• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. KEADAAN UMUM

5.1 Pendaratan Hasil Tangkapan

Nelayan yang telah melakukan proses penangkapan dan memperoleh hasil tangkapan akan menuju lokasi tempat pendaratan ikan untuk mendaratkan dan menjual hasil tangkapannya. Hasil tangkapan akan mengalami proses pendaratan yang dilakukan untuk membongkar ikan dari palkah ke atas dek, menurunkan ikan hasil tangkapan dari dek kapal ke dermaga pendaratan, mengangkut ikan dari dermaga pendaratan ke TPI dan selanjutnya menjualnya di tempat pelelangan. Proses pendaratan hasil tangkapan merupakan awal dari rangkaian proses yang dilakukan untuk membawa hasil tangkapan sampai ke tangan pengolah dan atau konsumen.

Pendaratan hasil tangkapan di PPI Labuan dilakukan pada dua tempat pendaratan yang sekaligus juga memiliki tempat pelelangan ikan (subbab 1.1). Sebagaimana telah disebutkan pada subbab 4.2.4, tidak semua kapal/perahu yang akan mendaratkan hasil tangkapannya dapat memasuki perairan sungai dimana TPI 1 Labuan berlokasi karena kedalaman perairan sungai yang tidak sesuai untuk ukuran draft kapal tertentu yang berukuran 1,5 meter atau lebih akibat adanya pendangkalan. Ukuran draft ini sama atau bahkan lebih tinggi dari kedalaman perairan sungai. Pada TPI 2 dengan posisi yang terletak di pinggir laut, sedikit lebih memudahkan bagi kapal dengan ukuran 5 - 10 GT untuk mendaratkan hasil tangkapannya. Akan tetapi, jika perairan kolam pelabuhan sedang dalam kondisi surut maka para nelayan harus menambatkan kapalnya di tengah kolam pelabuhan dan ABK membawa hasil tangkapan dengan cara berenang hingga mencapai tepi pantai.

Pendangkalan dan kurangnya kedalaman perairan di atas, menjadi kendala yang sering ditemukan dalam pendaratan hasil tangkapan di kedua TPI di PPI Labuan. Kedalaman perairan sungai dan kolam pelabuhan yang terus mengalami proses pendangkalan, menyulitkan kapal untuk memasuki lokasi tempat pendaratan ikan atau kolam pelabuhan. Proses pendangkalan perairan sungai di TPI 1 terjadi karena posisi TPI 1 Labuan yang terletak di kawasan muara sungai, yaitu sungai Cipunteun Agung; sedangkan proses pendangkalan kolam pelabuhan di TPI 2 terjadi karena adanya

pengaruh gelombang yang cukup besar dan arus laut dari kedua sisi pantai kolam pelabuhan.

5.1.1 Proses Pendaratan

Proses pendaratan hasil tangkapan di PPI Labuan umumnya dilakukan dengan membongkar hasil tangkapan yang disimpan dalam palkah kapal ke atas dek dan kemudian menurunkannya ke darat (dermaga pendaratan masih dalam proses pembangunan) di atas lahan tepi pantai atau tepi sungai yang dapat digunakan sebagai tempat meletakkan hasil tangkapan (HT). Selanjutnya, hasil tangkapan tersebut dibawa ke TPI (TPI 1 atau TPI 2).

Berdasarkan hasil pengamatan di kedua tempat pendataran, proses pendaratan yang terkait dengan cara ikan didaratkan di kedua tempat pendaratan relatif sama, perbedaan hanya terlihat pada waktu hasil tangkapan didaratkan. Terdapat dua waktu pendaratan hasil tangkapan pada kedua tempat pendaratan yaitu, di TPI 2 Labuan pendaratan biasanya dilakukan sekitar pukul 03.00-05.00 WIB dan sekitar pukul 16.00-18.00 WIB, sedangkan waktu pendaratan hasil tangkapan di TPI 1 Labuan biasanya dilakukan sekitar pukul 04.00-05.00 WIB dan sekitar pukul 11.00-12.00 WIB. Berdasarkan laporan tahunan PPI Labuan yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Pandeglang, kisaran jumlah perahu/kapal yang melakukan pendaratan hasil tangkapannya di PPI Labuan setiap harinya adalah 8-30 unit per hari, yaitu sekitar 2-8 unit perahu/kapal di TPI 1 dan sekitar 6-22 unit di TPI 2.

