IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Lokasi Usaha
Keadaan umum pada usaha pemindangan Home Industri “Mutiara Laut” dapat dilihat dari sejarah dan perkembangan usaha, lokasi usaha,serta struktur organisasi dari Home Industry “Mutiara Laut”. Tujuan dari melihat keadaan umumsuatu perusahaan yaitu agar mengenal lebih dalam mengenai perusahaan tersebut.
4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Tempat Usaha
Mutiara laut merupakan salah satu agen pengelolah ikan yang memproduksi olahan ikan pindang yang belokasi di Dusun Sendang Biru RT. 03 RW. 01, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Mutiara laut merupakan usaha rumahan atau biasa dikenal sebagai Home Industri. Mutiara laut didirikan mulai tahun 1989 oleh Bapak Sumaji, hingga saat ini Pak Sumaji yang menjadi pemilik tunggal usaha Home Industri “Mutiara Laut”
Awal mulanya, saat Bapak Sumaji menduduki bangku SMA sudah bekerja di tempat pemindangan, sehingga Bapak Sumaji sudah memperoleh pengalaman dalam usaha pemindangan yang cukup. Hingga tahun 1982 Bapak Sumaji memilih merantau untuk mencari penglaman kerja yang lain. hingga pada tahun 1989 beliau berfikir untuk membuka usaha sendiri yaitu usaha pemindangan. Bapak Sumaji memilih usaha pemindangan karena melihat potensi perikanan tangkap yang ada di Sendang Biru cukup banyak. Melimpahnya hasil tangkapan ikan yang didaratkan setiap harinya ditambah dengan jangka waktu berlayarnya kapal yang tidak sebentar, tidak menutup kemungkinan terdapat ikan yang sudah tidak segar lagi saat didaratkan di TPI
namun masih layak konsumsi. Karena hal tersebut, Bapak Sumaji mulai memiliki pemikiran untuk membuka usaha pemindangan dengan tujuan memberi daya simpan ikan yang lebih lama dengan cita rasa khas ikan pindang, sehingga ikan yang sudah tidak segar dapat diolah kembali menjadi ikan yang dapat dikonsumsi dan tentunya dapat menambah nilai ekonomis serta daya simpan yang cukup lama untuk ikan itu sendiri.
Pemilihan nama usaha menjadi Mutiara Laut karena pada dasarnya usaha ini kan berasal dari pantai, maka pendapatan yang didapat juga berasal dari laut. Kata mutiara sendiri adalah suatu benda yang berasal dan identik dengan laut. Mutiara sendiri memiliki keindahan yang sangat memukau dan memiliki . Dari situlah Bapak Sumaji menetapkan usahanya bernama “Mutiara Laut” agar usahanya tetap bersinar seperti keindahan mutiara.
4.1.2 Lokasi Tempat Usaha
Pemilihan lokasi suatu oranisasi atau perusahaan akan mempengaruhi resiko dan keuntungan perusahaan tersebut secara keseluruhan, mengingat lokasi sangat mempengaruhi biaya tetap maupun biaya variabel, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang. Dalam situasi persaingan, faktor lokasi dapat menjadi faktor-faktor kritis yang mmbuatnya sangat penting agar usaha yang dijalankan dapat bersaing secara efektif. Lokasi usaha haruslah strategis dan mudah dijangkau. Pemilihan lokasi yang tepat seringkali menentukan kesuksesan suatu usaha (Wahyudi dan Efreda, 2014).
