a. Pengembangan luas areal pada lahan-lahan yang memiliki potensi/kesesuaian lahan untuk tanaman perkebunan secara optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdaya lahan; dan
b. Pengembangan tanaman perkebunan diprioritaskan pada tanaman yang memiliki produktivitas tinggi dan daya saing tinggi serta mampu mendukung kelestarian lingkungan.
Kawasan peruntukan perkebunan, diperuntukkan bagi tanaman perkebunan yang menghasilkan bahan baku industri kecil dan menengah dalam negeri maupun untuk memenuhi kebutuhan ekspor, seluas kurang lebih 14.662 hektar atau kurang lebih 17,42 persen dari luas wilayah kabupaten, terdiri atas:
a. Pemantapan kawasan peruntukan perkebunan milik pemerintah daerah di Kecamatan Pekutatan dan Kecamatan Melaya
b. Pengembangan perkebunan milik mayarakat di seluruh wilayah terutama dominan di Kecamatan Mendoyo, Kecamatan Pekutatan, dan Melaya yang tergabung dalam 145 subak abian.
c. Pengembangan perkebunan rakyat dengan komoditas unggulan berdaya saing global pada kawasan-kawasan yang memiliki potensi/kesesuaian lahan terdiri atas :
1. Komoditas kopi di kawasan Kecamatan Pekutatan; 2. Komoditas kakao tersebar di lima Kecamatan;
3. Komoditas cengkeh di kawasan Kecamatan Pekutatan 4. Komoditas kelapa tersebar di lima Kecamatan
d. Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana pendukung sistem agribisnis dan agroindustri.
e. Penguatan sistem kelembagaan kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang terintegrasi dengan subak abian;
f. Pengembangan kemitraan dengan sektor industri dan pariwisata; dan g. Pengembangan perkebunan yang terintegrasi dengan kegiatan pertanian
lainnya dengan konsep simantri;
i. Wilayah yang menghasilkan produk perkebunan yang bersifat spesifik lokasi dilindungi kelestariannya dengan sertifikat indikasi geografis;
j. Pengembangan agrowisata berbasis tanaman perkebunan di seluruh wilayah; dan
k. Pemantapan kawasan agropolitan melaya dan pengembangan kawasan agropolitan promosi pekutatan berbasis tanaman perkebunan sebagai penggerak perekonomian kawasan perdesaan.
Arahan pengelolaan kawasan budidaya perkebunan, mencakup :
1. Pengembangan perkebunan rakyat dengan komoditas unggulan berdaya saing global pada kawasan-kawasan yang memiliki potensi/kesesuaian lahan
2. Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana pendukung sistem agribisnis dan agroindustri.
3. Penguatan sistem kelembagaan kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang terintegrasi dengan subak abian;
4. Pengembangan kemitraan dengan sektor industri dan pariwisata; dan 5. Pengembangan perkebunan yang terintegrasi dengan kegiatan pertanian
lainnya dengan konsep Simantri;
6. Pengembangan luasan kawasan perkebunan organik secara bertahap berbasis Subak Abian dan kawasan sesuai potensi.
7. Wilayah yang menghasilkan produk perkebunan yang bersifat spesifik lokasi dilindungi kelestariannya dengan sertifikat indikasi geografis;
8. Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dilindungi kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang dialih fungsikan;
9. Pengembangan agrowisata dan pemantapan kawasan agropolitan berbasis tanaman perkebunan sebagai penggerak perekonomian kawasan perdesaan;
E. Kawasan Peruntukan Perikanan
a. Kawasan peruntukan perikanan tangkap; b. Kawasan budi daya perikanan; dan c. Kawasan pengolahan hasil perikanan.