Lama waktu dilakukannya proses pendaratan hasil tangkapan di tempat ini tergantung pada jumlah hasil tangkapan yang diperoleh para nelayan dan bersifat relatif. Hasil pengukuran terhadap lama waktu proses pendaratan terlama adalah sekitar 2 jam; yang dibutuhkan untuk proses pendaratan hasil tangkapan dengan berat maksimum 2 ton dengan tenaga bongkar anak buah kapal (ABK) 4-8 orang. Lama waktu tersingkat yang dibutuhkan untuk proses pembongkaran hasil tangkapan dengan berat minimum 2 kwintal dengan tenaga bongkar 4-8 orang ABK adalah 10-15 menit. Dengan demikian satu orang ABK mampu mengangkut sampai 0,5 ton hasil tangkapan dalam waktu satu jam (1 ABK = 0,5 ton HT/jam).

Hal di atas bersesuaian dengan hasil wawancara terhadap nelayan pemilik dan nakhoda kapal penangkap ikan, bahwa rata-rata lama waktu tersingkat dengan hasil

tangkapan minimum sebanyak 2 kuintal adalah sekitar 15 menit; dengan jumlah ABK yang melakukan pendaratan hasil tangkapan 4-6 orang. Untuk hasil tangkapan maksimum 2 ton yang dibawa kapal penangkap ikan berukuran 10 GT, maka lama waktu pendaratan membutuhkan waktu sekitar 2 jam; yang dilakukan oleh 4-8 orang ABK. Dengan demikian, satu orang ABK dapat mengangkut sekitar 0,5 ton hasil tangkapan dalam waktu satu jam.

Proses pendaratan yang dilakukan di PPI Labuan masih bersifat sederhana. Pendaratan tersebut dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia dan alat seadanya seperti sekop dan tangan, serta belum memperhatikan cara yang tepat untuk menjaga mutu hasil tangkapan.

Pendaratan hasil tangkapan di kedua tempat pendaratan dilakukan dengan membongkar terlebih dahulu hasil tangkapan dari dalam palkah kapal. Pembongkaran dilakukan dengan menggunakan sekop untuk ikan-ikan yang berukuran kecil dan menggunakan tangan untuk ikan-ikan yang berukuran besar. Pembongkaran menggunakan sekop adalah jelas akan melukai tubuh ikan, dan akibatnya mutu ikan akan menurun. Jika ikan sudah berada di dalam wadah yang mudah diangkut (seperti keranjang/basket atau tong plastik besar/blong) maka langsung dibawa ke darat dengan cara dipikul menggunakan bambu oleh dua orang tenaga pengangkut (ABK).

Proses penyortiran yang dilakukan di PPI ini hanya berdasarkan jenis ikan. Penyortiran berdasarkan jenis ini dilakukan dengan cara memilah dan menempatkan ikan dalam wadah yang berbeda untuk ikan dengan jenis berbeda. Penyortiran berdasarkan mutu dan ukuran ikan hanya dilakukan secara “sepintas” dan tidak dilakukan berdasarkan suatu patokan/standar nilai tertentu, namun hanya berdasarkan penilaian subyektif dari pelaku penyortiran (ABK).

Penyortiran hasil tangkapan dilakukan pada saat ikan dibongkar dari dalam palkah ke dek kapal; dan dilakukan tanpa mencuci ikan. Pencucian ikan hanya dilakukan di atas kapal pada waktu proses penangkapan selesai; sebelum ikan dimasukkan ke dalam palkah.

Ikan yang telah disortir pada waktu pembongkaran di atas, akan dimasukkan ke dalam suatu wadah yang diletakkan di atas dek. Wadah yang digunakan oleh para nelayan adalah beragam seperti keranjang plastik/basket dengan daya tampung 25-30 kg, tong plastik/blong dengan daya tampung sampai dengan 80 kg, ataupun wadah lainnya

yang dapat digunakan untuk mengangkut ikan. Keberagaman jenis dan ukuran wadah ikan ini disebabkan oleh tidak adanya wadah tertentu yang disediakan oleh pihak pengelola TPI PPI Labuan sehingga para nelayan menggunakan wadah yang mereka miliki ataupun yang disediakan oleh juragan ikan yang membiayai seluruh proses penangkapan (langgan).

