Petani contoh yang diambil pada penelitian ini adalah petani yang mengikuti program MHR yang ada di wilayah kerja PT. MHP. Jumlah petani yang dijadikan sampel disini adalah 60 orang peserta MHR yang telah melakukan panen kayu akasia pada periode pertama dan telah menerima pembayaran. Identitas yang diambil meliputi umur, pendidikan, jumlah tanggungan dan luas lahan yang dimiliki.
1. Umur Petani Contoh
Umur petani contoh di wilayah penelitian bervariasi mulai dari 27 hingga 70 tahun. Rata-rata petani contoh berumur 41,2 tahun. Tabel 7 menunjukkan variasi umur petani contoh yang diambil dalam penelitian ini.
Tabel 7. Umur Petani Contoh
Umur petani (tahun) Jumlah Petani (orang) Persentase (%)
< 30 5 8.33
30 – 45 40 66.67
45 -60 10 16.67
> 60 5 8.33
Total 60 100.00
Berdasarkan Tabel 7, secara keseluruhan semua petani yang menjadi responden umumnya telah berkeluarga. Jumlah petani yang terbanyak adalah petani yang berumur antara 30 hingga 45 tahun yaitu sebanyak 40 orang atau sebesar 66.67 persen dari jumlah petani yang menjadi responden. Jumlah petani contoh yang paling sedikit adalah petani yang berumur di bawah 30 tahun dan di atas 60 tahun yaitu masing-masing sebanyak 5 orang atau sebesar 8.33 persen dari
jumlah seluruh petani contoh. Dari data di atas terlihat bahwa rata-rata petani umumnya berada pada umur produktif.
2. Pendidikan Petani Contoh
Tingkat pendidikan petani contoh yang ada di Desa Subanjeriji Kecamatan Rambang Dangku pada umumnya bervariasi mulai dari SD, SLTP, SMA/STM/SMEA dan S1. Tabel 8 menunjukkan variasi tingkat pendidikan petani contoh yang diambil dalam penelitian ini.
Tabel 8. Tingkat Pendidikan Petani Contoh
Tingkat Pendidikan Jumlah Petani (orang) Persentase (%)
SD 27 45.00
SLTP 7 11.67
SMA/STM/SMEA 24 40.00
S1 2 3.33
Total 60 100.00
Berdasarkan Tabel 8 tingkat pendidikan yang terbanyak adalah SD sebanyak 27 orang atau sebesar 45 persen dari jumlah petani contoh. Petani contoh yang menyelesaikan S1 merupakan jumlah yang paling sedikit yaitu sebanyak 2 orang atau sebesar 3.33 persen dari jumlah seluruh petani contoh. Dari data yang ada terlihat bahwa sebagian besar petani contoh umumnya masih memiliki tingkat pendidik yang rendah yaitu SD dan SMP. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi pendidikan formal mutu kualitas sumberdaya manusia masih rendah.
3. Jumlah Anggota Keluarga Petani Contoh
Jumlah anggota keluarga tiap rumah tangga rata-rata berkisar antara 2 sampai 11 orang. Adapun jumlah anggota keluarga petani contoh yang diambil pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Jumlah Anggota Keluarga Petani Contoh
Jumlah Anggota Klrg (orang) Jumlah (orang) Persentase (%)
< 3 7 11.67
3 - 5 25 41.67
6 - 10 25 41.67
> 10 3 5.00
Total 60 100.00
Jumlah anggota keluarga petani contoh yang terbanyak berkisar antara 3 – 10 orang dengan jumlah sebanyak 50 petani contoh atau sebesar 83.34 persen dari total petani contoh. Sedangkan jumlah anggota keluarga petani contoh yang paling sedikit adalah petani yang memiliki anggota keluarga lebih dari 10 orang yaitu sebanyak 3 orang petani contoh atau sebesar 5 persen dari total petani contoh yang diambil dalam penelitian. Dari data ini terlihat bahwa jumlah anggota keluarga petani umumnya masih besar, dan hal ini bagi petani merupakan asset sebagai tenaga kerja keluarga.
