• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejahtera Tahap II 19% Sejahtera Tahap III 2% Kecamatan Lakudo Pra Sejahtera 47% Sejahtera Tahap I 30% Sejahtera Tahap II 20% Sejahtera Tahap III 3%

Gambar 19. Gambaran Keadaan Kesejahteraan Keluarga Dua Kecamatan, Diolah 2006

4.2. Keadaan Umum Perikanan Laut Daerah Penelitian 4.2.1. Nelayan

Nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan di sekitar Wilayah Perairan Teluk Lasongko (WPTL) adalah nelayan domisili yang terdiri atas nelayan asli dan nelayan pendatang. Nelayan asli merupakan penduduk setempat yang telah turun temurun berprofesi sebagai nelayan atau karena kondisi tertentu beralih menjadi nelayan. Adapun nelayan pendatang umumnya berasal dari

sentra- sentra perikanan seperti Mawasangka, Kota Bau-Bau, Dobo dan Bugis yang kemudian menetap dan berdomisili di Wilayah Perairan Teluk Lasongko.

Selama periode Tahun 1995 sampai dengan 2005, jumlah nelayan pada Wilayah Perairan Teluk Lasongko berfluktuatif dengan kecenderungan yang semakin menurun. Jumlah nelayan terbanyak terjadi pada tahun 2000 yaitu sebanyak 1.943 orang dan ter rendah terjadi pada tahun 2002 yaitu sebanyak 1.721.orang. Penurunan terbanyak terjadi antara tahun 2001 sampai dengan 2002 sebanyak 112 orang sedangkan peningkatan terbanyak terjadi antara tahun 1998 sampai dengan 1999 yaitu sebanyak 185 orang. Perkembangan jumlah nelayan secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 3, sedangkan trend perkembangan jumlah nelayan secara visuil dapat dilihat pada Gambar 20.

0 500 1000 1500 2000 2500 1995 1997 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Ju m la h ( o r a n g)

Mawasangka Timur Lakudo WPTL

Gambar 20. Grafik Perkembangan Jumlah Nelayan, Diolah 2006

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari responden dan informan kunci ( pejabat yang kompeten di tingkat kecamatan dan kabupaten) diperoleh

penjelasan bahwa peningkatan terbanyak terjadi karena penduduk asli yang merantau sebagai tenaga kerja di Kepulauan Maluku melakukan eksodus kembali ke daerah asal akibat kerusuhan Ambon yang terjadi pada pertengahan tahun 1998. Sedangkan penurunan terbanyak terjadi akibat terjadinya eksodus

penduduk asli menjadi tenaga kerja di perantauan, baik sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia dan Singapura, maupun sebagai Tenaga Kerja Domestik ke Wilayah Barat yaitu Pulau Sumatera dan Kalimantan (utamanya Balikpapan dan Nunukan) serta ke Bagian Timur yaitu Kepulauan Maluku

(utamanya Ambon) dan Pulau Papua (utamanya Timika, Fak - Fak dan Jayapura).

4.2.2. Armada Penangkapan Ikan

Armada penangkapan yang digunakan oleh nelayan dalam kegiatan

penangkapan ikan pada Wilayah Perairan Teluk Lasongko terdiri dari sampan dan perahu. Sampan dan perahu terbuat dari kayu berkualitas tinggi seperti mahoni dan jati yang diperoleh dari Makassar dengan harga bervariasi. Sampan dengan muatan 4-5 orang dijual antara Rp.700.000,00 sampai dengan Rp.1.500.000,00. Perahu dengan muatan 6-10 orang dijual antara Rp. 1.000.000,00 sampai dengan Rp.3.000.000,00. Panjang sampan antara 4 sampai dengan 9 meter dengan lebar antara 0.60 sampai dengan 1.00 meter sedangkan panjang perahu antara 10 sampai dengan 16 meter dengan lebar antara 1.00 sampai dengan 1.75 meter.

Baik sampan maupun perahu dapat dilengkapi dengan mesin tempel yang dikenal oleh para nelayan dengan sebutan “katinting”, yaitu motor tempel dari berbagai merek seperti Kubota dan Yanmar dengan kekuatan tenaga 5-10 pk. Harga motor tempel bervariasi antara Rp.8.000.000,00 sampai dengan Rp.15.000.000,00. Mesin tempel tersebut diperoleh dengan cara membeli pada toko yang berada di ibu kota Kabupaten secara tunai atau melalui bantuan dari pihak ke tiga.

Selama periode Tahun 1995 sampai dengan 2005, jumlah total armada penangkapan yang beroperasi pada Wilayah Perairan Teluk Lasongko

berfluktuatif dengan kecenderungan yang semakin meningkat. Secara nominal terjadi peningkatan sebesar 22 unit selama periode Tahun 1995 sampai dengan 2005. Jumlah armada penangkapan terbanyak terjadi pada tahun 2004, yaitu sebesar 543 unit dan ter rendah terjadi pada tahun 1998, yaitu sebanyak 472 unit. Peningkatan terbanyak terjadi antara tahun 1998 – 1999, yaitu sebanyak 43 unit sebagai akibat dari peningkatan jumlah Sampan pada periode yang sama sebanyak

29 unit dari 296 unit pada tahun 1998 menjadi 325 unit pada tahun 1999.

