KATEKESE DALAM KEHIDUPAN PRIBADI-PRIBADI
KATEKESE BERSAMA ANAK-ANAK DAN KAUM REMAJA
236. «Tahap usia ini, yang secara tradisional dibedakan ke dalam masa kanak-kanak awal atau usia prasekolah dan masa kanak-kanak, dalam pandangan iman dan nalar, memiliki rahmat awal kehidupan»16, yang dicirikan dengan kesederhanaan dan penerimaan yang tulus. Santo Agustinus sudah menunjukkan masa bayi dan masa kanak-kanak
14 AL 297.
15 EG 160.
16 PUK 177.
merupakan saat-saat belajar dialog dengan Sang Guru yang berbicara dalam hatinya. Sejak usia dini anak harus dibantu untuk mengenal dan mengembangkan pemahaman tentang Allah dan intuisi alamiah tentang eksistensi-Nya (bdk. GE 3). Sesungguhnya antropologi dan pedagogi menegaskan bahwa anak mampu mengenal Allah dan bahwa pertanyaan-pertanyaannya tentang makna hidup juga muncul ketika orang tua kurang memperhatikan pendidikan agama. Anak-anak memiliki kemampuan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengertian yang terkait dengan penciptaan, identitas Allah, tentang mengapa ada kebaikan dan kejahatan dan mereka mampu bergembira di hadapan misteri kehidupan dan cinta kasih.
237. Studi-studi yang dilakukan oleh ilmu-ilmu sosial-psikologi-pedagogi dan komunikasi sangat membantu dalam menggambarkan ciri-ciri konkret anak-anak, yang memiliki situasi hidup yang sangat beraneka ragam dalam berbagai konteks geografis. Sesungguhnya, faktor-faktor sosial dan budaya sangatmempengaruhi kondisi anak-anak dan para remaja, persepsi ke-butuhan mereka oleh orang-orang dewasa, cara-cara untuk memahami dan menghidupi dinamika-dinamika keluarga, pengalaman sekolah, relasi dengan masyarakat dan hubungan dengan iman. Secara khusus, perlu dipertimbangkan kondisi digital natives (mereka yang lahir dan hidup dalam teknologi digital) yang menandai sebagian besar anak-anak di dunia. Ini adalah suatu fenomena global, yang konsekuensi-konsekuensinya belum dapat dipahami secara jelas, namun yang sudah tentu sedang mengubah cara-cara berpikir dan berelasi generasi-generasi baru, yang dengan cara tertentu juga mempengaruhi dorongan alami kepada pengalaman religius.
238. Sama pentingnya juga mempertimbangkan bahwa ada banyak anak dan remaja yang sangat terdampak oleh rapuhnya ikatan-ikatan dalam keluarga, meskipun dalam situasi kesejahteraan ekonomi yang baik; yang lain, sebaliknya, saat ini masih hidup dalam keadaan lingkungan yang sangat ditandai dengan kemiskinan, kekerasan dan ketidakstabilan. Anak-anak ini, yang karena berbagai alasan menderita kekurangan acuan yang aman untuk kehidupan, sering kali kemungkinan untuk mengenal dan mengasihi Allah juga berkurang. Komunitas gerejawi hendaklah mampu
berdialog dengan para orang tua jika mungkin, dengan mendukung mereka dalam tugas pendidikan mereka; disamping itu, hendaklah ia hadir dan selalu siap sedia untuk memberikan kepedulian keibuan dan perhatian-perhatian konkret lainnya: inilah pewartaan yang pertama dan mendasar tentang kebaikan yang diselenggarakan Allah.
239. Masa kanak-kanak awal, atau usia prasekolah, adalah waktu yang menentukan untuk menemukan realitas religius, di mana dipelajari dari orang tua dan dari lingkungan kehidupan suatu sikap keterbukaan, penerimaan, atau antipati dan ketertutupan terhadap Allah. Juga dipelajari pengetahuan-pengetahuan awal tentang iman: suatu penemuan pertama akan Bapa yang ada di surga, yang baik dan menyelenggarakan hidup, yang kepada-Nya diarahkan hati dan suatu sikap cinta kasih dan penghormatan;
nama Yesus dan Maria dan beberapa cerita tentang momen-momen utama kehidupan Tuhan Yesus; tanda-tanda, simbol-simbol dan sikap-sikap religius. Dalam konteks ini jangan dipandang rendah nilai perayaan-perayaan utama dari tahun liturgi, misalnya, dengan membuat gua natal di dalam keluarga-keluarga sebagai persiapan untuk Natal,17 dapat me-mungkinkan anak mengalami bentuk katekese melalui partisipasi langsung dalam misteri inkarnasi. Ketika seorang anak sejak kecil, di dalam keluarga atau dalam lingkungan lain perkembangannya, berkontak dengan berbagai aspek hidup kristiani, ia menerima dan menginternalisasi suatu bentuk awal sosialisasi religius sebagai persiapan kepada sosialisasi selanjutnya dan kepada perkembangan suara hati moral Kristiani. Lebih dari katekese dalam pengertiannya yang sebenarnya, pada usia ini menyangkut evangelisasi pertama dan pewartaan iman dalam bentuk pendidikan yang lebih tinggi, menaruh perhatian untuk mengembangkan rasa percaya, kemurahan hati, pemberian diri, doa permohonan dan partisipasi, sebagai kondisi manusiawi di mana ditanamkan kekuatan iman yang menyelamatkan.