4. Luas Lahan Petani Contoh
Petani contoh yang ada di wilayah studi memiliki luas lahan yang bervariasi mulai dari 0.97 ha hingga 42.62 ha. Sebagian besar petani contoh memiliki lahan dengan luas dibawah 5 ha atau sebesar 51.67%, lahan yang dimiliki merupakan lahan dengan status hak milik dan biasanya didapat secara
turun-menurun atau tanah warisan dengan surat keterangan tanah dari Kepala Desa. Sebaran luas lahan yang dimiliki petani contoh dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini.
Tabel 10. Luas Lahan Petani Contoh
Luas Lahan (ha) Jumlah (orang) Persentase (%)
< 5 31 51.67
5 - 10 10 16.67
10- 20 9 15.00
> 20 10 16.67
Jumlah 60 51.67
Berdasarkan Tabel 10, terdapat sebanyak 31 orang petani atau sebesar 51.67 persen dari petani contoh memiliki luas lahan sekitar dibawah 5 ha. Sedangkan petani yang memiliki luas lahan lebih dari dari 20 ha sebanyak 10 orang petani atau sebesar 16.67 persen dari jumlah petani contoh.
VI. PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF
Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) atau Community Based
Forest Mmanagement (CBFM) adalah pola pengelolaan hutan bersama antara perusahaan MHP dan masyarakat dengan semangat berbagi manfaat sehingga kepentingan bersama untuk menjaga keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dapat diwujudkan secara optimal dan berkelanjutan.
Pembangunan HTI dengan pola PHBM ini meliputi kegiatan berbasis lahan dan bukan lahan. Kegiatan berbasis lahan dapat dilakukan di dalam kawasan dan di luar kawasan konsesi hutan tanaman. Di dalam kawasan konsesi perusahaan telah mengembangkan program Mengelola Hutan Bersama Masyarakat (MHBM) dan diluar kawasan telah dikembangkan program Mengelola Hutan Rakyat (MHR). Masing-masing program ini adalah program yang unik, yang hanya dilakukan di perusahaan MHP dengan dikukuhkan oleh surat kesepakatan yang dilakukan secara legal formal. Kegiatan berbasis bukan lahan juga dapat dilakukan di dalam dan di luar kawasan yang meliputi pengembangan industri, jasa dan perdagangan, serta pengembangan unit usaha dan kegaiatan perekonomian masyarakat.
Program MHBM adalah program yang memberikan kesempatan sebesar- sebesarnya bagi masyarakat masuk ke dalam kawasan HTI untuk ikut mengelola hutan mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Masyarakat akan mendapat upah yang layak dari setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Disamping itu masyarakat juga mendapat bagian dari produksi kayu
HTI yang dihasilkan berupa jasa manajemen dan jasa produksi sebesar Rp2 500/m3.
Program MHR adalah program dimana perusahaan ke luar dari lahan konsesi, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang
memiliki lahan yang belum dikelola untuk di tanami HTI (Acacia mangium).
Kerjasama ini di kukuhkan dengan sebuah kesepakatan kerjasama yang legal, dimana perusahaan menanggung semua biaya yang dikeluarkan mulai dari pembukaan lahan sampai panen dan pengangkutan. Biaya ini nanti langsung dikurangi penerimaan dari hasil kayu yang di panen, lalu penerimaan tersebut di bagi dengan proporsi 40% petani dan 60% perusahaan. Namun jika gagal semua biaya ditanggung oleh perusahaan dan petani tidak dibebani biaya apapun.
Tinjauan analisis pembangunan HTI dengan pola PHBM ini secara lebih mendalam dapat dilihat dalam berbagai sudut pandang dengan berbagai perspektif. Untuk mendalami persoalan ini maka dalam pembahasan sub bab ini akan dilihat pembangunan HTI dalam empat perspektif yang berbeda, yaitu: (1) perspektif perusahaan, (2) perspektif petani, (3) perspektif pemerintah, dan (4) perspektif daerah.