Wadah-wadah berisi ikan yang telah disortir tersebut di atas, selanjutnya akan mengalami proses pengangkutan ke darat yang dilakukan oleh ABK. Ikan yang sudah didaratkan sebagian besar tidak mengalami proses penyortiran lagi. Hasil tangkapan yang sudah didaratkan sebagian besar langsung dibawa ke TPI untuk dilelang, sebagian sisa lainnya ada yang langsung dijual ke pedagang-pembeli ikan (pelele), dan sebagian lagi khususnya jenis udang-udangan langsung dibawa ke pengumpul ikan.

Proses pendaratan yang dilakukan di PPI Labuan di atas (Gambar 1) kiranya dapat diketegorikan sesuai dengan pola kesatu proses pendaratan yang diklasifikasikan oleh Pane (1998) yang tertera dalam subbab 2.2, hanya di PPI Labuan, dermaga pendaratan untuk sampai waktu tertentu belum ada (dalam proses pembangunan), diganti lahan daratan berupa tepi pantai atau sungai.

Proses pendaratan hasil tangkapan di PPI Labuan di atas mirip seperti yang terjadi di PPI Sidem Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur. Menurut Herawati (2000), proses pendaratan ikan yang terjadi di PPI Sidem terdiri dari proses pembongkaran, penyortiran dan penurunan hasil tangkapan. Perbedaannya hanya terletak pada proses penurunan hasil tangkapan dari dek kapal ke darat. Di PPI Labuan proses penurunan hasil tangkapan dari atas dek kapal ke darat dilakukan oleh ABK tanpa menggunakan perahu kecil/jukung, sedangkan di PPI Sidem menggunakan perahu kecil/jukung.

Pembongkaran dan penyortiran hasil tangkapan (Palkah Æ Dek)

Penurunan hasil tangkapan (Dek Æ Dermaga/darat)

Pengangkutan hasil tangkapan (Dermaga/darat Æ TPI)

Gambar 9 Proses Pendaratan Hasil Tangkapan di PPI Labuan Tahun 2006 Di PPI Labuan, seluruh pekerjaan yang dilakukan pada proses pendaratan hasil tangkapan dikerjakan oleh ABK masing-masing kapal penangkap ikan. Hal ini dilakukan selain untuk meminimalkan biaya pendaratan, juga dikarenakan jumlah hasil tangkapan yang didaratkan masih dapat ditangani oleh ABK masing-masing kapal.

5.1.2 Kekuatan Hasil Tangkapan Didaratkan di PPI Labuan

Kekuatan hasil tangkapan di suatu tempat pendaratan, sebagaimana telah disebutkan pada subbab 2.3, tergantung dari jenis ikan yang tersedia, volume produksi, harga, mutu hasil tangkapan dan ukuran hasil tangkapan. Namun tidak seluruh komponen kekuatan hasil tangkapan yang akan dikaji. Ukuran hasil tangkapan tidak dikaji pada penelitian ini mengingat keterbatasan dana dan waktu penelitian.

(1) Kekuatan Jenis Hasil Tangkapan Didaratkan

Secara umum, PPI Labuan memiliki kekuatan jenis hasil tangkapan didaratkan dengan keragaman yang tinggi; dengan lebih dari 25 jenis hasil tangkapan didaratkan. Hal ini dapat terlihat pada Tabel 16. Berdasarkan data tesebut telah diperoleh 3 jenis ikan dominan dari sisi volume dan 6 jenis ikan dominan bernilai ekonomis tinggi atau komersial tinggi; sebagaimana dijelaskan dibawah ini.

Jenis hasil tangkapan dominan dari sisi volume di PPI Labuan, yang ditetapkan berdasarkan prosentase volume mendekati, sama atau lebih besar dari 5% dari total volume yang didaratkan pada tahun 2005 adalah tongkol, tembang dan cumi-cumi (Gambar 16). Harga rata-rata masing-masing jenis ikan ini, yang dilakukan melalui pendekatan rasio nilai produksi per volume produksi (nilai rasio NP/P) Rp 6.958,- per kg untuk tongkol, Rp 654,- per kg untuk tembang, dan Rp 22.071,- per kg untuk cumi-cumi. Tabel 16 Jenis, Volume dan Nilai Produksi Hasil Tangkapan yang Didaratkan di

