• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kawasan Perkotaan

Dalam dokumen Laporan Akhir Rencana Induk Pariwisata P (Halaman 119-135)

PARIWISATA BERKELANJUTAN Mempertahankan/

TUJUAN PENGEMBANGAN PARIWISATA

1 Kawasan Perkotaan

Pagar Alam

Kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis sosial budaya di wilayah provinsi. Kawasan ini memiliki : 1) Situs bersejarah dunia; 2) Aset yang harus

dilindungi dan dilestarikan;

3) Tempat perlindungan peninggalan budaya.

o Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa, melalui revitalisasi kawasan,

penataan lingkungan sekitar, peningkatan aksesibilitas menuju kawasan dalam mendukung peningkatan fungsi kawasan sebagai kawasan perkotaan.

o Perlu sinergitas infrastruktur. o Menyelaraskan struktur dan

pola ruang, serta arah pengembangan wilayah agar terintegrasi dan saling mendukung dengan kawasan tetangga.

o Pengembangan kawasan wisata budaya dan alam. o Pelestarian cagar budaya. 2 Kawasan

Koridor Lahat- Muara Enim

Kawasan yang memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi dalam aspek : 1) Potensi ekonomi cepat tumbuh;

2) Dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi.

o Berpotensi sebagai kawasan ekonomi untuk persaingan di tingkat regional

o Perlu sinergitas infrastruktur o Perlu sinergitas

pembangunan antar daerah o Perlu dikendalikan agar tidak

merambah kawasan pertanian/hutan o Perlu pelestarian cagar

budaya yang berpotensi menjadi daya tarik wisata. 3 Kawasan

Pengembangan Ekonomi Terpadu Danau Ranau

Kawasan kegiatan ekonomi yang dikembangkan bagi dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi; dan 1) Kawasan yang memberikan perlindungan o Perlu sinergitas

pembangunan antar daerah o Perlu dikendalikan agar tidak

merambah kawasan pertanian/hutan

o Mengembangkan kawasan wisata terpadu dan

agroindustri o Mengoptimalkan

No Kabupaten/

Kota Kriteria Arahan Pengembangan

keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang

menimbulkan kerugian.

pemanfaatan Danau Ranau untuk kegiatan pariwisata & kegiatan khusus sesuai daya dukungnya.

Sumber: Materi Teknis Rancangan RTRW Provinsi Sumatera Selatan tahun 2011-2030

4. Kebijakan Pembangunan Pariwisata berdasarkan RIPPARPROV

Sumatera Selatan Tahun 2008-2018

Berikut dijabarkan RIPPDA Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 yang memiliki masa perencanaan dari Tahun 2008-2018.

a. Visi Pembangunan Pariwisata Sumatera Selatan:

“Sumatera Selatan sebagai Silang Budaya Indonesia”

Dalam visi tersebut tercermin suatu makna bahwa di Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari berbagai suku dan budaya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. perwujudan budaya beragam suku bangsa tersebut tercemin di dalam masyarakat Sumatera Selatan dan hidup berdampingan secara damai dalam suatu wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Dinamika dan beragam budaya yang ada diharapkan dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.

b. Misi pembangunan Sumatera Selatan adalah sebagai berikut: 1) Meningkatkan kinerja Pemerintah Daerah kearah realitas

kepemerintahan yang baik untuk memacu kerjasama dan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

2) Mengoptimalkan pendayagunaan potensi berbagai semberdaya secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan guna meningkatkan daya saing Sumatera Selatan terhadap pasar regional, nasional, dan internasional.

3) Meningkatkan kemandirian kabupaten/kota melalui penguatan kemampuan pembiayaan dalam rangka penyelenggaraan otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab.

