• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DALAM MENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DALAM MENG"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DALAM

MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH

MENENGAH PERTAMA (SMP)NEGERI 1 GONDANGLEGI

SKRIPSI

oleh: Yuyun Mufarohah

05110036

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(2)

KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

(SMP) NEGERI 1 GONDANGLEGI

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri(UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh gelar Strata Satu sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I)

Oleh: Yuyun Mufarohah

05110036

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DALAM

MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH

MENENGAH PERTAMA NEGERI (SMP) Negeri I

GONDANGLEGI

SKRIPSI

oleh:

Yuyun Mufarohah

05110036

Telah Disetujui Pada Tanggal 6 April 2009

Oleh Dosen Pembimbing:

Drs. H. Asmaun Sahlan, M.Ag

NIP. 150 215 372

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I

(4)

MOTTO

Artinya:

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia

dalam bentuk yang sebaik-baiknya"

(5)

PERSEMBAHAN

Teriring doa dan rasa syukur teramat dalam, ku persembahkan karya sederhana ini teruntuk:

Ayahanda dan ibunda tersayang, H. Rosyid & H Rosyidah pemerhati hidupku, jasamu kan selalu ku kenang, karena kasihmu sepanjang jalan, untaian doa selalu kau mohonkan untukku, pembimbingku tanpa rasa letih

dan lelah hingga aku mengerti makna hidup yang hakiki

Keluarga tercinta , Mbak Nur, Cak Inal, Ubed, Nafis dan Kamil, terima kasih atas semuanya, karena kalian adalah harta yang paling berharga

dalam hidupku

Mbahku tersayang (Mi nur), pakde, budeku,paklek & bulekku serta sepupuku semua, kalian adalah penyemangat hidupku tuk lanjutkan

langkah dalam kepastian

Masku Faisol Rohman Seseorang yang Insyaallah menjadi penuntun di sepanjang kehidupanku nanti yang selalu menjadi cahaya dalam hatiku

dan memberi motivasi dalam tiap langkahku

Sahabat-sahabatku, kamar H room ( Mbak Ririn, Mbak Halimah, Mbak Didik, Mbak Rina, Aim, Dwi, Mery, Choir, Arul, Sundus, Eva, Lailis, Ifa, Mega) dan keluarga besar MADIN Al-Hikmah, canda tawa kalian menjadi

variasi dan inspirasi hidup dalam menata diri menjadi insan yang berarti

Keluarga Besar PPP. Al- Hikmah Al- Fatimiyyah semangat kebersamaan dan pengorbanan untuk selalu berjuang selalu menjadi pelipur lara dalam

(6)

HALAMAN PENGESAHAN

KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

(SMP) NEGERI 1 GONDANGLEGI

SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh Yuyun Mufarohah (05110036)

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 13 April 2009 dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh

gelar strata satu Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I) Pada tanggal 13 April 2009

Panitia Ujian

Ketua Sidang Sekretaris Sidang

Drs. H. Asmaun Sahlan, M.Ag Drs. H. Bakhruddin Fanani

NIP. 150 215 372 NIP. 150 302 530

Penguji Utama Pembimbing

Dr. M. Zainuddin, MA Drs. H. Asmaun Sahlan, M.Ag

NIP. 150 275 502 NIP. 150 215 372

Mengesahkan,

Dekan fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony

(7)

Drs. H. Asmaun Sahlan, M.Ag Dosen Fakultas Tarbiyah

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Yuyun Mufarohah Malang, 6 April 2009 Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar

Kepada Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Di

Malang

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut dibawah ini :

Nama : Yuyun Mufarohah NIM : 05110036

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Di Sekolah Menengah Pertama(SMP) Negeri I Gondanglegi

Maka selaku dosen pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak untuk diujikan.

Demikian, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembimbing,

(8)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang, 6 April 2009

(9)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, tiada pujian dan sanjungan yang patut dihaturkan, selain kepada dzat yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul :

Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa

Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Gondanglegi

Sholawat serta salam senantiasa kami haturkan kepada junjungan kita, Nabi terpilih dan terkasih, penerima risalah suci, pembawa rahmat bagi penduduk bumi, beliau adalah Nabi Muhammad SAW pendobrak kedholiman, penumpas kekufuran laksana mentari mengusir kegelapan malam.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan sekaligus sebagai wujud dan partisipasi penulis dalam mengembangkan ilmu-ilmu yang telah penulis peroleh selama dibangku kuliah.

Skripsi ini disusun dengan bekal ilmu pengetahuan yang sangat terbatas dan amat jauh dari kesempurnaan. Sehingga tanpa bantuan, dorongan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak, maka kiranya sangat sulit bagi penulis untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa syukur, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

(10)

Keponakanku Tersayang Nafis dan Kamil yang memberi motivasi dan iringan doa dalam setiap langkahku.

2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

4. Bapak Drs. Moh. Padil, M.Pd.I. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

5. Drs. H Asmaun Sahlan, M.Ag, selaku dosen pembimbing, yang dengan kearifan dan ketulusan hati memberikan bimbingan, dorongan, arahan, serta saran-saran yang sangat berarti kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

6. Seluruh dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang khususnya dosen Fakultas Tarbiyah yang telah mendidik dan memberikan bimbingan selama penulis menempuh masa perkuliahan.

7. Drs. Edi Raharjo M.Si Selaku Kepala sekolah SMP Negeri I Gondanglegi yang telah memberi izin dan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian demi terselesaikannya skripsi ini

8. Segenap staf guru SMP Negeri I Gondanglegi , khususnya Drs Tohir dan Drs H. Ahsan Widodo selaku guru PAI yang telah membantu penulis memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi.

9. Dewan pengasuh PPP. Al-Hikmah Al-Fatimiyyah, Aba Yahya dan Bu Syafi' yang telah mendidik dan membimbing penulis selama di bangku kuliah

(11)

Sundus, Eva, Lailis, Ifa, Mega) dan teman-teman MADIN yang telah memberi motivasi dan semangat dalam hari-hariku.

11.Masku Faisol Rohman Seseorang yang Insyaallah menjadi penuntun di sepanjang kehidupanku nanti yang selalu menjadi cahaya dalam hatiku dan memberi motivasi dalam tiap langkahku

12.Sahabat-sahabatku (Mi2, Nita, Diana, Fitri, Ummu, Ulya), meskipun kita semua sudah mempunyai pendamping masing-masing, semangat kebersamaan akan selalu ada bersama kita.

13.Semua pihak yang turut membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Hanya ungkapan terima kasih yang dapat penulis ucapkan, semoga segala bantuan dan doa yang telah diberikan kepada penulis diterima sebagai amal kebaikan dan mendapatkan pahala yang setimpal.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran konstruktif dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi terwujudnya karya yang lebih baik di masa mendatang. Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.

