• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

5. Kategori mutu panenan

Katagori mutu (kwalitas) panenanditentukan oleh SPF (Spesipic Pathogen Free) yaitu suatu spesipic bebas pathogen tertentu. Kriteria yang dimaksudkan sebagaimana tercantum pada Tabel 3.

Tabel 2. Mutu panenan monyet ekor panjang (M. fascicularis Raffles)

Mutu 10% m 1 x Ruang Individu 2+ ∑

1 19 9 Mutu No. SPF A B C D 1. TB V V V V 2. SRV V V V V 3. SIV V V V _ 4 STLV V V _ _ 5. SHV-1 V _ _ _ Keterangan: a. TB : Tubercolusis b. SRV : Semian Vetrovirus

c. SIV : Semian Iinmuno deficiennay Virus d. STLV : Semian T- Lymphatropic Virus e. SHV-1: Secropithecine Herpes Virus Type-1

Mutu panenan dari monyet ekor panjang (M. fascicularis Raffles) mulai dari A,B,C dan D. Atau minimal bebas virus TB. (TB negatif sebagai syarat mutlak).

Mutu ditentukan oleh pasar, sedangkan jumlahnya hasil (kuwantitas) ditentukan dari tempat penangkaran.

Dari hasil pengumpulan data di lapangan baik berupa data primer maupun data sekunder diperoleh beberapa informasi penting tentang mekanisme untuk setiap sistem penangkaran, perkiraan biaya dan pendapatan serta perhitungan finansial (ekonomi) dari sistem usaha penangkaran sebagaimana akan diuraikan berikut ini

Mekanisme Penangkaran Monyet Ekor Panjang

Usaha penangkaran adalah kegiatan yang berhubungan dengan penangkaran sat- waliar yang meliputi kegiatan penangkaran, pengolahan sampai pemasaran hasil penangkarannya. (Dirjen PHPA, 1988).

Salah satu sarana penangkaran yang utama adalah kandang. Menurut Sajuthi (1983), sistem pengandangan satwa primata dapat dibagi 2 bagian yaitu:

1. Sistem pengandangan tertutup (indoor enclosures) 2. Sistem pengandangan terbuka (outdoor enclosures)

Sedangkan menurut Priyono (1998), sistem penangkaran dapat di bedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:

1. Sistem penangkaran terbuka. 2. Sistem penangkaran semi terbuka.B 3. Sistem penangkaran tertutup.

. Sistem penangkaran terbuka yaitu penangkaran di alam bebas, aktivitas satwa tidak ada campur tangan dari manusia (seminimal mungkin campur tangan manusia), memerlukan lahan yang luas (± 2500 ha), yang mempunyai habitat sesuai dengan satwa yang ditangkarkan, biaya investasi tidak begitu tinggi, dan untuk biaya operasional rendah tidak seperti pada penangkaran tertutup dan semi terbuka. Kendalanya adalah waktu aktivitas harian satwa sulit dikontrol serta pemanenan/penangkapan sulit untuk dilakukan (memerlukan ketrampilan khusus). Selain itu pada penangkaran terbuka atau di alam bebas memerlukan aktivitas yang tinggi untuk mengontrol adanya gangguan (predator) baik dari dalam maupun dari luar kawasan penangkaran.

Sistem penangkaran semi terbuka yaitu dimana satwa ditempatkan dalam suatu bangunan/kandang yang setengah terbuka. Udara dapat keluar masuk dengan bebas dan sinar matahari dapat memasuki ruangan. Jika cuaca buruk (hujan, dingin dan panas) maka satwa dapat berlindung pada bagian yang tertutup. Kontruksi kandang dari semi

2

21 1

terbuka yaitu berbentuk semi permanen atau semi tertutup (semi closed) dengan alas lantai (keramik), dan sisi dinding terbuat dari keramik dengan tinggi sekitar 50 cm dan diatasnya terbuat dari kawat harmonika, sepertiga bagian atasnya diberi atap yang terbuat dari asbes. Kandang ini memiliki 2 pintu yang berhadapan yang terletak diujung sebelah kanan kandang.

Fasilitas di dalam kandang, dilengkapi dengan box yang terbuat dari papan dan kayu dolken serta drum yang digantung, berfungsi sebagai tempat duduk monyet, bermain dan berayun-ayun sehingga membuat suasana kandang seperti habitat aslinya.