6.1. Hutan Tanaman Industri dalam Perspektif Perusahaan
Pengusahaan hutan tanaman industri merupakan peluang usaha yang cukup menjanjikan bagi para investor besar. Hal ini di dukung oleh kebijakan pemerintah yang sangat kondusif untuk pengembangan HTI secara besaran- besaran bagi program pengembangan pembangunan sektor kehutanan. Beberapa peraturan pemerintah dan perundang-undangan telah diterbitkan untuk
memberikan insentif dan kemudahan bagi perusahaan untuk ikut berkiprah di sektor hutan tanaman industri. Sebagai landasan Hukum pembangunan HTI adalah PP No.7 tahun 1990, lalu dirubah dengan PP No.6 tahun 1999, lalu disempurnakan dengan PP No.34 tahun 2002.
Dari perspektif perusahaan, pembangunan hutan tanaman adalah investasi yang tipikal dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan di awal, proses produksi yang panjang dan penuh resiko kegagalan, serta hasil yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu pengusaha sangat berhati-hati dan penuh perhitungan yang cermat sebelum terjun ke sektor usaha hutan tanaman ini. Sebagai pertimbangan yang cermat seorang investor selalu melihat ke belakang dan sekaligus ke depan, menghubungkan antara potensi sumberdaya dengan potensi pasar, dimana perusahaan dapat menentukan faktor-faktor prospek investasi tersebut dari sisi kepastian berusaha, luas lahan, skala investasi dan struktur modal, teknologi yang diperlukan, dan keuntungan yang akan diperoleh.
6.1.1. Kepastian Berusaha
Dalam perspektif perusahaan, kepastian berusaha merupakan aspek penting yang sangat menentukan sekaligus jaminan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang, karena investasi dan kelestarian hutan umumnya memerlukan waktu yang panjang. Di Indonesia dan umumnya di negera berkembang lainnya kepastian lahan masih ditempatkan sebagai faktor yang paling rawan, karena disamping pengurusan izin yang sulit dengan birokrasi yang panjang, serta sering terjadi friksi atau benturan dengan masyarakat sekitar yang telah bermukim lebih dulu di sekitar kawasan.
Perusahaan telah melalui tahapan dan prosedur yang panjang untuk mendapatkan kepastian lahan, dengan kronologisnya sebagai berikut:
1. Dengan SK Menteri Kehutanan No.l 775/Menhut-V/1989, Barito Pacific
Group dijinkan membuat percobaan penanaman Acacia mangium dengan luas
50 000 ha yang harus diselesaikan dalam jangka waktu 5 tahun (1990-1994). 2. Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (RRL) mengeluarkan surat
No.1109/DJRRL/V/1989 untuk menindak lanjuti keputusan Menteri Kehutanan tersebut.
3. Pada tahun 1991 menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan No.
276/Menhut-V/1991 untuk menetapkan areal HPHTI seluas 311 215 ha.
4. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan itu, Barito Pacific Group
membuat anak perusahaan dengan nama PT Enim Musi Lestari (EML).
5. Mengikuti peraturan umum yang dibuat oleh Menteri Kehutanan, selanjutnya
PT Enim Musi Lestari membentuk perusahaan patungan dengan PT Inhutani II yang pada waktu itu ditugasi oleh Departemen Kehutanan membangun kawasan hutan tak produktif di kabupaten Muara Enim tersebut.
6. Perusahaan patungan tersebut dinamakan PT Musi Hutan Persada (MHP),
yang mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman No.C2.1767.H1.01.10- Th 91, tertanggal 24 Mei 1991.
7. Dengan terbentuknya MHP, maka lokasi HPHTI lalu ditetapkan secara pasti.
Namun untuk itu memerlukan proses yang cukup panjang sehingga sempat beberapa kali mengalami perubahan. Akhirnya kepastian tersebut dapat diperoleh setelah Gubernur Sumatera Selatan memberikan rekomendasi yang kedua kalinya pada tanggal 16 Januari 1995.
Berdasarkan surat rekomendasi Gubernur Sumatera Selatan Nomor: 522/00237/95 tahun 1995 dan surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 038/Kpts-II/1996 tahun 1996. PT MHP memperoleh kepastian hak pengusahaan hutan tanaman industri (HPHTI) di atas areal seluas kurang lebih 296 400 ha HPHTI tetap di Provinsi Sumatera Selatan.
