• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

B

B

A

A

B

B

I

I

V

V

R

R

E

E

N

N

C

C

A

A

N

N

A

A

P

P

O

O

L

L

A

A

R

R

U

U

A

A

N

N

G

G

Rencana pola ruang wilayah provinsi meliputi rencana pola ruang kawasan lindung dan rencana pola ruang kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis provinsi.

4.1 Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung

Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa, guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan kawasan lindung di Jawa Barat bertujuan untuk mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup, meningkatkan daya dukung lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem antar wilayah guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan di Jawa Barat.

Kawasan lindung Provinsi Jawa Barat meliputi :

a. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, terdiri atas:

1.

kawasan hutan lindung

2.

kawasan resapan air

b. kawasan perlindungan setempat, terdiri atas: 1. sempadan pantai

2. sempadan sungai

3. kawasan sekitar waduk dan danau/situ 4. kawasan sekitar mata air

5. ruang terbuka hijau kota

c. kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, terdiri atas: 1. kawasan cagar alam

2. kawasan suaka margasatwa

3. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya 4. kawasan mangrove

(2)

6. taman hutan raya 7. taman wisata alam

8. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan d. kawasan rawan bencana alam, terdiri atas:

1. kawasan rawan tanah longsor 2. kawasan rawan gelombang pasang 3. kawasan rawan banjir

e. kawasan lindung geologi, terdiri atas :

1. kawasan cagar alam geologi dan kawasan kars 2. kawasan rawan bencana alam geologi

3. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah f. kawasan lindung lainnya, terdiri atas :

1. taman buru

2. kawasan perlindungan plasma nutfah 3. terumbu karang

4. kawasan koridor bagi satwa atau biota laut yang dilindungi

5. kawasan yang sesuai untuk hutan lindung tersebar di luar kawasan hutan negara, yang memiliki skor > 175, yang dihasilkan dari analisis hutan lindung kriteria SK Mentan No. 837/KPTS/Um/11/1980.

Adapun kriteria setiap komponen kawasan lindung dapat dilihat pada tabel 4.1. Sedangkan luas kawasan lindung kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel 4.2.

Berdasarkan jenis dan kriteria kawasan lindung tersebut, maka rencana pola ruang kawasan lindung Provinsi Jawa Barat 2029 adalah :

a. menetapkan kawasan lindung provinsi seluas 45% dari luas seluruh wilayah Daerah yang meliputi kawasan lindung hutan dan kawasan lindung di luar kawasan hutan, serta ditargetkan untuk dicapai pada tahun 2018.

b. mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidroorologis untuk menjamin ketersediaan sumberdaya air

c. mengendalikan pemanfaatan ruang di luar kawasan hutan sehingga tetap berfungsi lindung.

(3)

KRITERIA DAN LOKASI KAWASAN LINDUNG

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria KlasifikasiFisik Lokasi (Kode) 1. Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya

1.1 Kawasan Hutan berfungsi lindung

Hutan

Lindung  Kawasan hutan denganfaktor-faktor kelerengan lapangan, jenis tanah, dan curah hujan dengan nilai skor lebih dari 125; dan/atau;

 Kawasan hutan yang mempunyai kelerengan lapangan 40% atau lebih, dan pada daerah yang keadaan tanahnya peka terhadap erosi dg

kelerengan lapangan lebih dari 25%; dan/atau  Kawasan hutan yg

mempunyai ketinggian 2.000 meter atau lebih diatas permukaan laut.

Hutan Terletak di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH): Bogor, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Bandung Utara, Bandung Selatan, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, Majalengka, Indramayu dan Kuningan. 1.2 Kawasan

resapan air  Kawasan dengan curahhujan rata-rata lebih dari 1000 mm/tahun;

 Lapisan tanahnya berupa pasir halus berukuran minimal 1/16 mm;  Mempunyai kemampuan

meluluskan air dengan kecepatan lebih dari 1 m/hari;

 Kedalaman muka air tanah lebih dari 10 m terhadap permukaan tahan setempat;

 Kelerengan kurang dari 15%;

 Kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari kedudukan muka air tanah dalam.

Non Hutan Tersebar di kabupaten/ kota

2. Kawasan perlindungan setempat

2.1 Sempadan pantai Daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, sekurang-kurangnya 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat

Non Hutan Kab. Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kab. Subang, Kab. Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis, Kab. Cirebon, Kab. Indramayu, Kota Cirebon

2.2 Sempadan

sungai  Sekurang-kurangnya 5 mdi sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 m di sebelah luar

Non Hutan Terletak di seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS)

(4)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan perkotaan  Sekurang-kurangnya 100

m di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan-kiri sungai kecil yang tidak bertanggul diluar kawasan perkotaan  Sekurang-kurangnya 10 m

dari tepi sungai untuk yang mempunyai kedalaman tidak lebih besar dari 3 m

 Sekurang-kurangnya 15 m dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m - 20 m

 Sekurang-kurangnya 20 m dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dr 20 m  Sekurang-kurangnya 100 m dari tepi sungai untuk sungai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut, dan berfungsi sebagai jalur hijau

2.3 Kawasan sekitar waduk dan danau/situ

Daratan sepanjang tepian waduk dan situ yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik waduk dan situ sekurang-kurangnya 50 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Non Hutan  Waduk Ir H. Djuanda-Jatiluhur Kab. Purwakarta;  Waduk Darma, Waduk Wukulut, Waduk Dadap Beredung Kab. Kuningan;

Waduk Cirata (Kab. Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta);  Waduk Cileunca, Waduk CipanunjangSitu Sipatahunan (Kab. Bandung);  Waduk Saguling, Situ Ciburuy, Situ Lembang Kab. Bandung Barat

 Situ Patok, Waduk Sedong Kab. Cirebon;

Situ Gede, Waduk Pongkor, Situ Kemang, Waduk Lido, Waduk Cikaret Kab. Bogor;

 Waduk Cipancuh dan Situ Bolang Kab.

(5)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode) Indramayu;  Waduk Sindang Pano, Waduk Sangyang, Situ Anggrarahan, Situ Rancabeureum (Kab. Majalengka);  Waduk Jatigede (Kab. Sumedang);  Waduk Cibeureum (Kab. Bekasi);  Situ Kamojing (Kab.

Karawang);  Situ Bagendit (Kab.

Garut);  Situ Gede (Kab.

Tasikmalaya);  Situ Bojongsari (Kota

Depok) 7.4. Kawasan sekitar

mata air Kawasan dengan radiussekurang-kurangnya 200 m di sekitar mata air

Non Hutan Lokasi tersebar di Kabupaten/Kota

7.5 RTH Kota  Lahan dengan luas paling

sedikit 2.500 meter persegi;

 Berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur, atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur; dan

 Didominasi komunitas tumbuhan.

