baik dan damai, tidak
bertentangan. Sedangkan
merukunkan berarti
mendamaikan, menjadikan
bersatu hati.
K
ata rukun berarti perkum- pulan yang berdasar tolong- menolong dan persahabatan, rukun tani artinya perkum- pulan kaum tani, rukun tetangga, arti- nya perkumpulan antara orang-orang yang bertetangga, rukun warga atau rukun kampung artinya perkumpu- lan antara kampung-kampung yang berdekatan (bertetangga, dalam suatu kelurahan atau desa). Dalam per- kembangannya kata rukun dalam bahasa Indonesia berarti, mengatasi perbedaan-perbedaan, bekerjasama, saling menerima, hati tenang, dan hidup harmonis.Kejadian sejarah tentang kerukunan sebagai keteladanan adalah terma- suk penghilangan tujuh kata (ejaan
pada saat itu) yang dihilangkan oleh para tokoh-tokoh pendiri bangsa ini. Tujuh kata itu terdapat dalam sila pertama, yaitu Ketuhanan, Dengan Menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya.
Ternyata, motivasi tujuh kata itu dihapus, praktis setelah proklamasi dikumandangkan, tanggal 18 Agustus 1945 setelah rapat dan dialog yang alot oleh kelima tokoh yakni, Wahid Hasyim, Ki Bagoes Hadikusuma, Kasman Singodimejo, Muhammad Hatta, dan Teokoe Mohammad Hasan akhirnya disetujui penghapusan tujuh kata itu, tapi dengan catatan Ketuhanan ditambahkan dengan Yang Maha Esa. Sementara itu ada sebagian orang yang mengatakan bahwa penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu sebagai pengkhianatan terhadap umat islam oleh tokoh-tokoh nasionalis yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.
Kalau kita mengedepankan ego dan ‘ingin menang sendiri’ mung- kin penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta yang telah disepakati tanggal 22 Juni 1945 itu adalah ben- tuk pengkhianatan Bung Karno dan Bung Hatta kepada umat Islam. Kalau
kita menengok sejarah, sebenarnya apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pendiri bangsa ini dengan kesedian- nya menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta itu adalah meniru bentuk dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw yang dalam berdakwah tidak terlalu kaku dalam memper- tahankan teks-teks dan formalitas lahiriah, selama tujuan pokok yang hendak dicapai terpenuhi.
Dalam perjanjian Hudaibiyah misalnya, Nabi Muhammad saw bersedia menghapus kata
Bismillahirrahmanirrahim dalam teks tertulis perjanjian itu. Karena ditolak oleh Suhail bin Amr dari pihak Makkah jika menggunakan kata terse- but. Meskipun para sahabat termasuk Ali bin Abi Th alib yang ditunjuk se- bagai sekretaris untuk menulis per- janjian keberatan dengan keputusan Nabi Muhammad saw, tapi Nabi saw tetap pada keputusannya menghapus kata itu, bahkan yang disepakati ditu- lis dalam teks perjanjian itu hanya Muhammad bin Abdullah yang sebel- umnya ditulis Muhammad Rasulullah yang juga ditolak oleh Suhail.
Tidak bijak rasanya kalau menuduh
Kerukunan
Kerukunan dan dan
Prestasi
orang-orang seperti Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh lain yang berjuang untuk kemerdekaan dan bersatunya bangsa yang dita- kdirkan oleh Tuhan sebagai bangsa plural dengan ‘pengkhianat’ gara- gara hanya menghapus tujuh kata itu. Lihatlah dengan kacamata bijak, agar kita tidak mudah menyalahkan, bahkan menuduh yang sebenarnya kita sendiri tidak mengetahuinya. Kiranya langkah yang ditempuh oleh mereka adalah langkah yang tepat dan bijak.
Masyarakat Timur
Masyarakat Timur yang terdapat di Indonesia secara realistis tidak mungkin melepaskan diri dari kondisi obyektif yang terbentuk dari berbagai budaya, tradisi, agama, maka secara prinsip melakukan kehidupan komunal yang mengikuti dasar ideologi negara. Dan mempunyai budaya rohani yang ber- sifat bersama, yakni terdapat dalam konsep agama mempunyai cita-cita baik dan bertoleransi.
Akan tetapi fenomena sekarang, kondisi masyarakat yang seolah-olah terjebak dalam ‘fundamentalisme’ dan ‘ekslusifi sme’ dari hasil cara mema- hami teks wahyu, sejarah, khasanah tulisan tokoh terdahulu serta cara praktek keagamaan ini menjadikan agama adalah ekstrim dan bahkan radikal. Hal tersebut, menjadikan bu- daya rohani yang berkembang sebagai kearifan lokal sebagai spirit agama dan urgennya kebudayaan daerah bersamaan praktek agama yang dianut semakin terkikis. Padahal nilai-nilai itu sangat signifi kan dalam memberikan kontribusi untuk sebuah masyarakat untuk menjaga keniscayaan untuk kerukunan.
