tersebut, maka bukan hanya pegawai negeri menurut

pengertian hukum administrasi negara, akan tetapi termasuk yang menerima upah dari korporasi yang mempergunakan modal atau fasilitas dari Negara atau masyarakat dalam kedudukan sebagai penyedia barang/jasa, sebagaimana ditetapkan dalam putusan Mahkamah Agung Ri Nomor: 892/Pid/1983 bahwa Asape Baleke selaku direktur Mekasari yang memperoleh proyek dari pemerintah dank arena ini sebagai pelaksananya dianggap telah mempunyai kewenangan karena jabatan/kedudukan yang dilimpahkan pemerintah kepada mereka dalam pelaksanaan pembangunan suatu proyek.

Menimbang, apakah terdakwa dapat dikategorikan sebagai subyek yang menyadang suatu kewenangan karena jabatan atau karena kedudukan, dalam pelaksanaan pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) pada Dinsa Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone, sebagaimana pula menjadi dalil pada pembelaan terdakwa melalui nota Pembelaan Penasehat Hukumnya yang mendalilkan terdakwa tidak bias dipersalahkan melakukan perbuatan penyalahgunaan wewenang, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan karena terdakwa bukanlah pejabat publik atau pejabat Negara yang dengan mudah menyalahgunakan kesempatan atau sarrana karena kedudukan atau jabatan, maka majelis hakim mempertimbangkan sebagai berikut:

Pertimbangan hakim bahwa terdakwa selaku direktur CV.

Harga ditunjuk untuk mengerjakan pembanguan BBI berdasarkan perjanjian pelaksanaan pekerjaan untuk pembangunan Kolam Pembesaran II, sesuai kontrak nomor 028/DP/BBI-PPI/VIII/2007, tanggal 29 Agustus 2007, dengan nilai kontrak Rp. 49.500.000, serta atas kesepakatannya dengan pemilik perusahaan lain serta Konsultan Pengawas untuk pekerjaan item-item pekerjaan lainnya.

Atas adanya surat perjanjian dan kesepakatan kerja maka terdakwa mempunyai kewenangan untuk menandatangani diantaran:

- Berita Acara Penilaian Hasil Pekerjaan;

- Berita Acara Serah Terima;

- Berita Acara Hasil Pemeriksaan Fisik 100%;

- Berita Acara Pekerjaan 100%

- Surat Pernyataan Pekerjaan 100%;

- Bobot Kemajuan Fisik 100%;

Bahwa terdakwa terdakwa di samping mempunyai kewenangan untuk menandatangani dari dokumen-dokumen sebagaimana tersebut sebagai persyarat untuk dicairkannya dana dalam pembangunan BBI pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone, mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya sampai dengan selesai 100%, sehingga dapat pula dibayarkan seluruhnya 100%.

Untuk melaksanakan pekerjaan yang dimaksud maka anggaran berupa dana pemerintah dalam hal ini Dana Alokasi Khusus Kabupataen Bone yang terdapat pada DPA Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone dicairkan 100%

Selanjutnya apakah terdakwa selaku penerima pekerjaan pembangunan BBI pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone, telah melakukan penyalahgunaan kewenangan karena jabatan atau kedudukannya, Majelis Hakim menguraikan fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa, alat bukti surat dan atau barang bukti yakni

Bahwa terdakwa bertugas melaksanakan pembangunan Kolam Pembesaran II, sehingga untuk mencairkan dana sampai dengan 100% terdakwa bersama HM Amir Spi selaku PPTK, Alvian T Anugerah selaku Konsultan Pengawas, dan Tim PHO Kepala dinas, Berita Acara Penilian hasil Pekerjaan, membuat menandatangani Berita Acara Serah Terima Berita Acara Hasil pemeriksaan Fisik 100%, Berita Acara Pekerjaan 100%, SUrat Pernyatan Pekerjaan 100%, Bobot Kemajuan Fisik 100%, padahal senyatanya terdapat kekurangan volume pekerjaan senilai sebesar Rp. 274.871.909 (termasuk dari lima CV yang dipinjam terdakwa), dimana pula sebelumnya telah menerima uang Muka Kerja pada tahun 2007.

Bahwa terdakwa seharusnya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya pada tahun 2007, namun tidak diselesaikan dan selanjutnya diberikan kepada saksi Ir. Agussalim mengerjakan pada tahun 2008, dengan kesepakatannya dengan saksi Alvian meskipun terdakwa tahu bahwa Saksi Alvian merupakan Konsultan Pengawas.

Bahwa selain fakta-fakta hukum tersebut, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur menyalahgunakan kewenangan karena jabatan atau karena kedudukan telah terpenuhi.

