• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kategorisasi Hasil Penelitian

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.7 Kategorisasi Hasil Penelitian

4.7.1 Kategorisasi Kualitas Pertemanan

Berdasarkan mean hipotetik dan standar deviasi kualitas pertemanan yang telah diperoleh maka dilakukan pengkategorisasian sebagai berikut:

Tabel 4.13 Kategorisasi Kualitas Pertemanan

Berdasarkan mean hipotetik dan standar deviasi gratitude yang telah diperoleh maka dilakukan pengkategorisasian sebagai berikut:

Hasil uji korelasi pada penelitian ini menunjukkan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,510 dan nilai p = 0,000, dimana nilai signifikansi (p) lebih kecil dari 0,05 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir. Kemudian nilai koefisien korelasi (R) yang menunjukkan nilai 0,510 yang berarti korelasi berada pada kategori yang sedang. Hubungan yang terbentuk adalah hubungan positif, artinya semakin tinggi kualitas pertemanan maka semakin tinggi pula skor gratitude pada remaja akhir dan semakin tinggi skor gratitude maka semakin tinggi skor kualitas pertemanan pada remaja akhir.

Berdasarkan hasil kategorisasi kualitas pertemanan yang telah dilakukan, diketahui sejumlah 137 orang (50%) remaja memiliki kualitas pertemanan yang tinggi, dan sejumlah 137 orang (50%) remaja memiliki kualitas pertemanan dalam kategori rendah.

Berdasarkan hasil kategorisasi gratitude yang telah dilakukan, diketahui sejumlah 240 orang (87,6%) remaja memiliki gratitude yang tinggi, sedangkan sejumlah 34 orang (12,4 %) remaja memiliki gratitude yang sedang dan tidak terdapat remaja yang memiliki gratitude kategori rendah.Berdasarkan hasil kategorisasi subjek penelitian , diketahui bahwa mayoritas subjek penelitian memiliki skor gratitude yang tinggi. Namun pada variable kualitas pertemanan subjek memiliki kategori tinggi dan rendah dalam jumlah yang seimbang sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait hal ini.

Skor gratitude yang tinggi mengindikasikan bahwa secara kognitif, subjek percaya bahwa apapun yang mereka miliki dalam hidupnya berasal dari tuhan. Hal ini sejalan dengan penelitian Amin (dalam Agata & Sidabutar, 2015) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, maka semakin tinggi juga tingkat gratitude seseorang.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan dua alasan, dimana semua agama dan kepercayaan menyatakan bahwa gratitude adalah suatu hal yang baik, serta gratitude akan tumbuh seiring dengan meningkatnya religiusitas, karena religiusitas mengarahkan seseorang mengenai bagaimana dirinya yang semula tidak pantas, namun diberikan karunia untuk menikmati kehidupannya.

Skor gratitude yang tinggi dari segi afektif mengindikasikan kondisi emosional subjektif individu terhadap peran Tuhan dalam segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal. Individu mengekspresikan emosi positif dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Froh (2009) yang menyatakan bahwa afek yang positif mampu menimbulkan rasa bersyukur. Penelitian yang dilakukan oleh Froh, Yurkewicz, & Kashdan (2008) menemukan bahwa syukur memiliki korelasi positif yang signifikan dengan afek positif, kepuasan hidup, optimisme, dukungan sosial, dan perilaku prososial.

Skor gratitude yang tinggi dari segi konatif mengindikasikan bahwa segala perilaku yang mereka lakukan merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang mereka terima dari Tuhan ataupun orang lain. Salah satu indikator seorang individu bersyukur adalah individu melatih diri sendiri untuk selalu melakukan kegiatan yang berasosiasi dengan syukur. Hal ini didukung oleh penelitian (Husna et al., 2019) yang menyatakan bahwa apabila kebersyukuran tinggi maka perilaku prososial cenderung tinggi.

Hasil analisa deskriptif dari variable kualitas pertemanan dan gratitude yang ditinjau berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa mean pada perempuan lebih tinggi daripada laki. Mean untuk variable kualitas pertemanan pada perempuan sebesar 53,70 dan pada laki-laki sebesar 52,97. Sedangkan mean variable gratitude pada perempuan sebesar 61,08 dan pada laki-laki sebesar 60,63. Hasil ini menunjukkan bahwa skor variable kualitas pertemanan dan gratitude lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki. Hal ini sejalan dengan penelitian Kashdan, Mishra, Breen & Froh (2009) menyatakan bahwa perempuan mengekspresikan rasa syukur melebihi laki-laki. Hal tersebut dikarenakan perempuan lebih intens berkomunikasi satu sama lain dalam bentuk ungkapan verbal yang lebih terperinci. Dibandingkan dengan pria, secara khusus perempuan cenderung lebih mementingkan hubungan interpersonal dan kepedulian sosial (Schwartz & Rubel, 2005).

