BAB IV KONDISI UMUM
4.2. Data Biofisik
4.2.1. Keadaan Geografis
Sentul City memiliki kondisi geografis yang berbukit-bukit dengan ketinggian antara 200-750 m di atas permukaan laut dan variasi kemiringan lereng dari datar sampai curam berkisar 0% sampai dengan lebih dari 25%. Berdasarkan ANDAL Pembangunan Pemukiman Bukit Sentul (2000), bentuk wilayah yang datar sampai bergelombang (0-8%) memiliki luas 1.109,3 Ha, bergelombang (8-15%) memiliki luas 706,3 Ha, berbukit (15-25%) dengan luas 695 Ha, dan bentuk wilayah yang bergunung-gunung (>25%) seluas 489,4 Ha. Kondisi ini masih dipertahankan PT. Sentul City Tbk. selain untuk meminimalisir kegiatan gali dan timbun tanah (cut and fill) juga dapat menciptakan pemandangan yang bagus dan indah.
Keindahan yang dapat dilihat dari Sentul City, tidak hanya dari topografi yang berbukit-bukit dengan vegetasi yang terlihat alami, tetapi juga keindahan alam sekitarnya. Kawasan Sentul City dikelilingi oleh beberapa gunung yaitu Gunung Pangrango, Gunung Pancar, Gunung Salak, Gunung Liang, Gunung Panisan, Gunung Garangsang, dan Gunung Hambalang. Kawasan pemukiman dilalui oleh beberapa aliran sungai yaitu Sungai Citeureup, Sungai Cikeas, Sungai Citaringgul, dan Sungai Cijayanti.
Wilayah Sentul City mencakup dua kecamatan yang terdiri dari delapan desa. Kecamatan Sukaraja terdiri dari Desa Cadas Ngampar. Tujuh desa lainnya terletak di Kecamatan Babakan Madang yaitu Desa Babakan Madang, Desa Cipambuan, Desa Citaringgul, Desa Cijayanti, Desa Bojongkoneng, Desa Kadumangu, dan Desa Sumur Batu (Tabel 4). Batas sekeliling Wilayah Sentul City yaitu sebelah barat dibatasi oleh Desa Cijayanti, Desa Cikeas, dan Desa Cadas Ngampar, sebelah timur dibatasi oleh Desa Hambalang dan Desa Karang Tengah, sebelah utara dibatasi oleh Desa Cipambuan dan Desa Kadumangu, dan sebelah selatan dibatasi oleh Desa Nagrak (Sumber: ANDAL Pembangunan Pemukiman Bukit Sentul, 2000).
Tabel 4. P
4.2.2. Iklim
Berdasarkan data iklim dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Dramaga, Bogor terhitung dari tahun 2000-2009, kawasan Sentul City memiliki suhu rata-rata adalah 25,9 0C. Suhu minimum terjadi pada Bulan Februari yaitu 24,5 0C dan suhu maksimum 26,7 0C terjadi pada Bulan Oktober (Tabel 5).
