• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDAGOGI IMAN DALAM GEREJA

Dalam dokumen Direttorio per la Catechesi (Halaman 123-131)

PEDAGOGI IMAN

PEDAGOGI IMAN DALAM GEREJA

164. Kisah-kisah Injil membuktikan sifat-sifat hubungan edukatif dari Yesus dan mengilhami kegiatan pedagogis Gereja. Sejak awal Gereja telah menghidupi misinya, «sebagai kesinambungan yang kelihatan dan aktual dari pedagogi Bapa dan Putera. Dia, sebagai “Bunda, adalah juga pendidik iman kita.” Inilah alasan-alasan mendalam, mengapa komunitas Kristiani dalam dirinya sendiri adalah katekese yang hidup. Oleh karena itu, jemaat Kristiani memaklumkan, merayakan, melaksanakan, dan tetap sebagai tempat vital, sangat diperlukan danutama dari katekese. Selama berabad-abad, Gereja telah menghasilkan harta pusaka pedagogi iman yang tiada bandingnya: yang terutama adalah kesaksian para katekis yang kudus;

aneka cara dan bentuk-bentuk komunikasi religius yang asli, seperti katekumenat, katekismus, perjalanan hidup Kristen; suatu warisan berharga dari ajaran kateketik, budaya iman, institusi-institusi, dan pelayanan-pelayanan katekese. Semua aspek ini membentuk bagian dari sejarah katekese, dan berdasarkan hak, masuk ke dalam kenangan komunitas dan praksis katekis.»4

165. Katekese diilhami oleh ciri-ciri pedagogi ilahi, yang sudah dijelaskan.

Dengan demikian, katekese menjadi kegiatan pedagogis untuk pelayanan dialog keselamatan antara Allah dengan manusia. Maka, penting bahwa sifat-sifat ini diungkapkan:

 menghadirkan inisiatif cinta kasih Allah yang cuma-cuma;

 menekankan tujuan universal keselamatan;

 membangkitkan pertobatan yang diperlukan untuk ketaatan iman;

 menerima prinsip kebertahapan Wahyu dan transendensi Sabda Allah, demikian juga inkulturasinya dalam budaya-budaya manusia;

 mengakui sentralitas Yesus Kristus, Sabda Allah yang menjadi manusia dan menentukan katekese sebagai pedagogi inkarnasi;

 menghargai pengalaman iman komunitas, sebagai milik umat Allah;

4 PUK 141; bdk. juga KGK 169.

 menyusun pedagogi tanda-tanda, di mana fakta-fakta dan kata-kata saling berhubungan;

 mengenangkan bahwa cinta kasih Allah yang tak terbatas merupakan alasan utama dari segala sesuatu.

166. Perjalanan Allah yang mewahyukan diri-Nya dan menyelamatkan, dan disatukan dengan jawaban iman Gereja dalam sejarah, menjadi sumber dan model pedagogi iman. Katekese digambarkan sebagai proses yang memungkinkan iman menjadi matang dengan menghargai perjalanan pribadi setiap orang beriman. Katekese adalah pedagogi dalam tindakan iman yang melaksanakan suatu karya terpadu: inisiasi, edukasi dan ajaran, karena selalu memiliki kesatuan yang jelas antara isi dan cara meneruskan ajaran iman. Gereja menyadari bahwa dalam katekese Roh Kudus bertindak secara efektif: kehadiran ini menjadikan katekese sebagai pedagogi iman yang sejati.

Kriteria untuk pewartaan pesan Injil

167. Gereja, dalam kegiatan kateketisnya, berusaha untuk setia kepada inti pesan Injili. “Ada kalanya ketika mendengarkan bahasa yang sama sekali ortodoks, umat beriman memperoleh sesuatu yang tidak sesuai dengan Injil Yesus Kristus yang autentik, karena bahasa tersebut asing bagi cara mereka sendiri berbicara dan memahami satu sama lain. Dengan niat suci menyampaikan kebenaran tentang Allah dan kemanusiaan, kita kadang-kadang memberi mereka dewa palsu atau cita-cita manusiawi yang tidak benar-benar Kristiani. Dengan cara demikian, kita berpegang teguh pada suatu rumusan namun gagal menyampaikan substansinya.»5 Untuk menghindari bahaya ini dan agar karya pewartaan Injil dapat diilhami oleh pedagogi Allah, baiklah bahwa katekese mempertimbangkan beberapa kriteria yang saling terkait dengan kuat, sebab semuanya berasal dari Sabda Allah.

5 EG 41.

Kriteria trinitaris dan kristologis

168. Katekese harus memenuhi kriteria trinitaris dan kristologis. «Misteri Tritunggal Mahakudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen.