Lokasi tersebar di Kabupaten/Kota

3. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya

3.1 Kawasan

cagar alam HutanKonservasi  Kawasan darat dan atauperairan yang ditunjuk mempunyai luas tertentu

yang menunjang

pengelolaan yang efektif dengan daerah penyangga cukup luas serta mempunyai kekhasan jenis tumbuhan, satwa atau ekosistemnya;  Kondisi alam baik biota

maupun fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia

Hutan  CA Arca Domas, CA Yanlapa, dan CA Dungusiwul, terletak di Kab. Bogor;  CA Talaga Warna

terletak di Kab. Bogor dan Kab. Cianjur;

 CA Takokak, CA Cadas Malang, dan CA Bojong Larang Jayanti, terletak di Kab. Cianjur;  CA Gunung Simpang, terletak di Kab. Bandung dan Cianjur;  CA Telaga Patengan, CA Gunung Malabar, CA Cigenteng Cipanji I/II, CA Yung Hun, dan CA Gunung Tilu, terletak di Kab. Bandung;

 CA Papandayan (perluasan) dan CA

(6)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

Kawah Kamojang, terletak di Kab. Bandung dan Garut;  CA Gunung

Tangkuban Parahu, terletak di Kab. Bandung dan Subang;

 CA Talaga Bodas dan Cagar Alam Leuweung Sancang, terletak di Kab. Garut;  CA Sukawayana, Cagar Alam Tangkuban Parahu (Palabuhanratu) & Cagar Alam Cibanteng, terletak di Kab. Sukabumi;  CA Burangrang, terletak di Kab. Purwakarta;  CA Gunung Jagat, terletak di Kab. Sumedang;  CA Pananjung Pangandaran dan Cagar Alam Panjalu/ Koorders, terletak di Kab. Ciamis 3.2. Kawasan suaka margasatwa Hutan

Konservasi  Kawasan yang ditunjukmerupakan tempat hidup & perkembangan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi

 Memiliki keanekaraga-man dan/atau keunikan satwa  Memiliki luas yang cukup

sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan

Hutan  Suaka Margasatwa Cikepuh terletak di Kab.Sukabumi  Suaka Margasatwa Gunung Sawal terletak di Kabupaten Ciamis  Suaka Margasatwa Sindangkerta, terletak di Kab. Tasikmalaya 3.3 Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya

Hutan

Konservasi Kawasan berupa perairanlaut, perairan darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugusan karang dan/atau yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem

Hutan  Suaka Alam Laut Leuweung Sancang, terletak di

Kabupaten Garut

 Suaka Alam Laut Pangandaran, terletak di Kabupaten Ciamis

3.4 Kawasan

mangrove HutanKonservasi Minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.

Hutan  Muara Gembong,

terletak di Kabupaten Bekasi  Muara Bobos dan

Blanakan, terletak di Kabupaten Subang  Tanjung Sedari,

(7)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode) Kabupaten Karawang  Eretan, terletak di pantai Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon 3.5 Taman nasional Hutan

Konservasi  Kawasan darat dan/atauperairan yang ditunjuk relatif luas, tumbuhan dan/atau satwanya memiliki sifat spesifik dan endemik serta berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya;  Dikelola dengan sistem

zonasi yang terdiri atas zona inti, zona

pemanfaatan dan zona lain sesuai dengan keperluan.

Hutan  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Kabupaten Sukabumi , Cianjur, dan Kabupaten Bogor  Taman Nasional Gunung Halimun-Salak terletak di Kabupaten Sukabumi dan Bogor  Taman Nasional Gunung Ciremai, terletak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka 3.6. Taman hutan raya Hutan

Konservasi  Kawasan yang ditunjukmempunyai luasan tertentu, yang dapat merupakan kawasan hutan dan/atau bukan kawasan hutan;  Memiliki bentang alam

dan akses yang baik untuk kepentingan pariwisata.

Hutan  Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda terletak Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan kabupaten Bandung Barat

 Taman Hutan Raya Pancoran Mas terletak di Kota Depok

 Taman Hutan Raya Gn. Kunci dan Palasari terletak di Kab. Sumedang 3.7. Taman wisata alam Hutan

Konservasi  Kawasan darat dan/atauperairan yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan serta memiliki keadaan yang menarik dan indah, baik secara alamiah maupun buatan;  Memenuhi kebutuhan

rekreasi dan/atau olah raga serta mudah dijangkau.

Hutan  Taman Wisata Alam Gunung Salak Endah, Taman Wisata Alam Talaga Warna dan Taman Wisata Alam Gunung Pancar terletak di Kab. Bogor

 Taman Wisata Alam Sukawayana terletak di Kab. Sukabumi

 Taman Wisata Alam Jember terletak di terletak di Kab.Cianjur  Taman Wisata Alam Telaga Patengan dan Taman Wisata Alam

(8)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

Cimanggu terletak di Kab. Bandung

 Taman Wisata Alam Curug Dago, terletak di Kota Bandung  Taman Wisata Gunung Tangkuban Parahu terletak di Kab.Bandung Barat dan Subang  Taman Wisata Alam

Curug Santri, terletak di Kab. Karawang Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, terletak di Kab. Bandung dan Garut

 Taman Wisata Alam Papandayan, Taman Wisata Alam Gn. Guntur, dan Taman Wisata Alam Talaga Bodas, terletak di Kab. Garut  Taman Wisata Alam Gunung Tampomas, terletak di Kab. Sumedang  Taman Wisata Alam Linggarjati, terletak di Kab. Kuningan  Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, terletak di Kab. Ciamis 3.8. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan

 Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan sekurang-kurangnya 50 tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan;

 Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya

Non Hutan  Istana Bogor, Batu Tulis dan Gedung Negara Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I, terletak di Kota Bogor  Istana Cipanas, Megalitikum Gunung Padang,Kawasan Makam Rd. Aria Wiratanudatar di Cikundul, terletak di Kab. Cianjur  Kawasan Gedung Sate,Gedung Merdeka dan Gedung Indonesia Menggugat terletak

(9)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

di Kota Bandung

 Situs Gunung Kendan, Candi Bojong Menje dan Kawasan Makam Syech Mahmud, terletak di Kab. Bandung Observatorium Bosscha dan Kampung Budaya Gua Pawon terletak di Kab. Bandung Barat  Makam Sunan Gunungjati, terletak di Kab. Cirebon  Gua Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan, Makam Sunan Gunung Jati dan Gedung Negara Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah III, terletak di Kota Cirebon

 Museum Linggajati, terletak di Kab. Kuningan

 Kampung Naga dan Kawasan Makam Syech Abdul Muchyi Pamijahan, terletak di Kab. Tasikmalaya  Gunung Kunci,

Komplek Museum Prabu Geusan Ulun & Komplek Makam Dayeuh Luhur, terletak di Kab. Sumedang  Candi Cangkuang, Kampung Dukuh, Kawasan Makam Syech Muhidin dan Gedung Negara Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah IV, terletak di Kab. Garut  Batu Tulis Ciaruteun,

Kampung Budaya Sindangbarang, Kampung Adat Lemah Duhur, dan Gua Gudawang,

(10)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

terletak di Kab. Bogor

Ciung Wanara Karang Kamulyan, Situ Lengkong dan Kampung Kuta, terletak di Kab. Ciamis;  Pulau Biawak, terletak di Kab. Indramayu;  Kampung Ciptagelar, terletak di Kab. Sukabumi Kawasan Makam Syech Tb. Ahmad Bakri dan Gedung Negara Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah II, terletak di Kab. Purwakarta  Kawasan Situs Candi

Jiwa, Makam Syech Quro dan Komplek Monumen

Rengasdengklok, terletak di Kab. Karawang

Lain-lain kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang tersebar di Kabupaten/ Kota

4. Kawasan rawan bencana alam

4.1. Kawasan rawan tanah longsor

 Kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau material campuran;

 Kawasan yang

diidentifikasi sering dan berpotensi mengalami kejadian tanah longsor.

