Sektor perdagangan dan jasa juga merupakan sektor yang menjadi unggulan dalam setiap wilayah pengembangan. Sektor ini akan difokuskan untuk dikembangkan pada kawasan perkotaan (PKN, PKNp, PKW, PKWp, dan PKL) Jawa Barat sesuai dengan fungsinya.
Kawasan perdagangan dan jasa yang dimaksud adalah kawasan perdagangan dan jasa yang berada pada simpul perkotaan setingkat PKN/ PKNp untuk melayani kegiatan lintas provinsi atau berada pada simpul perkotaan setingkat PKW/ PKWp untuk melayani kegiatan lintas kabupaten/kota. Kawasan ini juga memiliki prasarana berupa jaringan jalan, pelabuhan laut dan/atau bandar udara, prasarana listrik, telekomunikasi dan air baku. Selain itu, kawasan perdagangan dan jasa hendaknya juga memiliki fasilitas penunjang kegiatan ekonomi kawasan.
Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa diarahkan pada:
1. Mengembangkan kegiatan perdagangan dan jasa guna mewujudkan pusat-pusat kegiatan PKN, PKNp, PKW, PKWp, dan PKL sebagai kawasan perkotaan sesuai dengan fungsinya
2. Membatasi perluasan kegiatan perdagangan di perkotaan pada kawasan yang telah berkembang pesat dan kawasan yang berfungsi lindung
3. Peningkatan sistem informasi pasar dan penguasaan akses pasar lokal, regional, nasional dan internasional
4. Peningkatan sistem distribusi penyediaan kebutuhan pokok masyarakat yang efektif dan efisien
5. Peningkatan perlindungan konsumen, pasar tradisional dan kesadaran penggunaan produksi dalam negeri
6. Penguatan akses dan jaringan perdagangan ekspor
- Kawasan Permukiman
Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai
perikehidupan dan penghidupan.
Pengembangan kawasan permukiman di Jawa Barat dirumuskan dalam bentuk indikasi arahan peraturan zonasi berupa pengaturan pengembangan fungsi kawasan perkotaan untuk PKN dan pengembangan fungsi kawasan perkotaan untuk PKW.
Kawasan pengembangan permukiman perkotaan merujuk pada kriteria berikut: 1. Pengembangan permukiman perkotaan di kawasan rawan bencana alam dan
bencana alam geologi, dilaksanakan dengan persyaratan teknis
2. Berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana gunung api 3. Memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan
4. Memiliki kelengkapan prasarana, sarana, dan utilitas pendukung
5. Sesuai kriteria teknis kawasan peruntukan permukiman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
Arahan pengembangan kawasan permukiman perkotaan adalah :
a. mengembangkan kawasan permukiman vertikal pada kawasan perkotaan dengan intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi
b. kawasan perkotaan yang memiliki karakteristik intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi, mencakup kawasan perkotaan yang menjadi kota inti PKN c. mengendalikan kawasan permukiman horizontal pada kawasan perkotaan dengan
intensitas pemanfaatan ruang menengah, termasuk kota mandiri dan kota satelit d. kawasan perkotaan yang memiliki karakteristik intensitas pemanfaatan ruang
menengah, mencakup kawasan perkotaan selain yang berfungsi sebagai kota inti PKN.
- Ruang Terbuka Hijau (RTH)
RTH menurut RTRWN adalah area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
Dengan memperhatikan definisi dan pembahasan mengenai RTH maka arahan pengembangan RTH adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan luasan RTH minimal 30% dari luasan kawasan perkotaan.
2. Menegaskan dan melindungi kawasan-kawasan yang termasuk ke dalam RTH. Adapun komponen RTH di kawasan perkotaan Jawa Barat dibagi menjadi dua komponen besar, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya.
