Secara umum kegiatan penambangan yang dijalankan Antam memberikan dampak langsung dengan adanya lahan yang terganggu, yang kemudian menimbulkan akibat terancamnya keanekaragaman hayati. Oleh karenanya, secara berkesinambungan Perseroan terus berupaya untuk melakukan pemulihan lahan tersebut melalui kegiatan reklamasi.
Di tahun 2011, luasan lahan terganggu mencapai 32,19 hektar dan hingga akhir tahun 2011, luasan lahan terganggu secara kumulatif adalah 5.323 hektar. Luasan lahan yang direklamasi mencapai 181 hektar, dan total secara kumulatif ada 4.617 hektar atau 86,74 persen dari lahan terganggu yang dapat dipulihkan melalui kegiatan reklamasi. Untuk data lebih lengkap mengenai penanaman pohon yang dilakukan oleh Antam selama 2011 disajikan dalam Lampiran 7 dalam laporan ini. [EN13]
Lahan Terganggu dan Lahan Direklamasi | Disturbed Land and Reclaimed Land [EN13] [MM1]
Komponen | Component Satuan Unit Periode Pelaporan | Reporting Periode
2009 2010 2011
Luas lahan terganggu
Area of disturbed land HektarHectare 5,247 5,291 5,323
Luas lahan direklamasi | Area of reclaimed land HektarHectare 4,239 4,436 4,617
Persentase | Percentage % 80.79 83.84 86.74
Dari seluruh wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik Perseroan, hanya wilayah IUP UBPE Pongkor yang termasuk dalam kawasan terlindungi karena berada di area Taman nasional Gunung Halimun Salak (TnGHS).
Antam’s Commitment in Managing Environment
1,235 kilograms of reusable salt was generated or 30.12% of total need of salt. [EN2]
For export purposes, nickel ore and bauxite ore products are transported in bulk to vessel’s hold and are shipped without special packaging. Therefore, the Company does not reclaim used packaging for these two products. Similarly, ferronickel ores are also wrapped with special environmentally friendly material and its management becomes the buyer’s responsibility. [EN27]
BIODIVERSITy
In general, Antam’s mining operations have a direct impact on the presence of disturbed land, which ultimately threatens biodiversity. Hence, the Company consistently puts in efforts to rehabilitate the land through reclamation.
In 2011, the area of disturbed land reached 32.19 hectares and by the end of 2011, the accumulated area of disturbed land was 5,323 hectares. The area of reclaimed land reached 181 hectares, with accumulated total area was 4,617 hectares or 86.74% of disturbed land that has been able to be rehabiltated through reclamation. Complete data on tree planting that was conducted by Antam in 2011 is presented in Appendix 7 of this report. [EN13]
Out all of the Mining Permit (IUP) areas owned by the Company, only the IUP area of UBPE Pongkor is within protected area because of its location in the Mount Halimun Salak National Park (TNGHS). About 80% of 6,047
Sekitar 80 persen dari 6.047 hektar wilayah IUP UBPE Pongkor berada di kawasan TnGHS berdasarkan Surat Keputusan (SK) Departemen Pertambangan dan Energi (kini menjadi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), no. 2027/K/201/Pj.PE/1985. [EN11]
Keberadaan Antam memiliki potensi dampak lingkungan yang meliputi penurunan kualitas tanah, air dan udara, serta gangguan keanekaragaman hayati. Untuk meminimalkan dampak lingkungan tersebut, Perseroan telah melakukan sejumlah langkah, yakni: [EN12] [EN14]
1. Melakukan metode penambangan dengan teknik
cut and fill atau gali dan isi. Rongga stope (lombong) akibat penggalian material tambang, diisi kembali menggunakan material tailing dari pabrik pengolahan. Tujuannya agar kondisi tanah menjadi stabil sehingga tidak menimbulkan penurunan permukaan tanah (surface subsidence). [MM3]
2. Melakukan pengelolaan lingkungan, meliputi penanganan sirkulasi udara di dalam tambang untuk tambang bawah tanah; penanganan sampah batuan (waste rock) dan tailing, air tambang dan sedimen; pengendalian erosi dan sedimentasi; penanganan debu dan kebisingan; revegetasi dan reklamasi; serta pengelolaan limbah padat maupun cair.