Malang, 6 April 2009

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel I : Struktur Organisasi Komite Sekolah Tabel II : Susunan UPTD SMP Negeri 1 Gondanglegi Tabel III : Struktur Kurikulum

Tabel IV : Keadaan Sarana Prasarana Tabel V : Keadaan Guru PAI

(13)

DAFTAR BAGAN

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Denah SMP Negeri 1 Gondanglegi

Lampiran II : Data Guru dan Karyawan SMP Negeri 1 Gondanglegi Lampiran III : Keadaan Siswa

Lampiran IV : Pedoman Wawancara, Observasi dan dokumentasi Lampiran V : Kegiatan Ekstrakurikuler

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL...i

HALAMAN JUDUL...ii

HALAMAN PERSETUJUAN... iii

HALAMAN PENGESAHAN...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN...v

HALAMAN MOTTO...iv

HALAMAN NOTA DINAS...vii

HALAMAN PERNYATAAN...viii

KATA PENGANTAR...ix

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR BAGAN... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xiv

DAFTAR ISI...xv

ABSTRAK...xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Rumusan Masalah...5

(16)

D. Manfaat Penelitian...6

E. Ruang Lingkup Masalah...7

F. Definisi Operasional...7

G. Sistematika Pembahasan...8

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Kompetensi Pedagogik Guru PAI...11

1. Urgensi Kompetensi Pedagogik Guru PAI...11

2. Peran Kompetensi Pedagogik Guru PAI...37

3. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI...42

B. Kesulitan Belajar...46

1. Pengertian Kesulitan Belajar...46

2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kesulitan Belajar...49

3. Diagnosa Kesulitan Belajar...60

4. Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar...62

C. Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa...64

BAB III METODE PENELITIAN A.Pendekatan dan Jenis Penelitian...69

(17)

C.Lokasi Penelitian...70

D.Sumber Data...70

E.Prosedur Pengumpulan Data...73

F. Analisis Data...76

G.Pengecekan Keabsahan Data...78

H.Tahap-Tahap Penelitian...80

BAB IV HASIL PENELITIAN A.Deskripsi data...82

1. Sejarah Berdirinya ...82

2. Visi, Misi dan Tujuan ...84

3. Struktur Organisasi ...85

4. Struktur Kurikulum ...87

5. Sarana dan Prasarana ...90

6. Keadaan Guru dan karyawan ...92

7. Keadaan Siswa ...94

8. Keadaan Orang Tua Siswa ...95

9. Program Estrakurikuler ...97

(18)

C.Kesulitan Belajar PAI Siswa

di SMP Negeri 1 Gondanglegi...107

D.Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam

Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di

SMP Negeri1 Gondanglegi...111

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A.Kompetensi Pedagogik Guru PAI di

SMP Negeri 1 Gondanglegi...116

B.Kesulitan Belajar PAI Siswa di

SMP Negeri 1 Gondanglegi...124

C.Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam

Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di

SMP Negeri 1 Gondanglegi...128

BAB VI PENUTUP

A.Kesimpulan...133 B.Saran...135.

DAFTAR PUSTAKA

(19)

ABSTRAK

Mufarohah, Yuyun. 2009. Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Gondanglegi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Pembimbing: Drs. H. Asmaun Sahlan, M.Ag.

Kata Kunci: Kompetensi Pedagogik, Kesulitan Belajar.

Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima pelajaran. Oleh sebab itu, guru memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Apalagi jika siswanya mengalami kesulitan belajar.

Kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Kompetensi pedagogik guru PAI adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru PAI dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik sehingga dapat meningkatkan perkembangan jasmani dan rohani mencapai tingkat kedewasaan sehingga mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (sebagai

kholifah fil ardh dan 'abd) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana siswa tidak belajar sebagaimana mestinya dikarenakan adanya faktor-faktor penyebab kesulitan belajar. Adapun faktor tersebut ada dua yaitu faktor intern (dalam diri siswa sendiri) dan faktor ekstern (faktor diluar diri siswa)

Keberhasilan pendidikan tidak lepas dari kompetensi pedagogik guru dalam mengajar. Apalagi jika siswa tersebut mengalami kesulitan belajar dalam pembelajaran PAI karena tujuan PAI bukan hanya aspek koqnitif saja tetapi juga afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan nilai-nilai

Fokus masalah skripsi ini telah diarahkan kepada studi tentang Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Gondanglegi diantaranya: Kompetensi Pedagogik Guru PAI Di SMP Negeri 1 Gondanglegi, Kesulitan Belajar PAI Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi, Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan bentuk deskriptif (Pemaparan)

(20)

jawab dalam proses pembelajaran, mengadakan evaluasi dengan mengerjakan LKS dan ulangan harian sehingga siswa ingat dan faham terhadap materi yang telah diajarkan serta selalu memberi motivasi agar siswa mengikuti kegiatan ekstra yang bersifat keagamaan.

Kesulitan belajar Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi dalam pembelajaran PAI adalah membaca dan menulis Al-Qur'an, pembiasaan untuk ibadah dan masalah akhlak. Sedangkan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar tersebut ada dua yaitu faktor intern meliputi IQ yang rendah dan faktor ekstern meliputi lingkungan keluarga baik dari cara mendidik anak maupun ekonomi dan lingkungan sekolah yaitu ketidakjelasan KTSP dalam mata pelajaran PAI

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat penting di era sekarang ini, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) juga sangat pesat. Belum lagi pada tahun 2010 kita dihadapkan pada pasar bebas yang hanya memerlukan orang-orang pandai saja. Salah satu lembaga yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah lembaga pendidikan. Oleh sebab itu lembaga pendidikan dituntut untuk dapat segera mengentaskan bangsa ini dari kebodohan.

(22)

dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan1

Akhir-akhir ini dikembangkan corak pendidikan yang berorientasi kepada kompetensi anak didik (Student Oriented) sehingga siswalah yang menjadi unsur determinan pendidikan (Student Centered). Akan tetapi, tidak mengurangi arti dan peran guru dalam proses pendidikan. Guru tetap merupakan unsur dasar pendidikan yang sangat berpengaruh2. Guru adalah suatu predikat yang mulia. Apabila predikat tersebut benar-benar dimiliki atas dasar kesadaran yang tinggi3.

Setiap siswa berhak untuk mencapai kinerja akademik (Academic Performance) yang memuaskan. Akan tetapi, mereka memiliki banyak perbedaan antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Misalnya dalam kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar. Disini kemudian timbul apa yang disebut kesulitan belajar (Learning Difficulty). Kesulitan belajar bisa dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi, rata-rata (normal), terlebih siswa yang memiliki kemampuan rendah4.

Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar ada dua yaitu faktor intern yang meliputi hal-hal yang muncul dalam diri siswa sendiri (gangguan atau kekurangmampuan psiko fisik) dan faktor ekstern yang

1

.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, (Bandung: PT Citra Umbara, 2006), Hal. 70

2

Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, Membuka Jendela Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada, 2004), Hal. 218

3

Daryanto, Petunjuk Praktek Mengajar, (Bandung: PT Binakarya,1981), Hal. 1

4

Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

(23)

meliputi hal-hal yang datang dari luar diri siswa (semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa)5.

Salah satu faktor ekstern dari kesulitan belajar adalah lingkungan sekolah. Oleh karena itu guru sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran, sehingga perlu dikembangkan tenaga profesi yang bermartabat dan profesional. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah membuat UU tentang Guru dan Dosen dalam pasal 10 ayat I yang memuat tentang 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru.

Namun, dari keempat kompetensi tersebut, penguasaan kompetensi pedagogik harus lebih diprioritaskan. Sebab, mayoritas siswa dianggap sebuah wadah kosong yang harus diisi air (ilmu) oleh gurunya. Padahal, setiap manusia dilahirkan dengan dibekali potensi masing-masing yang berbeda dan sebenarnya tugas guru hanya mengarahkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa-siswanya.

Oleh karena itu, ketika guru memiliki kompetensi pedagogik, maka dia diharapkan mampu mengarahkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa-siswanya dan dengan mudah mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa. Karena dengan kompetensi tersebut, guru merasa memiliki peran dan tanggung jawab serta terdorong untuk berpartisipasi memecahkan masalah yang dihadapi oleh peserta didik.

5

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosda

(24)

Saat ini SMP Negeri 1 Gondanglegi baru saja menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN). Sehingga guru harus lebih profesional dalam penyelenggaraan pendidikan. SMP Negeri 1 Gondanglegi dikelola oleh kepala sekolah dengan pendidikan S2 dan guru yang berjumlah 42 orang yang berkualifikasi pendidikan 74 % S1, 1% S2 dan 24 % D3.

Adapun Siswa SMP Negeri 1 Gondanglegi ini mayoritas lulusan SD, sehingga tidak menutup kemungkinan pemahaman mereka tentang agama sangat minim apalagi jika di rumah kurang mendapat perhatian orang tua. Pada usia ini, mereka berada dalam keadaan transisi antara dunia anak-anak dan dewasa sehingga sering timbul goncangan dan gejolak dalam dirinya6.

Salah satu kesulitan belajar PAI siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi ini adalah baca tulis Al-Qur'an ataupun masalah akhlak. Hal ini dapat diamati ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan oleh guru PAI ataupun di luar sekolah. Pendidikan guru PAI di sekolah ini adalah S1 dan S2. Berdasarkan latar belakang pendidikan tersebut, mereka dapat dikatakan memiliki kompetensi.

Oleh karena itu, guru PAI harus memiliki kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan

(25)

berbagai kompetensi yang dimiliki sehingga bisa meminimalisir kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

Dari uraian diatas, peneliti ingin mengetahui bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam mengajar sebagai tokoh sentral di lingkungan pendidikan. Sehingga peneliti merumuskan penelitian ini dengan judul " Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Gondanglegi "

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini dirumuskan beberapa masalah antara lain:

1. Bagaimana Kompetensi Pedagogik Guru PAI Di SMP Negeri 1 Gondanglegi?

2. Bagaimana Kesulitan Belajar PAI Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi?

3. Bagaimana Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Di SMP Negeri 1 Gondanglegi?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah:

(26)

2. Mengetahui Kesulitan Belajar PAI Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi

3. Mendiskripsikan Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Di SMP Negeri 1 Gondanglegi D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar siswa.

1. Bagi Lembaga

Memberikan pengetahuan tentang kompetensi pedagogik guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar siswa sehingga diharapkan mampu menjadi guru yang berdedikasi tinggi yaitu seorang guru yang didambakan oleh siswa dan masyarakat umumnya.

2. Bagi Sekolah

Dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk lebih meningkatkan kompetensi pedagogik seorang guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa sehingga dapat menambah moral kerja dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar.

3. Bagi Peneliti

(27)

E. Ruang Lingkup Masalah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami hasil penelitian, maka peneliti menjelaskan batasan penelitiannya yaitu:

Penelitian pertama tentang kompetensi pedagogik guru PAI dalam mengajar di SMP Negeri 1 Gondanglegi, Meliputi: kompetensi pedagogik guru PAI di SMP Negeri 1 Gondanglegi, proses belajar-mengajar yang dilakukan di kelas dan upaya peningkatan kompetensi pedagogik Guru PAI

Penelitian kedua tentang kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pelajaran PAI meliputi: karakteristik siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar

Penelitian ketiga tentang kompetensi pedagogik guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi meliputi usaha-usaha yang dilakukan dalam mengatasi kesulitan belajar siswa tersebut terkait dengan tingkatan akademis yang ditempuh.

F. Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya persepsi lain mengenai istilah-istilah yang ada. Sehingga perlu adanya penjelasan mengenai definisi istilah tersebut diantaranya adalah:

(28)

kurikulum/silabus, Perancangan pembelajaran, Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan diologis, Pemanfaatan teknologi Pembelajaran, Evaluasi hasil belajar (EHB), Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki7

2. Pendidikan Agama Islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu dilandasi oleh nilai-nilai islami dalam kehidupan pribadinya dan masyarakat serta alam sekitar melalui proses kependidikan8

3. Kesulitan Belajar adalah suatu keadaan dimana siswa tidak belajar sebagaimana mestinya dikarenakan adanya faktor-faktor penyebab kesulitan belajar tersebut9

G. Sistematika Pembahasan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang pembahasan ini, maka secara global dapat dilihat dalam sistematika pembahasan dibawah ini

1. Bab I merupakan Pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup masalah, definisi operasional, dan sistematika pembahasan

2. Bab II merupakan Kajian Pustaka yang menjelaskan tentang (a Konsep Kompetensi Pedagogik Guru meliputi: Urgensi kompetensi pedagogik guru PAI, Peran kompetensi pedagogik guru PAI dan Upaya

E. Mulyasa, Standar Kompetensi Dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya,

2007), Hal.75

8

Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

2006), Hal. 25

9

(29)

Peningkatan kompetensi pedagogik guru PAI, (b Kesulitan belajar meliputi: Pengertian kesulitan belajar, Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, Diagnosa kesulitan belajar dan Alternatif pemecahan kesulitan belajar, (c Kompetensi pedagogik guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar siswa

3. Bab III merupakan metodologi penelitian yang menjelaskan tentang metode yang digunakan oleh peneliti meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

4. Bab 1V merupakan hasil penelitian yang memaparkan tentang;

(30)

5. Bab V merupakan pembahasan hasil penelitian yang menjelaskan tentang penyajian data yang diambil dari realita objek berdasarkan hasil penelitian meliputi: Kompetensi pedagogik guru PAI Di SMP Negeri 1 Gondanglegi, Kesulitan Belajar PAI Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi, Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di SMP Negeri 1 Gondanglegi

(31)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Kompetensi Pedagogik Guru PAI

1. Urgensi Kompetensi Pedagogik Guru PAI

Guru memiliki pengaruh luas dalam dunia pendidikan. Di sekolah ia adalah pelaksana administrasi pendidikan yaitu bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar. Kompetensi

pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Kompetensi-kompetensi yang lainnya adalah kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.

