P4O-03 LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN DINAMIKA SEDIMENTASI FORMASI MUARAENIM BERDASARKAN LITOFASIES DAN SUMUR
DAERAH SEKAYU, SUMATERA SELATAN Surjono, S.S.1 dan Geger, A.1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, 1
E-mail: [email protected] ; [email protected]
Abstrak
Formasi Muaraenim di daerah Sekayu, Propinsi Sumatera Selatan merupakan bagian dari pengisi Depresi Palembang Tengah, Subcekungan Palembang Selatan, Cekungan Sumatera Selatan. Di daerah ini, Formasi Muaraenim tersingkap di permukaan sebagai bagian Antiklinorium Sepintun. Analisis litofasies dan parasekuen dari lima jalur pengukuran stratigrafi dan enam sumur dari Formasi Muaraenim menunjukkan bahwa Formasi Muaraenim di daerah ini diendapkan pada suatu zona transisi dengan pola suksesi batuan sedimen retrogradasi hingga progradasi dengan lingkungan pengendapan delta. Data paleontologi mengindikasikan batuan sedimen ini diendapkan selama Miosen Akhir. Suksesi batuan sedimen umumnya didominasi oleh batupasir berselingan dengan serpih, ang terkadang dijumpai sisipan batubara. Beberapa struktur sedimen dengan struktur trough cross bedding , amalgamasi batupasir, yang berselingan dengan laminasi serpih dan batulumpur yang tebal serta kehadiran beberapa layer gambut sampai batubara mengindikasikan lingkungan pengendapan di upper sampai lower delta plain. Singkapan ini secara vertikal dijumpai berulang-ulang, baik dari data permukaan maupun data sumur yang mengindikasikan bahwa dinamika sedimentasi ang terjadi selama kurun waktu itu adalah pada upper delta plain sampai lower delta plain dengan beberapa layer menunjukkan endapan di daerah estuarin.
P4O-04 UMUR FORMASI KEBO BUTAK BERDASARKAN NANOFOSIL
GAMPINGAN DAERAH BAYAT, KABUPATEN KLATEN, PROVINSI JAWA TENGAH
Akmaluddin1, Saputra, R. N.1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM 1
E-mail : [email protected]
Abstrak
Banyaknya perbedaan pendapat mengenai umur pengendapan Formasi Kebo Butak di daerah Bayat membuat daerah ini menarik untuk diteliti. Formasi Kebo Butak telah diketahui berumur Oligosen akhir – Miosen awal dengan menggunakan fosil foraminifera, namun penelitian terbaru melaporkan Formasi Kebo Butak sudah diendapkan sejak Eosen Tengah (zona P11). Penilitian ini bertujuan untuk mengevaluasi umur pengendapan Formasi Kebo Butak dengan menggunakan nanofosil gampingan dengan mengambil sampel pada lokasi yang sama dengan peneliti terdahulu yang menggunakan foraminifera. Penelitian mengambil lokasi pada jalur Tegalrejo-Cermo (Baturagung) dan Kalinampu-Trembono. Hasil pengamatan nanofosil gampingan pada jalur Tegalrejo memperlihatkan kelimpahan spesies Cyclicargolithus floridanus, Sphenolithus ciperoensis dan Dictyococcites bisecta ang masuk ke dalam zona NN1 (Miosen awal). Jalur Cermo yang merupakan kemenerusan jalur Tegelrejo memperlihatkan kehadiran Discoaster druggii yang merupakan penciri untuk zona NN2. Jalur Kalinampu-Trembono yang dianggap berumur Eosen Tengah oleh peneliti terdahulu menghasilkan umur Oligosen akhir atau pada zona NP24-NP25 yang dicirikan dengan kehadiran Cyclicoccolitus abisecta, Sphenolithus ciperoensis dan Helicosphaera recta. Hasil pengamatan nanofosil di daerah penelitian menunjukkan pengendapan Formasi Kebo Butak diendapkan pada Oligosen akhir – Miosen awal atau pada zona NP24 – NN2. Hal ini memperlihatkan bahwa awal pengendapan Formasi Kebo Butak tidak
P4O-05 GEOLOGI DAN ALTERASI HIDROTERMAL DI GUNUNG BATUR,
WEDIOMBO, KABUPATEN GUNUNG KIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Idrus, A. , Setiadji, L. D. , Warmada, I. W. , Mustakim, W.
