• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abineno (2010) mengatakan untuk melihat pendidikan katekisasi ada beberapa jeni-jenis katekisasi yaitu katekisasi keluarga, katekisasi sekolah, dan katekisasi gereja.

Katekisasi keluarga, keluarga adalah tempat mula-mula, dimana bimbingan diberikan. Orang tua berfungsi sebagai pengajar yang pertama. Dan isi pendidikan agama dalam keluarga ialah pengetahuan

tentang hal-hal yang penting dari perjanjian lama dan perjanjian baru. Katekisasi sekolah, sekolah ini sebenarnya bukan sekolah-sekolah umum, tetapi sekolah-sekolah agama yang mempunyai satu pengajaran yaitu alkitab. Katekisasi gereja, di mana katekisasi ditempatkan dalam suatu kerangka yang luas, yaitu kerangka gereja sebagai persekutuan mengajar. Gereja bukan saja terpanggil untuk memberitakan firman, melayani sakramen, mengembalakan anggota jemaat, tetapi juga untuk mengajar dan membina anggotanya. Ketiga jenis katekisasi ini adalah sama karena menyampaikan kepada pengikutnya (anak-anak kristen) hal-hal pokok tentang isi alkitab, tentang gereja dan pelayanannya.

Katekisasi adalah pelayanan gereja, bukan saja dalam arti bahwa gereja yang menyelenggarakannya, tetapi juga bahwa gereja yang bertanggungjawab atas pererencanaan dan pelaksanaannya. Tujuannya adalah bukan pertama-tama supaya anak-anak (pengikut katekisasi) diteguhkan menjadi anggota sidi dan dengan itu menjadi anggota penuh dari gereja, tetapi supaya anak-anak (pengikut katekisasi) percaya kepada Yesus, dan dengan itu mendapat persekutuan dengan dia. Katekisasi bukan hanya pengajaran saja, tetapi juga bimbingan dan latihan yang berlangsung dalam suatu persekutuan. Yaitu antara pendeta

(pemimpin katekisasi) dan anak-anak (pengikut katekisasi).

Abineno (2010: 98-100) mengatakan aspek-aspek utama dari katekisasi adalah:

 Katekisasi adalah pengajaran tentang Allah dan perjanjiannya. Yang dimaksudkan di sini ialah bukan saja bahwa katekese ini diberikan kepada anak-anak muda sebagai anggota-anggota dari perjanjian Allah, tetapi juga bahwa pelayanan ini berlangsung di dalam relasi-relasi dari perjanjian itu.

 Katekisasi ialah bimbingan dalam gereja.

 Katekisasi sebagai pengajaran yang diberikan kepada anak-anak muda, berlangsung di bawah pimpinan roh kudus. Hal ini bukan saja berarti bahwa roh kudus yang memimpin para katekeit dan ketekisan dalam pelayanan katekisasi, tetapi juga bahwa roh kudus dalam pekerjaannya menggunakan katekisasi untuk memuliakan Kristus di dalam jemaat.

 Maksud katekisasi ialah supaya anak-anak muda mengenal Allah dalam seluruh hidup mereka. Yang penting dalam katekisasi ialah bukan saja pengetahuan yang banyak tentang soal-soal alkitab dan gereja tetapi terutama pengenalan akan Allah.

 Tujuan katekisasi ialah supaya anak-anak muda mengenal Allah, dan mengenalNya begitu rupa, sehingga mereka dengan jalan itu dapat hidup bersama-sama dengan Dia.

 Katekisasi ialah pengajaran/ bimbingan gereja kepada semua anggotanya untuk memperlengkapi mereka bagi suatu hidup yang bertanggung-jawab di dalam dunia sebagai anggota-anggota yang dewasa dari gereja.

Penjelasan di atas memberi kesimpulan bahwa pengajaran (katekisasi) merupakan salah satu pelayanan pendidikan di dalam gereja kepada anggota-anggotanya. Namun, lebih dari itu bahwa pengajaran katekisasi mengandung nilai-nilai dan pengajaran tentang pergumulan jati diri atau keberadaan seseorang yang akan menerima Yesus dan yang telah menerima keselamatan (Anugerah) dari Allah.