Berdasarkan kebijakan pemerintah, sumber lahan untuk hutan tanaman industri adalah tanah kosong atau alang-alang, belukar, hutan alam rawang (kurang produktit) dan lain-lain. Namun lahan HTI diperbolehkan juga berasal dari hutan alam yang dikonversi jika memang ada alasan yang kuat dan tidak merugikan lingkungan.
Berpedoman pada arahan pemerintah tersebut PT MHP dalam pembangunan HTI lebih memprioritaskan pada lahan alang-alang yang biasanya sering terbakar dan tidak produktif. Selanjutnya, Perusahaan bekerjasama dengan PT. Inhutani dalam pelaksanaan pembangunan HTI. Walaupun sudah mendapatkan kepastian lahan dari pemerintah perusahaan HTI tidak luput dari masalah klaim pemilikan lahan oleh penduduk sekitar kawasan.
Pembangunan HTI mendapat dukungan politik yang besar dari pemerintah Orde Baru dengan memberi banyak subsidi. Pada era reformasi desakan untuk
tidak mengkonversi hutan alam datang dari IMF (International Monetary Fund)
melalui LOI (Letter of intent) dan Bank Dunia, dengan alasan utama
keanekaragaman hayati dan masalah lingkungan.
Pembangunan HTI di Indonesia didukung oleh subsidi dana reboisasi (DR), yaitu partisipasi modal pemerintah dan pinjaman bunga rendah dan dibalik itu ada daya tarik lahan HTI yaitu kesempatan usaha dari Izin Pemanfaatan Kayu (IPK).
Pengalaman MHP di Sumatera Selatan dalam membuat hutan tanaman
(dengan Acacia mangium) mulai tanam sampai dipanen, dapat dijadikan acuan
dalam pembangunan HTI di Indonesia. Pengalaman ini dapat memberi informasi berguna kepada investor lain yang berminat. Dari aspek legal sebetulnya lahan hutan tanaman sudah cukup kuat sejak diberlakukannya Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) di mana hutan tanaman diselenggarakan pada hutan produksi bebas. Kemudian dikeluarkan PP No.17 tahun 1998 yang mengatur prosedur pendirian unit-unit manajemen HTI pada lokasi yang mendapat izin.
Masalah yang langsung dan berat terhadap kepastian usaha HTI adalah konflik (friksi) dengan penduduk sekitar areal hutan tanaman terutama tentang perebutan lahan dengan berbagai sebab. Permasalahan sosial (adat) penduduk di sekitar hutan hendaknya dapat diselesaikan terlebih dahulu, jika tidak maka investasi pada lahan HTI tersebut akan menghadapi banyak kesulitan yang akan sangat mengganggu kelangsungan usaha.
Pengalaman MHP yang telah membangun hutan tanaman Acacia mangium
seluas lebih kurang 193 500 ha yang dalam perjalanannya banyak menghadapi konflik sosial dengan masyarakat sekitar, mulai dari pencurian kayu, kebakaran hutan, dan klaim lahan telah mengakibatkan keamanan dan kepastian berusaha menjadi ancaman yang cukup berat. Puncak kerusuhan terjadi pada tahun 1999/2000, dimana terjadi pembakaran, demonstrasi dan pendudukan areal hutan oleh masyarakat secara besar-besaran. Konflik ini berakhir melalui negosiasi yang panjang antara perusahaan dan masyarakat dengan mediasi para ahli, pemerintah, dan para tokoh masyarakat, yang akhirnya menghasilkan beberapa kesepakatan-kesepakatan agar perusahaan lebih memperhatikan kesejahteraan
masyarakat. Perusahaan juga harus membayar milyaran rupiah untuk mengganti lahan yang diklaim mereka sebagai lahan eks marga. Belajar dari konflik tersebut kemudian perusahaan MHP merubah strategi pengelolaan hutan dengan melakukan pendekatan kemasyarakatan antara lain dengan program Mengelola Hutan Bersama Masyarakat (MHBM) dan Mengelola Hutan Rakyat (MHR) di areal tanah penduduk dengan kerjasama bagi hasil. Sejauh ini pendekatan tersebut sudah relatif berhasil dan konflik dengan masyarakat tidak pernah terjadi lagi, sehingga risiko investasi dapat dikurangi, seperti masalah lahan dan kebakaran hutan jauh berkurang.
