BAB III METODE PENELITIAN
G. Keabsahan Data
Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan tehnik triangulasi. Dimana triangulasi bermakna silang dengan mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data dengan menggunakan tehnik pengumpulan data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda.
a. Triangulasi Sumber
Peneliti dalam hal ini melakukan triangulasi sumber dengan cara mencari informasi dari sumber lain atas informasi yang didapatkan dari informan sebelumnya.
b. Triangulasi Metode
Untuk menguji akuratnya sebuah data maka peneliti menggunakan triangulasi metode dengan menggunakan tehnik tertentu yang berbeda dengan tehnik yang digunakan sebelumnya.
c. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu berkenan dengan waktu pengambilan data penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kabupaten Bulukumba.
1. Keadaan Geografis dan Topografis
Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Sulawesi-Selatan. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten sinjai, di timur berbatasan dengan Teluk Bone, di selatan dengan laut flores, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng.
Luas wilayah Kabupaten Bulukumba sekitar 1.154.7 km2 atau sekitar 2,5% dari luas profinsi Sulawesi selatan dan secara administratife dan terbagi dalam 10 Kecamatan, dan terbagi dalam 27 kelurahan dan Desa. Pertanian adalah salah satu potensi unggulan yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian Kabupaten Bulukumba. Tanaman pangan yang potensial adalah tanaman padi dan merupakan bahan pangan utama masyarakat.
Wilayah Kabupaten Bulukumba hampir 95,4%berada pada ketinggian 0 sampai 1000 meter dari ats permukaan laut dengan tinglkat kemiringan tanah umumnya 0-40. Kabupaten Bulukumba terletak pada bagian selatan Jazirah Sulawesi dan berjarak kurang lebih 153 km dari ibu kota provinsi Sulwesi Selatan Makassar. Dengan batas- batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Kabupaten Sinjai dengan letak astonomis 05-20 Lintang Selatan.
b. Sebelah Timur : Teluk Bone dengan Letak astronomis 120- 20 Bujur Timur.
35
c. Sebelah Selatan : Laut Flores dengan letak astronomis 05-40 Lintang Selatan.
d. Sebelah Barat : Kabupaten Bulukumba dengan letak astronomis 11- 58 Bujur Timur.
Awal terbentuknya Kabupaten Bulukumba hanya terdiri atas tujuh kecamatan (ujung bulu, Gantarang, Bulukumpa, Bontobahri, Bontotiro, Kajang, dan Herlang, tetapi beberapa kecamtam kemudian dimekarkan dan kini butta panrita lopi sudah terdiri dari 10 kecamatan.
Tabel 2 : Luas Wilayah Jumlah Penduduk N
Dari 10 kecamatan tersebut, tujuh daintaranya merupakan daerah pesisir sebagai Sentara pengembangan Pariwisata.
2. Jumlah Penduduk Dan Mata Pencaharian Kabupaten Bulukumba a. Jumlah Penduduk
Penduduk Kabupaten Bulukumba pada tahun 2011 tercatat sebanyak 398,531jiwa yang terdiri dari laki- laki 187,439 jiwa dan perempuan 211.092 jiwa. Penduduk tersebut tersebar diseluruh desa/ kelurahan dalam wilayah kabupaten bulukumba dengan kepadatan 345 jiwa/ km2. Kecamatan terpadat adalah kecamatan Ujung Bulu yaitu 3.360 Jiwa/km2 dan yang terjarang penduduknya adalah kecamatan sekitar 202 jiwa/ kam2.
Dilihat dari perkembangan jumlah penduduk dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu periode 2007- 2011 terdapat peningkatan jumlah penduduk sebesar 0,79 % pada tahun 2007 berdasarkan hasil pengabdaan data dari biro pusat statistik Kabupaten Bulukumba jumlah penduduk yang tercatat sebanyak 386,239 jiwa penduduk Kabupaten Bulukumba yang terdiri dari laki- laki 183.737 jiwa dan perempuan 202.502 jiwa.
Tabel 3 : Jumlah penduduk Kabupaten Bulukumba
NO KECAMATAN JUMLAH
PENDUDUK
LUAS KEPADATAN
PENDUDUK
1. Gantarang 71,741 173,51 413
2. Ujung Bulu 48,518 14,44 3,360
3. Ujung Loe 26, 964 96 276
4. Bonto Bahari 11,301 57 223
5. Bonto Tiro 7,999 40 294
6. Herlang 38, 202 187 354
7. Kajang 22,920 222 368
8. Bulukumba 27,861 320 299
9. Riau Ale 117, 53 117,53 324
10. Kindang 148,76 148,76 202
Jumlah 2011 398,531 1.154.67 345
Sumber: data sekunder Kabupaten Bulukumba b. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk Kabupaten Bulukumba bergerak pada beberapa jenis kegiatan seperti pada sektor pertanian, nelayan, perdagangan, dan lain sebagainya. Sebagia besar penduduk bergerak pada sektor pertanian dan nelayan, sedangkan selebihnya berprofesi pada kegiatan perkebunan, perdagangan, pegawai negri sipil, karyawan swasta, pertambangan, angkutan bangunan dan lain sebagainya hal ini disebabkan oleh potensi lahan yang cukup subur dan ditunjang oleh prasarana
penunjang seperti jaringan irigasi dan industry pengolahan hasil pertanian lainnya. Sedangkan penduduk lainnya yang tidak bekerja merupakan ibu rumah tangga dan penduduk usia sekolah, dan selebihnya pencari atau penduduk yang belum memperoleh pekerjaan.
Kabupaten Bulukumba juga merupakan daerah di wilayah selatan sebagai salah satu sentra produksi pangan andalan, yang memberikan kontribusi dalam memperkokoh Sulawesi-Selatan sebagai lumbung padi nasional. Tanaman pangan yang sangat potensial yakni tanaman padi dan merupakan bahan pangan utama masyarakat, terdapat pula tanaman bahan pangan lainnya seperti seperti jagung, ubi kayu,, ubi jalar, kacang tanah, kacang ijo dan kedelai yang merupakan tanaman sela atau tanaman antara yang ditanam oleh petani setelah sekali/dua kali panen tanaman padi, khususnya dilokasi lahan persawahan sedangkan pada lokasi non persawahan tanaman tersebut diantaranya merupakan tanaman utama.
c. Sejarah Kabupaten Bulukumba
Mitologi penamaan Bulukumba konon katanya bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu ‘Bulu’ku dan Mupa yang dalam bahasa Indonesia berarti masih milik saya atau tetap gunung milik saya. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke-17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bone, di pesisir pantai yang bernama ‘Tana Kongkong, disitulah utusan Raja Gowa dan Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing. Bangkeng Buki’(secara
harfiah berarti kaki bukit) yang merupakan barisan lereng bukit dari dari Gunung Lompobattang diklaim oleh pihak kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaanya mulai dari Kindang sampai bagian timur. Namun pihak Kerajaan Bone berkeras mempertahankan Bangkeng Buki sebagai wilayah kekuasaanya mulai dari barat sampai keselatan.
Berawal dari peristiwa inilah kemudia tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis ‘Bulu’kumupa yang kemudia pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses menjadi Bulukumba. Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten. Peresmian Bulukumba menjadi sebuah nama kabupaten mulai terbitnya undang – undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah Tingkat IIdi Sulawesi yang ditindaklanjuti dengan peraturan Dearah kabupaten Bulukumba Nomor 5 Tahun 1978, tentang lambang Daerah. Akhirnya setelah dilakukan seminar sehari pada tanggal28 Maret 1994 dengan Narasumber Prof. Dr.H Ahamd Mattualada (ahli sejarah dan Budaya) maka ditetapkan hari jadi kabupaten Bulukumba, yaitu pada tanggal 4 februari 1960 melalui peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994.
Secara yuridis kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah diletakkan lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba
d. Informan Penelitian
Informan yang dijadikan sumber penelitian setidaknya mengetahui hal- hal yang mengenai atau mengetahui kebijakan perlindungan anak di bawah umur di
Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bulukumba, ada 8 informan yang dijadikan sumber data dalam penelitian.
Tabel 4: informan
NO NAMA KETERANGAN
1. Drs. Arifin Arfah Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Dinas Sosial
2. Raba dg Nompo Kepala Seksi ABH dan Lansia
3. Muh. Ali Saleng Kepala Dinas Pendidikan
4. Sitti Aisyah Staf Dinas Pendidikan
5. Musdalifah Masyarakat
6. Kamaruddin Masyarakat
7. Hasrullah Anak yang mendapatkan perlakuan
eksploitasi ekonomi
8. Khaerun Nisa Anak yang mendapatkan perlakuan eksploitasi ekonomi
9. Suaib Anak yang mendapatkan perlakuan
eksploitasi ekonomi
10. Kamariah Anak yang mendapatkan perlakuan
eksploitasi ekonomi Sumber data: Olahan Data Primer
B. Implementasi Kebijakan Perlindungan Anak di Bawah Umur di Dinas, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial Kabupaten Bulukumba Atas Kegiatan Ekploitasi Ekonomi.
Kegiatan eksploitasi ekonomi yang terjadi di kabupaten Bulukumba sangat memprihatinkan dan sungguh sangat merisaukan sehingga harus diusahakan untuk dapat menekan, membatasi, mengurangi dan dihapuskan. Setiap kegiatan eksploitasi ekonomi yang terjadi yang menjadi korban adalah anak. Sehinga perlu dilaksanakan suatu program perlindungan terhadap anak dan perempuan.
Usaha Pemerintah Kota Kabupaten Bulukumba dalam menangani permasalahan ekploitasi ekonomi terhadap anak tersebut merupakan implementasi dari Pasal 66 ayat 1 UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa “Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 merupakan kewajiban dan tanggungjawab pemerintah dan masyarakat”. Dan dalam ayat 2 disebutkan bahwa “Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan melalui: (a). Penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; (b).
Pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi, dan (c). Pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau seksual”. Perlu diketahui bahwa dalam Pasal 59 UU RI No. 23 Tahun 2002 dinyatakan bahwa “Pemerintah dan lembaga lainnya berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus, antara lain kepada anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/ atau seksual”.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Bulukumba jumlah anak jalanan di tahun 2012 adalah 250 anak. Berikut adalah data jumlah anak yang menjadi korban ekploitasi anak di kota Bulukumba.
Tabel 1.1 Jumlah Pekerja Anak Menurut Kecamatan Di Kota Kabupaten Bulukumba Tahun 2012
No Kecamatan Jumlah Anak
1. Gantarang 45
2. Ujung Bulu 50
3. Ujung Loe 25
4. Bonto Bahari 17
5. Bonto Tiro 20
6. Herlang 15
7. Kajang 15
8. Bulukumba 12
9. Riau Ale 16
10. Kindang 35
Jumlah 2011 250
Sumber : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Beradasarkan hal tersebut maka upaya yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Bulukumba yang juga diatur dalam UU No 23 Tahun 2002 sebagai kewajiban dan tanggung jawab Negara dan pemerintah dalam usaha perlindungan anak yaitu sebagai berikut;
1. Menghormati dan Menjamin Hak Anak.
Hak anak adalah merupakan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Menghormati dan menajamin hak anak berarti tidak ada pembeda-bedaan atas dasar apapun, termasuk atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, keyakinan dan lainnya baik pada diri sianak maupun pada orang tuanya. Program ini dimaksdukan agar setiap anak mendapatkan perlakuan yang sama oleh Negara
Hasil wawancara penulis dengan Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan:
“Kegiatan menghormati dan menjamin hak anak sangat penting agar setiap anak bisa mendapatkan perlakuan yang sama sehingga anak mendapatkan apa yang menjadi hak-hak mereka dan terhindar dari segala macam tindakan yang bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.” (wawancara penulis dengan A.A tanggal 15 Juni 2014)
Upaya menghormati dan menjamin hak bagi anak dapat di artikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Jadi masalah
menghormati dan menjamin hak bagi anak mencakup ruang lingkup yang sangat luas. Ruang lingkup yang cukup luas dari masalah anak, terlihat dari cukup banyaknya dokumen/instrument internasional yang berkaitan dengan masalah anak ini yang diantarannya adalah masalah ekploitasi anak, oleh sebab itu upaya menghormati dan menjamin hak anak terhadap anak yang tereksploitasi ekonomi dilakukan dengan berdasarkan pasal 19 Kepres Nomor 36 tahun 1990 tentang Konvensi Hak-Hak Anak, yang isinya :
1. Negara-negara Pihak harus mengambil semua tindakan legislatif, administratif, sosial dan pendidikan yang tepat untuk melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental, luka-luka atau penyalahgunaan, penelantaran atau perlakuan alpa, perlakuan buruk atau eksploitasi, termasuk penyalahgunaan seks selama dalam pengasuhan (para) orang tua, wali hukum atau orang lain manapun yang memiliki tanggung jawab mengasuh anak.
2. Tindakan-tindakan perlindungan tersebut, sebagai layaknya, seharusnya mencakup prosedur-prosedur yang efektif untuk penyusunan program-program sosial untuk memberikan dukungan yang perlu bagi mereka yang mempunyai tanggung jawab perawatan anak, dan juga untuk bentuk-bentuk pencegahan lain, dan untuk identifikasi, melaporkan, penyerahan, pemeriksaan, perlakuan dan tindak lanjut kejadian- kejadian perlakuan buruk terhadap anak yagn digambarkan sebelum ini, dan, sebagaimana layaknya, untuk keterlibatan pengadilan”.
Pasal lain yang dapat dijadikan upaya pencegahan dari Eksploitasi dan Tindak Kekerasan terhadap anak jalanan adalah Pasal 32 Kepres No 36 tahun 1990 tentang Konvensi Hak-Hak Anak, yang isinya adalah :
1. Negara-negara Pihak mengakui hak anak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan dari melakukan setiap pekerjaan yang mungkin berbahaya atau mengganggu pendidikan si anak, atau membahayakan kesehatan si anak atau pengembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosialnya.
2. Negara-negara Pihak harus mengambil langkah-langkah legislatif, administratif, sosial dan pendidikan untuk menjamin pelaksanaan pasal ini. Untuk tujuan ini, dan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang relevan dari instrumen-instrumen internasional yang lain, maka Negara-negara Pihak harus terutama:
a. Menentukan umur minimum atau umur-umur minimum untuk izin bekerja
b. Menetapkan peraturan yang tepat mengenai jam-jam kerja dan syarat-syarat perburuhan
c. Menentukan hukuman-hukuman atau sanksi-sanksi lain yang tepat untuk menjamin pelaksanaan pasal ini yang efektif”.
Berdasarkan hal tersebut wawancara peneliti dengan Kepala Seksi Anak dan Lansia Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengungkapkan bahwa:
“Langkah awal yang kami lakukan dalam hal menghormati dan menjamin hak anak adalah memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat, anak dan orang tua bahwa setiap anak mempunyai hak-hak yang senantiasa dihormati dan dijamin baik itu hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk hidup dan hak terbebaskan dari tindakan ekploitasi.(wawancara penuli dengan R.N tanggal 15 Juni 2014)
Berkaitan dengan peran masyarakat, hasil wawancara peneliti dengan salah seorang masyarakat mengungkapkan bahwa;
“Dalam hal ini bisa membebaskan anak dari tindakan diskriminasi dan ekploitasi, karna pemikiran masyarakat sekarang ini menganggap bahwa anak yang dilahirkan sedianya mereka harus membantu pekerjaan orang tua mereka tanpa meliahat dan melihat apa yang menjadi hak dari nak mereka. (wawancara penulis dengan M tanggal 18 Juni 2014)
Berkaitan hal ini juga wawancara peneliti dengan salah satu orang tua anak mengungkapkan;
“Kami sebagai orang tua tidak bermaksud untuk tidak menghormati apa yang menjadi keinginan hak-hak anak kami, tetapi keadaan kami yang harus memaksa untuk mengikutsertakan anak kami dalam hal melakukan kegiatan kami sehari-hari. (wawancara penulis dengan K tanggal 18 Juni 2014)
Dari beberapa pernyataan informan diatas tentang menghormati dan menjamin hak anak dapat disimpulkan bahwa proses ini merupakan proses yang sangat penting untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapt melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental, dan sosial. Kegiatan ini harus terlaksana diseluruh lapisan masyarakat dalam berbagai kedudukan dan peranan dan menyadari betapa pentinganya anak bagi nusa dan bangsa dikemudian hari.
2. Memberikan Dukungan Sarana Dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan perlengkapan daerah untuk tujuan melayani kebutuhan untuk masyarakat setempat. Pembangunan sarana dan
prasarana di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam melakukan perlindungan anak di bawah umur merupakan tujuan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam membantu anak di bawah umur dalam bentuk sarana dan prasarananya. Yang dimana sarana merupakan sesuatu yang dapat digunakan sebagai angkat atau peralatan dalam mencapai maksud dan tujuan, sedangkan prasarana adalah sesuatu yang merupakan faktor penunjang terlaksananya suatu proses kegiatan yang dapat di klasifikasikan hal- hal yang termasuk sarana dan prasarana.
Sarana Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai ujung lombak yang dimana dapat diartikan sebagai usaha yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pelayanan kepada anak di bawah umur pada suatu daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu perekonomian mereka.
Hasil wawancara Penulis dengan Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi
“dapat dilihat keadaan di kantor dinas sosial ini, disini kami masih minim akan sarana dan prasarana untuk menunjang kinerja kami sebagai aparatur pemerintah begitu pula masih minimnya infrastruktur seperti, gedung, sekolah, kantor pelayanan kesehatan di kabupaten bulukumba dalam membantu anak di bawah umur.(wawancara penulis dengan A.A tanggal 15 Juni 2014 ).
Dari hasil wawancara kepada kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi di atas penulis menganalisi dan menarik kesimpulan bahwa di Kabupaten Bulukumba masih minim mengenai sarana pendidikan yang tersedia, tidak ada kantor pelayananan kesehatan (puskesmas), yang dapat menghambat kebutuhan masyarakat.
Senada dengan pendapat masyarakat mengenai pendapat informan di atas,
“sarana dan prasarana pendidikan (gedung sekolah), masih minim dan belum ada fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas), fasilitas pendidikan yang tersedia hanya 2 gedung Sekolah Dasar dan 4 gedung PAUD. Hal yang sangat memperihatinkan ketika ada warga yang sedang sakit dan harus di bawah ke rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari sini.
(wawancara penulis dengan K tanggal 18 Juni 2014 )
Hasil observasi dan wawancara di atas penulis menganalisis dan menyimpulkan bahwa perlindungan anak di bawah umur di Kabupaten Bulukumba sangat memperihatinkan, sebab sarana dan prasarannya yang masih minim, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk melanjutkan pendidikannya seperti anak- anak yang hidup dalam kehidupan berkecukupan.
Senada dengan yang dikatakan oleh Anak yang mendapatkan perlakuan eksploitasi ekonomi berikut ini,
“saya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama di karenakan di Kantor Dinas Sosial tidak menyediakan fasilitas gedung sekolah tersebut, karena tidak adanya dana sehingga saya mengamen untuk mencari kesibukan sekaligus membantu kehidupan saya.
(wawancara penulis dengan H tanggal 18 Juni 2014 )
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, bahwa anak yang mendapatkan perlakuan eksploitasi ekonomi sangat memprihatinkan karena tidak adanya bentuk sarana dan prasarana yang disediakan secara lengkap.
