Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
BKP PUSAT DAN DAERAH
1) Kawasan Mandiri Pangan
BKP PUSAT DAN DAERAH
PAGU REALISASI %
Hasil Analisis Neraca Bahan Makanan
1,815,081,000
1,707,994,700 94.10 Penguatan sistem kewaspadaan pangan dan
gizi
5,829,897,000
5,253,103,169 90.11 Kajian Responsif dan Antisipatif
Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
345,060,000
113,768,358 32.97 Peta ketahanan dan kerentanan pangan
600,000,000
420,833,180 70.14 Kawasan Mandiri Pangan
27,517,191,000
24,632,104,533 89.52 Pemantauan ketersediaan dan kerawanan
pangan
8,176,998,000
6,999,208,251 85.60 Pemberdayaan petani kecil dan gender
19,588,600,000
18,681,073,000 95.37 Dukungan produksi pertanian dan
pemasaran
130,578,050,000
121,034,192,549 92.69 Pengembangan rantai nilai tanaman
perkebunan
4,953,150,000
4,712,413,000 95.14 Dukungan manajemen dan administrasi
SOLID 50,660,200,000 45,437,029,159 89.69 TOTAL 250,064,227,000 228,991,719,899 91.57 3.3 Hasil Kinerja Tahun 2016
Hasil kinerja Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan pada tahun 2016 adalah sebagai berikut :
1) Kawasan Mandiri Pangan
Dalam rangka pengurangan kemiskinan dan penanggulangan kerawanan pangan khususnya rawan pangan kronis, BKP mengembangkan kegiatan Kawasan Mandiri Pangan yang menjadi salah satu kegiatan strategis di BKP. Kawasan Mandiri Pangan (KMP) adalah kawasan yang dibangun dengan melibatkan keterwakilan masyarakat yang berasal dari desa-desa atau kampung-kampung terpilih (terdiri dari 5 kampung/desa), untuk menegakkan masyarakat miskin di daerah rawan pangan menjadi kaum mandiri. Tujuan umum kegiatan KMP adalah mewujudkan ketahanan pangan masyarakat berlandaskan kemandirian dan kedaulatan pangan. Secara keprograman, kegiatan KMP dilaksanakan melalui 5 tahapan yang meliputi: Tahap Persiapan, Penumbuhan, Pengembangan, Kemandirian dan Keberlanjutan (Exit Strategy). Untuk mendukung kegiatan pemberdayaan
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
24
dalam KMP maka dialokasikan dana bantuan sosial bansos/bantuan pemerintah (banper) serta anggaran pembinaan dan pendampingan bagi daerah.
Kegiatan Kawasan Mandiri Pangan dimulai pada tahun 2013 di Kawasan Perbatasan, Kepulauan dan Papua-Papua Barat yang bertujuan untuk: (1) mengembangkan perekonomian kawasan adat di Papua-Papua Barat; (2) mengembangkan perekonomian kawasan perbatasan antar negara; dan (3) mengembangkan cadangan pangan masyarakat kawasan kepulauan. Selanjutnya pada tahun 2015 dikembangkan Kawasan Mandiri Pangan yang hingga saat ini dilaksanakan di 85 kawasan pada 84 kabupaten di 24 provinsi. Untuk KMP Perbatasan, Kepulauan, Papua dan Papua Barat dialokasikan dana bansos senilai Rp. 200 juta per kawasan yang dialokasikan pada Tahap Persiapan, Penumbuhan dan Pengembangan; selanjutnya untuk KMP yang dimulai pada tahun 2015, dialokasikan dana banper senilai Rp. 100 juta per kawasan yang dialokasikan pada Tahap Penumbuhan, Pengembangan, dan Kemandirian (mengingat pengalaman menunjukkan bahwa pada masyarakat perlu dipersiapkan terlebih dahulu pada Tahun I/Tahap persiapan). Pemanfaatan dana banper I pada Tahun II/Tahap Penumbuhan diarahkan untuk kegiatan budidaya dan kegiatan pendukung lainnya; banper II pada Tahun III/Tahap Pengembangan diarahkan untuk pengolahan dan kegiatan pendukungan lainnya; dan banper III pada Tahun IV/Tahap Kemandirian diarahkan untuk pemasaran dan kegiatan pendukung lainnya.