Tabel 5. Suhu Udara Bulanan di Kawasan Sentul City, Bogor dalam satuan 0C
Tahun/ 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata Bulan
Januari 24,1 24,6 24,3 26,2 25,4 25 25,1 26,5 26 25 25,2 Februari 24,8 23 24,4 24,6 24,4 25,9 25,1 24,3 23,2 25,1 24,5 Maret 25 25,2 25,9 25,1 26 25,6 25,3 25,6 25,5 25,8 25,5 April 26,1 25,5 26 26,3 26,4 26,5 25,7 25,7 26,2 26,2 26 Mei 25,9 - 26,2 26 26,2 26,7 26,8 26,7 26,6 26,1 26,4 Juni 25,9 26,2 26,2 26,6 25,7 26,3 26,5 25,9 26,3 26,1 26,2 Juli 25,4 25,7 25,5 26,2 25,4 26 26,7 26,2 26,9 25,8 26 Agustus 26 26,2 25,8 27,1 26,3 26 26,6 26,7 26,6 26,3 26,4 September 26,6 26,1 26,4 26,4 26,5 26,1 27,7 26,8 27 26,6 26,6 Oktober 25,4 26 28,3 26,1 27,4 26,6 27,7 26,3 27,5 26 26,7 November 25 25,3 26,1 25,9 26,4 26,8 27,2 25,8 26 26,3 26,1 Desember 25,8 25,8 26 24,9 25,2 25,1 25,6 24,3 25,6 26,1 25,4
Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Dramaga, Bogor
Berdasarkan data kelembaban udara terhitung dari tahun 2000-2009, kawasan Sentul City memiliki kelembaban udara rata-rata 82,1%. Kelembaban udara minimum terjadi pada Bulan Agustus sebesar 76,6% dan kelembaban udara maksimum terjadi pada Bulan Februari sebesar 87,8% (Tabel 6). Lama penyinaran yang terjadi di sekitar kawasan ini terhitung dari tahun 2008-2009 berkisar 65,9% dengan intensitas cahaya 274,8 Joule/cm2. Kecepatan angin rata-rata tahun 2008-2009 yaitu 2,6 knot (mil/jam) dan cendrung mengarah ke barat.
Tabel 6. Persentase Kelembaban Udara Bulanan di Kawasan Sentul City, Bogor
Tahun/ 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata Bulan
Januari 88,7 84,5 91,4 79,4 88,3 89,2 86,6 77,9 81,9 88 85,4 Februari 82,7 88 86,9 89,9 88,1 87,8 86,9 89,2 90,1 88 87,8 Maret 83,9 81,8 85,9 85,7 82,8 88,3 82,4 84,2 83,8 82 84 April 82,9 86,5 83,6 83,8 85 83,4 82 87,2 85,3 82 84,2 Mei 84,3 - 84,8 81 83,8 81,5 79,5 82,7 79,7 85 82,5 Juni 80 79,8 79,9 74 76,9 84,9 77,2 82 79,1 81 79,5 Juli 79,6 80 82,4 72,4 81,8 82,6 78,4 77,3 73,6 77 78,5 Agustus 79,6 76,1 76,1 75,9 74,2 81 70,9 76,3 81,1 75 76,6 September 76,6 80 75,1 81,1 82,4 80,8 68,5 76,3 78,6 75 77,2 Oktober 84,4 85,5 72 83,1 80,5 82,5 71,8 81,2 80,1 82 80,3 November 87,7 88,1 83,8 85,9 84,8 83 81,7 85,6 85,5 81 84,7 Desember 78,3 74,4 84,7 87,7 86,1 84,3 87,3 89,6 86,5 85 84,4
Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Dramaga, Bogor
4.2.3. Geologi
Kawasan Pemukiman Sentul City memiliki kondisi geologi yang dibedakan menjadi tiga kelompok batuan yaitu batuan lempung, batuan vulkanik, dan endapan alluvial. Pada bagian barat dan tengah Kawasan Pemukiman Sentul City terdapat banyak batuan lempung yang terdiri dari Batu Lempung dan Batu Lanau Gampingan. Kelompok batuan ini memiliki ketebalan lebih dari 250 m dari permukaan tanah. Batu Lempung dan Batu Lanau Gampingan ini mempunyai struktur yang kekar dan membentuk lapisan-lapisan yang cukup curam di beberapa tempat, terutama di lembah sungai. Kemiringan yang terjadi mencapai 400 sampai 650.
Kelompok batuan vulkanik banyak terdapat di bagian barat dan timur Kawasan Pemukiman Sentul City. Di bagian barat, batuan vulkanik ini terdapat dalam bentuk lapisan tipis tuf pasiran dengan ketebalan antara 4-6 meter.
Sebagian besar batuan ini telah melapuk menjadi lempung, lanau, atau pun lanau lempung yang berwarna kecoklatan. Di bagian timur, batuan vulkanik ini terdiri dari breksi dan lava yang bagian permukaannya mulai melapuk menjadi lanau lempungan dan pasir lempungan dengan ketebalan 6 meter dan semakin menebal kearah selatan. Kelompok batuan vulkanik ini memiliki banyak kesamaan dengan
batuan lempung sehingga sulit dibedakan. Perbedaan antara keduanya hanya dapat dilihat dari segi warna.