Sistem semi terbuka lahan yang digunakan tidak begitu luas ± 4 ha. biaya investasi untuk pembuatan kandang semi terbuka cukup besar dibandingkan dengan sistem terbuka. Biaya operasional besar, karena pemberian pakan dilakukan setiap hari, kemudian untuk pemanenan mudah.

Sistem penangkaran tertutup yaitu sistem dimana satwa ditempatkan dalam bangunan yang tertutup, sehingga sama sekali tidak terganggu oleh cuaca maupun lingkungan luar. Sirkulasi udara dari luar dan dalam kandang diatur dengan menggunakan sistem tertentu untuk membatasi bibit penyakit yang dapat membahayakan kesehatan hewan maupun manusia. Dalam sistem tertutup ini dilengkapi dengan air conditioning dan heater untuk menjaga temperatur agar tidak berfluktuasi terlalu tinggi. Suhu ruangan dipertahankan antara 21°C hingga 26°C (70°-78°F). Selain itu ruangan dilengkapi dengan alat penagtur kelembaban udara. Kelembaban udara yang dianjurkan adalah 40 – 70% dengan fluktuasi seminimum mungkin. Temperatur dan kelembaban udara yang tidak terlalu besar fluktuasinya sangat diperlukan untuk memperkecil terjadinya penyakit pernafasan dan pencernaan yang disebabkan stress (Bismark, 1984).

Pergantian udara tidak diperkenankan dengan cara mendaur ulang udara. Tekanan dalam ruang kandang harus lebih rendah dari tekanan pada ruang lain, seperti koridor dan daerah pintu masuk. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi penyakit yang ditularkan melalui udara (airborne disease). Ruangan dilengkapi dengan lampu yang harus dinyalakan terus menerus selama 12 jam. Lampu ini harus memiliki kekuatan minimum 100 lilin sampai dimuka kandang (Bismark, 1984). Sistem penangkaran tertutup di bagi atas dua bagian antara lain:

a. Sistem kandang satu per satu (individual cage). Pada sistem ini satwa dikandangkan satu per satu. Ukuran kandang yang dipergunakan disesuaikan dengan berat badan satwa, seperti disajikan pada tabel

Tabel 2 Ukuran kandang satwa primata menurut berat badannya.

No. Berat badan (kg) Luas atas/alas (m2) Tinggi (cm)

1 < 1 0,15 50,8 2 1 - 3 0,28 76,2 3 3 - 15 0,40 76,2 4 15 - 25 0,74 91,4 5 > 25 2,33 213,4 Sumber: Bismark, 1984.

b. Sistem kelompok (gang cage). Dalam sistem ini suatu kelompok satwa ditempatkan dalam satu kandang yang cukup besar dan dapat menampung cukup banyak satwa. Sistem ini sudah tidak dipakai lagi untuk satwa yang belum lepas karantina. Pada umumnya sistem ini sekarang dipakai untuk percobaan reproduksi, uji obat, atau tingkah laku (Bismark, 1984).

Sistem pengandangan tertutup tidak memerlukan lahan yang luas, karena dalam penangkaran ini satwa ditempatkan dalam kandang sehingga memerlukan biaya investasi yang tinggi, kemudian biaya operasional setiap harinya juga memerlukan biaya yang besar (pakan, kesehatan dan pembersihan kandang), didalam aktivitas hariannya satwa tidak harus mencari pakan dan minum, karena semua sudah tersedia dan aktivitas harian mudah dipantau, kemudian waktu pemanenan/penangkapan mudah dilakukan.

Prinsip-prinsip dari ke 3 Sistem Penangkaran dan Persamaan Sistem Penangkaran Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) tercantum pada

Tabel 4 berikut

Tabel 4. Perbedaan dan Persamaan Masing-masing Sistem Penangkaran

2 23 3 Sistem Penangkaran No. Uraian Terbuka Semi Terbuka Tertutup 1. Perizinan V V V

