• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Keabsahan Data

menghasilkan penelitian yang bermutu atau data yang kredibel, oleh karena itu peneliti melakukan pengabsahan data dengan berbagai hal sebagai berikut: 1. Perpanjangan Masa Penelitian

Peneliti akan melakukan perpanjangan masa pengamatan jika data yang dikumpulkan dianggap belum cukup, maka dari itu peneliti dengan melakukan pengumpulan data, pengamatan dan wawancara kepada informan baik dalam bentuk pengecekan data maupun mendapatkan data yang belum diperoleh sebelumnya. Oleh karena itu, peneliti menghubungi kembali para informan dan mengumpulkan data sekunder yang masih diperlukan.

2. Meningkatkan ketekunan: melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan.

3. Triangulasi: pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan banyak waktu. Untuk keperluan triangulasi maka dilakukan tiga cara yaitu:

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber adalah membandingkan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan apa yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi, membandingkan hasil wawancara dengan apa yang terjadi di Kampung Kayu Biranga yang menerapkan listrik murah PLTMH.

Triangulasi tekhnik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan tekhnik yang berbeda. Dalam penelitian ini akan menggunakan tekhnik observasi dan wawancara untuk mengecek data yang diperoleh dengan tekhnik pengumpulan data sebelumnya. c. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu digunakan untuk validitas data yang berkaitan dengan pengecekan data berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Perubahan suatu proses dan perilaku manusia mengalami perubahan dari waktu kewaktu. Untuk mendapatkan data yang sah melalui observasi pada penelitian ini, akan diadakan pengamatan yang tidak hanya dilakukan dalam satu kali pengamatan aja, sehingga data yang diperoleh di Kampung Kayu Biranga yang ada di Kabupaten Bulukumba valid.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini, peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan dari data yang berkaitan dengan fokus penelitian sebagai tindak lanjut dari hasil pengumpulan data. Sebelum mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan, maka terlebih dahulu peneliti akan menguraikan secara singkat tentang gambaran umum lokasi penelitian, yaitu di kampung Kayu Biranga, Kel. Borong Rappoa, Kec. Kindang, Kab. Bulukumba.

A. Deskripsi Obyek Penelitian

Borong Rappoa adalah nama Kelurahan yang ada di Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Wilayah Kelurahan Borong Rappoa didominasi oleh areal perkebunan, selebihnya digunakan sebagai areal permukiman penduduk. Hamparan kebun-kebun yang hijau menjadi pemandangan yang indah dan menjadikan Kelurahan Borong Rappoa menjadi sebuah wilayah luas yang menjadikan warga Kelurahan Borong Rappoa sebagai penghasil cengkeh dan kopi terbesar di wilayah Kabupaten Bulukumba.

Jarak dari ibu kota Kecamatan ke Kelurahan kurang lebih 20 meter, sedangkan untuk jarak dari ibu kota Kabupaten kurang lebih 35 km, dan jarak dari kota Provinsi kurang lebih 175 km. Luas wilayah Kelurahan Borong Rappoa seluas 854,18 Km2, yang terdiri dari lahan perkebunan, ladang, hutan, lahan kritis, jalanan, dan lahan perumahan/pemukiman. Adapun batas wilayah Kelurahan Borong Rappoa sebagai berikut:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kindang 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Paenre 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tammauna 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Anrihua

Di Kelurahan Borong Rappoa terdapat 4 Dusun/Lingkungan yakni Dusun Borong Rappoa, Dusun Bangsalaiyya, Dusun Baturapa, dan Dusun Bontomanai. Setiap Dusun memiliki perkampungan, dan untuk kampung Kayu Biranga sendiri terletak di Dusun Bontomanai.

B. Hasil Penelitian

1. Bagaimana Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) Dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba.

Listrik merupakan satu kebutuhan manusia yang sangat penting di zaman ini. Hampir dalam semua aktivitas sehari-hati kita memerlukan tenaga listrik, bahkan ketika kita tidak beraktifitas sekalipun, tenaga listrik tetap diperlukan. Hal ini tentunya menjadikan konsumsi listrik Indonesia terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi sosial.

