PETA STRUKTUR RUANG KAB MENTAWAI
A. Kawasan Hutan Lindung
A.1.3 Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Sedangkan kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai
sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Adapun kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya di Kabupaten Kepulauan Mentawai meliputi Kawasan Suaka Alam Darat, Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairannya dan Kawasan Pelestarian Alam.
a. Kawasan Suaka Alam (Darat)
Kawasan suaka alam darat yang berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai hanya berada di Kecamatan Pagai Selatan yaitu Kawasan Suaka Alam Pagai Selatan seluas 2.798,99 ha. dan Kecamatan Siberut Selatan dengan luas 3.221 Ha
b. Kawasan Suaka Alam Perairan
Di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang termasuk dalam kawasan suaka alam laut dan perairannya diarahkan pada Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang didasarkan pada SK. Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai No.178 Tahun 2006 tentang penetapan kawasan konservasi laut daerah dan hasil studi MMA (Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tahun 2006). Luas daerah perlindungan laut adalah 159,96 ha, yang tersebar di Kecamatan Siberut Tengah 54 ha, Kecamatan Siberut Barat Daya 55 ha, dan Kecamatan Sipora Utara 51 ha.
c. Kawasan Pelestarian Alam
Yang termasuk dalam kawasan pelestarian alam di Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah Taman Nasional Siberut, dimana berdasarkan SK. Direktur Jenderal PHKA Nomor 14/Kpts/DJ-V/2001 tanggal 6 Februari 2001 dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, diketahui luasan Taman Nasional Siberut adalah 190.500 Ha. Adapun pengelolaan Taman Nasional Siberut diberlakukan dengan sistem zonasi, dengan sebaran luasan sebagai berikut :
1. Zona Inti
Terletak di bagian Siberut Utara dan Siberut Selatan seluas 46.533 Ha 2. Zona Rimba
Terletak di sekeliling zona inti dengan luas 99.555 Ha. 3. Zona Pemanfaatan Tradisional
Terletak di sebelah Barat Daya sampai sebelah barat laut Pulau Siberut dengan luas 44.392 Ha.
4. Zona Pemanfaatan Intensif
Terletak di Simabugai antara Dusun Sirisurak dan Dusun Limau dengan luas 20 Ha.
Namun pada tahun 2011, dilakukan tinjauan terhadap luasan kawasan hutan yang ada di Provinsi Sumatera Barat oleh tim terpadu yang mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor K.304/Menhut-II/2011 tanggal 9 Juni 2011 tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan menjadi Bukan Kawasan Hutan seluas 96.904 ha, perubahan antar fungsi kawasan hutan seluas 147.213 Ha, peruntukan bukan kawasan hutan menjadi kawasan hutan seluas 9.906 Ha di Provinsi Sumatera Barat. Berdasarkan SK tersebut maka perlu kembali di ukur luasan kawasan Taman Nasional Siberut.
Sejalan dengan peraturan pemerintah No. 28 Tahun 2011 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, dan dalam rangka meningkatkan akses sarana dan prasarana bagi penduduk yang telah bermukiman di dalam kawasan TNS, maka perlu dilakukan review zonasi TNS dengan menetapkan adanya zona khusus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai Zonasi dalam Kawasan Taman Nasional Siberut dapat dilihat padaPeta 3.1.
1. Kawasan Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Laut
Rencana pengembangan kawasan alam laut teluk di Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan Rekom Gubernur No 5225.5/1575/PLH/1991 adalah di Teluk Sarabua Saibi dengan luas 21.200 ha berada di Desa Saibi Samokop, Kecamatan Siberut Tengah
2. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan Alam
Kawasan Cagar Budaya di Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah kawasan pedalaman. Kawasan pedalaman adalah perkampungan penduduk asli mentawai yang merupakan aset budaya yang mempunyai ciri khas dari suku pedalaman di daerah lain. Mereka hidup dengan mengandalkan alam dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan maupun papan.
Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan yaitu Kawasan Komunitas Adat/Budaya Mentawai terdapat di dusun Tarekan Hulu Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara, Dusun Sirisurak Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah, Desa Madobag, Dusun Onga & Kinikdog Desa Matotonan, Dusun Bolotok & Boboakenen Desa Taileleu Kecamatan Siberut Barat Daya. Kawasan ini juga merupakan kawasan zona khusus dalam system zona di Taman Nasional Siberut
Lokasi daerah pedalaman / komunitas adat terpencil di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai yang berada di pulau Siberut yang masih perlu penanganan oleh pemerintah dapat dilihat pada Tabel 3.2
Tabel 3.7.
Nama – Nama Lokasi Komunitas Adat Terpencil Kabupaten Kepulauan Mentawai
No. Kecamatan Desa Dusun Keterangan
1 Siberut Utara Malancan Tarekan Hulu Pengembangan 2 SiberutUtara Ma.Sikabaluan Puran Sedang Berjalan 3 Siberut Tengah Saibi Samukop Sirisurak Sedang Pelaksanaan 4 Siberut Selatan Matotonan Onga & kinikdok Sedang Paelaksanaan
Madobak Ugai, Buttui 5 Siberut Barat Daya Taileleu Bolotok &
Boboakenen
Sedang Pelakasanaan Sumber : Bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai
Kebijakan pemerintah yang harus diambil dalam mengantisipasi memang diperlukan kearifan, disatu sisi mereka juga harus maju dan berkembang dalam memenuhi pelayan aspek sosial ekonomi sisi lain kebijakan pemerintah akan berdampak pada keberadaan Taman Nasional, proses pengembangan yang penuh dilema ini membutuhkan konsep yang tepat untuk diterapkan, sehingga kemajuan/perkembangan penduduk terpencil lebih meningkat. Beberapa konsep
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai
yang dapat diterapkan dalam pengembangan dan pengelolaan penduduk yang ada di pedalaman, diantaranya, yaitu;
1. Memberikan aksesibilitas pada penduduk yang ada di pedalaman untuk berinteraksi dengan daerah-daerah yang sudah berkembang membuka
keterisoliran / Pembangunan Jalan Penghubung antar dusun –dusun, desa- desa, desa-kecamatan
2. Memfasilitasi Program Komunitas Adat Terpencil (KAT) seperti bantuan Perumahan
3. Memfasilitasi Program Pemerintah Pusat (Pembangunan Daerah Tertinggal), Bantuan Penerangan (PLTS ) dan Telekomunikasi
4. Pemberdayaan Masyarakat Pedalaman dengan Pelatihan-pelatihan sektor pertanian, bantuan alat pertanian, dan Program Program Kesehatan
Di karenakan kawasan pendalaman ini berada di Kawasan Taman Nasional Siberut, maka kawasan ini diarahkan menjadi “kawasan khusus” dalam zonasi Kawasan Taman Nasional Siberut.