6.1.2. Luas Lahan Konsesi
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 276/Menhut- V/1991, luas areal untuk HPHTI adalah sebesar 311 215 ha, namun berdasarkan pengukuran planimetris, ternyata luas bruto areal untuk HPHTI MHP itu menjadi 447 190 ha, lalu setelah studi ulang areal tersebut berubah lagi menjadi 343 224 ha, yang terdiri atas kelompok hutan Martapura, Subanjeriji dan Benakat. Dengan rekomendasi dari Kanwil Departemen Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan No.1668/KWL-6.1/7/94 dan rekomendasi Gubernur Provinsi Sumatera Selatan No.522/00237/95, areal MHP ditambah 64 034 ha sehingga seluruhnya menjadi 407 224 ha.
Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), kawasan hutan seluas 407 224 ha yang dicadangkan untuk MHP itu berstatus hutan produksi seluas 359 878 ha (88.4%), hutan produksi terbatas 40 936 ha (10.1%), dan hutan produksi konversi 6 408 ha (1.6%). Namun berdasarkan RUTR Provinsi Sumatera
Selatan seluruh kawasan hutan MHP termasuk dalam kawasan budidaya kehutanan. Dari aspek topografi, 290 505 ha (71.3%) tergolong landai, 95 059 ha (23.3%) termasuk datar, dan sisanya 21 660 ha (5.3%) agak curam. Rincian luas hutan menurut peruntukannya menurut kelompok hutan disajikan dalam Tabel 11.
Tabel 11. Luas areal HPHTI yang dicadangkan untuk PT Musi Hutan Persada menurut peruntukan dan kelompok hutan
Kelompok Hutan HP (ha) HPT (ha) HPK (ha) Jumlah (ha) Persen 1. Martapura 15 313 12 462 0 27 775 6.8 2. Subanjeriji 104 837 7 800 0 112 637 27.7 3. Benakat 239 728 20 676 6 480 266 884 65.5 Jumlah 359 878 40 938 6 480 407 224 100.0 Persen 88.4 10.0 1.6 100 Sumber: PT. MHP, tahun 1995.
Dari Tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar kawasan yang dicadangkan untuk areal HPHTI MHP terdiri atas hutan produksi (88.4%). sedangkan hutan produksi yang dapat dikonversi hanya 1.6%. Bahkan setelah dikaji dengan membuat scoring berdasarkan SK Menteri Pertanian No.837/Kpts/Um/l1/1980 tentang kriteria penetapan hutan lindung dan SK Menteri Pertanian No.683/Kpts/Um/8/1981 tentang kriteria penetapan hutan produksi, kawasan hutan produksi terbatas sehanyak 10% itupun dapat diubah statusnya menjadi hutan produksi. Hal itu memungkinkan bagi MHP untuk bekerja dengan tenang karena kawasan yang di sediakan untuknya memang kawasan budidaya kehutanan.
Di antara tiga kelompok hutan, sebagian besar arealnya (65.3%) terletak di Benakat, Subanjeriji menduduki tempat kedua (27.7%) dan kelompok hutan Martapura hanya 6.8%. Kelompok hutan Martapura terletak paling jauh dari
industri pulp PT TEL, sehingga biaya pengangkutan kayu dari wilayah ini yang relatif paling mahal. Kelompok hutan Subanjeriji merupakan wilayah kerja untuk HTI yang paling ideal, karena di samping lokasinya dekat dengan pabrik, asesibilitasnya paling baik dan topografinya relatif datar. Namun demikian justru karena hal-hal yang menguntungkan itu maka daerah ini berpenduduk paling padat sehingga intensitas masalah sosial-ekonominya juga yang paling tinggi.
