• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

4.2 Kawasan Lapangan Merdeka

Kawasan Lapangan Merdeka didominasi oleh fungsi perkantoran (Gambar 4.1). Hal-hal yang paling khusus dari kawasan ini adalah bangunan-bangunan bersejarah dan ruang terbuka publik. Berdasarkan SK Walikotamadya KDH Tk. II Medan Nomor 188.342/789/SK/1991 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Medan Nomor 5 tahun 1990 bahwa Lapangan Merdeka tergolong sebagai taman klasifikasi A, yang memiliki kriteria terletak di pusat wilayah dengan daerah pelayanan radius 2000-10.000 m², dan luas area 10.000-50.000 m². Berdasarkan peraturan tersebut Lapangan Merdeka harus dapat melayani lebih dari 25000 penduduk Kota Medan (Gambar 4.2).

Gambar 4.1 Lokasi Penelitian Sumber: BAPPEDA Kota Medan

U

Keterangan peta aktivitas publik di Kawasan Lapangan Merdeka:

1. Lapangan Upacara 2. Lapangan Olahraga 3. Pujasera

4. Pasar Buku

5. Stasiun Kereta Api 6. Kantor Pos Pusat 7. Perbankan 8. Blok Komersial 9. Perbankan 10. Hotel

11. Bank Sentral 12. Perbankan 13. Kantor Swasta 14. Kantor Asuransi 15. Perbankan 16. Perbankan 17. Blok Komersial 18. Pusat Onderdil 19. Pujasera

Gambar 4.2 Peta Kegiatan di Kawasan Lapangan Merdeka

Sumber: Perancangan Kawasan Lapangan Merdeka di Medan Tesis Achmad Delianur Nasution (2000)

4.3 Tata Guna Lahan di Kawasan Lapangan Merdeka 4.3.1 Kedudukan Lapangan Merdeka sebagai ruang publik

Sejarah perkembangan tata guna lahan Lapangan Merdeka tidak terlepasa dari sejarah Deli Maatschappij. Pada tahun 1883, Deli Maatschappij mendirikan sebuah perusahaan kereta api Deli Spoorweg Maatschappij dan pada tahun 1885 jalur kereta api antara Medan dan Labuhan Deli diresmikan. Bersamaan dengan itu, dilakukan penanaman pohon trembesi di sekeliling pinggiran lapangan.

Lapangan Merdeka (Esplanade) dibangun tahun 1885 sebagai pusat aktivitas Medan. Ini ditandai dengan keberadaan Balaikota, Bank Indonesia, Hotel De Boer, dan Kantor Pos disekelilingnya. Sebagai pusat aktivitas, di tempat ini kerap diselenggarakan pasar malam. Pasar malam pertama diadakan tahun 1908.

Pada tanggal 1 April 1909 Medan memperoleh status Gementee atau Kotamadya Independen. Sejak saat itu acara ulang tahun Ratu Belanda, penyambutan tamu negara dan acara kenegaraan besar lainnya selalu diadakan di Lapangan Merdeka. Masa pendudukan Jepang nama Esplanade diganti menjadi Fukuraido.

Setelah Indonesia merdeka nama ini diganti menjadi Lapangan Merdeka. Di tempat inilah Mr. Muhammad Hasan dan Mr. Amir mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia kepada rakyat Medan dan Sumatera Timur untuk pertama kalinya pada 6 Oktober 1945.

Fungsi lapangan merdeka sebagai ruang publik di jaman kolonial adalah sebagai tempat pasar malam, olahraga, rekreasi, maupun upacara resmi. Setelah kemerdekaan lapangan merdeka tetap berfungsi sebagai tempat olahraga, rekreasi, pertunjukan, pameran, maupun upacara-upacara resmi.

4.3.2 Perubahan tata guna lahan yang signifikan

Pada pertengahan tahun 2002, kios-kios buku bekas yang ada di Titi Gantung dipindahkan ke sisi Timur Lapangan Merdeka. Dan pada tahun 2004 di sisi Barat Lapangan Merdeka dibangun sarana jajanan dan suvenir yang bernama ”Merdeka Walk”. Hal ini sejalan dengan program Pemko Medan mengenai ”Medan Metropolitan” untuk mempromosikan Kota Medan sebagai salah satu tujuan pariwisata dan bisnis berskala internasional (Gambar 4.3a, dan 4.3b).

Gambar 4.3.a Tata Guna Lahan Lapangan Merdeka Tahun 1998 (Sebelum Merdeka Walk)

Sumber: Perancangan Kawasan Lapangan Merdeka di Medan Tesis Achmad Delianur Nasution (2000)

Gambar 4.3.b Peruntukan Lahan Kawasan Lapangan Merdeka (Setelah Merdeka Walk) Sumber: Pengumpulan Data Pribadi 2013

Keberadaan Merdeka Walk terlihat telah membuat Lapangan Merdeka sebagai ruang publik semakin hidup dan menarik. Aktivitas kuliner yang bervariasi dan jajanan souvenir telah membuat Lapangan Merdeka semakin ramai baik waktu siang maupun malam (Gambar 4.4, 4.5, dan 4.6).

