DAFTAR LAMPIRAN
4.7 Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat
Penduduk desa yang berada disekitar IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur hampir seluruhnya merupakan Etnis Dayak dan sisanya merupakan Suku Melayu, Tionghoa, dan Jawa. Etnis Dayak yang berdomisili di wilayah IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur adalah Dayak Kapus, Dayak Laman Tawa, Dayak Laman Tuha, dan Dayak Keluas. Mayoritas Agama yang dipeluk oleh penduduk adalah agama Katolik. Kedua terbesar adalah agama Kristen Protestan dan sisanya pemeluk agama Islam dan agama lainnya.
Pada umumnya mata pencaharian penduduk desa di sekitar IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur adalah petani tradisional yang lebih dikenal sebagai peladang berpindah. Selain berladang sebagian penduduk desa juga mempunyai aktifitas di kebun karet, sawah dan mengumpulkan biji tengkawang pada musim buah.
4.8 Aksesibilitas
Areal unit hutan produksi PT. Suka jaya Makmur memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi. Untuk menuju areal tersebut dapat melalui dua macam rute, yaitu :
a. Jalan darat yang melalui ruas jalan Ketapang - Siduk (60 km). Siduk – Desa Sei Kelly (61 km), dan Desa Sei kelly Base Camp (38 km). Sebagian besar keadaan jalan darat tersebut dapat dilalui kendaraan bermotor pada musim kemarau.
b. Jalan air melalui Sungai Pawan antara Ketapang – Log Pond di Desa Sei Kelly (± 3 jam) dengan speed boat dan jalan darat Log pond - Base Camp (38 km).
Untuk mencapai ke setiap bagian hutan dapat melalui jalan darat berupa jalan pengerasan yang keadaannya sangat baik. Sedangkan di dalam bagian hutannya banyak terdapat jalan-jalan pengerasan dan jalan tanah yang dalam rencana akan dikembangkan menjadi jalan cabang maupun jalan batas petak.
Untuk menuju Kota Ketapang lewat udara dapat melalui Lapangan Udara Rahardi Oesman. Lapangan udara tersebut dapat didarati pesawat jenis Twin Otter dari Pontianak dan Semarang. Hubungan antara Ketapang dengan Pontianak dilaksanakan oleh perusahaan penerbangan Deraya dan Dirgantara Air Service (DAS) dengan frekuensi penerbangan dua kali sehari dalam seminggu. Sedangkan dari Jakarta dan Semarang, hubungan udara tersebut hanya dilayani oleh Merpati Nusantara Airways (MNA) dengan frekuensi tiga kali seminggu.
5.1 Kadar Air
Pohon sebagai tumbuhan membutuhkan air untuk proses metabolisme. Air diserap oleh xilem bersama unsur hara yang dibutuhkan. Air yang dikandung dalam kayu diekspresikan dalam bentuk persen kadar air. Kadar air didefinisikan berat air dinyatakan dalam persen terhadap berat kering oven kayu. Tabel 4 dibawah ini merupakan hasil pengukuran kadar air pada beberapa jenis kayu. Tabel 4. Kadar Air Pada Masing-masing Bagian Pohon Yang Diteliti.
Jenis Bagian Pohon Rata-rata
Pangkal Ujung Bscp Cabang Kulit Ranting Daun
Keruing 28.55% 18.49% 17.52% 22.42% 16.63% 23.49% 23.44% 21.50% Bangkirai 21.58% 19.06% 18.12% 21.11% 17.46% 16.77% 18.39% 18.93% Resak 24.95% 17.91% 24.34% 26.31% 18.81% 17.07% 18.25% 21.09% Meranti Merah 16.86% 18.52% 18.37% 17.21% 16.83% 18.24% 20.27% 18.04% Meranti Kuning 30.84% 24.27% 22.04% 16.95% 19.04% 16.89% 17.86% 21.13% Nyatoh 28.41% 22.91% 24.39% 24.98% 24.69% 16.20% 19.70% 23.04% Mersawa 21.99% 20.36% 17.59% 20.23% 15.59% 15.79% 17.78% 18.48% Benuang 38.16% 22.81% 19.85% 28.91% 42.76% 11.36% 12.77% 25.23% Ubar 23.00% 20.14% 24.56% 26.81% 19.19% 17.04% 18.93% 21.38% Kumpang 22.71% 15.77% 18.68% 15.42% 17.32% 16.31% 19.24% 17.92% Medang 25.26% 20.56% 23.82% 20.83% 24.23% 18.87% 20.23% 21.97% Sawang 21.11% 17.24% 20.06% 20.15% 22.41% 13.89% 15.43% 18.61% Ulin 19.23% 18.30% 22.96% 19.90% 17.45% 15.26% 16.72% 18.55% Rata-rata 24.82% 19.72% 20.95% 21.63% 20.95% 16.71% 18.39%
Keterangan :Bscp (Batang setelah cabang pertama)
Bagian pohon yang diukur kadar airnya adalah pangkal batang, ujung batang bebas cabang, batang setelah cabang pertama, kulit, ranting, dan daun. Berat awal contoh yang diukur adalah pada saat berat kering udara. Kadar air tertinggi rata-rata bagian pohon adalah bagian pangkal 24,82% dan pada jenis pohon adalah Benuang (Octomeles sumatrana) 25,23% sedangkan kadar air terendah pada bagian ranting 16,70% dan pada jenis pohon yaitu Kumpang (Diospyros sp,).
