BAB II : PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PERIKLANAN
D. Keadaan Yang Dapat Menghapuskan Sifat Perbuatan Melawan
hukum dapat tidak dibebankan kepada pelaku perbuatan melawan hukum tersebut, jika dalam diri pelaku terdapat keadaan-keadaan atau hal-hal yang menghapus sifat melawan hukum.
Menurut R.Wirjono Prodjodikoro, hal-hal yang menghilangkan sifat perbuatan melawan hukum dari suatu perbuatan tertentu antara lain, yaitu :43
1. Hak Pribadi
Salah satu hal semacam ini ada, apabila si pelaku perbuatan melawan hukum itu dapat menunjukkan suatu hak pribadi yang menjadi dasar perbuatan itu. Misalnya seorang A tidak diperbolehkan membuat suatu perjanjian atas nama orang lain, si B perihal barang milik si B, misalnya barang itu kepada orang ketiga. Kalau A melakukan perjanji dengan orang ketiga tersebut, ia melakukan perbuatan hukum. Tetapi A berhak melakukan perbuatan itu apabila pada suatu waktu barang milik si B berada dalam keadaan yang
43
Margaretha E. P. Napitupulu : Tuntutan Ganti Rugi Terhadap Perusahaan Pemasang Iklan Berkaitan Dengan Perbuatan Melawan Hukum Yang Merugikan Konsumen, 2008.
USU Repository © 2009
tidak diurus sama sekali, dan keberadaan si B tidak diketahui sama sekali, maka agar barang-barang tersebut tidak terlantar, A mengurus barang-barang tersebut untuk kepentingan B. Menurut Pasal 1357 KUH Perdata A berhak membuat perjanjian mengenai barang milik B, yang mengikat B juga, meskipun A tidak menerima kuasa dari B.
Sekali ditetapkan ada hak seseorang untuk melakukan suatu tindakan, namun tetap ada batasnya yaitu tidak boleh ada “misbruik van recht” yang berarti mempergunakan suatu hak tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang tidak dimaksudkan dengan pemberian itu.
Berkaitan dengan Hak Servituut, yaitu pengabdian tanah44
44
Sudarsono, “Kamus Hukum”, (Jakarta : Rineka Cipta, 2007), hal. 437.
pasal 674 dan 678 KUH Perdata.
Pasal 674 KUH Perdata mengatakan :
“Pengabdian pekarangan adalah suatu beban, yang diberikan kepada pekarangan milik orang yang satu, untuk digunakan bagi dan demi kemanfaatan pekarangan milik orang lain. Baik sebagai beban, maupun sebagai kemanfaatan, pengabdian itu tak boleh diikat hubungkan dengan diri seseorang”.
Pasal 678 KUH Perdata mengatakan :
“Tiap-tiap pengabdian adalah tampak atau tak tampak. Ia adalah tampak manalaka ditandai dengan suatu perbuatan manusia seperti misalnya, sebuh pintu, jendela, pipa air dan sebagainya. Tak tampaklah ia, manakala tak ada terlihat barang sesuatupun menandainya; demikianpun mesalnya, larangan mendirikan bangunan disebuah pekarangan, atau larangan mendirikan bangunan disebuah pekarangan, atau larangan mendirikannya lebih tinggi dari pada ketinggian tertentu, hak mengembala ternak dan lain-lainnya yang memerlukan suatu perbuatan manusia”.
Margaretha E. P. Napitupulu : Tuntutan Ganti Rugi Terhadap Perusahaan Pemasang Iklan Berkaitan Dengan Perbuatan Melawan Hukum Yang Merugikan Konsumen, 2008.
USU Repository © 2009
Berkaitan dengan Hak Servituut, misalnya seseorang yang tanahnya berbatasan dengan tanah orang lain. Seseorang tanahnya berbatasan dengan tanah orang lain sehingga pada saat ia membuka jendela, jendelanya berada di atas tanah orang maka dalam hal ini ia tidak dapat dikatakan melakukan perbuatan melawan hukum.
2. Pembelaan Diri (Noodweer).
Pembelaan diri adalah bahwa setiap orang yang diserang oleh orang lain adalah berhak membela diri. Apabila seseorang dengan maksud membela diri, terdorong melakukan perbuatan yang pada umumnya merupakan perbuatan melawan hukum dapat dikatakan bahwa sifat melawan hukum tersebut terhapus.
Dalam hal ini harus diperhatikan, bahwa untuk dapat menentukan harus benar-benar ada keadaan yang memerlukan seseorang membela diri, jadi harus benar-benar ada suatu serangan dari seseorang lain yang ditujukan kepadanya. Dan lagi harus diperhatikan, bahwa pembelaan diri jangan sampai melampaui batas, yaitu tidak menjelma sebagai serangan baru terhadap yang menyerang semula. Ini terjadi, apabila yang menyerang semula itu, sudah terang berhenti dari serangannya, sedang yang semula diserang, masih terus bertindak seolah-olah masih membela diri.
