• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi. Disusun dan diusulkan oleh. WILLY AGUSTIAWAN Nomor Stambuk :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Skripsi. Disusun dan diusulkan oleh. WILLY AGUSTIAWAN Nomor Stambuk :"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

INOVASI KEMENTRIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN (KLHK) DALAM MENGHASILKAN LISTRIK MURAH PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA MICRO HIDRO (PLTMH) BAGI MASYARAKAT KAMPUNG KAYU BIRANGA KABUPATEN BULUKUMBA

Disusun dan diusulkan oleh WILLY AGUSTIAWAN Nomor Stambuk : 105640210815

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

INOVASI KEMENTRIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN (KLHK) DALAM MENGHASILKAN LISTRIK MURAH PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA MICRO HIDRO (PLTMH) BAGI MASYARAKAT KAMPUNG KAYU BIRANGA KABUPATEN BULUKUMBA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan WILLY AGUSTIAWAN Nomor Stambuk : 105640210815

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2020

(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

WILLY AGUSTIAWAN, 2020. Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba (di bimbing oleh Nuryanti Mustari dan Ahmad Taufik)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam menghasilakn listrik murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) bagi masyarakat Kampung Kayu Biranga Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba yang berfokus pada tiga indikator yaitu keuntungan relatif, kesesuaian dan kerumitan, dengan alasan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh serta manfaat inovasi listrik murah PLTMH ini bagi kehidupan masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif yaitu tidak untuk menguji hipotesa tertentu melainkan untuk menemukan gambaran mengenai inovasi listrik murah PLTMH. Data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dari keterangan informan yaitu orang-orang yang dianggap mengetahui dan bisa dipercaya dalam memberikan informasi yang akurat dengan menggunakan dua macam data yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi langsung ke lokasi penelitian, wawancara secara mendalam dan dokumentasi di lokasi penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi listrik murah PLTMH dilihat pada keuntugan relatif, dimana keuntungan yang didapat dari adanya inovasi listrik murah PLTMH ini ialah meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat Kampung Kayu Biranga dimana sebelumnya masyarakat yang hanya memakai lampu pelita sebagai penerangan kini sudah bisa memakai bohlam lampu listrik dan sudah bisa menikmati daya listrik yang memadai untuk keperluan sehari-hari. Selanjutnya kesesuaian, inovasi listrik murah PLTMH ini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kampung Kayu Biranga dimana masyarakatnya adalah ekonomi menengah kebawah, dan letak geografis yang sesuai untuk membangun PLTMH. Selanjutnya kerumitan, selama proses pembangunan dan berjalannya inovasi listrik murah PLTMH hal tersebut berupa permasalahan anggaran pembangunan, permasalahan infrastruktur jalanan di kampung dan juga perawatan mesin PLTMH namun masalah tersebut bisa diselesaikan dengan adanya sosialisasi dan juga pendampingan oleh pihak BLI KLHK. Adapun faktor pendukung dan penghambat inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam menghasilkan listrik murah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) bagi masyarakat Kampung Kayu Biranga Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba yaitu faktor pendukungnya ialah sumber daya, diantaranya yakni sumber daya alam dan sumber daya manusia sedangkan untuk faktor penghambatnya adalah musim

Kata kunci: Inovasi, PLTMH.

(7)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tiada kata terindah yang patut di ucapkan oleh peneliti selain puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah melimpahkan nikmat kesehatan, kesabaran, kekuatan serta ilmu pengetahuan kepada hambaNya. Atas perkenaannya sehingga peneliti dapat menyelesaikan dan mempersembahkan skripsi ini, bukti dari perjuangan yang panjang nan melelahkan dan jawaban atas do’a dan senantiasa mengalir dari orang-orang terkasih. Sholawat serta salam “Allahumma Sholli ala Sayyidina” juga peneliti sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sang pejuang sejati yang telah membawa kita menuju zaman perdamaian.

Skripsi dengan judul “Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba” sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa mulai dari awal hingga akhir proses pembuatan skripsi ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak drama, rintangan dan hambatan yang selalu menyertainya. Hanya dengan kesabaran dan kerja keraslah sehingga membuat penulis termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini. Juga dengan adanya berbagai bantuan baik berupa moril dan materil dari berbagai pihak

(8)

sehingga mempermudah penyelesaian penulisan skripsi ini.

Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda Muchlisin dan Ibunda Nurmawanti dan saudara-saudaraku serta keluarga besar yang selalu memberikan do’a, dukungan dan kasih sayang yang menjadi pelita terang dan semangat yang luar biasa bagi penulis.

Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, diantaranya:

1. Ibu Dr. Hj. Nuryanti Mustari, S.IP., M.Si dan Bapak Ahmad Taufik, S.IP., M.AP selaku pembimbing I dan II yang selalu memberikan arahan dan motivasi atas penyelesaian skripsi ini.

2. Bapak Dr. H. Abd Rahman Rahim, SE, M.M selaku rektor Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP M.Si selaku ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Bapak Ahmad Harakan, S.IP., M.H.I selaku sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku dosen Penasehat Akademik yang selalu memberikan motivasi kepada penulis selama 4 tahun menjalani jenjang

(9)

pendidikan di bangku kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Para dosen dan Staff Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak memberikan bekal pengetahuan dan membantu penulis selama menjalani proses perkuliahan.

7. Seluruh informan yang berada di Kantor Camat Kindang, kantor Lurah Borong Rappoa dan Kampung Kayu Biranga atas kesediaannya memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengambil data dalam rangka merampungkan penelitian.

8. Kakanda Jusran yang telah berbaik hati menemani dan mengarahkan penulis dalam pengambilan data khususnya di Kampung Kayu Biranga

9. Saudara-saudara seperjuanganku di bangku perkuliahan Jaya, Rahmat, Akbar, Willy, Sawal, Adi, Ririn, Sofyan, Fandi, Egy, Arfan, Alam, Iksan, Iccang, Fery, Ilham, Wulan, Tri, Ime, Novi, Fifin, Titin, Fitri, Alfi, Rahma, Ismi, Ika, Andi Sri, Dina, Cevy, Sinar, Kak Indah yang telah menjadi teman, sahabat dan saudara dan support system yang selalu memberi dukungan moril dan bantuan tenaga kepada penulis selama 4 tahun terakhir ini.

10. Teman-teman 98tb production yang telah menyemangati penulis

9. Teman-teman KKP KOPEL Bulukumba, Amar, Fahmul, Irsan, Rahmat, Rizal, Sofyan, Desi, Fani, Karmila, Lisna, Titin dan Yayank yang telah mengukir kenangan di hati penulis.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Pengajuan Skripsi ... ii

Halaman Persetujuan ………... iii

Halaman Penerimaan Tim ……… iv

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... v

Abstrak ... vi

Kata Pengantar... vii

Daftar Isi ... xi

Daftar tabel ... xiii

Daftar Bagan ... xiv

Daftar gambar ... xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C. Tujuan Penelitian ... 8 D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Inovasi... 10

B. Konsep PLTMH... 16

C. Kerangka Pikir... 19

D. Fokus Penelitian... 20

E. Deskripsi Fokus Penelitian... 21

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 23

B. Jenis dan Tipe Penelitian... 23

C. Sumber Data... 24

D. Informan Penelitian... 24

E. Teknik Pengumpulan Data... 25

F. Teknik Analisis Data... 26

G. Keabsahan Data... 26

(12)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Obyek Penelitian... 29 B. Hasil Penelitian... 30 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 60 B. Saran... 61 DAFTAR PUSTAKA ... 63 LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Informan Penelitian ... 25 Tabel 4.1 penjabaran indikator dan sub-sub indikator penelitian ... 46

(14)

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Fikir ... 20

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Mesin Turbin dan Generator Listrik PLTMH ... 33

Gambar 4.2 Rumah Instalasi (Power House) ... 34

Gambar 4.3 Pembersihan saluran irigasi PLTMH ... 42

Gambar 4.4 Saluran irigasi PLTMH ... 50

(16)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar belakang

Listrik merupakan satu kebutuhan manusia yang sangat penting di zaman ini. Hampir disemua aktivitas sehari-hari kita memerlukan tenaga listrik, bahkan ketika kita tidak beraktivitas sekalipun tenaga listrik tetap diperlukan. Hal ini tentunya menjadikan Konsumsi listrik Indonesia terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, peran pemerintah disini sangat dibutuhkan dalam membuat sebuah kebijakan mengingat peran pemerintah juga sebagai pelayan publik. Bisa kita saksikan dan rasakan sendiri di era digital ini semakin banyak aktifitas masyarakat yang dibantu dengan barang elektronik. Hal ini Kemudian membuat konsumsi listrik di Indonesia sangat begitu besar.