Sehingga adanya radikalisme meru- pakan suatu paham yang keliru dan ekstrim di bidang pengamalan aja- ran agama, dan yang berkembang di Negara Indonesia saat ini perlu di kontrol dan diwaspadai karena dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya perselisihan diantara kom- ponen bangsa yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dan supaya bangsa ini tetap dalam kondisi masyarakat bisa hidup yang harmonis dan dapat menghindari
munculnya ketegangan sosial baik konfl ik intern & antar umat beragama hendaknya umat harus mampu menghindarkan dari kepentingan so- cial. Kemudian pemerintah secara terus menerus harus mampu melakukan pelayanan dalam upaya menghilangkan ketidakadilan ekonomi. Karena senti- men agama itu justru muncul akibat dari kesenjangan ekonomi sebagai dasar masalah dan termasuk tingkat pengetahuan konsep kerukunan umat masih rendah dan penegak hukum- nya kurang menyentuh rasa keadilan dalam hal-hal tertentu.
Kerukunan juga mengandung arti adanya kesadaran di dalam diri ma- nusia untuk saling menerima perbe- daan-perbedaan yang ada, dan saling menghargai masing-masing potensi yang ada dalam diri manusia. Tanpa mencela apalagi sampai menimbul- kan konfl ik yang berakibatkan pada ketidak-rukunan dalam kehidupan umat beragama.
Selain itu, kerukunan hidup umat beragama juga mengandung tiga un- sur penting:Pertama, kesediaan untuk menerima adanya perbedaan keya- kinan dengan orang atau kelompok lain. Kedua, kesediaan memberikan orang lain untuk mengamalkan ajaran yang diyakininya. Dan Ketiga, kemampuan untuk menerima perbedaan selanjutnya menikmati suasana kesahduan yang dirasakan orang lain sewaktu mereka mengamalkan ajaran agamanya
Evaluasi Kejadian
Melihat regulasi terkait untuk men- jaga kerukunan di dalam masyarakat, misalnya paska Tolikara di Papua ma- salah penyerangan kegiatan ibadah umat muslim adalah masalah prinsip yang memang bisa mengundang reaksi keras dan berbahaya sebab bagian muncul indikasi SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan). Kasus lain, dunia internasional beberapa kasus seperti penembakan Charlie Hebdo di Perancis, penembakan di Texas dan kasus di Lindt Cafe terkait den- gan agama, yaitu penghinaan Nabi Muhammad.
Di atas, jelas dalam konteks ke Indonesiaan secara kebetulan ba- gaimana mempertahankan keruku- nan dan kesadaran yang tinggi dan tanpa umat Islam lain yang merasakan
dendam untuk melakukan aksi keke- jaman atau membalas. Akan tetapi bagaimana komponen pemerintah melalui seluruh komponen terkait, bagaimana membuat masyarakat yang beragama dalam menerapkan nilai Pancasila dan berdemokrasi dapat memahaminya secara betul.
Maka pemerintah dan partai politik dapat memberikan konsep pendidi- kan dan pemahaman politik terh- adap perkembangan jaman, agar konfl ik-konfl ik pada tingkat bawah dapat teratasi secara baik. Ataupun menyusun format kembali tentang damai yang lebih strategis dan efektif dalam kehidupan beragama. Sebab realitas di Indonesia perkembangan untuk kelompok-kelompok agama semakin banyak.
Sehingga pada tahun 2015 sangat perlu dilakukan pemetaan bagi wilayah, daerah yang perlu perhatian secara khusus. Maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan; pertama, melakukan monitor supaya tidak mudah terpro- vikasi mereka diprovokasi. Kedua, ren- dahnya pendidikan di sebuah daerah akan sangat mudah memicu militansi radikal yang tidak peduli dan mau melakukan aksi kekerasan.
Ketiga, pemerintah melalui FKUB di seluruh Indonesia di bentuk struktur dari Pusat-Desa. Kelima, memanfaat- kan SDM (tokoh agama, masyarakat dan penyuluh atau lainnya) dalam memberikan penguatan tentang konsep dan nilai menjaga kerukunan.
Keenam, pemerintah, para pemimpin agama, dan masyarakat untuk meng- ingatkan para aktor politik di negeri kita untuk tidak memakai agama sebagai instrumen politik dan tidak lagi menebar teror untuk mengadu domba antar penganut agama. Jika hal tersebut di atas, bisa dikembang- kan untuk memenuhi harapan untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan pada gilirannya bisa hidup ber- dampingan lebih sebagai kawan dan mitra daripada sebagai lawan.
Maka Negara Indonesia mengenai kerukunan antar umat beragama dan intern umat beragama akan mampu menghilangkan rendahnya sikap tol- eransi, kepentingan politik dan sikap fanatisme. Bd orang Bung yang b dan b kdirka plural gara h itu. Li agar k bahka kita s Kirany merek dan b