Tidak meratanya distribusi listrik yang secara umum hanya dapat dijangkau pada wilayah-wilayah dengan akses yang lebih mudah dan kemudian untuk daerah-daerah terpencil yang relatife terisolisir atau akses berat masih sangat kurang dialiri jaringan PLN. Selain dari pada itu harga listrik PLN yang semakin tinggi juga menjadi salah satu penghambat dalam mengupayakan

pemenuhan kebutuhan listrik secara nasional utamanya bagi masyarakat daerah terpencil yang kurang mampu. Oleh sebab itu pemerintah secepatnya harus melakukan suatu gebrakan untuk memecahkan permasalahan ini.

Maka dari itu Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan disini berinovasi dengan membuat sebuah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) yang menghasilkan listrik murah bagi masyarakat daerah terpencil di kampung Kayu Biranga, kelurahan Borong Rappoa, kecamatan Kindang, kabupaten Bulukumba. Dengan hadirnya PLTMH ini dapat menjadi alternative pemenuhan kebutuhan listrik khususnya pada wilayah daerah-daerah terpencil, sehingga dengan begitu setidaknya upaya pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia bisa sedikit diatasi. Sejalan dengan itu maka untuk mengukur inovasi ini berjalan dengan efektif atau tidak terdapat beberapa indikator diantaranya : 1. Relative Advantage (keuntungan relative)

Keuntungan relative ini menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kenyamanan dan kepuasan terhadap hasil yang dirasakan dari sebuah inovasi. Sejauh mana masyarakat menilai terhadap hasil yang dirasakan sangat ditentukan dari segi ekonomi, kenyamanan dan kepuasan dari inovasi tersebut. Keuntungan relative disini mengukur apakah layanan yang diberkan dari sebuah inovasi sudah efisien atau tidak.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak selaku Camat di Kecamatan Kindang kabupaten Bulukumba yang mengatakan bahwa:

“Sebelum ada pembangkit listrik tenaga micro hidro di kampung Kayu Biranga, Masyarakat setempat pada awalnya memakai lampu pelita yang berbahan bakar dari minyak tanah sebagai penerangan. Dibandingkan dengan listrik dari PLN masyarakat setempat lebih memilih listrik dari

PLTMH ini dikarenakan lebih murah yakni hanya dengan membayar 10 ribu rupiah perbulan/KK untuk biaya pemeliharaan PLTMH ini. Selain dimanfaatkan untuk penerangan PLTMH ini juga sudah sangat membantu kegiatan masyarakat sehari-hari misalnya saja saat memakai alat-alat pertukangan, kemudian setelah adanya PLTMH ini masyarakat juga sudah bisa menyalakan televisi dan perabotan rumah tangga elektronik seperti rice cooker, seterika dan barang elektronik lainnya selain kulkas dan ac dikarenakan besar watt yang dihasilkan PLTMH ini hanya sebesar 15 KW untuk 48 KK sehingga masih belum cukup mampu untuk menghidupkan alat/barang tersebut. Dalam hal memenuhi kebutuhan listrik di kampung ini sendiri, masyarakat sudah cukup puas dengan adanya inovasi PLTMH ini”.

(Wawancara AA, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa PLTMH ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di masyarakat khususnya untuk penerangan, dibandingkan dulu dimana masyarakat pada waktu itu masih memakai lampu pelita dengan bahan bakar minyak tanah. Wawancara di atas juga didukung dengan hasil wawancara bersama Bapak selaku Lurah di kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba yang mengatakan:

