HUBUNGAN ANTARA KUALITAS PERTEMANAN DAN GRATITUDE PADA REMAJA AKHIR
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
OLEH :
LUTHFIANA MAY SARAH 171301231
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2021
Hubungan Antara Kualitas Pertemanan Dan Gratitude Pada Remaja Akhir
Luthfiana May Sarah dan Dina Nazriani
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir . Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik convenience sampling. Subjek dalam penelitian ini yaitu remaja akhir yang berada di Indonesia berusia 18-21 tahun yang berjumlah 274 orang. Data dikumpulkan menggunakan dua jenis skala, yaitu skala kualitas pertemanan berdasarkan 6 Aspek oleh Parker dan Asher (1993) dan skala gratitude yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori Watkins (2014). Hasil penelitian ini menunjukkan skor mean pada kualitas pertemanan sebesar 53,52 dan skor mean pada gratitude sebesar 60,97. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai R sebesar 0,51 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir, artinya semakin tinggi kualitas pertemanan akan semakin tinggi skor gratitude pada remaja akhir dan semakin tinggi skor gratitude maka akan semakin tinggi kualitas pertemanan pada remaja akhir.
Kata kunci: kualitas pertemanan, gratitude, remaja akhir.
Friendship Quality And Gratitude in Late Adolescents
Luthfiana May Sarah and Dina Nazriani
Faculty of Psychology University of Sumatera Utara
ABSTRACT
The purpose of this study was to look at the relationship of Friendship Quality and Gratitude in late adolescents. This research uses quantitative approach with convenience sampling technique. Thesubjects of this study was 204 late adolescents in Indonesia with range age 18- 21 years old. Data collection method in this research using two types of scale, namely the scale of friendship quality is based on 6 Aspects by Parker and Asher (1993) and the scale of gratitude created by researcher based on theory of Watkins (2014). The results of this study show the mean score on the quality of friendship is 53.52 and the mean score on gratitude is 60.97. The results of the correlation test show an R value is 0.51 that there is a positive relationship between friendship quality and gratitude in late adolescents, meaning that the better friendship quality will be higher gratitude score in late adolescents and the higher gratitude in late adolescents will be better friendship quality.
Keywords: friendship quality, gratitude, late adolescents
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia yang Ia berikan sehingga saya bisa menyelesaikan penelitian saya yang berjudul “Hubungan Antara Kualitas Pertemanan Dan Gratitude Pada Remaja Akhir”untuk memenuhi tugas akhir dan meraih gelar sarjana Psikologi.
Pengerjaan penelitian ini juga tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Zulkarnain, Ph.D., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi USU;
2. Kak Dina Nazriani, M.A selaku dosen pembimbing, atas bimbingan, semangat, saran, kritikan, kesabarannya serta waktu luangnya untuk membimbing peneliti sehingga bisa menyelesaikan tugas penyusunan skripsi ini;
3. Ibu Rahma Yurliani, M.Psi, Psikolog dan Kak Suri Mutia Siregar M.Psi, Psikolog selaku dosen penguji saya atas saran dan masukan yang diberikan;
4. Kak Ridhoi Meilona Purba, M.Si, Psikolog selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa menyemangati peneliti di setiap semesternya dan memantau indeks prestasi saya;
5. Bapak dan Ibu Dosen staf pengajar Fakultas Psikologi USU, atas kebaikan hati dan kesabaran dalam pemberian ilmu selama ini;
6. Kedua orang tua saya dan keluarga yang mendoakan saya dan senantiasa memantau perkembangan skripsi saya dan memberikan saya semangat untuk menyelesaikan penelitian ini;
7. Kepada teman-teman seperjuangan saya yang menemani hari-hari kuliah saya hingga saat ini yaitu ipeh,sarah,qiqil,winda;
8. Kepada teman seperjuangan di Formasi Al-Qalb yang membersamai saya dalam agenda kebaikan;
9. Kepada tim Gratitude yang telah membersamai untuk menyelesaikan penelitian ini;
10. Kepada para responden yang telah memberikan bantuan sehingga saya bisa mendapatkan data untuk penelitian ini.
Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan . Oleh karena itu kritik dan saran diperlukan agar penelitian ini semakin baik kedepannya. Semoga skripsi ini bermanfaat untuk pembaca dan peneliti selanjutnya.
Luthfiana May Sarah 171301231
Medan, April 2021
DAFTAR ISI
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 6
1.3 Tujuan Penelitian 6
1.4 Manfaat Penelitian 7
1.5 Sistematika Penulisan 7
BAB II 9
LANDASAN TEORI 9
2.1 Gratitude 9
2.1.1 Definisi Gratitude 9
2.1.2 Dimensi Gratitude 10
2.1.3 Faktor-faktor yang memengaruhi Gratitude 10
2.2 Kualitas Pertemanan 11
2.2.1 Definisi Kualitas Pertemanan 11
2.2.2 Aspek Kualitas Pertemanan 12
2.2.3 Faktor-faktor pembentuk pertemanan 14
2.2.4 Fungsi Pertemanan 14
2.3 Remaja 15
2.3.1 Definisi Remaja 15
2.3.2 Tugas Perkembangan remaja 16
2.4 Dinamika Psikologis Antara Kualitas Pertemanan dan Gratitude 16 2.5 Pengembangan Alat Ukur Skala Syukur Versi Dewasa (SS-VD) 18
2.6. Hipotesis Penelitian 20
BAB III 21
METODE PENELITIAN 21
3.1 Metode Penelitian 21
3.2 Identifikasi Variabel Penelitian 21
3.3 Definisi Operasional Variabel Penelitian 21
3.3.1 Kualitas Pertemanan 21
3.3.2 Gratitude 21
3.4 Populasi dan Sampel 21
3.4.1 Populasi Penelitian 22
3.4.2 Sampel Penelitian 22
3.5 Metode Pengumpulan Data 22
3.6 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 23
3.6.1 Validitas 23
3.6.2 Reliabilitas 23
3.7 Prosedur Penelitian 24
3.8 Metode Analisis Data 25
3.9 Skala Syukur-Versi Remaja 26
3.10 Skala Kualitas Pertemanan 28
3.11 Pengujian Hipotesis 29
3.12 Analisis Deskriptif 30
3.13 Uji Asumsi 30
3.14 Uji Korelasi 31
BAB IV 32
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 32
4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian 32
4.2 Hasil Penelitian 33
4.2.1 Analisis Psikometri 33
4.2.1.1 Daya Beda Aitem Variabel Kualitas Pertemanan 33
4.3 Analisa Deskriptif 35
4.4 Uji Asumsi Penelitian 37
4.4.1 Hasil Uji Normalitas 37
4.4.2 Hasil Uji Linearitas 38
4.5 Uji Korelasi Hubungan Kualitas Pertemanan dengan Gratitude 38 4.6 Nilai Mean Hipotetik dan Nilai Mean Empirik Variabel Penelitian 39
4.7 Kategorisasi Hasil Penelitian 39
4.8 Pembahasan 40
BAB V 44
KESIMPULAN DAN SARAN 44
5.1 Kesimpulan 44
5.2 Saran 44
1. Saran Metodologis 44
2. Saran Praktis 45
DAFTAR PUSTAKA 46
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 1 2
LAMPIRAN 2 7
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Blue Print Skala Gratitude Versi Remaja………26
Tabel 3.2 Blue Print Skala Kualitas Pertemanan………....28
Tabel 3.3 Kategorisasi Korelasi Spearman………..31
Tabel 4.1 Data Kategori Subjek………32
Tabel 4.2 Daya Beda Aitem Kualitas Pertemanan………..33
Tabel 4.3 Daya Beda Aitem Gratitude………..34
Tabel 4.4 Hasil Analisis Reliabilitas Skala Kualitas Pertemanan dan Gratitude……….35
Tabel 4.5 Hasil Analisis Deskriptif Kualitas Pertemanan dan Gratitude…………...35
Tabel 4.6 Hasil Analisis Deskriptif Kualitas Pertemanan dan Gratitude Ditinjau dari Jenis Kelamin………..…36
Tabel 4.7 Hasil Analisis Deskriptif Aspek Kualitas Pertemanan Ditinjau dari Jenis Kelamin………...36
Tabel 4.8 Uji Normalitas Kualitas Pertemanan Gratitude ………37
Tabel 4.9 Uji Linearitas Kualitas Pertemanan dan Gratitude ………...38
Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi Kualitas Pertemanan dan Gratitude………...38
Tabel 4.11 Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Kualitas Pertemanan………...39
Tabel 4.12 Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Gratitude………39
Tabel 4.13 Kategorisasi Kualitas Pertemanan………40
Tabel 4.14 Kategorisasi Gratitude ………40
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Remaja akhir merupakan masa persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini (Ahjuri, 2019). Menurut Daradjat (dalam Azizah, 2013) salah satu masalah yang timbul pada masa remaja akhir adalah mengalami kecemasan akan masa depannya. Setiap mereka memikirkan masa depannya, remaja ingin mendapat kepastian, akan jadi apakah mereka nanti setelah tamat. Pemikiran akan masa depan itu semakin memuncak dirasakan oleh remaja yang duduk di bangku universitas atau yang berada di dalam kampus. Kecemasan akan masa depan yang kurang pasti, telah menimbulkan berbagai masalah lain, yang mungkin menambah suramnya masa depan remaja akhir. Misalnya: semangat belajar menurun, kemampuan berpikir berkurang, rasa tertekan timbul, bahkan kadang-kadang sampai pada mudahnya mereka terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik, kenakalan dan penyalahgunaan narkotika (Azizah, 2013). Pada usia remaja akhir keinginan untuk diterima oleh teman sebaya juga menjadi semakin kuat sehingga teman sebaya merupakan significant other diluar keluarga yang dapat membantu remaja akhir untuk mengurangi masalah yang timbul akibat kecemasan akan masa depan yang tidak pasti melalui hubungan pertemanan yang berkualitas atau kualitas pertemanan.