1. Terumbu Karang
Kawasan Terumbu Karang sebagai kawasan lindung lainya yang tersebar di Wilayah Perairan Pulau Siberut seluas 5.410,7 ha, Peraian Pulau Sipora seluas 5.988 ha, Perairan Pulau Pagai Utara seluas 732,9 ha dan Perairan Pulau Pagai Selatan seluas 1.099 ha.
2. Kawasan Rawan Bencana
Kawasan rawan tsunami meliputi seluruh kawasan pesisir pantai Provinsi Sumatera Barat termasuk Kepulauan Mentawai beserta pulau-pulau kecil lainnya, yang dapat dikelompokan menjadi tiga kategori zona kerawanan yaitu :
• Zona Kerawanan tinggi, wilayah dengan jarak garis pantai 50 m, sepanjang pantai dengan ketinggian kontur kurang dari 10 m dpl.
• Zona Kerawanan menengah yaitu daerah sepanjang pantai dengan kontur ketinggian 10 – 15 m dpl, dengan kemiringan lereng cukup terjal.
• Zona kerawanan rendah yaitu wilayah sepanjang pantai dengan ketinggian 15 – 30m dpl, dengan morfologi curam dan relief tinggi atau berbukit, dan daerah ini dapat dimanfaatkan untuk evakuasi dan lokasi Pemukiman.
Kabupaten Kepulauan Mentawai yang mempumyai 43 desa 341 Dusun (33 Desa 162 Dusun merupakan Wilayah Pesisir yang rentan terhadap bencana tsunami. Berdasarkan SK Bupati Kepulauan Mentawai Nomor 188.45-320 Tahun 2010, daerah yang terkena Gempa/Tsunami akan direkolasi dari tempat pemukiman ke tempat yang lebih aman. Masing–masing daerah tersebut adalah :
Km. 8 - 18 Taikako di P. Pagai Utara
Km. 37 di Pagai Selatan
Km. 4-9 di Sipora Selatan
Adapun kawasan rawan bencana di Kabupaten Kepulauan Mentawai meliputi :
1. Kawasan rawan gempa bumi terdapat di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai;
Mentawai adalah dengan pengembangan ruang-ruang terbuka atau lapangan terbuka sebagai ruang evakuasi bagi penduduk bila terjadi bencana gempa bumi
2. Kawasan rawan gelombang pasang dan tsunami terdapat di wilayah pesisir pantai bagian selatan dan barat; di Kecamatan Siberut Barat, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kecamatan Siberut Selatan, Kecamatan
Sipora Utara, Kecamatan Sipora Selatan, Kecamatan Pagai Utara dan Kecamatan Pagai Selatan.
3. Kawasan rawan abrasi terdapat di pantai Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, Pantai Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan, Pantai Mapadegat & Pantai Tuapejat Kecamatan Sipora Utara, Pantai Sioban, Pantai Beriulou, Pantai Desa Bosua, Pantai Bandara Rokot Matobek Kecamatan Sipora Selatan, Pantai Sikakap Kecamatan Sikakap.
Pencegahan terjadinya abrasi pantai dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :
a. Pendekatan rekayasa struktur/sipil
Tabel 3.8 Alternatif Penanganan Secara Struktur
No Alternatif Penanganan
1 Bangunan Pemecah Gelombang 2 Penurapan
3 Jetty
4 Sistem Polder yang dilengkapi dengan sistem pengendali Sumber : Dirjen SDA Dep. PU (SNI 1962-89-F)
GAMBAR3.1PENYUSUNAN BALOKBETONSEBAG AI PEMECAHGELOM BANG BU AT AN
SECAR ADI AGON ALPAR ALELGRUPTERHAD AP GARI S PANT AI
b. Rekayasa Non Struktur
Keberadaan hutan mangrove juga dapat menjadi benteng hidup bagi gempuran ombak pasang, termasuk mampu meminimalkan efek bencana tsunami. Berdasarkan hasil penelitian ilmuwan dari Universitas Tohoku Jepang yang bekerja sama dengan ITB, pohon mangrove dapat meredam energi gelombang tsunami secara signifikan.
Selain manfaat pasti yang mencegah terjadinya abrasi dan erosi akibat gempuran ombak dan aliran sungai, hutan mangrove juga berfungsi sebagai filter biomekanis yang paling ampuh untuk mengurangi efek pencemaran lingkunga
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai
3.1.3.4.RENCANA POLA RUANG KAWASAN BUDIDAYA
Kawasan budidaya adalah kawasan yang diperuntukan bagi penduduk untuk melakukan kegiatan baik permukiman, usaha dan sebagainya. Kawasan budidaya yang di rencanakan di Kabupaten Kepulauan Mentawai meliputi :