“Pada awalnya di kampung Kayu Biranga itu masyarakatnya memakai lampu pelita dari minyak tanah untuk penerangan dan selain itu ada juga yang pakai generator genset yang bahan bakar bensin dan dulu itu masyarakat juga sempat memakai pembangkit listrik tenaga surya namun hal itu tidak terlalu lama digunakan karena cepat rusak dan masyarakat tidak dapat memperbaikinya. Hingga akhirnya pada tahun 2018 kemarin dibangunlah PLTMH ini, yang kemudian dengan adanya pembangkit listrik ini, masyarakat sudah tidak lagi pakai pelita dan beralih ke pembangkit listrik tenaga air ini karena lebih murah dibandingkan dengan membeli bahan bakar minyak. Setelah adanya PLTMH ini, masyarakat sudah bisa pakai bola lampu yang terang, bisa putar music, menonton televisi dan juga peralatan elektronik lainnya. Dengan hadirnya ini PLTMH bisa dikatakan sudah cukup memenuhi kebutuhan listrik di kampung Kayu Biranga”.

Dari hasil wawancara disimpulkan, bahwa pembangkit listrik tenaga micro hidro ini lebih baik dibandingkan lampu pelita yang berbahan bakar minyak tanah dan pembangkit listrik tenaga surya. Dengan adanya PLTMH ini masyarakat bisa berhemat karena tidak perlu lagi membeli bahan bakar untuk genset dan lampu pelita. Kemudian dengan adanya PLTMH ini kegiatan masyarakat sehari-hari juga dimudahkan. Sejalan dengan wawancara di atas, wawancara dengan Bapak selaku operator PLTMH Kayu Biranga juga mengatakan:

“Dulu itu kita disini pakai lampu pelita yang pakai minyak tanah untuk penerangan, tapi setelah ada ini pembangkit listrik tenaga air kita disini sudah bisa pakai bohlamp lampu. PLTMH ini sudah cukup membantu disini contohnya sekarang saya sudah bisa menonton, masak nasi dengan ricecooker dan juga saya itu sudah bisa pakai alat-alat mesin perkakas seperti gurinda, kattang (gergaji mesin)”.

(Wawancara NS, 02 Januari 2020)

Gambar 4.1 Mesin Turbin dan Generator Listrik PLTMH

Dari wawancara di atas dapat diketahui bahwa inovasi PLTMH ini benar-benar sudah mencukupi kebutuhan listrik dan memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam bekerja sehari-hari.

Berdasarkan pengamatan penulis dapat disimpulkan bahwa dengan adanya inovasi listrik murah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) ini sungguh memberikan keuntungan, manfaat serta pengaruh yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang ada di Kampung Kayu Biranga. Masyarakat yang dulunya tak memiliki aliran listrik di rumah, dengan adanya PLTMH kini hanya dengan membayar 10 ribu/bulan untuk biaya perawatan mesin kini masyarakat sudah bisa menikmati fasilitas arus listrik yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Gambar 4.2 Rumah Instalasi (Power House)

2. Compatibility (Kesesuaian)

Kompatibilitas atau kesesuaian adalah derajat dimana inovasi diukur dari tingkat sejauh mana masyarakat membutuhkan inovasi tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam melihat kesesuaian inovasi yaitu nilai, budaya local masyarakat setempat, keseharian masyarakat serta kebermanfaatan dari sebuah inovasi. Setiap lingkungan masyarakat memiliki karakteristik yang

berbeda-beda sehingga pemerintah harus giat dalam mensosialisasikan setiap inovasi, layanan, ataupun kebijakan yang akan diterapkan ke masyarakat.

Pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) telah berhasil memberi manfaat nyata yang membuat senang masyarakat dengan kemudahan yang dirasakan. Masyarakat yang dulunya terbebani akan penerangan rumah, kini kesejahteraannya perlahan-lahan meningkat berkat adanya inovasi ini. Bukan hanya untuk penerangan saja, bahkan dengan adanya inovasi ini telah memberikan manfaat yang sangat menguntungkan karena juga membantu maringankan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan masyarakat khususnya petani kopi dan cengkeh yang dulu terasa berat dilakukan sehingga pertumbuhan perekonomian masyarakat pun bertumbuh. Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Bapak Camat Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba sebagai berikut:

