• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Keaslian Penelitian

Penelitian Vania dan Dewi (2014) dengan judul “The Relationship between social support and psychological well-being in schizophrenia caregiver”. Pada penelitian ini meneliti hubungan antara dukungan sosial dan psychological well-being. Selain itu, dalam penelitian ini menggunakan teori dari Sarafino (2011).

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu caregiver penderita gangguan skizofrenia sebanyak 60 subjek. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tipe dukungan sosial yang memberikan pengaruh paling signigfikan terhadap psychological well-being adalah dukungan jaringan sosial dan memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh antara dukungan sosial yang dirasakan dengan psychological well-being pada caregiver penderita gangguan skizofrenia.

Somlai & Hackman (2000) melakukan sebuah penelitian yang bertema

“Correlates of spirituality and well-being in a community sample of people living

with HIV disease” yeng bertujuan untuk menguji korelasi antara spiritualitas dengan well-being guna pengembangan intervensi yang berbasis spiritual.

Penelitian ini menggunakan 275 orang yang sudah di diagnosis terinfeksi HIV AIDS. Hasil penelitian menunjukkan tingkat spiritualitas yang tinggi sebanding dengan kepuasan hidup yang dialami oleh orang yang terinfeksi HIV AIDS.

1. Keaslian Topik

Penelitian ini memiliki keaslian topik karena dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vania dan Dewi (2014) meneliti tentang hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being. Selanjutnya Milatina dan Yanuvianti (2015) dengan kasus hubungan antara dukungan sosial dengan Psychological well-being pada wanita menopause (di RS Harapan Bunda Bandung). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Susanti (2012) meneliti hubungan antara harga diri dengan psychological well-being pada wanita lajang ditinjau dari bidang pekerjaan.

2. Keaslian Teori

Penelitian ini memiliki keaslian teori karena dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vania dan Dewi (2014) meneliti tentang hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being menggunakan teori dari Sarafino (2011). Selanjutnya Aryani (2014) dengan peran psychological well-being meneliti tentang “peran psychological well-well-being dan social support yang

berasal dari rekan kerja terhadap self-determination guru dalam upaya memperoleh sertifikasi menggunakan teori psychological well-being dari Ryff (1989). Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Susanti (2012) dan Amawidyati &

Utami (2008) menggunakan teori psychological well-being yang dikemukakan oleh Ryff (2006).

3. Keaslian Alat Ukur

Penelitian ini menggunakan skala yang diadaptasi dari Ryff’s psychological well-being (RPWB). Sebelumnya RPWB telah diadaptasi oleh Konow dan Earley (2008) dengan tujuan mengungkap psychological well-being pada setiap individu.

Sedangkan untuk alat ukur dukungan sosial (social support) dalam penelitian ini menggunakan alat ukur skala psikologi yang disusun oleh penulis berdasarkan alat ukur dukungan sosial yang digunakan peneliti adalah adaptasi dari Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang dikembangkan oleh Zimet, Dahlem, Zimet, & Farley (1988) dan RPWB yang telah diadaptasi oleh Konow dan Earley (2008)

4. Keaslian Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan berbeda dengan penelitian sebelumnya. Peneliti memilih Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang berada di wilayah Yogyakarta sebagai subjek penelitian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pychological Well-Being 1. Definisi Psychological Well-Being

Psychological well-being adalah suatu keadaan wellness yang merupakan manifestasi dari kesehatan mental. Kesehatan mental sendiri adalah sebuah istilah psikologis yang tidak mudah untuk didefinisikan. Menurut Ryff (1989), psychological well-being merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan kriteria fungsi psikologi positif (psychological well-being). Bradburn (1969) berpendapat bahwa psychological well-being dapat dilihat dari dua dimensi yaitu dimensi positive affect dan dimensi negative affect dimana keduanya mempengaruhi tingkat kebahagiaan seorang individu yang dianggap sebagai indikator psychological well-being. Psychological well-being sendiri merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya apa adanya (self-acceptance), membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain (positive relation with others), memiliki kemandirian dalam menghadapi tekanan sosial (autonomy), mengontrol lingkungan eksternal (environmental mastery), memiliki tujuan dalam hidupnya (purpose in life), serta mampu merealisasikan potensi dirinya secara continue (personal growth).