Hal ini tentunya akan menjadi suatu masalah bila dalam penyediaannya tidak sejalan dengan kebutuhan. Apabila penyelesaian masalah penyediaan listrik tidak segera diatasi maka dapat dipastikan sistem perekonomian bangsa Indonesia akan terganggu. Kemudian jika terjadi krisis energi listrik biasanya pemerintah memunculkan sebuah kebijakan.

Salah satu kebijakam yang biasa kita rasakan yaitu pemadaman bergilir. Dimana pemadaman bergilir tersebut menurut saya kurang efisien karena dapat mengganggu aktifitas masyarakat. Selain itu hal tersebut juga peralatan elektronik biasanya menjadi lebih cepat rusak karena tegangan listrik yang

(17)

diterima terkadang tidak stabil.

BUMN dalam hal ini PLN adalah penyedia pasokan listrik secara kelembagaan. Pada umumnya PLN masih menggunakan pembangkit dengan tenaga diesel atau berbahan minyak yang nampaknya belum mampu secara optimal memenuhi kebutuhan listrik. Harga minyak dunia yang naik secara signifikan dari tahun ketahun menjadi salah satu faktor penghambat.

Tidak meratanya distribusi listrik yang secara umum hanya dapat dijangkau pada wilayah-wilayah dengan akses yang lebih mudah dan kemudian untuk Daerah-daerah tertinggal yang relatife terisolisir atau akses berat masih sangat kurang di aliri jaringan PLN juga menjadi penghambat dalam mengupayakan pemenuhan kebutuhan listrik secara nasional. Maka dari itu PLTMH disini hadir untuk menjadi alternatif pemenuhan listrik khususnya pada wilayah daerah-daerah tertinggal. Dengan begitu setidaknya upaya pemenuhan kebutuhan listrik bisa sedikit diatasi.

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 122 tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas bahwa pada pasal 6 ayat 1 menyebutkan jenis infrastruktur prioritas dan salah satunya adalah infrastruktur ketenagalistrikan yang kemudian diperjelas pada Pasal 6 ayat 8 dimana pada ayat ini menyebutkan tentang apa saja yang termasuk dalam infrastruktur ketenagalistrikan dan salah satunya itu adalah pembangkit. Berdasarkan Peraturan Presiden di atas dapat kita pahami bahwa infrastruktur ketenagalistrikan merupakan sebuah kebutuhan penting yang harus dimiliki oleh masyarakat.

(18)

Sehingga untuk infrastruktur yang satu ini benar-benar harus dimaksimalkan pengadaannya.

Listrik harga ekonomis yang berasal dari microhidro sebelumnya sudah pernah dilakukan yaitu pembangunan PLTMH Teres Genit di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara pada tahun 2015 (Nanang, 2017). Sumberdaya air telah memberikan manfaat nyata untuk kesejahteraan masyarakat dan juga memberikan motivasi serta mendorong partisipasi masyarakat untuk aktif dalam rangka melestarikan sumberdaya alam hutan sebagai pengahasil dan pengatur tata air sehingga debit air bisa terjaga dan energi listrik yang dihasilkan dapat dinikmati masyarakat secara berkesinambungan. Pembangunan PLTMH Teres Genit ini merupakan proyek pemerintah dengan umur ekonomis proyek yang diasumsikan selama lima belas tahun.

Sejak adanya PLTMH ini masyarakat telah mendapat manfaat yang luar biasa salah satunya itu ialah iuran listrik yang lebih murah. Adanya ketersediaan debit air yang baik menjadi faktor pendukung kesuksesan PLTMH ini. Selain itu PLTMH ini juga mendorong munculnya usaha-usaha produktif masyarakat.

Berbeda dengan pelitian sebelumnya, untuk penelitian saya sendiri berada di Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu provinsi terbesar di Indonesia dengan beberapa suku yang hidup didalamnya salah satu diantarnya ialah suku bugis. Sulawesi Selatan memiliki 24 Kabupaten dan salah satu kabupaten yang menarik perhatian saya adalah kabupaten Bulukumba. Kabupaten ini terletak di ujung bagian selatan ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan industri perahu phinisinya.

(19)

Baru-baru ini di kabupaten Bulukumba, pemerintah tengah gencar mengimplementasikan sejumlah program yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat desa. Salah satu diantaranya ialah, pengembangan pembangkit listrik tenaga microhidro (PLTMH) berbasis partisipasi masyarakat oleh kementrian lingkungan hidup dan kehutanan (KLHK) di kabupaten Bulukumba. PLTMH adalah suatu pembangkit listrik kecil yang menggunakan tenaga air yang berasal dari saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjun dan debit air (Sakban, 2018).

Kayu Biranga ialah nama kampung yang masuk golongan desa tertinggal. kampung terpencil dan terisolisir itu berada di kaki gunung atau kawasan Hutan Gunung Lompo battang, kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Sebelumnya kampung ini tidak dialiri listrik dikarenakan PLN tidak dapat menjangkau wilayah tersebut.

Hal itu dikarenakan akses menuju wilayah tersebut dikelilingi pendakian dan tebing terjal. Sebelum adanya PLTMH, warga di kampung ini harus menggunakan generator listrik dengan bahan bakar bensin dan juga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), namun karena terdapat kerusakan yang tidak dapat diperbaki akhirnya masyarakat pun kembali menggunakan lampu pelita yang menggunakan minyak tanah sehingga dalam semalam biaya untuk penerangan cukup membebani. Manfaat dari adanya microhidro ini bisa dibilang sangat menguntungkan karena selain adanya pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan itu kelestarian hutan pun tetap terjaga karena PLTMH ini tidak mengganggu ekosistem pegunungan yang ada.

(20)

Hal itu dikarenakan air yang digunakan untuk memutar turbin tidak terbuang, akan tetapi kembali lagi ke jalurnya. PLTMH yang dikembangkan oleh Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK ini menghasilkan 5.700 watt atau 57 KVA. Ada beberapa kepala keluarga (KK) yang tersebar di beberapa kampung di satu desa telah memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari seperti penerangan dan juga mendukung peningkatan nilai tambah hasil pertanian meraka.

Kini hanya dengan membayar 10 ribu rupiah perbulan/KK untuk biaya pemeliharaan PLTMH ini, masyarakat sudah dapat memperoleh fasilitas penerangan yang cukup memadai. Indonesia memiliki potensi tenaga air yang cukup besar karena kondisi topografi yang sangat mendukung, yaitu bergunung dan berbukit serta dialiri oleh banyak sungai serta adanya danau yang cukup potensial sebagai sumber tenaga air. Potensi tenaga air tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Namun tidak semua wilayah mempunyai peluang untuk dapat dikembangkan secara optimal (Agus Sugiyono,2009). Sumber daya air memiliki fungsi strategis yaitu dapat meningkatkan keamanan pasokan energi dalam negeri bila digunakan untuk PLTMH seperti ini. Hal ini karena akan mengurangi ketergantungan seperti impor bahan bakar.

Disamping itu sumber daya air dapat dimanfaatkan untuk irigasi dan untuk

memenuhi kebutuhan air bersih. Sumber daya air merupakan barang bersama (common goods) yang hak kepemilikannya tidak dapat diberikan kepada satu

individu melainkan diberikan kepada kelompok masyarakat. Dalam pemanfaatannya, setiap individu akan cenderung untuk menggunakan secara

(21)

berlebihan sehingga dapat merugikan orang lain bahkan dapat merusak lingkungan.