Sebagaimana diterangkan dalam UU RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam pasal 10 ayat I menegaskan bahwa" Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi, keempat kompetensi ini saling berkaitan10

Istilah kompetensi memiliki banyak makna, ada beberapa definisi tentang pengetian kompetensi yaitu:

a) Dalam kamus Ilmiah Populer dikemukakan bahwa:

10

(32)

Kompetensi adalah kecakapan, kewenangan, kekuasaan dan kemampuan11

b) Menurut R.M. Guion dalam Spencer and Spencer mendefinisikan bahwa:

Kompetensi adalah kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan yang bisa dilihat dari pikiran, sikap dan perilakunya12.

c) Menurut Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan menjelaskan bahwa: Kompetensi adalah kemampuan yang merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti13.

d) Menurut Broke and Stone (1995) mengemukakan bahwa kompetensi guru sebagai

" Descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningful"

Pengertian tersebut dapat diartikan bahwasannya kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif tentang hakikat perilaku guru yang penuh arti.

e) Dalam UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen berpendapat bahwa:

11

Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: PT Arkola,1994),

Hal. 353

12

Hamzah B.Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara,

2006), Hal.129

13

Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar,

(33)

Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan

Dari uraian diatas Nampak bahwa kompetensi mengacu pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan. Kompetensi guru menunjuk kepada performance dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Dikatakan rasional karena mempunyai arah dan tujuan, sedangkan performance adalah perilaku nyata dalam arti tidak hanya diamati tetapi mencakup sesuatu yang tidak kasat mata14

Pedagogik adalah teori mendidik yang mempersoalkan apa dan bagaimana mendidik itu sebaik-baiknya15. Sedangkan Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu ilmu menuntun anak yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi peserta didik16. Oleh sebab itu pedagogik dipandang sebagai

14

E. Mulyasa, Op. Cit, Hal. 25

15

Edi Suardi, Pedagogik, (Bandung: Angkasa OFFSET, 1979), Hal. 113

16

Robiah, Pengertian dan Unsur Pendidikan, (http://robiah.blogmalhikdua.com. Diakses pada

(34)

suatu proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah laku manusia mengalami perubahan17.

Adapun pengertian kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik18. Lebih lanjut dalam RPP tentang guru dikemukakan bahwa : kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik . sekurang-kurangnya meliputi:

1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan 2) Pemahaman peserta didik

3) Pengembangan kurikulum/silabus 4) Perancangan pembelajaran

5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis 6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran

7) Evaluasi hasil belajar (EHB)

8) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki

Sedangkan pengertian guru dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang pekerjaannya mengajar19. Sedangkan dalam pasal I ayat I dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak

17

Dewi Gusti, Kompetensi Pedagogik, (http://dewigusti.blogspot.com. Diakses pada tanggal 6

Maret 2009)

18

E. Mulyasa, Op. Cit, Hal. 75

19

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka,

(35)

usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dalam perspektif Islam pendidik adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, koqnitif maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam20

Menurut Samsul Nizar dalam buku Filsafat Pendidikan Islam dijelaskan bahwa pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya baik (sebagai kholifah fil ardh dan 'abd) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam21

Perlu diketahui bahwasannya pendidikan agama Islam sendiri adalah usaha sadar yang meliputi bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar akan tujuan yang dicapai yaitu meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara22

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya,

2004), Hal. 74-75

Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Hal. 42

(36)

Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru PAI adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru PAI dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik sehingga dapat meningkatkan perkembangan jasmani dan rohani mencapai tingkat kedewasaan sehingga mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (sebagai kholifah fil ardh dan 'abd) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Kompetensi pedagogik perlu mendapatkan perhatian yang serius. Hal ini penting, dikarenakan pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat. Oleh sebab itu guru harus memiliki kompetensi pedagogik sehingga mampu mengelola pembelajaran dan mengubah paradigma yang ada di masyarakat tersebut.

Secara operasional, kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial yaitu;

a) Perencanaan

(37)

sumber, baik sumber daya, sumber dana maupun sumber belajar untuk membentuk kompetensi dasar dan mencapai tujuan pembelajaran.

b) Pelaksanaan atau Implementasi

Merupakan proses belajar mengajar dengan sumber daya manusia dan sarana prasarana yang diperlukan, sehingga dapat membentuk kompetensi dan mencapai tujuan yang diinginkan. Pengorganisasian dan kepemimpinan merupakan bagian dari fungsi pelaksanaan. Misalnya pembagian pekerjaan bagi guru dan mempengaruhi pihak lain dalam upaya mencapai tujuan

c) Pengendalian atau Evaluasi

Hal ini bertujuan untuk menjamin kinerja yang dicapai sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditetapkan. Guru sebagai manajer pembelajaran harus mengambil langkah-langkah atau tindakan perbaikan apabila ada kesenjangan antara proses pembelajaran di kelas dengan yang telah direncanakan23.

