HASIL PENELITIAN
6.2 Keanekaragaman Ular Pada Empat Habitat Yang Berbeda
Habitat daerah pinggiran sungai dengan pohon-pohon yang besar, semak-semak dan tanaman merambat merupakan habitat dengan keanekaragaman spesies paling tinggi. Dalam penelitian ini ditemukan 13 spesies ular yang berbeda tercatat hidup di habitat sungai. Ular yang ditemukan di habitat sungai adalah ular-ular arboreal dan terestrial. Pinggiran sungai ditumbuhi pohon yang besar dan tinggi, baik digunakan untuk ular arboreal dalam mencari mangsa dan sebagai tempat tinggal/berlindung. Burung-burung yang hidup di area persawahan seperti burung tekukur (Streptophelia chinensis), burung merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), burung kutilang (Pycnonotus aurigaster), cekakak sungai (Todirhamphus chloris) burung bondol peking (Lonchura punctulata) dan mayar jambul (Ploceus manyar) akan memanfaatkan pohon dan semak di area pinggiran
sungai untuk membangun sarang (MacKinnon et al., 2010). Anak-anak burung yang belum bisa terbang merupakan mangsa yang mudah ditangkap oleh ular arboreal.
Faktor lain yang mendukung tingginya keanekaragaman ular di habitat sungai yaitu habitat sungai selalu lembab, terdapat sumber makanan berlimpah, air, naungan, tempat tinggal seperti: serasah, pohon mati/tumbang, celah-celah bebatuan dan lubang-lubang akar tumbuhan. Kebanyakan ular nokturnal pada siang hari memanfaatkan area pinggiran sungai untuk tempat beristirahat, karena kelembaban disepanjang aliran sungai terjaga dan tubuhnya terhindar dari sengatan sinar matahari secara langsung. Aliran air sungai juga membantu ular dalam berpindah-pindah tempat dari satu desa ke desa lainnya. Pada malam hari, tumbuhan di pinggiran aliran sungai digunakan untuk tempat beristirahat oleh ular-ular diurnal.
Ular tali (D. pictus) memanfaatkan ranting-ranting tumbuhan disepanjang aliran sungai untuk tempat beristirahat. Ular pucuk (A. prasina) juga memanfaatkan ranting pohon untuk tempat istirahat, khususnya dalam penelitian ini ditemukan di pohon bambu. Boiga dendrophila berburu di sepanjang aliran sungai dengan berenang menyusuri pinggiran sungai mencari kodok atau katak, melata diatas permukaan tanah melewati semak-semak, dan juga ditemukan memanjat untuk memangsa burung dan hewan pengerat. Ular blidah (B. cynodon) berburu mangsanya dimalam hari dengan cara memanjat satu pohon ke pohon lainnya untuk menemukan anak-anak burung dan induk burung yang sedang beristirahat. Boiga cynodon memiliki tubuh berwarna coklat (seperti batang
61
pohon) dengn pola melingkar berwarna coklat tua, pola warna ini memberikan penyamaran yang baik. Spesies B. cynodon memiliki bentuk dan warna tubuh sama seperti B. hoeseli yang ditemukan di kepulauan Nusa Tenggara (Ramadhan et al., 2010).
Ular berukuran kecil yang ditemukan di habitat sungai adalah ular siput (P. carinatus). Ular siput memanjat satu ranting ke ranting lainnya disepanjang aliran sungai mencari siput untuk dimakan. Pinggiran sungai adalah tempat yang lembab, merupakan habitat yang baik bagi siput untuk tempat hidup dan berkembang biak. Hal ini kemungkinan menjadi alasan mengapa ular siput hanya ditemukan disepanjang aliran sungai di Desa Singapadu. Ular lain yang hanya ditemukan di habitat sungai adalah ular pucuk (A. prasina).
Ular pucuk ditemukan beristirahat di ranting pohon bambu pada malam hari, di Banjar Dinas Sengguan (sungai Anggar Besi) dan Apuan (sungai Ngiangan). Kamuflase warna hijau atau coklat tubuhnya membuat ular ini susah untuk dilihat pada siang hari, sedangkan pada malam hari tubuh bagian ventral ular ini apabila terkena cahaya akan terlihat terang sehingga mudah dibedakan antara daun, ranting dan tubuh ular pucuk. Tumbuhan yang rapat disepanjang aliran sungai membantu ular ini dalam berburu mangsanya. Ular pucuk aktif berburu pada siang hari (diurnal), mencari kodok dan burung dengan cara memanjat ranting-ranting pohon (Mazumdar and Mithra, 2010).
