BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA
B. Penyajian Data dan Analisis Data
Setiap penelitian haruslah disertai dengan penyajian data sebagai penguat, sebab inilah yang telah di analisa data yang telah digunakan, sehingga dari data yang di analisa tersebut dihasilkan suatu kesimpulan.
Peneliti berusaha memaparkan gambaran tentang komparatif biaya penjualan nila bertulang dan tidak bertulang di Desa Kejayan dalam meningkatkan pendapatan, dengan fenomena dan data yang telah diperoleh di lapangan dan setelah mengalami proses peralihan data dengan berbagai metode yang digunakan yakni dari data yang khusus ke data yang umum, pada akhirnya sampai pada pembuktian data, karena data yang diperoleh sudah dianggap representatif untuk dijadikan sebuah laporan.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai alat untuk meraih data sebanyak mungkin terhadap berbagai hal yang berkaitan dan mendukung untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan data dalam penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan di wilayah Desa Kejayan Kecamatan Pujer Kabupaten Bondowoso Provinsi Jawa Timur, karena di Desa Kejayan
merupakan sentral produksi perikanan darat atau air tawar di Kabupaten tersebut, namun peneliti lebih focus untuk meneliti ikan nila dan di desa kejayan ini terdapat dua pembudidaya ikan nila. Berikut hasil penelitian dari analisis komparatif harga jual nila bertulang dan tidak bertulang di Desa Kejayan untuk meningkatkan pendapatan.
1. Perbandingan Biaya Produksi Nila Bertulang Dan Tidak Bertulang Di Desa Kejayan Kecamatan Pujer Kabupaten Bondowoso
Salah satu kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya hayati pada sektor perikanan adalah kegiatan budidaya ikan, tetapi dengan keterbatasan lahan yang dimiliki dan untuk memanfaatkan lahan pekarangan supaya bernilai produktif maka masyarakat Desa Kejayan mengusahakan budidaya ikan nila.
Usaha budidaya ikan nila yang dilakukan di desa kejayan adalah usaha pembesaran ikan nila untuk dikonsumsi. Usaha budidaya ikan nila biasanya memerlukan waktu yang relatif cukup lama yaitu sekitar 4 bulan atau lebih untuk panen. Panen raya dilihat dari waktu awal menebar benih atau bibit ikan nila ke kolam dihitung dari sejak awal dan pas waktunya panen sudah sampai 4 bulan.
Permasalahan yang sering dihadapi dalam proses budidaya ikan nila adalah minimnya kualitas air bersih. Amonia yang terkandung dalam kolam memberikan dampak buruk bagi pembudidaya ikan karena mengakibatkan ikan mudah terserang berbagai penyakit dan parasit sehingga menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi terhambat bahkan dapat menyebabkan kematian.
Maka dari itu, dibutuhkan pengawasan terhadap parameter kualitas air seperti
44
suhu air, kecerahan air, PH, CO2, alkalinitas, kesadahan, fosfat, nitrogen, dan lain-lain. Hal ini harus diperhatikan demi kelancaran dalam pembudidayaan ikan.54
Masyarakat di Desa Kejayan mayoritas bermata pencariaan sebagai petani, untuk memenuhi kebutuhan keluarga masyarakat Di Desa Kejayan melakukan usaha pembesaran budidaya ikan nila. Di Desa Kejayan terdapat dua pembudidaya ikan nila yaitu bapak Muzayyin dan bapak syukron.
Budidaya merupakan bagian terpenting dalam memenuhi kebutuhan keluarga di Desa Kejayan.
Adapun hasil wawancara yang telah didapatkan selama penelitian terjun ke lapangan terkait analisis komparatif biaya penjualan nila bertulang dan tidak bertulang di desa kejayan yaitu sebagai berikut:
Hasil wawancara dengan bapak Muzayyin pemilik usaha ikan nila.