Peningkatan jumlah Sampan/Perahu Dengan Motor Tempel sebanyak 14 unit dari 176 unit pada tahun 1998 menjadi 190 unit pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi antara tahun 1999 - 2000 sebanyak 22 unit sebagai akibat dari penurunan jumlah Sampan pada tahun 2000 sebanyak 15 unit dari 325 unit pada tahun 1999 menjadi 310 unit pada tahun 2000 serta penurunan jumlah Sampan/Perahu Dengan Motor Tempel sebanyak 7 unit dari 190 unit pada tahun 1998 menjadi 183 unit pada tahun 1999. Perkembangan jumlah armada penangkapan secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 4., sedangkan perkembangan jumlah armada penangkapan secara visuil dapat dilihat pada Gambar 21.

0 50 100 150 200 250 300 350 19951996199719981999200020012002200320042005 Tahun Ju m la h ( u n it ) Sampan/Perahu (Mawasangka Timur) Sampan/Perahu Dgn Motor Tempel Mawasangka Timur) Sampan/Perahu (Lakudo) Sampan/Perahu Dgn Motor Tempel (Lakudo) Sampan/Perahu (WPTL) Sampan/Perahu Dgn Motor Tempel (WPTL)

Gambar 21. Grafik Perkembangan Jumlah Armada Penangkapan, Diolah 2006.

Analog dengan penjelasan tentang perkembangan jumlah nelayan sebelumnya, penjelasan terhadap fluktuasi perkembangan jumlah armada penangkapan oleh responden dan informan kunci menyatakan bahwa pola peningkatan jumlah armada penangkapan juga dipengaruhi oleh peningkatan jumlah eksodus korban kerusuhan Ambon yang masuk dalam kegiatan

penangkapan di sekitar Wilayah Perairan Teluk Lasongko, namun dengan sifat insidentil (sementara) sehingga trend perkembangan jumlah armada penangkapan

selama periode Tahun 1998 sampai dengan 2000 menunjukkan kenaikan kemudian menurun.

4.2.3. Alat Penangkapan Ikan

Selama periode Tahun 1995 sampai dengan 2005 jenis alat penangkapan yang digunakan oleh nelayan dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan laut pada Wilayah Perairan Teluk Lasongko adalah pancing, bubu serta jaring insang dasar. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari responden dan informan kunci, klasifikasi alat tangkap pancing yang dominan digunakan adalah pancing ulur dan pancing tonda; alat tangkap bubu yang dominan adalah bubu dasar serta alat tangkap jaring insang yang dominan adalah jaring insang dasar.

Jumlah alat penangkapan yang digunakan oleh nelayan Wilayah Pesisir Teluk Lasongko dalam melakukan kegiatan penangkapan selama periode Tahun 1995 sampai dengan 2005 berfluktuatif dengan kecenderungan yang semakin meningkat, sebesar 46 unit dari 614 unit pada tahun 1995 menjadi 660 unit pada tahun 2005. Jumlah alat penangkapan terbanyak, terjadi pada tahun 2005 yaitu sebanyak 660 unit dan ter rendah terjadi pada tahun 2001 yaitu sebanyak 529 unit. Peningkatan terbanyak terjadi antara tahun 2002 sampai dengan 2003 sebanyak 87 unit sedangkan penurunan terbanyak terjadi antara tahun 1999 sampai dengan 2000 yaitu sebanyak 37 unit. Secara berturut-turut kontribusi alat tangkap selama periode 1995 sampai dengan 2005 adalah : pancing (46,71 %), jaring insang dasar (39,30 %) dan bubu (13,99 %). Perkembangan jumlah alat tangkap secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 5., sedangkan trend perkembangan jumlah alat tangkap secara visuil dapat dilihat pada Gambar 22.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari responden, alat penangkapan ikan laut yang dominan digunakan pada Wilayah Perairan Teluk Lasongko dalam melakukan penangkapan target species : ikan lencam adalah berturut – turut adalah bubu, jaring insang dasar kemudian pancing. Dalam penelitian ini alat tangkap yang akan diamati adalah dua alat tangkap dominan yaitu bubu dan jaring insang dasar, sedangkan alat tangkap pancing tidak di amati mengingat alat

0 100 200 300 400 500 600 700 800 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun J u m la h ( uni t)

Pancing (WPTL) Jaring Insang Dasar (WPTL) Payang (WPTL) Bubu (WPTL)

Bagan (WPTL) Total Alat Penangkapan (WPTL)

Gambar 22. Grafik Perkembangan Jumlah Alat Tangkap, Diolah 2006.

ini memiliki bias karena sebagian besar nelayan melakukan penangkapan dengan memancing karena alasan bukan produksi (rekreasi).

4.3. Model Statik Bio-economic Gordon-Schaefer Upaya Pemanfaatan Ikan

Dokumen terkait