Non Hutan Kab. Bogor, Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Purwakarta, Kab. Sumedang, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis, Kab. Majalengka, Kab. Kuningan, dan Kab. Cirebon

4.2. Kawasan gelombang pasang

 Kawasan sekitar pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari;  Kawasan yang

diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi

No n Hutan Kab. Cirebon, Kab. Indramayu, Kab. Subang, Kab. Karawang, dan Kab. Bekasi

(11)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

mengalami bencana gelombang pasang. 4.3 Kawasan rawan

banjir Kawasan yang diidentifikasisering dan berpotensi tinggi mengalami bencana banjir.

Non Hutan Kab. Ciamis, Kota Banjar, Kab. Cirebon, Kota Cirebon, Kab. Majalengka, Kab. Indramayu, Kab. Subang, Kab. Bandung, Kab. Karawang, dan Kab. Bekasi

5. Kawasan lindung geologi

5.1. Kawasan cagar alam geologi dan kawasan kars

a.Cagar alam geologi

Non Hutan  Kawasan Geologi Pasir Pawon dan Gua Pawon Kab. Bandung Barat  Kawasan Geologi Batu Obsidian Nagreg, terletak di Kab. Bandung  Kawasan Geologi Ciletuh Kab. Sukabumi  Kawasan Geologi

Rancah Kab. Ciamis  Kawasan Geologi

Pasirgintung Kab. Tasikmalaya b.Kawasan Kars Pengertian : Kawasan Kars

merupakan bentang alam yang unik dan langka. Karena terbentuk dengan proses yang berlangsung lama dan hanya dijumpai pada daerah-daerah tertentu, sudah tentu kawasan kars menjadi objek eksplorasi dan eksploitasi manusia.

Non Hutan Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis

5.2. Kawasan rawan bencana alam geologi

a. Kawasan rawan letusan gunung api

 Kawasan dengan jarak atau radius tertentu dari pusat letusan yang terpengaruh langsung dan tidak langsung, dengan tingkat kerawanan yang berbeda;

 Kawasan di sekitar kawah atau kaldera; dan/atau  Kawasan berupa lembah

yang dapat menjadi daerah terlanda awan panas, aliran lahar, lava, lontaran atau guguran bau pijar dan/atau aliran gas beracun.

Non Hutan  Kawasan Gunung Salak, terletak di Kabupaten Bogor dan Sukabumi;  Kawasan Gunung Gede-Pangrango, terletak di Kab. Bogor, Cianjur, dan Sukabumi

 Kawasan Gunung Patuha, Kawasan Gunung Wayang Windu, dan Kawasan Gunung

Talagabodas, terletak di Kab. Bandung

(12)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)  Kawasan Gunung Ciremai, terletak di Kab. Kuningan, Cirebon, dan Majalengka  Kawasan Gunung Guntur, terletak di Kabupaten Garut Kawasan Gunung Tangkuban Parahu, terletak di Kab.Bandung dan Subang  Kawasan Gunung Papandayan, terletak di Kab. Garut dan Bandung  Kawasan Gunung Galunggung, terletak Kab. Tasikmalaya dan Garut b. Kawasan rawan gempa bumi tektonik

 Kawasan yang berpotensi dan/atau pernah

mengalami gempa bumi dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI);  Kawasan yang mempunyai

sejarah kegempaan yang merusak;

 Kawasan yang dilalui oleh patahan aktif

daerah yang mempunyai catatan kegempaan dengan kekuatan (magnitudo) lebih besar dari 5 pada skala richter;  Kawasan dengan batuan

dasar berupa endapan lepas seperti endapan sungai, endapan pantai dan batuan lapuk;  Kawasan lembah

bertebing curam yang disusun batuan mudah longsor.

Non Hutan  Tersebar di daerah rawan gempa bumi Bogor-Puncak-Cianjur, daerah rawangempabumi Sukabumi-Padalarang-Bandung  Daerah rawan gempa bumi Purwakarta-Subang-Majalengka  Daerah rawan gempa bumi Garut-Tasikmalaya-Ciamis

c. Kawasan rawan gerakan tanah

Kawasan dengan kerentanan tinggi untuk terpengaruh gerakan tanah, terutama jika kegiatan manusia

menimbulkan gangguan pada lereng di kawasan ini.

Non Hutan Kab. Bogor, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi, Kab. Purwakarta, Kab. Subang, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Sumedang, Kab. Garut, Kab.

Tasikmalaya, Kab. Ciamis, Kab. Kuningan dan Kab. Majalengka

(13)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

d. Kawasan yang terletak di zona sesar aktif

 Sempadan dengan lebar paling sedikit 250 meter dari tepi jalur patahan aktif;

 Kawasan dengan kerentanan karena terdapat pada zona sesar yang aktif.

Non Hutan  Kawasan yang berada di sekitar Sesar Cimandiri (Palabuhanratu-Padalarang)  Kawasan yang berada di sekitar Sesar Lembang (Bandung Barat)  Kawasan yang berada di sekitar Sesar Baribis (Kuningan-Majalengka) e. Kawasan rawan tsunami

Pantai dengan elevasi rendah dan/atau berpotensi atau pernah mengalami tsunami.

Non Hutan Tersebar di Kab. Ciamis, Kab. Tasikmalaya, Kab. Garut, Kab. Cianjur, dan Kab. Sukabumi f. Kawasan

rawan abrasi

Pantai yang berpotensi memiliki kerentanan terjadinya abrasi dan/atau pernah mengalami abrasi.

Non Hutan Kab. Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Subang, Kab. Indramayu, Kab. Cirebon, Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kab. Garut, Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis 5.3 Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah

Meliputi kriteria kawasan imbuhan air tanah :  Memiliki jenis fisik batuan

tanah dengan

kemampuan meluluskan air dengan jumlah yang berarti;

 Memiliki lapisan penutup tanah berupa pasir sampai lanau;

 Memiliki hubungan hidrogeologis yang menerus dengan daerah lepasan; dan/atau  Memiliki muka air tanah

tidak tertekan yang letaknya lebih tinggi daripada muka air tanah yang tertekan.

Non hutan Tersebar di Kabupaten/Kota

6. Kawasan lindung lainnya

6.1 Taman Buru Hutan

Konservasi  Areal yang ditunjukmempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan; dan atau

Hutan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi terletak di Kab. Bandung, Garut, dan Sumedang

(14)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

 Kawasan yang terdapat satwa buru yang dikembangbiakan sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi, olahraga, dan kelestarian satwa.

6.2 Kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ

 Areal yang ditunjuk memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan;  Merupakan areal tempat

pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut mempunyai luas cukup dan lapangannya tidak membahayakan.  Kawasan perlindungan

plasma nutfah eks-situ adalah kawasan di luar kawasan suaka alam dan pelestarian alam yang diperuntukkan bagi pengembangan dan pelestarian pemanfaatan plasma nutfah tertentu.

