• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. KEADAAN UMUM

4.2 Keadaan Umum Perikanan Tangkap

(1) Armada

Armada penangkapan ikan yang beroperasi di Kabupaten Pandeglang terdiri dari perahu tanpa motor (PTM), perahu motor tempel (PMT), dan kapal motor (KM). Total armada penangkapan ikan di kabupaten ini pada tahun 2005 berjumlah 777 unit, meliputi PTM sebanyak 156 unit (20,1%), PMT sebanyak 115 unit (14,8%), dan KM sebanyak 602 unit (65,1%) (Anonymous, 2005b).

Pada periode 2001-2005, perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Pandeglang secara keseluruhan adalah berfluktuasi dengan kecenderungan menurun sampai dengan tahun 2003, untuk kemudian meningkat kembali sejak tahun 2004. Bentuk kurva perkembangan jumlah armada tersebut cenderung mengikuti bentuk persamaan polinomial ber-ordo tiga y = 70,333x3 - 422633x2 + 8E8x - 6E11 ; dengan y = jumlah armada penangkapan ikan pada tahun x (unit) dan x = tahun (Gambar 1).

Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2003 dengan nilai negatif 48,2%; sedangkan tertinggi dengan nilai pertumbuhan positif 32,4% terjadi pada tahun 2002.

Perkembangan armada penangkapan ikan jenis PTM pada periode 2001-2005 cenderung mengikuti pola perkembangan seluruh armada penangkapan di atas; akan tetapi armada PMT cenderung terus mengalami penurunan terutama penurunan yang cukup besar pada tahun 2003 (-45%). Untuk armada jenis kapal motor (KM), terutama kapal motor 5-10 GT, setelah menurun pada tahun 2002, jumlahnya mulai meningkat secara tajam pada tahun 2003.

Selama periode 2001-2005 tersebut, penurunan jumlah armada PMT yang cukup besar, telah diimbangi dengan peningkatan jumlah armada KM dengan teknologi yang lebih baik. Hal tersebut sejalan dengan pengembangan skala usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten ini dengan memperbesar kapasitas dan teknologi armada penangkapan ikan. Jumlah armada penangkapan ikan Kabupaten Pandeglang, selama periode 2001-2005, disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah Armada Penangkapan Ikan Kabupaten Pandeglang Periode 2001-2005

KM (GT) Tahun PTM (unit) (unit) PMT

0 - 5 5 - 10 Jumlah (unit) Pertumbuhan (%) 2001 149 258 565 37 1.009 - 2002 447 220 620 28 1.315 30,3 2003 148 121 398 75 742 -43,6 2004 156 115 422 84 777 4,7 2005 156 115 422 84 777 0,0 Kisaran 148 - 447 115 - 258 389 - 620 28 - 84 667 - 1.287 -48,2 - 32,4 Median - - - - - 2,4 Rata-rata - - - - - -2,1 Sumber : Anonymous, 2005b

y = 70,333x3 - 422633x2 + 8E+08x - 6E+11 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Ju m lah A rm ad a ( u n it )

Gambar 1 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Kabupaten Pandeglang Periode 2001-2005

Tabel 7 Jumlah Armada Penangkapan Ikan Kabupaten Pandeglang di setiap PPI pada Tahun 2005

KM (GT) PPI PTM (unit) PMT (unit)

0 - 5 ≥ 5 Jumlah (unit) 1. Labuan 22 5 208 40 275 2. Sidamukti 8 - 115 24 147 3. Carita 12 76 12 - 100 4. Sumur 46 2 10 10 68 5. Panimbang 16 - 34 10 60 6. Tamanjaya 29 4 5 - 38 7. Cikeusik - 10 24 - 34 8. Sukanegara 10 18 2 - 30 9. Citeureup 13 - 12 - 25 Jumlah 777 Sumber : Anonymous, 2005b

Keterangan : PTM = perahu tanpa motor; PMT = perahu motor tempel; KM = kapal motor

Jumlah armada penangkapan ikan terbanyak di kabupaten ini pada tahun 2005, terdapat di PPI Labuan yaitu 275 unit atau sebesar 35,4% dari total armada di Kabupaten Pandeglang. Pada posisi kedua terdapat di PPI Sidamukti yaitu 147 unit (18,9%); sisanya menyebar di 7 TPI lainnya dengan kisaran 25-100 unit per PPI (Tabel 7).