Konsep psychological well being yang dikembangkan oleh Ryff berdasarkan konsep kesejahteraan dari perspektif psikologi perkembangan dan

perspektif psikologi klinis. Perspektif psikologi perkembangan mengacu pada tahapan psikososial yang dikemukakan Erikson dimana kepribadian seseorang dipengaruhi oleh keberhasilan dalam setiap tahapan yang dilalui dan curve of life, yaitu tentang perbedaan ketercapaian antara kesejahteraan psikologis dengan kesejahteraan fisik yang dikemukakan Buhler. Perspektif kedua mengacu pada konsep aktualisasi dari Maslow, kematangan secara personal yang dijelaskan oleh Allport dan pendapat Rogers mengenai keberfungsian secara penuh dari seorang individu dimana dapat hidup sepenuhnya dengan perasaan yang dimiliki individu tersebut (Wells, 2010).

Ryff (1989) berpendapat pula bahwa istilah psychological well being merujuk kepada kesahatan psikologis yang ditinjau dari ketercapaian fungsi psikologi positif pada seorang individu. Ryff (1989) menjelaskan lebih lanjut bahwa psychological well-being merupakan ketercapaian segala fungsi psikologi secara maksimal serta kemampuan seorang individu menerima kekuatan serta kelemahan yang dimilikinya sehingga seluruh potensi yang tersimpan di dalam dirinya dapat diaktualisasikan.

Bradburn (1969) berpendapat bahwa psychological well-being dapat dilihat dari dua dimensi yaitu dimensi positive affect dan dimensi negative affect dimana keduanya mempengaruhi tingkat kebahagiaan seorang individu yang dianggap sebagai indikator psychological well-being. Johada (dalam Ryff, 1989)

mengatakan bahwa kesehatan mental tercapai apabila seorang individu terbebas dari penyakit fisik.

Berdasarkan pemaparan dari tokoh di atas, psychological well-being yaitu keadaan atau kondisi yang menggambarkan kesehatan psikologis seorang individu untuk menerima keadaan dirinya dalam kondisi apapun sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

2. Apek-aspek Psychological well-being

Ryff (1989) mengemukakan enam dimensi dari psychological well-being yaitu :

a) Penerimaan Diri (self-acceptance)

Penerimaan diri merupakan suatu ciri utama dari kesehatan mental yang sama dengan karakteristik individu yang mengaktualisasi diri, berfungsi optimal dan memiliki ciri kematangan. Penerimaan diri dalam hal ini ketika seorang individu dapat menerima keadaan dirinya secara positif, menengenali dan menerima segala aspek yang terdapat pada dirinya.

Seorang individu dikatakan memiliki penerimaan diri yang tinggi ketika dirinya mampu menerima segala sesuatu yang berada dalam hidupnya dengan sikap positif dan mampu menerima apa yang terjadi masa lalu dengan sikap positif. Sebaliknya, individu yang memiliki penerimaan diri yang rendah cenderung kecewa dengan keadaan yang ada pada dirinya sehingga merasa tidak

puas dan menyesali apa yang terjadi pada masa lalunya. Penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan menerima diri baik segi positif maupun negatif.

Individu yang menerima dirinya sendiri akan bersikap positif tehadap penilaian dirinya.

b) Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others)

Dimensi penting lain dari psychological well-being adalah kemampuan individu untuk membina hubungan yang hangat dengan orang lain. Individu yang matang digambarkan sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki perasaan empati dan kasih sayang yang kuat terhadap sesama manusia dan mampu memberikan cinta, memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain dengan baik.

Selain itu, menurut teori perkembangan masa dewasa, individu juga perlu untuk memiliki kedekatan (intimacy) dengan orang lain dan mampu memberikan bimbingan dan arahan kepada orang lain (generativity). Semua ciri yang ditekankan di atas merupakan karakteristik penting dari konsep psychological well-being. Erikson (dalam Feist & Feist, 2010) mengatakan bahwa seorang individu harus melewati tahapan intimacy yaitu menjalin hubungan yang mendalam dan membuat komitmen dengan sesama manusia. Seorang individu yang berhasil melewati tahapan ini akan memiliki interaksi yang baik dan hangat dengan individu lainnya.

c) Otonomi (autonomy)

Ryff (1995) memformulasikan bahwa individu dengan karakteristik skor yang tinggi pada dimensi ini memiliki rasa percaya akan kemampuan dirinya dpat menentukan nasibnya sendiri, dapat menahan tekanan sosial ketika memilih melakukan sebuah tindakan dan mampu mengevaluasi diri sesuai dengan standar dirinya sendiri. Dimensi otonomi menyangkut kemampuan untuk menentukan nasib sendiri (self-determination), bebas dan memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri. Menurut Maslow (dalam Calhoun & Acocell, 1990) dalam konsep aktualisasi diri, individu yang otonomi adalah individu yang memiliki rasa puas diri yang tinggi dan mampu untuk bertahan sendirian. Individu ini akan bertahan pada pendapatnya sendiri meskipun yang lain tidak setuju.