a. RTH privat, meliputi :
1. pekarangan rumah tinggal
2. halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha 3. taman dan taman di atap bangunan (roof garden) 4. lapangan olahraga
b. RTH publik, meliputi :
1. RTH taman dan hutan kota, meliputi :
a) taman RT, taman RW, taman kelurahan dan taman kecamatan b) taman kota
c) hutan kota
d) sabuk hijau (green belt) 2. RTH jalur hijau jalan, meliputi :
a) pulau jalan dan median jalan b) jalur pejalan kaki
c) ruang di bawah jalan layang 3. RTH fungsi tertentu, meliputi :
a) RTH sempadan rel kereta api
b) jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c) RTH sempadan sungai
d) RTH sempadan pantai
e) RTH pengamanan sumber air baku/mata air f) lapangan olahraga
g) Taman Pemakaman - Kawasan Budidaya Perdesaan
a. Kawasan Permukiman
Pengembangan kawasan permukiman perdesaan, diarahkan pada pengembangan ruang permukiman horisontal dengan mempertimbangkan kegiatan dalam kawasan perdesaan, mencakup kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, pengelolaan sumberdaya alam, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Pengembangan agribisnis dimulai dengan penataan dan penyelesaian permasalahan yang dihadapi di setiap subsistem agribisnis di perdesaan. Dari segi sistem agribisnis yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah :
(1) penataan agribisnis yang ada
(2) perbaikan subsistem agribisbnis yang bermasalah (3) revitalisasi agribisnis untuk pembangunan ekonomi
(4) mengubah proporsi peran agribisnis dalam struktur PDRB Provinsi Jawa Barat, dan
(5) realokasi sumber daya, pendanaan, dan wilayah pertumbuhan agribisnis. Revitalisasi agribisnis dalam kerangka pembangunan ekonomi Provinsi Jawa Barat terkait dengan koreksi, pemantapan, dan pengembangan, kebijakan yang telah dibuat. Koreksi dilakukan untuk menempatkan agribisnis sebagai suatu sistem yang lebih luas, bukan hanya identik dengan sektor pertanian primer. Dengan menempatkan agribisnis sebagai suatu sistem, konsekuensinya akan mengubah proporsi peran agribisnis dalam perekonomian Provinsi Jawa Barat. Implikasi lebih lanjut dari reposisi ini adalah realokasi sumber daya ekonomi yang lebih berat ke pengembangan agribisnis.
c. Kawasan Wisata Perdesaan
Pengembangan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan keunggulan daya tarik wisata di wilayah perdesaan melalui pengembangan produk wisata yang unik, tradisional dan mencerminkan jati diri masyarakat Jawa Barat yang berakar pada alam dan budaya, peningkatan kinerja objek dan daya tarik wisata yang berdaya saing serta pemanfaatan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Selain itu, dilakukan juga peningkatan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community based development) serta kualitas sarana dan prasarana pariwisata dengan standar internasional.
- Kawasan Industri Kecil Menengah (IKM)
Aspek industri diarahkan untuk meningkatkan konsolidasi dan jejaring (networking), melalui peningkatan peran sektor industri kecil dan menengah (IKM), Industri Kreatif, IKM berorientasi ekspor dan IKM berbasis sumberdaya lokal serta ramah lingkungan, dalam struktur industri, peningkatan kemitraaan antarindustri, dan
kekuatan penggerak pertumbuhan ekonomi. Arahan pengembangan kawasan IKM dilakukan dengan penataan sentra-sentra industri yang sudah ada dengan tetap menjaga aspek ramah lingkungan.
- Kawasan Peternakan
Kawasan peternakan mencakup penetapan lokasi yang digunakan untuk kepentingan pengembangan peternakan termasuk penyediaan rumah potong hewan, berupa penyediaan lahan yang memenuhi persyaratan teknis peternakan dan kesehatan hewan.
Pengembangan kawasan peternakan diselenggarakan dalam rangka mencukupi kebutuhan pangan, barang dan jasa asal hewan secara mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, bagi peningkatan kesejahteraan peternak dan masyarakat sekitarnya. Pengembangan kawasan peternakan dapat dilaksanakan secara tersendiri dan/atau terintegrasi dengan budidaya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan bidang lainnya yang terkait.
- Kawasan Pesisir dan Laut
Rencana pengembangan kawasan pesisir Jawa Barat terdiri dari arah pengembangan kawasan permukiman, arah pengembangan kawasan bisnis kelautan dan arah pengembangan kawasan wisata. Arah pengembangan wilayah pesisir Jawa Barat dibedakan ke dalam 2 (dua) wilayah, yaitu wilayah pesisir utara dan wilayah pesisir selatan Jawa Barat.
a. Kawasan Permukiman
Permukiman di wilayah pesisir utara dan selatan Jawa Barat memiliki karakteristik dan masalah yang berbeda, namun secara umum permasalahan permukiman berupa permukiman kumuh dan keterbatasan sarana prasarana dasar permukiman.
Secara mendasar, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan permukiman di wilayah pesisir meliputi :
Prinsip pengembangan;
Pemilihan lokasi;
Kualitas lingkungan;
Aksesibilitas;
Prinsip pengembangan permukiman pesisir mengacu pada prinsip keberlanjutan, harmonis, faktor hukum dan peraturan, daya dukung lingkungan, kondisi eksisting dan profil demografi, kondisi fisik lingkungan, kebutuhan, pelayanan sosial, kepuasan penghuni, supply demand, visi masa depan, isu strategis, konsultasi publik, monitoring dan review program.
Wilayah pesisir yang dapat dikembangkan sebagai lokasi permukiman antara lain : 1. Wilayah pantai terbuka
Tipe permukiman yang dapat dikembangkan adalah permukiman kepadatan rendah, menengah dan tinggi, mengacu pada kriteria kesesuaian lahan. Contoh wilayah ini antara lain pada pantai berpasir dengan kemiringan landai.