240. Masa kanak-kanak (6-10 tahun) sesuai tradisi yang sudah lama diterima di banyak negara, merupakan periode di mana inisiasi Kristiani
17 Bdk. Fransiskus, Surat apostolik Admirabile signum (1 Desember 2019).
yang dimulai dari Pembaptisan dilaksanakan di paroki. Proses perjalanan seluruh inisiasi Kristiani bertujuan untuk memperkenalkan peristiwa-peristiwa utama dari sejarah keselamatan yang akan menjadi objek refleksi yang lebih dalam pada usia-usia selanjutnya dan untuk menyadari secara bertahap identitasnya sendiri sebagai orang yang dibaptis. Dengan katekese inisiasi Kristiani dimaksudkan untuk pengenalan awal iman (pewartaan pertama) dan dengan proses inisiasi anak-anak diantar ke dalam kehidupan Gereja dan kepada perayaan sakramen-sakramen.
Katekese, yang tidak terpisah-pisah tetapi disampaikan berkesinambungan sepanjang proses perjalanan yang menawarkan dalam bentuk mendasar semua misteri kehidupan Kristiani dan pengaruh misteri-misteri itu dalam suara hati moral, memperhatikan juga kondisi-kondisi kehidupan anak-anak dan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang makna. Sesungguhnya, sepanjang proses perjalanan inisiasi diwartakan suatu pengajaran tentang kebenaran iman yang diperkuat dengan kesaksian komunitas, partisipasi dalam liturgi, perjumpaan dengan sabda Yesus dalam Kitab Suci, permulaan karya cinta kasih. Konferensi para Uskup memiliki wewenang menetapkan rentang waktu dan cara-cara pelaksanaan proses inisiasi ke dalam hidup Kristiani dan pemberian sakramen-sakramen.
241. Masa kanak-kanak juga merupakan tahap memasuki dunia sekolah dasar. Anak, yang kemudian menjadi remaja, masuk dalam suatu komunitas yang lebih besar dari keluarga, di mana ia memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual, emosional, dan relasional. Ternyata, di banyak negara di dunia, di sekolah diberikan pengajaran khusus agama dan, dalam beberapa kasus, terdapat peluang untuk melaksanakan katekese inisiasi ke dalam hidup Kristiani dan sakramen-sakramen di sekolah, menurut petunjuk-petunjuk dan arahan Uskup setempat. Dalam konteks-konteks seperti itu, kerja sama di antara katekis-katekis dan guru-guru merupakan sumber daya pendidikan yang penting dan kesempatan yang menguntungkan untuk membuat suatu komunitas orang-orang dewasa tampil sebagai saksi-saksi iman.
242. Kebutuhan untuk membuat proses inisiasi Kristiani sebagai pengantar pengalaman autentik kepada keseluruhan hidup beriman, membuat kita
memandang katekumenat sebagai sumber inspirasi yang sangat penting.
Sangat tepatlah suatu inisiasi Kristiani yang direncanakan menurut model formatif katekumenat namun dengan kriteria, isi dan metodologi yang sesuai bagi anak-anak. Penyampaian pengembangan proses inisiasi Kristiani bagi anak-anak remaja yang diilhami oleh masa katekumenat mem-pertimbangkan waktu, ritus-ritus masa peralihan dan partisipasi aktif pada meja Ekaristi yang menjadi puncak proses inisiasi. Dalam pelaksanaannya katekis-katekis bertanggung jawab membalikkan pandangan tradisional yang lebih memandang anak sebagai objek pelayanan dan perhatian pastoral komunitas, dan mengambil perspektifuntuk mendidik anak secara bertahap, menurut kemampuan-kemampuannya, agar menjadi pelaku aktif di dalam dan di luar komunitas. Selain itu, inspirasi katekumenal memungkinkan untuk mempertimbangkan kembali peran utama keluarga dan seluruh komunitas terhadap anak-anak, dengan mengaktifkan proses-proses evangelisasi timbal balik di antara berbagai subjek gerejawi yang terlibat.
243. Setiap Gereja lokal, melalui kantor-kantor dan badan-badan yang dibentuk, diminta untuk memperhitungkan situasi di mana anak-anak tinggal dan mempelajari cara-cara dan proses inisiasi dan kateketis yang lebih tepat untuk membuat mereka lebih sadar akan keberadaan mereka sebagai anak-anak Allah dan sebagai anggota-anggota Gereja, keluarga Allah, yang pada hari yang dipersembahkan kepada Tuhan berkumpul untuk merayakan Paskah-Nya.
3