Tabel 7 Perkembangan Dana Bansos/Banper dan Realisasi Kawasan Mandiri Pangan Tahun 2013–2016
Tahun 2013 2014 2015 2016 Total
Rata-rata/tahun Bansos/Banper (Rp.000.000) 21.800 21.400 20.600 7.800 71.600 14.320 Penerima Manfaat (kawasan) 109 107 188 181 585 146
Sasaran kegiatan Kawasan Mandiri Pangan di tahun 2016 beradi di 192 kawasan di
145 Kabupaten/Kota pada 31 Provinsi yang terdiri dari 107 Kawasan Kepulauan, Perbatasan, Papua dan Papua Barat serta 85 Kawasan Mandiri Pangan regular (diluar wilayah Kepulauan, Perbatasan, Papua dan Papua Barat). Pelaksanaan kegiatan KMP
tahun 2016, (yakni KMP yang dimulai pada tahun 2015) terdapat perbedaan antara target dan capaian, dimana target pelaksanaan KMP diawal tahun 2016 adalah sebanyak 192 kawasan dan terealisasi sebanyak 181 kawasan atau 94,27% (yang terdiri dari 103
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
25
Kawasan Kepulauan, Perbatasan, Papua dan Papua Barat dan 78 KMP). Penyebab terjadinya hal tersebut antara lain karena :
Terjadi pemekaran di salah satu wilayah Provinsi Kalimantan Timur menjadi Provinsi Kalimanatan Utara sehingga berpengaruh terhadap kesiapan provinsi baru dalam proses administrasi pencairan bansos dan pembinaan kegiatan;
Tantangan dari segi geografis di beberapa daerah di mana jarak antar lokasi yang jauh dan tidak hanya dihubungkan oleh daratan (tetapi juga perairan) sehingga dibutuhkan sumber daya (termasuk keuangan) yang besar untuk pelaksanaan monev oleh aparat kabupaten dan provinsi;
Kapasitas SDM/aparat yang masih kurang di tingkat kabupaten;
Terdapat daerah yang tidak melakukan survei Data Dasar Rumah tangga (DDRT) pada Tahap Persiapan;
Penetapan lokasi pelaksanaan kegiatan tidak sesuai sasaran lokasi dan kriteria yang sudah ditentukan.
Selain itu tantangan lain yang dihadapi adalah: terjadinya refocusing kegiatan dan anggaran, mutasi pejabat/pegawai, serta pendamping yang tinggal diluar desa binaan. Selain itu untuk mendukung kegiatan Kawasan Mandiri Pangan tahun 2016 dilaksanakan kegiatan (a) Sosialisai Kawasan Mandiri Pangan, (b) Apresiasi Kawasan Mandiri Pangan, (c) Workshop Akhir Kawasan Mandiri Pangan.
a) Sosialisasi Kawasan Mandiri Pangan
Sosialisasi Kawasan Mandiri Pangan dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2016. Peserta terdiri dari eselon III/IV dari 34 provinsi dan perwakilan kabupaten/kota yang menangani kegiatan Kawasan Mandiri Pangan. Dari undangan yang hadir telah mencapai target 100 persen yang sesuai dengan sasaran di 34 Provinsi. Kawasan mandiri pangan tahun 2016 masuk dalam tahap penumbuhan dimana kegiatan kawasan sudah mulai mencairkan dana bantuan pemerintah sebesar 100 juta dan fokus dana pemanfaatannya pada kegiatan budidaya pertanian, peternakan, perikanan, holtikultura.
b) Apresiasi Kawasan Mandiri Pangan
Kegiatan apresiasi Kawasan Mandiri Pangan bertujuan memberikan pemahaman bagi tenaga pendamping kawasan dalam pengelolaan kegiatan kawasan mandiri pangan, pengelolaan pemanfaatan dana bansos dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan pengembangan usaha sesuai lokal spesifik; memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat kepada petugas di lapangan mengenai pembuatan RUK dan RPWK dan melakukan penguatan dan pengembangan dinamika serta usaha produktif kelompok, pengembangan fungsi kelembagaan, pengembangan potensi pasar, peningkatan dukungan sarana dan prasarana.