“Sebelum PLTMH ini dibangun, dulu itu ada yang namanya Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK pernah melakukan penelitian dan mensurvei terlebih dahulu di kampung Kayu Biranga kalau tidak salah waktu tahun 2013/2014 yang kemudian mereka juga mengagendakan sebuah pertemuan yang menghadirkan masyarakat, pemerintah yang ada di kecamatan dan kelurahan untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan itulah kemudian dicari tahu kebutuhan apa yang paling mendesak untuk masyarakat saat ini dan akhirnya masyarakat pada saat itu sepakat bahwa listriklah yang paling mereka butuhkan saat ini. Kemudian sejak saat itu pembangunan PLTMH pun direncanakan dan dikembangkan bersama-sama dengan swadaya masyarakat serta LSM lokal OASE (Organisasi Aksi Sosial dan Ekologi) dan Balang Institute. Hingga pada tahun 2015 kemarin itu, PLTMH akhirnya berhasil dibangun dan dinikmati oleh masyarakat kampung Kayu Biranga”.

(Wawancara AA, 02 Januari 2020)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa inovasi PLTMH ini adalah hasil dari bentuk kesesuaian dan kesepakan bersama antara masyarakat dan

pemerintah yang mengacu pada kondisi dan kebutuhan masyarakat. Terdapat pernyataan serupa dengan hasil wawancara diatas, wawancara dengan Bapak selaku Lurah di Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba juga mengatakan bahwa:

“Jadi masyarakat Kayu Biranga itu dulu mengeluhkan bahwa mereka harus segera memiliki aliran listrik di kampung mereka saat ada pertemuan dengan LHK (maksudnya disini BLI KLHK). LHK ini dulu pernah datang kesini untuk meneliti dan mensurvei kondisi masyarakat dan hutan karena kebetulan ini Kayu Biranga juga termasuk dalam kawasan Hutan Lindung. Kemudian dari situlah kami ini dengan masyarakat dan juga LHK itu bersama-sama membangun dan mengembangangkan PLTMH ini. Jadi PLTMH ini adalah buah dari kesepakatan bersama yang dimana memang masyarakat di Kayu Biranga itu sangat membutuhkan inovasi ini. Mungkin mereka juga melirik dari kampung sebelahnya yakni kampung Na’na yang sudah lebih dulu memakai listrik tenaga air tapi mereka murni swadaya tanpa bantuan dari pihak manapun.

(Wawancara dengan, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa memang benar masyarakat kampung Kayu Biranga ini sudah sangat membutuhkan pasokan listrik sampai pada akhirnya mereka meluapkan keresahan mereka pada saat adanya pertemuan dengan BLI KLHK dan pemerintah setempat, hingga pada akhirnya dikembangkanlah PLTMH ini sebagai jalan keluar untuk memenuhi keinginan masyarakat. Sejalan dengan wawancara diatas, wawancara dengan Bapak selaku Operator PLTMH Na’na yang mengatakan :

“Untuk di kampung Na’na itu swadaya murni, hanya saja untuk pemasangan alatnya dulu itu tahun 2014 kami dibantu tekhnisi dari makassar. Jadi kami Patungan kumpul dana bersama-sama yang kemudian dana yang terkumpul itu dipakai untuk membeli turbin dan pipa. Pada saat itu dana awal yang terkumpul jumlahnya kurang lebih 120 juta kemudian ditambah lagi 20 juta karena adanya penambahan pipa. Untuk biaya pemeliharaan awalnya dulu itu hanya 10 ribu/bulan tapi kami kemudian

baru-baru ini menaikkan tarifnya menjadi 20 ribu/bulan dan itu sudah disepakati tahun kemarin 2019”.

(Wawancara JD, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa PLTMH yang ada di kampung Na’na berbeda dengan PLTMH yang dibangun di kampung Kayu Biranga. Jika Kayu Biranga PLTMH dibangun dan dikembangkan oleh BLI KLHK, Na’na sendiri dibangun dari murni swadaya masyarakat. Kemudian untuk tarif pembayarannya sendiri berbeda, yakni 10 ribu/bulan untuk Kayu Biranga dan 20 ribu/bulan untuk Na’na.