(2) Alat Tangkap

Jenis-jenis alat tangkap yang terdapat di Kabupaten Pandeglang adalah beragam yaitu payang, dogol, jaring arad, pukat pantai, mini purse seine, gill net, jaring rampus, jaring klitik, bagan tancap, bagan rakit, pancing, dan beberapa alat tangkap tradisional seperti gorek dan serok (Tabel 8).

Tabel 8 Jenis dan Jumlah Alat Tangkap yang Dioperasikan di Kabupaten Pandeglang Menurut Jenis pada Tahun 2005

Jumlah

Jenis Alat Tangkap (unit) (%)

1. Pancing Rawai 212 18,3 2. Bagan Tancap 203 17,5 3. Arad 154 13,3 4. Bagan Rakit 152 13,1 5. Jaring Rampus 102 8,8 6. Gill Net 78 6,7 7. Payang 78 6,7 8. Dogol 61 5,3 9. Gorek 42 3,6

10. mini Purse Seine 34 2,9

11. Pukat Pantai 22 1,9

12. Jaring Klitik 22 1,9

13. Serok - -

Jumlah 1.160 100,0

Sumber : Anonymous, 2005b; diolah kembali

Pada tahun 2005, jenis-jenis alat tangkap dominan di kabupaten ini adalah pancing rawai sebanyak 212 unit (18,3%), bagan tancap sebanyak 203 (17,5%), arad sebanyak 154 unit (13,3%), dan bagan rakit sebanyak 152 unit (13,1%) (Gambar 2), sedangkan mini purse seine terdapat sebanyak 0,29% atau 34 unit. Serok sejak tahun 2005 tidak digunakan lagi. Pada tahun yang sama, jumlah alat tangkap yang beroperasi di Kabupaten Pandeglang terbanyak ditemukan di PPI Labuan yaitu sebanyak 409 unit (35,3% dari total unit alat tangkap yang terdapat di kabupaten ini).

Jaring Klitik 1,9% Mini Purse Seine

2,9% Pancing Rawai 18,3% Payang 6,7% Jaring Rampus 8,8% Bagan Rakit 13,1% Gill Net 6,7% Gorek 3,6% Dogol 5,3% Pancing18,3% Bagan Tancap 17,5% Arad 13,3%

Gambar 2 Sebaran Prosentase Alat Tangkap menurut Jenis yang Dioperasikan di Kabupaten Pandeglang Tahun 2005

(3) Nelayan

Nelayan di Kabupaten Pandeglang pada tahun 2005 berjumlah 5.354 jiwa yang terdiri dari nelayan lokal (4.960 jiwa) dan nelayan pendatang (394 jiwa) (Tabel 9) dan tersebar di sembilan PPI dan sekitarnya yang terdapat di daerah ini (Tabel 10). Perkembangan jumlah nelayan yang berada di Kabupaten Pandeglang selama periode 2001 - 2005 cukup berfluktuasi dengan kisaran pertumbuhan -24,5 sampai dengan 8,2 % per tahun dan cenderung mengikuti bentuk persamaan y = 100,71x2 - 403835x + 4E8 (y = jumlah nelayan Kabupaten Pandeglang pada tahun x (jiwa); x = tahun; Gambar 3); setelah mengalami penurunan sampai tahun 2003, kemudian secara perlahan mulai meningkat kembali sejak tahun 2004.

Penyebaran jumlah nelayan di kabupaten ini tidaklah merata. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan nelayan terhadap suatu PPI tertentu yang menjadi tujuannya untuk mendaratkan hasil tangkapannya. Kecenderungan ini pada umumnya berdasarkan pertimbangan kedekatan relatif jarak lokasi PPI dengan pemukiman nelayan. Pada tahun 2005, jumlah nelayan terbesar di kabupaten ini berada di PPI Labuan berjumlah 2.290 jiwa atau 42,8% dari total nelayan Kabupaten Pandeglang (sub subbab 4.1.2); yang terdiri dari 1.896 jiwa nelayan lokal (penduduk asli) dan 394 jiwa nelayan pendatang.