Misi pembangunan Sumatera Selatan di atas menjadi pertimbangan dalam menyusun misi kepariwisataan dengan memperhatikan visi kepariwisataan dan potensi serta permasalahan kepariwisataan yang ada. Adapun misi kepariwisataan Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut:

1) Meningkatkan dan menjaga kelestarian budayaa masyarakat Sumatera Selatan yang beragam unuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

2) Meningkatkan kontribusi sektor pariwisata bagi peningkatan kesejahteraan bersama terutama peningkatan pendapatan bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

3) Menempatkan Sumatera Selatan sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional dengan orientasi pengembangan kearah Pariwisata Budaya dan Pariwisata Konvensi (MICE), serta menempatkan jenis pariwisata yang lain sebagai pendamping, berdasarkan keseimbangan antara permintaan dengan potensi yang tersedia.

4) Mempertinggi tingkat profesionalitas pelayanan pariwisata melalui peningkatan kualitas kelembagaan, manajemen dan sumber daya manusia (SDM).

5) Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat Sumatera Selatan terutama yang bergerak di bidang pariwisata terhadap peran penting pariwisata dalam peningkatan kualitas kehidupan bangsa dalam memasuki era globalisasi.

6) Meningkatkan kualitas produk terutama produk wisata unggulan, sumber daya pariwisata dan lingkungan berdasarkan

asas kesinambungan dan apresiasi norma dan nilai-nilai yang berlaku.

7) Menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan antara manusia dengan lingkungannya dalam peningkatan kualitas sumber daya pariwisata.

c. Rencana Strategis Pengembangan ODTW Sumatera Selatan

1) Peningkatan kualitas objek/daya tarik wisata yang telah ada dan diperkirakan laku dijual ke pasar wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Pengembangan ODTW diutamakan instansi terkait (Dinas Pariwisata, dll) di tingkat Kabupaten/ Kota. Pengembangan ODTW dapat dimulai dari potensi yang selama ini menonjol di Sumatera Selatan yaitu wisata sungai khususnya Sungai Musi. Selain itu ODTW unggulan di luar Kota Palembang yang selama ini sudah terkenal seperti Gunung Dempo Pagar Alam, Danau Ranau OKU Selatan, dan Candi Bumiayu Muara Enim.

2) Identifikasi objek/daya tarik wisata dari potensi-potensi yang telah dimiliki oleh Provinsi Sumatera Selatan yang diperkirakan dapat dijual ke pasar wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sementara ini diunggulkan 15 ODTW dan 43 ODTW potensial.

Tabel 3.8.

Daya Tarik Wisata Unggulan di Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan RIPPDA Tahun 2008-2018

No Nama DTW Unggulan Kabupaten/Kota

1 Bukit Sulap Lubuklinggau

2 Danau Ranau OKU Selatan

3 Gunung Dempo Pagar Alam

4 Hutan Punti Kayu Palembang

5 Sungai Musi Palembang

6 Benteng Kuto Besak Palembang

7 Jembatan Ampera Palembang

8 Kampung Kapiten 7 Ulu Palembang

No Nama DTW Unggulan Kabupaten/Kota

10 Masjid Agung Palembang

11 Museum Balaputra Dewa Palembang

12 Pulo Kemaro Palembang

13 Rumah Rakit Palembang

14 Pusat Kerajinan Songket 32 Ilir Palembang

15 Situs Candi Bumiayu Muara Enim

Sumber: Dokumen RIPPDA Provinsi Smatera Selatan Tahun 2008-2018 3) Penciptaan objek dan daya tarik wisata baru yang mampu memfasilitasi Provinsi Sumatera Selatan sebagai wisata MICE yang dapat menjadi penggerak kegiatan pariwisata, kegiatan wisata pada waktu malam dan meningkatkan lama tinggal (LOS).

4) Pengembangan ODTW bersama perbatasan yaitu Danau Ranau dengan Provinsi Lampung, Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu serta pengembangan ODTW Taman Nasional Kerinci Seblat dengan Provinsi Bengkulu. Program kerja dapat berupa pembangunan akses dan sarana prasarana pada kawasan wisata maupun promosi bersama.

5) Identifikasi dan pengembangan ODTW yang menjadi konservasi hutan seperti TN Sembilang Banyuasin dan TNK Seblat Musi Rawas.

d. Rencana Pengembangan Hotel dan Akomodasi

1) Peningkatan kualitas pelayanan hotel bintang III ke bawah dan hotel melati secara profesional kepariwisataan, termasuk peningkatan hotel kelas non-classified dan pondok wisata/home stay.