Adapun kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru khususnya guru PAI, meliputi:

A. Pemahaman Terhadap Peserta Didik

Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru. Sedikitnya

23

(38)

ada empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu:

1. Tingkat Kecerdasan

Pada tahun 1905, Alfred Binet mengembangkan tes intelegensi dan berhasil menemukan cara untuk menentukan usia mental seseorang. Anak cerdas memiliki usia mental lebih tinggi dari usianya dan mampu mengerjakan tugas-tugas untuk anak yang usianya lebih tinggi. Tingkat kecerdasan adalah usia mental dibagi usia kronologis dikalikan dengan 100. Pada tahun 1938, Thurstone juga berhasil mengembangkan tes kemampuan dasar (Primary Mental Abilities Test) yang meliputi:

a) Pemahaman kata (Verbal Comprehendion) yaitu kemampuan untuk memahami ide-ide yang diekspresikan dengan kata-kata

b) Bilangan (Number), yaitu kemampuan untuk menalar dan memanipulasi secara sistematis

c) Ruang (Spatial) yaitu kemampuan untuk memvisualisasikan objek-objek dalam bentuk ruang

d) Penalaran (Reasoning) yaitu kemampuan memecahkan masalah

(39)

Kecerdasan seseorang terdiri dari beberapa tingkat yaitu : golongan terendah adalah mereka yang IQ-nya antara 0-50. Di antara mereka (0-20 atau 25) tergolong tak dapat didik atau dilatih. Mereka hanya mampu belajar selama dua tahun lebih . Adapun mereka yang memiliki IQ antara 25-50 bisa dididik untuk mengurus kegiatan rutin yang sederhana atau untuk mengurus kebutuhan jasmaninya. Dua golongan tersebut disebut dengan keterbatasan mental, cacat mental atau disebut dengan idiot.

Golongan kedua adalah mereka yang ber-IQ antara 50-70 yang dikenal dengan golongan moron yaitu keterbatasan mental. Mereka dapat dididik, dapat belajar membaca, menulis, berhitung sederhana dan dapat mengembangkan kecakapan bekerja secara terbatas. Untuk melayani mereka diperlukan latihan khusus.

(40)

Sedangkan yang ber IQ 140 ke atas disebut genius, mereka mampu belajar jauh lebih cepat dari golongan lainnya.

Dalam keadaan seperti itu, layanan terhadap perbedaan peserta didik dapat dilakukan dengan program akselerasi, belajar dalam kelompok, kenaikan kelas yang melompat, dan program tanpa kelas dalam sistem kredit24.

2. Kreativitas

Setiap orang memiliki perbedaan dalam kreativitas baik inter maupun intra individu. Orang yang mampu menciptakan sesuatu yang baru disebut dengan orang kreatif. David Campbell menekankan bahwa kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan hasil yang bersifat baru, inovatif, belum ada sebelumnya, menarik, aneh dan berguna bagi masyarakat25

Kreativitas banyak berhubungan dengan intelegensi dan kepribadian. Seseorang yang kreatif pada umumnya memiliki intelegensi yang cukup tinggi dan suka hal-hal yang baru. Sedangkan seseorang yang tingkat intelegensinya rendah, maka kreativitasnya kurang dan suka hal-hal yang biasa. Dalam hal kepribadian orang yang kreatif memiliki ciri-ciri tertentu antara lain: mandiri, bertanggung jawab, bekerja keras, motivasi tinggi, terbuka, kaya akan pemikiran dan lain-lain.

Ibid, Hal. 80-83

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja

(41)

Menurut Gibbs, kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri dan pengawasan yang tidak terlalu ketat. Proses pembelajaran pada hakikatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik melalui interaksi dan pengalaman belajar.

Kreativitas juga dapat dikembangkan dengan penciptaan proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu menciptakan kondisi yang baik seperti, teknik kerja kelompok kecil, penugasan dan mensponsori pelaksanaan proyek. Anak yang kreatif belum tentu pandai begitu juga sebaliknya.

3. Cacat Fisik

Kondisi fisik berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, kemampuan berbicara, pincang (kaki), lumpah karena kerusakan otak. Guru harus memberikan layanan yang berbeda terhadap peserta didik yang memiliki kelainan seperti diatas dalam rangka membantu perkembangan pribadi mereka. Misalnya dalam hal jenis media yang digunakan, membantu dan mengatur posisi duduk dan lain sebagainya.

4. Perkembangan Koqnitif

(42)

perkembangan berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi karakteristik manusia. Perubahan tersebut terjadi dalam kemajuan yang mantap dan merupakan proses kematangan. Perubahan ini merupakan hasil interaksi dari potensi bawaan dan lingkungan.

Menurut teori Piaget, proses kematangan merupakan kontinuitas berdasarkan pertumbuhan sebelumnya. Meskipun tahap-tahap tersebut dibatasi dalam suatu periode, semuanya bisa tumpang tindih dan tidak terikat oleh usia. Teori ini sesuai dengan tugas guru dalam memahami peserta didik tentang perkembangan intelektual dan koqnitifnya. Sehingga lahirlah kesiapan belajar (readiness), yaitu suatu kemampuan untuk berformasi dalam melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi. Ada tiga unsur yang mempengaruhi kesiapan yaitu:

a) Kesiapan fisik antara lain urat-urat saraf dan otot b) Kejiwaan antara lain bebas dari konflik emosional

c) Pengalaman yang berhubungan dengan ketrampilan-ketrampilan yang dipelajari sebelumnya.

(43)

B. Perancangan Pembelajaran

Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogis yang harus dimiliki guru yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan26 hal ini mencakup tiga kegiatan yaitu:

1. Identifikasi Kebutuhan

Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan. Identifikasi kebutuhan bertujuan untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar dirasakan sebagai bagian dari kehidupan mereka dan mereka merasa memilikinya. Hal ini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

a) Peserta didik didorong untuk menyatakan kebutuhan belajar berupa kompetensi tertentu yang ingin mereka miliki dan diperoleh melalui kegiatan pembelajaran.

b) Peserta didik didorong untuk mengenali dan mendayagunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan belajar

c) Peserta didik dibantu untuk mengenal dan menyatakan kemungkinan adanya hambatan dalam upaya memenuhi

(44)

kebutuhan belajar, baik yang datang dari dalam (Internal) maupun dari luar (Eksternal)

Ketiga hal tersebut dapat dilakukan secara perorangan, misalnya mengekspresikan pendapat masing-masing secara langsung dan guru membantu mereka menyusun kebutuhan belajar dan hambatan-hambatannya. Atau secara kelompok dengan mendiskusikan kebutuhan belajar sehingga menjadi kesepakatan kelompok. Dengan adanya identifikasi kebutuhan belajar ini, maka dapat diidentifikasi pula sejumlah kompetensi untuk dijadikan bahan pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran PAI yang terkait dengan nilai-nilai (Value Bound). 2. Identifikasi Kompetensi

Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik dan berperan penting dalam menentukan arah pembelajaran. Kompetensi akan memberikan petunjuk yang jelas terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metode dan media pembelajaran serta penilaian.

(45)

dan hidup bermasyarakat khususnya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Peserta didik perlu mengetahui tujuan belajar dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, yang dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan serta memiliki kontribusi terhadap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajari. Sehingga dalam pembelajaran yang dirancang berdasarkan kompetensi, penilaian dilakukan berdasarkan pertimbangan yang objektif

3. Penyusunan Program Pembelajaran

(46)

C. Pelaksanaan Pembelajaran Yang Mendidik Dan Dialogis

Dalam rencana peraturan pemerintah tentang guru dijelaskan bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Hal ini berarti bahwa, pelaksanaan pembelajaran harus berangkat dari proses dialogis antar sesama subjek pembelajaran sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikasi.

Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhi, baik internal maupun eksternal

Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik. Adapun pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal yaitu:

1) Pre Tes (Tes Awal)

Pelaksanaan pembelajaran biasanya dimulai dengan pre tes untuk menjajaki proses pembelajaran. Adapun Fungsi dilaksanakannya Pre Tes adalah:

a) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar

(47)

c) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik

2) Proses

Proses adalah kegiatan inti dari pelaksanaan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik. Sehingga memerlukan aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif.

Kualitas pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik dapat dilihat dari proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruh atau sebagian besar (75 %) dari peserta didik terlibat aktif baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Disamping menunjukkan motivasi belajar yang tinggi dan tumbuhnya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, dapat dilihat apabila terjadi perubahan kompetensi dan perilaku positif pada diri peserta didik.

(48)

problem solving dan lain sebagainya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah maqolah:

Artinya: Metode pembelajaran lebih penting dari pada materi belajar

Maksud dari maqolah diatas adalah cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh peserta didik walaupun sebenarnya materi yang disampaikan tidak terlalu menarik27. Oleh karena itu, metode dan strategi tersebut diharapkan dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat apabila mereka telah menyelesaikan suatu program pendidikan.

3) Post Tes

Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan Post Tes. Fungsi diadakannya post tes adalah:

a) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan. Dengan cara membandingkan hasil pre tes dan post tes

b) Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan pembelajaran kembali (remedial), kegiatan pengayaan serta untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar.

(49)

c) Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik yang telah dilaksanakan baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.

D. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran

Abad 21 merupakan abad pengetahuan, informasi dan teknologi sehingga disebut juga era globalisasi. Dalam abad ini terjadi persaingan hidup yang sangat ketat. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran terutama internet (E-Learning), agar dia mampu memanfaatkan berbagai pengetahuan, teknologi dan informasi dalam melaksanakan tugas utamanya yaitu mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik.

E-learning bukan hanya singkatan electronic, tetapi juga

experience (pengalaman), extended (perpanjangan), dan expanded

(perluasan). Kata electronic, bermakna bahwa dalam E-Learning

terdapat penambahan unsur teknologi dalam proses belajar. Kata

experience bermakna bahwa dengan E-Learning terbuka kesempatan yang sangat luas dan bervariasi untuk belajar, disesuaikan dengan waktu, tempat, bahan, cara maupun lingkungan.

(50)

program-program tertentu, belajar di sekolah atau pelatihan dalam dinas tetapi merupakan proses berkelanjutan sepanjang hayat. Sedangkan kata expanded bermakna bahwa dengan E-Learning kesempatan belajar terbuka bagi setiap orang. Bahan dan topik yang dipelajari juga sangat luas dan kegiatan belajar tidak terhambat oleh dana28.

Fasilitas pendidikan pada umumnya mencakup sumber belajar, sarana dan prasarana penunjang lainnya. Perkembangan sumber-sumber belajar ini memungkinkan peserta didik belajar tanpa batas, tidak hanya diruang kelas. Sehingga peningkatan terhadap fasilitas laboratorium, perpustakaan atau ruang-ruang belajar khusus seperti ruang komputer, sanggar seni, ruang audio dan video harus diperhatikan, karena hal tersebut dapat memberikan informasi tentang berbagai hal yang diperlukan oleh peserta didik dan pendidik sendiri29

Teknologi pembelajaran merupakan sarana pendukung untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan penyajian data, informasi, materi pembelajaran dan variasi budaya. Oleh karena itu, memasuki abad 21, sumber belajar dengan mudah dapat diakses melalui teknologi informasi, khususnya internet yang didukung oleh komputer.30

Nana Syaodih Sukmadinata, Op.Cit, Hal. 206

29

Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar &Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara,

2005), Hal. 62

30

(51)

Perubahan prinsip belajar berbasis komputer memberikan dampak pada profesionalisme guru, sehingga harus menambah pemahaman dan kompetensi baru untuk menfasilitasi pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisir, menganalisis dan memilih informasi yang paling tepat berkaitan dengan pembentukan kompetensi dan tujuan pembelajaran.

E. Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi atau penilaian memegang peranan penting dalam segala bentuk pengajaran yang efektif. Berhasil tidaknya suatu pendidikan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dari evaluasi terhadap out put yang dihasilkan. Sebagaimana dalam firman Allah:

!!!! """" ####

$

$

$

$%%%% &&&&

''''

(((())))****

++++,,,,

(52)

Ayat diatas menerangkan pengevaluasian terhadap nabi Adam tentang asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya dihadapan malaikat31. Hal ini merupakan evaluasi untuk mengetahui daya kognisi, hafalan manusia dan pelajaran yang sudah diberikan. Disamping itu, evaluasi juga untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1) Penilaian Kelas

Penilaian kelas dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik, memperbaiki proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik serta menentukan kenaikan kelas. Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum dan ujian akhir.

Ulangan harian dilakukan setiap selesai pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan harian terdiri dari seperangkat soal dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester. Ulangan ini ditujukan untuk memperbaiki program pembelajaran.

Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester, dengan bahan yang diujikan sebagai berikut ini:

31

(53)

a. Ulangan umum semester pertama diambil dari materi semester pertama.

b. Ulangan umum semester kedua merupakan gabungan dari semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua.

Ulangan umum dilaksanakan secara bersama baik tingkat rayon, kecamatan, kodya atau kabupaten maupun provinsi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan dan menjaga keakuratan soal-soal yang diujikan.

Adapun ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh materi pembelajaran yang telah diberikan dengan penekanan pada bahan-bahan yang diberikan pada kelas-kelas tinggi. Hasil ujian akhir ini terutama digunakan untuk menentukan kelulusan bagi setiap peserta didik dan layak tidaknya melanjutkan pendidikan pada tingkat diatasnya.

2) Tes Kemampuan Dasar

Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes ini dilakukan pada setiap tahun akhir kelas III

(54)

3) Penilaian Akhir Satuan Pendidikan Dan Sertifikasi

Penilaian ini dilakukan setiap akhir semester dan tahun pelajaran untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu dan juga untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar

4) Benchmarking

Merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai keunggulan yang memuaskan. Keunggulan ini dapat ditentukan ditingkat sekolah, daerah atau nasional. Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian Benchmarking dapat diadakan penilaian secara nasional yang dilakukan pada akhir satuan pendidikan. Hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memberi peringkat kelas dan merupakan salah satu dasar pembinaan guru dan kinerja sekolah

5) Penilaian Program

(55)

pendidikan nasional serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman.