Jurusan Teknik Geologi – Universitas Gadjah Mada E-mail: [email protected]
Abstrak
Daerah penelitian berada di Gunung Batur dan sekitarnya, Wediombo, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi DI Yogyakarta yang terletak ±70 km sebelah tenggara Kota Yogyakarta atau ±30 km ke arah selatan kota Wonosari. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi geologi, karakteristik mineralogi alterasi dan geokimia, mineralisasi bijih dan fasies gunungapi dalam kaitannya dengan sistem hidrotermal daerah penelitian. Metoda penelitian yang dilakukan berupa pemetaan geologi dan zonasi alterasi hidrotermal serta analisis sampel berupa petrografi, mikroskopi bijih, XRD, XRF dan AAS. Litologi daerah penelitian tersusun oleh satuan seperti satuan intrusi diorit, lava andesit dari Formasi Wuni dan batugamping dari Formasi Wonosari. Alterasi yang dijumpai adalah silisifikasi, argilik lanjut, argilik dan propilitik. Mineral penciri alterasi argilik lanjut
ang diidentifikasi yaitu dikit, alunit, dan jarosit. Mineralisasi logam dicirikan dengan kehadiran enargit, kalkopirit, emas, pirit dan hematit, dengan tekstur bijih berupa massive silica dan vuggy silica. Geokimia bijih dari 3 sampel batuan
menunjukan kadar emas dan tembaga relatif rendah yaitu dari 0,008-0,41 g/t Au, 14-78 g/t Cu, serta Ag (perak) kurang dari detection limit (<0,001 g/t). Berdasarkan pendekatan morfologi dan asosiasi batuan gunungapi, Gunung Batur merupakan fasies sentral dan daerah sekitarnya merupakan fasies proksimal dari sistem gunungapi. Mengacu pada karakteristik mineralogi, tekstur bijih, geokimia bijih dan kaitannya dengan fasies gunungapi, maka mineralisasi di Gunung Batur (Wediombo) diinterpretasikan sebagai sistem epitermal sulfidasi tinggi ( HS epithermal system).
P4O-06 KOMPOSISI MINERAL BERAT DALAM ENDAPAN PASIR KUARSA DI
KALIMANTAN BARAT BERDASARKAN STUDI KASUS DI DAERAH SINGKAWANG DAN SEKITARNYA
Setijadji, L. D. 1 , , Warmada, I. W. 1, Nabawi, N. R. 2
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada 2
P.T. Timah Tbk., Pangkalpinang, Bangka-Belitung Email: [email protected]
Abstrak
Endapan letakan pasir kuarsa berumur Kuarter di daerah Kalimantan Barat diketahui memiliki potensi sumberdaya logam ekonomis, seperti emas dan zirkon. Beberapa peneliti terdahulu juga mengindikasikan kehadiran logam lainnya seperti timah. Untuk itulah perlu dilakukan kajian tentang potensi tersebut, dan pada kesempatan ini studi diawali di sekitar kota Singkawang. Selain untuk menginterpretasi hubungan antara komposisi mineral berat dengan tatanan geologi daerah penelitian, hasil ini juga diharapkan dapat menunjukkan potensi logam ekonomis di dalamnya. Sampel endapan pasir kuarsa diambil dari enam lokasi di sekitar kota Singkawang ang mewakili lokasi yang berbeda-beda di sekitar tubuh batolith Singkawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sekitar batholit Singkawang dijumpai kandungan zirkon yang cukup tinggi khususnya di daerah Mempawah, Monterado, dan Tayan yang diduga berasal dari hasil erosi terhadap batholit Singkawang. Sedangkan mineral berat lainnya dijumpai berupa rutil, topas, magnetit, hornblende, aegirin, epidot, staurolit, hematit, pirit, molibdenit dan kalkopirit. Beberapa mineral berat lainnya yang dikenal membawa logam ekonomis seperti kasiterit (Sn), monasit (Th, REE) dan alanit (REE) dijumpai di beberapa tempat seperti pantai Pasir Panjang, Sambas, dan Bengkayang. Satu sampel di selatan kota Singkawang ternyata tidak dijumpai kandungan mineral berat sama sekali, ang diduga karena terbentuk sebagai endapan aeolian. Hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan kandungan mineral berat antar lokasi penelitian dipengaruhi oleh batuan sumber, proses transportasi, dan lingkungan pengendapan. Khususnya tentang kehadiran kasiterit dan monasit, ini menunjukkan adanya potensi endapan logam timah, Th dan REE yang diduga berasal dari granit tipe-S
ang belum diketahui dengan pasti umur dan lokasi keberadaannya.