Merangkum dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa apa yang di katakan tiap informan yang lainnya sama- sama mengatakan hal yang sama, bahwa bentuk sarana dan prasarana untuk perlindungan anak di bawah umur masih minim atau belum optimal, sehingga pengurus yang bertanggung
jawab dalam perlindungan anak di bawah umur tidak bisa berbuat apa-apa karena fasilitas yang terbatas
3. Hak dan Kewajiban Orang Tua
Setiap insan memiliki hak dan kewajibannya masing- masing yang dianugrahkan Allah SWT sejak masih di dalam perut kandungan. Agama islam telah menyediakan berbagai tuntutan kehidupan seperti halnya berkehidupan rumah tangga. Agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik, anak dan orang tua harus menjalankan kewajibannya masing- masing dan menyesuaikan haknya.
Orang tua merupakan sosok terpenting dan paling berjasa dalam sejarah kehidupan manusia. Kehadirannya sungguh tak ternilai harganya. Pengorbananya pun tidak terkira dan tidak terhingga besarnya. Semua waktu, tenaga dan harta ia korbankan hanya untuk memberikan kebahagian bagi sang buah hatinya.
Pendidikan dan pembimbingan terhadap putra- putrinya pun selalu ia lakukan hanya agar putra- putrinya nanti mampu menjadi seorang yang sukses baik di dunia maupun di akhirat kelak. Seperti yang di ungkapkan Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Dinas Sosial
Hasil wawancara penulis dengan Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bulukumba
“hak dan kewajiban orang tua dalam perlindungan anak mereka, sangat memperihatinkan, sebab di lihat dari fenomena yang terjadi dalam lingkungan masyarakat, masih banyak orang tua yang melakukan penindasan kepada anak mereka dengan cara memperkerjakan mereka agar mendapat uang untuk kebutuhan orang tuanya, selain itu masih banyak juga orang tua yang tidak memberikan kasih sayang mereka sejak anaknya lahir serta tumbuh dewasa, mereka hanya mengandalkan pembantu rumah tangga untuk mengasuh anak mereka serta tidak
mengajarkan hal-hal yang baik kepada anaknya. Padahal anak di usia dini perlu kasih sayang ibu atau bapaknya untuk mengajarkan banyak hal, (wawancara penulis dengan A.A tanggal 15 Juni 2014)
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa hak dan kewajiban orang tua dalam melindungi anak mereka masih minim, sebab masih banyak orang tua yang melantarkan anak mereka ke jalanan untuk bisa mencari uang sendiri untuk menghidupi kehidupannya.
Senada dengan ungkapan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mengatakan bahwa hak dan kewajiban orang tua, masih minim. Sebab masih banyak orang tua di luar sana yang tidak memperhatikan anaknya. Dinas Pendidikan mengungkapkan hal yang sama.
Hasil wawancara penulis dengan Kepala Dinas Pendidikan
“akibat kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya, mengakibatkan pola pikir yang dimiliki anak, terganggu karena lingkungan mereka yang membuat dirinya tidak bisa menerima yang terjadi dalam lingkungan keluarganya. Sebab anak yang masih di bawah umur, sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya, agar mereka bisa merasakan kehidupan bahagia. Selain itu anak juga harus bisa mengerti dengan situasi yang di alami orang tua, supaya anak dan orang tua bisa memiliki daya tarik yang kuat agar anak bisa merasa nyaman dan sebaliknya orang tua pun bisa senang melihat anaknya tumbuh dengan baik dan bisa memgembangkan bakat yang mereka miliki. (wawancara penulis dengan M.A.S tanggal 16 Juni 2014)
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa hak dan kewajiban orang tua dalam perlindungan anak di bawah umur, sangat penting, sebab dapat berpengaruh dengan pola pikir yang mereka miliki, sehingga anak yang memiliki
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa hak dan kewajiban orang tua dalam perlindungan anak di bawah umur, sangat penting, sebab dapat berpengaruh dengan pola pikir yang mereka miliki, sehingga anak yang memiliki