Hal ini menyebabkan terjadinya pertentangan kepentingan antar setiap anggota masyarakat. Maka dari itu perlu peran pemerintah untuk mengatur kekayaan yang masuk dalam kategori kekayaan bersama (common property). Pemerintah diharapkan agar membuat suatu kebijakan atau regulasi untuk masyarakat.

Sehingga dengan begitu setiap kelompok pemilik dapat bekerja sama dan tidak hanya mengejar kepentingan pribadi. Agar PLTMH ini bisa dirasakan untuk jangka waktu yang lama dan juga menudukung pembangunan berkelanjutan, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Apek pertama yang berkaitan dengan lingkungan misalnya kelestarian sumber daya air terkait dengan kebutuhan air untuk irigasi, air minum dan pembangkit listrik.

Selain itu yang tidak kalah penting adalah kesadaran dan pertisipasi masyarakat dalam memelihara daerah aliran sungai (DAS) serta kesadaran masyarakat mengenai pemanfaatan dan tata guna air. Aspek kedua adalah yang berkaitan dengan ekonomi yakni dalam hal peningkatan pendapatan masyarakat. Aspek yang satu ini sangat berkaitan dengan aspek yang ketiga yaitu aspek sosial.

Pembangunan PLTMH ini diharapkan dapat memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan kegiatan perekonomian. Untuk meningkatkan pendapatan penduduk setempat, BLI dan LSM pendamping mulai menginisisasi pengembangan produksi kopi hasil masyarakat sampai jadi bubuk. BLI menawarkan ipteknya, LSM dari sisi pendampingannya, masyarakat punya modal

(22)

kekuatan kebersamaanya dan pemda bisa melanjutkan untuk pengembangan sampai ke pemasarannya.

Dengan begitu masyarakat akan menjadi lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Pemberdayaan masyarakat amatlah sangat penting untuk mengatasi ketidakmampuan masyarakat yang disebabkan oleh keterbatasan akses, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, kemiskinan serta keengganan pemerintah untuk membagi wewenang pengelolaan sumber daya kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat ini tentunya akan membawa dampak yang baik untuk masyarakat yang ada di lingkungan pedesaan. Peningkatan skill, ekonomi, dan kesejahteraan sosial pastinya akan dirasakan oleh masyarakat yang memang benar-benar terlibat aktif dalam proses ini pemberdayaan ini. Selain daripada hal-hal di atas, agar PLTMH ini bisa dinikmati dalam waktu yang lama, tentunya masyarakat juga harus diberi edukasi, pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola PLTMH. Ini bertujuan agar masyarakat dapat melakukan perbaikan jika sewaktu-waktu PLTMH ini mengalami kerusakan.

Dengan begitu masyarakat tidak akan selalu bergantung pada pemerintah atau orang-orang yang ahli dalam bidang ketenagalistrikan. Rencananya PLTMH ini akan terus dikembangkan sebaik mungkin. Tidak hanya itu PLTMH ini rencananya juga direplikasikan ke desa-desa lain di kabupaten Bulukumba yang mempunyai potensi.

Berdasarkan dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk meneliti “Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dalam

(23)

Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka penulis menarik rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam menghasilkan listrik murah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) bagi masyarakat kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba?

2. Apakah faktor pendukung dan penghambat Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam menghasilkan listrik murah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) bagi masyarakat kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah disebutkan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam menghasilkan listrik murah bagi masyarakat kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai pihak. Hasil penelitian yang akan dilaksanakan ini dapat bermanfaat untuk berbagai hal, antara lain :

(24)

1. Manfaat teoritis

a) Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu social dan ilmu politik pada umumnya dan ilmu pemerintahan pada khususnya.

b) Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dibidang karya ilmiah serta bahan masukan bagi penelitian sejenis di masa yang akan datang.

2. Manfaat praktis

a) Secarah praktis hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak pemerintah daerah Kabupaten Bulukumba agar lebih inovatif dan juga lebih bijak lagi dalam mengeluarkan suatu inovasi ataupun kebijakan untuk daereah Bulukumba kuhususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. b) Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan dan

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Inovasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, pembaharuan atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Sebuah konsep pembaharuan yang diperkenalkan kepada khalayak banyak dalam mengganti sistem yang sudah usang disebut inovasi. Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa inovasi merupakan suatu cara yang baru atau ide yang menampilkan sesuatu yang baru.

Konsep inovasi merupakan hal yang baru dalam dunia pemerintahan dan juga administrasi. Dinamika masyarakat yang semakin global membuat inovasi menjadi sebuah keniscayaan dan menjadi jalan keluar manakala tuntutan-tuntutan pelayanan masyarakat tidak dapat terpenuhi. Inovasi sebagai pendorong perubahan dalam kebijakan-kebijakan publik yang nantinya akan bermanfaat bagi masyarakat luas (Sururi, 2017).

Azizah, dkk (2017) mengemukakan bahwa pada umumnya, inovasi pada sektor publik bersifat sebagai suatu kebijakan yang berdampak masif dan cenderung berlangsung cukup lama sehingga terjadi perubahan pada pola interaksi antara individu atau masyarakat. Kita berada pada zaman dimana di sekitar kita terdapat banyak inovasi. Inovasi dalam teknologi, ekonomi dan pengetahuan sangat banyak kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Segala sisi dari kehidupan

(26)

kita saat ini ditunjang dengan inovasi, baik itu inovasi dalam bentuk produk maupun inovasi dalam bentuk pelayanan.

Dapat dipahami bahwa mengapa konsep inovasi begitu tidak populer pada masa lalu disebabkan karena birokrasi di masa tersebut masih dipengaruhi oleh konsep birokrasi Weber yang lebih menekankan pada sistem yang hierarkis, aturan yang jelas serta lingkungan kerja yang relatif stabil. Sehingga inovasi pada masa lalu dipandang sebagai hal yang tidak perlu, jikalaupun ada inovasi yang muncul pada saat itu maka itu hanya berada pada level atau intensitas kecil. Pemerintah pada masa lalu sangat berorientasi pada aturan sehingga mereka bergerak berdasarkan aturan atau rule driven (Mulyadi dkk, 2016).

Secara umum inovasi seringkali diterjemahkan sebagai penemuan baru. Namun sebenarnya aspek kebaruan dalam inovasi sangat ditekankan untuk inovasi di sektor swasta atau sektor industry. Sedangkan inovasi pada sektor publik lebih ditekankan pada aspek perbaikan yang dihasilkan dari kegiatan inovasi tersebut, yaitu pemerintah mampu memberikan pelayanan publik secara lebih efektif, efisien dan berkualitas, murah dan terjangkau.

Sedangkan pengertian lainnya menurut Rogers (dalam Suwarno, 2008) inovasi merupakan suatu ide, gagasan, dan hal baru yang ada pada suatu sistem unit kerja. Pendapat lain menjelaskan bahwa inovasi adalah produk atau jasa yang baru, teknologi yang baru dan rencana baru dari suatu organisasi. Inovasi dapat dikatakan sebagai perubahan perilaku dan sangat erat kaitannya dengan lingkungan yang dinamis dan berkembang.

(27)

Menurut Rogers (Suwarno, 2008) sebuah inovasi memiliki beberapa atribut diantaranya:

1. keuntungan relatif atau relative advantage

Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain. Meski berbeda namun perbedaan ini biasanya tidak terlalu signifikan. Untuk dapat mengetahui inovasi menguntungkan atau tidak pada sebuah masyarakat, bisa dilihat dari indikator-indikatornya seperti:

a) Kenyamanan, berhasil tidaknya suatu inovasi bisa diukur dari faktor kenyamanan.

b) Kepuasan, aspek kepuasan bisa menjadi tolak ukur dalam menilai suatu inovasi. Kemudahan mendapatkan pelayanan dan jasa merupakan bagian dari faktor kepuasan ini.

