• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Kebijakan Perlindungan Anak

Bangsa Indonesia sudah selayaknya memberikan perhatian terhadap perlindungan anak karena amanat UUD 1945 Pasal 28B (2) menyatakan bahwa

“Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”, kemudian Pasal 33 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan kejam tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan”, dan dalam Pasal 52 (1) dinyatakan bahwa “Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat dan negara”. Perlindungan anak tersebut berkaitan erat untuk mendapatkan hak asasi mutlak dan mendasar yang tidak boleh dikurangi satupun atau mengorbankan hak mutlak lainnya untuk mendapatkan haklainnya, sehingga anak tersebut akan mendapatkan hak-haknya sebagai manusia seutuhnya bila ia menginjak dewasa. Dengan demikian bila anak telah menjadi dewasa, maka anak tersebut akan mengetahui dan memahami mengenai apa yang menjadi hak dan kewajibannya baik terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Pasal 1 Ayat 2 Undang Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa yang dimaksud perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam Pasal 13 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang

bertanggungjawab atas pengasuhan berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan dan prlakuan salah lainnya”. Pasal 59 menyatakan bahwa “Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/ atau mental, anak yang menyandang cacat dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran”.

Selanjutnya Pasal 66 ayat (1) dinyatakan bahwa “Perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan atau seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat”.

Kemudian ayat (2) menyatakan bahwa “Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui; a).

Penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; b). Pemantauan pelaporan dan pemberian sanksi; c). Pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau seksual”. Dan pada ayat (3) dinyatakan bahwa “Setiap orang

dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh, melakukan, atau turut melakukan eksploitasi terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”.

“Perlindungan anak merupakan kegiatan seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai kedudukan dan peranan, yang menyadari betul pentingnya anak bagi nusa dan bangsa dikemudian hari. Jika mereka telah matang pertumbuhan fisik ataupun mental dan sosialnya, maka tiba saatnya menggantikan generasi terdahulu.”

Gosita (2012;97) berpendapat bahwa perlindungan anak adalah suatu usaha melindungi anak agar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya.

Perlindungan hak-hak anak ada pada hakikatnya menyangkut langsung pengaturan dalam perundang-undangan. Kebijaksanaan, usaha dan kegiatan yang menjamin terwujudnya perlindungan hak-hak anak, pertama-tama didasarkan atas pertimbangan bahwa anak-anak merupakan golongan yang rawan dan dependent, disamping karna adanya golongan anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembanganya, baik secara rohani, jasmani, maupun sosial .

Perlindungan anak dapat juga diartikan sebagai segala upaya yang ditunjukan untuk mencegah, rehabilitasi dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental maupun sosialnya. Perlindungan anak adalah suatu usaha melindungi anak agar dapat melaksanakan hak dan melaksanakannya.

Menurut Gulton (2012;70), mengemukakan bahwa dasar pelaksanaan perlindungan anak adalah:

a. Dasar Filosofis, pancasila dasar kegiatan dalam berbagai bidang kehidupan keluarga, bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa dan dasar filosofis pelaksanaan perlindungan anak.

b. Dasar Etis, pelaksanaan perlindungan anak harus sesuai dengan etika profesi yang berkaitan, untuk mencegah perilaku menyimpang dalam pelaksanaan kewenagan, kekuasaan, dan kekuatan pelaksanaan perlindungan anak.

c. Dasar Yuridis, pelaksanaan perlindungan anak harus didasarkan pada UUD 1945 dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.

Penerapan dasar yuridis ini harus integratif, yaitu penerapan terpadu menyangkut peraturan perundang-undangan dari berbagai bidang hukum yang berkaitan.

Perlindungan anak tidak boleh dilakukan secara tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan maupun diri anak itu sendiri, sehingga usaha perlindungan anak berakibat negatif.

Perlindungan anak dilaksanakan rasional, bertanggng jawab dan bermanfaat mencerminkan suatu usaha yang efektif dan efesien.