Non Hutan  Muara Gembong, terletak di Kabupaten Bekasi  Kebun Raya Bogor,

terletak di Kota Bogor  Taman Safari Indonesia, Taman Buah Mekarsari, dan Gunung Salak Endah, terletak di Kabupaten Bogor  Taman Bunga Nusantara, Kebun Raya Cibodas, terletak di Kabupaten Cianjur  Pantai Pangumbahan dan Perairan Sukawayana, terletak di Kabupaten Sukabumi  Jatiluhur-Sanggabuana, terletak di Kabu-paten Purwakarta  Kawah Putih dan

Gunung Patuha, terletak di Kabupaten Bandung  Kebun Binatang Bandung, terletak di Kota Bandung  Cimapang-Rancabuaya, terletak di Kab. Garut Gunung Cakrabuana, Sirah Cimunjul, dan Gunung Galunggung, terletak di Kab. Tasikmalaya Pantai Majingklak, Karang Kamulyan, Cipanjalu, dan Cukang Taneuh, terletak di Kab. Ciamis  Gunung Ageung, terletak di Kab. Majalengka;

(15)

Fungsi Jenis/Tipe Kriteria Fisik Lokasi (Kode)

 Muara Cimanuk dan Pulau Biawak, terletak di Kab. Indramayu  Kebun Raya Kuningan, terletak di Kab. Kuningan 6.3 Kawasan

Terumbu Karang  Berupa kawasan yangberbentuk dari koloni masif dari hewan kecil yang secara bertahap membentuk terumbu karang;

 Terdapat di sepanjang pantai dengan kedalaman paling dalam 40 meter; dan

 Dipisahkan oleh laguna dengan kedalaman antara 40 sampai dengan 75 meter.

Perairan Laut  Pantai Cilamaya, terletak di Kab. Karawang

 Pantai Bobos di Kab. Subang

 Pantai Majakerta dan Pulau Biawak di Kab. Indramayu

 Pantai Karang Hawu, Cisolok, Citepus, Surade, Ciracap, Ciwaru di Kab. Sukabumi  Santolo, Cilauteureun sampai Cagar Alam sancang, Cikelet di Kab. Garut  Pantai Cipatujah

sampai

Karangtawulan di Kab. Tasikmlaya  Pantai Krapyak,

Pantai Timur dan Barat Cagar Alam Pananjung, Pantai Karang Jaladri di Kab. Ciamis

6.4 Kawasan Koridor bagi Satwa atau Biota Laut yang Dilindungi

 Berupa kawasan yang memiliki ekosistem unik, biota endemik, atau proses-proses penunjang kehidupan; dan

 Mendukung alur migrasi biota laut.

 Tempat bertelur penyu hijau, terdapat di Ciracap dan Ujung Genteng, Kab. Sukabumi  Tempat bertelur

penyu hijau, terdapat di Pantai Keusik Luhur, Kab. Ciamis  Tempat bertelur penyu, terdapat di Pantai Cipatujah, Kab. Tasikmalaya 6.5 Kawasan yang sesuai untuk hutan lindung

Kawasan yang berdasarkan kriteria teknis digolongkan ke dalam kawasan lindung

Non hutan Tersebar di luar kawasan hutan negara, yang memiliki skor > 175, dihasilkan dari analisis hutan lindung kriteria SK Mentan No. 837/KPTS/Um/11/1980 Sumber : Keppres No. 32/1990, SK Menhut No. 419/Kpts II/1999, Perda No. 2/1996, PP No 26 Tahun 2008

tentang RTRWN, Peta Penunjukkan Kawasan Hutan Provinsi Jawa Barat (sesuai Surat Menhut Nomor S.276/Menhut-VII/2010), Hasil Analisis Bappeda Provinsi Jawa Barat, 2009

(16)
(17)
(18)

Berdasarkan proporsi kawasan lindung per kabupaten/kota, Kabupaten Garut memiliki luas kawasan lindung terbesar yaitu 81,39%, selanjutnya Kabupaten Bandung 70,40%, Kabupaten Tasikmalaya 64,32%, Kabupaten Cianjur 58,27%, dan Kabupaten Bandung Barat sebesar 57,18%. Dengan demikian, untuk mencapai rencana penetapan kawasan lindung di Jawa Barat sebesar 45% sasaran pengembangan kawasan lindung adalah :

a. Tercapainya proporsi luas kawasan lindung Jawa Barat sebesar 45 % dari luas Jawa Barat atas dasar kriteria kawasan-kawasan yang berfungsi lindung.

b. Terjaganya fungsi lindung pada kawasan lindung non hutan.

c. Terjaganya kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidroorologis. Terjaminnya ketersediaan sumber daya air.

d. Berkurangnya lahan kritis.

e. Terbentuknya kawasan penyangga di sekitar kawasan hutan lindung dan konservasi. f. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya pada kawasan lindung.

g. Berkurangnya dampak bencana alam yang diakibatkan oleh kerusakan alam.

4.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan budidaya yang menjadi kewenangan provinsi dan merupakan kawasan strategis provinsi, dapat berupa kawasan peruntukan hutan produksi, kawasan peruntukan hutan rakyat, kawasan peruntukan pertanian pangan , kawasan peruntukan perkebunan, kawasan peruntukan perikanan, kawasan peruntukan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan peruntukan pariwisata, kawasan peruntukan lainnya.

4.2.1 Kawasan Hutan Produksi

Dengan memperhatikan kriteria kawasan budidaya hutan produksi yang terdapat dalam RTRWN maka arah pengembangan kawasan budidaya hutan produksi adalah : 1. Meningkatkan pembangunan lintas sektor dan subsektor, serta kegiatan ekonomi

sekitarnya

2. Meningkatkan fungsi lindung

(19)

5. Meningkatkan kesempatan kerja terutama masyarakat setempat

6. Mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat.

4.2.2 Kawasan Hutan Rakyat

Arah pengembangan kawasan budidaya hutan rakyat adalah sebagai berikut : 1. Mengarahkan pengembangan kawasan budidaya hutan rakyat pada kawasan yang

dapat diusahakan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik. 2. Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumber daya hutan

3. Mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat

4.2.3 Kawasan Pertanian Pangan

Kawasan budidaya pertanian pangan merupakan kawasan yang ditujukan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Karena memiliki fungsi yang demikian krusial maka arahan pengembangan pertanian difokuskan pada :

1. Mempertahankan kawasan pertanian pangan irigasi teknis 2. Mendukung ketahanan pangan provinsi dan nasional

3. Meningkatkan produktivitas melalui pola intensifikasi, diversifikasi, dan pola tanam yang sesuai dengan kondisi tanah dan perubahan iklim

4. Ditunjang dengan pengembangan infrastruktur sumberdaya air yang mampu menjamin ketersediaan air

5. Meningkatkan kesejahteraan petani dan pemanfaatan yang lestari.

Pengembangan kawasan pertanian pangan merujuk pada ketentuan sebagai berikut:

1. Memiliki kesesuaian lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian 2. Terutama berada dalam di lahan beririgasi teknis

3. memiliki kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan hortikultura dan memperhatikan aspek penetapan kawasan hortikultura sesuai ketentuan peraturan perundangan.

Kawasan pertanian pangan irigasi teknis, tersebar di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten

(20)

Majalengka, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, Kota Bogor, Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar.

4.2.4 Kawasan Perkebunan

Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan untuk:

1. meningkatkan pembangunan lintas sektor dan subsektor, serta kegiatan ekonomi sekitarnya

2. meningkatkan pendapatan daerah

3. meningkatkan kesempatan kerja masyarakat setempat

4. mendorong terciptanya keterkaitan sektor hulu dan hilir perkebunan yang dapat menstimulasi pengembangan ekonomi wilayah

5. meningkatkan nilai ekspor

6. mendukung keberlanjutan ekosistem di wilayah sekitarnya, terutama yang berfungsi lindung.