Sebagai suatu contoh : pada umumnya seorang dapat dikatakan melanggar hukum apabila ia melukai orang lain. Tetapi kalau A diserang oleh B dengan satu pisau belati dan A yang kebetulan memegang tongkat, lantas memukul tangan si
Margaretha E. P. Napitupulu : Tuntutan Ganti Rugi Terhadap Perusahaan Pemasang Iklan Berkaitan Dengan Perbuatan Melawan Hukum Yang Merugikan Konsumen, 2008.
USU Repository © 2009
B hingga pisau belati jatuh, tetapi juga tangan B terluka, maka dikatakan A berhak berbuat memukul itu dan tiada suatu perbuatan melanggar hukum dari pihak A. Kalau setelah pisau balati B jatuh, A melanjutkan pukulannya dan mangenai kepala B sehingga terluka, maka pukulan yang kedua ini tidak lagi masuk hal membela diri.
Dalam hal diatas, pukulan A ke B untuk yang kedua kalinya masih dapat dipersoalkan apakah perbuatan A tersebut dapat dikatakan membela diri atau tidak. Jelas berbeda halnya apabila perbuatan A tidak dipacu sama sekali oleh adanya serangan dari B dimana A begitu saja langsung memukul kepala B. Harus dicermati kembali keadaan saat kejadian tersebut berlangsung. Kalau A sama sekali tidak memberi alasan kepada B untuk melakukan serangan dengan pisau belati itu, maka mudah dapat dimengerti, bahwa A sebagai akibat dari serangan itu, menjadi sangat marah, sehingga ia tidak dapat menahan nafsu untuk membalas dendam kepada B. Selain itu ada kemungkinan B akan menyerang lagi sehinnga A merasa khawatir lalu memukul B untuk yang kedua kali. Dalam kedua hal tersebut mesalnya, maka boleh jadi perbuatan A tidak termasuk perbuatan melanggar hukum. Ini semua tergantung keadaan in concreto yang tertentu.
3. Keadaan Terpaksa (Overmacht).
Yang dimaksud dengan keadaan memaksa yaitu suatu paksaan yang tidak dapat dielakkan lagi datangnya dari luar. Keadaan yang dimaksud adalah bahwa setiap orang siapapun juga, dengan keadaan semacam itu pasti terpaksa untuk melakukan perbuatan yang pada umumnya merupakan
Margaretha E. P. Napitupulu : Tuntutan Ganti Rugi Terhadap Perusahaan Pemasang Iklan Berkaitan Dengan Perbuatan Melawan Hukum Yang Merugikan Konsumen, 2008.
USU Repository © 2009
suatu perbuatan melawan hukum. Misalnya seorang pengemudi mobil, si A, sewaktu sedang mengendarai mobil dengan perlahan-lahan. Kemudian sekonyong-konyong ada seseorang yang lebih kuat, si B, menarik tangan A dan menyuruhnya menepi karena ingin merampas mobilnya. Dalam hal ini si B menyuruh si A untuk menepikan mobilnya disuatu tempat dimana ada sebuah mobil yang sedang parkir yang akhirnya malah menabrak dan menimbulkan kerusakan pada mobil yang parkir tersebut. Dalam hal ini si A sama sekali tidak melanggar hukum, karena dapat dikatakan si B lah yang menyebabkan tabrakan itu.
Keadaan memaksa juga terjadi apabila dalam hal seorang melakukan perbuatan melanggar hukum dimana orang tersebut sebenarnya dapat menghindari melakukan perbuatan tersebut ia harus melakukan pengorbanan kepentingan dirinya sendiri. Namun demi menghindari perbuatan melanggar hukum dengan mengorbankan kepentingannya ia toh melakukan perbuatan melanggar hukum. Dengan hal ini kewajiban seseorang untuk tidak melakukan perbuatan melanggar hukum itu, dapat dianggap lenyap. Misalnya, A sedang mengemudikan mobilnya dimalam hari. Lalu berjumpa dengan B yang juga sedang mengendarai mobil. B tiba-tiba menjalankan mobilnya dengan sedemikian rupa sehingga membuat A hanya mempunyai dua pilihan jalan yaitu, menabrakkan mobilnya ke pohon yang ada dipinggir jalan atau menabrakkan mobilnya ke mobil B. Dengan pertimbangan kemungkinan kerusakan yang akan dialaminya jika menabrakkan mobilnya ke pohon atau ke mobil B maka A menabrakkan mobilnya ke mobil B. Akibatnya mobil B mengalami kerusakan. Dalam hal inipun A tidak dapat
Margaretha E. P. Napitupulu : Tuntutan Ganti Rugi Terhadap Perusahaan Pemasang Iklan Berkaitan Dengan Perbuatan Melawan Hukum Yang Merugikan Konsumen, 2008.
USU Repository © 2009
dikatakan melakukan perbuatan melawan hukum karena A terpaksa menabrak B demi keselamatannya.
Margaretha E. P. Napitupulu : Tuntutan Ganti Rugi Terhadap Perusahaan Pemasang Iklan Berkaitan Dengan Perbuatan Melawan Hukum Yang Merugikan Konsumen, 2008.
USU Repository © 2009
BAB III
PENGATURAN DAN PEMAMFAATAN IKLAN SEBAGAI MEDIA PEMASARAN PRODUK