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
26
Apresiasi kawasan mandiri pangan dilaksanakan dua kali yaitu di wisma hijau pada tanggal 21 – 24 Maret 2016 yang diikuti oleh petugas pendamping/penyuluh pertanian yang beradi di 107 kawasan, 58 kabupaten, 13 provinsi dan pada tanggal 28 – 31 Maret di Diandara Bogor yang diikuti oleh petugas pendamping/penyuluh pertanian, di 85 kawasan, 84 kabupaten, 24 provinsi, undangan yang hadir telah mencapai target 100 %
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam apresiasi kawasan mandiri pangan dan tindak lanjut yang harus dilakukan oleh pelaksana kegiatan di kawasan mandiri pangan yaitu :
Konsep Kawasan Mandiri Pangan adalah Kawasan yang terdiri dari 5 desa berdekatan yang dibangun dengan melibatkan masyarakat miskin yang berasal dari desa-desa terpilih dalam satu kecamatan, untuk menegakkan masyarakat miskin/rawan pangan menjadi kaum mandiri. Adapun sasaran kegiatannya adalah rumah tangga miskin yang berada dalam Kawasan Mandiri Pangan yang mempunyai potensi wilayah untuk dikembangkan dan mengupayakan penyelesaian masalah untuk mewujudkan ketahanan pangan.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang dilakukan meliputi : (a) Pemanfaatan SDA (khususnya penyehatan lahan, pengelolaan air, pengelolaan limbah, pengembangan bibit/benih lokal spesifik); (b) meningkatkan kegiatan usahatani kelompok melalui budidaya pertanian/peternakan/perikanan sampai pengolahan dalam rangka memenuhi ketiga manfaat pertanian sebagai sumber bahan pangan, sumber enerji, dan bahan baku industri; (c) Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro untuk mendukung kegiatan usaha.
Sebagai tindak lanjut kegiatan apresiasi Kawasan Mandiri Pangan :
1) Aparat/Pendamping/LKK/FKK yang sudah mendapatkan pelatihan pada kegiatan ini berkoordinasi dan menyampaikan materi kepada penangungjawab kegiatan di Provinsi maupun Kabupaten, selanjutnya peserta sebagai Trainer di kawasan masing-masing.
2) Aparat/Pendamping/LKK/FKK menindaklanjuti hasil pelatihan dengan pelatihan teknis spesifik lokasi dengan metode demplot dan sekolah lapangan.
3) Kegiatan Kawasan Mandiri Pangan tahap penumbuhan segera menentukan titik tumbuh kawasan sebagai pusat perekonomian di kawasan secara terintgrasi dengan mempertingkan prioritas kegiatan.
4) Pemanfaatan bantuan pemerintah untuk kegiatan usaha di kawasan meliputi kegiatan budidaya, pengolahan, pemasaran dan teknologi tepat guna
5) Penyuluh/pendamping berkoordinasi LKK, FKK dan aparat kabupaten/provinsi untuk meningkatkan kinerja kelembagaan dan kelompok.
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
27
6) Seluruh pengelolaan keuangan dana bantuan pemerintah kawasan dilakukan oleh LKK. Untuk itu, sebelum LKK memberikan dana pinjaman kepada kelompok, LKK harus memenuhi administrasi umum, seperti: (1) AD/ART; (2) Buku Simpan Pinjam; (3) Buku Tabungan; dan (4) Buku Administrasi Keuangan.
7) Syarat untuk pencairan bantuan pemerintah ke KPPN dilengkapi SK penetapan lokasi kawasan, kelompok penerima manfaat, usulan RUK, no rekening, SPTJB (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja), SPTJM, Pakta integritas yang dibuat kelompok dengan PPK
8) Mekanisme pencairan bantuan pemerintah melalui rekening kelompok, yang selanjutnya ada proses serah terima kepada pengelolaan LKK untuk dilakukan pencatatan oleh pengurus LKK. Pengurus LKK akan memonitor perkembangan pemanfaataan Dana Bantuan Pemerintah.