Kawasan perkebunan, ditetapkan dengan ketentuan:

1. memiliki kesesuaian lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan perkebunan 2. memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan perkebunan

Kawasan perkebunan, tersebar di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, Indramayu, Subang, dan Purwakarta.

4.2.5 Kawasan Perikanan

Pengembangan kawasan perikanan, meliputi: a. pengembangan kawasan budidaya air tawar; b. pengembangan kawasan budidaya air payau; c. pengembangan kawasan budidaya air laut; dan

d. pengembangan kawasan industri pengolahan perikanan. Pengembangan kawasan perikanan, dilaksanakan untuk: a. meningkatkan produksi ikan;

(21)

d. meningkatkan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja; e. meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan dan udang; dan f. meningkatkan pengelolaan dan pelestarian sumberdaya perikanan.

Kawasan Perikanan, tersebar di Kabupaten Bekasi, Subang, Karawang, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Bandung, Bogor, dan Sukabumi

4.2.6 Kawasan Pertambangan

Pengembangan kawasan pertambangan di perdesaan dilakukan dengan menjaga kualitas lingkungan seingga kemantapan sektor pertambangan yang sudah tercapai terus terjaga dan ditingkatkan sehingga pada tahapan ini adalah masa pemeliharaan pasokan pertambangan, mantapnya desa mandiri pertambangan, mantapnya kemampuan masyarakat dalam pembangunan sektor pertambangan.

Pengembangan kawasan pertambangan secara kewilayahan dalam bentuk Wilayah Pertambangan yang terdiri dari Wilayah Pencadangan Negara (WPN), Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) maupun Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), diarahkan untuk:

1. Meningkatkan pendapatan daerah dan perekonomian wilayah 2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan

3. Mendorong peningkatan nilai tambah barang tambang untuk ekspor

4. Mendorong upaya pengendalian pemanfaatan kawasan pertambangan secara lestari, baik untuk pertambangan skala besar maupun skala kecil

5. Meningkatkan penerapan penambangan yang memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja

6. Meningkatkan penanggulangan kerusakan lahan di wilayah kerja pertambangan 7. Mendukung keberlanjutan ekosistem di wilayah sekitar kawasan

8. Mengembangkan alih teknologi penambangan bagi masyarakat sekitar kawasan Kriteria kawasan pertambangan yang dimaksud adalah kawasan yang :

1. Memiliki sumberdaya dan potensi pertambangan yang berwujud padat, cair atau gas berdasarkan data geologi, setelah dikoreksi oleh ruang yang tidak diperbolehkan, dan masih layak untuk dieksploitasi secara ekonomis

(22)

pertambangan secara berkelanjutan dan bukan merupakan daerah rawan bencana dengan kerentanan bencana tinggi

3. Merupakan bagian proses upaya mengubah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil

4. Tidak mengganggu fungsi kelestarian lingkungan hidup dan masyarakat sekitarnya 5. Tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Penetapan kawasan pertambangan dilaksanakan : 1. Secara transparan, partisipatif dan bertanggungjawab;

2. Secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait dan masyarakat, dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan

3. memperhatikan aspirasi kabupaten/kota

4.2.7 Kawasan Industri

Pembangunan lokasi industri ditetapkan dengan ketentuan :

a. Kewajiban perusahaan industri berlokasi di kawasan industri kecuali untuk industri yang memerlukan lokasi khusus, industri mikro, kecil dan menengah, serta industri di kabupaten/kota yang belum memiliki kawasan industri,sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

b. Memenuhi ketentuan teknis, tata ruang dan lingkungan untuk kegiatan industri, serta efisien, memberikan kemudahan dan dayatarik bagi investasi

c. Tidak mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup dan menjamin pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan

d. Tidak mengubah kawasan pertanian berlahan basah dan beririgasi teknis; dan menyediakan lahan bagi kegiatan usaha mikro, kecil dan menengah

Dengan mempertimbangkan hasil analisis ekonomi untuk Jawa Barat maka arahan pengembangan bagi kawasan industri ditekankan pada :

1. Mengoptimalkan kawasan industri yang telah ada di koridor Cikarang-Cikampek

2. Mengembangkan kawasan industri di koridor Bandung-Cirebon dan koridor Sukabumi-Bogor

3. Mendorong pengembangan industri kreatif dan telematika di WP KK Cekungan Bandung

(23)

dan membangkitkan kegiatan ekonomi

5. Memprioritaskan pengembangan industri yang menerapkan manajemen dan kendali mutu,clean development mechanism, serta produksi bersih

6. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan industry mikro, kecil, dan menengah yang ramah lingkungan, hemat lahan dan dapat menyerap tenaga kerja lokal

Pembangunan lokasi industri yang dilakukan di luar kawasan industri atau zona industri, ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. memperhatikan keseimbangan dan kelestarian sumberdaya alam serta mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup

b. dilengkapi dengan unit pengolahan limbah

c. memperhatikan pasokan air bersih dari sumber air permukaan

d. industri ramah lingkungan dan memenuhi kriteria ambang limbah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

e. pengelolaan limbah secara terpadu untuk industri dengan lokasi berdekatan

Dalam hal pengembangan kawasan industri yang telah ada untuk mengoptimalkan fungsi kawasan industri di Jawa Barat, ditetapkan beberapa kawasan industri baik yang sudah operasional maupun yang belum operasional, diantaranya :

1. Kawasan Industri MM2100 Industrial Town, Cibitung Kab. Bekasi 2. Kawasan Industri EJIP (NEGAI), Cikarang, Cibarusah, Kab. Bekasi

3. Kawasan Industri Bekasi International Industrial Estate, Desa Sukaresmi, Kab. Bekasi 4. Kawasan Industri Jababeka Cikarang & Cilegon, Cikarang dan Cilegon, Kab. Bekasi 5. Kawasan Industri Lippo Cikarang Industrial Park, Cikarang, Kab. Bekasi

6. Kawasan Industri Patria Manunggal Jaya Industrial Estate, Cikarang, Kab. Bekasi 7. Kawasan Industri Gobel, Cibitung, Kab. Bekasi

8. Kawasan Industri Marunda Centre-International Warehouse & Industrial Estate, Kab. Bekasi

9. Kawasan Industri Sentul, Kab. Bogor

10. Kawasan Industri Cibinong Centre Industrial Estate, Kec. Citeureup-Klapanunggal, Kab. Bogor

11. Kawasan Industri KIIC, Kec. Teluk Jambe, Kab. Karawang

12. Kawasan Industri Taman Niaga Karawang Prima, Kec. Teluk Jambe, Kab. Karawang 13. Kawasan Industri Indotaisei Kota Bukit Indah, Kec. Cikampek, Kab. Karawang 14. Kawasan Industri Kujang Cikampek, Kec. Cikampek, Kab. Karawang

(24)

16. Kawasan Industri Mitrakarawang, Kec. Ciampel, Kab. Karawang 17. Kawasan Industri Karawang 2000 Industrial Estate, Kab. Karawang

18. Kawasan Industri Suryacipta City of Industry, Kec. Ciampel, Kab. Karawang 19. Kawasan Industri Kota Bukit Indah-Industrial City, Kab. Karawang dan Kab.