PPI Labuan Tahun 2005 Volume Produksi No. Jenis HT (ton) (%) Nilai Produksi (Rp juta) Rasio NP/P (Rp/kg) 1 Tongkol 496,7 23,1 3.456,4,- 6.958,2 2 Tembang 478,0 22,2 312,7,- 654,2 3 Cumi-cumi 102,7 4,8 2.266,5,- 22.071,0 4 Ikan Kuwe 66,3 3,1 668,0,- 10.071,5 5 Kembung 61,1 2,8 389,4,- 6.370,4 6 Selar 57,0 2,6 335,9,- 5.895,8 7 Sunglir 49,9 2,3 446,2,- 8.937,9

8 Tenggiri 46,3 2,2 788,8,- 17.030,1 9 Kurisi 39,9 1,9 202,0,- 5.056,1 10 Layang 33,5 1,6 185,9,- 5.546,0 11 Manyung 19,2 0,9 126,4,- 6.590,4 12 Kakap 18,4 0,9 372,1,- 20.177,1 13 Pepetek 17,0 0,8 24,5,- 1.443,5 14 Kerapu 13,5 0,6 198,2,- 14.654,0 15 Layur 11.6 0,5 72.9,- 6.284,9 16 Tiga Waja 10,4 0,5 73,2,- 7.073,4 17 Julung-julung 9,2 0,4 45,3,- 4.923,9 18 Ekor Kuning 7,6 0,4 26,3,- 3.460,1 19 Pari 6,0 0,3 24,7,- 4.135,7 20 Bawal 4,7 0,2 75,4,- 15.888,6 21 Cakalang 4,6 0,2 36,7,- 7.978,3 22 Tuna 4,0 0,2 25,2,- 6.334,7 23 Cucut 3,8 0,2 21,2,- 5.527,3 24 Ikan Terbang 2,2 0,1 1,3,- 590,9 25 Udang lainnya 0,2 0,0 0,2,- 1.000,0 25 Rupa-rupa 586,3 27,3 3.161,5,- 5.392,1 Jumlah 2.150,2 100,0 13.336,7,- 6.202,5

Sumber : Anonymous, 2005b; data diolah kembali

Pada tahun 2005, jenis hasil tangkapan dominan tersebut ditemui di PPI Labuan hampir sepanjang tahun. Tongkol tersedia sepanjang tahun dan musim puncak pendaratan terjadi pada bulan Juli. Tembang hampir tersedia sepanjang tahun kecuali pada bulan Januari dan musim puncak terjadi pada bulan Juni-Juli. Cumi-cumi tersedia sepanjang tahun dan musim puncak terjadi pada bulan April-Mei.

Tongkol 23,1% Cumi-cumi 4,8% Lainnya 49,9%; > 22 jenis (0,0% - 3,1%) Tembang 22,2%

Gambar 10 Komposisi Hasil Tangkapan Dominan menurut Volume di PPI Labuan Tahun 2005: Tongkol, Tembang dan Cumi-cumi

Jenis hasil tangkapan ekonomis tinggi di PPI ini, yang ditentukan berdasarkan pendekatan nilai rasio NP/P lebih besar atau sama dengan Rp 10.000,- per kg sebagaimana pada subbab 4.2.2, adalah cumi-cumi, kakap, tenggiri, bawal, kerapu dan ikan kuwe, masing-masing dengan harga rata-rata sebesar Rp 22.071,- per kilogram untuk

cumi-cumi, Rp 20.177,- per kilogram untuk kakap, Rp 17.030,- per kilogram untuk tenggiri, Rp 15.888,- per kilogram untuk bawal, Rp 14.654,- per kilogram untuk kerapu, dan Rp 10.071,- per kilogram untuk ikan kuwe cumi-cumi, kakap, tenggiri, dan bawal merupakan hasil tangkapan ekonomis tinggi yang memiliki harga tertinggi di atas Rp 15.000,- per kilogram (Gambar 11).

Pada tahun 2005, cumi-cumi merupakan jenis hasil tangkapan yang paling bernilai komersil tinggi dan juga merupakan hasil tangkapan dominan ke-3 di PPI Labuan serta tersedia sepanjang tahun. Cumi-cumi umumnya merupakan jenis sumberdaya ikan dengan volume produksi yang kecil pada hampir setiap tempat pendaratan ikan di Indonesia, Namun di PPI Labuan produksinya bisa mencapai 838,5 kg per hari.