Area pemukiman memiliki keanekaragaman ular yang paling rendah, yaitu sembilan spesies. Area pemukiman bukan merupakan habitat yang baik untuk ular, masuknya ular ke dalam area pemukiman dikarenakan mencari makan dan
mencari tempat bersembunyi. Pembangunan yang pesat merubah habitat sungai dan sawah menjadi area pemukiman, hal ini akan mengakibatkan dampak negatif bagi ular dan mangsanya yang hidup di habitat sungai dan sawah. Ular yang umumnya berburu mengikuti pinggiran sungai dan sawah, secara tidak sengaja memasuki rumah penduduk. Ular mati ekor (Trimeresurus insularis) yang memasuki area pemukiman ditemukan di Banjar Dinas seseh dan Banjar Dinas Apuan. ular ini masuk melalui ranting-ranting pohon di pinggiran sungai yang mengarah ke halaman rumah. Kolam-kolam ikan dengan lampu pada malam hari akan menarik serangga untuk mencari lampu tersebut. Serangga tertarik dengan cahaya lampu karena pancaran cahaya lampu yang diterima oleh serangga, seperti sinyal dari pancaran cahaya serangga jantan, sehingga banyak serangga yang berkumpul di bawah cahaya lampu saat terjadinya fase breeding, dan menarik serangga-serangga predator lainnya (Borror et al., 1982). Kodok dan katak akan ikut datang ke kolam untuk berburu serangga, hal ini akan menarik ular untuk masuk ke area pemukiman.
Persentase jumlah individu ular yang ditemukan di Desa Singapadu paling tinggi di habitat sawah (42%), karena di sawah terdapat kodok, katak, ikan kecil dan kadal yang merupakan mangsa utama beberapa spesies ular. Ular terestrial dan beberapa ular arboreal pada siang dan malam hari akan mencari makan di area persawahan, mereka berburu kodok, katak, burung dan tikus. Tikus di area persawahan aktif di malam hari mencari makanan padi, kacang panjang dan kacang kedelai, hal ini akan menarik ular nokturnal (P. reticulatus dan C. flavolineatus) untuk berburu tikus di sawah.
63
Sawah yang masih memiliki padi muda (belum dipanen) merupakan tempat yang baik bagi kodok/katak untuk mencari mangsa dan berkembangbiak. Spesies ular air seperti X. piscator dan R. chrysargos mencari kodok dan ikan di area persawahan. Katak/kodok pada malam hari diam di pematang sawah diantara rerumputan dan saling bernyayi untuk menarik pasangannya. Katak/kodok yang bersembunyi di pinggiran sungai akan datang ke area persawahan untuk mencari pasangannya. Banyaknya jumlah katak/kodok akan menarik ular untuk berburu di habitat sawah. Berkumpulnya sumber makanan, akan menarik ular kanibal (B. candidus) berburu ular lainnya di area persawahan. Ptyas korros dan D. pictus adalah salah satu ular diurnal yang memanfaatkan tumbuhan disekitar saluran irigasi sawah untuk tempat beristirahat pada malam hari.
Habitat pemukiman memiliki persentase individu ular paling rendah (8,2%), karena pemukiman bukan habitat alami bagi ular. Area pemukiman merusak habitat alami ular dan satwa lainnya yang menempati habitat persawahan atau pinggiran sungai sebelum menjadi area perumahan. Ular masuk ke area pemukiman karena mengejar mangsanya dan mencari tempat berlindung. Di area pemukiman banyak terdapat cecak yang menempel di dekat lampu dinding memangsa serangga, hal ini menarik spesies ular cecak (L. aulicus-capucinus dan L. subcinctus). Tikus akan memasuki area perumahan jika padi di sawah telah dipanen. Tikus mencari tempat bersembunyi dan memakan sisa-sisa makanan manusia. Ular nokturnal seperti ular Python akan masuk ke area perumahan berburu tikus dan terkadang memangsa ayam peliharaan warga (Mistar, 2008)
Ular yang masuk ke area pemukiman akan memanfaatkan tumpukan kayu bakar, celah tembok, atap rumah, tumpukan bebatuan dan tempat-tempat lembab untuk tempat perlindungan. Masyarakat yang tidak menjaga kebersihan lingkungan dan masih menggunakan pagar tanaman sebagai pembatas rumah, akan menarik ular untuk datang ke area pemukiman. Ular mati ekor (T.insularis) masuk ke area pemukiman melalui tumbuhan yang merambat di tembok atau pagar tumbuhan yang digunakan sebagai pembatas rumah. Ular ini masuk berburu kodok atau katak disekitar pekarangan rumah. Trimeresurus insularis adalah ular berbisa kuat dengan taring yang panjang dan gigitannya berakibat fatal (McKay, 2006; Das, 2012; Marlon, 2014). Tubuhnya yang berwarna hijau memberikan penyamaran yang baik di sekitar dedaunan hijau. Ular mati ekor bertanggung jawab terhadap beberapa kasus kejadian warga Desa Singapadu yang pernah tergigit ular di pekarangan rumah.
