• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KATA KETERANGAN BAHASA INDONESIA DAN

2.2. Kata Keterangan Bahasa Jepang

3.1.1. Kata Keterangan Bahasa Indonesia

Kata keterangan bahasa Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Kata keterangan yang menerangkan keseluruhan kalimat.

Kata keterangan yang termasuk kata keterangan ini berfungsi untuk menyatakan:

a. Kepastian, yaitu kata – kata memang, pasti dan tentu. Contoh:

1) Mereka itu memang anak – anak jalanan.

2) Ibu pasti akan selalu membantu anak – anaknya.

Kata keterangan memang berfungsi untuk menyatakan ‘kepastian dan pembenaran’ digunakan di depan kalimat atau dapat juga di bagian belakang kalimat yang menduduki fungsi subjek. Dan kata keterangan pasti berfungsi untuk menyatakan ‘kepastian’ lazimnya digunakan di depan predikat atau bisa juga pada awal kalimat. b. Keraguan atau kesangsian, yaitu kata – kata barangkali, mungkin,

Contoh:

1) Kakak mungkin melupakan surat di atas meja itu. 2) Ibu rupanya marah kepadaku.

Kata keterangan mungkin berfungsi untuk menyatakan ‘ketidakpastian’ lazim digunakan pada awal kalimat, dapat juga di tengah atau pada akhir kalimat. Dan kata keterangan rupanya berfungsi untuk menyatakan ‘keraguan’ lazim digunakan pada awal kalimat atau di depan predikat.

c. Harapan, yaitu kata – kata semoga, moga – moga, mudah – mudahan dan hendaknya.

Contoh:

1) Semoga kalian lulus dengan nilai yang bagus. 2) Ayah hendaknya tidak terlambat menjemput ibu.

Kata keterangan semoga dan hendaknya berfungsi untuk menyatakan ‘harapan’ lazim digunakan pada awal kalimat, di depan predikat atau pada posisi akhir kalimat.

d. Frekuensi, yaitu kata – kata seringkali, sekali – kali, sesekali, acapkali dan jarang.

Contoh:

1) Seringkali kota Medan mengalami kemacetan.

2) Kami sesekali mengunjungi tempat – tempat bersejarah.

Kata keterangan seringkali berfungsi untuk menyatakan ‘suatu peristiwa telah berulang – ulang terjadi’ lazim digunakan pada awal kalimat. Dan kata keterangan sesekali berfungsi untuk

menyatakan ‘jarang terjadi’ lazim digunakan pada awal kalimat atau di depan predikat.

2. Kata Keterangan yang menerangkan Unsur Kalimat

Kata – kata yang termasuk kata keterangan ini berfungsi untuk menyatakan:

a. Waktu, yaitu kata – kata sudah, telah, sedang, lagi, tengah, akan, belum, masih, baru, pernah dan sempat.

Contoh:

1) Murid – murid sedang mempraktekkan pelajaran wirausaha. 2) Dia belum tahu kabar dari ayahnya.

Kata keterangan sedang berfungsi untuk menyatakan bahwa ‘suatu pekerjaan atau peristiwa sedang berlangsung’ digunakan di depan kata kerja. Dan kata keterangan belum berfungsi untuk menyatakan:

ƒ ‘suatu peristiwa belum terjadi’ digunakan di depan kata kerja. ƒ ‘suatu keadaan belum terjadi’ digunakan di depan kata sifat. 3) Pohon itu belum besar.

b. Sikap batin, yaitu kata – kata ingin, mau, hendak, suka dan segan. Contoh:

1) Saya ingin pergi ke Jepang.

2) Ibu hendak menanam bunga mawar itu.

Kata keterangan ingin berfungsi untuk menyatakan ‘kehendak batin’ digunakan di depan kata kerja dan kata keterangan hendak berfungsi untuk menyatakan ‘keinginan batin’ digunakan di depan kata kerja.

c. Perkenan, yaitu kata – kata boleh, wajib, mesti, harus, jangan dan dilarang.