Tabel 9 Perkembangan Jumlah Nelayan Kabupaten Pandeglang Periode 2001-2005

Nelayan (jiwa) Tahun Lokal Pendatang Jumlah (jiwa) Pertumbuhan (%) 2001 6.002 602 6.604 - 2002 6.128 635 6.763 2,4 2003 4.712 396 5.108 -24,5 2004 5.032 495 5.527 8,2 2005 4.960 394 5.354 -3,1 Kisaran 4.712 - 6.128 394 - 602 5.108 - 6.763 -24,5 - 8,2 Median - - 5.527 -0,4 Rata-rata - - 5.871 -17,0 Simpangan 649,9 112,5 758,4 14,3

Sumber : Anonymous, 2005b; diolah kembali

y = 100,71x2 - 403835x + 4E+08 4.000 5.000 6.000 7.000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Ju m la h N el aya n (ji w a)

Gambar 3 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Jumlah Nelayan Kabupaten Pandeglang Periode 2001 - 2005

Tabel 10 Jumlah Nelayan Kabupaten Pandeglang di setiap PPI Tahun 2005 Nelayan (jiwa) PPI Lokal Pendatang Jumlah (jiwa) 1. Labuan 1.896 394 2.290 2. Carita 469 - 469 3. Sukanegara 174 - 174 4. Panimbang 651 - 651 5. Citeureup 198 - 198 6. Sidamukti 817 - 817 7. Sumur 526 - 526 8. Tamanjaya 98 - 98 9. Cikeusik 131 - 131 Jumlah 4.960 394 5.354 Sumber: Anonymous, 2005b

4.2.2 Produksi Hasil Tangkapan (1) Jenis Hasil Tangkapan

Jenis hasil tangkapan yang dapat ditemui di Kabupaten Pandeglang sangat beragam, mencapai lebih dari 47 jenis ikan. Pada tahun 2005, di kabupaten ini terdapat empat jenis hasil tangkapan dominan, berdasarkan prosentase besaran volume didaratkan yaitu mendekati, sama atau lebih besar dari 5% dari total volume produksi diperoleh: ikan tembang, tongkol, tongkol-banyar dan selar-bentong. Jenis ikan dominan berdasarkan nilai, yang diambil berdasarkan nilai jual lebih besar atau sama dengan Rp 10.000,- per kilogram yang didekati dengan nilai rasio NP/P diperoleh sebanyak tujuh jenis, yaitu kakap merah, tenggiri, kakap biasa, bawal, kerapu, cumi-cumi dan ikan kuwe (Tabel 11).

Tabel 11 Jenis Hasil Tangkapan Dominan Berdasarkan Volume dan atau Nilai Ekonomis Tinggi di Kabupaten Pandeglang Tahun 2005

Volume Produksi No. Jenis ikan

(ton) (%) Nilai Produksi (Rp juta) Rasio (NP/P) Rp/kg 1. Tembang 613,0 20,3 447,8 730,6 2. Tongkol 458,6 15,2 3.575,6 7.796,4 3. Tongkol-Banyar 221,7 7,4 1.632,2 7.361,8 4. Selar-Bentong 140,3 4,7 905,1 6.452,0 5. Cumi-cumi 112,8 3,7 1.585,3 14.052,7 6. Tengkek 81,1 2,7 335,2 4.134,6 7. Ikan Kuwe 72,5 2,4 780,3 10.760,7 8. Tenggiri 49,9 1,7 862,4 17.294,8 9. Kakap Merah 18,3 0,6 376,5 20.628,5 10. Kerapu 16,2 0,5 233,3 14.372,4 11. Bawal 6,5 0,2 97,2 14.865,8 12. Kakap Biasa 5,4 0,2 88,2 16.196,5 Jumlah 1.796,3 59,6 10.919,2 -

Sumber : Anonymous, 2005b; diolah kembali

(2) Volume dan Nilai Produksi

Total volume produksi ikan laut yang didaratkan di Kabupaten Pandeglang, tercatat di Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten ini pada tahun 2005, adalah 3.012,5 ton; dan mengalami pertumbuhan sebesar positif 26,6% dari tahun sebelumnya. Pada tahun yang sama, nilai produksinya mencapai Rp 16.210,2 juta atau mengalami pertumbuhan sebesar 30,1% dibanding tahun sebelumnya.