Beberapa spesies ular di Desa Singapadu hanya ditemukan di habitat tertentu. Misalnya ular weling (Bungarus candidus), ular ini hanya ditemukan pada habitat sawah, karena sawah menyediakan makanan dan tempat hidup bagi B. candidus. Ular weling memanfaatkan celah bebatuan, celah tanah di pematang sawah atau pinggiran saluran irigasi untuk tempat tinggal dan bersarang. Ular weling aktif berburu mangsanya pada malam hari, bergerak perlahan di saluran irigasi sawah mencari ular, kodok dan hewan pengerat kecil (Mohammadi et al., 2014). Ular weling membunuh mangsanya dengan bisa neurotoksin, apabila tergigit mangsanya akan segera lumpuh dan mati. Gigitan ular weling juga berakibat fatal pada manusia (Lang and Vogel, 2005; McKay, 2006).
65
Petani di Desa Singapadu jarang menemukan ular weling, karena ular ini aktif saat malam hari di atas permukaan tanah. Beberapa petani ada yang pernah melihat ular ini saat mereka membuka saluran air irigasi untuk mengairi sawah. Ular weling tidak seagresif ular kobra (N. sputatrix) walaupun mereka termasuk ke dalam famili Elapidae. Ular weling jarang menggigit, namun ular ini menggigit apabila secara tidak sengaja terinjak sehingga merasa terancam. Petani di Desa Singapadu mempercayai ular ini sebagai ular penunggu area pertanian, sehingga petani jarang membunuh ular weling dan hal ini sangat bagus untuk konservasi in situ. Petani umumnya menemukan ular weling dengan warna hitam mengkilap dan hitam-putih belang-belang, namun di Desa Singapadu ditemukan ular weling dengan warna coklat dan belang hitam dengan putih keperakan. Ular weling yang berwarna hitam atau keperakan/javan krait (Bungarus javanicus Kopstein) secara genetik sama dengan spesies ular weling/malayan krait (Bungarus candidus Linnaeus). Perubahan warna pada ular weling disebabkan karena adaptasi yang dilakukan oleh individu ular weling yang hidup pada habitat tertentu, untuk berkamuflase (Kuch and Dietrich, 2007).
Ular lain yang hanya ditemukan di habitat sawah adalah ular bandotan tutul (Xenochrophis piscator) dan ular kawat (Ramphotyphlops braminus). Ular bandotan tutul adalah ular air yang aktif baik siang maupun malam hari memangsa kodok dan ikan. Ular bandotan tutul mencari mangsa di area persawahan dan berenang di saluran irigasi sawah, namun terkadang dapat dijumpai diam di atas ranting tanaman setelah hujan reda. Dari hasil pengamatan di lapangan, pada saat hujan kodok di area persawahan akan diam di pematang
sawah dan di pinggiran saluran irigasi. Hal ini mempermudah ular-ular di area persawahan untuk menangkap kodok. Saluran irigasi dan air yang tergenang di area persawahan akan mempermudah ular bandotan tutul dalam berenang berburu mangsa dan menghindari ancaman dengan cepat. Habitat X. piscator sama dengan ular X. cerasogaster yang ditemukan di Pakistan, Nepal, India, Bangladesh, dan Malaysia (Purkayastha et al., 2013).
Ular kawat ditemukan di habitat sawah wilayah Banjar Dinas Kebon pada malam hari yang sedang melata diatas permukaan tanah yang lembab. Ular ini kemungkinan sedang berburu invertebrata kecil di habitat sawah. Serangga banyak ditemukan di habitat sawah, baik di dalam tanah, pada tanaman padi ataupun pada tumpukan jerami, selain makanan yang berlimpah, ular kawat menyukai habitat sawah karena selalu lembab dan basah. Ular siput (P. carinatus) dan ular pucuk (A. prasina) ditemukan di habitat sungai karena daerah pinggiran sungai banyak terdapat pepohonan yang digunakan ular ini untuk tempat berlindung, mencari makan dan sarana untuk berpindah tempat. Ular siput dan ular pucuk adalah ular arboreal yang bergerak dari satu ranting ke ranting lainnya mencari makan dan pergi ke tempat lain mengikuti jalur pinggiran sungai.
Lembaga konservasi (LK) yang terdapat di Desa Singapadu dikelilingi oleh area persawahan dan sungai. Lembaga konservasi menyediakan habitat buatan untuk satwa yang dipelihara dan banyak terdapat pohon-pohon besar. Ular-ular di area sungai dan persawahan terkadang memasuki LK untuk berburu tikus atau burung serta bersembunyi dan membuat sarang di area LK. Banyaknya tikus dan pohon-pohon besar serta taman yang rapat di habitat LK memberikan