Unsur keselamatan itu meliputi seluruh dimensi hidup siswa katekisasi di tengah-tengah lingkungan jemaat. Secara pelayanan, katekisasi di dalam gereja sebagai pendidikan merupakan pelayanan gereja yang hakiki, ia sama halnya dengan pelayanan-pelayanan rutinitas gereja lainnya (diakonia, pemberitaan firman, pendampingan, bimbingan, pelatihan, ibadah-ibadah dan lain-lain). Tujuan dari pengajaran katekisasi dengan asuhan dari pengajar kateket (pendeta atau majelis) lewat kurikulum mesti mampu mengangkat

kemauan untuk dapat hidup mencirikan Kristus dan bertanggung jawab atas kehidupannya sebagai gereja dan melibatkan diri dalam berbagai pelayanan gereja.

2.4 Penelitian yang Relevan

Penelitian Jenny Unawekla (2014) tentang manajemen kurikulum komunitas belajar Qaryah Tayyibah, dilihat bahwa dalam aspek perencanaan kurikulum dilakukan oleh masing-masing anak dan guru tidak berperan dalam perencanaan kurikulum. Aspek organisasi kurikulum ditemukan bahwa materi pembelajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri sesuai dengan minat dan kebutuhan. Aspek pelaksanaan kurikulum ditemukan bahwa kegiatan pembelajaran dilakukan secara inspiratif, artinya semua proses belajar anak berasal dari ide yang ditentukan sebelumnya sehingga anak menjadi lebih tertantang untuk mencapai pengetahuan melalui ide yang ditentukan.

Aspek evaluasi ditemukan ada dua hal yaitu pertama evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran di mana yang mengevaluasi adalah anak didik. anak, mengevaluasi proses belajar mereka melalui pencapaian target yang telah direncanakan sebelumnya. Evaluasi oleh guru juga dibutuhkan untuk melihat sejau mana anak berkembang dengan model pembelajaran yang telah dijalankan. Kedua evaluasi terhadap kurikulum pembelajaran di mana kurikulum

yang diterapkan adalah adalah kurikulum berbasis pada kebutuhan anak. Rencana, tujuan, isi dan bahan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan anak dan ditentukan sendiri oleh anak.

Sejalan dengan itu penelitian terkait dengan manajemen kurikulum juga dilakukan oleh Sri Intan Wahyuni (2010) di mana penelitiannya untuk mendeskripsikan dan menganalisis mengenai bagaimana implementasi manajemen kurikulum di MTs Negeri Laboratorium UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta serta mengetahui peranan manajemen kurikulum dalam meningkatkan mutu pembelajaran PAI di MTs Negeri Laboratorium UIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta.

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Implementasi manajemen kurikulum di MTs Negeri Laboratorium UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta meliputi: landasan dan tujuan manajemen kurikulum yaitu KTSP dan Permendiknas tahun 2007, perencanaan kurikulum PAI yaitu penyusunan silabus dan RPP, pelaksanaan kurikulum PAI yaitu pada tingkat sekolah dan tingkat kelas yang dikembangkan oleh masing-masing guru PAI, dan penilaian kurikulum PAI yang dilakukan setelah proses belajar mengajar dan pada akhir semester melalui ujian akhir semester dan ujian nasional.

(2) Manajemen kurikulum dalam meningkatkan mutu pembelajaran PAI dengan melihat beberapa

prinsip diantaranya prinsip relevansi yaitu kurikulum memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat, prinsip fleksibilitas yaitu program pembelajaran yang terencana dilaksanakan secara fleksibel selama proses belajar mengajar, prinsip kontinuitas yaitu pelaksanaan proses belajar mengajar dilakukan secara berkesinambungan, prinsip efisiensi yaitu proses belajar mengajar dilakukan sesuai dengan jadwal yang ditentukan, dan prinsip efektivitas yaitu manajemen kurikulum PAI yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum dapat membawa hasil yang berguna bagi madrasah.

Musanna (2009:10) dalam hasil risetnya mengatakan kurikulum sebagaimana dipahami tidaklah selesai dengan selesainya dokumen kurikulum semata. Tetapi, yang lebih mendasar adalah bagaimana kurikulum tersebut diterapkan dalam keseluruhan aktivitas yang berlangsung, yang pada gilirannya turut memberi kontribusi pada perubahan sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik.

Dokumen terkait