9) Melakukan monitoring, evaluasi kegiatan secara bertingkat di tingkat Desa dan kawasan, serta menyampaikan laporan secara berjenjang dari Desa, Kawasan sampai dengan Pusat dalam rangka penyempurnaan kegiatan.
c) Workshop Akhir Kawasan Mandiri Pangan
Untuk mengoptimalkan kegiatan Kawasan Mandiri Pangan melaksanakan kegiatan Workshop Akhir Kawasan Mandiri Pangan yang bertujuan untuk: (1) mengevaluasi pelaksanaan kegiatan KMP khususnya untuk Tahap Kemandirian pada KMP Perbatasan, Kepulaun, Papua dan Papua Barat dan tahap penumbuhan pada kawasan mandiri pangan serta, (2) merencanakan tindak lanjut kegiatan KMP.Kegiatan workshop ini dilaksanakan pada tanggal 2 – 4 November 2016 di Hotel Sukajadi Bandung, yang diikuti oleh 31 Provinsi hasil diskusi evaluasi kegiatan kawasan mandiri pangan sebagai berikut:
Konsep penajaman kegiatan Kawasan Mandiri Pangan melalui pertanian terpadu dan berkelanjutan perlu dijelaskan lebih lanjut didalam pedoman teknis kawasan mandiri pangan tahap pengembangan.
Kegiatan pendampingan oeh pendamping kawasan dan pendamping swakarsa perlu dukungan pendanaan dari APBD I dan APBD II mengingat okasi binaan jauh dari pusat kota dan merupakan basis/sentra kerawanan.
Kegiatan kawasan yang sudah tahap kemandirian selanjutnya tahun depan diserahkan sepernuhnya kepada pemerintah daerah, baik segi pendanaan maupun kegiatan keberlanjutan.
Pemanfaatan dana Banper kawasan mandiri pangan tahap pengembangan akan diprioritaskan pada pengolahan hasil pertanian dan kegiatan pendukung lainnya, yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi produk hasi pertanian.
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
28
Hasil dari akhir kegiatan Workshop Akhir Kawasan Mandiri Pangan dibuat suatu rumusan untuk ditindak lanjuti daerah dan sebagai acuan daerah untuk melaksanakan kegiatan Kawasan Mandiri Pangan. Adapun rumusan Workshop Akhor KMP 2016 adalah sebagai berikut :
1) Penajaman KMP dengan menerapkan Konsep Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan untuk meningkatkan manfaat bagi masyarakat:
2) Pendekatan pemberdayaan diarahkan pada pemenuhan kepentingan bersama melalui kegiatan secara berkelompok. Oleh sebab itu usaha yang dilakukan oleh kelompok adalah usaha bersama melalui Rencana Usaha Kelompok (RUK).
3) Pelaksanaan Kegiatan Kawasan Mandiri Pangan Tahap Pengembangan:
Pendekatan ekonomi masyarakat secara berkelompok untuk meningkatkan kesejahteraan (pendapatan) bersama dengan memanfaatkan semua potensi sumberdaya lokal dari hulu sampai hilir (zero waste);
Pemerintah daerah melakukan monitoring proses pencairan dan pemanfaatan dana Banper sampai kelompok penerima dan dilengkapi dokumen administrasi.
4) Pelaksanaan Kawasan Mandiri Pangan Keberlanjutan:
Lembaga Keuangan Kawasan/LKK diharapkan berkembang menjadi lembaga keuangan formal sesuai dengan aturan yang berlaku dan bersinergi dengan lembaga keuangan lain dilingkup desa/kecamatan.
Kegiatan Kawasan Mandiri Pangan Tahap Keberlanjutan (tahun 2017) tidak dibiayai oleh APBN dan sudah diserahkan kepada daerah. Komponen kegiatan utama yang perlu dibiayai antara lain: honor pendamping kawasan dan swakarsa, honor FKK dan LKK, pelatihan lanjutan bagi kelompok.