Remaja akhir yang memiliki kualitas pertemanan yang tinggi dan stabil memiliki persepsi diri yang sangat positif dan rasa keterasingan diri yang rendah. Penelitian lain menunjukkan bahwa remaja dengan kualitas pertemanan yang tinggi melaporkan well-being yang tinggi (Berndt dan Keefe,2005) . Pertemanan merupakan hal yang penting dalam kehidupan remaja. Menurut Harry Stack Sullivan (dalam Santrock, 2011) teman memiliki peran yang penting untuk memenuhi kebutuhan sosial pada remaja. Secara khusus, Sullivan berpendapat bahwa kebutuhan akan keintiman meningkat selama awal masa remaja, memotivasi remaja untuk mencari teman dekat. Jika remaja gagal mengembangkan pertemanan yang begitu dekat, mereka mengalami kesepian dan rasa harga diri yang berkurang.
Ketika seseorang memiliki teman dekat, dia merasa memiliki tempat untuk berbagi dan
memiliki orang yang selalu mendukungnya. Teman menjadi sumber dukungan dalam menjalani tugas perkembangan, belajar memahami dan meningkatkan kemampuan sosial (Hiatt, et.al 2015; Bakalim & Karçkay, 2016).
Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, sehingga hubungan yang dijalin tidak lagi hanya dengan orangtua, tapi sudah merambah ke lingkungan di luar keluarga seperti teman-teman. Salah satu tugas perkembangan pada remaja menurut Havighurst (dalam Sarwono, 2001) adalah mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Hal ini berarti pada masa ini, remaja sangat membutuhkan orang lain, terutama teman sebayanya . Pertemanan merupakan bentuk kedekatan hubungan yang meliputi kesenangan, penerimaan, kepercayaan, penghargaan, bantuan yang saling menguntungkan, saling mempercayai, pengertian, dan spontanitas (Santrock, 2014). Menurut Papalia (2014), kualitas hubungan menjadi aspek yang paling penting dalam perkembangan hubungan pertemanan pada remaja, dibandingkan dengan jumlah teman yang dimilikinya.
Remaja yang memiliki kualitas pertemanan yang tinggi akan memiliki kebahagiaan yang tinggi pula . Hal ini didukung oleh penelitian Akin (2015 ) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas pertemanan dan kebahagiaan subjektif yang dimediasi oleh subjective vitality. Kualitas pertemanan mempengaruhi kebahagiaan subjektif baik secara langsung maupun tidak langsung melalui vitalis subjektif. Orang yang memiliki kualitas pertemanan yang lebih tinggi cenderung memiliki vitalitas subjektif yang tinggi pula. Vitalitas subjektif merupakan pengalaman individu ketika memiliki semangat dalam hidupnya yang berasal dari dalam diri sendiri secara sadar dan tidak dipaksa (Ryan & Frederick dalam Akin, 2015).
Ketika remaja memiliki kualitas pertemanan yang rendah atau buruk , pertemanan yang terjalin lebih sering mengalami gangguan berupa pertengkaran, ketidakpercayaan, hingga penghianatan. Hal ini akan menimbulkan rasa rendah diri dan pesimis bagi individu yang mengalaminya . Bahkan remaja dapat membenci dirinya sendiri yang diakibatkan dari perlakuan atau perkataan negatif yang diberikan terhadap dirinya. Kualitas pertemanan yang buruk dapat menimbulkan konflik batin yang mengarah pada depresi atau kecemasan (news.unair.ac.id). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Burk & Laursen, 2005) bahwa kualitas pertemanan yang rendah bisa berakibat persaingan yang tidak sehat , konflik, dan kecenderungan untuk mendominasi lainnya. Kualitas yang rendah dari pertemanan dapat mengancam kesejahteraan psikologis (Sherman et al., 2006).
Menurut Parker & Asher (1993) kualitas pertemanan adalah adanya perilaku atau tindakan timbal balik yang dirasakan oleh individu dalam hubungan pertemanan, adanya sikap menerima secara keseluruhan dari masing-masing individu, memiliki informasi yang lengkap tentang banyak hal-hal yang berhubungan dengan individu tersebut.
“Friendship quality is the measurement index of friendship, which reflects the support provided by friends, the degree of company, and the level of conflict” (Parker and Asher, 1993)
Menurut Berndt (2002) kualitas pertemanan adalah tingkat keunggulan dalam pertemanan yang diambil secara bersama-sama pada dimensi baik dan buruk. Berndt (dalam Thien, 2012) menyatakan bahwa kualitas pertemanan yang tinggi ditandai dengan tingginya fitur positif seperti perilaku sosial, keintiman, dan loyalitas serta rendahnya fitur negatif seperti konflik dan persaingan. Orang dengan kualitas pertemanan yang tinggi pada umumnya lebih kompeten, memiliki penyesuaian diri yang baik, memiliki harga diri yang tinggi, dan tingkat kebahagiaan yang tinggi pula (Keefe & Berndt, 1996).
Menurut Berndt (dalam (Angraini & Cucuani, 2014) teman yang baik didefinisikan sebagai individu yang memiliki pertemanan dengan kualitas yang tinggi. Kualitas pertemanan mengacu pada dua ciri-ciri pertemanan yaitu positif dan negatif. Beberapa ciri-ciri pertemanan positif diantaranya sejauh mana hubungan pertemanan itu menjadi akrab, saling tolong menolong satu sama lain, dan saling mengingatkan harga diri. Sedangkan ciri-ciri negatif pertemanan yaitu adanya konflik, persaingan, kesalahpahaman, kekerasan, bullying dan lain sebagainya Asher dkk (dalam Angraini, 2014).
Remaja yang memiliki kualitas pertemanan yang tinggi mendapatkan hal-hal yang positif dari pertemanan. Hal-hal positif dari pertemanan seperti pertolongan, dukungan, bimbingan. Ketika seorang remaja mendapatkan pertolongan , dukungan, serta bimbingan yang banyak dari teman dekatnya , hal ini mendorong remaja untuk merasakan perasaan berterima kasih karena kontribusi yang diberikan oleh teman dekatnya. Hal tersebut didukung oleh McCullough dkk (dalam Watkins, 2003) yang menekankan bahwa perasaan bersyukur muncul salah satunya dikarenakan kontribusi orang lain terhadap seseorang. Perasaan berterima kasih atas kebaikan yang diterima dari tuhan, orang lain, serta alam semesta dikenal dengan istilah gratitude.