Gambar 2. Lokasi Usaha Home Industri “Mutiara Laut”
Sumber : Home industri “Mutiara Laut” (2017)
Lokasi tempat usaha merupakan suatu hal penting yang harus dipertimbangkan bagi suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan penentuan lokasi yang tepat untuk mempermudah dan menunjang jalannya proses produksi dalam suatu pabrik atau perusahaan. Maka, Home Industri “Mutiara Laut” menentukan lokasi yang strategis dalam menjalankan usaha pemindangan sesuai dengan proses produksinya. Penentuan lokasi Mutiara Laut dengan mempertimbangkan jarak antara penyedia bahan baku dengan lokasi usaha, tempat pembuangan limbah, transportasi yang digunakan, akses jalan yang memadai, serta tenaga kerja. Mutiara Laut berlokasi di Dusun Sendang Biru RT. 03 RW. 01, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
Berbagai faktor sebaga penentu pertimbangan penentu lokasi oleh Home Industri “Mutiara Laut” yaitu :
a. Ketersediaan bahan baku, yakni kemudahan dalam mendapatkan bahan baku oleh Mutiara Laut untuk proses produksi. Kemudahan dikarenakan dekatnya sumberdaya alam dengan tempat usaha dan banyaknya nelayan yang menyediakan bahan baku.
b. Ketersediaan tenaga kerja, yakni banyaknya masyarakat sekitar yang dapat direkrut bekerja di tempat usaha pemindangan karena masyarakat yang kurang menempuh pendidikan serta banyaknya masyarakat yang pengangguran. Karena hal tersebut dapat memudahkan dalam pencarian tenaga kerja untuk usaha pemindangan Home Industri “Mutiara Laut”.
c. Transportasi, yakni pada Home Industri “Mutiara Laut” memiliki banyak akses transportasi dalam hal pengiriman maupun pengadaan bahan baku untuk mempermudahkan proses produksi.Mudahnya akses transportasi ini juga dapat menghemat dan memudahkan proses produksi serta proses pemasaran produknya.
d. Tempat pembuangan limbah, yakni pada Home Industri “Mutiara Laut” membutuhkan pembuanga limbah yang tepat agar tidak mengganggu masyarakat sekitar. Terdapat suatu goa yang berdekatan dengan tempat usaha sehingga dapat memudahkan pengusaha dalam proses pembuangan limbah serta limbah tersebut tidak bisa mengganggu kegiatan masyarakat sekitar.
Kegiatan pemasaran pada produk ikan pindang di Home Industri “Mutiara Laut” dilakukan setiap hari selama itu tersedia bahan baku dari tempat pelelangan ikan (TPI) ataupun bahan baku yang berasal dari sortiran pabrik- pabrik. Kegiatan pengiriman produk ikan pindang dilakukan setelah magrib atau sekitar pukul 18.00 WIB. Proses pengiriman dilakukan menggunakan truck engkel jika produksi ikan pindang banyak, namun jika produksi ikan pindang sedikit hanya menggunakan mobil pick up. Pada proses pengiriman ikan pindang ditutupi menggunakan terpal agar disaat pengiriman produk ikan pindang tersebut tetap higienis tidak terkena debu-debu saat perjalanan. Ketika proses pengiriman barang pemilik usaha menggeluarkan biaya sebesar Rp. 250.000 jika
Biaya tersebut digunakan untuk biaya solar dan uang makan untuk sopir. Produk ikan pindang sampai di Pasar Gadang sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah produk ikan pindang sampai di Pasar Induk Gadang, produk ikan pindang langsung diturunkan oleh pegawai supplier (pedagang besar). Kemudian kemasan produk ikan pindang dibuka satu persatu karena supplier (pedagang besar) menjualkan produk ikan pindang secara eceran kepada para pengepul (pedagang kecil) dan kepada konsumen. Pembayaran untuk pengiriman dilakukan secara kash, dimana sopir pengirim barang menunggu produk ikan pindang tersebut terjualkan semua.
Setelah supplier (pedagang besar) telah menjualkan produknya kepada pengepul (pedagang kecil), selanjutnya pengepul (pedagang kecil) akan menjualkan produk ikan pindang tersebut dengan cara memotong-motong ikan pindang menjadi kecil yang kemudian akan dijualkan kepada konsumen. Hal tersebut dikarenakan agar konsumen lebih tertarik untuk membeli produk ikan pindang karena produk tersebut lebih simple karena konsumen dapat langsung mengolah ikan pindang tersebut tanpa harus memotong-metong kembali ikan pindang tersebut. Selain itu pengepul (pedagang kecil) juga mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dengan memotong ikan pindang tersebut dibandingkan dengan menjual ikan pindang dalam keadaan utuh.