Gambar 4.4 Lapangan Merdeka dari Udara Sumber: google map, 2013

Gambar 4.5 “Pasar Buku” Lapangan Merdeka Sumber: Dokumentasi Pribadi 2009

Gambar 4.6 Suasana Merdeka Walk Sumber: Dokumentasi Pribadi 2009

Walaupun demikian tentu saja penambahan bangunan yang ada akan membuat ruang terbuka Lapangan Merdeka semakin berkurang, dan tentu saja akan mempengaruhi keberadaan Lapangan Merdeka. Dari perubahan tata guna lahan yang sudah terjadi sebelumnya, maka perubahan tata guna lahan yang terjadi akibat masuknya Merdeka Walk dipandang sebagai faktor signifikan dan sangat berpengaruh bagi keberadaan Lapangan Merdeka. Hal-hal lainnya yang penting dari Lapangan Merdeka adalah bahwa di sekelilingnya masih dominan keberadaan bangunan-bangunan lama yang bernilai sejarah tinggi di Kota Medan. Faktor ini merupakan potensi yang sangat berharga bagi keberadaan Lapangan Merdeka.

4.3.3 Kondisi eksisting tata guna lahan kawasan Lapangan Merdeka

Lokasi Lapangan Merdeka terletak di pusat Kota Medan tepatnya di Kecamatan Medan Barat, dengan luas ±4,8 ha. Dalam studi kasus ini Lapangan

Merdeka dikelilingi oleh empat koridor jalan satu arah yaitu Jalan Balai Kota, Jalan Bukit Barisan, Jalan Kereta Api, dan Jalan Pulau Pinang. Peruntukan lahan didominasi oleh ruang terbuka (66%), serta bangunan beratap tidak berdinding (30%) dan bangunan beratap berdinding (4%). Hal-hal yang paling khusus dari segmen ini adalah bangunan bersejarah dan Lapangan Merdeka (Gambar 4.7).

Gambar 4.7 Kondisi Tata Guna Lahan Lapangan Merdeka Tahun 2013 Sumber: Pengumpulan Data Pribadi

4.3.4 Rencana perubahan tata guna lahan kawasan Lapangan Merdeka

Pemerintah Kota Medan telah menyelesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031 melalui Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13

Tahun 2011. Berdasarkan data dari Penyusunan Penyempurnaan RTRW Kota Medan Tahun 2011-2031 disebutkan bahwa salah satu fungsi rencana tata ruang wilayah adalah sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan program lima tahunan dan program tahunan.

Arahan pemanfaatan ruang kedepan berisikan indikasi program pembangunan utama jangka menengah lima tahunan dan tahunan. Indikasi program pembangunan merupakan penjabaran kebijaksanaan dan rencana pengembangan tata ruang yang telah ditetapkan ke dalam program-program pembangunan. Untuk mewujudkan Struktur Ruang Wilayah Kota Medan tahun 2031, maka pada setiap pusat-pusat pelayanan kegiatan seperti pusat primer dan pusat sekunder perlu dilengkapi dengan ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya masing-masing. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah pengembangan kota.

Program untuk penataan Bagian Wilayah Kota (BWK) dilakukan melalui kegiatan rencana yeng lebih detail (terinci), peraturan zonasi, peraturan pembangunan dan standar teknis. Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar bagian wilayah kota, maka setiap pusat primer dan setiap Bagian Wilayah Kota (pusat sekunder) perlu didukung oleh ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya.

Adapun peta arahan rencana pola ruang Kota Medan tahun 2011 sampai dengan tahun 2031 untuk kawasan Ruang Publik Lapangan Merdeka dapat dilihat dari Gambar 4.8.

Lap. Merdeka

Gambar 4.8 Rencana Pola Ruang Kota Medan Tahun 2011-2031 Sumber: RUTRK Kota Medan 2011-2031

Dari arahan rencana tersebut diatas terlihat bahwa tata guna lahan disekitar Lapangan Merdeka didominasi oleh fungsi perdagangan dan jasa. Hal ini tentu dimasa mendatang akan merupakan tantangan yang serius bagi pengelolaan Lapangan Merdeka sebagai ruang publik.

Di sisi lain status Lapangan Merdeka mengalami rencana perubahan dari status Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) kota.

Dengan perubahan status tersebut maka kemungkinan keberadaan Lapangan Merdeka sebagai ruang publik kota akan semakin krusial di masa mendatang dikaitkan dengan isu lingkungan, sejarah dan maknanya dalam perkembangan Kota Medan.

BAB V

Dokumen terkait