Pada bagian utara Kawasan Pemukiman Sentul City banyak tedapat kelompok batuan alluvial, terutama pada lembah sungai yang lebar dan berkelok-kelok (meander). Tebal batuan ini kurang dari 5 meter dari atas permukaan tanah.
Batuan ini tersusun dari lanau, pasir, kerikil, dan bongkahan andesit yang bersifat lepas dan belum padu.
4.2.4. Tanah
Berdasarkan penilaian studi ANDAL Bukit Sentul tahun 2000, tanah yang terbentuk di kawasan Sentul City dikelompokkan ke dalam lima klasifikasi tanah, yaitu: Typic Hapludult, Typic Dystropept, Oxic Dystropept, Typic Hemitpropept, dan Aquic Dystropept. Tanah Typic Hapludult memiliki kandungan organik yang sedang dan dapat ditemukan pada kedalaman lebih dari 130 cm. Pada tanah ini terjadi fiksasi posfor (P) yang sangat tinggi, dikarenakan tanah ini memiliki kandungan P2O5 yang sangat rendah. Karakteristik lainnya, tipe tanah memiliki laju infiltrasi yang rendah dengan kapasitas memegang air cukup baik. Akibat dari karakter tersebut di antaranya tanah cenderung becek, aliran air permukaan (run off) tinggi, dan tanah sulit diolah pada lokasi yang berlereng. Tanah Typic Dystropept memiliki laju infiltrasi air dari rendah sampai tinggi, sedangkan ketersediaan kalium (K) rendah. Selain itu, tipe tanah ini memiliki Kemampuan Tukar Kation (KTK) kejenuhan basanya sangat rendah. Kandungan bahan organiknya baru ditemukan pada kedalaman lebih dari 130 cm di bawah permukaan tanah.
Tanah Oxic Dystropept memiliki karakteristik yang hampir sama dengan tanah Typic Dystropept. Struktur tanah berpasir atau berdebu (kandungan liat 15%). Hal ini mengakibatkan air cepat meresap atau pun sebaliknya yaitu menggenang. Begitu pula sifat dan ciri tanah Typic Hemitpropept juga hampir sama dengan tanah Typic Dystropept, keduanya termasuk pada ordo inceptisol dan berasal dari great group trop dengan tingkat dekomposisi tanah sedang (hermis).
Sedangkan tipe tanah Aquic Dystropept memiliki sifat sering jenuh air. Tanah ini memiliki kandungan air tanah cukup, namun terkadang menggenang.
Jenis dan klasifikasi kelima tanah tersebut tidak lepas dari kondisi batuan-batuan induknya yaitu sebagian besar memiliki struktur bongkah, kekar, berpasir atau pun berkembang. Berdasarkan kondisi morfologi dan sifat fisik batuannya, Sentul City tergolong daerah rawan gerakan tanah berupa longsoran tanah (land slide) dan rayapan tanah (soil creep). Selain itu, secara umum kelima jenis tanah tersebut memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa (KB) serta kandungan P2O5 dalam tanah yang rendah, kecuali kandungan bahan organik yang tergolong sedang sampai rendah. Kondisi ini mengakibatkan tanah di kawasan Sentul City sangat miskin hara, sehingga kesuburan tanahnya rendah. Hal ini sangat berpengaruh pada aspek pemupukan dan pengolahan tanah. Dalam usaha menanami lahan seperti ini dilakukan pelapisan tanah baru yaitu tanah merah yang diambil dari daerah lain sebagai media tanam dengan ketebalan 30-50 cm.