Hasil pengukuran menunjukan bagian pangkal batang memiliki kadar air tertinggi. Hal ini dapat disebabkan faktor anatomi kayu dimana secara umum kayu pada bagian pangkal cukup dewasa sehingga memiliki dinding sel yang tebal sehingga dapat menyimpan air lebih banyak. Daun yang memiliki luas permukaan yang besar dan pori/stomata akan sangat mudah sekali menguapkan air yang
disimpan sehingga kadar air yang diketahui dari hasil pengukuran dalam berat contoh kondisi kering udara tidak lebih besar dari pangkal batang yaitu 18,38% karena selama pengambilan contoh sampai pengujian, secara alami teruapkan.
Kadar air bagian ujung batang bebas cabang adalah 19,72% lebih rendah dari pada bagian batang setelah cabang pertama dan cabang yaitu 20,95% dan 21,63%. Hal ini dimungkinkan karena faktor kayu juvenil (kayu muda) lebih banyak terdapat pada bagian batang setelah cabang pertama dan pada cabang kandungan selulosanya tinggi hampir sama dengan kayu juvenil (Tsoumis, 1991).
Dalam Haygreen dan Bowyer (1986), kadar air bagian kulit sebanding dengan kadar air kayu. Hasil pengukuran menunjukan kadar air kulit kayu relatif sama terutama dengan bagian batang setalah cabang pertama yaitu 20,95%.
5.2 Berat Jenis Kayu
Sifat fisis dan mekanis kayu sangat berhubungan dengan kerapatan dan berat jenis kayu, dimana berat jenis kayu berbanding lurus dengan kekuatan kayu. Kerapatan kayu dapat menggambarkan berat material per volume dan dapat digunakan untuk mengetahui biomasa. Berat jenis dinyatakan sebagai berat kering kayu dibagi volume kayu dalam keadaan kering udara dibandingkan kerapatan air. Tabel 5 dibawah ini merupakan hasil pengukuran berat jenis pada berbagai bagian pohon pada tingkat vegetasi tiang dan pohon.
Tabel 5. Berat Jenis Kayu Berbagai Bagian Pohon Yang Diteliti.
Jenis Bagian Pohon Berkayu Rata-rata
Pangkal Ujung Bscp Cabang
Keruing 0,705 0,387 0,431 0,377 0,475 Bangkirai 0,682 0,654 0,688 0,657 0,670 Resak 0,748 0,609 0,694 0,700 0,688 Meranti Merah 0,489 0,496 0,438 0,464 0,472 Meranti Kuning 0,482 0,486 0,447 0,611 0,506 Nyatoh 0,577 0,525 0,457 0,526 0,521 Mersawa 0,530 0,645 0,478 0,653 0,576 Benuang 0,238 0,269 0,326 0,483 0,329 Ubar 0,887 0,842 0,781 0,773 0,821 Kumpang 0,468 0,297 0,398 0,414 0,394 Medang 0,672 0,547 0,610 0,578 0,602 Sawang 0,697 0,669 0,669 0,629 0,666 Ulin 1,034 0,933 0,894 1,009 0,968 Rata-rata 0,632 0,566 0,562 0,606
Berat jenis rata-rata bagian pangkal batang 0,632 merupakan bagian yang memiliki berat jenis tertinggi setelah cabang kayu 0,606, ujung batang 0,566 dan batang setelah cabang pertama 0,562. Selain faktor jenis pohon dipengaruhi juga oleh pertumbuhan kayu dimana bagian pangkal pohon, kayu dewasa lebih dominan dari pada kayu juvenil. Dalam Haygreen dan Bowyer 1986 berat jenis bagian cabang lebih besar dari pada bagian pohon lainnya hal ini berkaitan dengan pertumbuhannya yang lambat berbanding lurus terhadap berat jenis.
Berdasarkan jenis pohon berat jenis tertinggi adalah Ulin (Eusideroxylon zwageri) 0,968 dan terendah adalah Benuang (Octomeles sumatrana) 0,329 kedua berat jenis tersebut sepadan dengan Martawidjaja et al.(1989), (Ulin 0,88 - 1,19 dan Benuang 0,16-0,48). Kecepatan pertumbuhan dan anatomi kayu sangat berpengaruh pada kondisi ini. Dalam Mandang dan Pandit (2002) anatomi Benuang (Octomeles sumatrana) memliliki pori dan jari-jari dengan frekuensi sangat jarang sampai agak jarang sedangkan Ulin (Eusideroxylon zwageri) pori dipenuhi dengan tilosis dengan jari-jari sempit sampai agak lebar dan terdapat sel minyak berwarna kemerahan.
