B. Sistem Menajemen K3 Berdasarkan Permenaker No.5 Tahun
4. Keamanan Bekerja Berdasarkan Sistem Manajemen K3
127
Permenaker No.05/MEN/1996, Lampiran Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Sistem Kerja
a. Petugas yang berkompeten telah mengidentifikasi bahaya yang potensial dan telah menilai resiko-resiko yang timbul dari suatu proses kerja.
b. Apabila upaya pengendalian resiko diperlukan maka upaya tersebut ditetapkan melalui tingkat pengendalian.
c. Terdapat prosedur kerja yang didokumentasikan dan jika diperlukan diterapkan suatu sistem “ijin kerja” untuk tugas-tugas yang beresiko tinggi.
d. Prosedur atau petunjuk kerja untuk mengelola secara aman seluruh resiko yang teridentifikasi didokumentasikan.
e. Kepatuhan dengan peraturan, standar dan ketentuan pelaksanaan diperhatikan pada saat pengembangan atau melakukan modifikasi prosedur atau petunjuk kerja.
f. Prosedur kerja dan instruksi kerja dibuat oleh petugas yang berkompeten dengan masukan dari kerja yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas dan prosedur disahkan oleh pejabat yang ditunjuk.
g. Alat pelindung diri disediakan bila diperlukan dan digunakan secara benar serta dipelihara selalu dalam kondisi layak pakai.
h. Alat pelindung diri yang digunakan dipastikan telah dinyatakan baik dan dipakai sesuai dengan standar dan atau peraturan perundangan yang berlaku.
i. Upaya pengendalian resiko ditinjau ulang apabila terjadi perubahan pada proses kerja.
Emergensi Respons / Tanggap Darurat128
Kecelakaan yang disebabkan faktor alam, teknis atau manusia dapat berakibat fatal dan berubah menjadi bencana yang dapat mengganggu dan menghambat kegiatan pola kehidupan masyarakat atau jalannya operasi perusahaan dan dapat mendatangkan kerugian harta benda atau korban manusia. Bila bencana terjadi dan keadaan menjadi emergency, maka perlu ditanggulangi secara terencana, sistematis, cepat, tepat dan selamat. Untuk telaksananya penanggulangan dimaksud perlu dibentuk Tim Tanggap Darurat yang trampil dan terlatih, dilengkapi sarana dan prasarana yang baik serta sistem dan prosedur yang jelas. Tim tersebut perlu mendapatkan pelatihan baik teori atau praktek paling sedikit enam bulan sekali. Bagusnya kinerja Tim Tanggap Darurat akan sangat menentukan berhasilnya pelaksanaan Penanggulangan Keadaan Emergency. Dan akhirnya tujuan mengurangi kerugian seminimal mungkin baik harta benda atau korban manusia akibat keadaan emergency akan dapat dicapai.
Rencana darurat merupakan suatu rencana formal tertulis, yang berdasarkan pada potensi kecelakaan yang dpt terjadi di instalasi & konsekuensi- konsekuensinya yang dapat dirasakan di dalam dan di luar tempat kerja serta bagaimana hrs ditangani Perencanaan darurat harus diperlakukan oleh para pejabat yang berwenang, pengelola pabrik & pejabat setempat sebagai unsur yang penting dari sistem pengendalian bahaya besar. Perencanaan darurat harus mencakup penanganan keadaan darurat di dalam dan di luar pabrik maupun kantor.
128
www.okleqs.worpress.com/2008/01/01/tanggap-darurat-kecelakaan-industri/, diakses pada tanggal 6 Agustus 2009
Management tanggap darurat termasuk semua aktivitas, langkah-langkah yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi dampak bencana. Kesiapsiagaan menghadapi bencana. Tanggap menghadapi bencana Dan pemulihan setelah terjadi bencana. Agar manusia selamat dan harta benda terlindungi.
Tujuan management perusahaan mengurangi dampak bahaya yang ditimbulkan. Menyiapkan langkah-langkah penyelamatan untuk melindungi manusia ( Karyawan dan Masyarakat sekitar ) dan harta benda. Tanggap saat menghadapi emergency dan menyediakan fasilitas yang diperlukan. Menerapkan sistem pemulihan agar komunitas menjadi normal setelah terjadi bencana.