Kata kunci: mineral berat, endapan letakan (placer), pasir kuarsa, Kalimantan Barat.
P4P-01 KOMPLEKS SESAR TREMBONO SEBAGAI GRAVI TATI ONAL
STRUCTURE
Husein, S.1dan Mulyawan, R.S.2
1Dosen Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada,
2
Mahasiswa Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada 1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Di Sungai Trembono, Kecamatan Bayat, Jawa Tengah, dijumpai jejak struktur besar ang selama ini ditafsirkan sebagai Sesar Trembono yang berarah timurlaut- baratdaya, dengan kinematika pergeseran sinistral. Sesar Trembono merupakan salah satu sesar utama di Pegunungan Selatan, yang memotong berbagai formasi batuan vulkaniklastik berumur Oligo-Miosen Formasi Kebo-Butak dan Formasi
Semilir, dan diduga sebagai struktur tua di Pegunungan Selatan. Hasil kunjungan lapangan mengindikasikan bahwa Sesar Trembono bukanlah hasil deformasi tektonik saja, namun juga terpengaruh proses pembebanan material sedimentasi volkanik.
M4O-01 BIOSTRATIGRAPHY STUDYOFNYALINDUNG AREA, SUKABUMI,
SOUTHWESTREGION OF JAVA
Gandapradana, M.T.1, Pernando, M.I. danNasution, K.M.F.1
1Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Padjajaran,
1
E-mail: [email protected]
Abstract
Nyalindung Area is located in Sukabumi, West Java Province. This area is part of Bogor Basin which is formed since Paleocene. Physiographically, the area is located in Bayah Mountain (Van Bemmelen, 1949). The main structural trend is northwest-southeast. The lithology consist of Miocene sedimentary rocks and quarter volcanic. This research purposes is to determine the relative age and the depositional environment of the Nyalindung sandstone unit by using fossil data. The method of this research is by detail mapping in Nyalindung area. Mapping done in 25 km2 . Several samples collected from the mapping to be analysed in the laboratory. The result of this research is 4 planktonic foraminifera samples to be analysed by its fossil. And the fossil is Globigerina nephentes, Globigerine insueta, Globigerina selli, and Globigerina primordius. The relative age from this 4 samples is in Early Miocene (N5-N6) and the depositional environment is in deep marine environment.
Keywords: Nyalindung, Bogor Basin, fossil analysis, sandstone, planktonic foraminifera, Early Miocene
M4O-02 ANALISIS TAFONOMI MOLUSKA PADA FORMASI DAMAR DI KALI
SIWUNGU, TEMBALANG, SEMARANG Kurniasih, A.1dan Adha, I.1
1Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,
1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Analisis tafonomi dalam geologi dapat diaplikasikan untuk menginterpretasi perubahan relatif muka air laut. Dalam penelitian ini dilakukan analisis tafonomi moluska pada Formasi Damar yang bertujuan untuk mengetahui perubahan relatif muka air laut dalam kaitannya dengan sekuen stratigrafi. Lokasi penelitian berada di Kali Siwungu Desa Jurangbelimbing Kecamatan Tembalang Semarang yang secara geologi termasuk dalam Formasi Kaligetas dan Formasi Damar.Objek penelitian adalah singkapan batuan Formasi Damar dengan kandungan fosil moluska di Kali Siwungu Desa Jurangbelimbing, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah hasil pengamatan dan pengukuran singkapan batuan di lapangan. Data tersebut dianalisis untuk interpretasi proses perubahan relatif muka air laut dalam konteks ystem tract berdasarkan litologi dan tafonomi moluska dalam batuan.Berdasarkan ciri – ciri tafonomi moluska dapat diinterpretasi singkapan batuan yang diteliti diendapkan pada fase kenaikan muka laut, yaitu pada bagian bawah yang ditandai oleh tafonomi moluska dengan tingkat fragmentasi dan abrasi yang sangat tinggi, disartikulasi, serta ditemukan fosil jejak berupa conichnus dan konkresi yang merupakan awal fase transgressive system tract ( Early TST). Di bagian atas ditandai oleh tafonomi moluska dengan tingkat fragmentasi dan abrasi ang lebih rendah dan tidak ditemukan fosil jejak maupun konkresi yang merupakan akhir dari fase transgressive system tract ( Late TST).