Secara berturut-turut jenis pohon Keruing (Dipterocarpus sp.) dan Resak (Vatica rassack) memiliki berat jenis 0,475 dan 0,688 sepadan dengan hasil penelitian Mandang dan Pandit (2002) untuk jenis Keruing (Dipterocarpus sp.) memiliki berat jenis 0,51-0,99 dan Resak 0,49-0,99. Sedangkan jenis Nyatoh (Palaquium sp.) dengan berat jenis 0,521 sepadan dengan Martawidjaja et al. (1981), yaitu 0,48 - 0,76.
Berat jenis kayu Bangkirai (Diperocarpus leavis) 0,670, Meranti Merah (Shorea sp.) 0,472, Meranti Kuning (Shorea pinanga) 0,506, Medang (Litsea firma Hook.f.) 0,602, dan Mersawa 0,576. Hasil tersebut sepadan dengan hasil penelitian Mandang dan Pandit (2002) dan Martawidjaja et al. (1989), dimana hasil pengukuran termasuk dalam kisaran pada masing-masing literatur yaitu secara berturut-turut untuk jenis Bangkirai (Diperocarpus leavis) 0,60-1,16; Meranti Merah (Shorea sp.) 0,31-0,86; Meranti Kuning (Shorea pinanga) 0,37- 0,86 dan 0,40 - 0,81; Medang (Litsea firma.) 0,40-086 dan 0,59-0,97; dan Mersawa (Anisoptera marginata) 0,49-0,85 dan 0,49 - 0,71. Penelusuran pustaka yang telah dilakukan tidak menemukan informasi berat jenis kayu Ubar (Dillenia
pulchella), Kumpang (Diospyros sp,), dan Sawang (?). Hasil pengukuran berat jenis penelitian ini menunjukan berat jenis kayu Ubar (Dillenia pulchella) 0,821, Kumpang (Diospyros sp,) 0,394, dan Sawang (?) 0,666.
Kayu sering mengandung banyak bahan-bahan ekstraktif dan infiltrasi meliputi terpen, resin, polifenol seperti tanin, gula, minyak, senyawa anorganik silikat, karbonat, dan fosfat. Bahan ekstraktif yang dikandung mempengaruhi kerapatan dan berat jenis. Selain itu kerapatan kayu dipengaruhi faktor spesies, laju pertumbuhan, umur pohon setelah menghasilkan kayu, dan letak kayu (Haygreen dan Bowyer, 1986).
5.3 Berat Jenis Kulit Pohon
Berat jenis kulit pohon diukur untuk mengetahui biomasa kulit sama halnya pada bagian pohon berkayu. Berat jenis kulit pohon hasil penelitian ini disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Berat Jenis Kulit Pohon.
Jenis Kulit Keruing 0,990 Bangkirai 0,963 Resak 1,120 Meranti Merah 0,609 Meranti Kuning 1,195 Nyatoh 0,730 Mersawa 0,946 Benuang 0,612 Ubar 0,948 Kumpang 0,688 Medang 0,448 Sawang 0,890 Ulin 0,894 Rata-rata 0,849
Dari seluruh bagian pohon yang diteliti berat jenis rata-rata tertinggi adalah pada bagian kulit yaitu 0,849. Berdasarkan jenis pohon, kulit Resak (Vatica rassack) memiliki berat jenis paling tinggi yaitu 1,120 dan terendah adalah Medang (Litsea firma) yaitu 0,448. Dari hasil pengukuran dimungkinkan faktor anatomi kulit kayu yang relatif memiliki serat yang lebih besar dan panjang yang mempengaruhi berat jenisnya yang lebih besar dari pada bagian pohon
lainnya. Haygreen dan Bowyer (1986) memaparkan bahwa kulit kayu pada sejumlah spesies memiliki berat per unit volume yang secara nyata lebih tinggi dari pada kayu.
Kenaikan berat jenis kulit luar dapat disebabkan oleh pemampatan kulit mati maupun partikel yang terbawa oleh angin dan menempel pada kulit kayu seperti partikel tanah dan debu (Corder 1976 dalam Haygreen dan Bowyer 1986).
5.4 Kadar Zat Terbang
Kadar zat terbang merupakan zat ekstraktif yang dapat menguap pada suhu yang sangat tinggi. Pada Tabel 7 disajikan hasil pengukuran kadar zat terbang pada berbagai bagian pohon.
Tabel 7. Rata-rata Kadar Zat Terbang Pada Berbagai Bagian Pohon.