2. Penyusunan rencana pra studi V V V

3. Studi kelayakan V V V

4. Lahan untuk penangkaran V V V

5. Pengadaan bibit monyet ekor panjang V/- V V 6. Persiapan sarana dan prasarana :

- Kandang perangkap untuk pemanenan V - -

- Kandang angkut V- - -

- Kandang kesehatan hewan dan karantina V V V

- Kandang penampungan V - - - Kandang penyapihan - V V - Kandang kondisi V V V - Kandang bebas - V V - Kandang koloni - V V - Kandang isolasi V V V - Kandang individu V V V

- Bangunan utama kandang kondisi V V V

- Bangunan utama kandang keswan V V V

- Ruang pengobatan V V V

- Ruang bedah V V V

- Laburaturium klinik V V V

- Kantor administrasi V V V

- Ruang dokter hewan, paramedis V V V

- Gudang pakan V V V

- Gudang umum V V V

- Listrik/generator V V V - Sarana telekomunikasi V V V - Blower - - V - Alat kantor V V V - Pagar keliling - V V - Pos jaga - - - - Sarana Traspotasi V - V 7. Pemeliharaan di penangkaran: - Kebersihan kandang - V V

- Pemberian pakan dan minum V/- V V

- Pengamatan fisik dan kesehatan - V V

- Penimbangan berat badan - V V

- Uji tuberkulinasi - V V

- Pemberian vitamin dan mineral - V V

- Pemeriksaan feses - V V

- Pengamatan fisik dan siklus birahi - V V

- Screening test terhadap salmonella - - V

- Tatto - V V

- Aklimasi ± 72 jam - - V

- Prophylaxis treatment parasit - - V

- Data pengamatan harian - V V

8. Pemeliharaan setelah pemanenan (kdg karantina 2-3 bulan sebelum di eksport):

- Kebersihan kandang V V V

- Pemberian pakan dan minum V V V

- Pengamatan fisik dan kesehatan V V V

- Penimbangan berat badan V V V

2

25 5

- Pemberian vitamin dan mineral V V V

- Pemeriksaan feses V V V

- Pemberian anthelmintica V V V

- Uji klinis terhadap B-virus V V V

- Pemberian anti stres V V V

- Data pengamatan harian V V V

- Test darah V V V

Penangkaran Sistem Terbuka

Penangkaran sistem terbuka merupakan suatu usaha yang dimulai dari tahap kegiatan inventarisasi populasi, mengetahui jenis satwa yang ada baik sebagai predator monyet ekor panjang di alam. Jika dalam areal usaha telah terdapat populasi, maka tidak diperlukan penyediaan bibit secara khusus. Artinya induk monyet ekor panjang yang digunakan sepenuhnya tergantung pada kondisi populasi di alam tersebut. Namun jika dalam areal usaha tersebut belum ada populasi monyet ekor panjang atau dirasa kurang memenuhi, maka induk sebagai bibit hanya diperlukan pada awal pengusahaan saja, kemudian luas areal yang diperlukan untuk usaha penangkaran dengan sistem terbuka ± 2500 ha.

Kegiatan inventarisasi populasi pada penangkaran sistem terbuka dimaksudkan untuk menduga kepadatan, komposisi umur dan jenis kelamin serta pola penyebarannya.

Didalam pemeliharaannya tidak dikelola seperti pada penangkaran dengan sistem semi terbuka dan tertutup. Satwa dibiarkan mencari makan dan minum sendiri, sewaktu-waktu diberikan makanan tambahan agar supaya memudahkan untuk penangkapan (pemanenan).

Hasil yang didapat dari penjualan setiap ekornya lebih rendah dibandingkan dengan penangkaran semi terbuka dan tertutup. Biaya operasional lebih rendah dibandingkan dari ke 2 (dua) sistem penangkaran (sistem semi terbuka dan sistem tertutup)

Penangkaran Sistem Semi Terbuka

Pada penangkaran sistem semi terbuka memerlukan lahan yang tidak begitu luas (± 4 ha), penyediaan bibit untuk induk yang disesuaikan dengan kondisi tempat penangkaran, penyediaan induk memperhatikan jenis kelamin (sex ratio), umur dan kondisi kesehatan monyet ekor panjang.

Pemeliharaan dengan sistem semi terbuka, monyet ekor panjang tergantung oleh manusia, sehingga makan, minum, pengontrolan kesehatan kebersihan lingkungan dan lain-liannya dikelola dengan baik.