Perkembangan volume produksi hasil tangkapan kabupaten Pandeglang selama periode 2001-2005 sangat berfluktuasi; dengan kisaran produksi 2.177,4-3.586,7 ton per tahun dan kisaran pertumbuhan -39,3% sampai dengan 34,4% per tahun (Tabel 12). Namun secara keseluruhan kurva produksi cenderung mengikuti bentuk persamaan y = 74,29x2 - 297656x + 3E8 (y = volume produksi hasil tangkapan yang didaratkan di Kabupaten Pandeglang pada tahun x (kg); x = tahun; Gambar 4). Fluktuasi volume produksi hasil tangkapan di kabupaten ini selama periode tersebut berkesesuaian dengan fluktuasi yang terjadi pada jumlah armada penangkapan ikan yang beroperasi (sub subbab 4.2.1).

Tabel 12 Volume dan Nilai Produksi Hasil Tangkapan yang Didaratkan di Kabupaten Pandeglang Periode 2001-2005

2001 2.668,3 - 10.075,6 - 2002 3.586,7 34,4 15.539,1 54,2 2003 2.177,4 -39,3 8.839,9 -43,1 2004 2.380,2 9,3 12.460,2 41,0 2005 3.012,5 26,6 16.210,2 30,1 Kisaran 2.177,4 - 3.586,7 -39,3 - 34,4 8.839,9 - 16.210,2 -43,1 - 54,2 Median 2.668,3 17,9 12.460,2 35,5 Rata-rata 2.765,0 7,75 12.625,0 20,55

Sumber : Anonymous, 2005b; diolah kembali

Perkembangan nilai produksi hasil tangkapan kabupaten ini juga menunjukkan nilai yang sangat berfluktuasi. Hal ini dapat terlihat pada Gambar 5, kurva nilai produksi secara keseluruhan memiliki kesesuaian bentuk dengan persamaan y = 492,32x2 - 2E6x + 2E9 (y = nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Labuan pada tahun x (Rp juta); x = tahun) yang menunjukkan kecenderungan untuk meningkat sejak tahun 2004 setelah mengalami penurunan pada tahun 2003. Kisaran pertumbuhan nilai produksi hasil tangkapan pada periode 2001-2005 ini adalah berkisar dari negatif 43,1% hingga positif 54,2%. y = 74,29x2 - 297656x + 3E+08 0 1.000 2.000 3.000 4.000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun V o lum e P roduk s i ( ton)

Gambar 4 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Volume Produksi Hasil Tangkapan yang Didaratkan di Kabupaten Pandeglang Periode 2001-2005

y = 492,32x2 - 2E+06x + 2E+09 0 3.000 6.000 9.000 12.000 15.000 18.000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun N ilai P rod uk si (R p ju ta )

Gambar 5 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Nilai Produksi Hasil Tangkapan yang Didaratkan di Kabupaten Pandeglang Periode 2001-2005

4.2.3 Daerah dan Musim Penangkapan Ikan

Daerah penangkapan ikan (DPI) nelayan Kabupaten Pandeglang sebagaimana telah dikemukakan pada subbab 1.1 adalah di sekitar perairan Selat Sunda, Laut Selatan Jawa hingga ke Samudera Hindia, dan Laut Jawa (Utara); sebagaimana juga telah dinyatakan oleh Anonymous (2005b). Wilayah daerah penangkapan nelayan kabupaten ini cukup luas dan memiliki potensi sumber daya ikan yang besar untuk dikembangkan dalam usaha perikanan tangkap, terutama perairan Selat Sunda dan Samudera Hindia. Laut Jawa ditengarai sampai saat ini masih dalam kondisi overfishing terutama untuk ikan-ikan pelagis (subbab 1.1).

Penangkapan ikan di suatu DPI yang dilakukan oleh nelayan-nelayan kabupaten ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Para nelayan tersebut akan melakukan operasi penangkapan ikan di saat perairan dalam keadaan tenang. Jika cuaca tidak mendukung seperti adanya musim penghujan yang biasanya disertai badai di tengah laut, maka nelayan tidak akan berlayar dan menangkap ikan.

Musim penangkapan ikan nelayan-nelayan Kabupaten Pandeglang terbagi dalam tiga musim, yaitu musim barat, musim timur dan musim peralihan. Musim-musim ini akan berdampak kepada tingkat aktivitas melaut para nelayan dan jumlah produksi hasil tangkapannya. Adapun uraian untuk ketiga musim tersebut adalah sebagai berikut:

• Musim timur, pada musim ini aktivitas penangkapan mencapai frekuensi tertinggi sehingga menyebabkan terjadinya musim puncak pendaratan ikan yang biasanya terjadi sekitar bulan Mei sampai Agustus,

