METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
3.7 Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan derajat kepercayaan data. Uji keabsahan dan keandalan pada penelitian kualitatif dapat deilakukan dengan metode triangulasi dab ketekunan pengamatan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperoleh menggunakan beberapa pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi, ketekunan pengamatan dan teknik triangulasi. Keabsahan data yang sering digunakan antara lain
3.7.1 Pemeriksaan Teman Sejawat Melalui Diskusi
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara dalam bentuk diskusi dengan diskusi dengan rekan-rekan sejawat (Moleong, 2010:332). Pemeriksaan sejawat ini memiliki arti bahwa pemeriksaan yang dilakukan dengan mengumpulkan teman rekan-rekan sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama mereview persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan.
3.7.2 Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci dengan kata lain jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan
kedalaman (Moleong, 2010:332). Keabsahan data dengan teknik ketekunak pengamatan menuntut peneliti untuk mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan.
3.7.3 Teknik Triangulasi
Menurut Meloeng (2010 : 330) triangulasi diguanakan untuk melakukan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang dihasilkan dari penelitian. Penelitian ini menggunakan 3 jenis triangulasi, yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, peneliti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda(Patton dalam Moleong, 2010:330). Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda sertaa triangulasi waktu dengan pengecekan dengan wawancara atau observasi atau teknik lain dalam waktu yang berbeda (Sugiyono, 2009 : 274). Teknik triangulasi adalah cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan dalam konstruksi kenyataan yang dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan.
BAB V
PENUTUP
5.1SimpulanBerdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa anak yang memiliki ibu menderita gangguan jiwa memiliki capaian perkembangan yang lebih lambat dari anak yang memiliki keluarga harmonis. Anak yang memiliki ibu menderita gangguan jiwa cenderung mengalami lebih banyak hambatan dalam memenuhi tugas perkembangannya hal ini terjadi karena anak tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya sehingga mengalami kemunduran dalam berbagai aspek perkembangan.
Kurang tercapainya tugas perkembangan pada SN membuatnya memiliki beberapa permasalahan dalam perkembangan permasalahan tersebut adalah ketidak mampuan merawat diri secara mandiri, kemampuan kognitif yang rendah, SN memiliki intelegensi dan prestasi belajar yang rendah disekolah, Perkembangan bahasa anak tidak sesuai norma sosial yang berlaku dimasyarakat sehingga anak kurang dapat berkomunikasi dengan baik sesuai norma yang berlaku dimasyarakat, SN masih dalam tahap perkembangan moral Prakonvensional, Dampak psikososial pada anak dalah rejected children, sosial withdrawl, kesepian, kurangnya kontrol emosi, perasaan bersalah karena menjadi penyebab ibu menderita gangguan jiwa, putus asa dan cemas terhadap masa depannya, takut disakiti oleh ibunya, self esteem yang rendah dan kurangnya rasa percaya diri.
Anak yang memiliki ibu menderita gangguan jiwa akan menimbulkan masalah seperti ketidakpatuhan, impulsif, rendahnya kompetensi sosial, penurunan aktivitas otak frontal yang akan menurunkan dan ketertarikan pada kejadian eksternal serta reaksi emosional yang lebih tinggi dalam merespon kejadian yang merangsang emosi. SN memiliki permasalahan perkembangan yang sesuai dengan teori yang dikemukakakn oleh Brooks. Akan tetapi SN tidak mengalami penurunan aktivitas frontal yang menurunkan ketertarikam terhadap kejadian eksternal, SN merupakan merupakan anak yang sangat sensitif, mudah tersinggung dan pemarah.
Interaksi yang kurang wajar dan kurang harmonis didalam keluarga menghambat perkembangan anak. Perkembangan yang kurang optimal pada anak terjadi karena anak kurang mendapatkan kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan. Hal ini terjadi karena keluarga tidak dapat membimbing anak untuk menguasainya.
5.2Saran
5.2.1 Kepada Narasumber Penelitian
Hendaknya narasumber dapat melakukan interaksi sosial dengan lingkungannya, tidak menganggap bahwa memiliki orangtua menderita gangguan jiwa adalah sebuah aib bagi dirinya namun justru sebagai motivasi untuk dapat hidup lebih baik. Narasumber diharapkan dapat membuka diri dengan keberadaan dirinya sehingga ia dapat diterima oleh lingkungan sebayanya.
Keluarga diharapkan dapat memberikan pengasuhan dan dukungan sosial kepada narasumber. Keluarga seharusnya tidak menyalahkan anak karena kekambuhan ibunya. disarankan agar melaksanakan tugas kesehatan keluarga, mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberikan perawatan pada penderita gangguan jiwa dengan tepat, mempertahankan suasana lingkungan rumah yang sehat dan menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat sehingga penderita gangguan jiwa mendapat pengobatan yang tepat dan tidak diasingkan dari masyarakat.
5.2.3 Kepada Sekolah
Pihak sekolah diharapkan dapat menangani persoalan kekerasan disekolah dengan mengajarkan problem solving yang lebih baik kepada anak. Sekolah diharapkan dapat menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk belajar. Guru diharapkan tidak melakukan diskriminasi terhadap siswa yang memiliki kemapuan rendah dan memiliki ibu menderita gangguan jiwa.
5.2.4 Kepada Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat memberikan dukungan sosial kepada keluarga yang memiliki anggota menderita gangguan jiwa. Hendaknya masyarakat tidak memberikan stigma negatif dan diskriminasi terhadap keluarga menderita gangguan jiwa. Masyarakat mencari informasi yang cukup mengenai penderita gangguan jiwa sehingga tidak memberikan stigma negative terhadap keluarga dan penderita gangguan jiwa.
Bagi dinas terkait diharapkan dapat memberikan akses kesehatan yang baik bagi masyarakat dipedesaan dan melakukan pengelolaan kesehatan terhadap penderita gangguan jiwa yang mengalami pemasungan, psikotik jalanan dan melakukan sosialisasi bahwa gangguan jiwa adalah penyakit yang dapat disembuhkan sehingga masyarakat lebih mengenal masalah kesehatan jiwa.
5.2.6 Kepada Peneliti Selanjutnya
Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian lain dengan tema yang sama. Peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut mengenai stigma orang menderita gangguan jiwa, Stigma masyarakat terhadap anak dam keluarga menderita gangguan jiwa serta dampak psikologis memiliki anggota menderita gangguan jiwa sehingga hasil penelitian yang didapat dapat lebih kompleks dan komprehensif.