Langkah-langkah penyusunan tanggap darurat :
• Mitigation (Mitigasi ) : Kajian awal yang dilakukan untuk mengeliminasi atau menurunkan Derajat Resiko jangka panjang terhadap Manusia atau harta Benda yang diakibatkan oleh Bencana.
• Preparedness (Kesiapsiagaan) : Kegiatan yang dilakukan lebih lanjut berdasarkan Hasil Mitigasi, yang mencakup Pengembangan Kemampuan Personil, Penyiapan Prasarana, Fasilitas dan Sistem bila terjadi keadaan Emergency.
• Response (Kesigapan) : Kemampuan penanggulangan saat terjadi keadaan krisis/bencana yang terencana, cepat, tepat dan selamat (termasuk tanda bahaya, evakuasi, SAR, pemadaman kebakaran. dll).
• Recovery (Pemulihan) : Kegiatan jangka pendek untuk meulihkan kebutuhan pokok minimum kehidupan masrarakat yang terkena bencana, dan jangka panjang mengembalikan kehidupan secara normal.
Sumber-Sumber Bencana :
• Alam, contohnya gunung api meletus, angin taufan, banjir / air bah, gempa bumi , tanah longsor dan sejenisnya.
• Manusia, contohnya : human error, penebangan hutan, sabotage, pemogokan, peperangan, membuang sampah di sungai, membakar sampah/ hutan sembarangan
Kerugian Akibat Terjadinya Bencana Physik
• Metriil, Korban jiwa (mati atau menderita) Korban harta benda dan sarana / materiil untuk kehidupan masyarakat atau sarana produksi bagi kegiatan industri.
• Non Materiil, terganggunya struktur kegiatan rutin produksi bagi suatu industri atau kegiatan sosial bagi masyarakat. Terganggunya kondisi ekonomi.
Berikut merupakan susunan organisasi tanggap darurat kecelakaan industri minimun beserta fungsi masing-masing, meliputi :129
Ketua :
129
www.okleqs.wordpress.com/2008/01/03/emergensi-respons, diakses pada tanggal 6 Agustus 2009
• Mengkoordinir penanggulangan bencana di Unit Kerjanya (pabrik, kantor) • Memberikan keputusan pemberhentian Pabrik/Instalasi.
• Melaporkan kejadian ke Managemen. • Merencanakan perbaikan akibat bencana. Koordinator Operasional :
• Memimpin langsung pelaksanaan pertolongan pertama pada suatu kejadian bencana.
• Memerintahkan penutupan sumber-sumber aliran yang dapat memperluas/memperbesar bencana
• Memerintahkan beroperasi kepada seluruh Satgas dengan memberikan kode-kode bencana yang berlaku.
Satgas Komunikasi :
• Menghubungi Executive Group.
• Membunyikan tanda bahaya sesuai perintah koordinator Operasional. • Merawat dan memelihara sistem komunikasi yang tersedia di lokasi
Pabrik/Perkantoran.
Satgas Pemadam Kebakaran :
• Memadamkan kebakaran dengan alat pemadam kebakaran yang tersedia. • Bertanggung jawab terhadap keamanan dan kesiap siagaan alat-alat
• Perusahaan/Dinas Pemadam Kebakaran untuk ditempatkan sesuai dengan fungsinya.
Satgas Pengamanan :
• Melarang setiap orang yang tidak berkepentingan masuk ke lokasi Bencana sebelum datangnya Anggota Satpam/Polri.
• Melaksanakan pengamanan area dan jalur jalan masuk/keluar untu kelancarkeluar/masuknya mobil Unit Damkar, Ambulance dan Tim Evakuasi.
Satgas Evakuasi :
• Mengusahakan pemindahan korban dari area bencana ke lokasi aman Sebelum Tim TKTD tiba di lokasi bencana.
• Melarang orang yang telah dievakuasi yang akan kembali kelokasi bencana sebelum dinyatakan aman.
Satgas SAR :
• Mencari dan melaksanakan pertolongan/ penyelamatan korban dari area bencana dan membawa ke tempat aman (Shelter).
• Mengamankan dokumen penting dan barang-barang berharga. Satgas Medis:
• Mengusahakan pertolongan pertama jika ada korban dengan teknik/sistem P3K.
• Memelihara peralatan P3K yang diusahakan oleh Perusahaan. Satgas Infentarisasi :
• Menginventarisasi kerugian akibat bencana.