Jenis hasil tangkapan bernilai komersil/ekonomis tinggi lainnya di PPI Labuan pada tahun yang sama adalah kakap tersedia sepanjang tahun dan musim puncak pada bulan Juli-Agustus; tenggiri juga tersedia sepanjang tahun dengan musim puncak pada bulan Mei; demikian pula ikan kerapu tersedia sepanjang tahun dengan musim puncak terjadi pada bulan Mei; bawal hanya tersedia pada

Gambar 11 Hasil Tangkapan Dominan menurut Nilai Harga Rata-rata per Kilogram di PPI Labuan Tahun 2005: Cumi-cumi, Kakap, Tenggiri, Bawal, Kerapu dan Ikan Kuwe

bulan Januari-September, sedangkan ikan kuwe tersedia sepanjang tahun dan musim puncak terjadi pada bulan Desember (Gambar 12).

Berdasarkan uraian di atas, diperoleh bahwa kekuatan jenis hasil tangkapan di PPI Labuan adalah: Ikan Kuwe; Rp 10.072,-/kg Cumi-cumi; Rp 22.071,-/kg Tenggiri; Rp 17.030,-/kg Bawal ; Rp 15.889,-/kg Kerapu; Rp 14.654,-/kg Kakap; Rp 20.177,-/kg Lainnya; > 19 Jenis; Rp 509,9,-/kg- Rp 8.938,-/ kg

0

5.000

10.000

15.000

20.000

25.000

1) Sangat beragam, dengan lebih dari 25 jenis spesies didaratkan per tahun.

2) Terdapat 3 jenis hasil tangkapan dominan dari sisi volume, yaitu jenis tongkol, tembang dan cumi-cumi.

Tongkol dan cumi-cumi tersedia sepanjang tahun dengan musim puncak antara lain: tongkol 1 bulan per tahun (Juli) dan cumi-cumi 2 bulan per tahun (April dan Mei). Tembang tersedia selama 11 bulan kecuali Januari dengan musim puncak 2 bulan per tahun (Juni dan Juli).

3) Terdapat 6 jenis hasil tangkapan bernilai komersil tinggi, dengan harga rata-rata di atas Rp 10.000,- per kg, yaitu cumi-cumi, kakap, tenggiri, bawal, kerapu, dan ikan kuwe.

Kakap, tenggiri, kerapu dan ikan kuwe tersedia sepanjang tahun, dengan musim puncak selama: kakap 2 bulan (Juli dan Agustus), tenggiri, kerapu dan ikan kuwe 1 bulan (masing-masing pada bulan: Mei untuk tengiri dan kerapu dan Desember untuk ikan kuwe). Bawal tersedia selama 9

0 40.000 80.000 120.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Bu la n Produk s i pe r bulan (k g/bln) (a) 0 50.000 100.000 150.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Bu la n

(b) 0 8.000 16.000 24.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Bu la n Produk s i pe r bulan (k g/bln) (c)

a. Hasil Tangkapan Dominan menurut Volume: (a) Tongkol, (b) Tembang dan (c) Cumi-cumi

Gambar 12 Volume Pendaratan Jenis Hasil Tangkapan Dominan per Bulan PPI Labuan Tahun 2005

b. Hasil Tangkapan Dominan Bernilai Ekonomis Tinggi: (a) Cumi-cumi, (b) Ikan Kuwe, (c) Tenggiri, (d) Kerapu, (e) Kakap, dan (f) Bawal

Gambar 12 Lanjutan 0 8.000 16.000 24.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Bu la n

Produksi per bulan (kg/bln)

0 8.000 16.000 24.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nop Des Bu la n

Produksi per bulan (kg/bln)

(a) (b) 0 4.000 8.000 12.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nop Des Bu la n

Prouksi per bulan (kg/bln)

0 900 1.800 2.700 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nop Des Bu la n

Produksi per bulan (kg/bln)

(c) (d) 0 1.000 2.000 3.000 4.000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Bu la n

Produksi per bulan (kg/bln)

0 500 1.000 1.500 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Bu la n

Produksi per bulan (kg/bln)

bulan dalam setahun (Januari-September) dengan musim puncak 1 bulan pertahun (Februari).