• Musim peralihan pada musim ini aktivitas penangkapan yang dilakukan nelayan berada pada frekuensi yang normal dan menghasilkan volume produksi ikan normal terjadi dalam dua kali dalam setahun, yaitu musim peralihan awal yang terjadi sekitar bulan Maret sampai April dan musim peralihan akhir yang terjadi sekitar bulan September sampai Oktober, dan

• Musim barat pada musim cuaca dalam kondisi yang buruk sehingga nelayan jarang atau bahkan sama sekali tidak pergi melaut dengan alasan keamanan dan keselamatan sehingga hal ini mengakibatkan frekuensi pendaratan ikan rendah dan disebut sebagai musim paceklik. Umumnya terjadi sekitar bulan November sampai Februari.

Ketiga musim di atas searah dengan pendapat Kurniasih (2001) yang juga menyebutkan bahwa terdapat tiga musim yang mempengaruhi tingkat aktivitas penangkapan di Laut Jawa untuk nelayan-nelayan Provinsi Jawa Tengah, yaitu musim barat, musim timur dan peralihan; walaupun terdapat pegeseran bulan-bulan terjadinya ketiga musim. Musim barat biasanya terjadi pada bulan Desember sampai Februari, musim timur terjadi pada bulan Maret sampai Mei dan musim peralihan dari kedua musim sebelumnya terjadi pada bulan Juni sampai November.

4.2.4 Prasarana dan Kelembagaan Perikanan Tangkap (1) Dinas dan PPI

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang berlokasi di Kota Pandeglang; ibukota Kabupaten Pandeglang. Dinas ini mengkoordinir seluruh PPI/TPI yang berada dalam wilayah Kabupaten Pandeglang.

Terdapat 9 PPI di Kabupaten Pandeglang yang berada di 5 kecamatan, dengan usaha perikanan tangkap yang aktif (Tabel 6 dan Tabel 9; sub subbab 4.2.1). PPI terbesar adalah PPI Labuan; ditinjau dari tingginya aktivitas pendaratan hasil tangkapan di PPI ini yang diindikasikan oleh tingginya jumlah armada penangkapan (Tabel 6) dan jumlah nelayan (Tabel 9). Kesembilan PPI tersebut adalah:

1) PPI Labuan di Kecamatan Labuan; 2) PPI Carita di Kecamatan Carita;

3) PPI Panimbang di Kecamatan Panimbang; 4) PPI Sukanagara di Kecamatan Carita; 5) PPI Citeureup di Kecamatan Panimbang; 6) PPI Sidamukti di Kecamatan Sukaresmi; 7) PPI Sumur di Kecamatan Sumur;

8) PPI Taman Jaya di Kecamatan Sumur; 9) PPI Cikeusik di Kecamatan Cikeusik.

(2) PPI Labuan

Jarak PPI Labuan dengan jalan raya sangat dekat sekitar 300 m; terlebih jarak TPI 1 Labuan dengan Pasar Labuan hanya terpisah oleh lebar badan Sungai Cipunteun Agung. Sungai ini, dengan lebar sekitar 4 m, dapat dilalui dengan bantuan perahu kecil, sehingga pemasaran ikan di pasar Labuan hingga sampai ke tangan konsumen lokal relatif singkat.

Kondisi topografi pada area pelabuhan dan sekitarnya merupakan daerah datar dengan kemiringan 0-2%. Areal yang tersedia untuk pengembangan PPI sekitar 4,3 ha, dibatasi oleh Sungai Cipunteun Agung di sebelah Selatan dan areal kebun kelapa milik swasta di sebelah Utara. Pemanfaatan lahan pada area ini telah tercampur antara daerah kerja pelabuhan dengan pemukiman penduduk (Anonymous, 2000). Pemanfaatan lahan yang telah tercampur dengan pemukiman penduduk tersebut dapat menjadi salah satu penghambat dalam pengembangan PPI ini, karena lahan yang seharusnya dapat digunakan untuk perluasan daerah kerja pelabuhan telah dipadati oleh pemukiman penduduk. Hal ini terjadi karena lahan PPI Labuan masih “terbuka” sehingga mudah dimasuki oleh para nelayan baik lokal maupun pendatang.

Pendangkalan terjadi pada muara Sungai Cipunteun Agung yang selama ini menjadi hambatan bagi kelancaran keluar masuknya kapal/perahu ke TPI 1 PPI Labuan (Anonymous, 2000). Pendangkalan yang terjadi di muara sungai ini disebabkan oleh pengendapan lumpur yang terbawa oleh aliran arus sungai menuju ke arah laut.