2. kesesuaian atau compatibility

Inovasi juga sebaiknya mempunyai sifat kompatibel atau kesesuain dengan inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta merta dibuang begitu saja, selain karena alasan faktor biaya yang tidak sedikit, namun juga inovasi yang lama menjadi bagian dari proses adaptasi dan proses pembelajaran terhadap inovasi itu secara

(28)

lebih cepat. Dalam mengukur aspek kesesuaian, bisa diketahui dari item-item berikut:

a) Sesuai dengan kebutuhan masyarakat, inovasi yang baru harus bisa memudahkan urusan masyarakat.

b) Kemudahan dalam adminsitrasi, artinya masyarkat sangat dimudahkan dalam pengurusan administrasi.

3. kerumitan atau complexity

Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik, maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting. Untuk memahami tingkat kerumitan dari suatu inovasi, bisa dilihat dari ease of use dimana item ini mengukur sejauh mana inovasi ini dapat diapahami dengan baik oleh masyarakat. Dengan ke tiga atribut tersebut maka menjadikan inovasi sebagai sebuah inovasi. Inovasi merupakan sesuatu yang baru atau mengganti kepada yang baru, namun tidak menutup kemungkinan bahwa inovasi ditempatkan pada satu tempat yang baru tetapi telah terjadi atau biasa terjadi di suatu tempat. Segala sesuatu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing maka dari itu inovasi pun mempunyai hambatan dalam pelaksanaannya. Menurut Albury (dalam Suwarno, 2008) mengatakan setidaknya terdapat 8 penghambat inovasi, diantaranya:

(29)

2. Ketergantungan berlebih pada high performer

3. Teknologi ada, terhambat budaya dan penataan organisasi 4. Tidak ada penghargaan atau insentif

5. Ketidakmampuan menghadapi resiko dan perubahan 6. Anggaran jangka pendek dan perencanaan

7. Tekanan dan hambatan administratif 8. Budaya Risk Aversion

Hal-hal diatas merupakan penghambat berjalannya suatu inovasi sehingga ketika masih terdapat hal-hal seperti diatas di sistem pemerintahan kita maka itu tidak akan menghasilkan suatu inovasi. Salah satu faktor diatas adalah budaya risk aversion, risk aversion adalah budaya dimana birokrasi yang tidak menyukai dengan resiko. Ini tentu bertolak belakang dengan sifat inovasi yang cenderung selalu mempunyai resiko seperti resiko untuk gagal sehingga birokrasi enggan melakukan inovasi dan lebih memilih untuk melakukan semuanya secara prosedural-administratif dengan tingkat resiko yang minim. Selain daripada faktor penghambat inovasi, terdapat juga faktor pendukung dalam berhasilnya suatu inovasi, diantaranya:

1. penempatan pegawai yang sesuai 2. evaluasi kinerja berbasis manajemen 3. model kerja berbasis tim

4. analisis beban kerja

(30)

Inovasi tidak selamanya menampilkan wajah baru akan tetapi lebih kepada sesuatu yang di make over atau lebih dikenal dengan re-invention. Proses ini bukanlah menemukan sebuah inovasi secara orisinil akan tetapi memperbaharui sebuah inovasi. Tujuannya adalah untuk lebih mendekatkan inovasi kepada pengguna (Suwarno, 2008).

Dari beberapa pengertian diatas bisa dipahami bahwa inovasi adalah sesuatu yang baru tampil kepada masyarakat yang akan membawa ke perubahan yang lebih baik. Inovasi bisa berbentuk produk atau jasa yang akan dipasarkan kepada masyarakat. Inovasi erat kaitannya dengan perkembangan teknologi dan biasanya lebih dekat kepada masyarakat muda. Inovasi mempunyai beberapa aspek, seperti apa yang dituliskan oleh Peter Drucker dalam bukunya Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles (1996) setidaknya ada tiga askpek dari sebuah inovasi yaitu:

1. Inovasi menghendaki pengetahuan

Dalam hal ini inovasi membutuhkan seseorang yang pintar dan tekun. Kita mengetahui ada banyar inovator di dunia sebut saja Edison penemu bola lampu, walaupun dikenal sebagai orang yang inovatif namun beliau hanya menghabiskan waktunya menekuni satu bidang saja yaitu kelistrikan.

2. Inovasi menuntut resiko

Setiap hal baru selalu menemui tantangan, inovasi adalah sesuatu yang tak bisa lepas dari resiko. Maka dari itu seorang inovator adalah orang yang rela bekerja keras, tekun dan tidak kenal lelah.

(31)

3. Inovasi senantiasa dekat dengan pasar

Inovator yang baik adalah inovator yang senantiasa melihat dan memperhatikan perubahan pola perilaku masyarakat. Sebuah inovasi harus sesuai dengan pelanggannya oleh karena itu inovasi harus senantiasa dekat dengan pasar dan benar-benar harus digerakkan oleh pasar.

B. Konsep PLTMH

PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro atau dalam bahasa Inggrisnya Micro Hydro Power (MHP). PLTMH adalah suatu sistem pembangkit listrik dengan menggunakan sumber energi dari tenaga air. Mikro menunjukan ukuran kapasitas pembangkit, yaitu antara 5 kilo – 100 kilo menurut United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), sedangkan menurut peraturan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2002 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), biasa disebut mikrohidro, adalah suatu pembangkit listrik kecil yang menggunakan tenaga air di bawah kapasitas 100 kW yang dapat berasal dari saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjun dan debit air.

Umumnya PLTMH adalah pembangkit listrik tenaga air jenis di mana diperoleh tidak dengan cara membangun bendungan besar, tetapi dengan mengalihkan sebagian aliran air sungai ke salah satu sisi sungai dan menjatuhkannya lagi ke sungai yang sama pada suatu tempat di mana yang diperlukan sudah diperoleh. Dengan melalui pipa pesat air diterjunkan untuk memutar turbin yang berada di dalam rumah pembangkit. Energi mekanik dari

(32)

putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah generator. PLTMH adalah pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air sebagai media utama untuk penggerak turbin dan generator. Tenaga mikrohidro, memiliki skala daya yang dapat dibangkitkan 5 kilo watt hingga 50 kilo watt. Menurut Natosudjono (Sukamta dan Kusmantoro, 2013) Pada PLTMH proses perubahan energy kinetic berupa (kecepatan dan tekanan air), yang digunakan untuk menggerakan turbin air dan generator listrik hingga menghasilkan energi listrik.

Secara teknis, mikrohidro mempunyai tiga komponen utama yaitu air sumber energi, turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan dengan ketinggian tertentu melalui pipa pesat menuju rumah instalasi (power house). Di rumah instalasi, air tersebut akan menumbuk turbin sehingga akan menghasilkan energi mekanik berupa berputarnya poros turbin. Putaran poros turbin ini akan memutar generator sehingga dihasilkan energi listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) adalah pembangkit listrik berskala kecil (kurang dari 200 kW), yang memanfaatkan tenaga (aliran) air sebagai sumber penghasil energi. PLTMh termasuk sumber energi terbarukan dan layak disebut clean energy karena ramah lingkungan(Damyati, 2015). Dari segi teknologi, PLTMh dipilih karena konstruksinya sederhana, mudah dioperasikan, serta mudah dalam perawatan dan penyediaan suku cadang. Secara ekonomi, biaya operasi dan perawatannya relatif murah, sedangkan biaya investasinya cukup bersaing dengan pembangkit listrik lainnya.

Secara sosial, PLTMH mudah diterima masyarakat luas (bandingkan misalnya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). PLTMh biasanya dibuat

(33)

dalam skala desa di daerah-daerah terpencil yang belum mendapatkan listrik dari PLN. Tenaga air yang digunakan dapat berupa aliran air pada sistem irigasi, sungai yang dibendung atau air terjun.

PLTMh pada prinsipnya memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah debit air per detik yang ada pada aliran air saluran irigasi, sungai atau air terjun. Aliran air ini akan memutar poros turbin sehingga menghasilkan energi mekanik. Energi ini selanjutnya menggerakkan generator dan menghasilkan listrik (Damyati, 2015).