Kekuatan yang ada di dalam diri mampu membuat individu tersebut bertahan menghadapi tekanan dan gangguan dari luar. Ryff (1989) menyatakan sependapat dengan pandangan Rogers yang menyatakan bahwa individu yang otonomi merupakan individu yang dapat menentukan kondisi diri sendiri dalam bertindak. Dalam kondisi ini, individu mempunyai kepercayaan terhadap pengalaman sendiri sebagai sumber dalam pengambilan keputusan.

Konsekuensinya, individu itu akan mampu untuk bersikap mandiri dan tidak hanya mengandalkan norma-norma sosial yang berlaku atau pendapat orang lain, sehingga berpikir dan bertingkah laku dengan cara tertentu.

d) Penguasaan Lingkungan (enviromental mastery)

Allport (dalam Feist & Feist, 2010) berpendapat bahwa individu yag matang merupakan individu yang tidak terpusat pada dirinya sendiri serta mampu terlibat dalam masalah dan aktivitas yang tidak terpusat pada dirinya. Selain itu individu harus memiliki persepsi yang realistis sehingga tidak berpikiran dapat selalu membelokkan kenyataan sesuai harapan yang dimilikinya dan lebih berinteraksi dengan dunia luar. Kemampuan individu untuk memilih, menciptakan dan mengelola lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologisnya dalam rangka mengembangkan diri. Ini merupakan definisi karakteristik dari kesehatan mental.

Individu yang matang, digambarkan segabai individu yang mampu mengelola dan mengontrol lingkungan sekitarnya. Individu juga mampu mengembangkan diri secara kreatif melalui aktivitas fisik ataupun mental, serta menggunakan setiap kesempatan yang ada di lingkungan sekitar. Partisipasi aktif dalam lingkungan dan penguasaan lingkungan merupakan karakteristik penting dari psychological well-being.

e) Tujuan Hidup (purpose in life)

Adanya tujuan hidup yang jelas merupakan bagian penting dari karakteristik individu yang memiliki psychological well-being. Individu yang berada dalam kondisi ini diasumsikan memiliki keyakinan yang dapat memberikan makna dan arah bagi hidupnya. Individu yang memiliki psychological well-being perlu memiliki pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah hidup yang dijalaninya, misalnya individu dapat mengabdikan dirinya pada masyarakat. Koeswara (1992)

tentang kesehatan psikologis menekankan pada keinginan atau kehendak untuk bermakna (the will to meaning). Individu yang merasa kehilangan makna hidup (meaningless), tanpa tujuan dan arah akan membuat individu tersebut merasa bosan dalam menjalani kehidupannya. Perasaaan tidak bermakna merupakan perasaan dimana individu tidak berhasil menyadari arti hidup yang bermanfaat bagi dirinya. Apabila pekerja sosial mengalami kondisi ini, maka ia tidak akan dapat mengisi pekerjaannya dengan baik, merasa bosan, jemu, kosong dan hampa.

f) Pertumbuhan Pribadi (personal growth)

Fungsi psikologis yang optimal tidak hanya mampu mencapai karakteristik-karektisitk pribadi dari pengalaman-pengalaman terdahulu, melainkan juga mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai individu dapat berfungsi secara penuh (fully functioning). Individu yang dapat berfungsi secara penuh adalah individu yang dapat terbuka terhadap pengalaman sehingga akan lebih menyadari lingkungan sekitarnya

Berdasarkan penjelasan diatas, penelitian ini menggunakan dimensi psychological well-being yang dikemukakan Ryff & Singer (2008) yang mampu menggambarkan tingkat kesejahteraan psikologi pada orang dengan HIV AIDS.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Psychological well-being

Melalui berbagai penelitian yang dilakukan, Ryff (1989) menemukan bahwa faktor-faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan budaya mempengaruhi perkembangan psychological well-being seseorang.

a) Faktor Usia

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989), ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka semakin mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan keadaan dirinya. Individu yang berada dalam usia dewasa akhir memiliki skor psychological well-being yang lebih rendah dalam dimensi tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi, individu yang berada dalam usia dewasa madya memiliki skor psychological well-being yang lebih tinggi dalam dimensi penguasaan lingkungan; individu yang berada dalam usia dewasa awal memiliki skor yang lebih rendah dalam dimensi otonomi dan penguasaan lingkungan dan memiliki skor psychological well-being yang lebih tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi. Dimensi penerimaan diri dan dimensi hubungan positif dengan orang lain tidak memperlihatkan adanya perbedaan seiring dengan pertambahan usia .