2. Wilayah pantai tertutup
Batasan pengembangan kawasan permukiman didasarkan pada aspek lokasi, mitigasi bencana, serta dukungan adanya sistem jaringan transportasi serta diselaraskan dengan rencana pengembangan lainnya. Contoh wilayah ini antara lain teluk, laguna, estuari, dan lain-lain.
Proses penentuan kawasan permukiman di wilayah pesisir adalah berdasarkan :
Kriteria pemilihan lokasi mencakup kriteria fisik-ekologis, kriteria kebijakan, dan kriteria sosial budaya.
Kriteria perencanaan kawasan permukiman di wilayah pesisir mengacu pada kriteria perencanaan tapak kawasan dan pertimbangan masalah lingkungan, mencakup analisis makro dan mikro iklim, analisis daerah rawan banjir dan pasang surut, perencanaan drainase, analisis persediaan air di kawasan, perbandingan tapak kawasan, analisis dampak lingkungan dan data penunjang rencana tapak permukiman.
Pengembangan kawasan permukiman nelayan di kawasan pesisir Jawa Barat diarahkan sebagai berikut :
Wilayah pesisir utara, dilaksanakan melalui pengembangan kawasan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana dasar serta berada di luar kawasan kerusakan pesisir dan rawan bencana pesisir; dan
Wilayah pesisir selatan, dilaksanakan melalui penataan kawasan permukiman berbasis mitigasi bencana, serta peningkatan pelayanan sarana dan prasarana dasar permukiman yang terintegrasi.
Bisnis kelautan meliputi perikanan laut, pariwisata bahari, pertambangan, industri maritim, angkatan laut, bangunan kelautan, dan jasa kelautan. Pengembangan bisnis kelautan Jawa Barat didasarkan pada potensi sumber daya laut, penetapan lokasi-lokasi potensial dan pemanfaatan sumber daya kelautan.
Pengembangan kawasan bisnis kelautan diarahkan pada : a. mengembangkan kawasan di bidang perikanan laut, meliputi :
1. kawasan pelabuhan perikanan; 2. kawasan perikanan tangkap; 3. kawasan perikanan budidaya; dan 4. kawasan industri pengolahan perikanan.
b. mengembangkan kawasan di bidang pertambangan dengan memperhatikan faktor nilai tambah, potensi bahan galian, faktor pembatas, dayadukung dan dayatampung lingkungan serta kebijakan Pemerintah;
c. mengembangkan kawasan di bidang industri maritime dengan memperhatikan : 1. kondisi wilayah hinterland;
2. persaingan dengan wilayah sekitar;
3. lokasi strategis terhadap aglomerasi aktivitas perekonomian masyarakat; 4. kebutuhan permintaan lahan industri;
5. kecenderungan industri yang berkembang; 6. ketersediaan prasarana transportasi regional; 7. ketersediaan jaringan utilitas;
8. keberlanjutan dan berwawasan lingkungan; 9. sumberdaya manusia; dan
10. jaminan keamanan.
d. mengembangkan infrastruktur perhubungan laut, mencakup pelabuhan utama untuk kapal cepat maupun ferry yang menghubungkan antarpulau serta pelayaran rakyat untuk pengangkutan barang dan jasa; dan
e. mengembangkan jasa kelautan, meliputi dukungan jasa finansial dan jasa bisnis informasi.
c. Kawasan Wisata di Wilayah Pesisir
Kawasan wisata di Jawa Barat dikembangkan dengan prinsip pengembangan ekowisata, agrowisata dan wisata budaya, yang didukung ketersediaan infrastruktur yang
menghasilkan pengembangan kawasan wisata yang memiliki aksesibilitas tinggi dengan dukungan kebijakan dan investasi wisata, serta berpotensi dapat memberikan efek pengembangan kegiatan lain yang tentunya mendukung kegiatan wisata itu sendiri.
Arah pengembangan kawasan wisata di wilayah pesisir Jawa Barat terdiri dari: mengembangkan kawasan wisata pesisir, laut dan pulau kecil yang mempertahankan
konservasi lingkungan dan keberadaan kehidupan sosial masyarakat setempat; mengembangkan kawasan wisata di wilayah pesisir utara dengan prioritas pada
pengembangan Kawasan Wisata Budaya Pesisir Cirebon; dan
mengembangkan kawasan wisata bahari di wilayah pesisir selatan yang ditetapkan berdasarkan perwilayahan pengembangan pariwisata secara nasional, meliputi pengembangan Kawasan Pantai Pangandaran, Kawasan Palabuhanratu, dan Pantai Rancabuaya.