Purwakarta

20. Kawasan Industri Lion, Kec. Campaka, Kab. Purwakarta 21. Kawasan Industri Ciambar, Kab. Sukabumi.

22. Kawasan Industri Rancaekek Industrial Estate, Kab. Sumedang dan Kab. Bandung

4.2.8 Kawasan Pariwisata

Kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Pengembangan kawasan pariwisata di Jawa Barat diarahkan kepada tiga jalur wisata unggulan, yaitu kawasan wisata unggulan jalur utara, tengah dan selatan. Kawasan wisata unggulan yang terletak pada jalur utara adalah :

a. Kawasan Wisata Industri dan Bisnis Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang b. Kawasan Wisata Agro di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten

Purwakarta, Kabupaten Subang dan Kabupaten Cirebon c. Kawasan Wisata Budaya Pesisir Cirebon

Kawasan wisata yang terletak di jalur tengah adalah :

a. Kawasan Eko Wisata Puncak, Kebun Raya Cibodas, Gunung Gede-Pangrango, Talaga Warna, Gunung Tangkubanparahu, Gunung Ciremai, Gunung Halimun dan Pegunungan di kawasan Bandung Selatan

b. Kawasan Wisata Agro Kabupaten Bogor, Kota Bogor,Kabupaten Cianjur, Kota Sukabumi, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung

c. Kawasan Wisata Perkotaan dan Pendidikan di WP KK Cekungan Bandung d. Kawasan Wisata Kriya dan Budaya Priangan

Kawasan wisata yang terletak di jalur selatan adalah :

a. Kawasan Eko Wisata Palabuhanratu, Cipatujah, Hutan Sancang, Ujunggenteng, Rancabuaya, Cilauteureun dan Cijayanti

(25)

Tasikmalaya dan Kota Banjar

c. Kawasan Wisata Minat Khusus Daerah bagian Selatan d. Kawasan Wisata Rekreasi Pantai Pangandaran

4.2.9 Kawasan Budidaya lainnya - Kawasan Perdagangan dan Jasa

Sektor perdagangan dan jasa juga merupakan sektor yang menjadi unggulan dalam setiap wilayah pengembangan. Sektor ini akan difokuskan untuk dikembangkan pada kawasan perkotaan (PKN, PKNp, PKW, PKWp, dan PKL) Jawa Barat sesuai dengan fungsinya.

Kawasan perdagangan dan jasa yang dimaksud adalah kawasan perdagangan dan jasa yang berada pada simpul perkotaan setingkat PKN/ PKNp untuk melayani kegiatan lintas provinsi atau berada pada simpul perkotaan setingkat PKW/ PKWp untuk melayani kegiatan lintas kabupaten/kota. Kawasan ini juga memiliki prasarana berupa jaringan jalan, pelabuhan laut dan/atau bandar udara, prasarana listrik, telekomunikasi dan air baku. Selain itu, kawasan perdagangan dan jasa hendaknya juga memiliki fasilitas penunjang kegiatan ekonomi kawasan.

Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa diarahkan pada:

1. Mengembangkan kegiatan perdagangan dan jasa guna mewujudkan pusat-pusat kegiatan PKN, PKNp, PKW, PKWp, dan PKL sebagai kawasan perkotaan sesuai dengan fungsinya

2. Membatasi perluasan kegiatan perdagangan di perkotaan pada kawasan yang telah berkembang pesat dan kawasan yang berfungsi lindung

3. Peningkatan sistem informasi pasar dan penguasaan akses pasar lokal, regional, nasional dan internasional

4. Peningkatan sistem distribusi penyediaan kebutuhan pokok masyarakat yang efektif dan efisien

5. Peningkatan perlindungan konsumen, pasar tradisional dan kesadaran penggunaan produksi dalam negeri

6. Penguatan akses dan jaringan perdagangan ekspor

- Kawasan Permukiman

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai

(26)

perikehidupan dan penghidupan.

Pengembangan kawasan permukiman di Jawa Barat dirumuskan dalam bentuk indikasi arahan peraturan zonasi berupa pengaturan pengembangan fungsi kawasan perkotaan untuk PKN dan pengembangan fungsi kawasan perkotaan untuk PKW.

Kawasan pengembangan permukiman perkotaan merujuk pada kriteria berikut: 1. Pengembangan permukiman perkotaan di kawasan rawan bencana alam dan

bencana alam geologi, dilaksanakan dengan persyaratan teknis

2. Berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana gunung api 3. Memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan

4. Memiliki kelengkapan prasarana, sarana, dan utilitas pendukung

5. Sesuai kriteria teknis kawasan peruntukan permukiman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan

Arahan pengembangan kawasan permukiman perkotaan adalah :

a. mengembangkan kawasan permukiman vertikal pada kawasan perkotaan dengan intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi

b. kawasan perkotaan yang memiliki karakteristik intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi, mencakup kawasan perkotaan yang menjadi kota inti PKN c. mengendalikan kawasan permukiman horizontal pada kawasan perkotaan dengan

intensitas pemanfaatan ruang menengah, termasuk kota mandiri dan kota satelit d. kawasan perkotaan yang memiliki karakteristik intensitas pemanfaatan ruang

menengah, mencakup kawasan perkotaan selain yang berfungsi sebagai kota inti PKN.

- Ruang Terbuka Hijau (RTH)

RTH menurut RTRWN adalah area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Dengan memperhatikan definisi dan pembahasan mengenai RTH maka arahan pengembangan RTH adalah sebagai berikut :

1. Mengembangkan luasan RTH minimal 30% dari luasan kawasan perkotaan.

2. Menegaskan dan melindungi kawasan-kawasan yang termasuk ke dalam RTH. Adapun komponen RTH di kawasan perkotaan Jawa Barat dibagi menjadi dua komponen besar, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya.

(27)

a. RTH privat, meliputi :

1. pekarangan rumah tinggal

2. halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha 3. taman dan taman di atap bangunan (roof garden) 4. lapangan olahraga

b. RTH publik, meliputi :

1. RTH taman dan hutan kota, meliputi :

a) taman RT, taman RW, taman kelurahan dan taman kecamatan b) taman kota

c) hutan kota

d) sabuk hijau (green belt) 2. RTH jalur hijau jalan, meliputi :

a) pulau jalan dan median jalan b) jalur pejalan kaki

c) ruang di bawah jalan layang 3. RTH fungsi tertentu, meliputi :

a) RTH sempadan rel kereta api

b) jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c) RTH sempadan sungai

d) RTH sempadan pantai

e) RTH pengamanan sumber air baku/mata air f) lapangan olahraga

g) Taman Pemakaman - Kawasan Budidaya Perdesaan

a. Kawasan Permukiman

Pengembangan kawasan permukiman perdesaan, diarahkan pada pengembangan ruang permukiman horisontal dengan mempertimbangkan kegiatan dalam kawasan perdesaan, mencakup kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, pengelolaan sumberdaya alam, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

(28)

Pengembangan agribisnis dimulai dengan penataan dan penyelesaian permasalahan yang dihadapi di setiap subsistem agribisnis di perdesaan. Dari segi sistem agribisnis yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah :

(1) penataan agribisnis yang ada

(2) perbaikan subsistem agribisbnis yang bermasalah (3) revitalisasi agribisnis untuk pembangunan ekonomi

(4) mengubah proporsi peran agribisnis dalam struktur PDRB Provinsi Jawa Barat, dan

(5) realokasi sumber daya, pendanaan, dan wilayah pertumbuhan agribisnis. Revitalisasi agribisnis dalam kerangka pembangunan ekonomi Provinsi Jawa Barat terkait dengan koreksi, pemantapan, dan pengembangan, kebijakan yang telah dibuat. Koreksi dilakukan untuk menempatkan agribisnis sebagai suatu sistem yang lebih luas, bukan hanya identik dengan sektor pertanian primer. Dengan menempatkan agribisnis sebagai suatu sistem, konsekuensinya akan mengubah proporsi peran agribisnis dalam perekonomian Provinsi Jawa Barat. Implikasi lebih lanjut dari reposisi ini adalah realokasi sumber daya ekonomi yang lebih berat ke pengembangan agribisnis.

c. Kawasan Wisata Perdesaan

Pengembangan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan keunggulan daya tarik wisata di wilayah perdesaan melalui pengembangan produk wisata yang unik, tradisional dan mencerminkan jati diri masyarakat Jawa Barat yang berakar pada alam dan budaya, peningkatan kinerja objek dan daya tarik wisata yang berdaya saing serta pemanfaatan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Selain itu, dilakukan juga peningkatan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community based development) serta kualitas sarana dan prasarana pariwisata dengan standar internasional.