Kewajiban dan tanggung jawab Negara dan pemerintah dalam usaha perlindungan anak diatur dalam UU No 23 Tahun 2002 yaitu:

a. Menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya, dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak dan kondisi fisik dan/atau mental (pasal 21);

b. Memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelanggaraan perlindungan anak (pasal 22)

c. Menjamin perlindungan anak, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali atau orang lain yang secara umum bertanggung jawab terhadap anak dan mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak (pasal 23)

d. Menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak (pasal 24).

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, dalam pengimplementasian kebijakan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Teori Merille Grindle, yang mengatakan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan adalah isi kebijakan dan konteks kebijakan.Isi kebijakan Perlindungan anak tersebut adalah:

a) Manfaat Perlindungan Anak

Hasil penelitian menunjukan secara umum tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan anak tinggi dibanding tingkat kepuasan implementor atau pelaksana. Implementor menilai sosialisasi merupakan aspek yang paling tidak memuaskan sehingga masyarakat tidak menerima manfaat perlindungan anak dengan maksimal. Hasil wawancara mendalam kesulitan dalam sosialisasi sehingga menjadi penghambat masyarakat menerima manfaat dari Implementor karena keterbatasan dana.

b). Pelaksana Program Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang perlindungan anak ditegaskan bahwa orang tua, keluarga, dan

masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi anak sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan pemerintah bertanggung jawab menyediakan fasilitas bagi anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dan terarah. Namun, permasalahan yang muncul dalam pelakasanaan program perlindungan anak ini adalah lemahnya sosialisasi program.Sosialisasi program perlindungan anak dapat dilakukan melalui berbagai cara yang efektif antara lain sebagai berikut:

1) Rapat Koordinasi

Rapat koordinasi diselenggarakan diseluruh tingkatan mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota sampai desa/kelurahan. Hal inidimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman berbagai instrument yang diperlukan sehingga pelaksanaan program Perlindugan anakdengan baik.

2) Media Massa

Sosialisasi melaui media massa dimaksudkan untuk mempercepat danmemperluas jangkauan sasaran sosialisasi. Sosialisasi melaluimedia massa dilakukan melalui media cetak antara lain koran, majalah maupun media elektronik seperti radio, televisi dan internet baik ditingkat nasional maupun daerah.

3) Media Lainnya

Sosialisasi juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan media lainnya antara lain buklet, brosur, stiker, spanduk maupun forum keagamaan,

dan lain-lain yang dikembangkan dalam bahasa lokal maupun nasional. Sosialisasi Perlindungan anak di Kabupaten Bulukumba dengan cara rapat koordinasi melalui musyawarah dengan melibatkan Implementor yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan perlindungan anak.

c) Sumber Daya yang dilibatkan

Bentuk Sumber Daya yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah adanya dukungan anggaran dan fasilitas kebijakan yang dapat menunjang perlindungan terhadap anak. Dengan dukungan sumber daya para implementor dapat melaksanakan perlindungan anak dengan maksimal. Sarana dan prasarana juga merupakan faktor penting dalam mengimplementasikan kebijakan. Selain dari Isi kebijakan yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan juga ada konteks kebijakan atau lingkungan kebijakan yaitu:

b.Lingkungan Kebijakan

.1) Karakteristik lembaga pelaksana

Karakteristik dari lembaga yang berkuasa, akan berpengaruh pada kebijakan yang diambil pemerintah. Apabila lembaga pelaksana yang berkuasa mengedepankan kepentingan rakyat, maka kesejahteraan rakyat akan dengan mudah terwujud, karena lembaga pelaksana yang seperti ini akan mengedepankan kepentingan rakyat. Namun yang terjadi akan sebaliknya apabila pelaksana lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau pribadi.

2) Tingkat Kepatuhan

Implementor diharapkan dapat berperan aktif terhadap program yang dijalankan pemerintah, karena hal ini akan sangat mempengaruhi pelaksanaan program dari pemerintah. Pada dasarnya program yang dilakukan adalah demi kepentingan masyarakat pada umumnya dan kepentingan anak khususnya, sehinggga masyarakat diharapkan dapat seiring sejalan dengan pemerintah agar apa yang menjadi program dapat tercapai.

Dokumen terkait