• Menghitung jumlah orang/karyawan yang dievakuasi baik yang selamat atau menjadi korban bencana.
• Membuat laporan kepada Koordinator Operasional. Satgas Pemulihan/perbaikan :
• Melaksanakan perbaikan setelah kejadian bencana.
• Melaksanakan pemeliharaan kelancaran saluran air, kelancaran jalan untuk lalu lintas dan sejenisnya.
• Mengupayakan pencegahan adanya bahaya susulan yang dapat mengancam keselamatan maupun maupun menghambat proses produksi. • Melakukan pemulihan kondisi lingkungan yang terkena bencana, termasuk
pelestarian lingkungan.
Pengawasan dan Pengendalian Tanggap Darurat130
Pos komando pusat, berfungsi :
1. Pos komando sebaiknya ditempatkan di area yang mudah diakses ke lokasi yang potensial terjadinya bencana dan dibangun anti radioaktif dan aman.
130
www.okleqs.wordpress.com/2008/01/03/was-dal-tanggap-darurat/, diakses pada tanggal 6 Agustus 2009
2. Dilengkapi fasilitas yang disesuaikan sebagai suatu unit komando.
Kewenangan tim sebaiknya diatur dengan peraturan perusahaan, karena kemungkinan bila keadaan emergency akan memobilisasi fasilitas perusahaan, umum dan pribadi yang ada di area industri.
Ukuran keberhasilan tanggap darurat ditentukan oleh :
1. Manusia : Dibentuk tim terdiri dari bagian yang terkait, dan dipimpin oleh pimpinan tertinggi perusahaan setempat (diberi pelatihan teori dan praktek menghadapi emergency, untuk meyakinkan bahwa tim memiliki kecepatan,ketepatan dan kesiapsiagaan yang tinggi).
2. Perangkat keras : Seperangkat alat bantu, seperti peta evakuasi, petunjuk arah, alat pelindung diri, alat komunikasi, shelter dan peralatan lain (kesempurnaan alat bantu menentukan cepat dan lambatnya antisipasi terhadap emergency).
3. Perangkat lunak :Interaksi faktor manusia dan perngkat keras dapat terjalin dengan baik dan sinergis bila dilengkapi perangkat lunak yang tepat (perangkat lunak : sisdur, pemberian nomor telepon, tatacara pemeberitahuan bila ada bencana, dll. Agar selalu up to date, perangkat lunak harus selalu diperiksa dan disempurnakan secara periodic).
Pengawasan SMK3 oleh Perusahaan131
131
Permenaker No.05/MEN/1996, Lampiran Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Op.Cit
a. Dilakukan pengawasan untuk menjamin bahwa setiap pekerjaan dilaksanakan dengan aman dan mengikuti setiap prosedur dan petunjuk kerja yang telah ditentukan.
b. Setiap orang diawasi dengan tingkat kemampuan mereka dan tingkat resiko tugas.
c. Pengawas ikut serta dalam identifikasi bahaya dan membuat upaya pengendalian.
d. Pengawas diikutsertakan dalam pelaporan dan penyediaan penyakit akibat kerja dan kecelakaan, dan wajib menyerahkan laporan dan saran-saran kepada pengurus.
e. Pengawas ikut serta dalam proses konsultasi.
Kekurangan yang ada pada SMK3 dibandingkan dengan Manajemen K3 Lainnya
Kekurangan yang paling dasar adalah peraturan pendukung mengenai K3 yang masih terbatas dibandingkan dengan organisasi internasional. Tapi hal ini masih dapat dimaklumi karena masalah yang sama juga dirasakan oleh negara- negara di Asia dibandingkan negara Eropa atau Amerika, karena memang masih dalam tahap awal. Selain itu sertifikasi SMK3 yang hanya dapat dikeluarkan oleh Menteri Tenaga Kerja (Pemerintah) dirasakan kurang membantu promosi terhadap SMK3 dibandingkan dengan sertifikasi ISO series, OHSAS, KOHSA (korea), yang juga menggunakan badan sertifikasi swasta. Dan yang utama
tentunya adalah peran aktif dari pengusaha Indonesia yang masih belum mengutamakan K3 di Industrinya karena masalah klasik yaitu cost (biaya).132