- Kawasan Industri Kecil Menengah (IKM)

Aspek industri diarahkan untuk meningkatkan konsolidasi dan jejaring (networking), melalui peningkatan peran sektor industri kecil dan menengah (IKM), Industri Kreatif, IKM berorientasi ekspor dan IKM berbasis sumberdaya lokal serta ramah lingkungan, dalam struktur industri, peningkatan kemitraaan antarindustri, dan

(29)

kekuatan penggerak pertumbuhan ekonomi. Arahan pengembangan kawasan IKM dilakukan dengan penataan sentra-sentra industri yang sudah ada dengan tetap menjaga aspek ramah lingkungan.

- Kawasan Peternakan

Kawasan peternakan mencakup penetapan lokasi yang digunakan untuk kepentingan pengembangan peternakan termasuk penyediaan rumah potong hewan, berupa penyediaan lahan yang memenuhi persyaratan teknis peternakan dan kesehatan hewan.

Pengembangan kawasan peternakan diselenggarakan dalam rangka mencukupi kebutuhan pangan, barang dan jasa asal hewan secara mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, bagi peningkatan kesejahteraan peternak dan masyarakat sekitarnya. Pengembangan kawasan peternakan dapat dilaksanakan secara tersendiri dan/atau terintegrasi dengan budidaya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan bidang lainnya yang terkait.

- Kawasan Pesisir dan Laut

Rencana pengembangan kawasan pesisir Jawa Barat terdiri dari arah pengembangan kawasan permukiman, arah pengembangan kawasan bisnis kelautan dan arah pengembangan kawasan wisata. Arah pengembangan wilayah pesisir Jawa Barat dibedakan ke dalam 2 (dua) wilayah, yaitu wilayah pesisir utara dan wilayah pesisir selatan Jawa Barat.

a. Kawasan Permukiman

Permukiman di wilayah pesisir utara dan selatan Jawa Barat memiliki karakteristik dan masalah yang berbeda, namun secara umum permasalahan permukiman berupa permukiman kumuh dan keterbatasan sarana prasarana dasar permukiman.

Secara mendasar, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan permukiman di wilayah pesisir meliputi :

 Prinsip pengembangan;  Pemilihan lokasi;  Kualitas lingkungan;  Aksesibilitas;

(30)

Prinsip pengembangan permukiman pesisir mengacu pada prinsip keberlanjutan, harmonis, faktor hukum dan peraturan, daya dukung lingkungan, kondisi eksisting dan profil demografi, kondisi fisik lingkungan, kebutuhan, pelayanan sosial, kepuasan penghuni, supply demand, visi masa depan, isu strategis, konsultasi publik, monitoring dan review program.

Wilayah pesisir yang dapat dikembangkan sebagai lokasi permukiman antara lain : 1. Wilayah pantai terbuka

Tipe permukiman yang dapat dikembangkan adalah permukiman kepadatan rendah, menengah dan tinggi, mengacu pada kriteria kesesuaian lahan. Contoh wilayah ini antara lain pada pantai berpasir dengan kemiringan landai.

2. Wilayah pantai tertutup

Batasan pengembangan kawasan permukiman didasarkan pada aspek lokasi, mitigasi bencana, serta dukungan adanya sistem jaringan transportasi serta diselaraskan dengan rencana pengembangan lainnya. Contoh wilayah ini antara lain teluk, laguna, estuari, dan lain-lain.

Proses penentuan kawasan permukiman di wilayah pesisir adalah berdasarkan :

 Kriteria pemilihan lokasi mencakup kriteria fisik-ekologis, kriteria kebijakan, dan

kriteria sosial budaya.

 Kriteria perencanaan kawasan permukiman di wilayah pesisir mengacu pada kriteria

perencanaan tapak kawasan dan pertimbangan masalah lingkungan, mencakup analisis makro dan mikro iklim, analisis daerah rawan banjir dan pasang surut, perencanaan drainase, analisis persediaan air di kawasan, perbandingan tapak kawasan, analisis dampak lingkungan dan data penunjang rencana tapak permukiman.

Pengembangan kawasan permukiman nelayan di kawasan pesisir Jawa Barat diarahkan sebagai berikut :

 Wilayah pesisir utara, dilaksanakan melalui pengembangan kawasan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana dasar serta berada di luar kawasan kerusakan pesisir dan rawan bencana pesisir; dan

 Wilayah pesisir selatan, dilaksanakan melalui penataan kawasan permukiman berbasis mitigasi bencana, serta peningkatan pelayanan sarana dan prasarana dasar permukiman yang terintegrasi.

(31)

Bisnis kelautan meliputi perikanan laut, pariwisata bahari, pertambangan, industri maritim, angkatan laut, bangunan kelautan, dan jasa kelautan. Pengembangan bisnis kelautan Jawa Barat didasarkan pada potensi sumber daya laut, penetapan lokasi-lokasi potensial dan pemanfaatan sumber daya kelautan.

Pengembangan kawasan bisnis kelautan diarahkan pada : a. mengembangkan kawasan di bidang perikanan laut, meliputi :

1. kawasan pelabuhan perikanan; 2. kawasan perikanan tangkap; 3. kawasan perikanan budidaya; dan 4. kawasan industri pengolahan perikanan.

b. mengembangkan kawasan di bidang pertambangan dengan memperhatikan faktor nilai tambah, potensi bahan galian, faktor pembatas, dayadukung dan dayatampung lingkungan serta kebijakan Pemerintah;

c. mengembangkan kawasan di bidang industri maritime dengan memperhatikan : 1. kondisi wilayah hinterland;

2. persaingan dengan wilayah sekitar;

3. lokasi strategis terhadap aglomerasi aktivitas perekonomian masyarakat; 4. kebutuhan permintaan lahan industri;

5. kecenderungan industri yang berkembang; 6. ketersediaan prasarana transportasi regional; 7. ketersediaan jaringan utilitas;

8. keberlanjutan dan berwawasan lingkungan; 9. sumberdaya manusia; dan

10. jaminan keamanan.

d. mengembangkan infrastruktur perhubungan laut, mencakup pelabuhan utama untuk kapal cepat maupun ferry yang menghubungkan antarpulau serta pelayaran rakyat untuk pengangkutan barang dan jasa; dan

e. mengembangkan jasa kelautan, meliputi dukungan jasa finansial dan jasa bisnis informasi.

c. Kawasan Wisata di Wilayah Pesisir

Kawasan wisata di Jawa Barat dikembangkan dengan prinsip pengembangan ekowisata, agrowisata dan wisata budaya, yang didukung ketersediaan infrastruktur yang

(32)

menghasilkan pengembangan kawasan wisata yang memiliki aksesibilitas tinggi dengan dukungan kebijakan dan investasi wisata, serta berpotensi dapat memberikan efek pengembangan kegiatan lain yang tentunya mendukung kegiatan wisata itu sendiri.