Gratitude merupakan suatu bentuk emosi positif dalam mengekspresikan kebahagiaan dan rasa terimakasih terhadap segala kebaikan yang diterima (Seligman, 2002). Menurut Emmons dan Mishra ( dalam Prabowo, 2017) bahwa gratitude adalah dasar kesejahteraan (well-being) dan kesehatan mental sepanjang hidup manusia. Dari masa kanak-kanak hingga usia tua, akumulasi dari keadaan positif secara psikologis, fisik, maupun hubungan relasi dikaitkan dengan gratitude.
Menurut Listiyandini et al (2015), rasa syukur adalah perasaan berterima kasih, bahagia, serta apresiasi atas hal-hal yang diperoleh selama hidup, baik dari Tuhan, manusia, makhluk lain, dan alam semesta, yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia dapatkan. Gratitude merupakan bagian dari psikologi positif yang dekat dengan konsep kebahagiaan. Hal ini didukung oleh penelitian Anggaraini, Andayani dan Karyanta (2013) yang menemukan bahwa individu yang bersyukur akan dengan mudah merasakan kebahagiaan. Hal ini diperkuat oleh penelitian (Safaria, 2014) bahwa rasa syukur merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap kebahagiaan. Hal ini juga selaras dari penelitian Eriyanda dan Khairani (2017) yang menunjukkan ada korelasi positif yang signifikan antara rasa syukur dan kebahagiaan pada orang yang bercerai di Aceh.
Menurut Watkins (2007) Gratitude dialami ketika seseorang menegaskan "bahwa sesuatu yang baik telah terjadi pada mereka, dan mereka menyadari bahwa orang lain sebagian besar bertanggung jawab atas keuntungan yang mereka terima .
“Gratitude is experienced when one affirms “that something good has happened to them, and they recognize that someone else is largely responsible for this benefit” (Watkins, 2007)
Gratitude merupakan hal yang penting untuk dimiliki remaja . Gratitude pada remaja memberikan dampak positif bagi perkembangan emosi, sosial, dan well-being. Dampak gratitude terhadap perkembangan emosi remaja yaitu remaja akan memiliki emosi yang lebih matang sehingga saat mengalami konflik dengan lingkungan, mereka lebih dapat mengontrol emosinya (Prabowo, 2017). Dampak gratitude terhadap well-being remaja yaitu gratitude dapat membuat remaja merasakan kepuasan hidup sehingga meningkatkan kebahagiaan pada remaja. Hasil penelitian (Kristanto, 2016), menunjukkan bahwa individu yang bersyukur mampu menikmati pengalaman hidup yang positif karena syukur adalah salah satu bentuk
ekspresi kebahagiaan yang erat berhubungan dengan kesejahteraan. Selain itu remaja yang memiliki gratitude yang tinggi juga dapat terhindar dari depresi dan kenakalan remaja. Hal ini sejalan dengan penelitian (McCullough et al., 2004; Peterson et al.,2004) yang menunjukkan bahwa menjadi bersyukur dapat mencegah depresi dan kondisi patologis.
Dampak gratitude terhadap perkembangan sosial remaja adalah remaja menjadi lebih dekat dengan teman sebayanya. Hal ini didukung oleh penelitian (Rotkirch, 2014) yang menemukan bahwa gratitude berkolerasi dengan tingkat kedekatan personal terhadap teman sebaya maupun saudara bagi remaja. Gratitude adalah pengaruh moral yang memotivasi dan memperkuat perilaku prososial di masa depan (McCullough, Kilpatrick, Emmons, dan Larson, 2001 McCullough, Kimeldorf, dan Cohen, 2008). Ketika seorang remaja memiliki gratitude yang tinggi maka hal ini akan mendorong remaja tersebut untuk melakukan perilaku prososial terhadap teman atau saudaranya, hal ini akan membuat orang yang menerima kebaikan melakukan hal yang sama sehingga kualitas pertemanan yang terjalin semakin erat. Penelitian yang dilakukan oleh (DeSteno, Bartlett, Baumann, Williams, and Dickens, 2010; Tsang, 2006) menunjukkan bahwa gratitude dapat memicu altruisme timbal balik.
Gratitude membuat seseorang memiliki pemikiran dan cara pandang yang lebih positif terhadap kehidupan, pemikiran bahwa hidup adalah anugerah (Peterson et al., 2004). Gratitude dapat membuat seseorang mendapatkan manfaat emosional dan interpersonal dalam hidupnya.
Jika seseorang menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang positif, maka ia akan meningkatkan keterampilan koping barunya secara sadar atau tidak sadar, hal ini dapat menyebabkan munculnya pandangan diri yang akan mengarahkan kehidupan seseorang ke arah yang lebih positif (Krause, 2006). Seseorang yang memiliki rasa syukur biasanya akan memiliki kontrol yang lebih tinggi terhadap lingkungan, perkembangan pribadi, tujuan hidup, dan penerimaan diri. Orang yang bersyukur juga memiliki koping yang positif dalam menghadapi kehidupan kesulitan, mencari dukungan sosial dari orang lain, menafsirkan pengalaman dengan perspektif yang berbeda, memiliki rencana untuk memecahkan masalah (McCullough, Tsang, & Emmons, 2004). Watkins et al ( 2003) menyatakan bahwa rasa syukur menunjukkan kesejahteraan dan kepuasan hidup seseorang.
Penelitian-penelitian terdahulu mengenai kualitas persahabatan telah banyak dilakukan antara lain (Sandjojo, 2017) yang meneliti mengenai hubungan antara kualitas persahabatan dengan kebahagiaan pada remaja urban. Hasil penelitian tersebut menunjukkan semakin tinggi kualitas persahabatan maka semakin baik pula tingkat kebahagiaan yang dirasakan oleh remaja
. Kemudian ada juga penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2018) mengenai hubungan kualitas persahabatan dan perenungan dengan kemampuan memaafkan pada remaja akhir.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas persahabatan, perenungan, dan kemampuan memaafkan. Adanya kualitas persahabatan tinggi dan perenungan rendah dapat mempermudah proses kemampuan memaafkan pada remaja akhir. Penelitian lain yang dilakukan oleh A’yun (2018) mengenai hubungan kualitas persahabatan dengan forgiveness pada mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas Medan Area, penelitian ini menunjukkan hasil bahwa remaja yang memiliki kualitas persahabatan yang baik maka akan mudah memaafkan kesalahan yang dibuat oleh sahabatnya.
Variable kualitas pertemanan dan gratitude merupakan variable yang penting untuk diteliti. Kualitas pertemanan dan gratitude memiliki dampak terhadap kesejahteraan psikologis pada remaja akhir, sehingga peneliti menilai diperlukan bukti empiris untuk mendukung asumsi peneliti bahwa variable kualitas pertemanan dan gratitude memiliki hubungan yang positif.
Alasan peneliti menggunakan subjek remaja akhir karena pada remaja akhir perkembangan emosional sudah lebih matang daripada remaja awal sehingga mereka lebih selektif dalam memilih teman dan lebih memilih mempertahankan hubungan yang telah mereka miliki sebelumnya sehingga hubungan pertemanan yang dimiliki lebih erat . Pada remaja akhir kualitas hubungan yang dimiliki lebih penting daripada jumlah teman yang dimiliki.
Penelitian ini merupakan penelitian yang berbeda dari penelitian sebelumnya karena menghubungkan variabel kualitas pertemanan dengan variable gratitude. Berdasarkan beberapa fenomena yang telah dipaparkan di atas maka peneliti merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana “hubungan antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir ”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut: “Apakah terdapat hubungan positif antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir?”
1.3 Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini ditujukan untuk:
1. Mengetahui hubungan antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir.
2. Membuat alat ukur gratitude pada remaja 1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wacana mengenai kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk beberapa hal, yaitu : 1. Menyediakan alat ukur gratitude remaja yang telah dievaluasi secara psikometri.
2. Menyumbangkan pemikiran-pemikiran baru sehingga dapat menjadi acuan dalam penelitian-penelitian selanjutnya mengenai kualitas pertemanan dan gratitude.
3. Menjadi bahan bacaan peneliti yang tertarik dengan topik yang sama.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini disusun sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan
Bab ini berisi uraian singkat tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian teoritis dan praktis, serta sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Bab ini berisi uraian teori yang menjadi acuan dalam pembahasan masalah dalam penelitian ini.Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gratitude , dan kualitas pertemanan
BAB III : Metode Penelitian
Bab ini berisi uraian yang menjelaskan mengenai metode penelitian, identifikasi variabel-variabel penelitian,defenisi operasional variabel-variabel penelitian, populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan data, validitas serta realibilitas alat ukur, prosedur pelaksanaan penelitian, serta metode analisis data.