Secara Umum lokasi rencana PLTMh ini dipilih sesuai dengan kriteria sebagai berikut:

a. Mempunyai ketersediaan debit yang cukup. b. Terdapat besarnya tinggi jatuh.

c. Kondisi topografi yang memungkinkan untuk penempatan fasilitas bangunan.

d. Berada tidak jauh dari daerah pelayanan

e. Tidak mempengaruhi sistim pengairan yang sudah ada

Untuk penempatan lokasi bangunan pada PLTMh ini direncakana sebagai berikut:

a) Intake disesuaikan dengan hasil survey.

b) Dari intake air dialirkan melalui pengahantar berupa saluranterbuka direncakan sesuai saluran air yang sudah ada.

(34)

c) Letak pipa pesat direncanakan sekitar 50 meter disebelah hilir intake untuk menenangkan aliran dibuatkan kolam penenang.

d) Power house ditempatkan didepan bagian bawah penstock dengan tinggi jatuh lebih kurang 6 meter.

C. Kerangka Fikir

Listrik merupakan satu kebutuhan manusia yang sangat penting di zaman ini. Hampir disemua aktivitas sehari-hari kita memerlukan tenaga listrik, bahkan ketika kita tidak beraktivitas sekalipun tenaga listrik tetap diperlukan. Hal ini tentunya menjadikan Konsumsi listrik Indonesia terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 122 tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas bahwa pada pasal 6 ayat 1 menyebutkan jenis infrastruktur prioritas dan salah satunya adalah infrastruktur ketenagalistrikan yang kemudian diperjelas pada Pasal 6 ayat 8 dimana pada ayat ini menyebutkan tentang apa saja yang termasuk dalam infrastruktur ketenagalistrikan dan salah satunya itu adalah pembangkit. Berdasarkan Peraturan Presiden di atas dapat kita pahami bahwa infrastruktur ketenagalistrikan merupakan sebuah kebutuhan penting yang harus dimiliki oleh masyarakat. Sehingga untuk infrastruktur yang satu ini benar-benar harus dimaksimalkan pengadaannya. Dalam penelitian ini terkait dengan Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung

(35)

Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba menggunakan teori atau pendapat dari Rogers yang mengatakan bahwa inovasi dalam penerapannya memiliki atribut yaitu relative advantage (keuntungan relatif), compatibility (kesesuaian), dan complexity (kerumitan).

Berdasarkan uraian kerangka piker diatas, maka dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1bagankerangka pikir

D. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini dapat memfokuskan masalah terlebih dahulu supaya tidak terjadi perluasan permasalahan yang nantinya tidak sesuai dengan penelitian ini. Maka peneliti memfokuskan untuk meneliti Inovasi Kementrian Lingkungan

Listrik murah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) bagi masyarakat kampung Kayu Biranga

Kabupaten Bulukumba

Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba

Faktor penghambat yaitu 1.Ketidakpastian Musim 2.Bencana alam 3.Sarana dan Prasarana Atribut inovasi Rogers (Suwarno, 2008) : 1. Relative Advantage 2. Compatibility 3. Complexity Faktor Pendukung yaitu 1.sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 122 tahun 2016 tentang percepatan penyediaan

(36)

Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba.

E. Deskripsi Fokus Penelitian 1. Relative Advantage

Relative advantage atau keuntungan relative, sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain.

2. Compatibility

Compatibility atau kesesuaian, inovasi juga mempunyai sifat kompatibel atau sesuai dengan inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta merta dibuang begitu saja, selain karena alas an faktor biaya yang tidak sedikit, namun juga inovasi yang lama menjadi bagian proses transisi ke inovasi terbaru. Selain itu juga dapat memudahkan proses adaptasi dan proses pembelajaran terhadap inovasi itu secara lebih cepat.

3. Complexity

Complexity atau kerumitan, dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik, maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak masalah penting.

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan berlangsung selama kurang lebih dua bulan setelah seminar proposal.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bulukumba tepatnya di Kampung Kayu Biranga, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba sebagai daerah yang menerapkam inovasi listrik murah dengan adanya pembangkit listrik tenaga microhidro oleh Kementrian Lingkungn Hidup dan Kehutanan (KLHK).

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian studi kasus. Studi kasus merupakan suatu penelitian kualitatif yang berusaha menemukan makna, menyelidiki proses dan memperoleh pengertian dan pemahaman yang mendalam dari individu, kelompok, atau situasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus karena berusaha untuk mengetahui pengembangan PLTMH yang diterapkan di Kampung Kayu Biranga.

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tipe penelitian ini bertujuan untuk memberikan

(38)

gambaran secara jelas mengenai objek yang diteliti dengan berusaha melihat fenomena yang terjadi dalam pengembangan PLTMH di Kampung Kayu Biranga.

C. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder antara lain sebagai berikut:

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari hasil wawancara yang didapatkan dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya dilapangan.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sebagai data yang mendukung data primer dari literatur dan dokumen serta data yang diambil dari suatu organisasi dengan permasalahan dilapangan yang terdapat pada lokasi penelitian berupa bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian.

D. Informan Penelitian

Dalam penelitian ini, pengambilan informan secara purposive sampling. Purposive sampling adalah tekhnik pengambilan informan yang memiliki pengetahuan yang luas serta mampu menjelaskan sebenarnya tentang objek penelitian. Peneliti telah menetapkan informan dalam pelaksanaan penelitian ini yaitu sebagai berikut:

(39)

Tabel 3.1informan penelitian E. Tekhnik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini , jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Untuk mengumpulkan data primer dan sekunder peneliti menggunakan beberapa tekhnik pengumpulan data, yaitu:

1. Observasi, ialah tekhnik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap objek penelitian untuk memperoleh keterangan data yang akurat mengenai hal-hal yang diteliti serta untuk mengetahui relevansi antara jawaban responden dengan kenyataan yang terjadi dilapangan.

2. Wawancara, adalah kegiatan tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data guna kelengkapan data-data yang diperoleh sebelumnya.

No Nama Inisial Jabatan/Instansi Jumlah

1. H. A. Awaluddin, S.Sos., M.Si AA Camat 1 orang

2. H. Lukman, SE LM Kepala Desa/Kelurahan 1 orang 3. Hamsah HS Masyarakat kampung Na’na 1 orang 4. Ramli RL Masyarakat kampung Kayu Biranga 1 orang 4. Juddin JD Operator PLTMH Na’na 1 orang 6. Nasiri NS Operator PLTMH Kayu Biranga 1 orang Jumlah informan 6 orang

(40)

3. Dokumentasi, adalah suatu pengumpulan data melalui dokumentasi dalam bentuk gambar.

F. Tekhnik Analisis Data

Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012) penelitian kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Hal-hal yang dilakukan dalam analisis data, yaitu data reducation, dan display, dan conclusion drawing/verification.

1. Reduksi data (data reduction), dalam tahap ini peneliti melakukan pemilihan, dan pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, abstraksi, dan tranformasi data kasar yang diperoleh.

2. Penyajian data (data display), peneliti mengembangkan sebuah deskripi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.

3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing and ferification). Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperoleh dari lapangan, mencatat keteraturan dan konfigurasi yang mungkin ada, alur kausalitas dan fenomena, dan droposisi.

G. Keabsahan Data

(41)

menghasilkan penelitian yang bermutu atau data yang kredibel, oleh karena itu peneliti melakukan pengabsahan data dengan berbagai hal sebagai berikut: 1. Perpanjangan Masa Penelitian

Peneliti akan melakukan perpanjangan masa pengamatan jika data yang dikumpulkan dianggap belum cukup, maka dari itu peneliti dengan melakukan pengumpulan data, pengamatan dan wawancara kepada informan baik dalam bentuk pengecekan data maupun mendapatkan data yang belum diperoleh sebelumnya. Oleh karena itu, peneliti menghubungi kembali para informan dan mengumpulkan data sekunder yang masih diperlukan.