Hasil yang didapat dari penjualan setiap ekornya lebih tinggi dibandingkan dengan penangkaran terbuka. Biaya operasional lebih tinggi dibandingkan dari sistem penangkaran terbuka.

Penangkaran Sistem Tertutup

Pada penangkaran dengan sistem tertutup memerlukan lahan tidak luas (± 1 ha) pengadaan bibit dan pengelolaannya pada sistem ini tidak jauh berbeda dengan penangkaran semi terbuka. Namun ada hal-hal yang sangat berbeda yaitu mengenai tingkat kebersihan dan kesehatannya baik manusia yang menanganinya maupun kebersihan satwanya, hal ini untuk menghindari penularan penyakit (monyet dengan monyet atau manusia dengan monyet) yang sangat cepat karena berada dalam ruangan yang tertutup.

Hasil yang didapat dari penjualan setiap ekornya lebih tinggi dibandingkan dengan penangkaran terbuka dan semi terbuka. Namun biaya operasionalnya lebih tinggi dibandingkan dari kedua sistem penangkaran.

Dasar Legalitas, Persyaratan dan Tahapan Kegiatan di Masing-Masing Sistem Penangkaran

2

27 7

1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

2. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis dan Satwa Liar

3. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 26/kpts-11/94 Tentang Pemanfaatan Kera Ekor Panjang, Beruk Dan Ikan Arowana Untuk Keperluan Exspport

Persyaratan Administratif Penangkaran

1. Akta Notaris Perusahaan

2. SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) 3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) 4. SITU (Surat Ijin Tempat Usaha)

5. HO (Surat Kesehatan) Dari Dinas Kesehatan Hewan 6. Proposal Penangkaran

7. BAP (Berita Acara Pemeriksaan)

8. Rekomendasi dari Balai KSDA setempat

Kegiatan di Masing-masing Penangkaran

1. Penangkaran dengan sistem terbuka a. Perizinan

Sebagaimana layaknya usaha di bidang lain, maka usaha penangkaran monyet ekor panjang perlu dilengkapi dengan perizinan. Berdasarkan SK Dirjen PHPA No. 07/Kpts/DJ-VI/1988, penanam modal dalam bidang usaha penangkaran satwaliar harus mengajukan permohonan penangkaran kepada

Dirjen PHPA dengan tembusan kepada Kepala Kanwil Kehutanan dan Kepala Balai/Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Dalam permohonan ini Tempat Usaha) yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan serta Berita Acara Pemeriksaan Persiapan Teknis Penangkaran. Berita Acara ini dibuat dilampirkan SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) dan SITU (Surat Ijin oleh Kanwil dan BKSDA/SBKSDA.

Berdasarkan lampiran yang ada, maka Kanwil Kehutanan mengeluarkan rekomendasi yang kemudian ditujukan kepada Dirjen PHPA. Selanjutnya, Dirjen PHPA mengeluarkan surat ijin usaha penangkaran yang berlaku maksimum selama 10 tahun. Surat ijin usaha penangkaran ini dapat diperpanjang kembali setelah masa berlakunya habis.

b. Studi kelayakan

Sebelum dikeluarkan surat ijin untuk usaha penangkaran monyet ekor panjang dengan sistem terbuka maka perlu dilakukan studi kelayakan oleh BKSDA, yang meninjau langsung ke lapangan untuk mengetahui situasi dan kondisi di alam apakah usaha penangkaran tidak mengganggu satwa yang ada dilokasi dan layak untuk dipakai sebagai penangkaran monyet ekor panjang.

c. Persiapan lahan/Lokasi

Lokasi untuk penangkaran dengan sistem terbuka memerlukan lahan yang luas berupa pulau yang sudah ada satwanya. Pada lokasi tersebut sudah tersedia jenis pohon yang dapat menghasilkan pakan sudah tesedia baik berupa bunga, buah maupun daunnya, tidak ada predator dan lahan pulau tersebut dikelilingi batas alam berupa air, sehingga monyet ekor panjang tidak bisa keluar dari lokasi penangkaran.

Penggunaan lahan/pulau ini menggunakan hak guna usaha atau bekerja sama dengan Dinas Kehutanan setempat yang ditentukan jangka waktunya.