Itulah misteri kehidupan batin ilahi, dasar pokok segala misteri iman yang lain dan cahaya yang meneranginya.»6 Kristus adalah jalan yang menuntun ke dalam misteri mendalam Allah. Yesus Kristus tidak hanya meneruskan Sabda Allah: Dia adalah Sabda Allah. Wahyu Allah sebagai Trinitas merupakan hal vital untuk pemahaman bukan hanya keaslian satu-satunya Kristianisme dan Gereja, melainkan juga konsep tentang manusia sebagai makhluk relasional dan komunal. Tanpa suatu pesan Injili yang sungguh trinitaris, melalui Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus, katekese akan mengkhianati kekhasannya.

169. Kristosentrisme memberikan ciri khas yang mendasar kepada pesan yang diteruskan oleh katekese. Pada tempat pertama hal ini berarti bahwa yang menjadi pusat katekese adalah pribadi Yesus Kristus yang hidup, hadir dan berkarya. Pewartaan Injil berarti menghadirkan Kristus dan segala sesuatu yang lain mengacu kepada-Nya. Di samping itu, karena Kristus adalah «kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia» (GS 10), katekese membantu orang beriman untuk terlibat secara aktif di dalamnya, dengan menunjukkan bagaimana Kristus menjadi pemenuhan dan makna pokok hidupnya. Akhirnya, Kristosentrisme berarti bahwa katekese berkomitmen untuk «meneruskan apa yang diajarkan Yesus tentang Allah, manusia, kebahagiaan, kehidupan moral dan kematian»,7 karena pesan Injil tidak berasal dari manusia, tetapi merupakan Sabda Allah. Menekankan sifat Kristosentris dari pesan itu meneguhkan jalan mengikuti Kristus dan persekutuan dengan Dia.

170. Katekese dan liturgi, dengan mengambil iman para Bapa Gereja, telah membentuk suatu cara khusus untuk membaca dan menafsirkan Kitab Suci, yang sampai hari ini masih mempertahankan nilainya yang cemerlang. Cara ini dicirikan dengan ditampilkannya kesatuan pribadi Yesus melalui

6 KGK 234.

7 PUK 98.

misteri-Nya,8 yaitu sesuai dengan peristiwa-peristiwa utama hidup-Nya yang dipahami dalam pengertian teologis dan spiritual yang abadi. Misteri-misteri ini dirayakan pada berbagai pesta dalam tahun liturgi dan ditampilkan dalam rangkaian ikonografi yang menghiasi banyak gedung gereja. Dalam penyajian tentang pribadi Yesus dipadukan data biblis dan Tradisi Gereja: cara membaca Kitab Suci seperti ini sangat bermanfaat terutama dalam katekese. Katekese dan liturgi tidak pernah membatasi diri untuk membaca kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara terpisah, tetapi membacanya sebagai suatu kesatuan. Dengan membaca keduanya secara bersama ini menunjukkan bahwa hanya pembacaan Kitab Suci tipologislah, yang memampukan kita untuk memahami sepenuhnya makna peristiwa-peristiwa dan teks-teks yang menceritakan satu-satunya sejarah keselamatan. Cara pembacaan ini menunjukkan kepada katekese suatu jalan berkelanjutan, yang masih sangat relevan hingga saat ini, yang memungkinkan orang yang bertumbuh dalam iman memahami bahwa tak satupun detil perjanjian lama ditiadakan oleh Kristus, tetapi di dalam Dia semua menemukan kepenuhannya.

Kriteria sejarah keselamatan

171. Arti nama Yesus, «Allah menyelamatkan», mengingatkan kita bahwa semua yang merujuk pada Dia diselamatkan. Katekese tidak pernah boleh mengabaikan misteri paskah yang dengannya keselamatan telah diberikan kepada umat manusia dan yang merupakan dasar dari semua sakramen dan sumber dari setiap rahmat. Penebusan, pembenaran, pembebasan, pertobatan dan keputraan ilahi merupakan aspek-aspek penting dari karunia besar keselamatan. «Ekonomi keselamatan memiliki ciri historis, karena itu diwujudkan dalam waktu. […] Gereja, dalam meneruskan pesan kristiani, mulai dengan kesadarannya yang hidup tentang hal itu, serta memiliki kenangan yang tetap akan peristiwa-peristiwa keselamatan pada masa lampau, dengan menarasikannya. Gereja menafsirkan dalam terang peristiwa-peristiwa sejarah umat manusia sekarang ini, di mana Roh Allah terus-menerus membarui muka bumi, dan Gereja menantikan kedatangan

8 Bdk. KGK 512 dst.

Tuhan dengan iman.»9 Maka, penyampaian iman, akan mempertimbangkan fakta-fakta dan kata-kata yang dengannya Allah telah mewahyukan diri-Nya kepada manusia melalui tahap-tahap besar Perjanjian Lama, kehidupan Yesus Putra Allah dan sejarah Gereja.