2. Meningkatkan ketekunan: melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan.

3. Triangulasi: pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan banyak waktu. Untuk keperluan triangulasi maka dilakukan tiga cara yaitu:

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber adalah membandingkan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan apa yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi, membandingkan hasil wawancara dengan apa yang terjadi di Kampung Kayu Biranga yang menerapkan listrik murah PLTMH.

(42)

Triangulasi tekhnik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan tekhnik yang berbeda. Dalam penelitian ini akan menggunakan tekhnik observasi dan wawancara untuk mengecek data yang diperoleh dengan tekhnik pengumpulan data sebelumnya. c. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu digunakan untuk validitas data yang berkaitan dengan pengecekan data berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Perubahan suatu proses dan perilaku manusia mengalami perubahan dari waktu kewaktu. Untuk mendapatkan data yang sah melalui observasi pada penelitian ini, akan diadakan pengamatan yang tidak hanya dilakukan dalam satu kali pengamatan aja, sehingga data yang diperoleh di Kampung Kayu Biranga yang ada di Kabupaten Bulukumba valid.

(43)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini, peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan dari data yang berkaitan dengan fokus penelitian sebagai tindak lanjut dari hasil pengumpulan data. Sebelum mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan, maka terlebih dahulu peneliti akan menguraikan secara singkat tentang gambaran umum lokasi penelitian, yaitu di kampung Kayu Biranga, Kel. Borong Rappoa, Kec. Kindang, Kab. Bulukumba.

A. Deskripsi Obyek Penelitian

Borong Rappoa adalah nama Kelurahan yang ada di Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Wilayah Kelurahan Borong Rappoa didominasi oleh areal perkebunan, selebihnya digunakan sebagai areal permukiman penduduk. Hamparan kebun-kebun yang hijau menjadi pemandangan yang indah dan menjadikan Kelurahan Borong Rappoa menjadi sebuah wilayah luas yang menjadikan warga Kelurahan Borong Rappoa sebagai penghasil cengkeh dan kopi terbesar di wilayah Kabupaten Bulukumba.

Jarak dari ibu kota Kecamatan ke Kelurahan kurang lebih 20 meter, sedangkan untuk jarak dari ibu kota Kabupaten kurang lebih 35 km, dan jarak dari kota Provinsi kurang lebih 175 km. Luas wilayah Kelurahan Borong Rappoa seluas 854,18 Km2, yang terdiri dari lahan perkebunan, ladang, hutan, lahan kritis, jalanan, dan lahan perumahan/pemukiman. Adapun batas wilayah Kelurahan Borong Rappoa sebagai berikut:

(44)

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kindang 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Paenre 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tammauna 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Anrihua

Di Kelurahan Borong Rappoa terdapat 4 Dusun/Lingkungan yakni Dusun Borong Rappoa, Dusun Bangsalaiyya, Dusun Baturapa, dan Dusun Bontomanai. Setiap Dusun memiliki perkampungan, dan untuk kampung Kayu Biranga sendiri terletak di Dusun Bontomanai.

B. Hasil Penelitian

1. Bagaimana Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) Dalam Menghasilkan Listrik Murah Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) Bagi Masyarakat Kampung Kayu Biranga Kabupaten Bulukumba.

Listrik merupakan satu kebutuhan manusia yang sangat penting di zaman ini. Hampir dalam semua aktivitas sehari-hati kita memerlukan tenaga listrik, bahkan ketika kita tidak beraktifitas sekalipun, tenaga listrik tetap diperlukan. Hal ini tentunya menjadikan konsumsi listrik Indonesia terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi sosial.

Tidak meratanya distribusi listrik yang secara umum hanya dapat dijangkau pada wilayah-wilayah dengan akses yang lebih mudah dan kemudian untuk daerah-daerah terpencil yang relatife terisolisir atau akses berat masih sangat kurang dialiri jaringan PLN. Selain dari pada itu harga listrik PLN yang semakin tinggi juga menjadi salah satu penghambat dalam mengupayakan

(45)

pemenuhan kebutuhan listrik secara nasional utamanya bagi masyarakat daerah terpencil yang kurang mampu. Oleh sebab itu pemerintah secepatnya harus melakukan suatu gebrakan untuk memecahkan permasalahan ini.

Maka dari itu Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan disini berinovasi dengan membuat sebuah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) yang menghasilkan listrik murah bagi masyarakat daerah terpencil di kampung Kayu Biranga, kelurahan Borong Rappoa, kecamatan Kindang, kabupaten Bulukumba. Dengan hadirnya PLTMH ini dapat menjadi alternative pemenuhan kebutuhan listrik khususnya pada wilayah daerah-daerah terpencil, sehingga dengan begitu setidaknya upaya pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia bisa sedikit diatasi. Sejalan dengan itu maka untuk mengukur inovasi ini berjalan dengan efektif atau tidak terdapat beberapa indikator diantaranya : 1. Relative Advantage (keuntungan relative)

Keuntungan relative ini menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kenyamanan dan kepuasan terhadap hasil yang dirasakan dari sebuah inovasi. Sejauh mana masyarakat menilai terhadap hasil yang dirasakan sangat ditentukan dari segi ekonomi, kenyamanan dan kepuasan dari inovasi tersebut. Keuntungan relative disini mengukur apakah layanan yang diberkan dari sebuah inovasi sudah efisien atau tidak.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak selaku Camat di Kecamatan Kindang kabupaten Bulukumba yang mengatakan bahwa:

“Sebelum ada pembangkit listrik tenaga micro hidro di kampung Kayu Biranga, Masyarakat setempat pada awalnya memakai lampu pelita yang berbahan bakar dari minyak tanah sebagai penerangan. Dibandingkan dengan listrik dari PLN masyarakat setempat lebih memilih listrik dari

(46)

PLTMH ini dikarenakan lebih murah yakni hanya dengan membayar 10 ribu rupiah perbulan/KK untuk biaya pemeliharaan PLTMH ini. Selain dimanfaatkan untuk penerangan PLTMH ini juga sudah sangat membantu kegiatan masyarakat sehari-hari misalnya saja saat memakai alat-alat pertukangan, kemudian setelah adanya PLTMH ini masyarakat juga sudah bisa menyalakan televisi dan perabotan rumah tangga elektronik seperti rice cooker, seterika dan barang elektronik lainnya selain kulkas dan ac dikarenakan besar watt yang dihasilkan PLTMH ini hanya sebesar 15 KW untuk 48 KK sehingga masih belum cukup mampu untuk menghidupkan alat/barang tersebut. Dalam hal memenuhi kebutuhan listrik di kampung ini sendiri, masyarakat sudah cukup puas dengan adanya inovasi PLTMH ini”.

(Wawancara AA, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa PLTMH ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di masyarakat khususnya untuk penerangan, dibandingkan dulu dimana masyarakat pada waktu itu masih memakai lampu pelita dengan bahan bakar minyak tanah. Wawancara di atas juga didukung dengan hasil wawancara bersama Bapak selaku Lurah di kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba yang mengatakan:

“Pada awalnya di kampung Kayu Biranga itu masyarakatnya memakai lampu pelita dari minyak tanah untuk penerangan dan selain itu ada juga yang pakai generator genset yang bahan bakar bensin dan dulu itu masyarakat juga sempat memakai pembangkit listrik tenaga surya namun hal itu tidak terlalu lama digunakan karena cepat rusak dan masyarakat tidak dapat memperbaikinya. Hingga akhirnya pada tahun 2018 kemarin dibangunlah PLTMH ini, yang kemudian dengan adanya pembangkit listrik ini, masyarakat sudah tidak lagi pakai pelita dan beralih ke pembangkit listrik tenaga air ini karena lebih murah dibandingkan dengan membeli bahan bakar minyak. Setelah adanya PLTMH ini, masyarakat sudah bisa pakai bola lampu yang terang, bisa putar music, menonton televisi dan juga peralatan elektronik lainnya. Dengan hadirnya ini PLTMH bisa dikatakan sudah cukup memenuhi kebutuhan listrik di kampung Kayu Biranga”.