Wawancara diatas juga didukung dengan hasil wawancara bersama Bapak selaku masyarakat yang ada di kampung Na’na yang mengatakan:

“Pembangkit listrik tenaga air yang ada di kampung ini adalah hasil kerjasama antar sesama masyarakat tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Jika ada atau terjadi kerusakan pada mesin pun masyarakat sendiri yang belajar untuk memperbaikinya. Jika sewaktu-waktu ada perubahan tarif pembayaran (biaya operasional) biasanya akan ada musyawarah bersama-sama masyarakat dan kemudian disepakati berbersama-sama. Jadi disini itu masyarakatnya bisa dibilang sudah mandiri”.

(Wawancara HS, 04 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan dan menguatkan hasil wawancara selumnya bahwa terdapat perbedaan antara PLTMH yang ada di kampung Na’na dengan PLTMH yang ada di kampung Kayu Biranga. Namun untuk kegunaannya sendiri tidak jauh beda yaitu hanya mampu dipakai untuk penerangan, menyalakan alat perkakas dan barang elektronik lainnya kecuali AC dan kulkas. Lanjut, sejalan dengan wawancara diatas Bapak Operator PLTMH Kayu Biranga juga mengatakan:

“Di Kampung ini pembangunan PLTMH itu semi swadaya, jadi dulu kami patungan kumpul-kumpul dana dan juga meminta bantuan dari pihak pemerintah khususnya BLI KLHK agar kami segera bisa merasakan aliran listrik di kampung kami, karena PLN tidak bisa menjangkau kampung kami. Kemudian adapun dulu sumber dana dari swadaya masyarakat yaitu sekitar 2 juta/KK dan sebelum adanya pembangunan PLTMH ini, kami masyarakat disini bersepakat dengan KLHK tentang larangan menebang pohon, jadi selama pembangunan ini berjalan tidak boleh ada pohon yang dikorbankan”.

(Wawancara NS, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa terdapat kesesuaian antara pembangunan PLTMH ini dengan kondisi masyarakat sebelumnya. Kemudian pembangunan PLTMH ini tidak langsung dibangun begitu saja namun ada aturan-aturan yang telah disepakati bersama yaitu tentang larangan penebangan pohon. Selanjutnya adapun wawancara dengan Bapak selaku masyarakat kampung Kayu Biranga yang mengatakan:

“Kami lebih memilih PLTMH ini karena lebih murah dan menghemat pengeluaran kami yang dulunya kami pakai untuk membeli bahan bakar untuk pelita dan juga genset. Masa-masa penggunaan pelita cukup memprihatinkan, dimana minyak tanah semakin langka dan harganya pun mahal. Kemudian untuk genset sendiri satu liter bahan bakar premium (bensin) hanya mampu menghasilkan listrik selama satu jam sehingga biaya untuk penerangan dalam semalam cukup membebani. Saat kami pakai genset dulu kami bersyukur sudah bisa menonton televisi. Namun kami harus menghemat listrik misalnya saja saat kami menonton tv, jadi kalau lagi iklan televisinya dimatikan kemudian diperkirakan film/acara televisinya sudah main lagi baru dihidupkan. Kami berharap layanan dari PLTMH ini berlanjut terus dan memliki peningkatan.”

(Wawancara RL, 04 Januari 2020)

Dari hasil wawancara diatas dapat deketahui bahwa inovasi PLTMH ini memang sudah sangat sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada di kampung Kayu Biranga yang terpencil dan tak dialiri listrik dari PLN serta kondisi

perekonomian yang belum bisa dikatakan sangat sejahtera. Kemudian masyarakat setempat berharap bisa menikmati inovasi ini dalam jangka waktu yang lebih lama.