Dengan adanya evaluasi seorang pendidik dapat memperbaiki dan merevisi bahan atau metode pengajaran yang digunakan serta menyesuaikan bahan dengan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga tujuan yang diinginkan tercapai32 F. Pengembangan Peserta Didik

Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara antara lain:

1. Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan ini sering disebut dengan eskul yang merupakan kegiatan yang dilakukan di luar kelas dan di luar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh peserta didik33. Bentuk-bentuk Kegiatan estra kurikuler ini banyak ragamnya di antaranya adalah paduan suara, paskibra, pramuka, olah raga, kesenian, panjat tebing, pencinta alam. Ada juga kegiatan estra kurikuler keagamaan misalnya tilawah dan tahsin Al-Qur'an, peringatan hari-hari besar Islam (PHBI), pesantren kilat dan lain sebagainya. Masih banyak juga kegiatan yang dikembangkan oleh setiap lembaga pendidikan sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungan masing-masing.

32

Nasution, Op. Cit, Hal. 78

33

Departemen Agama Republik Indonesia, Panduan Kegiatan Ekstra Kurikuler Pendidikan Agama

(56)

Kegiatan ini juga dapat membentuk watak dan kepribadian peserta didik, dapat mengurangi kenakalan remaja dan perkelahian pelajar, karena mereka dapat mengenal satu sama lain tidak di sekolah saja tetapi juga lintas sekolah.

2. Pengayaan dan Remedial

Program ini merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian. Berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan belajar, tugas-tugas, hasil tes dan ulangan dapat diperoleh tingkat kemampuan belajar setiap peserta didik.

Hal ini juga digunakan sebagai bahan tindak lanjut proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, mengidentifikasi materi yang perlu diulang, peserta didik yang wajib mengikuti remedial dan yang wajib mengikuti program pengayaan.

Sekolah perlu memberikan perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan remedial. Sedangkan peserta didik yang cenerlang diberikan kesempatan untuk mempertahankan kecepatan belajarnya melalui program pengayaan.

3. Bimbingan dan Konseling (BK)

(57)

diperbolehkan menjadi guru pembimbing. Oleh karena itu, guru mata pelajaran harus senantiasa berdiskusi dan berkoordinasi dengan guru bimbingan dan konseling secara rutin dan berkesinambungan34

2. Peran Kompetensi Pedagogik Guru PAI dalam mengajar

Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru.

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 28, dikemukakan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk memenuhi tuntutan diatas, salah satunya adalah guru harus memiliki kompetensi pedagogik. Dimana, dengan kompetensi tersebut dia mampu memaknai pembelajaran dan menjadikannya sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada sembilan tujuan dikeluarkannya UU No. 14 tahun 2005 ini, yang dijelaskan dalam bagian penjelasannya, di

34

(58)

antaranya: meningkatkan martabat guru, meningkatkan kompetensi guru, dan meningkatkan mutu pembelajaran35.

Berdasarkan UU tersebut dan kenyataan di lapangan tampak bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan sehingga pada akhirnya berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Peran kompetensi pedagogik Guru PAI dalam mengajar adalah sebagai pengelola proses belajar mengajar PAI, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan tidak membosankan apalagi pendidikan agama Islam (PAI) kurang mendapat perhatian dalam pemikiran peserta didik, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan PAI yang harus mereka capai yaitu meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara36.

Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Untuk itu, guru harus mampu mengelola proses belajar mengajar yang 35

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Op. Cit, Hal 52

36

(59)

memberikan rangsangan kepada peserta didik sehingga ia mau belajar karena memang peserta didiklah subjek utama dalam belajar. Guru yang mampu melaksanakan perannya sesuai dengan tuntutan seperti yang disebutkan di atas disebut sebagai seorang guru yang memiliki kompetensi pedagogik37

Oleh sebab itu peran kompetensi pedagogik guru dalam proses pendidikan yang berkualitas tidaklah ringan. Apalagi dalam konteks pendidikan Islam, dimana semua aspek pendidikan Islam terkait dengan nilai-nilai (Value Bound), yang melihat guru bukan hanya pada penguasaan materi tetapi juga pada investasi nilai-nilai moral dan spiritual38.

Guru agama dihadapkan pada keragaman pengetahuan, pengamalan dan persepsi keagamaan peserta didik serta lingkungan sekolah sehingga dalam mengajar harus benar-benar mampu mengelola proses belajar mengajar. Secara khusus, tugas guru ada tiga macam.

Pertama, sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun, dan penilaian setelah program itu dilaksanakan. Kedua, sebagai pendidik (educator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insan kamil, seiring dengan tujuan Allah menciptakan manusia. Ketiga, sebagai pemimpin (managerial), yang memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan 37

Zeni Haryanto, Menyikapi Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Rangka Menciptakan Guru

Profesional, (Http://Zeniharyanto.Blogspot.Com.Diakses pada tanggal 17 Maret 2009)

38

(60)

masyarakat yang terkait. Tugas ketiga ini menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas program yang dilakukan itu39

Menurut Imam Ghozali tugas seorang guru adalah: kasih sayang terhadap peserta didik sebagaimana anaknya sendiri, meneladani Rosulullah tanpa mengharap upah, tidak memberi penghargaan atau predikat sebelum peserta didik kompeten untuk menyandangnya dan jangan memberi ilmu yang samar sebelum tuntas ilmu yang jelas, menyajikan pelajaran sesuai dengan taraf kemampuan mereka, dalam menghadapi peserta didik yang kurang mampu, hendaknya diberi ilmu-ilmu yang global dan tidak perlu menjelaskan secara detail40.

Perlu juga dipahami bahwa pendidik dalam pendidikan Islam memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik ini tentunya membedakan pendidik dalam perspektif pendidikan Islam dengan pandangan pendidikan non-Islam lainnya. Al-Abrasy mengemukakan karakteristik pendidik yaitu;

a) Seorang pendidik bersifat zuhud, artinya melaksanakan tugasnya bukan karena materi, melainkan untuk mencari keridhaan Allah. b) Seorang pendidik harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan

kesalahan, bersih jiwanya, terhindar dari dosa, sifat riya' dan dengki, permusuhan, dan sifat-sifat tercela lainnya.