(47)

Dari hasil wawancara disimpulkan, bahwa pembangkit listrik tenaga micro hidro ini lebih baik dibandingkan lampu pelita yang berbahan bakar minyak tanah dan pembangkit listrik tenaga surya. Dengan adanya PLTMH ini masyarakat bisa berhemat karena tidak perlu lagi membeli bahan bakar untuk genset dan lampu pelita. Kemudian dengan adanya PLTMH ini kegiatan masyarakat sehari-hari juga dimudahkan. Sejalan dengan wawancara di atas, wawancara dengan Bapak selaku operator PLTMH Kayu Biranga juga mengatakan:

“Dulu itu kita disini pakai lampu pelita yang pakai minyak tanah untuk penerangan, tapi setelah ada ini pembangkit listrik tenaga air kita disini sudah bisa pakai bohlamp lampu. PLTMH ini sudah cukup membantu disini contohnya sekarang saya sudah bisa menonton, masak nasi dengan ricecooker dan juga saya itu sudah bisa pakai alat-alat mesin perkakas seperti gurinda, kattang (gergaji mesin)”.

(Wawancara NS, 02 Januari 2020)

Gambar 4.1 Mesin Turbin dan Generator Listrik PLTMH

Dari wawancara di atas dapat diketahui bahwa inovasi PLTMH ini benar-benar sudah mencukupi kebutuhan listrik dan memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam bekerja sehari-hari.

(48)

Berdasarkan pengamatan penulis dapat disimpulkan bahwa dengan adanya inovasi listrik murah pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) ini sungguh memberikan keuntungan, manfaat serta pengaruh yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang ada di Kampung Kayu Biranga. Masyarakat yang dulunya tak memiliki aliran listrik di rumah, dengan adanya PLTMH kini hanya dengan membayar 10 ribu/bulan untuk biaya perawatan mesin kini masyarakat sudah bisa menikmati fasilitas arus listrik yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Gambar 4.2 Rumah Instalasi (Power House)

2. Compatibility (Kesesuaian)

Kompatibilitas atau kesesuaian adalah derajat dimana inovasi diukur dari tingkat sejauh mana masyarakat membutuhkan inovasi tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam melihat kesesuaian inovasi yaitu nilai, budaya local masyarakat setempat, keseharian masyarakat serta kebermanfaatan dari sebuah inovasi. Setiap lingkungan masyarakat memiliki karakteristik yang

(49)

berbeda-beda sehingga pemerintah harus giat dalam mensosialisasikan setiap inovasi, layanan, ataupun kebijakan yang akan diterapkan ke masyarakat.

Pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) telah berhasil memberi manfaat nyata yang membuat senang masyarakat dengan kemudahan yang dirasakan. Masyarakat yang dulunya terbebani akan penerangan rumah, kini kesejahteraannya perlahan-lahan meningkat berkat adanya inovasi ini. Bukan hanya untuk penerangan saja, bahkan dengan adanya inovasi ini telah memberikan manfaat yang sangat menguntungkan karena juga membantu maringankan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan masyarakat khususnya petani kopi dan cengkeh yang dulu terasa berat dilakukan sehingga pertumbuhan perekonomian masyarakat pun bertumbuh. Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Bapak Camat Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba sebagai berikut:

“Sebelum PLTMH ini dibangun, dulu itu ada yang namanya Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK pernah melakukan penelitian dan mensurvei terlebih dahulu di kampung Kayu Biranga kalau tidak salah waktu tahun 2013/2014 yang kemudian mereka juga mengagendakan sebuah pertemuan yang menghadirkan masyarakat, pemerintah yang ada di kecamatan dan kelurahan untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan itulah kemudian dicari tahu kebutuhan apa yang paling mendesak untuk masyarakat saat ini dan akhirnya masyarakat pada saat itu sepakat bahwa listriklah yang paling mereka butuhkan saat ini. Kemudian sejak saat itu pembangunan PLTMH pun direncanakan dan dikembangkan bersama-sama dengan swadaya masyarakat serta LSM lokal OASE (Organisasi Aksi Sosial dan Ekologi) dan Balang Institute. Hingga pada tahun 2015 kemarin itu, PLTMH akhirnya berhasil dibangun dan dinikmati oleh masyarakat kampung Kayu Biranga”.

(Wawancara AA, 02 Januari 2020)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa inovasi PLTMH ini adalah hasil dari bentuk kesesuaian dan kesepakan bersama antara masyarakat dan

(50)

pemerintah yang mengacu pada kondisi dan kebutuhan masyarakat. Terdapat pernyataan serupa dengan hasil wawancara diatas, wawancara dengan Bapak selaku Lurah di Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba juga mengatakan bahwa:

“Jadi masyarakat Kayu Biranga itu dulu mengeluhkan bahwa mereka harus segera memiliki aliran listrik di kampung mereka saat ada pertemuan dengan LHK (maksudnya disini BLI KLHK). LHK ini dulu pernah datang kesini untuk meneliti dan mensurvei kondisi masyarakat dan hutan karena kebetulan ini Kayu Biranga juga termasuk dalam kawasan Hutan Lindung. Kemudian dari situlah kami ini dengan masyarakat dan juga LHK itu bersama-sama membangun dan mengembangangkan PLTMH ini. Jadi PLTMH ini adalah buah dari kesepakatan bersama yang dimana memang masyarakat di Kayu Biranga itu sangat membutuhkan inovasi ini. Mungkin mereka juga melirik dari kampung sebelahnya yakni kampung Na’na yang sudah lebih dulu memakai listrik tenaga air tapi mereka murni swadaya tanpa bantuan dari pihak manapun.

(Wawancara dengan, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa memang benar masyarakat kampung Kayu Biranga ini sudah sangat membutuhkan pasokan listrik sampai pada akhirnya mereka meluapkan keresahan mereka pada saat adanya pertemuan dengan BLI KLHK dan pemerintah setempat, hingga pada akhirnya dikembangkanlah PLTMH ini sebagai jalan keluar untuk memenuhi keinginan masyarakat. Sejalan dengan wawancara diatas, wawancara dengan Bapak selaku Operator PLTMH Na’na yang mengatakan :

“Untuk di kampung Na’na itu swadaya murni, hanya saja untuk pemasangan alatnya dulu itu tahun 2014 kami dibantu tekhnisi dari makassar. Jadi kami Patungan kumpul dana bersama-sama yang kemudian dana yang terkumpul itu dipakai untuk membeli turbin dan pipa. Pada saat itu dana awal yang terkumpul jumlahnya kurang lebih 120 juta kemudian ditambah lagi 20 juta karena adanya penambahan pipa. Untuk biaya pemeliharaan awalnya dulu itu hanya 10 ribu/bulan tapi kami kemudian

(51)

baru-baru ini menaikkan tarifnya menjadi 20 ribu/bulan dan itu sudah disepakati tahun kemarin 2019”.

(Wawancara JD, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa PLTMH yang ada di kampung Na’na berbeda dengan PLTMH yang dibangun di kampung Kayu Biranga. Jika Kayu Biranga PLTMH dibangun dan dikembangkan oleh BLI KLHK, Na’na sendiri dibangun dari murni swadaya masyarakat. Kemudian untuk tarif pembayarannya sendiri berbeda, yakni 10 ribu/bulan untuk Kayu Biranga dan 20 ribu/bulan untuk Na’na.

Wawancara diatas juga didukung dengan hasil wawancara bersama Bapak selaku masyarakat yang ada di kampung Na’na yang mengatakan:

“Pembangkit listrik tenaga air yang ada di kampung ini adalah hasil kerjasama antar sesama masyarakat tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Jika ada atau terjadi kerusakan pada mesin pun masyarakat sendiri yang belajar untuk memperbaikinya. Jika sewaktu-waktu ada perubahan tarif pembayaran (biaya operasional) biasanya akan ada musyawarah bersama-sama masyarakat dan kemudian disepakati berbersama-sama. Jadi disini itu masyarakatnya bisa dibilang sudah mandiri”.