Jenis Bagian Pohon Rata-rata
Pangkal Ujung Bscp Cabang Ranting Daun Kulit
Keruing 48,94% 57,33% 57,27% 59,56% 64,50% 69,77% 69,66% 61,00% Bangkirai 49,16% 55,82% 57,85% 60,35% 62,64% 70,84% 67,58% 60,61% Resak 49,54% 57,17% 56,01% 60,72% 68,84% 69,28% 66,05% 61,09% Meranti Merah 50,17% 55,66% 58,08% 61,76% 65,96% 68,42% 70,10% 61,45% Meranti Kuning 51,18% 56,44% 59,17% 59,19% 64,71% 59,86% 64,02% 59,23% Nyatoh 52,87% 53,83% 57,10% 57,18% 64,72% 64,45% 71,93% 60,30% Mersawa 53,05% 55,26% 58,61% 56,51% 69,88% 63,38% 63,29% 60,00% Benuang 50,96% 54,82% 55,79% 59,94% 66,29% 68,49% 69,69% 60,86% Ubar 57,81% 58,06% 55,69% 56,85% 56,37% 62,57% 64,90% 58,89% Kumpang 53,86% 56,63% 56,11% 57,89% 61,75% 66,71% 63,79% 59,53% Medang 54,22% 56,34% 57,57% 61,93% 63,55% 65,43% 60,40% 59,92% Sawang 54,29% 54,80% 58,67% 58,02% 63,73% 68,97% 69,78% 61,18% Ulin 50,78% 57,86% 55,71% 59,70% 60,61% 65,73% 67,84% 59,75% Rata-rata 52,06% 56,16% 57,20% 59,20% 64,12% 66,45% 66,85%
Keterangan :Bscp (Batang setelah cabang pertama)
Bagian pohon yang dilakukan uji kadar zat terbang adalah batang bebas cabang pada pangkal dan ujung batang, batang setelah cabang pertama, cabang, ranting, daun, dan kulit kayu. Rata-rata kadar zat terbang paling tinggi adalah pada bagian kulit kayu 66,85% dan terendah adalah pangkal batang yaitu 52,06%. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada bagian pohon yang terletak paling ujung yaitu daun hingga pangkal batang terjadi penurunan kadar zat terbang.
Kadar zat terbang secara berurutan pada kulit kayu, daun, ranting, cabang, batang setelah cabang pertama, batang ujung, dan batang pangkal memiliki kadar zat terbang 66,85%, 66,45%, 64,12%, 59,20%, 57,20%, 56,16%, dan 52,06%
Jenis pohon yang diteliti adalah Keruing (Dipterocarpus sp.), Bangkirai, Resak (Vatica rassack), Meranti Merah (Shorea sp.), Meranti Kuning (Shorea pinanga), Nyatoh (Palaquium sp.), Mersawa (Anisoptera marginata), Benuang (Octomeles sumatrana), Ubar (Dillenia pulchella), Kumpang (Diospyros sp.), Medang (Litsea firma), Sawang (?), dan Ulin (Eusideroxylon zwageri). Pada Tabel 7 dapat dilihat kadar zat terbang berdasarkan jenis pohon yang diuji relatif sama yaitu berkisar antara 59,23% - 61,45%.
5.5 Kadar Abu
Kadar abu merupakan mineral pada kayu yang tidak teruapkan pada suhu tinggi. Mineral yang tertinggal pada zat abu adalah Silika, Magnesium, Kalsium, Kalium, dan Mangan. Berdasarkan Tsoumis (1991), kadar abu pada kayu umumnya 0,1% - 5%. Hasil pengukuran kadar abu disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Rata-rata Kadar Zat Abu Pada Berbagai Bagian Pohon.
Jenis Bagian Pohon Rata-rata
Pangkal Ujung Bscp Cabang Ranting Daun Kulit
Keruing 1,36% 1,27% 3,18% 1,27% 1,44% 5,02% 4,21% 2,54% Bangkirai 0,32% 0,50% 0,48% 0,37% 0,80% 1,68% 3,26% 1,06% Resak 0,57% 0,56% 1,40% 1,56% 2,18% 3,39% 3,08% 1,82% Meranti Merah 0,30% 0,53% 0,49% 0,61% 1,71% 3,71% 2,13% 1,35% Meranti Kuning 0,61% 0,84% 0,59% 0,85% 3,11% 13,26% 0,64% 2,84% Nyatoh 0,90% 1,22% 0,94% 1,26% 2,57% 3,56% 2,27% 1,82% Mersawa 0,72% 0,54% 0,41% 0,54% 1,40% 8,51% 2,05% 2,03% Benuang 1,43% 1,42% 0,99% 0,75% 1,19% 6,75% 3,34% 2,27% Ubar 0,46% 0,50% 0,72% 1,04% 2,52% 6,82% 2,05% 2,02% Kumpang 1,18% 0,70% 1,19% 0,71% 2,22% 5,69% 4,15% 2,26% Medang 1,13% 0,90% 0,88% 1,72% 3,45% 4,40% 3,96% 2,35% Sawang 0,90% 1,33% 0,72% 1,46% 2,53% 3,10% 2,98% 1,86% Ulin 0,29% 0,33% 0,51% 0,40% 4,56% 3,10% 2,92% 1,73% Rata-rata 0,78% 0,82% 0,96% 0,97% 2,28% 5,31% 2,85%
Keterangan :Bscp (Batang setelah cabang pertama)
Kadar abu rata-rata tertinggi pada Tabel 8 adalah 5,31% pada bagian pohon daun dan terendah 0,78% pada bagian batang pangkal. Kadar abu paling
tinggi pada daun sangat tinggi hal ini dapat disebabkan daun sebagai bagian pohon yang melakukan fotosintesis dimana dalam prosesnya xilem mengangkut air dan mineral untuk proses fotosintesis.