Contoh:

1) Saya harus menyerahkan laporan ini sebelum lusa. 2) Jangan letakkan benda tajam itu di situ.

Kata keterangan harus berfungsi untuk menyatakan ‘keharusan’ digunakan di depan kata kerja dan kata keterangan jangan berfungsi untuk menyatakan ‘larangan’ digunakan di depan kata kerja.

d. Frekuensi, yaitu kata – kata jarang, sering, sekali, dua kali. Contoh:

1) Kakak jarang membersihkan motornya. 2) Pak Nandi sering memberikan tugas.

Kata keterangan jarang berfungsi untuk menyatakan ‘suatu pekerjaan atau peristiwa tidak sering terjadi’ digunakan di depan kata kerja dan kata keterangan sering berfungsi untuk menyatakan ‘suatu pekerjaan atau perbuatan acapkali terjadi’ digunakan di depan kata kerja.

e. Kualitas, yaitu kata – kata sangat, amat, sekali, lebih, paling, kurang, cukup.

Contoh:

1) Nilai ujian adik sangat bagus. 2) Kakek sangat merindukan nenek.

Kata keterangan sangat berfungsi untuk menyatakan:

ƒ ‘suatu keadaan tidak ada yang melebihi tarafnya atau derajatnya’ digunakan di depan kata sifat, tetapi juga dapat digunakan di depan

kata kerja berimbuhan yang kata dasarnya adalah kata sifat, seperti pada contoh 2).

3) Saya paling suka semur ayam kampung. 4) Berita itu paling mengecewakan bagi ayah. Kata keterangan paling digunakan dengan aturan:

ƒ Untuk menyatakan ‘keadaan yang tertinggi derajatnya bila dibandingkan dengan yang lainnya’ digunakan di depan kata sifat. ƒ Untuk menyatakan ‘pekerjaan yang tertinggi derajat penilaiannya’

digunakan di depan kata kerja berimbuhan yang kata dasarnya adalah kata sifat.

f. Kuantitas, yaitu kata – kata banyak, sedikit, kurang, cukup, semua, beberapa, seluruh, sejumlah, sebagian, separuh, kira – kira, sekitar, kurang lebih, para dan kaum.

Contoh:

1) Kakek banyak bercerita tentang peperangan. 2) Ada beberapa buku yang hilang.

Kata keterangan banyak berfungsi untuk menyatakan ‘suatu perbuatan memadai pelaksanaanya’ digunakan di depan kata kerja dan kata keterangan beberapa berfungsi untuk menyatakan ‘kelompok atau kumpulan yang jumlahnya tidak banyak’ digunakan di depan kata benda terhitung.

g. Penyangkalan, yaitu kata – kata tidak, tak, tiada dan bukan. Contoh:

2) Kampus saya tidak jauh dari sini.

Kata keterangan tidak berfungsi untuk menyatakan ‘ingkar’ digunakan di depan kata kerja dan kata sifat.

h. Pembatasan, yaitu kata – kata hanya dan Cuma Contoh:

1) Hanya Ibu yang bisa mengerti masalah ini. 2) Cuma memasak yang menjadi keahlian kakak.

Kata keterangan hanya dan cuma berfungsi untuk menyatakan ‘pembatasan terhadap kata yang diikuti’ digunakan di depan kata benda atau kata kerja.

3.1.2 Kata Keterangan Bahasa Jepang

Kata keterangan Bahasa Jepang dibagi tiga, yaitu: 1. Jotai no Fukushi

Kata keterangan yang termasuk jotai no fukushi ini antara lain: a. Jotai no fukushi yang menunjukkan keadaan

Contoh:

1) 話 い

Yukkuri hanashite kudasai. (Minna no Nihongo I) Tolong bicara pelan - pelan.

2) 聞 え 大 い声 話 い

Hakkiri kikoemasenkara, ookii koe de hanashite kudasai. (Minna no Nihongo II)

Karena tidak dapat mendengar, tolong bicara dengan suara yang keras.

b. Jotai no fukushi yang menunjukkan waktu Contoh:

1) 眠い 車 止 寝

Nemui toki, kuruma wo tomete, shibaraku nemasu. (Minna no Nihongo II)

Kalau mengantuk, saya menghentikan mobil dan tidur sebentar.