(Wawancara HS, 04 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan dan menguatkan hasil wawancara selumnya bahwa terdapat perbedaan antara PLTMH yang ada di kampung Na’na dengan PLTMH yang ada di kampung Kayu Biranga. Namun untuk kegunaannya sendiri tidak jauh beda yaitu hanya mampu dipakai untuk penerangan, menyalakan alat perkakas dan barang elektronik lainnya kecuali AC dan kulkas. Lanjut, sejalan dengan wawancara diatas Bapak Operator PLTMH Kayu Biranga juga mengatakan:

(52)

“Di Kampung ini pembangunan PLTMH itu semi swadaya, jadi dulu kami patungan kumpul-kumpul dana dan juga meminta bantuan dari pihak pemerintah khususnya BLI KLHK agar kami segera bisa merasakan aliran listrik di kampung kami, karena PLN tidak bisa menjangkau kampung kami. Kemudian adapun dulu sumber dana dari swadaya masyarakat yaitu sekitar 2 juta/KK dan sebelum adanya pembangunan PLTMH ini, kami masyarakat disini bersepakat dengan KLHK tentang larangan menebang pohon, jadi selama pembangunan ini berjalan tidak boleh ada pohon yang dikorbankan”.

(Wawancara NS, 02 Januari 2020)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa terdapat kesesuaian antara pembangunan PLTMH ini dengan kondisi masyarakat sebelumnya. Kemudian pembangunan PLTMH ini tidak langsung dibangun begitu saja namun ada aturan-aturan yang telah disepakati bersama yaitu tentang larangan penebangan pohon. Selanjutnya adapun wawancara dengan Bapak selaku masyarakat kampung Kayu Biranga yang mengatakan:

“Kami lebih memilih PLTMH ini karena lebih murah dan menghemat pengeluaran kami yang dulunya kami pakai untuk membeli bahan bakar untuk pelita dan juga genset. Masa-masa penggunaan pelita cukup memprihatinkan, dimana minyak tanah semakin langka dan harganya pun mahal. Kemudian untuk genset sendiri satu liter bahan bakar premium (bensin) hanya mampu menghasilkan listrik selama satu jam sehingga biaya untuk penerangan dalam semalam cukup membebani. Saat kami pakai genset dulu kami bersyukur sudah bisa menonton televisi. Namun kami harus menghemat listrik misalnya saja saat kami menonton tv, jadi kalau lagi iklan televisinya dimatikan kemudian diperkirakan film/acara televisinya sudah main lagi baru dihidupkan. Kami berharap layanan dari PLTMH ini berlanjut terus dan memliki peningkatan.”

(Wawancara RL, 04 Januari 2020)

Dari hasil wawancara diatas dapat deketahui bahwa inovasi PLTMH ini memang sudah sangat sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada di kampung Kayu Biranga yang terpencil dan tak dialiri listrik dari PLN serta kondisi

(53)

perekonomian yang belum bisa dikatakan sangat sejahtera. Kemudian masyarakat setempat berharap bisa menikmati inovasi ini dalam jangka waktu yang lebih lama.

Berdasarkan pengamatan penulis dapat disimpulkan bahwa pembangunan atau penerapan inovasi PLTMH di Kampung Kayu Biranga ini sudah sangat sesuai karena selain kondisi geografis daerahnya yang mendukung seperti tersedianya sumber air untuk menggerakkan mesin PLTMH, dan juga dilihat dari kondisi perekonomian masyarakat yang sebagian besar hanya bekerja sebagai petani. Jadi, dengan adanya listrik murah PLTMH ini setidaknya masyarakat bisa menghemat dan tidak khawatir lagi dengan pengeluaran yang berlebih seperti dahulu.

3. Complexity (Kerumitan)

Complexity (kerumitan) adalah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik, maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.

Adapun Kerumitan yang dialami oleh masyarakat saat pertamakali maupun setelah PLTMH ini dibangun. Namun kerumitan-kerumitan tersebut dapat diatasi dengan baik karena pihak BLI KLHK yang dengan sangat baik memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang system dan cara kerja dari

(54)

inovasi PLTMH ini. Seperti wawancara penulis dengan Bapak selaku Camat di kecamatan Kindang kabupaten Bulukumba yang mengatakan:

“Jadi pada awal-awal pembangunan PLTMH ini, yang menjadi kerumitan itu ialah infrastruktur atau akses jalan menuju kampung Kayu Biranga dimana pada saat itu masih belum baik apalagi tantangan semakin berat pada saat musim penghujan yang membuat kondisi jalan menjadi becek sehingga mempengaruhi proses pembangunan PLTMH. Kerumitan selanjutnya adalah saat pemasangan kabel-kabel listrik di rumah-rumah masyarakat dimana jarak antara rumah satu dengan yang lain cukup berjauhan ditambah lagi akses jalanan yang kurang baik. Selain sebagai konsumen pemakai PLTMH, masyarakat juga diberi pembelajaran tentang bagaimana perawatan mesin turbin sehingga jika sewaktu-waktu ada kerusakan masyarakat bisa bersama-sama bergotong royong untuk memperbaikinya sendiri tanpa bergantung kepada pihak BLI KLHK. (Wawancara AA, 2 Januari 2020)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kerumitan yang dialami saat proses pembangunan PLTMH di Kampung Kayu Biranga adalah akses jalan masuk ke perkampungan yg belum baik dan juga pemasangan kabel listrik dirumah-rumah masyarakat yang jarak antara rumah masyarakat satu dengan masyarakat yang lain cukup berjauhan. Kemudian selain menjadi pemakai, masyarakat juga ternyata diajari merawat mesin PLTMH. Sejalan dengan wawancara diatas, wawancara dengan Bapak selaku Lurah Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba juga mengatakan bahwa:

“Karena pembangunan PLTMH ini adalah semi swadaya maka kerumitan pertamakali yang dihadapi adalah masalah anggaran khususnya dilingkup masyarakat dimana pada saat itu masyarakat setempat mengumpulkan uang sebesar 2 juta/KK yang untuk sebagian masyarakat itu bukanlah jumlah yang sedikit. Kerumitan yang dialami selanjutnya itu adalah masalah jalanan masuk ke perkampungan dimana jalanan disana itu masih tanah dan bebatuan. Dulu itu mobil susah masuk kesana jadi untuk membawa alat-alat yang diperlukan untuk membangun PLTMH sedikit

Gambar

Tabel 3.1 Informan Penelitian .............................................................................
Tabel 3.1 informan penelitian  E.  Tekhnik Pengumpulan Data
Gambar 4.1 Mesin Turbin dan Generator Listrik PLTMH
Gambar 4.2 Rumah Instalasi (Power House)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dimana akan dijelaskan proses pembuatan (manufacturing) dari screw turbin (PLTMH) yang geometrinya telah ditentukan penulis, yang mana pada screw pertama panjang poros

Perencanaan Dan Pembuatan Turbin Propeller Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (Pltmh).. Potensi Pembangunan Pltmh

(Fhitung = 0,11 < Ftabel = 4,13). Dengan demikian pembuktian sub-hipotesis ketiga tidak dilanjutkan. Dari penemuan dalam penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa

• Untuk pelamar dari Area Fokus Geografis dan kelompok difabel yang mempunyai IPK 2,75 atau lebih dan skor IELTS 5,0* (atau TOEFL dan PTE akademik yang setara)**; • Untuk

dari peta sosial masyarakatnya (social mapping), Kelurahan Sekeloa dimana lokasi kerja BMT berada memiliki banyak potensi yang dapat menunjang seperti: adanya fasilitas

Penelitian dilakukan untuk mengamati jumlah pemberian kadar air yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi hijauan tanaman Indigofera zollingeriana namun informasi tentang

Ball et al (2000) menyatakan bahwa pilihan terhadap suatu metoda akuntansi yang terkait dengan prinsip konservatisme dipengaruhi juga oleh struktur kepemilikan, biaya

Dalam Pasal 9 UUPA, secara jelas menyebutkan bahwa hanya Warga Negara Indonesia saja yang boleh mempunyai hubungan yang sepenuhnya.. dengan bumi, air dan ruang