Kondisi fisik PPI Labuan secara umum adalah baik. PPI ini dibangun sebagai tempat pendaratan hasil tangkapan para nelayan di sekitar daerah Labuan. TPI 1 merupakan TPI lama, namun masih aktif, TPI 2 dibangun untuk menghindari pendangkalan muara Sungai Cipunteun Agung. Perbedaan peng-gunaan kedua TPI terletak pada ukuran kapal yang dapat mendaratkan ikan. Di TPI 1 hanya kapal kecil

seperti perahu tanpa motor, perahu motor tempel, dan kapal motor dengan ukuran 0-5 GT yang dapat mendaratkan hasil tangkapan, sedangkan kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di TPI 2 merupakan kapal motor dengan ukuran 5-10 GT.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola PPI Labuan, PPI ini telah memiliki sarana telekomunikasi yang baik (tersedia 2 unit saluran telepon dengan kondisi baik). Demikian pula telah tersedia sarana penerangan berupa listrik PLN. Daya listrik terpasang di PPI ini adalah 1.300 KvA, yang digunakan untuk penerangan aktivitas-aktivitas PPI seperti pelelangan. Untuk aktivitas-aktivitas pelelangan tersedia 2 (dua) unit gedung TPI (subbab 1.1).

Berdekatan dengan PPI Labuan, pada jarak yang relatif sama, sebagaimana telah disebutkan di atas, terdapat prasarana umum lainnya yang juga mendukung kegiatan ekonomi masyarakat nelayan Labuan yaitu pasar ikan dan pasar tradisional (Pasar Labuan). Pasar ikan berperan dalam pemasaran lanjutan bagi sekitar 45,1% dari hasil tangkapan yang didaratkan dan dilelang di PPI ini. Adapun lembaga keuangan yang dapat ditemui di daerah ini adalah 2 (dua) unit bank yaitu Bank BRI dan Bank Jabar dengan jarak sekitar 500 km dari PPI Labuan.

Kelembagaan lain yang terkait dengan aktivitas perikanan adalah adanya Koperasi Unit Desa (KUD) Mina di PPI ini. KUD Mina sebagai koperasi nelayan berperan dalam menyediakan dan menjual berbagai alat dan kebutuhan melaut. KUD Mina biasanya dapat ditemukan pada setiap PPI yang terdapat di kabupaten ini, namun kegiatan yang dilakukan sering kali mengalami “naik-turun”, hal ini disebabkan oleh berbagai hal antara lain masih rendahnya kemampuan sumberdaya manusia (SDM) pengurus KUD, kurangnya perhatian nelayan, kurang lancarnya pembayaran alat dan bahan kebutuhan melaut oleh nelayan terutama pada saat tidak musim ikan, dan lain lain.

(a) Armada Penangkapan Ikan, Alat Tangkap dan Nelayan di PPI Labuan

Seluruh jenis armada penangkapan ikan yang terdapat di Kabupaten Pandeglang, sebagaimana yang telah disebutkan pada sub subbab 4.2.1, dapat ditemukan di PPI Labuan. Pada tahun 2005 jumlah armada penangkap ikan di PPI Labuan adalah 275 unit atau sekitar 35,4% dari total armada penangkap ikan di Kabupaten Pandeglang berada di PPI ini. Jumlah unit armada penangkapan ikan di PPI ini pada tahun yang sama didominasi oleh kapal motor (KM) berukuran kurang dari atau sama dengan 10 GT

sebesar 248 unit atau 90,2% dari seluruh unit armada penangkapan ikan, sisanya adalah PTM dan PMT. Pada Tabel 13 dapat dilihat perkembangan jumlah armada penangkap ikan di PPI Labuan selama periode 2001-2005.