39

Samsul Nizar, Op. Cit, Hal 44

40

(61)

c) Seorang pendidik harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan memiliki sifat-sifat terpuji lainnya, seperti rendah hati, jujur, lemah lembut, dan sebagainya.

d) Seorang pendidik suka memaafkan orang lain, terutama kesalahan peserta didiknya. Lalu ia juga sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, sabar dan mempunyai harga diri.

e) Seorang pendidik harus mencintai peserta didiknya seperti terhadap anak-anaknya sendiri. Seorang pendidik harus mengetahui karakter/tabiat peserta didiknya.

f) Seorang pendidik mesti menguasai pelajaran yang ia berikan41. Dari penjelasan tugas dan karakteristik pendidik di atas, sudah menunjukkan tentang beberapa komponen kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru. Apabila guru sudah memenuhi hal tersebut diatas, maka ia akan berperan penting dalam proses pembelajaran. Adapun ciri-ciri Guru PAI yang memiliki kompetensi pedagogik diantaranya adalah:

1. Memiliki wawasan keilmuan yang luas sehinga materi PAI dapat ditinjau dari berbagai disiplin keilmuan yang lain.

2. Memahami psikologi anak didik sehingga belajar PAI di sekolah bagi anak didik bukan saja belajar tentang yang boleh dan tidak boleh, tetapi mereka belajar adanya pilihan nilai yang sesuai dengan perkembangan mereka

41

Samsul Ulum Dan Triyo Supriyatno, Tarbiyah Qur'aniyyah, (Malang: PT UIN-Malang Press,

(62)

3. Guru dalam mentransfer nilai tidak hanya diberikan dalam bentuk ceramah, tetapi juga terkadang dalam bentuk membaca puisi, bernyanyi, mendongeng dan bentuk lainnya, sehingga suasana belajar tidak monoton dan terasa menyenangkan.

4. Guru tidak hanya menyampaikan istilah-istilah Arab kepada anak didik atau memiliki kemampuan bahasa Arab, tetapi juga diperlukan kemampuannya dalam bahasa Inggris, sehingga kesan guru sebagai kaum yang dimarginalisasi dan hanya bisa menyampaikan ini halal dan ini haram berkurang.

5. Guru PAI hendaknya mengikuti perkembangan metode pembelajaran mutakhir yaitu menggunakan media teknologi informasi dalam pembelajarannya sehingga pembelajaran yang efisien dapat dicapai42.

3. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI

Istilah Upaya peningkatan adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu upaya dan meningkatkan. Upaya bermakna suatu usaha, sedangkan meningkatkan berasal dari kata tingkat yang mendapat imbuhan me- dan akhiran –an yang berarti usaha untuk menjadikan lebih baik43

Seseorang yang telah menjadi seorang guru hendaklah tidak berhenti belajar begitu saja. Tetapi, dia harus tetap berusaha meningkatkan kompetensi yang telah dimiliki khususnya kompetensi 42

Hasbi Indra, Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Implementasi Kurikulum standar

Nasional (HTTP://AKSAY.MULTIPLY.COM. Diakses pada tanggal 14 maret 2009) 43

(63)

pedagogik sehingga benar-benar dikuasai dan dapat diterapkan di lapangan.

Untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa penguasaan terhadap materi perkembangan peserta didik, teori-teori belajar, pengembangan kurikulum, teknik evaluasi, penguasaan terhadap model-model dan metode pengajaran adalah perlu. di samping penguasaan terhadap mata pelajaran dan Iptek yang berkaitan dengan pengajaran.

Dengan kesadaran bahwa kompetensi ini belum dikuasai secara maksimal, maka hendaklah guru berinisiatif untuk terus menerus mencari informasi tentang hal-hal yang disebutkan di atas, serta memperbaharui dirinya melalui penyegaran dengan mengikuti berbagai forum ilmiah. Ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti oleh guru PAI dalam meningkatkan kompetensi pedagogik, diantaranya adalah :

a. Kelompok Kerja Guru (KKG)

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah salah satu wadah guru Sekolah Dasar dalam mengembangkan kompetensinya melalui kerjasama, diskusi, sharing pengalaman dalam mempersiapkan pembelajaran dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas. Tujuan utama KKG adalah pada aspek kualitas pembelajaran.

(64)

masalah-masalah yang dihadapi seorang guru ketika di kelas, pengelolaan percobaan kelas, penggunaan peralatan IPA, cara menggali apersepsi, cara memberi motivasi, mengambil kesimpulan dari data percobaan, menyusun rencana pembelajaran sampai pembelajaran sebaya (peer teaching) dibahas bersama oleh guru dan narasumber (misalnya kepala sekolah dan/atau pengawas). Slogan yang dianut adalah: ”maju bersama dalam gugus”.44

b. Kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

Kegiatan MGMP merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam rangka menyikapi kurangnya penguasaan terhadap kompetensi pedagogik. MGMP tidak hanya sekedar lembaga musyawarah, tetapi dapat dijadikan forum ilmiah sesama guru atau nara sumber serta dapat pula dijadikan lembaga supervisi teman sejawat. MGMP hampir sama dengan KKG, hanya saja kalau KKG untuk sekolah dasar sedangkan MGMP untuk sekolah lanjutan.

c. Lembaga In-service dan Kompetensi Pedagogik Guru

Lembaga in-Service Training Guru adalah lembaga user guru, dalam hal ini dapat berupa Pemda yang diwakili Dinas Pendidikan, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) serta

Jusman Mansyur, KKG Butuh Penguatan sebagai Wadah Pengembangan Kompetensi Guru

Gambar

TABEL 4.1
TABEL 4. 2
TABEL 4. 3
TABEL 4.4
+5

Referensi

Dokumen terkait

Mampu mempraktikkan cara-cara mengatasi kesulitan belajar peserta didik dalam mengelola pembelajaran

Kompetensi pedagogik guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam melaksanakan pembelajaran di SMAN 1 Calang, Aceh Jaya secara keseluruhan sudah menerapkan kompetensi

Faktor yang menghambat upaya guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar diantaranya adalah kurangnya perhatian dari orang tua dalam hal membaca Al Quran dan

Dari rangkaian penjelasan tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru-guru PAI di MTsN Bukitraya Pekanbaru menunjukan bahwa mereka telah memiliki kompetensi dalam

Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya korelasi positif antara kompetensi pedagogik guru PAI dengan motivasi belajar peserta didik dalam Mata Pelajaran PAI

Berdasarkan uraian diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan belajar PAI pada ranah afektif siswa di

Guru-guru rumpun PAI di MTs Negeri Pangandaran, aspek-aspek kompetensi pedagogik dapat dilakukan dengan baik, yaitu dapat memahami peserta didik, senantiasa

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan program lima hari sekolah memberikan dampak positif terhadap kompetensi pedagogik guru PAI, yakni meningkatkan kreativitas guru dalam