b) Jenis kelamin

Satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan orang lain. Sejak kecil, stereotipe jender telah tertanam dalam diri anak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia dkk., 2001). Tidaklah mengherankan bahwa sifatsifat stereotipe ini akhirnya terbawa oleh individu sampai individu tersebut dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina keadaan harmoni dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.

c) Status sosial ekonomi

Status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan pribadi. Individu yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya.

d) Budaya

Sistem nilai individualisme-kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki

skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain

e) Dukungan Sosial

Menurut Ryff & Keyes (dalam Mami & Suharnan, 2015), dukungan sosial menjadi salah satu faktor pada psychological well being. individu-individu yang mendapatkan dukungan sosial memiliki tingkat psychological well being yang tinggi. Dukungan sosial sendiri diartikan sebagai rasa nyaman, perhatian, penghargaan, atau pertolongan yang dipersepsikan oleh seorang individu yang didapat dari orang lain atau kelompok. Dukungan ini dapat berasal dari berbagai sumber, diantaranya pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, dokter, maupun organisasi sosial.

f) Religiusitas

Ellison (1991) menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara ketaatan beragama (religiosity) dengan psychological well-being. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa individu dengan religiusitas yang kuat menunjukkan tingkat psychological well-being yang lebih tinggi dan lebih sedikit mengalami pengalaman traumatik.

g) Kepribadian

Schumutte dan Ryff (1997) telah melakukan penelitian mengenai hubungan antara lima tipe kepribadian (the big five traits) dengan dimensi-dimensi yang

mengarah kepada psychological well-being. Individu yang memiliki kepribadian cenderung negatif akan mudah marah, mudah terpengaruh, dan labil akan menunjukan tingkat psyhological well being yang rendah dan sebaliknya (Schmutte & Ryff, 1997).

Mirowsky dan Ross (Schied & Brown, 2009) menyatakan bahwa well-being dipengaruhi beberapa faktor, seperti keadaan ekonomi, pekerjaan, pernikahan, kondisi masa lalu, kesehatan, dan fungsi fisik. Berdasarkan penjelasan diatas diketahui banyak faktor yang mempengaruhi psychological well-being yang saling berkaitan atau secara mandiri mempengaruhinya. Oleh karena itu, psychological well-being merupakan salah satu bagian dari faktor kepribadian yang akan mempengaruhi tujuan hidup sehingga dapat mempengaruhi psychological well-being pada orang dengan HIV AIDS.

B. Dukungan Sosial (Social Support)

1. Definisi Dukungan Sosial (Social Support)

Dukungan sosial menurut Zimet, Dahlem, Zimet & Farley (1988) merupakan keyakinan individu akan ketersediaan dukungan sosial yang diberikan oleh orang-orang terdekat, meliputi keluarga, teman, orang-orang di sekitar sewaktu individu membutuhkannya. Kaplan (1993) menyatakan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh melalui individu-individu yang diketahui dapat diandalkan,

menghargai, dan memperhatikan serta mencintai kita dalam suatu jaringan sosial.

Lebih lanjut menurut Cobb (Maslihah, 2011) dukungan sosial menjadi pertolongan dan dukungan yang diperoleh seseorang dari interaksinya dengan orang lain. Dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamananpada orang lain, merawat ataupun menghargainya. Beberapa aspek dukungan sosial yang dapat diberikan berupa emotional support, esteem support, instrumental support, informational support, dan companionship support (Sarafino, 2011). Dukungan sosial sebagai satu diantara fungsi pertalian atau ikatan sosial menurut Rook (Smet,1994). Sarason dalam Kuntjoro (2002) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan.

Dukungan sosial akan mempengaruhi individu tergantung pada ada atau tidaknya tekanan dalam kehidupan individu. Tekanan tersebut dapat berasal dari individu itu sendiri atau dari luar dirinya untuk menghindari gangguan baik secara fisik dan psikologis. Individu membutuhkan orang lain disekitarnya untuk memberi dukungan guna memperoleh kenyamanannya. Menurut Gottlieb (1983) dukungan sosial merupakan informasi verbal atau non verbal, saran, bantuan nyata, atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dalam hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.