Perkembangan jumlah armada penangkap ikan di PPI Labuan berfluktuasi sepanjang periode 2001-2005 dan secara keseluruhan perkembangannya cenderung mengikuti persamaan y = 9,6429x2 - 38665x + 4E7 (y = jumlah armada

Tabel 13 Perkembangan Jumlah Armada Penangkapan Ikan di PPI Labuan Periode 2001-2005

KM (unit) Tahun (unit) PTM (unit) PMT

≤5 GT 5-10 GT Jumlah Jumlah (unit) Pertumbuhan (%) 2001 6 10 352 20 372 388 - 2002 30 - 353 20 373 403 3,9 2003 22 4 200 31 231 257 -36,2 2004 22 4 210 38 248 274 6,6 2005 22 5 208 40 248 275 0,4 Kisaran 6 - 30 4 - 10 200 - 353 20 - 38 231 - 373 257 - 403 -36,2 - 6,6 Median 22 4 210 31 248 275 2,1 Rata-rata 20 5 265 30 294 319 6 Sumber : Anonymous, 2005b

penangkap ikan di PPI Labuan pada tahun x (unit); x = tahun); yang memiliki kecenderungan akhir yang mulai meningkat pada tahun 2004 setelah sebelumnya mengalami penurunan sampai tahun 2003 (Gambar 6). Selama periode yang sama, pertumbuhan berkisar -36,2% sampai dengan 6,6% per tahun. Pertumbuhan negatif terbesar (-36,2%) terjadi pada tahun 2003. Meskipun demikian, pada tahun 2004 terjadi pertumbuhan positif tertinggi (6,6%) dan tetap positif pada tahun 2005. Pertumbuhan bernilai negatif yang terjadi pada tahun 2003 disebabkan oleh perbesaran skala usaha penangkapan ikan yaitu adanya perbesaran skala usaha dengan meningkatkan ukuran armada penangkapan ikan. Hal ini secara umum juga terjadi di Kabupaten Pandeglang (sub subbab 4.2.1)

Alat tangkap dominan yang digunakan oleh nelayan di PPI ini pada tahun 2005 adalah jaring arad sebanyak 130 unit (32%), pancing sebanyak 65 unit (16%), dogol sebanyak 49 unit (12%) dan payang 44 unit (10,8%) (Tabel 14). Berdasarkan wawancara dengan nelayan, alat tangkap arad memiliki jumlah yang dominan karena dianggap efektif untuk menghasilkan tangkapan ikan dalam jumlah besar.

Rasio jumlah alat tangkap per kapal/perahu pada tahun 2005 adalah 1,49. Hal ini menunjukkan terdapat kapal/perahu yang menggunakan lebih dari satu alat tangkap atau dalam setiap 100 unit kapal/perahu, digunakan sejumlah 149 unit alat tangkap.

y = 9,6429x2 - 38665x + 4E+07 0 100 200 300 400 500 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Jum lah A rm ada ( uni t)

Gambar 6 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Jumlah Armada Penangkapan Ikan di PPI Labuan Periode 2001-2005

Tabel 14 Jenis dan Jumlah Alat Tangkap yang Dioperasikan di PPI Labuan Tahun 2005

No. Alat Tangkap Jumlah (unit) Komposisi (%)

1. Arad 130 31,8 2. Pancing 65 15,9 3. Dogol 49 12,0 4. Payang 44 10,8 5. Gillnet 40 9,8 6. Jaring Rampus 32 7,8

7. Mini Purse seine 20 4,9

8. Bagan Rakit 17 4,2

9. Bagan Tancap 8 2,0

10. Jaring Klitik 4 1,0

Jumlah 409 100,0

Sumber: Anonymous, 2005b

Sebagaimana telah dikemukakan pada subbab 4.2.1 Tabel 7, jumlah nelayan di PPI Labuan pada tahun 2005 merupakan jumlah nelayan terbanyak di kabupaten Pandeglang; yaitu 42,8%. Menurut para nelayan, hal ini terjadi karena perikanan tangkap di PPI Labuan lebih berkembang bila dibandingkan dengan PPI lainnya, terutama dari

segi pemasaran dan pendistribusian hasil tangkapan. Nelayan pendatang juga hanya dapat ditemukan di PPI Labuan dengan jumlah 394 jiwa (17,2%).

Nelayan (pemilik dan pekerja) yang terdapat di PPI Labuan sebagian besar merupakan penduduk asli daerah ini, yaitu 1.896 jiwa atau 82,8%. Nelayan pendatang dari luar daerah umumnya berasal dari daerah Jawa Tengah, antara lain dari daerah Tegal.