2

29 9

Apabila batas waktu yang ditentukan sudah habis maka dapat diperpanjang kembali.

d. Persiapan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang memadai merupakan salah satu prasyarat yang dapat mendukung keberhasilan usaha penangkaran monyet ekor panjang. Dalam usaha penangkaran monyet ekor panjang dengan sistem terbuka, jenis sarana dan prasarana yang perlu dipersiapkan relatif berbeda dengan sistem penangkaran semi terbuka maupun tertutup. Sarana dan prasarana yang diperlukannya meliputi: untuk perkandangan, perkantoran dan transportasi. Perkandangan yang diperlukan terdiri atas: kandang perangkap untuk pemanenan, kandang kondisi, kandang koloni dan kandang kesehatan hewan.

1). Kandang perangkap untuk pemanenan.

Kandang ini ditempatkan di lokasi atau tempat-tempat yang diketahui memiliki potensi populasi monyet ekor panjang yang tinggi. Kandang perangkap digunakan untuk memerangkap monyet ekor panjang yang akan dipanen.

Berdasarkan bagian-bagian bangunannya, kandang perangkap terdiri atas bagian atap dan bagian ruang perangkap. Atap kandang perangkap dapat dibuat dari bahan berupa ijuk/rumbia ataupun seng. Pondasi kandang dibuat permanen dari bahan batu bata merah. Rangka tiang bangunan dapat dibuat dari balok kayu berukuran 12 x 7 cm atau pipa besi berdiameter 2,5 inci, sedangkan rangka bagian atap dibuat dari balok kayu berukuran 5 x 7 cm. Semua dinding bangunan kandang perangkap ini dibuat dari kawat ram. Lantai kandang berasal dari tanah yang diratakan.

1m Pintu 1m 1m 1m 3m Pintu Pintu 3m 3m

1m 5m 3m 1m 3m 5m 2m 2m d 2m a c 3m b 2m Keterangan :

a, b dan c = tempat ransum

d = tempat minum

Gambar 2. Bentuk kandang perangkap tipe labirin

Pemanenan individu monyet ekor panjang yang terperangkap dilakukan secara selektif, yakni hanya dipilih individu yang tergolong berumur anak (1,5 – 3 tahun) . Sedangkan individu yang termasuk dalam kelas umur lainnya dilepaskan kembali. Penangkapan dapat dilakukan dengan menggunakan jaring penangkap ataupun secara langsung dengan tangan. Penangkapan dengan jaring penangkap terutama ditujukan pada individu-individu yang agresif. Sebelum melakukan penangkapan, semua individu jantan maupun betina dewasa yang menjadi pemimpin terlebih dahulu dikeluarkan dari kandang perangkap. Target hasil tangkapan dari setiap kandang perangkap adalah 20 ekor per periode tangkapan.

Monyet yang terpilih (dipanen) selanjutnya dimasukkan ke dalam kandang angkut untuk di bawa ke tempat kandang kondisi dan penampungan. Setiap kandang angkut berukuran panjang 200 cm, lebar 50 cm dan tinggi 60 cm; terbagi dalam sel-sel berukuran 40 cm x 50 cm x 60 cm. Setiap sel pada kandang angkut dapat diisi 2-3 ekor monyet. Hal ini berarti satu kandang angkut dapat memuat 10-15 ekor.

3

31 1

Kandang kondisi digunakan untuk mengkondisikan monyet ekor panjang yang baru tiba dari lokasi penangkapan. Dalam kandang ini monyet ekor panjang dikondisikan dengan kehidupan di lokasi yang baru. Pengkondisian ini dimaksudkan agar perilaku agonistik dari setiap individu monyet ekor panjang berkurang serta dapat bersosialisasi dengan individu lainnya.

Kandang kondisi dibuat dari jeruji besi dengan alasnya dapat ditarik agar mudah dalam membersihkan kotoran monyet ekor panjang. Kandang ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m dan tinggi 1 m. Kandang ini dibagi 8 sel, masing-masing sel berukuran 1 m x 1 m x 0,5 m. Kapasitas setiap kandang adalah 8 ekor.

Kandang ditempatkan dalam bangunan tertutup, dengan luas 60 m2 (6 m x 10 m). Setiap bangunan ini dapat menampung 15 kandang kondisi. Hal ini berarti dalam setiap bangunan dapat menampung sebanyak 120 ekor. Proses pengkondisian ber-langsung selama 2 bulan (Hadiyati, 1994).