Penilaian status kesuburan tanah di dalam Sentul City dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Status Kesuburan Tanah
No Klasifikasi KTK KB P2O5 Organik Kesuburan
1 Typic Hapludult S R SR-R S R
2 Typic Dystropept S SR-R SR-R S R
3 Oxic Dystropept R-S SR-R SR R-S R
4 Typic Hamitropept R SR SR S-T R
5 Aquic Dystropept S S S S S
Keterangan:
KTK : Kapasitas Tukar Kation KB : Kejenuhan Basa SR : Sangat Rendah
R : Rendah S : Sedang T : Tinggi
Sumber: ANDAL Pembangunan Pemukiman Bukit Sentul, 2000
4.2.5. Hidrologi
Kawasan Sentul City dibangun pada daerah yang miskin akan air, baik air permukaan maupun air tanah. Jenis air di kawasan Sentul City berdasarkan airnya yaitu air sungai, air tanah, dan mata air. Kebutuhan air untuk mandi dan minum bagi masyarakat yang tinggal di Kawasan Pemukiman Sentul City serta untuk menyiram tanaman dan pembersihan jalanan diperoleh dari tampungan air hujan, air danau, dan air Sungai Citereup. Untuk keperluan air minum telah dibangun tempat khusus pengolahan air dan ditangani oleh departemen khusus yaitu
Departemen Instalasi Pengolahan Air dan Limbah atau Water Treatment Plan Departement.
Kawasan Sentul City ini dilalui oleh Sungai Citeureup dan Sungai Cikeas yang berair sepanjang tahun, tetapi anak-anak sungainya kering pada musim kemarau. Sedangkan air tanah yang terdapat di kawasan Sentul City merupakan air tanah bebas (air tanah dangkal) yang tidak bertekanan dengan kedalaman muka air tanah antara 4-12 m. Potensi air tanah di kawasan ini sangat kecil dan dipengaruhi oleh musim. Sumber air dari mata air yang mengalir langsung menjadi aliran permukaan pada sungai-sungai yang ada pada kawasan dengan debit air yang umumnya kecil yaitu kurang lebih sebesar 0,5 l/det.
Pemanfaatan air dari Sungai Citeureup dan Sungai Cikeas ini telah mendapat SIPA (Surat Izin Pengambilan Air) dari Gubernur Kepala daerah Tingkat I Jawa Barat. Sungai-sungai ini menjadi cadangan (make up water) dan pemasok kebutuhan air di Sentul City terutama pada musim kemarau. Selain itu, kedua sungai ini difungsikan untuk mengairi dua danau buatan di Sentul City yaitu Danau Teratai dan Danau Telaga Indah. Namun, kualitas air pada kedua sungai ini menunjukkan nilai yang secara garis besar masih berada di bawah ambang batas Baku Mutu Air Golongan B (PP No. 20 Tahun 1990), kecuali untuk Sungai Citeureup yang mengalir di tengah pemukiman menunjukkan adanya tendensi melewati ambang batas. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan khusus yaitu penyaringan dan aerasi untuk pemanfaatannya sebagai air baku minum.
4.2.6. Vegetasi
Berdasarkan ANDAL Pembangunan Pemukiman Bukit Sentul (2000), jenis vegetasi yang terdapat di kawasan Sentul City sangat dipengaruhi oleh topografi.
Topografi dibedakan menjadi dua bentang alam utama, yaitu bentang alam basah dan bentang alam kering. Bentang alam kering merupakan bentang alam yang berada di daerah dengan topografi relatif datar sampai landai dan bentang alam basah merupakan bentang alam yang berada di daerah sepanjang sungai dengan topografi relatif bergelombang sampai bukit yang terjal.
Vegetasi asli yang tumbuh di daerah bentang alam kering sebagian besar terdiri dari tanaman pangan dan budidaya seperti padi, pisang, talas, ketela pohon,
dan kacang tanah. Pada daerah bentang alam basah, vegetasi dibedakan menjadi vegetasi hutan, vegetasi kebun campuran, vegetasi tegalan, dan vegetasi semak belukar. Jenis vegetasi yang berada di bagian puncak bukit, umumnya berupa hutan alami atau hutan binaan yang didominasi oleh pohon pinus (Pinus merkusii).
Vegetasi kebun campuran banyak dijumpai tanaman buah-buahan khas dan langka, seperti gandaria (Bouea macrophylia), sempur (Sandoricum koetjape), jomlang (Syzigium cumini), gohok (Syzigium polycepahalum), samafo (Dyosporus discolor), dan tanaman langka lainnya. Vegetasi tegalan awalnya berupa kebun karet yang kemudian ditanami tanaman palawija, dan vegetasi semak belukar yang dominan adalah kirinyuh (Eupatorium indiifolium), kiseureuh (Piper aduncum), saliara (Lantana camara), dan rumput alang-alang (Imperata cylindrical).
Pada umumnya jenis vegetasi yang terdapat di kawasan Sentul City dibedakan berdasarkan peruntukan lahannya. Eckbo (1956) juga mengatakan bahwa pemilihan jenis tanaman tergantung kepada fungsi tanaman dan lokasinya dimana tanaman tersebut dapat ditanam. Misalnya pada Jalan Siliwangi terdapat beberapa area seperti jalur pedestrian, Danau Teratai, dan riverscape juga dibedakan jenis vegetasinya. Pada jalur pedestrian banyak terdapat pohon peneduh dan semak seperti bambu jepang (Bambussa sp.), beringin (Ficus benjamina), bintaro (Cerbera odollana), bismarkia (Bismarckia sp.), jati (Tectona grandis), ki hujan (Samanea saman), kecrutan (Spathodea campanulata), gmelina (Gmelina sp.), sikas (Cycas revoluta), pangkas kuning (Duranta sp.), dan kana (Canna sp.).
Pada Danau Teratai lebih banyak ditanami tanaman dari kelompok Arecaceae seperti kelapa (Cocos nucifera), kelapa sawit (Elais guineensis), palm raja (Roystonea regia), palm bismark (Bismarckia nobilis), dan pinang (Areca catechu), sedangkan pada riverscape banyak terdapat vegetasi alami dan didominasi oleh pinus (Pinus merkusii).
4.4.7. Satwa
Secara umum satwa di kawasan Sentul City cukup beragam dan terdapat juga yang langka dan harus dilindungi. Berdasarkan hasil Pemantauan Lingkungan Komponen Biologi di PT. Bukit Sentul oleh Laboratorium Ekologi, Departemen Bilogi ITB (2002), terdapat 5 kelompok hewan yang terdiri dari 7 jenis dari
kelompok amfibi, 10 jenis dari kelompok mamalia, 11 jenis dari kelompok fisces (ikan), 7 jenis dari kelompok reptil, dan 26 jenis dari kelompok aves (Tabel 8).
Kelompok amfibi banyak ditemukan di sekitar sawah, tepi kolam, sungai, dan parit. Kelompok mamalia jumlahnya sangat terbatas, yang lebih khusus adalah di sekitar Gunung Pancar paling sedikit terdapat 3 jenis primata yang dijumpai seperti monyet, lutung, dan surili (Presbytis cornata). Jenis ikan terdapat di kolam, danau, dan sungai. Sedangkan kelompok reptil yang sering dijumpai adalah jenis kadal yang terdapat di lading, sawah, dan kebun. Kelompok aves merupakan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengamat burung. Banyaknya jenis vegetasi yang berbiji di kawasan Sentul City menjadi salah satu penarik bagi burung pemakan buah. Pada sekitar Danau Teratai dengan kondisi vegetasi yang banyak memberikan naungan dijumpai blekok.
Tabel 8. Jenis Satwa di Kawasan Pemukiman Bukit Sentul
Kelompok Jenis Nama Daerah
Amfibi
Kodok budug sungai Kodok budug/puru Katak tegalan Bancet hijau Katak pohon Katak/kongkang kolam Katak/ kongkang gading
Mamalia
Burung jalak kerbau Burung udang
Burung layang-layang asia Burung layang-layang Burung madu kuning Cinenen
Sumber: Laboratorium Ekologi, Departemen Biologi ITB (2002)