3. Unsur yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara

Majelis dalam pertimbangannya menyatakan bahwa, berdasarkan penjelasan umum UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dijelaskan bahwa Keuangan Negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian, kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena :

- Berada dalam penguasaan, pengurusan dan pertanggungjawaban pejabat lembaga negara, baik di tingkat pusat maupun di daerah.

- Berada dalam penguasaan, pengurusan dan pertanggungjawaban Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yayasan, badan hukum dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian negara.

Menimbang berdasarkan Pasal 1 angka 22 UU RI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara menentukan kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengarja ataupun lalai.

Majelis Hakim menguraikan fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa, alat bukti surat dan atau barang bukti yakni

Bahwa terdakwa bertugas melaksanakan pembangunan Kolam Pembesaran II, sehingga untuk mencairkan dana sampai dengan 100% terdakwa bersama HM Amir Spi selaku PPTK, Alvian T Anugerah selaku Konsultan Pengawas, dan Tim PHO Kepala dinas, Berita Acara Penilian hasil Pekerjaan, membuat menandatangani Berita Acara Serah Terima Berita Acara Hasil pemeriksaan Fisik 100%, Berita Acara Pekerjaan 100%, SUrat

senyatanya terdapat kekurangan volume pekerjaan senilai sebesar Rp. 274.871.909 (termasuk dari lima CV yang dipinjam terdakwa), dimana pula sebelumnya telah menerima uang Muka Kerja pada tahun 2007.

Bahwa terdakwa seharusnya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya pada tahun 2007, namun tidak diselesaikan dan selanjutnya diberikan kepada saksi Ir. Agussalim mengerjakan pada tahun 2008, dengan kesepakatannya denga saksi Alvian meskipun terdakwa tahu bahwa Saksi Alvian merupakan Konsultan Pengawas.

Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum sebagaimana telah terurai dari pertimbangan tersebut, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ini pun terbukti.

3. Analisis Terhadap Implemntasi Penerapan Hukum Pidana Korupsi Pada Putusan No. 74/Pid.sus.2014/Pn.Mks

Setelah memperhatikan uraian kasus hingga putusan hakim dan juga pertimbangannya, apa yang diputuskan oleh hakim menurut penulis sudah tepat dalam mengambil dan menjatuhkan putusan kepada terdakwa. Apa yang didalilkan majelis hakim berkaitan dengan unsur-unsur dalam tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa sudah memenui secara hukum. Hal ini diperjelas oleh salah satu dari hakim yang mengadili perkara ketika penulis melakukan wawancara berkaitan dengan

perkara dimana menurut beliau, ketika satu saja unsur yang tidak terpenuhi dalam perbuatan terdakwa, maka ia tidak dapat dipidana.

Dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan yang didasarkan fakta-fakta yuridis yang terungkap di depan persidangan dan oleh Undang-Undang yang telah ditetapkan sebagai hal yang dimaksudkan tersebut diantaranya adalah dakwaan Penuntut Umum, Keterangan Terdakwa dan saksi serta barang bukti, dan unsur-unsur delik yang didakwakan dan juga pertimbangan non-yuridis yang terdiri dari latar belakang perbuatan terdakwa, kondisi terdakwa, erta kondisi ekonomi terdakwa.

Hal yang cukup menarik yang penulis temukan dalam beberapa literatur berkaitan dengan Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa adalah masih adanya perbedaan pendapat dari beberapa orang ataupun praktisi hukum dalam penerapan hukum terkait korupsi dalam bidang pengadaan barang dan jasa terkhusus pada perbuatan kekurangan volume/jumlah barang/jasa yang menjadi objek pengadaan.

Beberapa pihak menganggap bahwa ketika terjadi kekurangan volume pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang tertuang dalam perjanjian, maka itu penyelesaiannya melalui jalur Hukum Perdata dikarenakan bahwa dasar dari hubungan kedua pihak adalah Perjanjian Pengadaan Barang/Jasa. Di lain sisi beberapa pihak menganggap sebaliknya bahwa kekurangan volume pekerjaan pada pengadaan Barang/Jasa Pemerintah tetap diselesaikan dalam ranah Hukum Pidana

dikarenakan ada Unsur Kerugian Negara di dalamnya sebab Pengadaan Barang/Jasa tersebut menggunakan anggaran APBN/APBD.

Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota majelis hakim yang mengadili perkara tersebut yakni bapak Rostansar,SH,MH yang penulis coba mewawancarai beliau terkait penanganan kasus korupsi pengadaan Barang/Jasa dengan nomor perkara 74/Pid.Sus/2014/Pn.Mks.

berdasarkan keterangan beliau, kasus tersebut mejadi penyelesaian ranah pidana dalam hal ini tindak pidana korupsi dikarenakan dalam perbuatan terdakwa terdapat unsur dengan sengaja memanipulasi dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Konstruksi guna mendapatkan keuntungan dari uang negara. Sehingga unsur merugikan keuangan negara dalam UU Tipikor dapat terpenuhi akibat dari perbuatan terdakwa.

Dalam kasus perkara ini dapat dilihat bahwa implementasi dalam penerapan hukum pidana korupsi telah diterapkan dengan sangat baik oleh Penuntut Umum dalam hal mendakwa & menuntut terdakwa serta Majelis Hakim dalam memutuskan kasus perkara ini. Hal ini di dapat dilihat pada pertimbangan majelis hakim pada putusan dimana majelis hakim dengan cermat dan teliti menganalisa perbuatan terdakwa dengan ketentuan UU Tipikor yang di dakwakan oleh Penuntut Umum yakni diantara ketentuan pada Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengaturan hukum terhadap pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa Konstruksi Pemerintah sebelumnya telah diatur di dalam beberapa instrumen hukum mulai dari UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi sampai kepada beberapa peraturan pelaksana diantaranya Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, hingga Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dan yang terbaru disempurnakan untuk mengikuti perkembangan zaman yakni Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 yang terkait kegiatan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dilakukan secara Elektronik.

2. Implementasi penerapan hukum pidana korupsi pada kasus Tindak Pidana Korupsi pada putusan No. 74/Pid.Sus/2014/PN.Makassar telah sesuai dengan ketentuan mengenai Tindak Pidana Korupsi di Indonesia yakni berdasar kepada UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dimana perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pada delik tindak

pidana koruspi yang diatur pada pasal 3 UU No. 20 Tahun 2001 Jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999. Pertimbangan Hakim dalam menerapkan ketentuan pidana terhadap pelaku dalam perkara ini dimana hakim telah mempertimbangkan baik pertimbangan yuridis, fakta-fakta persidangan, keterangan para saksi, alat bukti yang ada, keyakinan hakim serta hal-hal yang mendukung.

B. Saran

Adapun saran yang dapat penulis berikan sehubungan dengan penulisan skripsi ini adalah:

1. Selain pemberian sanksi yang tegas tegas terhadap pelaku kejahatan khususnya Tindak Pidana Korupsi, diharapkan pula Penegak Hukum dalam hal ini Hakim dapat pula memperhatikan segi non-yuridis dari perbuatan pelaku serta dampak dari perbuatan korupsi itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan efek jera pada pelaku tindak pidana.

2. Perlunya pembinaan serta pengawasan ketat dari pemerintah sebagai pihak yang mengelolaan keuangan negara dalam hal ini pengadaan barang/jasa dalam setiap tahapan pelaksanaannya sebagai suatu upaya dalam pencegahan terjadinya suatu Tindak Pidana Korupsi yang dapat merugikan keuangan negara serta perekonomian bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku

Amir Ilyas, 2012. Asas-asas Hukum Pidana, Rangkang Education, Yogyakarta.

Barda Nawawi Arief, 1996, “Bunga Rampai Kebijakan Pidana”, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,

Binoto Nadapdap, 2009, “Hukum Acara Persaingan Usaha”, Jala Permata Aksara, Jakarta

Evi Hartanti, 2007, “Tindak Pidana Korupsi”, Sinar Grafika Offset, Jakarta.

E.Y Kanter& S.R. Sianturi, 2012.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesianandan Penerapannya, StoriaGrafika, Jakarta.

I Made Widnyana, 2010, Asas-Asas Hukum Pidana, PT. FikahatiAneska, Jakarta,

John M Echols dan Hassan Shadaly, 1997, Kamus Inggris Indonesia,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Komisi Pemberantasan Korupsi, 2015, “Kajian Pencegahan Korupsi Pada Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah”, Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK, Jakarta.

Leden Marpaung, 2012, Asas Teori Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.

Marwan Effendy, 2012, “Sistem Peradilan Pidana: Tinjauan Terhadap Beberapa Perkembangan Hukum Pidana”, Referensi, Jakarta, Moeljatno, 2009.Asas-asas Hukum Pidana, Rineke Cipta,Jakarta.

Teguh Prasetyo, 2010, “Hukum Pidana”, PT. Raja Grafindo, Jakarta.

W.J. S. Poerwadarminta, 1976, “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, Balai Pustaka, Jakarta.

Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I, Jakarta, Sinar Grafika, 2007.

Dokumen terkait