M4O-03 ANALISIS PROSES PENGENDAPAN DAN LINGKUNGAN
PENGENDAPAN SERPIH FORMASI NANGGULAN, KULON PROGO, YOGYAKARTA BERDASARKAN DATA BATUAN INTI
Al Ansori, A.Z.1 dan Amijaya, H.1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, 1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Indonesia is one of country that has big potential of shale gas. Most of the source rock in the western Indonesia as a potential target of shale gas exploration is synrift sediments Eocene to Oligocene shale. Nanggulan Formation which exposed in Kulon Progo, Yogyakarta is one of the Eocene shale interval. However, the data about it is still limited. Further studies on the Nanggulan Formation in Kulon Progo is necessary to know the characteristics of the Eocene shale more detail. Research uses lithofacies and lithofacies association analysis from core data. Succession of lithofacies Nanggulan shale, Kulon Progo, Yogyakarta based on core data consist of 1. Laminated sandstone facies, 2. Massive sandstone facies, 3. Flaser-Wavy sandstone facies, 4. Massive claystone facies, 5. Massive mudstone facies, 6. Molusca rich mudstone facies, 7. Floatstone facies, 8. Crystalline carbonate facies, 9. Coal facies, 10. Claystone and sandstone interbedded facies, 11. Lenticular mudstone facies. Depositional environment of Nanggulan Formation starts from fluvial, tidal dominant estuarine to shallow marine. In general, depositional environment is deepening. Deposition process in the fluvial and estuarine influenced by river flow and tidal currents. Deposition process in a shallow marine is hypopycnal flow and hyperpycnal flow.
Kata kunci: Shale gas, Nanggulan Formation, lithofacies, depositional environment and depositional process
M4O-04 HUBUNGAN ANTARA EVOLUSI POROSITAS DENGAN
KARAKTERISTIK DIAGENESIS BATUAN KARBONAT FORMASI WONOSARI DI KECAMATAN PONJONG, KABUPATEN GUNUNG
KIDUL, PROVINSI DIY Asy’ari, M.R.1dan Winardi, S.1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, 1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Proses diagenesis merupakan proses yang umum terjadi pada batuan, salah satunya pada batuan karbonat. Proses ini akan menyebabkan perubahan pada batuan mulai
dari komposisi material penyusun, geometri semen, hingga porositas batuan. Batuan dapat mengalami peningkatan dan penurunan nilai porositas, tergantung pada proses diagenesis yang bekerja. Proses diagenesis akan bervariasi sesuai dengan faktor pengontrolnya terutama adalah lingkungan. Proses yang bervariasi tersebut nantinya
akan menghasilkan produk diagenesa yang bervariasi pula, sehingga pada proses diagenesis tertentu akan menghasilkan tipe pori dan karakteristik diagensis tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh model tipe diagenesis dan evolusi porositas secara vertikal pada batuan karbonat dengan studi kasus pada Formasi Wonosari yang mewakili bagian bawah Formasi berdasarkan hasil identifikasi produk diagenesis dan tipe pori batuan karbonat dalam satu jalur pengamatan di sekitar Kecamatan Ponjong. Metode yang digunakan antra lain berupa pengukuran statigrafi di lapangan untuk mengetahui litologi penyusun, produk diagenesis dan tipe pori megaskopis, analisa petrografi untuk
mengidentifikasi produk diagenesis secara mikroskopis(tipe semen, morfologi semen, dan mineralogi) serta tipe pori (primer dan sekunder) dan uji porositas untuk mengetahui nilai porositas secara kuantitatif dari sampel batuan karbonat. Secara umum Formasi Wonosari bagian bawah umumnya sudah mengalami proses diagenesis yang cukup intensif. Dijumpai produk-produk diagenesis berupa kars dan caliche. Tipe pori yang umum dijumpai berupa tipe pori vug dan tipe pori interpartikel. Pori vug yang intensif banyak dijumpai pada batuan yang mengalami proses karstifikasi. Pori interpartikel yang baik dijumpai pada batuan karbonat ubahan, yaitu chalky limestone. Kedua tipe pori yang umum dijumpai memiliki nilai porositas yang cukup baik.