- Kawasan Pertahanan dan Keamanan
Rencana kawasan pertahanan keamanan mencakup penetapan lokasi yang digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan, yang bertujuan mengamankan dan menjaga fungsi kawasan pertahanan keamanan. Sedangkan sasaran rencana pengamanan tersebut adalah agar terkendalinya kegiatan pembangunan di kawasan pertahanan keamanan, serta terjaminnya kepentingan pertahanan keamanan.
Kawasan pertahanan keamanan merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan yang terdiri dari kawasan pendidikan dan/atau latihan militer TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut dan Kepolisian, kawasan pangkalan TNI angkatan Udara (Lanud), kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), serta kawasan militer dan kepolisian lainnya. Kawasan pertahanan keamanan ditetapkan berdasarkan lokasi yang telah ditentukan oleh TNI sebagai daerah latihan militer atau daerah pengamanan militer.
Kawasan pertahanan keamanan ditetapkan berdasarkan lokasi yang telah ditentukan oleh TNI sebagai daerah latuhan militer atau daerah pengamanan militer.
a. Penetapan lokasi kawasan pendidikan dan/atau latihan militer TNI Angkatan Darat
Lokasi kawasan pendidikan dan/atau latihan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, meliputi :
Desa Kalibaru, Kecamatan Parung Desa Cogreg
3. Kabupaten Bandung Barat Kecamatan Batujajar Desa Galanggang, Kecamatan Cisarua Situ Lembang, Kecamatan Cipatat Desa Sumur Bandung
4. Kota Cimahi Gunung Bohong dan Kecamatan Cimahi Tengah Desa Setia Manah
5. Kabupaten Bandung Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Nagreg, dan Kecamatan Cimenyan Desa Sindanglaya
6. Kabupaten Sukabumi Kecamatan Ciracap Desa Cibenda 7. Kabupaten Purwakarta Kecamatan Sukasari Desa Kertamanah 8. Kabupaten Karawang Kecamatan Pangkalan Gunung Sanggabuwana
b. Penetapan kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara
Kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara, meliputi: 1. Lanud Husein Sastranegara Kecamatan Andir, Kota Bandung 2. Sulaeman Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung 3. Suryadarma Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang 4. Atang Sanjaya Kecamatan Semplak, Kabupaten Bogor 5. Penggung Kota Cirebon
6. Sukani Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka 7. Nusawiru Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis 8. Wiryadinata Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Tasikmalaya 9. Pameungpeuk, Kecamatan pameungpeuk Kabupaten Garut
10.Kawasan pendidikan/latihan militer TNI AU Detasemen Bravo di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor.
c. Penetapan kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut
Kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut, meliputi : 1. Lanal Bandung di Kota Bandung,
2. Posal Palabuhanratu dan Puslatpur Marinir TNI AL Antralim di Kabupaten Sukabumi, 3. Posal Pangandaran di Kabupaten Ciamis,
4. Lanal Cirebon di Kota Cirebon, 5. Posal Gebang di Kabupaten Cirebon, 6. Posal Eretan di Kabupaten Indramayu, 7. Posal Blanakan di Kabupaten Subang,
Garut
Kawasan Pos Polair, meliputi :
1. Pos Polair Cirebon dengan Sub Pos Kejawanan, Gebang, Bondet, Dadap, Eretan, Mayangan, dan Ciparage
2. Pos Polair Pelabuhanratu dengan Sub Pos Cisolok, Ujunggenteng, dan Ciwaru
3. Pos Polair Pangandaran dengan Sub Pos Kalipucang, Pangandaran, Parigi, Batukaras, dan Pameungpeuk
d. Penetapan lokasi kawasan pendidikan/latihan POLRI
Kawasan pendidikan/latihan POLRI, meliputi :
1. SPN Cisarua, Lembang di Kabupaten Bandung Barat berada di bawah naungan Kepolisian Daerah Provinsi Jawa Barat
2. SPN Lido di Kabupaten Bogor berada di bawah naungan Kepolisian Daerah Metro Jaya
3. Secapa Polri di Kota Sukabumi berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan dan Latihan Markas Besar Polri
e. Penetapan lokasi kawasan militer lainnya
Kawasan militer dan kepolisian lainnya, meliputi :
1. Kodam, Korem, dan Koramil
2. Komando Pendidikan dan Latihan TNI-AD dan Satuan Pelaksana dibawahnya, seperti Pusdik Kav, Pusdiktop, Pusdikzi, dan Pusdik Ajen
3. Pusat Kesenjataan Kavaleri/Pusserkav, Pussen Armed, Pussen Arhanud, dan Pusenif
4. Secapa TNI AD dan Resimen Induk Komando Daerah Militer/Rindam
5. Pangkalan Peluncuran Roket di Pameungpeuk, Kabupaten Garut