2) Penambahan jumlah kamar hotel maksimal sebanyak 3.526 kamar hotel sampai dengan tahun 2018.

3) Penataan ruang kawasan pengembangan Hotel, khususnya kawasan Hotel Melati dan Pondok Wisata/home stay.

e. Rencana Pengembangan Restoran/Rumah Makan

1) Pengembangan Rumah Makan/Restoran ditekankan pada pengembangan kualitas dari pada kuantitas.

2) Pengembangan jumlah rumah makan yang diperlukan didasarkan pada patokan sebagai berikut, melalui penambahan/peningkatan kursi sebanyak 6.563 kursi atau setara dengan 110 rumah makan/restoran dengan asumsi tiap restoran terdiri dari 60 kursi pada Tahun 2018/ Jumlah tersebut dapat dijabarkan menjadi 6 Rumah Makan/Restoran per tahun sampai dengan 10 Tahun ke depan.

3) Lokasi Restoran perlu disebarkan/didistribusikan untuk mengurangi tingkat kepadatan kegiatan yang berakibat pada menurunnya kualitas kenyamanan wisata.

4) Standarisasi pelayanan rumah makan dan penentuan standar pelayanan minimum untuk wisatawan.

f. Rencana Pengembangan Biro Perjalanan Wisata/Umum

1) Meningkatkan target jumlah wisatawan yang diharapkan dapat dilayani oleh BPW.

2) Meningkatkan jumlah BPW.

3) Meningkatkan kinerja BPW kearah lebih professional, memperluas jaringan bisnis ke berbagai pasar wisata di luar negeri, serta meningkatkan kerjasam professional dengan pelaku iindustri pariwisata yang lain.

4) Menekan serendah-rendahnya prosentase komisi. g. Rencana Pengembangan Prasarana dan Sarana Komunikasi

1) Meningkatkan kinerja pelayanan komunikasi tidak saja untuk kebutuhan pariwisata, tetapi juga untuk kebutuhan kegiatan yang lain.

2) Peningkatan kebutuhan jumlah prasarana/sarana komunikasi khusus pariwisata.

3) Mengorientasikan pengembangan untuk kebutuhan system informasi pariwisata, baik melalui media cetak maupun elektronik.

4) Meningkatkan jaringan internet di sepanjang jalur wisata, ODTW maupun di pusat kegiatan wisata lainnya baik (fixed maupun wireless).

h. Rencana Pengembangan Galeri Seni dan Toko Cinderamata

1) Meningkatkan kinerja galeri seni dan toko cinderamata secara lebih merata.

2) Pengembangan jumlah galeri seni dan toko cinderamata.

3) Meningkatkan koordinasi dan kerjasama yang baik dan kondusif antar pengusaha Galeri Seni/Toko Cinderamata dan dengan komponen pelaku industri pariwisata.

4) Menekankan serendah-rendahnya prosentase komisi agar tercipta persaingan yang kondusif.

i. Rencana Pengembangan Bank dan Tempat Penukaran Uang 1) Peningkatan kinerja bank.

2) Pengembangan jumlah fasilitas penukaranuang yang didasarkan atas kebutuhan pariwisata.

3) Menyebarkan tempat penukaran uang pada lokasi yang strategis dan aman terhadap kriminalitas.

4) Pengembangan Money Changer diutamakan di kota-kota yang ada.

j. Rencana pengembangan Sarana Penunjang Keamanan

1) Pendidikan/kursus/pembinaan/koordinasi mobilisasi wawasan dan keterampilan pengendalian, penanganan, pengetasan keamanan lingkungan kota/ODTW kepada para perilaku pariwisata, pramuwisata, sopir taxi, sopir bus umum, pengemudi becak dan andong, operator wisata, tukang perahu, dan masyarakat umum.