Pada hasil analisa deskriptif dari aspek kualitas pertemanan yaitu intimate exchange perempuan memiliki mean yang lebih tinggi daripada laki-laki. Hal ini berarti perempuan memiliki skor yang lebih tinggi pada aspek intimate exchange daripada laki-laki. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Burks, dkk (dalam Demir& Urberg,2004) yang menyatakan bahwa dalam pengalaman pertemanan perempuan lebih intim dan melibatkan pengungkapan yang lebih akrab antarpribadi daripada laki-laki.

Pada aspek kualitas pertemanan yaitu conflict revolution perempuan memiliki mean yang lebih tinggi daripada laki-laki. Hal ini berarti dalam menjalin hubungan pertemanan perempuan lebih mengutamakan untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh (Pradana, 2018) yang menemukan bahwa aspek yang paling penting dalam menjalin pertemanan bagi laki-laki adalah pemecahan masalah, sehingga skor pada kategori pemecahan masalah laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.

Pada aspek kualitas pertemanan lainnya seperti validation and caring, conflict and betrayal , companionship and recreation, help and guidance tidak ditemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Uji asumsi pada penelitian ini terdiri atas uji normalitas dan uji linearitas. Berdasarkan hasil uji normalitas variable kualitas pertemanan dan gratitude diperoleh hasil bahwa data pada kualitas pertemanan dan gratitude berdistribusi normal. Kualitas pertemanan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,200 dan gratitude memiliki nilai signifikansi 0,200. Hal ini menunjukkan bahwa kedua data tersebut memiliki signifikansi > 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data pada kualitas pertemanan dan gratitude tersebut berdistribusi normal. Sedangkan hasil uji linearitas variabel kualitas pertemanan dan gratitude diperoleh nilai F= 1,536 dan nilai signifikansi atau nilai p = 0,063 (p>0,05), maka dapat disimpulkan kualitas pertemanan dan gratitude memiliki hubungan yang linear.

Berdasarkan data yang diperoleh pada analisa nilai mean hipotetik dan nilai mean empirik didapatkan data bahwa mean empirik kualitas pertemanan sebesar 53 dengan standar deviasi sebesar 4 sedangkan mean hipotetiknya sebesar 42,5 dengan standar deviasi 8,5.

Berdasarkan data yang diperoleh pada analisa nilai hipotetik dan nilai empirik didapatkan data bahwa mean empirik gratitude sebesar 58,5 dengan standar deviasi sebesar 9,75 sedangkan mean hipotetiknya sebesar 45 dengan standar deviasi 4,83 . Jika nilai hipotetik lebih kecil dibandingkan mean empirik, hal ini berarti gratitude pada subjek penelitian tergolong cukup tinggi.

Pada penelitian ini subjek penelitian yang terbanyak berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan dengan frekuensi 207 orang ( 75,55%); berdasarkan usia yaitu 18 tahun dengan frekuensi 73 (26,64%).

Daya beda aitem dikatakan baik jika memiliki nilai ≤ 0,3. Jika sebuah aitem memiliki daya beda ≤ 0,3 atau > 0,3 , hal ini berarti aitem tersebut dapat membedakan orang yang memiliki konstruk yang diukur dan yang tidak memilikinya. Jika sebuah aitem memiliki daya beda dibawah 0,3 maka aitem tersebut masih diperbolehkan untuk digunakan , namun jika daya beda sebuah aitem dibawah 0,2 aitem tersebut tidak dianjurkan untuk dipergunakan

Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika memiliki nilai reliabilitas > 0,600. Pada penelitian ini skala gratitude yang digunakan memiliki nilai reliabilitas 0,734. Hal ini berarti skala gratitude dikatakan reliabel. Skala kualitas pertemanan yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai 0,585 . Berdasarkan kaidah dalam analisis reliabilitas, ketika nilai reliabilitas berada bada rentang 0,410-0,600 maka reliabilitas dari skala tersebut dikatakan cukup reliabel sehingga dapat dikatakan bahwa skala kualitas pertemanan cukup reliabel untuk dijadikan alat ukur dalam penelitian.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait