BAB IV HASIL PENELITIAN
8. Keadaan Orang Tua Siswa
Perkembangan kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan bagi anaknya semakin tinggi. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh ekonomi keluarga. Keadaan orang tua siswa termasuk kategori ekonomi menengah. Ada yang termasuk pra sejahtera adapula yang termasuk berlebih.
Hal ini menunjukkan adanya kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat memberikan sumbangan partisipasi kepada sekolah sesuai
dengan ketentuan dan ada pula yang sesuai dengan kemampuan mereka. Adapun mata pencaharian orang tua siswa bermacam-macam diantaranya adalah TNI/Polri, PNS, BUMN, Swasta, Sopir dan lain- lain. Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan keadaan pekerjaan orang tua siswa
TABEL 4.8
KEADAAN ORANG TUA SISWA
BERDASARKAN PEKERJAAN ORANG TUA
Pekerjaan Kelas VII Kelas VIII Kelas XI Jumlah
Seluruhnya. L P JML L P JML L P JML L P JML TNI/ Polri 6 4 10 2 1 3 2 3 5 10 8 18 PURNA - - - - Peg. Negeri 12 10 22 5 8 13 18 13 21 25 31 56 Tani 20 18 38 7 8 15 3 7 10 30 33 63 Dagang 13 20 33 4 1 9 33 11 7 18 38 46 102 Sopir 16 20 36 1 0 6 16 7 5 12 33 31 64 Wira Swas 15 12 27 2 9 3 4 63 29 17 46 73 63 136 Pengusaha - - - -
KR.Swasta 20 30 50 1 5 2 1 36 40 67 107 75 11 8 193
9. Program Ekstrakurikuler SMP Negeri 1 Gondanglegi
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran untuk pengembangan diri, minat dan bakat dari peserta didik. Menurut Bapak Eddy Raharjo selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi sangat mendukung sekali kegiatan ekstra yang dilaksanakan di sekolah. Karena peserta didik dapat mengembangkan dirinya di masyarakat dan anak yang memiliki pengetahuan atau berpikir rendah dapat menutupi kekurangannya dengan keahlian lain
Adapun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini, meliputi:
1. Kepramukaan 6. Bola Basket
2. Teater Jawa 7. Sepak Bola
3. Karate 8. Kerajinan Tangan
4. Karawitan 9. Baca Tulis Al-Qur'an
5. PMR 10. Bahasa Inggris76
Untuk kegiatan ini dilaksanakan setiap sore hari, sesuai jadwal yang ditentukan sekolah atau pada hari sabtu secara serempak sebagai kegiatan non akademis (KNA) mulai pagi hari
B. Kompetensi Pedagogik Guru PAI Di SMP Negeri 1 Gondanglegi Berhasil tidaknya pendidikan dapat dilihat dari proses belajar mengajar yang dilakukan. Oleh sebab itu kompetensi pedagogik sangat berperan penting karena terkait dengan pengelolaan pembelajaran.
Telah kita ketahui bahwasannya kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Dan semua guru khususnya guru PAI hendaknya memiliki kompetensi pedagogik. Apabila guru memiliki kompetensi tersebut, maka dia akan menjadi guru yang profesional dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini sebagaimana yang dipaparkan oleh bapak Eddy Raharjo selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi dalam wawancaranya sebagai berikut: "kompetensi merupakan syarat mutlak bagi seorang guru. Apabila guru memiliki kompetensi, maka ia akan menjadi guru yang profesional sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan apalagi di masa sekarang ini, guru harus benar-benar memiliki kemampuan yang lebih dalam segala hal. Kompetensi pedagogik perlu dimiliki oleh seorang guru, apalagi guru PAI. Karena hal ini terkait dengan proses belajar mengajar (PBM). Akan tetapi untuk lulusan universitas menurut pandangan saya, masih kurang kompeten di bidangnya. Apalagi universitas yang menghasilkan tenaga pendidik. Mereka sepertinya hanya dibekali dengan ilmu teks book sehingga ketika terjun di masyarakat masih canggung dan grogi karena kurangnya praktek di lapangan. Hal ini terbukti dengan adanya uji kompetensi / sertifikasi guru yang dilakukan oleh pemerintah. Jika dipikir secara logis, dapat dilihat kalau pemerintah belum percaya dengan lulusan
universitas. Kalau lulusan – lulusan universitas sudah layak tidak mungkin ada uji kompetensi lagi"77.
SMP Negeri 1 Gondanglegi terdiri dari 15 kelas dan dibimbing oleh dua guru PAI yaitu untuk kelas VII lima kelas dan kelas VIII dua kelas dibimbing oleh Bapak Drs. Tohir MA. Sedangkan untuk kelas VIII tiga kelas dan kelas IX lima kelas dibimbing oleh Drs. H. Ahsan Widodo. Dari pengamatan peneliti dapat dilihat bahwa keduanya memiliki kompetensi pedagogik. Untuk Lebih jelasnya tentang kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru PAI di SMP Negeri 1 Gondanglegi akan diuraikan dibawah ini.
1. Pemahaman Peserta Didik
Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi IQ, Kreativitas, perkembangan koqnitif maupun cacat fisik. Oleh karena itu guru harus bisa memahami karakteristik peserta didik agar dalam proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.
Adapun metode yang digunakan juga harus menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik tersebut. Sebagaimana diungkapkan Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi sebagai berikut:
" Dalam pembelajaran siswa memiliki IQ yang berbeda-beda. Hal ini bisa diamati ketika proses belajar mengajar dilaksanakan. Oleh karena itu, biasanya saya membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok dan di situ terdiri dari anak yang pandai dan kurang pandai, sehingga mereka bisa membantu temannya yang kurang pandai tersebut. Saya
77
Hasil wawancara dengan bapak Eddy Raharjo selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi, 16 Maret 2009
juga memberi tanda anak yang pandai dalam absensi agar cepat dalam pengelompokkan dan juga meminimalisir waktu"78.
Hal ini juga diperkuat oleh bapak Ahsan selaku guru PAI berikut hasil wawancaranya:
"Dalam memberi pelajaran (metodologi pembelajaran) yang standar (tengah-tengah) saja agar anak yang pandai tidak bosan dan yang kurang pandai tidak merasa kesulitan. Memang sih ada kurikulumnya. Tapi kurikulum itu sendiri hanya memuat tujuan-tujuan utamanya saja. Sedangkan guru juga harus memikirkan tujuan khusus intruksonal (TIK) dalam pembelajaran79 .
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa guru PAI sudah mampu memahami karakteristik siswa sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan siswa mampu memahami apa yang telah diterangkan oleh guru
2. Perancangan Pembelajaran
Perancangan pembelajaran berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Guru harus mengetahui kebutuhan yang harus dipenuhi, kompetensi yang harus dicapai siswa serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai panduan dalam mengajar.
Dalam hal ini sebagaimana diungkapkan Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi sebagai berikut:
"Setiap awal masuk semester guru harus sudah menyelesaikan silabus atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Terkadang ada beberapa guru yang belum menyelesaikan dan saya sebagai guru PAI harus dapat memberi contoh kepada mereka dengan menyelesaikannya terlebih dahulu. Milik saya sudah ditanda
78Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 18 Maret
2009
79
Hasil wawancara dengan bapak Ahsan Widodo selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 18 Maret 2009
tangani sama kepala sekolah dan sampai sekarang masih ada guru yang belum selesai sampai ditulis lagi di ruang guru"80.
Untuk metode yang digunakan juga harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik agar mereka faham tentang pelajaran yang sudah diberikan. Sebagaimana dikemukakan oleh bapak Thohir selaku Guru PAI yaitu:
"Sebelumnya perlu diketahui saya itu mengajar di kelas VII lima kelas dan kelas VIII dua kelas. Terkait dengan karakteristik peserta didik yang merupakan masa peralihan dari SD ke SMP, maka metode pembelajaran yang saya lakukan adalah bernyanyi, bercerita dan bermain (BCM). Penting anak senang dulu dalam belajar agar tidak bosan. Misalnya dalam pelajaran Fiqih menggunakan metode bernyanyi kemudian Sejarah Kebudayaan Islam(SKI) menggunakan metode cerita, Aqidah Akhlak dengan bermain. Kalau begini anakkan senang, merasa terhibur juga, padahal disitu ada pelajaran agamanya"81
Hal ini perkuat oleh bapak Ahsan selaku guru PAI yang lain sebagai berikut:
"Kalau saya menggunakan metode
# &
'(
Anak disenangkan dulu waktu appersepsi. Sehingga waktu materi walalupun babnya sulit tetap senang dan memperhatikan"82Guru PAI dalam perancangan pembelajaran yaitu silabus dan RPP sudah menyelesaikan lebih dulu sehingga dapat menjadi teladan bagi guru-guru yang lain. Mereka juga sudah memikirkan metode yang sesuai dalam pembelajaran.
80
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 18 Maret 2009
81
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
82
Hasil wawancara dengan bapak Ahsan Widodo selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
3. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis
Maksudnya adalah pelaksanaan pembelajaran harus berangkat dari proses dialogis antar sesama subjek pembelajaran sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikasi. Ada beberapa cara yang dilakukan guru PAI agar siswanya dapat berkomunikasi aktif. Salah satunya sistem tanya jawab. Sebagaimana diungkapkan oleh bapak Ahsan selaku guru PAI sebagai berikut:
"Di tengah-tengah pelajaran saya memberi pertanyaan apa yang sedang saya terangkan. Kalau mereka tidak bisa, biasanya malu sama teman-temannya. Baru diterangkan kok tidak bisa!Jadinya sistem tanya jawab dapat menjadikan siswa aktif"83.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan bapak Thohir selaku guru PAI yaitu:
"Dengan membaginya menjadi beberapa kelompok secara otomatis mereka sudah berkomunikasi secara aktif dan ketika akhir pelajaran saya juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dimengerti"84
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa guru PAI dapat membuat proses belajar mengajar menjadi menyenangkan dan dialogis. Apalagi guru juga mengajak siswa ke mushola untuk praktek langsung terkait bab yang dipelajari dan menyelipkan humor sehingga anak tidak bosan dan ramai sendiri85
83
Hasil wawancara dengan bapak Ahsan Widodo selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
84
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
85
Observasi di Mushola SMP Negeri 1 Gondanglegi pada hari Rabu, 18 Maret 2009 dari pukul 07.00- 08.20
4. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran
Teknologi pembelajaran merupakan sarana pendukung untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran apalagi dalam era globalisasi. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi ini agar mereka mudah mencapai tujuan yang diinginkan.
Kepala sekolah sangat setuju dengan adanya teknologi pembelajaran. Dalam hal ini, beliau juga berusaha meningkatkan penguasaan teknologi bagi guru. Sebagaimana dalam hasil wawancaranya yaitu:
"Kemarin di sekolah ini diadakan work shop TIK agar para guru tidak ketinggalan dan dapat mengoperasikan teknologi masa kini misalnya penggunaan LCD, laptop, internet dan lain-lain. Saya juga menyediakan komputer, laptop dan memasang jaringan di seluruh ruangan sehingga guru dapat sewaktu-waktu menggunakannya. Apalagi ada diantara mereka yang membawa laptop sendiri"86.
Dalam hal ini, guru PAI di SMP Negeri 1 Gondanglegi masih belum menggunakan teknologi pembelajaran. Sebagaimana diungkapkan oleh bapak Ahsan selaku guru PAI yaitu:
"Saya masih akan menggunakan teknologi pembelajaran dalam proses belajar mengajar PAI, karena kemarin juga sudah mengikuti Workshop TIK. Insyaallah saya menggunakan power point sebagai langkah awal dalam pembelajaran. Sementara ini yang menggunakan teknologi masih kegiatan PHBI"87.
86
Hasil wawancara dengan bapak Eddy Raharjo selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi, 16 Maret 2009
87
Hasil wawancara dengan bapak Ahsan Widodo selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
Hal ini juga dipertegas oleh bapak Thohir selaku guru PAI, inilah hasil wawancaranya:
"kalau saya belum menggunakan teknologi pembelajaran karena siswanya juga masih kecil. Wong ngetik aja mereka masih kesulitan apalagi membuka internet"88
Dalam hal teknologi pembelajaran guru PAI belum sama sekali menggunakannya kecuali dalam Kegiatan PHBI. Tetapi mereka memiliki keinginan kuat untuk segera menggunakan teknologi pembelajaran agar tidak ketinggalan zaman
5. Evaluasi Hasil Belajar (EHB)
Berhasil tidaknya suatu pendidikan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dari evaluasi terhadap out put yang dihasilkan. Dengan kompetensi yang dimilikinya, maka setiap guru harus mengadakan evaluasi setelah materi yang diajarkan selesai.
Dalam sekolah dasar ataupun menengah ada yang disebut ulangan harian, ujian blok, ujian akhir semester dan ujian akhir nasional. Guru PAI di sekolah ini dalam mengevaluasi peserta didiknya menggunakan cara yang berbeda beda. Sebagaimana pernyataan bapak Thohir selaku guru PAI yaitu:
"Apabila sudah menyelesaikan satu bab saya memberikan ulangan harian. Apabila belum terlaksana, paling lambat saya harus memberi ulangan untuk 3 bab sekaligus anggaplah ujian tengah semester. Untuk sekarang ini, ada ulangan blok yang materinya hanya perpokok bahasan"89
88
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
89
Hal ini juga diungkapkan oleh bapak Ahsan selaku guru PAI yang lain. Inilah hasil wawancaranya:
"Kalau 1 bab selesai saya menyuruh siswa mengerjakan LKS setelah 3 bab Selesai baru saya adakan ujian blok. Tetapi kalau babnya tentang Al-Qur'an langsung praktek"90
Dalam evaluasi hasil belajar, guru PAI menggunakan cara yang berbeda-beda tetapi mereka memiliki tujuan sama yaitu mengetahui seberapa besar pemahaman peserta didik dalam menerima pelajaran yang telah disampaikan.
6. Pengembangan Peserta Didik Untuk Mengaktualisasikan Berbagai Potensi Yang Dimiliki
Pengembangan diri biasanya dikenal dengan kegiatan ekstrakurikuler. Bapak Eddy Raharjo selaku kepala sekolah mengungkapkan sebagai berikut:
"Minat dan bakat siswa bisa disalurkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Oleh sebab itu, saya mendukung kegiatan ini, karena siswa dapat mengembangkan dirinya di masyarakat dan apabila pengetahuan atau berpikirnya rendah dapat memiliki keahlian lain. Dan saya tidak membedakan antara kegiatan ekstra yang bersifat umum misalnya, sepak bola, karate dan lain sebagainya ataupun kegiatan ekstra yang bersifat khusus misalnya, baca tulis Al-Qur'an, bahasa Inggris dan lain Sebagainya. Terserah mereka pilih yang mana"91.
Guru PAI juga mendukung siswanya agar mengikuti kegiatan ekstra ini. Sebagaimana pernyataan bapak Thohir selaku guru PAI sebagai berikut:
90
Hasil wawancara dengan bapak Ahsan Widodo selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20Maret 2009
91
Hasil wawancara dengan bapak Eddy Raharjo selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi, 16 Maret 2009
"saya mengarahkan siswa pada waktu MOS. Dalam arti ada waktu kosong saya gunakan untuk tes baca tulis Al-Qur'an. Dari sini dapat diketahui mana siswa yang bisa dan tidak. Sehingga untuk yang bisa membaca Al-Qur'an, saya arahkan untuk mengikuti qiro'ah apalagi kalau suaranya bagus. Kegiatan ini dilaksanakan setiap kamis jam 12.40. Sedangkan untuk yang belum bisa, saya menganjurkan mereka untuk mengikuti baca tulis Al-Quran (Iqro') yang dilaksanakan setiap hari selasa jam 12.00. jika ada yang mengikuti kegiatan ekstra selain ini juga tidak apa-apa"92.
Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik meliputi: pribadi, sosial, belajar dan karier. Selain guru pembimbing, guru mata pelajaran yang memenuhi kriteria pelayanan bimbingan dan karier diperbolehkan menjadi guru pembimbing. Untuk bimbingan konseling ditangani oleh guru bimbingan konseling (BK) sendiri. Sebagaimana diungkapkan oleh bapak Anshori selaku guru BK yaitu:
"Di sini guru BK ada sendiri dan ada pelajaran khusus BK Usaha yang saya lakukan adalah memberi bimbingan dan motivasi terhadap siswa yang memiliki masalah"93
Hal tersebut di atas juga diperkuat dengan pernyataan kepala Sekolah sebagai berikut:
" Ketika ada siswa yang bermasalah kita mengundang para guru untuk musyawarah dan mencari solusinya. Setelah itu, siswa diberi sangsi sesuai dengan hasil musyawarah. Apabila ia mengulanginya lagi, maka kita laporkan kepada orang tua. Dalam hal ini kita tidak sampai mengeluarkannya karena sekolah tujuannya adalah membina bukan membinasakan"94
92
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
93
Hasil wawancara dengan bapak Anshori selaku Guru BK SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
94
Hasil wawancara dengan bapak Eddy Raharjo selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi, 16 Maret 2009
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Gondanglegi ini memiliki kompetensi pedagogik. Hal ini dapat dilihat dari komponen yang telah mereka kuasai sehingga dapat mengelola pembelajaran dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan.
C. Kesulitan Belajar Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi
Dalam proses pembelajaran tidak semua siswa dapat memahami apa yang telah diterangkan oleh gurunya. Diantara mereka pasti ada sebagian siswa yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar adalah rendahnya kepandaian yang dimiliki seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang seharusnya dicapai pada umur tersebut Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi mayoritas adalah lulusan SD, sehingga pengetahuan mereka tentang agama sangat minim dan hal ini mempengaruhi dalam proses pembelajaran mata pelajaran PAI. Sebagaimana pernyataan bapak Thohir selaku guru PAI sebagai berikut :
"Siswa SMP ini hampir 90 % lulusan SD. Oleh sebab itu, mayoritas kesulitan belajarnya adalah membaca dan menulis Al-Qur'an"95.
Hal ini juga dipertegas oleh bapak Ahsan selaku guru PAI lain. Inilah hasil wawancaranya:
"Bacaan Al-Qur'an masih sulit dan pembiasaan ibadah masih kurang istiqomah apalagi kalau di rumah tidak diawasi oleh orang tua. Dalam arti orang tua percaya dan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah padahal lingkungan keluarga dan masyarakat juga dapat mempengaruhi anak"96 95
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
96
Hasil wawancara dengan bapak Ahsan selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
Adapun hasil pengamatan peneliti ketika mengikuti proses pembelajaran yang sedang berlangsung adalah sopan santun siswa terhadap guru dan teman sebaya masih kurang. Hal ini bisa dilihat pada waktu mereka berbicara ataupun ditanya oleh guru di luar kelas. Mereka juga masih urakan ketika proses pembelajaran sedang berlangsung97
Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Kepala Sekolah yaitu: " Guru PAI harus lebih baik dari guru yang lain karena mereka bergerak dalam pembinaan moral spiritual siswa"98
Sedangkan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar ada dua yaitu:
a. Faktor Intern (dalam diri siswa) meliputi: 1) Koqnitif, seperti rendahnya intelegensi siswa 2) Afektif, seperti labilnya emosi dan sikap
3) Psikomotorik, seperti terganggunya alat-alat indera
Dalam hal ini dapat dilihat dari pernyataan bapak Thohir selaku guru PAI yaitu:
"Dalam proses belajar mengajar saya membagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari anak yang pandai dan kurang pandai"99.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh bapak Anshori selaku guru BK yaitu
"Masalah yang dihadapi oleh siswa di sekolah ini adalah masalah belajar, sosial dan ekonomi. Sedangkan faktor utamanya adalah
97
Hasil observasi di SMP Negeri 1 Gondanglegi pada hari Jum'at, 20 Maret 2009 dari pukul 09.00- 09.30
98
Hasil wawancara dengan bapak Eddy Raharjo selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Gondanglegi, 16 Maret 2009
99
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 20 Maret 2009
masalah belajar terkait dengan kemampuan IQ yang dimiliki oleh anak" 100
b. Faktor Ekstern (di luar diri siswa) meliputi:
1) Lingkungan keluarga, misalnya ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, rendahnya kehidupan ekonomi keluarga dan lain-lain
2) Lingkungan sekolah, misalnya kondisi letak dan gedung sekolah yang kurang strategis, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah
3) Lingkungan masyarakat, misalnya perkampungan yang kumuh, teman yang nakal dan lain sebagainya.
Faktor ekstern dalam kesulitan belajar siswa dijelaskan oleh bapak Thohir selaku guru PAI sebagai berikut :
"Menurut saya faktor yang paling utama adalah Lingkungan keluarga maksudnya jika orang tua tidak membiasakan anaknya untuk mengaji di TPQ ketika sekolah dasar (SD), maka ketika di SMP dia mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis Al- Qur'an. Adapun faktor yang lain adalah latar belakang sekolah. Mayoritas di sekolah ini adalah lulusan SD sehingga sulit mengenal huruf Arab. Begitu juga tidak adanya tes masuk untuk pelajaran agama menyebabkan pelajaran agama dinomorduakan. Hal ini dapat dilihat dalam penerimaan siswa baru selama ini hanya melihat danem dan tes ujian umum"101
Hal ini juga dipertegas oleh bapak Ahsan selaku guru PAI mengatakan bahwa kesulitan belajar siswa disebabkan karena faktor ekonomi keluarga. Inilah hasil wawancaranya:
100
Hasil wawancara dengan bapak Anshori selaku Guru BK SMP Negeri 1 Gondanglegi, 18 Maret 2009
101
Hasil wawancara dengan bapak Thohir selaku Guru PAI SMP Negeri 1 Gondanglegi, 23 Maret 2009
"Mereka tidak memiliki LKS dalam pelajaran PAI, sehingga tidak bisa belajar di rumah dan menyebabkan kesulitan belajar. Bisa dikatakan faktor ekonomi keluarga. Kita mau memaksa mereka membeli ya tidak mungkin. Ekonomi akhir-akhir ini juga sulit. Kalau kita membelikan dulu kemungkinan kecil akan membayar apalagi juga tidak enak sama guru-guru yang lain dikira cari laba" 102
Selain faktor keluarga, faktor sekolah dan masyarakat juga dapat menyebabkan kesulitan belajar siswa. Hal ini diungkapkan oleh bapak Thohir selaku guru PAI sebagai berikut:
" Sarana dan prasarana sekolah juga dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa misalnya buku paket yang KTSP untuk pegangan guru maupun siswa masih belum ada yang baru sehingga kita menggunakan kurikulum 1994 dan 2004. Nah setelah diteliti ternyata dalam kurikulum KTSP ini banyak yang dikurangi. Misalnya saja kelas IX ada bab tentang Nikah. Di KTSP ini dihapus karena tidak sesuai padahal anak sekarang ini cepat sekali dewasa. Di KTSP seakan-akan agama diminimalisir"103
.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa mayoritas siswa mengalami kesulitan belajar PAI tentang cara membaca dan menulis Al- Quran baik kelas VII, VIII dan IX. Mereka sulit mengenal huruf Arab.
Sedangkan kesulitan yang lain adalah pembiasaan dalam hal ibadah dan kurangnya sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah faktor keluarga dan latar belakang pendidikan yang 90 % adalah SD. Selain itu juga faktor sekolah mengenai ketidakjelasan kurikulum KTSP untuk pelajaran PAI dan tidak adanya