2) Pengembangan kinerja petugas kepolisian dan penampilan agar lebih terampil, mencegah keamanan, melayani, ramah, dan berkendara dengan citra wisata bukan militer.

k. Rencana Pengembangan Aksesibilitas

1) Angkutan Udara. Pengembangan transportasi udara diarahkan untuk meningkatkan frekuensi dan kapasitas dari Bandar udara yang ada pada saat ini. Diharapkan pemerintah daerah dapat mendorong terselenggaranya pelayanan angkutan udara yang fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan fluktuasi jumlah penumpang angkutan udara dari waktu ke waktu. Pengembangan Bandar udara dapat dilakukan tidak hanya dalam konsep untuk meningkatkan mutu bandara, tetapi untuk meningkatkan kemampuan integrasinya dengan moda angkutan lain.

2) Angkutan Kereta Api. Rencana pengembangan angkutan kereta api diarahkan pada peningkatan tingkat pelayanan angkutan, baik kelas ekonomi dan terlebih kelas bisnis dan eksekutif. Segmentasi pasar dan peningkatan jumlah pengguna kereta api diharapkan benar-benar dapat mencerminkan permintaan yang sebenarnya. Pengembangan termasuk alternative frekuensi perjalanan ke Kota/Kabupaten yang ada atau dari Kota Palembang ke Pusat-Pusat Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) maupun dari pusat WPP ke ODTW yang ada di sekitarnya. Pembuatan jalur kereta api ke Kota/Kabupaten yang strategis untuk pengembangan pariwisata namun belum ada jalur kereta api.

3) Angkutan Bus Wisata dan Rute Bus Wisata. Angkutan bus wisata direncanakan untuk dapat didorong memanfaatkan lokasi parkir yang disediakan untuk mereka. Jenis bus wisata perlu didorong untuk melakukan segmentasi dalam ukuran kendaraan, sehingga keberadaan bus wisata, terutama yang

berukuran besar tidak memberikan gangguan lalulintas bagi pengguna jalan lain, terutama periode sibuk. Bus Wisata sebenarnya dapat pula berwujud angkutan wisata berciri khusus, apalagi dapat disediakan angkutan khusus wisata sejenis “amphibi” yang dapat melayani city tour di darat maupun melintasi sungai Musi.

4) Angkutan Bus Kota dan Taksi. Angkutan bus Kota Perlu direncanakan untuk mengakomodasi objek wisata sebagai salah satu kriteria dalam penentuan rute angkutan. Dengan demikian, wisatawan dapat menggunakan angkutan umum untuk mencapai ODTW. Taksi perlu dikembangkan agar memberikan standar pelayanan yang memadai terutama bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke Sumatera Selatan.

5) Angkutan Sewa/Charter. Regulasi bagi angkutan sewa perlu dibuat agar dapat diperoleh standar pelayanan yang memungkinkan penggunan mengetahui hak-haknya dan penyedia jasa angkutan sewa mengetahui kebutuhan pelayanan yang harus diberikan. Bagi pemerintah, peraturan ini dapat digunakan sebagai salah satu syarat dan mendorong transparansi kriteria dalam pendirian usaha angkutan sewa. 6) Angkutan Lokal. Angkutan lokal perlu didorong melalui

regulasi, baik dalam regulasi usaha maupun dalam pengaturan lalu lintas yang memungkinkan kelompok angkutan ini tetap lestari. Keberlanjutan secara bisnis untuk kapal pesiar (Putri Kembang Dadar, dll) yang secara khusus sebagai angkutan wisata di sungai-sungai (terutama sungai Musi) perlu diperhatikan. Demikian juga pengembangan perahu berukuran menengah dan kecil dapat ditingkatkan dari angkutan umum menjadi angkutan wisata pada waktu tertentu dengan beberapa modifikasi dan spesifikasi pelayanan.

7) Fasilitas Pejalan Kaki. Sebagai komponen wisata yang sangat penting dalam meningkatkan keberlanjutan ODTW, fasilitas pejalan kaki pada ODTW maupun pada lokasi-lokasi lain dengan mendasarkan pada konsep bahwa fasilitas pejalan kaki adalah komponen atraksi, bukan komponen yang membebani pengguna fasilitas. Dengan kata lain, fasilitas pejalan kaki tidak boleh dilihat sebagai prasarana yang semata-mata akan melelahkan pemakai, atau merekayasa pejalan kaki untuk membeli cinderamata (melalui pengaturan rute dan mengharuskan pejalan kaki melewati toko-toko tertentu). Dengan demikian, penataan fasilitas pejalan kaki harus melihat faktor-faktor iklim mikro, penataan muka bangunan dan street furniture.

8) Fasilitas Parkir dan Terminal. Lokasi dan fasilitas parkir untuk angkutan wisata harus direncanakan dengan melihat kompromi antara jarak pencapaian, serta aktivitas lokasi dan ODTW apabila lokasi parkir terlalu dekat. Oleh karenanya, fasilitas parkir harus terintegrasi dengan perencanaan fasilitas pejalan kaki.

9) Jaringan Jalan. Jaringan jalan perlu didesain untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi objek dan daya tarik wisata utama yang akan dikembangkan agar mampu melayani kebutuhan angkutan wisata yang melalui jalan tersebut. Rekomendasi rute wisata perlu diiringi dengan penyesuaian fasilitas terutama lebar jalan bagi bis-bis wisata ukuran besar. Jaringan jalan diutamakan jalur yang menghubungkan Kota Palembang sebagai Pusat Wisata Sumatera Selatan dengan Kabupaten/Kota yang ada terutama yang terdapat ODTW sudah siap dipasarkan. Jaringan jalan juga dikembangkan bertahap dari Kota sebagai basecamp pusat WPP ke ODTW yang sekitarnya.

10) Sistem Informasi Transportasi. Sistem informasi transportasi merupakan rencana yang paling utama dalam penyediaan aksesibilitas bagi wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara. Penyediaan informasi dan system perolehan informasi harus direncanakan secara terintegrasi dan terbaharui untuk setiap moda angkutan dan setiap titik transfer utama. Informasi bilingual dalam bentuk How to Go There merupakan komponen utama dalam penyediaan informasi. Informasi mengenai rute perlu disosialisasikan pada pengunjung. Perlu pula direncanakan institusi yang bertanggung jawab dan mekanisme penyediaan informasi sehingga ketersediaan informasi ini dapat dipertanggung jawabkan.

l. Rencana Pengembangan Pola Wisata

1) Penyelidikan untuk mengetahui keterkaitan perguruan tinggi atau lembaga pendidikan serta korporasi dengan penyelenggaraan kegiatan seminar, pertemuan, konferensi secara kuantitatif; jumlah peserta, jenis kegiatan, aktivitas samping (social event), waktu penyelenggaraan dan lama waktu. Dapat juga mengukur keterkaitan organisasi OR, organisasi profesi, ormas, korporasi, dan parpol di tingkat pusat/nasional dalam menyelenggarakan event di Sumatera Selatan.

2) Pengembangan sumber daya manusia dalam pengelolaan wisata konvensi dengan:

a) Mempertemukan pihak-pihak yang berkaitan seperti pengelola perguruan tinggi/lembaga pendidikan, biro perjalanan, hotel, PT. KAI, pengelola dermaga sungai, pengelola terminal bus, pengusaha/pemilik toko cinderamata dan pusat perbelanjaan.

b) Mengidentifikasi secara bersama kebutuhan pelatihan/bimbingan yang diperlukan.

c) Penyiapan fasilitas angkutan yang memadai untuk menjamin mobilitas wisatawan dengan dikaitkan dengan Rencana Pengembangan Aksesibilitas.

m. Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia

1) Penyebarluasan secara sistematis pengertian pariwisata berikut komponen terkait, dan konsep pengembangan pariwisata Provinsi Sumatera Selatan kepada masyarakat Provinsi Sumatera Selatan secara umum dan masyarakat pariwisata Provinsi Sumatera Selatan secara khusus (bukan hanya pada kalangan birokrasi dan institusi tertentu saja). 2) Menciptakan kesempatan dan menyelenggarakan pendidikan

formal dengan gelas dan pendidikan non formal mengenai segala aspek dan komponen pariwisata dari tingkat teknis sampai dengan pemikir/peneliti secara piramida.

3) Menciptakan kesempatan pendidikan diberikan tidak saja kepada masyarakat yang telah melakukan kegiatan bidang pariwisata, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik/ditarik dalam kegiatan pariwisata dengan prioritas terhadap mereka yang telah/sedang melakukan kegiatan di bidang pariwisata. 4) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang melakukan

kegiatan di bidang pariwisata sesuai kompetensi bidang kerja lebih diutamakan daripada kuantitas, sedangkan jumlah orang yang bekerja secara formal dalam bidang pariwisata diupayakan mengikuti hirarki piramida menurut kemampuan/kualitas/jejaring pengetahuan dan keterampilan. 5) Menciptakan motivasi yang kuat terhadap sumberdaya

manusia yang bekerja pada instansi pemerintah yang menangani pariwisata agar “pro-aktif” dalam membina, mempimpin, mengkoordinasi, memberi contoh dan memberi

kesempatan kepada kalangan industri pariwisata dan masyarakat umum dalam mengembangkan pariwisata.

n. Rencana Strategis Pengembangan Kelembagaan

1) Memperjelas dan mempertegas peran (tugas fungsi dan wewenang) khususnya lembaga pemerintah, beserta pelaksanaan/konsekuensi peran tersebut.

2) Melakukan reorganisasi, khususnya lembaga/instansi pemerintah yang menangani bidang pariwisata dan bidang terkait (seperti perindustrian, perdagangan, jasa, keamanan, lingkungan, kesenian dan budaya, pajak dan pendapatan daerah, transportasi dan telekomunikasi serta pendidikan kepariwisataan).

3) Menciptakan iklim yang kondusif untuk mengembangkan kinerja masing-masing lembaga yang terkait dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata termasuk sektor pemerintah, swasta, BGO dan masyarakat.

4) Menciptakan “link and macth” antara pendidikan kepariwisataan dengan lapangan kerja kepariwisataan secara lebih merata. Tidak terfokus pada sektor tertentu yang diidentifikasi dapat mendatangkan keuntungan lebih besar. 5) Memberi peran yang luas dan memotivasi secara terus-

menerus kepada lembaga swasta yang bergerak di bidang kepariwisataan untuk menciptakan dan mengembangkan peluang dalam pengembangan pariwisata seluas-luasnya. 6) Menciptakan peluang dan mendorong masyarakat dan

lemnbaga swadaya masyarakat yang tertarik untuk bergerak di bidang pariwisata, baik yang telah bergerak dibidang pariwisata maupun yang belum, untuk mengembangkan diri berdasar atas tatanan yang telah dirumuskan.

o. Rencana Strategis Pengembangan Kunjungan Wisatawan

1) Peningkatan kualitas objek daya/tarik wisata secara integrated baik dalam lingkup Provinsi Sumatera Selatan.

2) Pengembangan wisata budaya dan konvensi yang lebih berkualitas dan mencakup segmen pasar yang lebih luas.

3) Mengembangkan ragam kegiatan MICE secara Inovatif.

4) Pengembangan dan memelihara repeater tourist dengan menciptakan tingkat kepuasan wisatawan.

5) Pengembangan kawasan wisata buatan/resort penunjang kegiatan wisata berbasis MICE terutama di kota-kota.

p. Rencana Strategis Pengembangan Pola Pergerakan Wisata

1) Pembuatan jalur wisata yang lebih berorientasi pada integrasi antar objek/daya tarik wisata dalam rangka peningkatan kunjungan dan lama tinggal.

2) Penciptaan diversifikasi objek/daya tarik wisata sebagai bagian dari pengembangan jalur wisata.

3) Pembuatan rest area pada jalur perjalanan yang panjang dan memerlukan waktu lama.

q. Rencana Strategis Pengembangan Pasar Wisata

1) Pasar wisata budaya (Mancanegara/Internasional) potensial yang menjadi target pariwisata di Provinsi Sumatera Selatan adalah pasar wisata dari Negara-negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dll. Namun peluang pasar Eropa dapat dilakukan seperti Belanda, Inggris, dll.

2) Pasar wisata budaya (nusantara/nasional) potensial yang menjadi sasaran Provinsi Sumatera Selatan adalaha wisatawan yang berasal dari Batam, Lampung, Jakarta dan Sumatera bagian Selatan Lainnya.

3) Pasar wisata Konvensi (Mancanegara/Internasional) potensial yang menjadi target pariwisata Provinsi Sumatera Selatan

adalah pasar wisata golongan akademisi, politisi, dan professional dari Negara-negara Asia Timur, dan Asia Tenggara.

4) Pasar wisata Kovensi (Nusantara/Nasional) potensial yang menjadi sasaran pariwisata Provinsi Sumatera Selatan adalah golongan cendikiawan, professional, dan pelaku bisnis menengah.

5) Pasar wisata nasional yang dapat diraih sebagai prioritas selanjutnya adalah wisatawan pelajar dan mahasiswa.

6) Pengembangan limpahan wisatawan asing yang sedang dan sudah mengunjungi Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

r. Rencana Strategis Pengembangan Pemasaran dan Promosi Wisata 1) Penyusunan rencana pengembangan promosi dan pemasaran secara terpadu dan terkoordinasi dengan melibatkan semua ahli, berdasar atas pasar/segmen pasar potensial dan ODTW dan komponen produk lain yang dimiliki akan dikembangkan untuk dimiliki, memanfaatkan media promosi yang tersedia dan dapat disediakan, dengan tujuan untuk menciptakan penyebaran promosi yang lebih terencana, serta proses pemasaran dan promosi yang dimulai sejak penyusunan rencana pengembangan pariwisata.

2) Pemasaran dan promosi pariwisata dilaksanakan berdasarkan atas perencanaan yang matang, dan mengacu pada rencana pengembangan yang telah ditetapkan, dan bukan mengacu pada keinginan golongan tertentu ataupun pejabat tertentu. 3) Koordinasi perencanaan dan pelaksanaan pemasaran dan

promosi dilakukan oleh Badan Promosi.

4) Promosi bersama dengan pemerintah Provinsi tetangga untuk ODTW di perbatasan yaitu Danau Ranau di OKU Selatan dan TNK Seblat di Musi Rawas.

s. Rencana Kebijakan Tata Ruang Wilayah Pariwisata

Kebijaksanaan pengembangan pariwisata Sumatera Selatan ditarik dari pendekatan perwilayahan dipandang dari aspek nasional, regional ataupun lokal. Karena itu pengembangan pariwisata perlu dipandu oleh Pola Umum Wilayah Pengembangan Pariwisata yang dijiwai oleh potensi pariwisata dan laju kunjungan wisatawan.

Disisi lain adalah pada tempatnya bila disebutkan bahwa rencana suatu perkembangan kepariwisataan mempertimbangkan kekuatan yang ada. Berdasarkan analisis, kekuatan utama pengembangan pariwisata di Provinsi Sumatera Selatan yang dimiliki adalah:

1) Potensi objek sungai terutama keberadaan Sungai Musi, yang membentang di Sumatera Selatan.

2) Keberadaan Batang Hari Sembilan (S. Ogan, S. Komering, S. Batanghari Leko, S. Lematang, S. Kelingi, S. Lakitan, S. Rawas, dan S. Musi) yang sebagian besar dapat dilayari.

3) Akses penerbangan regional yang baik.

4) Sebagai pintu gerbang internasional bagi wisatawan mancanegara.

5) Kebudayaan khas Palembang sebagai Bumi Sriwijaya.

Berdasarkan analisis yang ada maka pembagian wilayah pengembangan pariwisata (WPP) dibagi menjadi 7 (tujuh) WPP. Pertimbangan utama pembagian ini berdasarkan kemudahan aksesibilitas di Provinsi Sumatera Selatan termasuk juga kelengkapan jaringan jalan dan moda transportasi.

Pembagian zona ini juga dengan mempertimbangkan gambaran karakteristik kondisi alam yang ada (geofisiografi) dan membentuk tema utama yaitu perairan pantai dan rawa di wilayah bagian timur,

Dalam dokumen Laporan Akhir Rencana Induk Pariwisata P (Halaman 119-135)

Dokumen terkait