(b) Produksi dan Nilai Produksi di PPI Labuan

Perkembangan volume dan nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPI ini pada periode 2001-2005 dapat dilihat pada Tabel 15, Gambar 7 dan Gambar 8. Perkembangan volume produksi hasil tangkapan ikan di PPI Labuan periode 2001-2005 berfluktuasi cukup tinggi terutama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003. Kisaran pertumbuhan pada periode tersebut adalah -23,0 sampai deangn 58,8%. Secara keseluruhan perkembangan volume produksi cenderung mengikuti bentuk persamaan y = 41,413x2 - 165990x + 2E8 (y = volume produksi hasil tangkapan di PPI Labuan pada tahun x (ton); x = tahun) yang memiliki kecenderungan akhir yang meningkat setelah sebelumnya mengalami penurunan pada kurun 2001-2003 (Gambar 7).

Pada periode tersebut di atas penurunan volume produksi terbesar yang terjadi pada tahun 2002 ke tahun 2003, dengan pertumbuhan sebesar negatif 41,5% atau dari 2.811,6 ton menjadi 1.644,7 ton. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengelola PPI dan nelayan, hal ini terjadi karena adanya penjualan hasil tangkapan oleh nelayan di tengah laut sehingga hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Labuan menurun tajam. Selain itu, jumlah kapal/armada penangkapan ikan pada tahun 2002-2003 juga mengalami penurunan yang sangat tajam yaitu sebesar negatif 36,2% sebagai akibat adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (sub subbab 4.2.4).

Sebaliknya pada tahun 2004 mulai terjadi peningkatan volume produksi sebesar positif 2,1%. Hal ini juga disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah kapal/armada penangkapan ikan pada tahun tersebut sebesar 6,6% dari tahun sebelumnya (sub subbab 4.2.4).

Tabel 15 Perkembangan Volume Produksi Hasil Tangkapan Ikan di PPI Labuan Periode 2001-2005

Tahun Volume Produksi (ton) Pertumbuhan (%) Nilai Produksi (Rp juta) Pertumbuhan (%) 2001 2.028,9 - 8.041,7 - 2002 2.811,6 38,6 12.769,7 58,8 2003 1.644,7 -41,5 9.829,9 -23,0 2004 1.678,7 2,1 10.783,6 9,7 2005 2.150,2 28,1 13.336,8 23,7 Kisaran 1.644,1- 2.811,6 -41,5 - 38,6 8.041,7- 13.336,8 -23,0 - 58,8 Median 2.028,9 15,1 10.783,6 16,7 Rata-rata 2.062,7 6,8 10.952,3 17,3 Sumber : Anonymous, 2005b y = 41,413x2 - 165990x + 2E+08 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun V o lum e P roduksi ( ton)

Gambar 7 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Volume Produksi Hasil Tangkapan yang Didaratkan di PPI Labuan Periode 2001-2005 Penurunan volume produksi hasil tangkapan ikan tidak hanya disebabkan oleh penurunan jumlah armada saja, tetapi juga dimungkinkan oleh beberapa faktor lainnya, yaitu stok sumberdaya ikan (SDI) dan musim ikan sebagaimana dinyatakan oleh Kurniasih (2004). Stok SDI dan musim ikan mempengaruhi jumlah hasil tangkapan yang diperoleh nelayan. Apabila stok SDI tersedia dan musim ikan terjadi, maka dengan upaya penangkapan yang tetap, terlebih-lebih bila upaya penangkapan meningkat, secara langsung akan meningkatkan jumlah hasil tangkapan dan begitu pula sebaliknya. Perkembangan jumlah armada

y = 860,41x - 2E+06 0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun N ila i P ro d u k s i ( R p J u ta )

Gambar 8 Perkembangan dan Kecenderungan Perkembangan Nilai Produksi Hasil Tangkapan Didaratkan di PPI Labuan Periode 2001-2005

yang beroperasi juga berpengaruh terhadap hasil tangkapan yang diperoleh, apabila armada tangkap berkembang baik dari segi jumlah dan atau dari segi kapasitas muat (tonage) maka secara langsung akan meningkatkan hasil tangkapan dan demikian juga sebaliknya.

Nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Labuan selama periode 2001-2005 juga menunjukkan nilai yang berfluktuasi dengan pola yang berkecenderungan selalu positif mengikuti bentuk persamaan y = 860,41x - 2E6 (Gambar 8). Hal ini menunjukkan secara umum nilai produksi akan selalu meningkat.

Jenis hasil tangkapan yang dapat ditemukan di PPI Labuan cukup beragam. Hal ini disebabkan daerah penangkapan yang berlokasi di sekitar daerah teluk. Kawasan teluk

Dokumen terkait