6.1.3. Skala Investasi dan Struktur Modal
Sampai dengan akhir tahun 2002 penanaman skala komersial yang telah berhasil dilakukan MHP berupa penanaman Acacia mangium adalah 193 500 ha pada semua tipologi lahan yang di miliki perusahaan. Secara kronologis kinerja penanaman disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Kinerja penanaman Acaciamangium di PT. Musi Hutan Persada
Tahun Tanam Luas (ha) Tahun Tanam Luas (ha)
1990/1991 27 928.25 1996/1997 14 276.0 1991/1992 50 214.58 1997/1998 2 609.0 1992/1993 24 025.05 1998/1999 2 355.7 1993/1994 35 427.02 1999/2000*) 6 927.0 1994/1995 24 869.10 2000/2001 12 750.0 1995/ 1996 14 1 51.00 2001 /2002 14 260.0
*) mulai rotasi kedua, dengan jenis yang diperbaiki genetiknya.
Untuk mempertahankan kemampuan memasok badan Baku ke industri, sejak tahun 2000 perusahaan menanam dalam luasan yang rata-rata seragam yaitu 10 750 ha, sebagai ganti penutupan lahan hutan yang dipanen pada tahun yang sama. Penyeragaman ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara luas panen dengan luas tanaman.
Di samping menanam, perusahaan juga melakukan pemelihartan. Skedulnya dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Rencana atau realisasi pemeliharaan tegakan dan penebangan HTI, Tahun 1990/91-2004/05 Tahun Pemeliharaan (ha) Penebangan (ha) Tahun Pemeliharaan (ha ) Penebangan (ha ) 1990/91 - - 1998/99 91 332 5 429 1991/92 27 928 - 1999/00 55 905 9 400 1992/93 78 143 - 2000/01 36 465 10 750 1993/94 102 168 - 2001/02 31 714 10 750 1994/95 137 595 - 2002/03 25 579 10 750 1995/96 162 464 - 2003/04 36 329 10 750 1996/97 148 678 - 2004/05 47 079 10 750 1997/98 115 357 -
Dukungan dari semua pihak yang berkepentingan, serta adanya jaminan keberlangsungan usaha dan luasan areal yang memadai membuat usaha pembangunan HTI menjadi ekonomis dan menguntung. HTI terutama jenis Acacia mangium mempunyai keunggulan kompetitif, karena memiliki produksi per hektar yang tinggi, kualitas produk kayu relatif seragam dan transfer teknologi dari luar relatif mudah diterapkan pada hutan tanaman.
Pembangunan HTI memerlukan dana investasi yang besar, besarnya investasi yang diperlukan ini menuntut kehati-hatian bagi pemilik modal. Beberapa kendala yang perlu diperhatikan adalah bunga modal yang relatif tinggi dan langka di Indonesia sehingga investasi menjadi mahal dan beresiko jika tidak diimbangi dengan upaya lain. Rotasi tanaman yang relatif panjang (paling pendek 5-8 tahun) juga menjadi sebab paling utama kelemahan investasi di sektor hutan
tanaman. Makin panjang proses produksi (rotasi) makin berat dampak bunga yang dirasakan investor, karena suku bunga modal mengikuti rumus eksponensial. Sementara hasil baru diperoleh hanya sekali pada akhir rotasi, hal ini sangat berbeda dengan tanaman perkebunan yang dapat dipanen tiap tahun.
Pembangunan HTI sangat dibebani dengan arus kas (cash-flow) yang tidak
berimbang (karena tidak terjadi tiap tahun), dengan demikian nilai diskon faktor panen pada akhir rotasi menjadi kecil.