3). Kandang kesehatan hewan dan karantina.

Kandang kesehatan hewan ditempatkan dalam ruang bangunan tertutup, berukuran 12 m x 9 m yang berguna untuk pemeriksaan kesehatan monyet ekor panjang sebelum dilakukan ekspor. Seluruh lantai bangunan terbuat dari keramik berwarna putih. Atap bangunan hampir seluruhnya berupa genting, namun pada ruang karantina 40% atapnya tersusun dari genting kaca sehingga sinar matahari dapat langsung mencapai lantai bangunan ataupun mengenai individu monyet ekor panjang. Daya tampung bangunan ini adalah 50 ekor. Sketsa bangunan untuk menempatkan kandang kesehatan/karantina seperti pada Gambar di bawah ini E 3m C 3m B D 3m

A 0,6 m 4m 8m 0,5m Keterangan : A = ruang administrasi B = ruang pemeriksaan/klinik C = ruang patologi

D = ruang karantina monyet sehat E = ruang karantina monyet sakit

Gambar 3. Ukuran bangunan untuk kandang kesehatan hewan dan karantina

4). Kandang penampungan.

Kandang ini digunakan untuk menampung monyet ekor panjang yang telah menjalani semua uji kesehatan dan siap untuk diekspor. Kandang penampungan ini dibuat dengan ukuran 6 m x 5 m x 2,5 m. Lantai kandang berupa plester dengan atap dari seng ataupun rumbia. Di dalam kandang disediakan kotak-kotak kamar untuk tempat monyet tidur atau beristirahat, serta bambu atau sarana lain sebagai pengganti fungsi dahan-dahan pohon di alam untuk memenuhi kebutuhan monyet sebagai tempat bermain. Setiap kandang penampungan ini dapat menampung sebanyak 75 ekor.

e. Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan serangkaian kegiatan yang mencakup tindakan pem- berian makan dan minum, perawatan kesehatan yang mencakup pemberian obat, vitamin dan hormon; serta menjaga kebersihan lingkungan dalam kandang dan sekitarnya. Kegiatan pemeliharaan ini dilakukan semenjak individu monyet ekor panjang dimasukkan ke dalam kandang kondisi, kandang karantina maupun kandang penampungan sampai dilakukan ekspor.

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka perawatan kesehatan hewan mencakup tindakan sebagai berikut :

1). Pengamatan fisik dan kesehatan 2). Penimbangan berat badan

3

33 3

3). Uji tuberkulinasi

4). Pemberian vitamin dan mineral yang dicampurkan ke dalam air minum 5). Pemeriksaan feses terhadap parasit cacing dan bakteri

6). Pemberian anthelmintica 7). Uji klinis terhadap B-virus

Selain tindakan tersebut, untuk mencegah berjangkitnya penyakit kulit pada individu monyet ekor panjang maka monyet-monyet tersebut dimandikan (deeping). Diusaha-kan seminimal mungkin terjadi kontak dengan manusia untuk mencegah saling tertular penyakit. Tenaga pelaksana pemeliharaan monyet ekor panjang harus benar-benar sehat atau tidak berpenyakit yang berbahaya. Individu-individu monyet ekor panjang juga perlu dijaga agar tidak mengalami stress, tertekan ataupun gelisah.

Monyet-monyet yang telah dimasukkan dalam kandang perlu diberi makan dan minum setiap hari. Pemberian makan dan minum dilakukan sebanyak 3 kali setiap hari, yakni pada periode pagi hari (antara 06.00-07.00), siang hari (antara 11.00- 12.00) dan sore hari (antara 15.00-16.00). Makanan yang diberikan dapat berupa makanan alami maupun makanan buatan. Menurut Hadiyati (1994), Makanan buatan untuk monyet ekor panjang terbuat dari campuran antara skim, tepung, jagung, polar dan minyak sayur dengan komposisi tertentu. Makanan buatan ini sering dikenal dengan istilah “extruder” atau “monkey cow”. Makanan alami bagi monyet ekor panjang dapat berupa biji-bijian, buah-buahan, umbi-umbian ataupun sayuran seperti : jagung, pisang, pepaya, ubi jalar, singkong, kentang, wortel maupun kol. Jumlah kebutuhan pakan bagi monyet ekor panjang adalah 4% dari bobot badan.

Untuk menjaga kesehatan dalam kandang koloni, maka dilakukan tindakan pembersihan lantai dari sisa-sisa makanan serta kotoran-kotoran lainnya dan sanitasi lingkungan. Seorang pekerja dapat menangani sebanyak 5 kandang koloni/penampungan atau dengan jumlah populasi monyet ekor panjang sebanyak 90 ekor (Hadinoto, 1993).

Gambar 4. Pemeliharaan di penangkaran terbuka (pemberian makan tambahan) f. Pemanenan

Pemanenan populasi monyet ekor panjang di penangkaran terbuka dilakukan sebanyak 3 kali setiap tahun atau 4 bulan sekali. Hal ini berkaitan dengan proses pengkondisian individu-individu monyet ekor panjang sebelum diekspor yang memakan waktu selama ± 2 bulan.

Dengan menggunakan frekuensi pemanenan sebanyak tiga kali setiap tahun, maka pemanenan dilakukan setiap periode 4 bulan sekali, 1 kali penangkapan 200 – 250 ekor. Hal ini dilakukan guna menjaga kelestarian populasi di tempat penangkaran.

g. Eksport

Eksport merupakan salah satu tujuan dari penyelenggaraan usaha penangkaran monyet ekor panjang. Untuk dapat melakukan kegiatan eksport

3

35 5

monyet ekor panjang ke luar negeri, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengusaha. Persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagai berikut::

1). Adanya surat pengakuan sebagai eksportir satwaliar dari Departemen Kehutanan c.q. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA)

2). Memenuhi persyaratan dari IATA, terutama dalam hal ukuran kandang 3). Lolos pengecekan dari Dinas Peternakan Pusat (terutama bila dari dan

menuju daerah rabies)

4). Adanya pengakuan sebagai karantina sementara dari karantina Departemen Pertanian

5). Lolos pengecekan di pabean

Individu monyet ekor panjang yang dieksport harus memenuhi persyaratan- persyaratan yang ditentukan oleh pembeli (importir). Persyaratan yang ditentukan ini tidak sama untuk setiap negara importir. Persyaratan tersebut antara lain umur 2 - 4 tahun dengan bobot badan minimal 2,2 kg dan bebas dari B-virus. Peluang eksport monyet ekor panjang berjenis kelamin jantan sama dengan betina (Hadiyati, 1994). Transaksi eksport monyet ekor panjang umumnya dilakukan dalam US dollar. Harga jual setiap individu monyet ekor panjang di tempat penangkaran berkisar antara US$AS 700 hingga US$AS 2500

h. Tenaga kerja

Tenaga kerja di PT. PRESTASI FAUNA NUSANTARA yang dibutuhkan penangkaran terbuka adalah sebanyak 10 orang yang terdiri dari 2 orang dokter hewan, 1 orang asisten dokter (paramedis) dan 7 orang tenaga di lapangan dan administrasi.

K

Gambar 5. Struktur Organisasi PT. PRESTASI FAUNA NUSANTARA

Penangkaran Dengan Sistem Semi Terbuka

Perizinan Usaha Penangkaran Dengan Sistem Semi Terbuka

Berdasarkan SK Dirjen PHPA No. 07/Kpts/DJ-VI/1988 tentang Penangkaran Satwaliar dan Tumbuhan Alam, maka untuk memperoleh izin usaha penangkaran monyet ekor panjang adalah sebagai berikut :

1. Pengajuan permohonan ke Dirjen PHPA dengan tembusan ke Kakanwil Kehutanan Propinsi dan BKSDA, dengan melampirkan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan SITU (Surat Izin Tempat Usaha) dari Departemen Perdagangan dan Berita Acara Pemeriksaan Persiapan Teknis Penangkaran.

2. Pemeriksaan oleh Kanwil Kehutanan dan BKSDA Propinsi Dati I

3. Berdasarkan lampiran, maka dikeluarkan rekomendasi penangkaran dari Kanwil Kehutanan ke Dirjen PHPA

4. Dirjen PHPA mengeluarkan izin usaha penangkaran yang berlaku selama maksimum 10 tahun dan dapat diperpanjang setelah habis masa berlaku.

Dokumen terkait