BAB IV Analisis Data dan Pembahasan
Bab ini berisi penjelasan bagaimana gambaran hubungan antar dua variabel yaitu kualitas pertemanan dengan gratitude, menggunakan analisis statistik. Pada bab ini juga akan membahas interpretasi data yang diuraikan di dalam pembahasan.
BAB V: Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini akan dipaparkan mengenai kesimpulan dari peneliti berdasarkan hasil penelitian dan saran bagi pihak lain berdasarkan hasil yang diperoleh.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Gratitude
2.1.1 Definisi Gratitude
Menurut Peterson dan Seligman (2004), gratitude adalah perasaan berterima kasih dan bahagia sebagai respon atas suatu pemberian, entah pemberian tersebut merupakan keuntungan yang nyata dari orang tertentu ataupun momen kedamaian yang diperoleh dari keindahan alamiah.
“Gratitude is a sense of thankfulness and joy in response to receiving a gift, whether the gift be tangible benefit from a specifics other or a moment of peaceful bliss evoked by natural beauty.” (Peterson & Seligman, 2004) .
Menurut Emmons & Mccullough (2004) kebersyukuran dalam bahasa Inggris disebut gratitude. Kata gratitude diambil dari akar Latin gratia, yang berarti kelembutan, kebaikan hati, atau berterima kasih. Semua kata yang terbentuk dari akar latin ini berhubungan dengan kebaikan, kedermawanan, pemberian, keindahan dari memberi dan menerima, atau mendapatkan sesuatu tanpa tujuan apapun.
“Gratitude as a moral affect because it largely results from and stimulates behavior that is motivated by a concern for another person’s well being – referring to moral in a local sense rather than an absolute sense because a recipient may perceive a gift to augment his/her well-being even though it might not be a moral/ beneficial for other parties.” (McCullough, Kilpatrick, Emmons, & Larson, dalam Bono, Emmons, &
McCullough, 2004).
Menurut Emmons dan Shelton (dalam Snyder & Lopez, 2005) bersyukur merupakan suatu rasa takjub, berterima kasih, dan apresiasi terhadap kehidupan yang dirasakan individu.
Selain itu, bersyukur dapat diekspresikan kepada orang lain dan objek impersonal (Tuhan, alam, hewan, dan sebagainya).
“As a psychological state, gratitude is a felt sense of wonder, thankfulness, and appreciation for life. It can be expressed toward others, as well as toward impersonal (nature) or non-human sources (God, animals).” (Emmons & Shelton, dalam Snyder
& Lopez, 2005).
Menurut Watkins (2007) gratitude dialami ketika seseorang menegaskan “ bahwa sesuatu yang baik telah terjadi pada mereka, dan mereka menyadari bahwa oranglain sebagian besar bertanggungjawab atas kebaikan yang mereka terima.
“Gratitude is experienced when one affirms “that something good has happened to them, and they recognize that someone else is largely responsible for this benefit”
(Watkins, 2007)
Menurut Listiyandini et al (2015), rasa syukur adalah perasaan berterima kasih, bahagia, serta apresiasi atas hal-hal yang diperoleh selama hidup, baik dari Tuhan, manusia, makhluk lain, dan alam semesta, yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia dapatkan.
Berdasarkan beberapa definisi gratitude diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa gratitude adalah perasaan berterima kasih yang dialami seorang individu atas segala kebaikan yang ia peroleh dari tuhan, orang lain, ataupun alam.
2.1.2 Dimensi Gratitude
Gratitude menurut Watkins dkk (2003) memiliki beberapa dimensi sebagai berikut : a. Merasa berkecukupan (Sense of Abundance)
Seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur tinggi akan merasa puas dengan apa yang dimiliki dalam hidupnya. Orang tersebut tidak merasa kekurangan sesuatu.
Mereka merasa apa yang mereka miliki sudah cukup dan berguna.
b. Menghargai hal simpel (Simple Appreciation)
Seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi menikmati dan menghargai sesuatu yang sudah sering atau mudah dimiliki oleh kebanyakan orang.
Contoh dari menikmati hal yang simpel adalah makanan, teknologi, tempat tinggal, dan sebagainya.
c. Menghargai kontribusi orang lain (Appreciation of others)
Seseorang yang cenderung bersyukur menghargai pemberian dan bantuan yang diberikan orang lain dalam hidupnya. Hal tersebut didukung oleh McCullough dkk (dalam Watkins, 2003) yang menekankan bahwa perasaan bersyukur muncul salah satunya dikarenakan kontribusi orang lain terhadap seseorang.
2.1.3 Faktor-faktor yang memengaruhi Gratitude
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gratitude menurut Emmons (2016) :
a. Emotionality yaitu suatu kecenderungan dimana seseorang merasa emosional dan menilai kepuasan hidupnya. Secara konseptual, gratitude memang sebuah keadaan individu dimana individu tersebut merasa kagum, berterimakasih, dan menghargai
segala sesuatu yang diterima. Dari pernyataan ini, maka dapat dikatakan bahwa gratitude akan muncul ketika seorang individu berada pada keadaan yang positif terutama secara emosi sehingga dapat memunculkan afek positif dalam diri individu tersebut
b. Well-Being yang dapat membantu remaja untuk menumbuhkan emosi positif, merasakan kepuasan hidup dan kebahagiaan, mengurangi depresi, dan perilaku negatif remaja.
2.2 Kualitas Pertemanan
2.2.1 Definisi Kualitas Pertemanan
Menurut Davis (dalam Hall, 1983) pertemanan merupakan suatu hubungan yang melibatkan kesenangan, pengorbanan, saling menerima dan saling memberi, spontanitas serta adanya perhatian
Menurut Argyle & Henderson (dalam Hildayani, 2006) pertemanan meliputi orang- orang yang menyukai, menyenangi kehadirannya, memiliki kesamaan minat, saling membantu dan memahami, saling memberikan rasa nyaman serta dukungan emosional.
Menurut Santrock (2014) pertemanan merupakan bentuk kedekatan hubungan yang meliputi kesenangan, penerimaan, kepercayaan, penghargaan, bantuan yang saling menguntungkan, saling mempercayai, pengertian, dan spontanitas
Menurut Parker & Asher (1993) kualitas pertemanan adalah adanya perilaku atau tindakan timbal balik yang dirasakan oleh individu dalam hubungan pertemanan, adanya sikap menerima secara keseluruhan dari masing-masing individu, memiliki informasi yang lengkap tentang banyak hal-hal yang berhubungan dengan individu tersebut.
“Friendship quality is the measurement index of friendship, which reflects the support provided by friends, the degree of company, and the level of conflict” (Parker and Asher, 1993) Menurut Berndt (2002) kualitas pertemanan adalah tingkat keunggulan dalam pertemanan yang diambil secara bersama-sama pada dimensi baik dan buruk.
“Friendship quality is defined as an individual's perception of positive and negative aspects with other individuals. The positive aspects that are intended are such as closeness, trust, assistance and negative aspects such as conflict, competition, dominance (Berndt, 2002)
Menurut Brendgen, Markiewicz, Doyle, Anna & Bukowski (2001), Kualitas pertemanan adalah suatu proses bagaimana fungsi pertemanan (mendorong hubungan pertemanan, pertolongan, keintiman, kualitas hubungan yang dapat diandalkan, pengakuan diri, rasa aman secara emosional) dapat terpuaskan.
Berdasarkan definisi diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa kualitas pertemanan adalah hubungan timbal balik antara seorang individu dalam hubungan pertemanan dimana individu menerima seluruh keadaan dan memiliki informasi yang lengkap tentang temannya.