M4O-05 INVENTARISASI KAWASAN BENTANG ALAM KARST DAN
PENYELIDIKAN POTENSI PANAS BUMI DAERAH WAWOLESEA, KECAMATAN LASOLO, KABUPATEN KONAWE UTARA, SULAWESI
TENGGARA
Dwiyono, I.1dan Srijono1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, 1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Karst Wawolesea merupakan suatu bentang alam yang dicirikan adanya lorong-lorong yang terisi oleh air panas dan air asin. Pada beberapa tempat bahkan sudah terdapat jembatan alam (natural bridge). Tipe karst ini terutama dicirikan oleh kontrol hidrologi air panas yang dominan sehingga terjadi proses pengendapan ulang larutan kalsit hingga membentuk suatu undak travertin yang beraneka ragam serta jarang dijumpai di tempat lain. Sifat asin pada air yang dijumpai pada daerah ini dipengaruhi oleh air laut yang pada saat pasang dapat masuk ke dalam sistem air
ang berada di darat.Dari kawasan batuan karbonat yang berada pada daerah tersebut memancar air panas dan bersifat asin yang berasal dari lorong-lorong sungai bawah tanah. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian untuk mengetahui sebaran bentang alam karst yang ada pada daerah penelitian, selain itu perlu juga diadakan penelitian tentang fenomena sumber mata air panas yang muncul di daerah penelitian. Adapun metode yang digunakan berupa survei lapangan meliputi identifikasi kawasan bentang alam karst serta mendata persebaran mata air panas
ang ada.Secara topografi, Kawasan Wawolesea ini berada pada ketinggian 1-400 meter di atas permukaan laut. Adapun lokasi sumber air panas berada pada ketinggian 1-20 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan peta geologi regional lokasi mata air panas terletak pada endapan permukaan aluvium dan terumbu koral kuarter. Kawasan bentang alam karst yang terbentuk didominasi oleh undak-undak travertin dimana hal ini sangat berhubungan erat dengan adanya fenomena mata air panas pada daerah penelitian. Adapun munculnya fenomena mata air panas pada
daerah penelitian dapat diakibatkan oleh kontrol struktur geologi berupa Sesar.
M4O-06 ROCKSQUARE: A NDROID APP. RECORDI NG DATA LAPANGAN
Ratna, S.A.1, Ariani, N.P.1, Rabbani, B.2dan Husein, S.1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada,
2Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada,
1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Rocksquare merupakan piranti lunak berupa aplikasi android yang dibuat untuk recording data lapangan dengan praktis via tablet sistem android.Menimbang populernya Android sebagai OS No.1 dunia dan meluasnya penggunaan tablet di semua kalangan, maka tercetuslah ide untuk membuat suatu aplikasi dengan fungsi untuk menggantikan buku catatan lapangan konvesional dengan keunggulan praktis dan inovatif. Aplikasi ini dikembangkan bersama mitra dalam kegiatan PKM-T 2013. Pembuatan aplikasi ini menggunakan oftware development bernama Eclipse versi Indigo dan Juno pada Windows. Aplikasi ini terdiri dari beberapa bahasa pemrograman dalam pembuatannya diantaranya adalah xml, java, php, dll. Xml digunakan untuk membangun interface dari aplikasi ini. Java digunakan untuk bahasa algoritma dalam aplikasi ini atau dapat dikatakan sebagai otak atau penggerak dari aplikasi ini yang membuat semua komponen dalam aplikasi bersinergi satu dengan yang lainnya. Sedangkan, php biasa digunakan untuk media penyimpanan atau database di dalam aplikasi itu sendiri.Rocksquare telah selesai dibuat untuk versi pertama dan memiliki beberapa fitur yang menarik yaitu : note, informasi cuaca, keterangan pengambilan data, keterangan lokasi, kompas digital, GPS, kamera,voice note.Aplikasi ini telah uji coba lapangan dengan lokasi di Mengger, Kecamatan Mntiangan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Harapan kami aplikasi ini mendapat respon positif di kalangan pekerja lapangan khususnya
eologist untuk selanjutkan dapat membuat aplikasi versi berbayar.