Berdasarkan pengamatan penulis dapat disimpulkan bahwa pembangunan atau penerapan inovasi PLTMH di Kampung Kayu Biranga ini sudah sangat sesuai karena selain kondisi geografis daerahnya yang mendukung seperti tersedianya sumber air untuk menggerakkan mesin PLTMH, dan juga dilihat dari kondisi perekonomian masyarakat yang sebagian besar hanya bekerja sebagai petani. Jadi, dengan adanya listrik murah PLTMH ini setidaknya masyarakat bisa menghemat dan tidak khawatir lagi dengan pengeluaran yang berlebih seperti dahulu.

3. Complexity (Kerumitan)

Complexity (kerumitan) adalah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik, maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.

Adapun Kerumitan yang dialami oleh masyarakat saat pertamakali maupun setelah PLTMH ini dibangun. Namun kerumitan-kerumitan tersebut dapat diatasi dengan baik karena pihak BLI KLHK yang dengan sangat baik memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang system dan cara kerja dari

inovasi PLTMH ini. Seperti wawancara penulis dengan Bapak selaku Camat di kecamatan Kindang kabupaten Bulukumba yang mengatakan:

“Jadi pada awal-awal pembangunan PLTMH ini, yang menjadi kerumitan itu ialah infrastruktur atau akses jalan menuju kampung Kayu Biranga dimana pada saat itu masih belum baik apalagi tantangan semakin berat pada saat musim penghujan yang membuat kondisi jalan menjadi becek sehingga mempengaruhi proses pembangunan PLTMH. Kerumitan selanjutnya adalah saat pemasangan kabel-kabel listrik di rumah-rumah masyarakat dimana jarak antara rumah satu dengan yang lain cukup berjauhan ditambah lagi akses jalanan yang kurang baik. Selain sebagai konsumen pemakai PLTMH, masyarakat juga diberi pembelajaran tentang bagaimana perawatan mesin turbin sehingga jika sewaktu-waktu ada kerusakan masyarakat bisa bersama-sama bergotong royong untuk memperbaikinya sendiri tanpa bergantung kepada pihak BLI KLHK. (Wawancara AA, 2 Januari 2020)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kerumitan yang dialami saat proses pembangunan PLTMH di Kampung Kayu Biranga adalah akses jalan masuk ke perkampungan yg belum baik dan juga pemasangan kabel listrik dirumah-rumah masyarakat yang jarak antara rumah masyarakat satu dengan masyarakat yang lain cukup berjauhan. Kemudian selain menjadi pemakai, masyarakat juga ternyata diajari merawat mesin PLTMH. Sejalan dengan wawancara diatas, wawancara dengan Bapak selaku Lurah Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba juga mengatakan bahwa:

“Karena pembangunan PLTMH ini adalah semi swadaya maka kerumitan pertamakali yang dihadapi adalah masalah anggaran khususnya dilingkup masyarakat dimana pada saat itu masyarakat setempat mengumpulkan uang sebesar 2 juta/KK yang untuk sebagian masyarakat itu bukanlah jumlah yang sedikit. Kerumitan yang dialami selanjutnya itu adalah masalah jalanan masuk ke perkampungan dimana jalanan disana itu masih tanah dan bebatuan. Dulu itu mobil susah masuk kesana jadi untuk membawa alat-alat yang diperlukan untuk membangun PLTMH sedikit

terhambat. Untuk perawatan mesin PLTMH sendiri itu adalah tugas setiap masyarakat yang memakai pembangkit itu, apalagi mereka juga telah di ajarkan cara merawatnya oleh BLI KLHK.”

(Wawancara LM, 2 Januari 2020)

Dari wawancara diatas dapat diketahui bahwa pembangunan PLTMH di Kampung Kayu Biranga adalah semi swadaya yang berarti dalam proses pembangunan PLTMH yang berperan dalam pembangunan bukanlah hanya dari pihak BLI KLHK saja melainkan masyarakat juga ikut berperan dalam pembangunan yaitu dengan mengumpulkan dana dari masyarakat yang ada di Kampung Kayu Biranga. Kemudian selain memakai, masyarakat juga diajarkan cara merawat PLTMH. Selain wawancara diatas, ada pun hasil wawancara dengan

Dokumen terkait