Arah pengembangan kawasan wisata di wilayah pesisir Jawa Barat terdiri dari:  mengembangkan kawasan wisata pesisir, laut dan pulau kecil yang mempertahankan

konservasi lingkungan dan keberadaan kehidupan sosial masyarakat setempat;  mengembangkan kawasan wisata di wilayah pesisir utara dengan prioritas pada

pengembangan Kawasan Wisata Budaya Pesisir Cirebon; dan

 mengembangkan kawasan wisata bahari di wilayah pesisir selatan yang ditetapkan berdasarkan perwilayahan pengembangan pariwisata secara nasional, meliputi pengembangan Kawasan Pantai Pangandaran, Kawasan Palabuhanratu, dan Pantai Rancabuaya.

- Kawasan Pertahanan dan Keamanan

Rencana kawasan pertahanan keamanan mencakup penetapan lokasi yang digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan, yang bertujuan mengamankan dan menjaga fungsi kawasan pertahanan keamanan. Sedangkan sasaran rencana pengamanan tersebut adalah agar terkendalinya kegiatan pembangunan di kawasan pertahanan keamanan, serta terjaminnya kepentingan pertahanan keamanan.

Kawasan pertahanan keamanan merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan yang terdiri dari kawasan pendidikan dan/atau latihan militer TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut dan Kepolisian, kawasan pangkalan TNI angkatan Udara (Lanud), kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), serta kawasan militer dan kepolisian lainnya. Kawasan pertahanan keamanan ditetapkan berdasarkan lokasi yang telah ditentukan oleh TNI sebagai daerah latihan militer atau daerah pengamanan militer.

Kawasan pertahanan keamanan ditetapkan berdasarkan lokasi yang telah ditentukan oleh TNI sebagai daerah latuhan militer atau daerah pengamanan militer.

a. Penetapan lokasi kawasan pendidikan dan/atau latihan militer TNI Angkatan Darat

Lokasi kawasan pendidikan dan/atau latihan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, meliputi :

(33)

Desa Kalibaru, Kecamatan Parung Desa Cogreg

3. Kabupaten Bandung Barat Kecamatan Batujajar Desa Galanggang, Kecamatan Cisarua Situ Lembang, Kecamatan Cipatat Desa Sumur Bandung

4. Kota Cimahi Gunung Bohong dan Kecamatan Cimahi Tengah Desa Setia Manah

5. Kabupaten Bandung Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Nagreg, dan Kecamatan Cimenyan Desa Sindanglaya

6. Kabupaten Sukabumi Kecamatan Ciracap Desa Cibenda 7. Kabupaten Purwakarta Kecamatan Sukasari Desa Kertamanah 8. Kabupaten Karawang Kecamatan Pangkalan Gunung Sanggabuwana

b. Penetapan kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara

Kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara, meliputi: 1. Lanud Husein Sastranegara Kecamatan Andir, Kota Bandung 2. Sulaeman Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung 3. Suryadarma Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang 4. Atang Sanjaya Kecamatan Semplak, Kabupaten Bogor 5. Penggung Kota Cirebon

6. Sukani Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka 7. Nusawiru Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis 8. Wiryadinata Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Tasikmalaya 9. Pameungpeuk, Kecamatan pameungpeuk Kabupaten Garut

10.Kawasan pendidikan/latihan militer TNI AU Detasemen Bravo di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor.

c. Penetapan kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut

Kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut, meliputi : 1. Lanal Bandung di Kota Bandung,

2. Posal Palabuhanratu dan Puslatpur Marinir TNI AL Antralim di Kabupaten Sukabumi, 3. Posal Pangandaran di Kabupaten Ciamis,

4. Lanal Cirebon di Kota Cirebon, 5. Posal Gebang di Kabupaten Cirebon, 6. Posal Eretan di Kabupaten Indramayu, 7. Posal Blanakan di Kabupaten Subang,

(34)

Garut

Kawasan Pos Polair, meliputi :

1. Pos Polair Cirebon dengan Sub Pos Kejawanan, Gebang, Bondet, Dadap, Eretan, Mayangan, dan Ciparage

2. Pos Polair Pelabuhanratu dengan Sub Pos Cisolok, Ujunggenteng, dan Ciwaru

3. Pos Polair Pangandaran dengan Sub Pos Kalipucang, Pangandaran, Parigi, Batukaras, dan Pameungpeuk

d. Penetapan lokasi kawasan pendidikan/latihan POLRI

Kawasan pendidikan/latihan POLRI, meliputi :

1. SPN Cisarua, Lembang di Kabupaten Bandung Barat berada di bawah naungan Kepolisian Daerah Provinsi Jawa Barat

2. SPN Lido di Kabupaten Bogor berada di bawah naungan Kepolisian Daerah Metro Jaya

3. Secapa Polri di Kota Sukabumi berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan dan Latihan Markas Besar Polri

e. Penetapan lokasi kawasan militer lainnya

Kawasan militer dan kepolisian lainnya, meliputi :

1. Kodam, Korem, dan Koramil

2. Komando Pendidikan dan Latihan TNI-AD dan Satuan Pelaksana dibawahnya, seperti Pusdik Kav, Pusdiktop, Pusdikzi, dan Pusdik Ajen

3. Pusat Kesenjataan Kavaleri/Pusserkav, Pussen Armed, Pussen Arhanud, dan Pusenif

4. Secapa TNI AD dan Resimen Induk Komando Daerah Militer/Rindam

5. Pangkalan Peluncuran Roket di Pameungpeuk, Kabupaten Garut

(35)

Referensi

Dokumen terkait

Kawasan peruntukan kehutanan (hutan rakyat) direncanakan seluas kurang lebih 8.545 (delapan ribu lima ratus empat puluh lima) Hektar atau 16,86% (enam belas koma delapan

Produksi Perikanan Budidaya Menurut Jenis Pemeliharaan Provinsi Jawa Barat Tahun 2006-2011

Analisis Status dan Fungsi Kawasan Hutan Permohonan dalam rangka Permohonan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) untuk SUTT 150Kv Cianjur - Padalarang di Kabupaten

Disamping arahan pemanfaatan kawasan lindung dan kawasan budidaya di dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah juga ditetapkan Kawasan Strategis Provinsi Jawa Tengah, dan Kabupaten

penataan ruang dan pembangunan fisik kawasan Jawa Barat Badan Penanggulangan Bencana, Diskimrum.. X

pelestarian alam, kawasan cagar budaya, kawasan rawan bencana alam dan kawasan lindung lainnya. Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan

Penetapan kawasan dan strategis penanganan kawasan hutan produksi berdasarkan kesesuaian tanahnya Kecamatan Gembong Kecamatan Gunung wungkal Kecamatan Tlogowungu Kecamatan Cluwak

Poin keempat Inpres menyebutkan agar Menteri Kehutanan: melakukan percepatan penyelesa- ian persetujuan atas perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dalam rangka penyusunan