2)

Shibaraku machimashita. (Skripsi Ade Iriani) Sudah lama menunggu.

2. Teido no Fukushi

a. Menerangkan adjektiva – i Contoh:

1) 今年 い 寒い

Kotoshi wa taihen samui desu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Tahun ini sangat dingin.

2) 井戸 い 深い

Kono ido wa zuibun fukai desu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Sumur itu cukup dalam. b. Menerangkan adjektiva – na

Contoh:

1) あ 人 親

Ano hito wa mattaku shinsetsu desu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Orang itu benar – benar ramah.

2) 字引 便利

Sono jibiki wa kanari benri desu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Kamus itu cukup praktis. c. Menerangkan verba

Contoh:

1) あ 子 英語

Ano ko wa ei go ga kanari dekimasu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Anak perempuan itu lumayan bisa bahasa Inggris.

2) 行 交番 あ

Sukoshi iku to kouban ga arimasu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

3. Jujutsu no Fukushi/ Chinjutsu no Fukushi

a. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan negatif (uchikeshi)

Contoh:

1) 失敗

Kesshite shippai shimasen. (Gramatika Bahasa Jepang Modern) Sama sekali tidak gagal.

2) う い勝

Toutei kattemasen.(Gramatika Bahasa Jepang Modern) Sama sekali tidak menang.

b. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan harapan, keinginan atau perintah (ganmou/kibou)

Contoh:

1) ひ僕 教え い

Zehi boku ni oshiete kudasai. (Gramatika Bahasa Jepang Modern) Benar – benar tolong ajari saya.

2) う い

Douka osuwari kudasai.(Gramatika Bahasa Jepang Modern) Silahkan duduk.

c. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan larangan (kinshi)

1) う 言い

Danjite uso wa iimasen.(Gramatika Bahasa Jepang Modern) Pasti yang dikatakannya itu bohong.

2)

Korekara kesshite namakemasen. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Mulai sekarang sekalipun tidak malas.

d. Chijutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan perkiraan atau sangkaan (suiryo)

Contoh:

1) 彼 来 い う

Kare wa tabun konai deshou. (Gramatika Bahasa Jepang Modern) Dia mungkin tidak datang.

2) 君 行 い う

Masaka kimi wa ikanai darou.(Gramatika Bahasa Jepang Modern) Masa iya saya tidak datang.

e. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan perumpamaan (tatoe)

Contoh:

1) う う

Choudo daruma san no youdesu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Persis seperti nona Darma.

2) う

Marude yume no youdesu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern) Seolah – olah seperti mimpi.

f. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan perkiraan negatif (uchi keshi suiryo)

Contoh:

1) 僕 思う い

Masaka boku ga shita to wa omou mai desu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Saya pikir lebih baik jangan saya yang melakukan.

2) 死 い う

Yomoya shini hashinai deshou. (Skripsi Ade Iriani) Tidak mungkin ada orang yang tidak mati.

g. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan keputusan, kesimpulan atau kepastian (dantei)

Contoh:

1) 彼 来

Kare wa kanarazu kimasu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern) Dia pasti datang.

2) 僕 行

Pasti saya pergi.

h. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan pertanyaan (gimon)

Contoh:

1) う う 学校 休

Kinou wa doushite gakkou wo yasumimashita ka? (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Kenapa kemarin sekolah libur?

2) 掛 い う

Naze konna ni kakenai no darou desuka. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Kenapa tidak digantung seperti ini?

i. Chinjutsu no fukushi yang berpasangan dengan pernyataan pengandaian (katei)

Contoh:

1) 雨 降

Moshi ame ga futtara yamemasu. (Gramatika Bahasa Jepang Modern)

Seandainya hujan berhenti.

2) 休 う 連絡

Moshi yasumu you nara renrakushimasu. (Skripsi Ade Iriani) Kalau ada waktu luang saya akan hubungi.

Dokumen terkait