Kadar abu pada bagian batang pangkal merupakan kadar abu paling rendah yaitu 0,78% hal ini sepadan dengan hasil penelitian Yoshida (1961) dalam Young dan Guinn (1966) mengenai seluruh bagian pohon, kandungan komponen anorganik menurun berturut-turut dari kulit, akar halus, ranting, akar, cabang, dan batang.
Pada bagian batang ujung, batang setelah cabang pertama, cabang, ranting, dan kulit, secara berurutan memiliki kadar abu adalah sebagai berikut 0,82%, 0,96%, 0,97%, 2,28% dan 2,85%.
Mineral-mineral terpenting untuk fungsi fisiologis pohon cenderung terkonsentrasi pada jaringan kulit, kadar abu kulit biasanya lebih tinggi dari pada kayu (Haygreen dan Bowyer, 1986).
Tanah yang terbawa angin atau partikel-patikel pasir yang mungkin terperangkap pada kulit luar yang kasar ikut menyebabkan tingginya kadar abu kayu biasanya mencapai 5% (Corder (1976) dalam Haygreen dan Bowyer, 1986).
5.6 Kadar Karbon
Kadar karbon merupakan persen jumlah unsur karbon yang diserap oleh tumbuhan dari CO2 di udara yang diserap dalam proses reaksi penyerapan energi
(Berrie et al. 1987). Hasil pengukuran kadar karbon penelitian ini disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Rata-rata Kadar Karbon Pada Berbagai Bagian Pohon.
Jenis Bagian Pohon Rata-rata
Pangkal Ujung Bscp Cabang Ranting Daun Kulit
Keruing 49,70% 41,40% 39,54% 39,17% 34,05% 25,21% 26,13% 33,04% Bangkirai 50,52% 43,68% 41,67% 39,27% 36,56% 27,48% 29,16% 35,18% Resak 49,89% 42,26% 42,59% 37,72% 28,98% 27,33% 30,87% 35,16% Meranti Merah 49,53% 43,81% 41,44% 37,63% 32,33% 27,88% 27,77% 35,04% Meranti Kuning 48,20% 42,72% 40,24% 39,96% 32,18% 26,88% 35,33% 38,63% Nyatoh 46,23% 44,96% 41,96% 41,56% 32,71% 31,99% 25,80% 32,90% Mersawa 46,23% 44,20% 40,97% 42,94% 28,71% 28,11% 34,67% 38,08% Benuang 47,61% 43,76% 43,22% 39,31% 32,51% 24,76% 26,98% 34,36% Ubar 41,73% 41,45% 43,59% 42,11% 41,11% 30,61% 33,04% 37,39% Kumpang 44,96% 42,82% 42,69% 41,40% 36,03% 27,60% 32,07% 36,77% Medang 44,64% 42,76% 41,55% 36,34% 33,00% 30,17% 35,63% 39,20% Sawang 44,81% 43,86% 40,61% 40,52% 33,74% 27,93% 27,24% 34,76% Ulin 48,93% 41,81% 43,78% 39,89% 34,82% 31,16% 29,23% 38,05% Rata-rata 47,15% 43,04% 41,84% 39,83% 33,60% 28,24% 30,30% Keterangan :Bscp (Batang setelah cabang pertama)
Tabel 9 menyajikan data hasil pengujian kadar karbon pada berbagai bagian pohon. Rata-rata kadar karbon tertinggi adalah 47,15% pada bagian pangkal batang dan terendah pada bagian daun yaitu 28,24%.
Berdasarkan hasil pengujian pada berbagai bagian pohon selang kadar karbon 28,24% - 47,15%. Pada bagian batang ujung, batang setelah cabang pertama, cabang, ranting, dan kulit, secara berurutan memiliki kadar karbon 43,04%, 41,84%, 39,83%, 33,60%, dan 30,30%. Kadar karbon pada bagian paling ujung pohon sampai bagian pangkal batang mengalami peningkatan kadar karbon berbanding terbalik dengan kadar zat terbang yang mengalami penurunan.
Rata-rata kadar karbon pada setiap jenis pohon dihitung bedasarkan perbandingan jumlah karbon setiap sampel pohon terhadap jumlah biomasanya. Rata-rata kadar karbon tertinggi adalah Medang (Litsea firma) sebesar 39,20% dan terendah adalah Nyatoh (Palaquium sp.) 32,90%.
5.7 Analisis Data
5.7.1 Uji t-student Kadar Karbon Bagian Pohon
Uji kadar karbon telah dilakukan baik pada bagian-bagian pohon maupun jenis pohon dengan analisis uji t-student. Tabel 10 merupakan hasil uji t-student kadar karbon berdasarkan bagian pohon.
Tabel 10. Uji T-Student Kadar Karbon Bagian Pohon.
Bscp Cabang Ranting Kulit Daun
Batang 9,25 10-06** 1,5 10-08** 6,02 10-10** 8,22 10-19** 6,07 10-24** Bscp 0,033132* 7,8 10-06** 2,87 10-17** 1,13 10-28** Cabang 0,00053** 4,43 10-15** 1,38 10-24**
Ranting 3,31 10-13** 7,06 10-21**
Kulit 0,017682*
Keterangan : Bscp (Batang setelah cabang pertama) ** berbeda sangat nyata (p < 0,01) *berbeda nyata (p 0,01- 0,05)
tn
tidak berbeda nyata (p > 0,05)
Dapat diketahui dari Tabel 10, pada masing-masing uji bagian pohon menunjukan kadar karbon pada bagian pohon berbeda sangat nyata kecuali pada bagian batang setelah cabang pertama dengan cabang dan bagian kulit dengan daun menunjukan perbedaan yang nyata.