172. Dalam daya kuasa Roh Kudus, sejarah manusia di mana Gereja berada di dalamnya juga merupakan sejarah keselamatan yang berlangsung sepanjang waktu. Sesungguhnya, Tuhan Yesus mewahyukan bahwa sejarah itu bukan tanpa tujuan sebab ia membawa dalam dirinya kehadiran Allah.

Gereja, dalam peziarahannya sekarang menuju penggenapan Kerajaan Allah, merupakan tanda yang berdaya guna dari tujuan ke mana dunia diarahkan. Injil, dasar pengharapan bagi dunia seluruhnya dan umat manusia sepanjang zaman, memberikan suatu pandangan yang mencakup kepercayaan kepada cinta kasih Allah. Maka, pesan Kristiani selalu disampaikan dalam hubungan dengan makna kehidupan, kebenaran dan martabat pribadi manusia. Kristus telah datang untuk keselamatan kita, supaya kita mempunyai hidup dalam kepenuhan. «Sesungguhnya, hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia menemukan terang sejati» (GS 22). Sabda Allah, yang yang diantarakan oleh katekese, menerangi hidup manusia, memberinya maknanya yang terdalam dan menemani manusia pada jalan-jalan keindahan, kebenaran dan kebaikan.

173. Pewartaan Kerajaan Allah mencakup pesan pembebasan dan kemajuan umat manusia, yang terkait erat dengan pemeliharaan dan tanggung jawab kepada seluruh ciptaan. Keselamatan, yang diberikan oleh Tuhan dan diwartakan oleh Gereja, menyangkut semua persoalan kehidupan sosial. Maka, perlulah mempertimbangkan kompleksitas dunia kontemporer dan hubungan erat yang ada antara budaya, politik, ekonomi, pekerjaan, lingkungan, mutu kehidupan, kemiskinan, kekacauan sosial, peperangan.10 «Injil memiliki prinsip totalitas yang intrinsik: Injil tidak akan berhenti menjadi Kabar Baik selama belum diwartakan kepada semua orang, selama belum menyembuhkan dan menguatkan setiap aspek

9 PUK 107.

10 Bdk. Fransikus, Ensiklik Laudato si’ (24 Mei 2015), 17-52.

kemanusiaan, selama belum menyatukan semua manusia di meja per-jamuan Kerajaan Allah.»11 Bagaimanapun juga, perspektif akhir pewartaan keselamatan adalah selalu kehidupan kekal. Hanya di dalamnya komitmen kepada keadilan dan kerinduan untuk pembebasan akan terlaksana sepenuhnya.

Kriteria keunggulan rahmat dan keindahan

174. Kriteria lain visi hidup Kristiani adalah keunggulan rahmat. Seluruh katekese perlu menjadi «katekese rahmat, karena oleh rahmat kita diselamatkan dan hanya oleh rahmat perbuatan-perbuatan kita dapat menghasilkan buah kehidupan abadi.»12 Maka, kebenaran yang diajarkan bertolak dari prakarsa Allah yang penuh kasih dan berlanjut dengan jawaban manusia yang berasal dari sikap mendengarkan dan selalu merupakan buah rahmat. «Komunitas yang mewartakan Injil mengetahui bahwa Tuhan telah mengambil prakarsa, Dia terlebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1Yoh 4:10.19), sehingga kita dapat bergerak maju, berani mengambil prakarsa».13 Meskipun sadar bahwa hasil katekese tidak bergantung pada kemampuan untuk melaksanakan dan merencanakan, Allah tentu meminta suatu kerja sama dengan rahmat-Nya, dan dengan demikian mengundang untuk menggunakan, dalam pelayanan demi Kerajaan Allah, semua sumber daya kecerdasan dan keterampilan kerja yang diperlukan dalam kegiatan kateketis.