2.2.2 Aspek Kualitas Pertemanan
Aboud dan Mendelson (dalam(Brendgen et al., 2001) mengungkapkan kualitas suatu hubungan pertemanan dipengaruhi oleh aspek-aspek yang dapat berfungsi dengan baik. Aspek- aspek tersebut antara lain:
a. Mendorong hubungan pertemanan (stimulating companionship)
Mengarahkan kepada aktifitas bersama yang membangkitkan kesenangan, kegembiraan, dan gairah atau semangat.
b. Pertolongan (help)
Aspek ini mengarah pada penyediaan atau pemberian tuntutan, bantuan, pemberian informasi, saran dan bentuk bantuan lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sahabatnya.
c. Keintiman (Intimacy)
Aspek keintiman merupakan keadaan dimana individu bersikap peka terhadap kebutuhan dan kondisi sahabatnya. Disamping itu, dalam dimensi terdapat kesediaan untuk menerima sahabat apa adanya.
d. Kualitas hubungan yang dapat diandalkan (relaibel alliance)
Mengarah pada kesanggupan untuk mengandalkan keberadaan dan loyalitas sahabatnya. Disamping itu, aspek ini menunjukkan bagaimana konflik yang terjadi pada pasangan sahabat diselesaikan dengan baik.
e. Pengakuan diri (self validation)
Mengarah pada penerimaan akan orang lain untuk meyakinkan, menyetujui, mendengarkan, dan menjaga gambar diri sahabatnya sebagai pribadi yang kompeten dan berharga. Hal ini seringkali dicapai dengan perbandingan sosial akan atribut serta kepercayaan seseorang.
f. Rasa aman secara emotional (emotional security)
Mengarah pada rasa aman dan keyakinan yang diberikan seorang individu pada situasi- situasi yang baru atau mengancam sahabatnya.
Dalam penelitian ini , aspek kualitas pertemanan yang dipakai adalah yang disampaikan oleh Parker & Asher, tahun 1993. Kualitas pertemanan dijelaskan menggunakan 6 (enam) aspek kualitatif. Dalam publikasinya, Parker & Asher memang tidak menjelaskan secara rinci mengenai aspek-aspek ini. Namun, Parker & Asher memberikan contoh pada karakteristik setiap aspek. Aspek-aspek kualitas pertemanan menurut (Parker & Asher, 1993) adalah:
1. Validation and caring
Dicontohkan dengan karakteristik berupa kepedulian, dukungan dan minat.
Kepedulian adalah sikap memperhatikan sesuatu . Dukungan adalah suatu sikap memberikan bantuan ataupun sokongan. Minat adalah kecendrungan hati yang tinggi terhadap sesuatu ataupun keinginan.
2. Conflict and betrayal
Dicontohkan dengan keadaan sejauh mana hubungan tersebut ditandai dengan argumen, ketidaksepakatan, gangguan, dan ketidakpercayaan .
3. Companionship and recreation
Dicontohkan dengan keadaan sejauh mana teman menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama di dalam atau di luar sekolah.
4. Help and guidance
Dicontohkan dengan keadaan sejauh mana upaya teman untuk membantu satu sama lain dengan tugas rutin atau menantang.
5. Intimate exchange
Dicontohkan dengan keadaan sejauh mana hubungan tersebut ditandai dengan pengungkapan informasi pribadi dan perasaan.
6. Conflict revolution
Dicontohkan dengan keadaan sejauh mana perselisihan dalam hubungan diselesaikan secara efisien dan adil. Ketika konflik dapat diselesaikan dengan baik, biasanya akan mempererat hubungan.
2.2.3 Faktor-faktor pembentuk pertemanan
Menurut Baron & Byrne (2004) menyebutkan bahwa faktor pembentuk pertemanan diantaranya:
a. Ketertarikan secara fisik
Aspek ini menjadi salah satu yang terpenting dalam membangun sebuah hubungan untuk pertama kalinya, perkenalan dan pertemanan yang terus menerus berkembang tergantung pada individu masing-masing.
b. Kesamaan
Kesamaan sangat berkaitan erat dengan pertemanan, karena manusia akan cenderung lebih nyaman ketika berteman, dan dalam pertemanan memiliki beberapa hal kesamaan. Menurut (Salsabila & Maryatmi, 2019) remaja sering kali berkumpul dengan teman yang biasanya memiliki suatu kesamaan, sehingga mereka merasa memiliki keterikatan.
c. Timbal balik
Adanya rasa saling membutuhkan dan saling menolong, sehingga pertemanan akan berkembang dengan baik.
2.2.4 Fungsi Pertemanan
Menurut Gottman dan Parker (dalam Santrock, 2003) menyatakan fungsi pertemanan sebagai berikut :
a. Pertemanan (Companionship)
Pertemanan akan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjalankan fungsi sebagai teman bagi individu lain ketika sama-sama melakukan suatu aktivitas.
b. Stimulasi Kompetensi (Stimulation)
Pada dasarnya, pertemanan akan memberi rangsangan seseorang untuk mengembangkan potensi dirinya kerena memperoleh kesempatan dalam situasi sosial. Artinya melalui pertemanan seseorang memperoleh informasi yang menarik, penting dan memicu potensi, bakat ataupun minat agar berkembang dengan baik.
c. Dukungan Fisik (Physical Support)
Dengan kehadiran fisik seseorang atau beberapa teman, akan menumbukan perasaan berarti (berharga) bagi seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah.
d. Dukungan Ego ( Ego Support)
Pertemanan menyediakan perhatian dan dukungan ego bagi seseorang. Apa yang dihadapi seseorang juga dirasakan, dipikrkan dan ditanggung oleh orang lain (temannya).
e. Perbandingan sosial (Social Comparison)
Pertemanan menyediakan kesempatan secara terbuka untuk mengungkapkan ekspresi kapasitas, kompetensi, minat, bakat dan keahlian seseorang
f. Intimasi / afeksi (Intimacy / affection)
Tanda pertemanan yang sejati adalah adanya ketulusan, kehangatan, dan keakraban satu sama lain. Masing-masing individu tidak ada maksud ataupun niat untuk mengkhianati orang lain karena mereka saling percaya, menghargai dan menghromati keberadaan orang lain
2.3 Remaja
2.3.1 Definisi Remaja
Hurlock (2002) menyatakan bahwa usia remaja awal dimulai dari umur 13 sampai 16 tahun ditandai dengan perubahan fisik yang sangat pesat, sedangkan usia remaja akhir dimulai pada umur 16 atau 17 hingga 18 tahun.
Menurut Monks (2008) remaja merupakan masa transisi dari anak-anak hingga dewasa, Fase remaja tersebut mencerminkan cara berfikir berada dalam tahap formal operational, kondisi ini disebabkan pada masa ini terjadi suatu proses pendewasaan pada diri remaja. Masa tersebut berlangsung dari usia 12 sampai 21 tahun, dengan pembagian sebagai berikut:
a. Masa remaja awal (Early adolescent) umur 12-15 tahun.
b. Masa remaja pertengahan (middle adolescent) umur 15-18 tahun c. Remaja akhir (late adolescent) umur 18-21 tahun.
Menurut King (2012) remaja merupakan perkembangan yang merupakan masa transisisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini dimulai sekitar pada usia 12 tahun dan berakhir pada usia 18 sampai 21 tahun.
Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahaun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah (Diananda, 2019).
Berdasarkan beberapa definisi remaja diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa remaja akhir merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa yang terjadi pada rentang usia 18- 21 tahun.
2.3.2 Tugas Perkembangan remaja
Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst (dalam (Saputro, 2018), sebagai berikut:
1. Menerima kenyataan terjadinya perubahan fisik yang dialaminya dan dapat melakukan peran sesuai dengan jenisnya secara efektif dan merasa puas terhadap keadaan tersebut.
2. Belajar memiliki peranan sosial dengan teman sebaya, baik teman sejenis maupun lawan jenis sesuai dengan jenis kelamin masing-masing.
3. Mencapai kebebasan dari ketergantungan terhadap orangtua dan orang dewasa lainnya.
4. Mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep tentang kehidupan bermasyarakat.
5. Mencari jaminan bahwa suatu saat harus mampu berdiri sendiri dalam bidang ekonomi guna mencapai kebebasan ekonomi.
6. Mempersiapkan diri untuk menentukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kesanggupannya.
7. Memahami dan mampu bertingkah laku yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku.
8. Memperoleh informasi tentang pernikahan dan mempersiapkan diri untuk berkeluarga.
9. Mendapatkan penilaian bahwa dirinya mampu bersikap tepat sesuai dengan pandangan ilmiah.
2.4 Dinamika Psikologis Antara Kualitas Pertemanan dan Gratitude
Setiap manusia menginginkan hubungan yang berkualitas terutama dalam hal menjalin pertemanan. Menurut Parker & Asher (1993 ) kualitas pertemanan adalah adanya perilaku atau tindakan timbal balik yang dirasakan oleh individu dalam hubungan pertemanan, adanya sikap menerima secara keseluruhan dari masing-masing individu, memiliki informasi yang lengkap
tentang banyak hal-hal yang berhubungan dengan individu tersebut. Berndt (dalam Thien, 2012) menyatakan bahwa kualitas pertemanan yang tinggi ditandai dengan tingginya fitur positif seperti perilaku sosial, keintiman, dan loyalitas serta rendahnya fitur negatif seperti konflik dan persaingan.