“ Saya memulai usaha budidaya ikan nila ini dari tahun 2004. Usaha ini mengalami jatuh bangun sampai 2012, kemudian pada tahun 2012 usah budidaya ikan nila ini dimulai kembali bahkan bukan Cuma ikan nila saja yang saya budidayakan ada juga ikan lele dan juga ikan gurame. usaha ini berjalan sampai sekarang. Alhamdulillah usaha ini dapat membantu perekonomian saya dan keluarga. Dalam membudidayakan ikan nila harus dengan air mengalir, usahakan air tidak keruh dan tidak terkontaminasi bahan kimia lainnya. Untuk pakan ikan nila saya menggunakan pelet atau Pur pabrikan, dan juga ikan nila bisa diberikan sisa-sisa makanan, ampas kelapa, keong, dan daun-daunan seperti daun pepaya. Harga pakan pabrikan Rp 290.000/ karung. Dan harga benih ikan nila Rp 500/ ekor, dalam sekali tebar membutuhkan 1000 ekor ikan nila, dan perkiraan hasil panen sebanyak 850 ekor dengan berat perekornya 0,3 gram”.55
“ Untuk ikan nila cabut tulang, saya baru menemukan metode cabut tulang ini pada tahun 2018. Karena banyak sekali keluhan dari
54 Suparinto C. 2009. Budidaya Ikan Nila di Kolam Terpal. Penebar Swadaya: Semarang
55 Muzayyin, 7 Oktober 2022
konsumen ikan nila tentang duri-duri atau tulang pada ikan nila sehingga menyebabkan pasaran ikan nila waktu itu mengalami penurunan, dan saya mencari solusi agar ikan nila ini laku dipasarkan. Lalu saya mencoba untuk melakukan pencabutan tulang pada ikan nila dan Alhamdulillah usaha saya berhasil sehingga membuat ikan nila tanpa tulang laku terjual bahkan dengan harga yang lebih tinggi dari ikan nila biasa. Saya mempunyai satu karyawan untuk mencabut tulang ikan nila, untuk upah gaji saya hitung perkilo gram, dalam 1 kilo gram upahnya Rp 3000. Setiap harinya saya bisa menjual ikan nila tanpa tulang sekitar 10 sampai 15 kilo. Pada budidaya ikan nila, ukuran tebar ikan 20 gr/ekor dan lama pemeliharaan 4 bulan diperoleh berat ikan saat panen 300 gr/ekor.
Waktu panen yang baik adalah pada pagi hari atau sore hari karena keadaan suhu rendah yang dapat menurunkan aktivitas metabolisme tubuh dan gerak ikan. Usaha ini berjalan sampai sekarang dan Alhamdulillah dengan usaha ini saya dapat meningkatkan pendapatan saya”.56
Hasil wawancara dengan bapak syukron pemilik usaha ikan nila.
“Saya memulai usaha budidaya ikan nila ini dari tahun 2014. Dalam membudidayakan ikan nila harus dengan air mengalir, usahakan air tidak keruh dan tidak terkontaminasi bahan kimia lainnya. Untuk pakan ikan nila saya menggunakan pelet atau Pur pabrikan, dan juga ikan nila bisa diberikan sisa-sisa makanan, ampas kelapa, dan daun-daunan seperti daun pepaya. Harga pakan pabrikan Rp 290.000/
karung. Dan harga benih ikan nila Rp 500/ ekor, dalam satu kali tebar kami membutuhkan 1000 ekor. Ikan nila ditebar di kolam pada usia benih berumur dua bulan, kemudian ikan nila bisa dipanen setelah 3-4 bulan dari proses penebaran benih ikan ke kolam, pada waktu panen ikan nila sudah berukuran seperti telapak tangan dan diperkirakan hasil panen 850 ekor dengan berat per ekornya 0,3 gram. Kemudian setelah panen ikan nila ditimbang per kg lalu di bungkus plastik atau derijen untuk jumblah besar lalu ikan nila di jual ke masyarakat. Harga ikan nila Rp 25.000 / kg. Bapak syukron ini hanya menjual ikan nila biasa, tanpa adanya pencabutan tulang.