175. «Mewartakan Kristus berarti menunjukkan bahwa percaya kepada-Nya dan mengikuti-kepada-Nya bukan hanya sesuatu yang tepat dan benar, melainkan juga sesuatu yang indah, yang mampu memenuhi hidup dengan semarak yang baru dan sukacita yang mendalam, bahkan di tengah-tengah kesulitan-kesulitan.»14 Katekese perlu selalu meneruskan keindahan Injil yang bergema dari bibir Yesus untuk semua: orang miskin,

11 EG 237.

12 KGK 1697.

13 EG 24.

14 EG 167.

orang sederhana, para pendosa, para pemungut pajak dan pelacur, yang merasa diterima, dimengerti dan dibantu, diundang dan dididik oleh Tuhan sendiri. Sesungguhnya, pemakluman cinta kasih Allah yang berbelas kasihan dan cuma-cuma yang dinyatakan secara penuh dalam diri Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit, adalah inti dari kerygma. Ada juga aspek-aspek pesan Injili yang secara umum sulit untuk dipahami, khususnya di mana Injil memanggil kepada pertobatan dan pengakuan dosa. Meski demikian, katekese bukan terutama penyampaian moral, melainkan pemakluman keindahan Allah, yang dapat dialami, yang menyentuh hati dan budi, dengan mengubah hidup.15

Kriteria ekklesialitas

176. «Iman perlu memiliki bentuk gerejawi, diakui dari dalam Tubuh Kristus, sebagai persekutuan konkret kaum beriman.»16 Sesungguhnya,

«bila katekese meneruskan misteri Kristus, iman seluruh umat Allah bergema dalam pesannya sepanjang perjalanan sejarah: iman yang diterima oleh para Rasul dari Kristus sendiri dan di bawah karya Roh Kudus;

iman para martir yang telah memberikan kesaksian tentang imannya dan masih memberikan kesaksian itu dengan darah mereka; iman para kudus yang telah mereka hayati secara mendalam; iman para Bapa dan Pujangga Gereja yang telah mereka ajarkan dengan gemilang; iman para misionaris yang tanpa henti mereka maklumkan; iman para teolog yang membantu untuk memahaminya dengan lebih baik; iman para gembala yang dengan semangat dan cinta memeliharanya dan menafsirkannya secara autentik.

Sesungguhnya, dalam katekese terdapat iman semua orang yang percaya dan membiarkan diri dituntun oleh Roh Kudus.»17 Selain itu, katekese mengantar umat beriman kepada misteri persekutuan yang hidup, bukan hanya dalam hubungan dengan Bapa melalui Kristus dalam Roh, melainkan juga dalam komunitas kaum/umat beriman melalui karya Roh yang sama.

15 Di EG no. 165 disebutkan secara langsung beberapa “ciri pewartaan yang saat ini paling diperlukan di mana-mana.”

16 Fransikus, Ensiklik Lumen fidei (29 Juni 2013).

17 PUK 105.

Dengan mendidik kepada persekutuan, katekese mendidik untuk hidup dalam Gereja dan sebagai Gereja.

Kriteria kesatuan dan integritas iman

177. Iman, yang diteruskan oleh Gereja, hanya satu adanya. Orang-orang kristiani tersebar di seluruh dunia, namun mereka membentuk hanya satu umat. Juga katekese, meskipun menjelaskan iman dengan bahasa-bahasa budaya yang sangat berbeda satu sama lain, tidak melakukan apa pun kecuali menegaskan kembali satu-satunya pembaptisan, dan satu-satunya iman (bdk. Ef 4:5). «Dia yang menjadi murid Kristus memiliki hak untuk menerima sabda iman yang tidak dipenggal-penggal, tidak dipalsukan, tetapi yang komplet dan integral, dengan semua kekerasan dan kehebatannya.»18 Maka, suatu kriteria fundamental katekese adalah juga mengungkapkan pesan yang utuh, dan menghindari penyampaiannya yang parsial atau tidak sesuai. Sesungguhnya, Kristus tidak memberikan beberapa pengetahuan rahasia kepada sedikit orang yang terpilih dan istimewa (pengetahuan yang disebut gnosi), tetapi ajaran-Nya ditujukan semua orang, sejauh setiap orang cakap untuk menerimanya.

178. Penyampaian integritas kebenaran-kebenaran iman harus memperhitungkan prinsip hierarki kebenaran (bdk. UR 1): sesungguhnya,

«semua kebenaran yang diwahyukan berasal dari sumber ilahi yang sama dan harus dipercayai dengan iman yang sama, namun beberapa di antaranya lebih penting untuk mengungkapkan secara langsung intisari Injil.»19Kesatuan organis iman membuktikan esensi utamanya dan memperbolehkan iman itu untuk diwartakan dan diajarkan dengan segera, tanpa mengurangi dan memperkecilnya. Ajaran, meskipun bertahap dan dengan penyesuaian-penyesuaian terhadap orang-orang dan keadaan, tidak mempengaruhi kesatuan dan kepaduannya.

18 CT 30.

19 EG 36.

3

Dalam dokumen Direttorio per la Catechesi (Halaman 123-131)