Menurut Demir, Ozdemir & Weitekamp (dalam Giletta, 2013) pertemanan dianggap menjadi sumber penting dari kebahagiaan. Individu yang bahagia merasa lebih puas dengan pertemanan mereka dan memiliki kualitas pertemanan yang lebih tinggi.Sejumlah studi empiris telah menunjukkan bahwa pertemanan mempengaruhi kesejahteraan individu dan penyesuaian psikologis (Lucas & Dyrenforth dalam Mendelson & Aboud, 2014). Remaja yang memiliki kualitas pertemanan yang tinggi dan stabil memiliki persepsi diri yang sangat positif dan rasa keterasingan diri yang rendah. Hal ini didukung oleh penelitian lain yang menunjukkan bahwa remaja dengan kualitas pertemanan yang tinggi melaporkan well-being yang tinggi (Berndt dan Keefe,2005) , kesepian yang rendah (Ladd dan Coleman,1996) dan kemampuan yang hebat mengatasi stress (Ciariano,dkk, 2007).
Menurut Watkins (2007) gratitude dialami ketika seseorang menegaskan “ bahwa sesuatu yang baik telah terjadi pada mereka, dan mereka menyadari bahwa oranglain sebagian besar bertanggungjawab atas kebaikan yang mereka terima. Literatur yang mengkaji tentang penelitian mengenai psikologi positif menunjukkan bahwa gratitude pada remaja memberikan dampak positif bagi perkembangan emosi, sosial, dan well-being. Penelitian yang dilakukan Rotkirch (2014) menemukan bahwa gratitude berkolerasi dengan tingkat kedekatan personal terhadap teman sebaya maupun saudara bagi remaja. Ia menjelaskan bahwa remaja yang memiliki tingkat gratitude tinggi lebih dapat mengontrol emosi dirinya dalam menghadapi konflik dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat mempererat kedekatan personal dan keterikatan emosional dengan orang lain, terutama pada peer groupnya (Prabowo, 2017) .
Gratitude merupakan suatu bentuk emosi positif dalam mengekspresikan kebahagiaan dan rasa terimakasih terhadap segala kebaikan yang diterima (Seligman, 2002). Menurut Emmons dan Mishra ( dalam Prabowo, 2017) bahwa gratitude adalah dasar kesejahteraan (well-being) dan kesehatan mental sepanjang hidup manusia. Dari masa kanak-kanak hingga usia tua, akumulasi dari keadaan positif secara psikologis, fisik, maupun hubungan relasi dikaitkan dengan gratitude.
Menurut Kneezel dan Emmons (2006), gratitude meningkatkan personal well-being pada individu yang akan memenuhi kebutuhan psikologis dasar yaitu competence, autonomy
dan relatedness. Sedangkan menurut Emmons & McCullough (2004), gratitude akan membuat seseorang lebih bijaksana dalam menyikapi lingkungannya. Sedangkan jika seseorang kurang memiliki gratitude dalam dirinya, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap keharmonisan lingkungan yang telah ada. Disisi lain, hasil penelitian Froh, Kashdan, Ozimkowski, dan Miller (2009) yang menyatakan bahwa gratitude berkorelasi positif pada subjective well being, dukungan sosial, dan perilaku prososial remaja, seperti kepuasan hidup, optimisme, dan kontrol emosi. Hal ini diikuti pula oleh semakin meningkatnya perasaan emosi positif seperti sikap memaafkan, mendukung, dan memotivasi orang lain disekitarnya sehingga dapat mengembangkan hubungan interpersonal yang positif bagi remaja.
Pada penelitian ini menggunakan aspek-aspek kualitas pertemanan menurut Parker &
Asher . Salah satu aspek kualitas pertemanan yaitu help and guidance, jika seseorang memiliki atau mendapatkan aspek ini dalam kuantitas yang banyak atau kualitas yg baik, maka hal itu akan berhubungan dengan aspek gratitude yaitu menghargai kontribusi orang lain.
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir .
2.5 Pengembangan Alat Ukur Skala Syukur Versi Dewasa (SS-VD)
Skala Syukur-Versi Dewasa dikembangkan oleh peneliti dan dosen pembimbing yakni Dina Nazriani, M.A (2021). Skala ini menerapkan 2 (dua) metode pengukuran gratitude yang direkomendasikan oleh Watkins (2014). Pertama, metode self-report akan dicapai dengan pembuatan seperangkat pernyataan dan respon. Kedua, metode pengamatan perilaku akan dicapai dengan memberikan pertanyaan mengenai perilaku-perilaku yang relevan dengan gratitude. Daftar perilaku ini berasal dari sintesis hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai gratitude. Syukur adalah penilaian terhadap kondisi internal dan eksternal yang terjadi pada individu adalah berasal dari Tuhan. Syukur terdiri dari 3 dimensi yaitu kognitif, afektif dan konatif yang setiap dimensinya memiliki indikator yang berbeda sebagai berikut:
a. Dimensi kognitif
Syukur dalam perspektif kognitif adalah keyakinan individu bahwa Tuhan adalah penyebab dari segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal. Individu yang bersyukur mengetahui hal apa saja yang perlu disyukuri (C1) dan mengasosiasikan hal-hal yang terjadi sehari-hari dengan kebersyukuran (C2). Individu juga membiasakan diri untuk bersyukur (C3) dan merincikan hal-hal yang perlu
disyukuri dalam semua hal (C4). Individu dapat menanggulangi kejadian buruk dengan mengkaitkan kepada syukur (C5) dan membandingkan setiap kejadian untuk mendapatkan rincian mengenai hal yang perlu disyukuri (C6).
b. Dimensi afektif
Syukur dalam perspektif afektif adalah kondisi emosional subjektif individu terhadap peran Tuhan dalam segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal.
Afek adalah perubahan perasaan yang terjadi ketika individu menanggapi stimulus yang berkaitan dengan peran aktif Tuhan dalam kehidupan. Individu yang merasa bersyukur dapat menerima kehidupan sebagai pemberian dari Tuhan (A1). Individu mengekspresikan emosi positif dalam kehidupan sehari-hari (A2) dan memiliki keyakinan bahwa segala kebaikan dan keburukan adalah hal yang perlu disyukuri (A3).
Individu mampu mengelola emosi negatif dengan sebaik mungkin (A4) serta mengubah diri menjadi lebih baik (A5).
c. Dimensi Konatif
Syukur dalam perspektif konatif adalah kecenderungan berperilaku individu berkaitan dengan peran Tuhan yang ada dalam segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal. Individu yang bersyukur dapat mengatur kegiatan sehari-hari agar mampu melakukan kegiatan untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan (K1).
Individu melatih diri sendiri untuk selalu melakukan kegiatan yang berasosiasi dengan syukur (K2). Individu juga mengalihkan kegiatan sehari-hari kepada kegiatan yang berasosiasi dengan syukur (K3) serta mengungkapkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari (K4).
Skala Syukur-Versi Dewasa pada awalnya terdiri dari 75 aitem dengan 30 aitem pada dimensi kognitif, 25 aitem pada dimensi afektif dan 20 aitem pada dimensi konatif.
Kemudian, peneliti akan melakukan uji coba aitem tersebut melalui evaluasi psikometri terdiri dari analisis aitem (daya beda aitem), validitas dan reliabilitas yang diharapkan memperoleh jumlah aitem sebanyak 15 aitem dengan 6 aitem pada dimensi kognitif, 5 aitem pada dimensi afektif dan 4 aitem pada dimensi kognitif.
2.6. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari pertanyaan penelitian (Azwar, 2013).
Hipotesis dalam penelitian ini berdasarkan pemaparan dinamika antar variabel di atas adalah ada hubungan positif antara kualitas pertemanan dan gratitude pada remaja akhir . Ada hubungan positif antara gratitude dan kualitas pertemanan pada remaja akhir
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif.