5.7.2 Uji T-Student Kadar Karbon Tingkat Vegetasi
Uji t-student kadar karbon berdasarkan tingkat vegetasi disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Uji T-Student Kadar Karbon Tingkat Vegetasi.
Tiang Pohon
Pancang 0.032437* 0.001531**
Tiang 1.33 10-05**
Keterangan : ** berbeda sangat nyata (p < 0,01) *berbeda nyata (p 0,01- 0,05)
tn
tidak berbeda nyata (p > 0,05)
Berdasarkan tingkat vegetasi pada tingkat pancang, tiang, dan pohon di uji t-student. Pada Tabel 11 dapat diketahui bahwa hasil uji t-student pada tingkat pancang dan tiang kadar karbon berbeda nyata, sedangkan pancang terhadap pohon dan tiang terhadap pohon menunjukan kadar karbon sangat berbeda nyata.
5.7.3 Uji T-Student Kadar Karbon Jenis Pohon
Pada Tabel 12 disajikan hasil uji t-student kadar karbon berdasarkan jenis. Tabel 12. Uji T-Student Kadar Karbon Berdasarkan Jenis.
Bangkirai Resak Meranti Merah
Meranti
Kuning Nyatoh Mersawa Benuang Ubar Kumpang Medang Sawang Ulin
Keruing 0.28tn 0.51 tn 0.49 tn 0.81tn 0.35tn 0.36tn 0.44tn 0.91 tn 0.75 tn 0.37tn 1.00tn 0.39tn Bangkirai 0.36 tn 0.29 tn 0.43tn 0.92tn 0.87tn 0.75tn 0.40 tn 0.68 tn 0.07tn 0.36tn 0.90tn Resak 0.99tn 0.78tn 0.64tn 0.69tn 0.67tn 0.61 tn 0.92 tn 0.08tn 0.61tn 0.64tn Meranti Merah 0.78tn 0.60tn 0.68tn 0.69tn 0.66 tn 0.94 tn 0.12tn 0.60tn 0.70tn Meranti Kuning 0.46tn 0.48tn 0.58tn 0.78 tn 0.91 tn 0.19tn 0.76tn 0.45tn Nyatoh 0.88tn 0.78tn 0.39 tn 0.62 tn 0.01* 0.16tn 0.95tn Mersawa 0.91tn 0.38 tn 0.60 tn 0.04* 0.18tn 0.99tn Benuang 0.40 tn 0.73 tn 0.02* 0.31tn 0.90tn Ubar 0.66tn 0.61tn 0.88tn 0.42tn Kumpang 0.18tn 0.68tn 0.61tn Medang 0.18tn 0.03* Sawang 0.28tn
Keterangan : ** berbeda sangat nyata (p < 0,01) *berbeda nyata (p 0,01- 0,05)
tn
tidak berbeda nyata (p > 0,05)
Uji t-student dilakukan juga berdasarkan jenis pohon yang diteliti. Pada Tabel 12 menunjukan bahwa pada setiap jenis pohon kadar karbon yang dimiliki relatif tidak berbeda nyata dimana nilai p > 0,05. Hasil uji yang berbeda nyata diketahui hanya pada uji jenis Medang (Litsea firma) dengan Nyatoh (Palaquium sp.), Medang (Litsea firma Hook.f.) dengan Mersawa (Anisoptera marginata), Medang (Litsea firma) dengan Benuang (Octomeles sumatrana), dan Medang (Litsea firma) dengan Ulin (Eusideroxylon zwageri).
5.8 Model Persamaan
5.8.1 Model Persamaan Pendugaan Biomasa
Dari hasil pengukuran di lapangan dan di laboratorium dapat diketahui biomasa dari pohon contoh uji yang diambil. Pada Tabel 13 disajikan persamaan pendugaan kandungan biomasa yang disusun berdasarkan hubungan biomasa dengan diameter setinggi dada (dbh) dan biomasa dengan dbh dan tinggi bebas cabang. Bentuk persamaan yang dibuat adalah persamaan dengan satu peubah yaitu W = aDbatau Log W = Log a + b Log D dan persamaan dengan dua peubah W = aDbHc atau Log W = Log a + b Log D + c Log H. Pada persamaan tersebut W adalah biomasa dalam satuan kilogram (kg), D merupakan dbh (cm), dan H (m) merupakan tinggi bebas cabang, sedangkan a, b, dan c merupakan konstanta.
Tabel 13. Model Persamaan Pendugaan Biomasa.