3. Melakukan pemantauan lingkungan, meliputi pemantauan kualitas air, udara, tanah, kestabilan lahan dan flora fauna secara rutin sesuai RKL dan RPL. 4. Melakukan pelaporan pelaksanaan Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), meliputi pengelolaan dan pemantauan air, udara, serta kestabilan lahan.
hectares of UBPE Pongkor’s IUP areas located in TNGHS based on Department of Mines and Energy Decree (now the Ministry of Energy and Mineral Resources), No. 2027/K/201/ PJ.PE/1985. [EN11]
Antam’s presence has potential environmental impacts including degradation of soil, water and air quality, as well as biodiversity disturbance. To minimize the environmental impacts, the Company has conducted a number of steps, namely: [EN12] [EN14]
1. Performing cut and fill mining techniques. The stope cavity resulting from mineral extracting, is refilled with tailing material from processing plant. The purpose is to stabilize the land conditions so as not to cause surface subsidence. [MM3]
2. Implementing environmental management, including the handling of air circulation in the underground mine; handling of waste rock, mine water and sediment; erosion and sedimentation control; handling of the dust and noise; revegetation and reclamation; and management of solid and liquid waste.
3. Conducting environmental monitoring, including regular quality monitoring of water, air, soil, land stability and flora fauna in accordance with RKL and RPL.
4. Reporting the implementation of the Environmental Management Plan (RKL) and Environmental Monitoring Plan (RPL), including the management and monitoring of water, air, and land stability.
Sesuai dengan master plan yang disepakati, hingga akhir 2011 Antam melibatkan masyarakat setempat dalam kegiatan penanaman 356.973 tanaman endemik atau tanaman lokal di area TnGHS, di sekitar UBPE Pongkor seluas 700 hektar. [EN13]
Pemantauan lain yang dilakukan di area UBPE Pongkor juga menemukan adanya beberapa kekayaan hayati lain, di antaranya burung elang ular bido, burung elang hitam serta beberapa jenis tumbuhan anggrek dan 39 tanaman obat-obatan. Kenyataan ini kian meyakinkan Perseroan untuk menindaklanjuti rencana maupun kegiatan pembangunan dan pengembangan konservasi keanekaragaman hayati. Upaya ini mendapat apresiasi dari pihak lain, yakni Kementerian Sosial RI, berupa Dalam program kerja sama dengan TnGHS, Antam akan mengembangkan kawasan UBPE Pongkor menjadi kawasan Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati (PKKH). Agenda yang dilaksanakan adalah:
1. Membangun Pusat Penelitian dan Pendidikan Pohon dan Tanaman Asli (P4TA) berkapasitas 500.000 bibit tanaman asli.
2. Melanjutkan upaya konservasi dan pelepasliaran fauna langka, yaitu Elang jawa (Nisaetus bartelsi) dan Owa jawa (Hylobates moloch).
Laporan ini juga menyampaikan data tentang hewan yang dilindungi yang ada di sekitar daerah operasi Antam, sebagaimana terdapat di Lampiran 8. [EN15]
3. Menyusun konseptual master plan berdasarkan hasil sosialisasi dan focus group discussion
(FGD) dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
In its collaboration with TNGHS, Antam will expand the area UBPE Pongkor to become Biodiversity Conservation Center (PKKH). The agenda include: 1. Building the Research and Education Center for
Tree and Indigenous Plants (P4TA) with capacity 500,000 seedlings of indigenous plants.
2. Continuing conservation efforts and the release of rare fauna: Javan Eagle (Nisaetus bartelsi) and Javan gibbons (Hylobates moloch). This report also presents data on protected animals in the area around Antam’s operations, as presented in Appendix 8. [EN15]
3. Preparing a master plan concept based on the result of dissemination and focus group discussion (FGD) with the University of Indonesia (UI), Gadjah Mada University (UGM), and the Bogor Institute of Agriculture (IPB).