a. Kawasan peruntukan perikanan tangkap, mencakup:
1. Perikanan tangkap di perairan umum, selanjutnya disebut perikanan perairan umum; meliputi kegiatan perikanan tangkap di perairan Bendungan Palasari dan Bendungan Benel dan sungai;
2. Perikanan tangkap di perairan laut selanjutnya disebut perikanan laut, meliputi jalur penangkapan ikan dengan batas 0 (nol) sampai 4 (empat) mil untuk perahu nelayan;
3. Sebaran pengembangan kegiatan perikanan tangkap di perairan laut, sebagaimana dimaksud pada huruf b, meliputi:
a) Pengembangan dan pemberdayaan perikanan laut skala kecil meliputi desa-desa yang memiliki kelompok nelayan tradisional di desa-desa pesisir dan desa-desa lainnya yang memiliki kelompok nelayan; dan
b) Pengembangan perikanan laut skala menengah dan besar meliputi : Kawasan Pengambengan, Desa Pengambengan Kecamatan Negara dan Kawasan Perancak, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana
4. Pemantapan prasarana pendukung kegiatan perikanan laut, sebagaimana dimaksud pada huruf b, meliputi:
a) Pangkalan perahu/jukung nelayan tradisional, tersebar pantai-pantai di seluruh desa nelayan;
b) Pelabuhan Khusus Perikanan meliputi Pelabuhan Nusantara Pengambengan di desa Pengambengan kecamatan Negara; c) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pengambengan
d) Pangkalan perahu/jukung nelayan tradisional, tersebar pantai-pantai di seluruh desa nelayan
b. Kawasan budi daya perikanan mencakup budi daya perikanan air tawar,air payau (tambak) dan air laut :
1. Perikanan budi daya di Bendungan Palasari dan Bendungan Benel berupa Keramba Jaring Apung (KJA),
2. Perikanan budi daya sawah bersama ikan (minapadi); 3. Kawasan perikanan budi daya perairan umum;
4. Kawasan perikanan budi daya kolam air tenang; 5. Kawasan perikanan budi daya saluran irigasi;
6. Kawasan perikanan budi daya air laut tersebar di perairan pantai dari Desa Cupel sampai dengan Gilimanuk
7. Kawasan perikanan budidaya air payau (tambak) diarahkan seluas 1.129 (seribu seratus dua puluh sembilan) Hektar yang tersebar di wilayah potensi pada 5 kecamatan.
8. Pemantapan prasarana pendukung penyediaan benih kegiatan budi daya perikanan, berupa lokasi Balai Benih Ikan (BBI) dan Unit Pembibitan Rakyat (UPR), meliputi :
a) BBI Dinas di Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo
b) Hatchery, Kecamatan Jembrana dan Kecamatan Mendoyo c) UPR yang tersebar di seluruh kecamatan.
c. Kawasan pengolahan ikan meliputi kegiatan industri perikanan dan kelautan terdiri atas:
1. Sentra-sentra industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang mengolah hasil-hasil perikanan tangkap dan perikanan budidaya tersebar di desa pesisir.
2. Kawasan industri berbasis perikanan di kawasan pengambengan, kecamatan negara; dan
3. Sentra industri kemaritiman di desa perancak, kecamatan jembrana
1. Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kawasan Pengambengan dan sekitarnya untuk memantapkan daya saing kegiatan perikanan wilayah yang ditetapkan melalui Peraturan Bupati
2. Pengaturan zona peruntukan perikanan di kawasan pesisir dan pulau – pulau kecil akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah tersendiri mengenai Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil (WP3K) Kabupaten Jembrana.
3. Memberikan dukungan pengembangan perikanan melalui perekayasaan teknologi perikanan serta melaksanakan pengendalian terhadap pelaksanaan pemberantasan penyakit ikan dan eradiksi penyakit ikan di darat,
4. Melakukan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut, pelayanan izin usaha pembudidayaan dan penangkapan ikan pada perairan di wilayah laut, dan
5. Pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan di wilayah laut.
4) Kawasan Peruntukkan Pariwisata
Kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan dengan kriteria:
a. Memiliki keindahan panorama alam dan/atau bangunan peninggalan budaya yang mempunyai nilai sejarah;
b. Memiliki karakteristik masyarakat dengan kebudayaan bernilai tinggi dan diminati oleh wisatawan;
c. Memiliki potensi sarana dan prasarana pendukung kawasan; dan
d. Memiliki cadangan lahan yang mencukupi untuk kawasan efektif pariwisata. Kawasan peruntukan pariwisata mencakup :