(2) Kekuatan Volume Produksi Hasil Tangkapan Didaratkan

Kisaran volume produksi hasil tangkapan PPI Labuan selama periode 2001-2005 adalah 1.644,1-2.811,6 ton sedangkan untuk Kabupaten Pandeglang selama periode tersebut adalah 2.177,4-3.586,7 ton (sub subbab 4.2.2). Dengan demikian sekitar 75,5-78,4% dari jumlah keseluruhan hasil tangkapan yang didaratkan di Kabupaten Pandeglang adalah didaratkan di PPI Labuan.

Kekuatan penyediaan total volume hasil tangkapan PPI Labuan pada tahun 2005 adalah cukup tinggi, yaitu rata-rata 179,2 ton per bulan atau 7,7 ton per hari (Tabel 17).

Tabel 17 Kemampuan Penyediaan Volume Produksi Hasil Tangkapan Didaratkan di PPI Labuan Tahun 2005

Produksi (ton) Rata-rata Produksi (ton) Kisaran Produksi (ton)

1. Total produksi tahun 2005 2.150,2 - -

2. Rata-rata produksi per bulan - 179,2 39,2 - 374,5 3. Rata-rata produksi per hari - 7,7 1,3 - 12,5 Sumber: Anonymous, 2005a; data diolah kembali

Kemampuan penyediaan produksi ikan di PPI Labuan menurut jenis ikan dominan berdasarkan volume dan harga rata-rata per bulan dan per hari pada tahun yang sama, dapat dilihat pada Tabel 18. Kemampuan rata-rata produksi per bulan diperoleh dengan membagi total produksi tahun 2005 dengan 12 bulan pendaratan; sedangkan kemampuan rata-rata produksi per hari diperoleh dengan membagi rata-rata produksi per bulan dengan 25 hari pendaratan.

Tabel 18 Kemampuan Penyediaan Volume Produksi Jenis-jenis Ikan Dominan di PPI Labuan Tahun 2005

Produksi per Bulan (kg/bln) Produksi per hari (kg/hari) Jenis Ikan Dominan Total Produksi (ton)

Rata-rata Kisaran Rata-rata Kisaran I. Menurut Volume

1. Tongkol 496,7 41.395,4 1.308,0 - 100.374,6 1.655,8 52,3 - 4.013,9

2. Tembang 478,0 39.832,3 0,0 - 145.497,0 1.593,3 0,0 - 5.819,9

3. Cumi-cumi 102,7 8.557,6 500,0 - 20.963,0 342,3 20,0 - 838,5

II. Menurut Harga Rata-rata 1. Cumi-cumi 102,7 8.557,6 500,0 - 20.963,0 342,3 20,0 - 838,5 2. Ikan Kuwe 66,3 5.526,8 110,0 - 19.888,3 221,1 4,4 - 795,5 3. Tenggiri 46,3 3.859,6 705,2 - 10.522,1 154,4 28,2 - 420,9 4. Kakap 18,4 1.536,8 476,0 - 3.500,0 61,5 19,0 - 140,0 5. Kerapu 13,5 1.127,3 335,5 - 2.500,0 45,1 13,4 - 100,0 6. Bawal 4,7 395,3 0,0 - 1.474,0 15,8 0,0 - 59,0

Sumber: Anonymous, 2005a; data diolah kembali

(3) Kekuatan Mutu Hasil Tangkapan Didaratkan

Di PPI Labuan, kondisi hasil tangkapan yang dibongkar dari dalam palkah masih cukup segar sampai dengan segar. Berdasarkan pengamatan, kondisi ini setara dengan skala mutu organoleptik pada kisaran 7-8; pada skala 1-9.

Secara umum kondisi fisik mata ikan agak cerah, bola mata rata, pupil agak keabu-abuan, kornea agak keruh; insang berwarna merah, kurang cemerlang dan tanpa lendir; daging dan perut utuh, serta berbau netral; konsistensi agak padat, elastis bila ditekan dengan jari, kadang agak lunak tergantung pada jenisnya seperti ikan kuniran. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum adanya sedikit penurunan mutu hasil tangkapan dari kondisi awal yang terjadi selama penyimpanan dalam palkah. Sebagian besar ikan didaratkan merupakan hasil penangkapan dalam satu hari dan nelayan tidak membawa perbekalan es untuk menjaga mutu hasil tangkapan yang diperolehnya.