Alhamdulillah sampai sekarang usaha ikan nila ini berjalan dengan lancar dan dapat sedikit membantu perekonomian keluarga saya”57
56 Muzayyin, 7 Oktober 2022
57 Sukron, 7 Oktober 2022
46
Tabel 4.2
Biaya Produksi Ikan Nila Tidak Bertulang Bapak Muzayyin
No Jenis Pengeluaran Biaya
1 Benih ikan nila 1000 ekor (@Rp. 500) Rp. 500.000 2 Biaya pakan selama 3 bulan (1 bulan = 2
karung) (1 karung = Rp. 290.000)
Rp. 1.740.000 3 Perlengkapan perikanan, obat-obatan dan listrik Rp. 650.000 4 Upah pekerja pencabut tulang per Kg (@Rp.
3000)/ 15 Kg/hari
Rp. 1.350.000
Total Rp. 4.240.000
Pendapatan = jumlah ikan x berat ikan x harga 850 x 0,3 x 35.000
8.925.000
Perhitungan Laba = pendapatan – Total pengeluaran 8.925.000 – 4.240.000
4.685.000 Tabel 4.3
Biaya Produksi Ikan Nila Bertulang Bapak Syukron
No Jenis Pengeluaran Biaya
1 Benih ikan nila 1000 ekor (@Rp. 500) Rp. 500.000 2 Biaya pakan selama 3 bulan (1 bulan = 2
karung) (1 karung = Rp. 290.000)
Rp. 1.740.000 3 Perlengkapan perikanan, obat-obatan dan listrik Rp. 650.000
Total Rp. 2.890.000
Pendapatan = jumlah ikan x berat ikan x harga 850 x 0,3 x 25.000
+
+
6.375.000
Perhitungan Laba = pendapatan – Total pengeluaran 6.375.000 – 2890.000
3.485.000
Berdasarkan hasil wawancara dari dua narasumber di atas di dapatkan bahwa manusia selain makhluk sosial juga bisa disebut sebagai makhluk ekonomi, karena di setiap harinya manusia tidak lepas dari kegiatan ekonomi mulai dari makan, membeli keperluan dapur, uang saku anak, dan lain-lain. Maka usaha pembesaran ikan nila ini dapat sedikit membantu atau menambah perekonomian para pembudidaya ikan nila di Desa Kejayan Kecamatan Pujer Kabupaten Bondowoso.
Tanggung jawab besar yang dipikul oleh seorang kepala keluarga di dalam keluarganya menuntut kesiapan dan kesanggupan untuk menjalankannya. Maka dengan memanfaatkan lahan pekarangan supaya bernilai produktif serta melimpah nya air sebagian masyarakat Desa Kejayan memilih untuk membudidayakan ikan nila.
Dari wawancara di atas didapatkan bahwa ada perbedaan biaya produksi antara ikan nila bertulang dan ikan nila tidak bertulang yaitu, ikan nila bertulang terdapat biaya produksi yang terdiri dari biaya pembelian benih ikan nila dengan harga Rp.500 perekor dan penebaran benih kekolam sebanyak 1000 ekor dengan total biaya mencapai Rp. 500.000, biaya pakan dengan harga Rp.290.000 perkarung dalam satu bulan biaya yang dikeluarkan untuk pemberian pakan menghabiskan 2 karung maka selama penebaran benih kekolam sampai panen
48
menghabiskan 6 karung dengan total keseluruhan biaya pakan selama 3 bulan Rp.
1.740.000, biaya listrik dengan biaya yang dikeluarkan, biaya obat dan perlengkapan perikanan dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.
650.000. Dan ikan nila bertulang ini pengemasan nya menggunakan plastik atau derigen untuk jumlah besar. Ikan nila bertulang ini dapat menghasilkan atau mendapatkan keuntungan setelah ikan nila dipanen, kurang lebih 3-4 bulan dengan biaya keseluruhan yang dikeluarkan untuk pembesaran ikan nila selama 3 bulan sebesar Rp. 2.890.000. Dengan benih yang ditebar sebanyak 1000 ekor maka perkiraan hasil panen yang didapat sebanyak 850 ekor dengan berat perekornya mencapai 0,3 gram, dan jumlah keseluruhan berat ikan nila sebanyak 255 kilogram dengan harga Rp. 25.000 perkilogram. Dan pendapatan kotor sebesar Rp. 6.375.000 kemudian dikurangin biaya pengeluran pembesaran ikan nila sebesar Rp. 2.890.000. Maka diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp.
3.485.000.
Sedangkan ikan nila tidak bertulang biaya produksinya yaitu, biaya pembelian benih ikan nila dengan harga Rp. 500 perekor dan penebaran benih kekolam sebanyak 1000 ekor dengan total biaya mencapai Rp. 500.000, biaya pakan dengan harga Rp. 290.000 perkarung dalam satu bulan biaya yang dikeluarkan untuk pemberian pakan menghabiskan 2 karung maka selama penebaran benih kekolam sampai panen menghabiskan 6 karung dengan total keseluruhan biaya pakan selama 3 bulan Rp. 1.740.000, biaya listrik dengan biaya yang dikeluarkan, biaya obat dan perlengkapan perikanan dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 650.000, dan upah pekerja pencabut tulang ikan
nila, upah pekerja ini di hitung dari banyaknya pasanan ikan nila, per 1 kilogram ikan nila upah pekerja Rp. 3.000 dengan permintaan konsumen setiap harinya sebanyak 15 kilogram. dengan biaya yang dikeluarkan untuk pembesaran ikan nila selama 3 bulan sebesar Rp. 2.890.000, dan upah tenaga kerja selama 1 bulan sebesar Rp. 1.350.000, dengan total jumlah biaya pengeluaran keseluruhan sebesar Rp.4.240.000. dengan benih yang ditebar sebanyak 1000 ekor maka perkiraan hasil panen yang didapat sebanyak 850 ekor dengan berat perekornya 0,3 gram, dan jumlah keseluruhan berat ikan nila sebanyak 255 kilogram dengan harga Rp. 35.000 perkilogram. Dan pendapatan kotor sebesar Rp. 8.925.000 kemudian dikurangin biaya pengeluran pembesaran ikan nila sebesar Rp.
4.240.000. Maka diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp. 4.685.000.
Proses pencabutan tulang ikan nila ini memerlukan waktu kurang lebih 5 menit untuk satu kilogram nya. Setelah selesai proses tersebut baru ikan nila tanpa tulang di kemas dengan menggunakan mika, dan siap untuk dijual kepada konsumen.
2. Perbandingan harga penjualan antara ikan nila bertulang dengan ikan nila tidak bertulang di Desa Kejayan Kabupaten Bondowoso
Perikanan budidaya saat ini juga sudah mulai berkembang. Peningkatan terus terjadi yang disebabkan oleh naiknya permintaan pasar terhadap produk perikanan darat ini. Begitu juga halnya di Kabupaten Bondowoso. Usaha perikanan budidaya dalam beberapa tahun terakhir meningkat signifikan, dan salah satu wilayah yang cukup berpotensi adalah Desa Kejayan.
50
Pada dasarnya usaha budidaya perikanan air tawar jauh lebih menjanjikan dalam mendapatkan keuntungan besar dibandingkan dengan perikanan laut. Disamping itu ada nilai-nilai kesinambungan alam dan lingkungan yang terjaga karena tidak melakukan eksploitasi terhadap sumber daya perairan lepas. Oleh karena itu usaha ini dinilai sangat prsopektif untuk membantu petani/peternak/ pembudidaya dalam meningkatkan kesejahteraan keluarganya.58
Penerimaan usaha budidaya ikan nila berasal dari penjualan ikan yang dihasilkan. Dilokasi penelitian ikan nila menjadi pilihan utama karena nilai jualnya sangat tinggi serta daya serap pasar yang lebih baik, dibanding jenis ikan lainnya.
Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan total biaya selama satu periode produksi. Selurih responden penelitian mendapatkan keuntungan dari hasil usaha budidaya ikan nila yang mereka lakukan. Hasil yang mereka dapatkan merupakan kerja keras mereka selama empat bulan, mulai dari menebar bibit sampai memanen. Pada umumnya hasil yang diperoleh merupakan hasil pembesaran.
Dalam dunia bisnis, berbagai kegiatan dari jenis usaha yang memproduksi barang-barang, usaha dagang yang mendistribusikan barang dagangan dan usaha jasa, pada akhirnya akan bermuara pada kegiatan penjualan barang atau jasa. Kegiatan penjualan merupakan penentuan dalam dunia bisnis, dimana dengan adanya kegiatan penjualan tersebut pihak
58 Apri Andani. 2014. Analisis Pendapatan dan Resiko Usaha Budidaya Ikan Air Tawar di Kabupaten Bengkulu Selatan. Universitas Bengkulu. Vol 14 No. 1 ISSN 1412-8837
perusahaan akan memperoleh penggantian sebesar harga barang atau jasa yang dimufakati saat akan jual beli dilakukan. dari kegiatan penjualan tersebut pihak penjual mengharapkan bahwa barang-barang atau jasa akan lagi pada titik harga yang nilainya lebih tinggi dari harga pokok sehingga perusahaan akan mampu memperoleh laba. Untuk mencapai tingkat laba yang maksimal pihak manajer penjualan harus mampu melihat dan mencermati kondisi pasar yang ada. Dengan demikian, pihak manajer penjualan dapat melihat peluang yang ada di pasar.59
Kebijakan harga merupakan satu unsur kunci dalam memenangkan persaingan. Kebijakan harga menentukan keputusan konsumen apakah membeli, berapa banyak dan bagaimana cara pembeliannya. Harga merupakan fungsi dari biaya, setelah seluruh komponen biaya diperhitungkan, barulah dapat ditetapkan harga.60
Adapun hasil wawancara yang telah didapatkan selama penelitian terjun ke lapangan terkait analisis komparatif harga jual nila bertulang dan tidak bertulang di desa kejayan yaitu sebagai berikut:
Hasil wawancara dengan bapak Muzayyin
“Ikan nila yang dijual disini ada dua macam yaitu ikan nila bertulang dan ikan nila tanpa tulang. Proses penjualannya pun berbeda, untuk ikan nila bertulang setelah panen kemudian ditimbang per kg lalu di bungkus plastik. Sedangkan untuk ikan nila tanpa tulang setelah panen ditimbang per kg lalu di lakukan proses pencabutan tulang ikan kemudian dikemas dengan mika. Dari segi harga ada Perbedaan antara ikan nila bertulang dan ikan nila tidak bertulang. Untuk ikan
59 Filisita. 2012. Analisis Penentuan Harga Pokok Penjualan dalam Rangka Penetapan Harga Jual Makanan. Universitas Sam ratulangi.
60 Sutrisno iwantoro. 2002. Kiat sukses Berwirausaha. PT Grasindo: Jakarta
52
nila bertulang Rp 25.000 / kg, dan untuk ikan nila tanpa tulang Rp 35.000 / kg. Meskipun harga ikan nila tanpa tulang lebih mahal dari ikan nila bertulang tapi banyak konsumen yang lebih suka membeli ikan nila tanpa tulang alasannya karena ikan nila tanpa tulang lebih mudah untuk dimasak dan juga tidak khawatir akan duri-duri atau tulang yang ada pada ikan karena sudah dicabut terlebih dahulu sebelum dimasaknya”.61
Hasil wawancara dengan bapak syukron
“Di tempat saya hanya menjual satu produk yaitu ikan nila biasa atau yang masih bertulang. setelah panen ikan nila ditimbang per kg lalu di bungkus plastik dan di jual. Harga ikan nila Rp 25.000 / kg. Untuk konsumen yaitu para pengepul tapi tidak setiap panen diambil pengepul ada juga masyarakat disini yang juga membelinya, biasanya ikan nila yang masih bertulang ini dibuat untuk bakar bakar seperti itu”.62
Pada umumnya dalam berusaha mempunyai tujuan mendapatkan laba tertentu atau semaksimal mungkin, dan mempertahankan atau bahkan berusaha meningkatkannya dalam jangka panjang. Tujuan tersebut dapat direalisasi apabila penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan, dengan demikian tidak berarti bahwa produk yang terjual selalu akan menghasilkan laba, maka faktor-faktor tersebut harus mendapatkan perhatian sepenuhnya bagi yang berusaha.
Konsep pemasaran dimulai dari konsumen sasaran dan kebutuhan serta keinginan mereka. Perusahaan mengintegrasikan dan mengkoordinir semua kegiatan yang dapat memberikan kepuasan konsumen. Perusahaan mencapai keuntungan dengan menciptakan dan mempertahankan kepuasan konsumen.63
61 Muzayyin, 7 Oktober 2022
62 Sukron, 7 Oktober 2022
63 Mohammad kanzunnudin. 2018. konsep penjualan dan konsep pemasaran. Semarang
Berdasarkan hasil wawancara dari dua narasumber diatas didapatkan bahwa ada perbedaan harga anta ikan nila bertulang dan ikan nila tidak bertulang. Perbedaannya disini yaitu untuk ikan nila tidak bertulang harga nya lebih tinggi dibandingkan dengan ikan nila bertulang, karena ikan nila tidak bertulang ini setelah panen masih dilakukan proses pencabutan tulang terlebih dahulu sebelum dijual kepada konsumen, hal ini yang membuat ikan nila tidak bertulang menjadi produk yang bernilai tinggi. Dan untuk harganya yaitu, ikan nila bertulang 25.000/kg sedangkan harga ikan nila tidak bertulang 35.000/kg. Meskipun dengan harga yang jauh berbeda hal ini tidak mengurangi konsumen ikan nila, bahkan dengan ditemukannya metode pencabutan tulang ini para konsumen ikan nila yang dulunya mengeluh terhadap tulang-tulang ikan kini kembali lagi mengkonsumsi ikan nila karena sudah tidak khawatir lagi akan tulang-tulang ikan nila yang banyak tajam.
Peneliti disini juga tidak lupa untuk mencari data kepada para konsumen ikan nila dan data yang didapatkan adalah sebagai berikut
Hasil wawancara dengan ibu Maimunah konsumen ikan nila
“Saya setiap hari memesan 6 mika ikan nila tanpa tulang, dengan harga Rp. 35.000/kg, selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk bahan jualan saya di warung. Sebelum ada ikan nila tanpa tulang, dulunya saya menggunakan ikan nila yang masih utuh, namun dulu saya memesannya tidak sebanyak sekarang karena dulu jarang pembeli yang mau mengkonsumsi ikan nila, karena tulang-tulang nya yang banyak dan sangat tajam sehingga membuat pembeli di warung enggan untuk mengkonsumsi ikan nila. Dengan adanya ikan nila tanpa tulang ini banyak sekali pembeli di warung yang suka akan ikan nila tanpa tulang ini. Menurut saya ikan nila yang masih utuh (bertulang) lebih enak yang ukurannya besar karena dagingnya
54
tebal dan mudah mengetahui tulang-tulangnya berbeda dengan ikan nila yang ukurannya kecil.”64
Hasil wawancara dengan ibu Suharyati konsumen ikan nila
“Alhamdulillah, saya adalah salah satu pelanggan rutin dari bapak muzayyin, awalnya saya beli ikan nila yang bertulang, tapi setelah melihat proses memasak dan membersihkan tulangnya sangat lama dan itupun kadang belum tentu benar- benar bersih Ketika dibersihkan sendiri, jadi saya mencoba pesan beberapa kilo ikan nila tanpa tulang, nah hal ini sangat memudahkan saya dalam mengolahnya, bukan hanya itu pelanggan saya juga lebih meningkat pemesanan ikan nila setalah saya membeli ikan nila tanpa tulang.