Pendekatan penelitian kuantitatif memandang perilaku manusia dapat diprediksi, objektif dan dapat diukur (Yusuf, 2014). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis korelasional , Penelitian kuantitatif korelasi merupakan penelitian yang berusaha untuk melihat hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat hubungan kualitas pertemanan dan gratitude.
3.2 Identifikasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yaitu antara lain variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Variabel Independen atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab dari perubahan atau timbulnya dependen (terikat). Variabel dependen atau terikat adalah variabel yang di pengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2016). Adapun variabel dalam penelitian ini, yaitu kualitas pertemanan dan gratitude.
3.3 Definisi Operasional Variabel Penelitian 3.3.1 Kualitas Pertemanan
Kualitas pertemanan adalah hubungan timbal balik diantara individu yang ditandai dengan perilaku memberi dukungan, memperhatikan, pertengkaran , penghianatan , menghabiskan waktu bersama , menolong teman , memberikan bimbingan, berbagi rahasia, menjaga rahasia, , dan menyelesaikan konflik bersama-sama.
3.3.2 Gratitude
Gratitude adalah kombinasi dari pikiran, perasaan, perilaku dan evaluasi positif individu terhadap kondisi internal dan eksternal. Dimensi Gratitude menurut Watkins ada 3 : kognitif,afektif, dan konatif. Gratitude diukur menggunakan alat ukur yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori yang disampaikan oleh Philips Charles Watkins (2014).
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007).
Adapun pengambilan subjek dalam penelitian ini mempertimbangkan karakteristik yaitu remaja akhir , yaitu sekitar usia 18 sampai dengan 21 tahun.
3.4.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian merupakan sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. Sampel penelitian ini diambil berdasarkan karakteristik populasi yang telah ditentukan.Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling dengan jenis convenience sampling. Teknik convenience Sampling merupakan teknik yang dilakukan dengan cara peneliti memilih subjek yang tersedia atau berdasarkan kemudahan (Gravetter,F.J.,Forzano, 2012) .
Cara memperoleh jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Isaac dan Michael ( Arikunto,2013) dengan jumlah populasi yang tidak terbatas. Rumus tersebut dijelaskan sebagai berikut:
𝑛 = 𝑧
2. 𝑝. 𝑞 𝑒²
Keterangan:
n= jumlah sampel
z= tingkat signifikansi (1-0,025=0,975) dari distribusi normal 1,96 p= proporsi populasi (80%=0,8)
q= 1-p (1-0,8)= 0,2
e= perkiraan tingkat kesalahan 0,05
Jadi total ukuran sampel pada penelitian ini adalah : 𝑛 =1,96𝑥 0,8 𝑥 0,2
0,05²
=
246 orang3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala Syukur-Versi Remaja (SS- VR), yang dikembangkan oleh peneliti. Pada penelitian ini akan dilaksanakan uji coba agar instrument penelitiannya dapat mengukur gratitude pada remaja, dan skala kualitas pertemanan peneliti mengadaptasi milik (Rokhmah , 2017).
3.6 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 3.6.1 Validitas
Validitas suatu instrument (alat ukur) yaitu seberapa jauh instrument itu benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Semakin tinggi validitas suatu instrument, makin baik instrument itu untuk digunakan (Yusuf,2014). Pengujian validitas alat ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat validitas isi (content validity) alat ukur. Menurut Azwar (2004), validitas isi merupakan validitas yang diestimasi melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau melalui professional judgement. Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai professional judgement adalah dosen.
Aiken (1985) telah merumuskan formula Aiken’s V untuk menghitung content-validity coefficient yang didasarkan pada hasil penilaian panel ahli sebanyak n orang terhadap suatu aitem mengenai sejauh mana aitem tersebut mewakili konstrak yang diukur. Penilaian dilakukan dengan cara memberikan angka antara 1 ( yaitu sangat tidak mewakili atau tidak relevan) sampai dengan 5 (yaitu sangat mewakili atau relevan).
Rumus Aiken’s V V= ∑s / [n(c-1)]
Keterangan :
1o = Angka penilaian validitas yang terendah ( dalam hal ini=1) c = Angka penilaian validitas yang tertinggi ( dalam hal ini=5) r = Angka yang diberikan oleh seorang penilai
s = r-1o
3.6.2 Reliabilitas
Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relative sama (Azwar, 2013). Reliabilitas merupakan tingkat seberapa besar suatu pengukur mengukur dengan stabil dan konsisten. Dengan demikian, reliabilitas mencakup dua hal utama, yaitu koefisien stabilitas ukuran dan konsistensi internal (Sekaran dalam Erlina, 2011).
Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konsistensi internal (Cronbach’s alpha coefficient), yaitu suatu bentuk tes yang hanya memerlukan satu kali pengenaan tes tunggal pada sekelompok individu sebagai subjek dengan tujuan untuk melihat konsistensi antar aitem atau antar bagian dalam skala.Semakin koefisien reliabilitas
mendekati angka 1.00, menunjukkan semakin tinggi reliabilitasnya.Sebaliknya, semakin koefisien reliabilitas mendekati angka 0.00, berarti semakin rendah reliabilitasnya.Untuk menguji reliabilitas ini, peneliti menggunakan bantuan program SPSS version 22.0 for windows.
Rumus Alpha Cronbach:
⸀𝑎𝑐 = (
𝑘𝑘−𝑘1
) (1 −
∑𝜎𝑏²∑𝜎𝑡²
)
Keterangan :
⸀ac= koefisien reliabilitas alpha cronbach k= banyak aitem pertanyaan
∑𝞼b²= jumlah/total varians per-butir/item pertanyaan
∑𝞼t²= jumlah atau total varians 3.7 Prosedur Penelitian
Prosedur pelaksanaaan penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian, dan tahap pengolahan data.
1. Tahap Persiapan Penelitian
a. Mengkaji Referensi/Literatur serta Pembuatan Proposal Penelitian
Peneliti mencari dan mengumpulkan referensi berupa teori, penelitian- penelitian terdahulu/jurnal, serta artikel dari sumber informasi terkait variabel penelitian, yaitu kualitas pertemanan dan gratitude.
b. Menyusun proposal penelitian dari bab I-III c. Melakukan revisi proposal penelitian d. Pembuatan alat ukur
Proses pembuatan alat ukur dimulai dengan menentukan aspek-aspek dari variabel, kemudian menurunkkannya ke indicator perilaku, sampai kemudian tersusun sejumlah aitem. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kualitas pertemanan dari teori Parker dan Asher (1993) serta alat ukur gratitude dari Watkins (2014).
e. Melakukan Professional Judgement
Professional Judgement dilakukan oleh praktisi, dosen, dan remaja.
Professional Judgement dilakukan untuk melihat apakah aitem-aitem yang digunakan pada penelitian sudah sesuai dengan indicator serta para penilai akan memberikan saran terkait alat ukur penelitian.
f. Uji coba alat ukur
Tahap selanjutnya setelah alat ukur dinilai oleh expert judgement yaitu melakukan uji coba alat ukur. Untuk uji coba, alat ukur diberikan kepada 82 remaja yang berusia 12-21 tahun memiliki karakteristik yang mirip dengan subjek penelitian. Uji coba alat ukur dilaksanakan pada tanggal 7 - 9 Juli 2021. Pelaksanaan uji coba alat ukur dilakukan secara online dengan aplikasi google form dan disebar melalui berbagai sosial media seperti whatsapp, Instagram, facebook, dan lain-lain.
g. Revisi alat ukur
Langkah akhir di persiapan penelitian adalah menguji validitas dan reliabilitas alat ukur dengan menggunakan SPSS versi 22 for windows untuk mengetahui aitem-aitem mana saja yang dapat dipertahankan atau dibuang.
Aitem dengan rix ≥ 0,30 akan dipertahankan untuk digunakan. Revisi alat ukur mengacu pada blueprint yang telah dirancang peneliti, hal ini dilakukan agar setiap aspek pada alat ukur tetap terwakilkan.
2. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 Juli - 01 Agustus 2021. Pengambilan data dilakukan melalui google form dan disebarkan melalui sosial media peneliti yaitu Instagram, whatsapp, facebook, twitter. Pada tanggal 01 Agustus 2021 jumlah responden yang mengisi alat ukur adalah 274 orang.