Pembongkaran hasil tangkapan di PPI Labuan dari dalam palkah ke atas dek yang menggunakan alat sekop (sub subbab 5.1.1) yang terbuat dari besi, terkadang kondisi sekop sudah berkarat dengan ujung yang cukup tajam, sehingga dapat melukai atau merusak mutu hasil tangkapan yang didaratkan. Proses pembongkaran ikan sebaiknya jangan sampai menyebabkan luka/memar pada ikan sehingga menurunkan mutu hasil tangkapan; seperti penggunaan benda-benda keras seperti sekop dan garpu (Moeriyanto, 1982).

Penyortiran ikan berdasarkan ukuran dan mutu baru dilakukan secara “sepintas”; sesuai dengan kemampuan pengamatan dan pengalaman ABK yang melakukannya (sub subbab 5.1.1). Kemampuan tersebut adalah jelas berbeda-beda karena belum terstandarisasi; sebagaimana juga belum dilakukan di PP/PPI lainnya di seluruh Indonesia.

Proses pendaratan di PPI Labuan selain dilakukan pada pagi hari, juga dilakukan pada siang dan sore hari. Pada siang dan sore hari, suhu udara sudah meninggi, terutama pada siang hari. Suhu udara sekitar di PPI ini pada siang hari berkisar antara 27-31ºC. Proses pendaratan yang dilakukan pada siang hari dan dengan sinar matahari yang langsung mengenai ikan akan sangat berpengaruh menurunkan mutu hasil tangkapan.

Pada saat kapan waktu dilakukannya proses pendaratan, jelas akan mempengaruhi mutu hasil tangkapan didaratkan. Hal ini terkait dengan suhu dan sinar matahari yang langsung mengenai hasil tangkapan sebagaimana disebutkan oleh Moeljanto (1992), bahwa penurunan mutu hasil tangkapan terkait dengan aktivitas penguraian oleh enzim; yang semakin cepat dan mencapai puncaknya pada suhu 37ºC. Selanjutnya Moeljanto menyebutkan, bakteri pembusuk hidup pada suhu antara 0-30ºC, dengan suhu optimal 15ºC. Bila suhu diturunkan dengan cepat sampai dibawah 0ºC, maka proses pembusukan akan terhambat.

Penurunan wadah hasil tangkapan dari atas dek kapal ke daratan/dermaga dilakukan satu per satu oleh ABK dengan ataupun tanpa menggunakan alat bantu. Alat bantu dibutuhkan jika air pasang, biasanya digunakan dua buah balok kayu panjang yang digunakan sebagai alas untuk meluncurkan wadah ikan dari kapal ke darat. Setelah berada di atas daratan/dermaga hasil tangkapan akan langsung mengalami proses pemasaran. Ikan-ikan yang proses pemasarannya dilakukan dengan cara lelang akan dibawa langsung ke TPI oleh ABK.

Setiba di TPI, hasil tangkapan akan ditimbang dan diletakkan di atas lantai lelang tanpa menggunakan wadah. Kondisi lantai ruang lelang di TPI 1 dan TPI 2 adalah datar, kotor dan ditemukan genangan air, ceceran darah ikan dan potongan-potongan ikan. Menurut Lubis (2000), lantai ruang lelang harus miring ke arah saluran pembuangan, dengan kemiringan sekitar 2º, yang dimaksudkan agar air dari penyemprotan kotoran sisa-sisa ikan setelah selesai aktivitas pelelangan dapat mengalir ke saluran pembuangan

dengan mudah sehingga kebersihan tempat pelelangan senantiasa terpelihara. Lantai ruang lelang TPI Labuan belum menerapkan hal tersebut.

Hasil tangkapan yang diletakkan tanpa wadah di atas lantai ruang lelang, menyebabkan ikan mudah terinjak oleh para pelaku pelelangan saat proses lelang dilakukan dan sangat mudah untuk terkena bakteri yang semakin mempercepat penurunan mutu hasil tangkapan. Hasil pengamatan organoleptik terhadap tiga jenis hasil tangkapan dominan menurut volume dan tiga jenis hasil tangkapan bernilai ekonomis tinggi, pada saat hasil tangkapan tiba di TPI tertera pada Tabel 16.

Mutu hasil tangkapan jenis ikan dominan menurut volume yang didaratkan di PPI Labuan memiliki rata-rata nilai organoleptik yang sama untuk mata, insang, daging dan konsistensi (7,9). Hal ini menunjukkan jenis ikan tersebut memiliki mutu cukup segar sampai dengan segar. Rata-rata nilai organoleptik jenis ikan dominan menurut rata-rata

Dokumen terkait