Jadi sekarang total kurang lebih 4 kilo perhari yang saya pesan dengan harga Rp. 35.000, tapi saya juga tetap membeli ikan nila yang masuk utuh untuk pelanggan yang biasanya pesan ikan nila bakar.”65
Yang disampaikan ibu suharyati juga tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan ibu Maimunah beliau lebih suka ikan nila tanpa tulang sebagai salah satu menu di warungnya, alasannya karena lebih mudah untuk dimasak karena sudah dilakukan pembersihan terlebih dahulu dan tidak khawatir lagi akan tajamnya tulang-tulang ikan nila. Meskipun demikian ibu suharyati ini kadang juga membeli ikan nila yang masih utuh tapi yang ukuran besar untuk diolah dengan cara dipanggang atau dibakar.
Berdasarkan hasil wawancara dari dua narasumber konsumen ikan nila diatas didapatkan bahwa para konsumen lebih suka ikan nila tanpa tulang sebagai konsumsi sehari-hari, alasannya karena ikan nila tanpa tulang sudah bersih dari tulang-tulang sehingga memudahkan para konsumen untuk memasaknya dan hargannya sangat terjangkau karena ikan nila tanpa tulang masih memerlukan pembersihan tulang-tulang yang halus.
64 Maimunah, 28 Oktober 2022
65 Suharyati, 28 Oktober 2022
3. Implikasi Penjualan Ikan Nila Bertulang dan Tidak Bertulang Terhadap Pendapatan Pembudidaya Ikan Nila di Desa Kejayan Kabupaten Bondowoso
Implikasi penjualan merupakan perbandingan harga jual ikan nila bertulang dengan ikan nila tidak bertulang. Hal ini terdapat perbedaan yang sangat signifikan, karena minat masyarakat yang sudah meningkat terhadap ikan nila tidak bertulang. Sesuai dengan data yang didapatkan banyak konsumen yang mengeluh dalam hal membersihkan tulang-tulang ikan nila yang sangat kecil – kecil, perlu ketelitian dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkan tulang-tulang tersebut.
Adapun hasil wawancara yang telah didapatkan selama penelitian terjun ke lapangan terkait analisis komparatif harga jual ikan nila bertulang dan tidak bertulang di Desa Kejayan yaitu sebagai berikut:
Hasil wawancara dengan bapak Muzayyin pembudidaya ikan nila
“Pertama kali saya membudidayakan ikan nila memang hanya menjual ikan nila yang masih utuh (bertulang). Dari penjualan ikan nila yang masih utuh ini saya mendapatkan keuntungan. Namun belakangan ikan nila yang masih utuh (bertulang) ini kurang banyak peminatnya di karenakan keluhan dari konsumen ikan nila yang mengatakan kalau ikan nila ini banyak tulang-tulang nya dan juga tulangnya tajam, sehingga saya mencoba untuk mencari solusi agar ikan nila ini kembali laku di pasarkan, dan saya mencoba untuk melakukan pencabutan tulang-tulang ikan nila terlebih dahulu sebelum ikan nila dipasarkan yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ikan nila tanpa tulang. Dan Alhamdulillah usaha saya ini berhasil sehingga membuat para konsumen ikan nila yang dulunya khawatir akan tulang-tulang ikan nila kini kembali mengkonsumsi ikan nila.”66
66 Muzayyin, 7 Oktober 2022