M4O-07 LINEAMENT DENSITY ANALYSIS TO PREDICT FAULT: A COAL MINE
CASE
Prabowo, K.1, Irawan, D.E.1dan Santosa, B.2
1Department of Geology, Institut Teknologi Bandung,
2
Department of Geology, PT. Kaltim Prima Coal, Sangatta, East Borneo, Indonesia, 1
E-mail: [email protected]
Abstract
Pelikan and Kanguru Pits are two of the coal mining sites owned by PT. KPC in
Sangatta, East Borneo. Those two were pits with multiple seam that consisted over one hundred layers of coal seam and has the highest coal production per December 2013. Over the last few years the mining activities has been disturbed from time to time by “washed-out coal seams”. Those missing coal seams have reduced the reserves and can lead to geotechnical disaster due to the resulting undercut. Thus previous geological model based on borehole data correlation was proven to be faulty. In early 2014, a buffer analysis was conducted based on geomorphological lineaments, geological structure map and actual seam floor geometry showed the coal seams were cut by faults within the area rather than ancient fluvial channel. A lineament density map was created with simple stochastic method that average and grid lineaments within the research area. The method was devised to predict the presence of faults based on the regional stress and lineament trend that match the detailed geological structure map. Further study with flooding simulation showed that the drilling pattern for the area itself was sparse because of huge swamp within the valley that may have been produced by a fault zone. This method could improvise the drilling pattern on exploration stage and reduce the risk of faulty correlation caused by faults on development stage.
Kata kunci: Lineament density, coal seam discontinuity, faults, lineament, stochastic method
M4O-08 EKSISTENSI KARS DAN C AL I CH E FORMASI WONOSARI TERHADAP
MORFOLOGI DAERAH SEMANU, GUNUNG KIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Dahyar, M.1, Wibowo, A.1, Prayogi A.1, Erlisa, P.1, Said, S.1dan Premonowati1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UPN “Veteran”, 1
E-mail: [email protected]
Abstrak
Batugamping Formasi Wonosari tersingkap dengan baik pada daerah Ngeposari dan sekitarnya, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan batugamping yang sangat dikontrol oleh tingkat diagenesa berupa pelarutan yang berperan dalam pembentukan morfologi pada derah tersebut. Tingkat diagenesa pada batugamping membentuk perbedaan morfologi pada daerah telitian dan menimbulkan suatu pertanyaan yang harus dipecahkan. Pemetaan geologi terperinci pada fasies karbonat pun dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut. Perbedaan morfologi tersebut dipengaruhi oleh sifat dari batuan penyusunnya yaitu berupa karst dan caliche. Perbedaan morfologi perbukitan caliche teramati pada beberapa tempat dimana pada bagian utara membentuk morfologi kubah (kemiringan berkisar 20-30o) dan pada bagian selatan merupakan perbukitan karst yang membentuk morfologi kerucut (kemiringan berkisar 30-40o). Stratigrafi daerah telitian dibagi menjadi 2, yaitu satuan batugamping terumbu dengan dominasi fasies massivered algae boundstone ang tersebar pada bagian selatan dan satuan batugamping berlapis dengan dominasi fasies large foraminifera wackestone tersebar pada bagian