3. Pengolahan Data Penelitian
Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan uji normalitas dan linearitas.
Apabila data memenuhi asumsi normalitas dan linearitas selanjutnya peneliti menganalisis data dengan metode statistik parametric yaitu korelasi pearson product moment menggunakan bantuan program SPSS versi 22.0 for windows. Namun, jika data tidak memenuhi asumsi normalitas dan linearitas, maka selanjutnya peneliti menganalisis data dengan metode statistik non parametrik yaitu korelasi Spearman’s menggunakan bantuan program SPSS versi 22.0 for windows.
3.8 Metode Analisis Data
Metode analisis data diuji statistik dengan menggunakan bantuan software SPSS 22.0 (Statistical Packages for the Social Sciences), yang dilakukan adalah uji validitas dan uji reliabilitas, sedangkan uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas dan linearitas. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi
pearson product moment. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mencari hubungan antara dua variabel, yaitu variabel tergantung dan variabel bebas.
3.9 Skala Syukur- Versi Remaja
Skala ini dibuat berdasarkan pemaparan teoritis mengenai gratitude oleh Philips Charles Watkins (2014). Skala Syukur terdiri dari 3 dimensi yaitu kognitif, afektif,dan konatif yang setiap dimensinya memiliki indikator yang berbeda. Uraian mengenai dimensi dan indikator dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Blue Print Skala Syukur Versi Remaja (sebelum uji coba)
Dimensi Indikator
Aitem Jumlah
Aitem Favourable Unfavourable
Kognitif Mengetahui hal apa saja yang perlu disyukuri (C1)
1,2 3,4,5 5
Mengasosiasikan hal- hal yang terjadi sehari-hari dengan kebersyukuran (C2)
6,7 8,9,10 5
Membiasakan bersyukur dalam semua hal (C3)
11,12,13 14,15 5
Merincikan hal-hal yang perlu disyukuri dalam semua hal (C4)
16,17,18,19 20 5
Menanggulangi kejadian buruk dengan mengkaitkan kepada syukur (C5)
21,22,23 24,25 5
Membandingkan setiap kejadian untuk mendapatkan rincian mengenai hal yang perlu disyukuri (C6)
26,27,28,29 30 5
Afektif Menerima kehidupan sebagai pemberian dari Tuhan (A1)
31,32,33 34,35 5
Menampilkan emosi positif dalam
kehidupan sehari-hari (A2)
36,37,38,39,40 - 5
Meyakini bahwa segala kebaikan dan keburukan adalah hal yang perlu disyukuri (A3)
41, 42, 43 44, 45 5
Mengelola emosi negatif dengan sebaik mungkin (A4)
46,47,48 49,50 5
Mengubah diri menjadi lebih baik (A5)
51,52,53 54,55 5
Konatif Mengatur kegiatan sehari-hari agar mampu melakukan kegiatan untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan (K1)
56,57,58 59,60 5
3.10 Skala Kualitas Pertemanan
Skala yang digunakan pada penelitian ini adalah skala mengenai kualitas pertemanan diadaptasi dari (Rokhmah, 2017) yang disusun berdasarkan aspek kualitas pertemanan oleh Parker & Asher (1993) yaitu validation and caring, conflict and betrayal,companionship and recreation,help and guidance, intimate exchange,conflict resolution. Uraian mengenai dimensi dan indikator dapat dilihat pada tabel 3.2
Tabel 3.2 Blue Print Skala Kualitas Pertemanan
Dimensi Indikator
Aitem
Jumlah Aitem Favorable Unfavorable
Validation and caring
Hubungan pertemanan ditandai dengan memberikan
3 1,2 3
Melatih diri sendiri untuk selalu
melakukan kegiatan yang berasosiasi dengan syukur (K2)
61,62,63 64,65 5
Mengalihkan kegiatan sehari-hari kepada kegiatan yang berasosiasi dengan syukur (K3)
66,67,68 69,70 5
Menggunakan ekspresi-ekspresi syukur dalam
kehidupan sehari-hari (K4)
71,72,73,74 75 5
Total 48 27 75
kepedulian serta dukungan satu sama lain
Conflict and betrayal
Hubungan pertemanan ditandai dengan argumen, perselisihan, rasa kesal, dan ketidakpercayaa n
4,5 6 3
Companionship and recreation
Upaya untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman- teman baik, di dalam
maupun di luar lingkungan akademik atau kerja
8 7 3
Help and guidance
Saling menolong dengan teman
9,11 10 3
Intimate Exchange
Hubungan ditandai dengan jujur dan pengungkapan rahasia satu sama lain
12,13 14 3
Conflict revolution
Hubungan ditandai dengan pemecahan masalah secara bersama-sama
15,16 17 3
Total 10 7 17
3.11 Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis berfungsi untuk mengetahui korelasi antara dua variabel yang diteliti.
Sugiyono (2014) menyatakan bahwa: “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian. Kebenaran dari hipotesis itu harus dibuktikan melalui data yang terkumpul.” Langkah-langkah untuk melakukan pengujian hipotesis dimulai dengan menetapkan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha), pemilihan tes statistik dan perhitungan nilai statistik, penetapan tingkat signifikasi dan penetapan kriteria pengujian.
3.12 Analisis Deskriptif
Menurut Sugiyono (2014) metode analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
3.13 Uji Asumsi
Sebelum dibuat analisis korelasi dan regresi, ada beberapa pengujian yang harus dijalankan terlebih dahulu untuk menguji apakah model yang dipergunakan tersebut mewakili atau mendekati kenyataan yang ada. Untuk menguji kelayakan model regresi yang digunakan, maka harus terlebih dahulu memenuhi uji asumsi klasik.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah variable penelitian ini terdistribusi secara normal atau tidak. Data yang layak digunakan sebagai data penelitian adalah data yang terdistribusi secara normal.Uji ini menggunakan teknik Kolmogorov- Smirnov dengan kaidah yang digunakan bahwa apabila signifikansi > 0.05 maka dikatakan distribusi normal, begitu pula sebaliknya jika signifikansinya < 0.05 maka dikatakan distribusi tidak normal. Uji normalitas sebaran ini menggunakan bantuan program computer Statistical Package For Science (SPSS) versi 22.0
b. Uji Linearitas
Menurut Sugiyono dan Susanto (2015) uji linearitas dapat dipakai untuk mengetahui apakah variabel terikat dengan variabel bebas memiliki hubungan linear atau tidak secara signifikan. Uji linearitas dapat dilakukan melalui test of linearity. Kriteria yang berlaku adalah jika nilai signifikansi pada linearity ≤ 0,05, maka dapat diartikan bahwa antara variabel bebas dan variabel terikat terdapat hubungan yang linear.
3.14 Uji Korelasi
Menurut Lind, Matchal,Wathenn (2008), analisis korelasi adalah sekumpulan teknik untuk mengukur hubungan antara 2 variabel.Gagasan dasar dari analisis korelasi adalah untuk melaporkan hubungan antara 2 variabel. Variabel X dan variable Y dapat menjadi hubungan nonlinear, positif, atau negatif . Uji korelasi yang digunakan pada penelitian ini adalah Korelasi Pearson Product Moment. Menurut Sugiyono (2013) Korelasi Pearson digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variable yang berbentuk interval atau ratio, dan sumber data dari dua variable atau lebih tersebut adalah sama.
Koefisien korelasi yang bergerak dari angka 0 sampai -1.00 maka hubungan tersebut berkolerasi negatif, artinya jika satu variabel naik maka variabel lainnya turun. Adapun koefisien korelasi yang bergerak dari angka 0 sampai +1.00, maka hubungan tersebut berkolerasi positif, yang mana jika satu variabel naik maka variabel lainnya juga ikut naik.
Hubungan antara dua variabel yang memiliki koefisien korelasi +1.00 ataupun -1.00 maka hubungan tersebut sempurna (Sugiyono, 2007).
Adapun kategorisasi tingkat korelasi pearson menurut Sugiyono (2007) yaitu:
Tabel 3.3 Kategorisasi Korelasi Pearson
Interval Korelasi Pearson (r) Kategorisasi
0,000 - 0,199 Sangat Rendah
0,200 - 0,399 Rendah
0,400 - 0,599 Sedang
0,600 - 0,799 Kuat
0,800 – 1,00 Sangat Kuat