Model Persamaan S R-Sq(adj) P
Pohon W =1,336595516546446 D 1,92 0,237488 87,10% 0 W =1,492794409579 D1,88 H0,039 0,239731 86,90% 0 Batang W =0,0223872113856834 D 2,92 0,281523 92,00% 0 W =0,0524807460249772 D1,99 H0,862 0,226526 94,80% 0 Bscp W =0,0173780082874938 D 2,35 0,413076 60,90% 0 W =0,012882495516931D2,22 H0,285 0,419995 59,60% 0 Cabang W =0,0000407380277804112 D 4,07 0,5989 63,70% 0 W =0,000467735141287198 D5,9 H-3,32 0,551353 69,20% 0 Daun W =0,485288500162121 D 0,663 0,152995 66,30% 0 W =0,651628394060843 D0,343 H0,296 0,143202 70,50% 0 Ranting W =0,444631267469109 D 0,709 0,133979 74,70% 0 W =0,518800038928961 D0,543H0,153 0,132287 75,30% 0 Kulit W =2,52929799644614 D 1,37 0,403434 54,60% 0 W =2,333458062281 D1,46H-0,081 0,408673 53,40% 0 Keterangan : Bscp (Batang setelah cabang pertama)
R-Sq(adj) = Koefisien determinasi P = Taraf nyata
S = Simpangan baku
Pada Tabel 13 dapat diketahui persamaan pendugaan kandungan biomasa yang dibentuk adalah persamaan pendugaan biomasa pohon, batang bebas cabang, batang setelah cabang pertama, cabang, ranting, kulit, dan daun. Masing-masing persamaan terdapat dua model hubungan antara biomasa (kg) dengan diameter (cm) dan biomasa (kg) dengan dbh (cm) dan tinggi bebas cabang (m).
Persamaan dengan peubah bebas diameter W = aDb memiliki koefisien determinasi adjusment (R-Sq(adj)) 54,60%-92,00%, sedangkan persamaan dengan dua peubah bebas diameter W = aDbHc memiliki koefisien determinasi (R- Sq(adj)) 53,40% - 94,80%.Pada Tabel 13 dapat diketahui nilai P < 0,005 hal ini menunjukan bahwa persamaan W = aDb dan W = aDbHc dapat diterima karena peubah bebas memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap biomasa.
Dengan model persamaan penduga biomasa seluruh pohon W = aDb dan W = aDbHc, berdasarkan nilai koefisien determinasi adjusment persamaan yang lebih layak digunakan adalah W= 1,336595516546446 D1,92 (R-Sq(adj) = 87,10%) karena koefisien determinasi adjusment (R-Sq(adj)) lebih besar dari pada model persamaan W = 1,492794409579 D1,88 H0,039(R-Sq(adj) = 86,90%).
5.8.2 Model Persamaan Pendugaan Massa Karbon
Seperti halnya model persamaan biomasa, persamaan massa karbon dibuat model hubungan antara jumlah karbon (kg) dengan dbh (cm) dan jumlah karbon (kg) dengan dbh (cm) dan tinggi bebas cabang (m). Persamaan yang dibuat adalah persamaan dengan satu peubah yaitu C = aDbatau Log C = Log a + b Log D dan persamaan dengan dua peubah C = aDbHc atau Log C = Log a + b Log D + c Log H.
Tabel 14 . Model Persamaan Pendugaan Massa Karbon.
Model Persamaan S R- Sq(adj) P
Pohon C=0,324339617349349D 2,06 0,240569 88,50% 0 C=0,3749730022454835D1,92H0,129 0,242099 88,30% 0 Batang C =0,00891250938133746D 2,97 0,279803 92,30% 0 C =0,0208929613085404D2,06H0,841 0,227527 94,90% 0 Bscp C =0,00549540873857625D 2,44 0,418483 62,10% 0 C =0,00407380277804112D2,3H0,3 0,425324 60,90% 0 Cabang C =0,0000181970085860998D 4,03 0,598452 63,30% 0 C =0,000218776162394955D5,9H-3,38 0,548425 69,20% 0 Daun C =0,137088176616485D 0,661 0,157127 64,90% 0 C =0,184926861897808D0,338H0,299 0,147494 69,10% 0 Ranting C =0,148936107771091D 0,709 0,146217 71,20% 0 C =0,176603782068616D0,522H0,172 0,144114 72,00% 0 Kulit C =0,756832895020974D 1,37 0,395062 55,80% 0 C =0,693425806016569D1,47H-0,087 0,40013 54,60% 0 Keterangan : Bscp (Batang setelah cabang pertama)
R-Sq(adj) = Koefisien determinasi P = Taraf nyata
S = Simpangan baku
Pada Tabel 14 persamaan pendugaan massa karbon dengan peubah bebas dbh (cm) C = aDb memiliki koefisien determinasi adjusment (R-Sq(adj)) yaitu 55,80% - 92,30% sedangkan persamaan dengan dua peubah bebas diameter C = aDbHc memiliki koefeisen determinasi (R-Sq(adj)) 54,60% - 94,90%.
Model persamaan pendugaan massa karbon dengan koefisien determinasi yang cukup besar dapat diterima dan pada masing-masing model nilai P < 0,005, dimana peubah bebasnya sangat berpengaruh nyata terhadap jumlah karbon yang diduga.
Untuk memilih model terbaik dalam rangka menghitung massa karbon pohon dilakukan dengan membandingkan nilai koefisien determinasi adjustment (R-Sq(adj)). Diantara model C = aDb menunjukkan keeratan hubungan massa
karbon pohon dengan peubah bebas diameter yang lebih baik dibandingkan dengan model C = a DbHc. Dengan demikian model terbaik yang dipilih adalah C = aDb dengan persamaan yang memiliki R-Sq(adj) = 88,50% dari pada model C = a DbHc yaitu C =0,324339617349349 D2,06.
5.9 Potensi Tegakan Hutan Hutan Hujan Tropis
Dari hasil inventarisasi tegakan pada lokasi pengamatan Plasma Nutfah, TPN LOA 1983, tengah antara ujung jalan sarad dan TPN LOA 1983, dan ujung jalan sarad LOA 1983, pada tabel 15 dibawah ini dapat diketahui jumlah potensi tegakan tingkat pancang, tiang, dan pohon setiap hektarnya.
Tabel 15. Potensi Tegakan (Jumlah Individu/Ha) Berdasarkan Tingkat Vegetasi.
Lokasi Pengamatan Jumlah
Pancang Tiang Pohon
Plasma Nutfah (Hutan Primer) 4192 252 136
TPN LOA 1983 3136 204 92
Antara TPN&Ujung Jalan Sarad LOA 1983 2208 152 71
Ujung Jalan Sarad LOA 1983 1584 140 99
Pada Tabel 15 diketahui lokasi pengamatan Plasma Nutfah memiliki potensi yang paling besar yaitu pancang 4192 individu/Ha, tiang 256 individu/Ha, dan pohon 135 individu/Ha. Sedangkan pada lokasi pengamatan blok tebangan LOA 1983 jumlah potensi paling rendah pada tingkat pancang terdapat di sekitar ujung jalan sarad yaitu 1584 individu/Ha dan tertinggi adalah di sekitar TPN 3136 individu/Ha. Hal ini diakibatkan keterbukaan bekas TPN, sehingga permudaan dapat melakukan fotosintesis dengan baik dari cahaya yang masuk.
Pada tingkat tiang potensi paling tinggi terdapat di sekitar TPN 208 individu/Ha. Hal ini dapat juga diakibatkan keterbukaan sehingga permudaan yang tidak rusak oleh kegiatan penebangan sebelumnya dapat tumbuh dengan baik. Pada tingkat pohon di ujung jalan sarad LOA 1983 jumlah potensinya paling tinggi dibandingkan TPN dan jalan sarad yaitu 100 individu/Ha.
Dari hasil inventarisasi tegakan pada lokasi pengamatan plasma nutfah, di sekitar TPN LOA 1983, antara TPN dan ujung jalan sarad LOA 1983, dan ujung jalan sarad LOA 1983 disajikan pada Tabel 16 dibawah ini dapat diketahui jumlah potensi volume tegakan per-Ha pada tingkat pancang, tiang dan pohon.
Tabel 16. Potensi Volume Bebas Cabang (m3/Ha) Berdasarkan Tingkat Vegetasi. Lokasi Pengamatan Jumlah Volume (m
3
/Ha) Pancang Tiang Pohon Plasma Nutfah (Hutan Primer) 18,45 25,80 166,33
Ujung Jalan Sarad LOA 1983 8,24 14,08 77,36
Antara TPN& Ujung Jalan Sarad LOA 1983 10,11 16,87 79,87
TPN LOA 1983 16,26 20,70 84,87
Secara keseluruhan pada tingkat pancang, tiang, dan pohon di lokasi pengamatan Plasma Nutfah memiliki potensi volume bebas cabang (m3/Ha) paling tinggi yaitu pancang 18,45 m3/Ha, tiang 29,29 m3/Ha, dan pohon 165,46 m3/Ha.
Di lokasi pengamatan blok tebang LOA 1983 potensi volume bebas cabang paling besar pada setiap tingkat vegetasi adalah di sekitar TPN yaitu pancang 16,26 m3/Ha, tiang 21,61 m3/Ha dan pohon 85,85 m3/Ha. Potensi volume bebas cabang paling rendah adalah di sekitar ujung jalan sarad yaitu pancang 8,24 m3/Ha, 14,08 m3/Ha, dan 77,36 m3/Ha. Meskipun jumlah pohon lebih banyak di ujung blok dibandingkan di TPN yang jumlahnya lebih sedikit tetapi pertumbuhannya dapat lebih baik karena keterbukaan areal sehingga memiliki potensi yang lebihg tinggi.
5.10 Pendugaan Potensi Biomasa
Biomasa merupakan berat kering dari suatu mahluk hidup. Suatu tegakan dapat dihitung jumlah biomasanya dengan persamaan biomasa per pohon yang telah didapatkan. Hasil perhitungan potensi biomasa tegakan penelitian ini disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Dugaan Potensi Biomasa (Kg/Ha) Di Atas Permukaan Tanah. Tingkat Pertumbuhan Plasma Nutfah (Hutan Primer) Ujung Jalan Sarad LOA 1983 Antara TPN&Ujung Jalan Sarad LOA 1983 TPN LOA