Modal untuk investasi di sektor yang relatif berisiko tinggi dan yang lambat menghasilkan (slow-yielding) biasanya sukar didapat karena bunga yang dapat dibayarkan kepada pemilik modal rendah. Sektor usaha yang cepat menguntungkan biasanya akan memperoleh modal usaha lebih mudah karena dapat membayar bunga yang tinggi. Dengan demikian investasi hutan tanaman meskipun tujuannya mulia dalam mencari modal akan kalah bersaing dengan investasi tanaman lain, yang dapat dianggap lebih bankable, bila tidak ada faktor lain yang mendukung atau membantu pembangunan hutan tanaman. Bantuan atau dukungan itu antara lain diharapkan dari:
− Program pembangunan pemerintah
− Kebutuhan hasil hutan untuk bahan baku industri
− Kehutuhan hasil hutan kayu untuk masyarakat (perumahan d1l.)
− Dibatasinya penebangan di hutan alam
− Adanya dampak lain yang positif seperti mengurangi erosi, banjir dll.
− Tidak ada peluang usaha alternatif selain hutan tanaman (pada tanah marginal).
Untuk mendukung pemodalan pembangunan HTI, pemerintah melalui Departemen Kehutanan memberikan subsidi pada HTI dengan partisipasi modal
dan pinjaman bunga rendah dari alokasi dana reboisasi (DR). Disamping itu juga ada bantuan dari beberapa negara donor seperti Finlandia dan Jepang, pada program pengembangan hutan tanaman di Indonesia berupa bantuan teknis dan pinjaman lunak.
Selain itu banyak terjadi integrasi vertikal dengan sektor industri di bidang kehutanan untuk mendapatkan jaminan bahan baku yang pasti dan kontinyu. Integrasi antara industri dan hutan tanaman ini diharapkan tidak sekedar dukungan modal, tetapi juga dapat meningkatkan rate of return di bidang hutan tanaman yang relatif tidak tinggi (slow yielding). Integrasi ini menunjang persyaratan pelestarian karena keduanya berorientasi jangka panjang. Kebijakan pemerintah yang selalu mendukung integrasi ini, namun tetap mencegah kecenderungan kearah monopoli. Pengembangan hutan tanaman tidak seyogyanya hanya sekedar menggantungkan subsidi. Dengan adanya ekspektasi harga dan pendapatan di masa depan, investasi dapat ditarik bila rate of return dapat dibuat tidak terlalu rendah dan risiko tidak terlalu tinggi. Dalam hal ini peran kemajuan teknologi baik di hutan tanaman maupun di industrinya sangat menentukan.
Investasi hutan tanaman menyadari akan hal ini sehingga dapat dimengerti bila hutan tanaman yang disukai adalah jenis tanaman tumbuh cepat (rotasi pendek). Selain masalah yang bersifat teknis-ekonomis, akhir-akhir ini masalah nya makin kompleks antara lain munculnya pandangan atau penilaian masyarakat yang menyoroti aspek konservasi dan sosial di mana banyak timbul konflik yang menyebabkan hambatan biaya dan waktu. Berhubung dengan itu hutan tanaman diusahakan agar mengikuti prinsip pengelolaan hutan yang lestari (PHL) di mana kriteria aspek konservasi dan sosial diintegrasikan dengan produksi dan ekonomi.
Dalam rangka pengelolaan hutan tanaman lestari banyak tujuan manajemen yang bersifat non-finansial antara lain pembuatan stasiun pengamatan debit sungai, program pengembangan masyarakat dan berbagai kegiatan konservasi (konservasi plasma nutfah ex-situ, konservasi cagar alam dsb). Semua ini akan masuk dalam biaya investasi yang disehut biaya sosial (social cost).
Sebagai investor pada lahan (land-use) maka akan terjadi persaingan
penggunaan lahan (land-user), dimana hutan tanaman akan bersaing dengan
tanaman lainnya, seperti karet, kelapa sawit, kelapa hibrida, dan lain-lain. Keunggulan masing-masing sebenarnya dapat di lihat dari usaha yang paling menguntungkan dengan rate of return yang paling tinggi.
Kendala lain adalah besarnya biaya-biaya umum per unit produksi yang disebut pungutan-pungutan liar (biaya siluman) oleh pihak ketiga. Situasi seperti
ini menyebabkan high cost economy yang perlu dipertimbangkan dalam
melakukan investsi di hutan tanaman industri pada khususnya.
Paling tidak penanaman Acacia mangium di lahan alang-alang secara fisik