Hal ini juga didukung oleh Taylor, dkk., (2009) yang mendefinisikan dukungan sosial sebagai pertukaran interpersonal yang dicirikan oleh perhatian emosi, bantuan instrumental, penyediaan informasi, atau pertolongan lainnya, dimana dukungan sosial dipercaya mampu bisa menguatkan individu dalam menghadapi efek stres dan meningkatkan kesehatan fisik individu. Menurut Santrock (2002) dukungan sosial juga dipandang sebagai informasi dan umpan balik dari orang lain bahwa seseorang mencintai, menghargai dan memperhatikan seseorang yang dicintainya, yang kesemuanya merupakan kewajiban bersama.

Cobb, Gentry & Kobasa (Sarafino, 1994) mendefinisikan dukungan sosial mengacu pada kenyamanan yang dirasakan, kepedulian, harga diri, atau sebagai bentuk penerimaan seseorang terhadap orang lain maupun suatu kelompok.

Menurut Cobb (Sarafino, 1994), orang dengan dukungan sosial percaya bahwa mereka dicintai dan diperhatikan, dihargai dan bernilai, serta merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari jaringan sosial, seperti organisasi keluarga atau masyarakat, yang dapat menyediakan barang, jasa, dan pertahanan pada saat dibutuhkan atau bahaya. Sarafino (1994) mengartikan dukungan sosial sebagai suatu kesenangan yang dirasakan sebagai perhatian, penghargaan, atau pertolongan yang diterima dari orang lain atau suatu kelompok.

Selain itu, Sarafino (1994) juga menjelaskan pengaruh dukungan sosial terhadap kesehatan dengan mengusulkan dua teori, yaitu "buffering (penyangga)"

dan "direct effects (efek langsung)" hipotesis. Menurut buffering hypothesis,

dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dengan melindungi orang tersebut terhadap efek negatif dari stres yang tinggi. Fungsi dari buffering hypothesis (hipotesis penyangga) hanya akan efektif pada orang yang mengalami tingkat stres yang kuat. Namun pada keadaan stres yang rendah, akan sedikit bahkan tidak ada penyangga yang terjadi. Cohen & Wills (Sarafino, 1994) menjelaskan ada dua cara untuk menjelaskan buffering hypothesis (hipotesis penyangga). Cara pertama adalah dengan melibatkan proses penilaian kognitif. Ketika individu menghadapi stressor yang kuat, individu dengan dukungan sosial yang tinggi dapat mengharapkan seseorang yang dikenal untuk dapat membantu, misalnya dengan memberikan saran tentang hal tersebut. Cara kedua untuk mencegah pengaruh stres adalah memodifikasi respon masyarakat terhadap stressor. Individu dengan dukungan sosial yang tinggi mungkin memiliki seseorang yang dapat memberikan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi, dan meyakinkan bahwa masalah tersebut tidak terlalu penting, atau sekedar menghibur individu tersebut.

Direct effects hypothesis (hipotesis efek langsung) menyatakan bahwa dukungan sosial bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan terlepas dari pengalaman stres seseorang. Menurut hipotesis ini, efek yang menguntungkan dari dukungan sosial sebanding dengan tinggi rendahnya stressor (Sarafino, 1994).

Individu dengan tingkat dukungan sosial yang tinggi mungkin memiliki harga diri lebih besar dibandingkan individu dengan sedikit dukungan sosial. Hal ini bermanfaat bagi kesehatan khususnya terhadap pengalaman stres.

Menurut Sarafino (1994) tingginya dukungan sosial dapat mendorong individu memiliki gaya hidup yang lebih sehat daripada individu yang memiliki dukungan sosial yang rendah. Individu yang memiliki dukungan sosial merasa bahwa orang lain peduli kepada kondisinya dan membutuhkannya, sehingga individu tersebut harus memperhatikan kondisinya sebelum masalah menjadi lebih serius.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan bentuk dari perhatian, rasa menghargai, dan mencintai seseorang yang ditunjukkan baik dalam bentuk verbal atau non-verbal untuk menunjukkan penghargaan terhadap seseorang.

2. Aspek-aspek Dukungan Sosial

Menurut Zimet, dkk., (1988) dukungan sosial memiliki sumber-sumber spesifik, diantaranya:

a. Dukungan Keluarga (Family Support)

Dukungan keluarga sebagai sumber independen atau internal yang menjadi sumber dari dukungan sosial. Dukungan yang diberikan oleh keluarga, seperti orang tua, suami, dan saudara dekat dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi individu.

b. Dukungan Teman (Friends Support)

Dukungan teman sebagai sumber internal dari dukungan sosial yang berasal dari lingkungan individu, dimana dukungan tersebut berguna bagi individu untuk menciptakan perasaan senang dan diterima di suatu lingkungan. Teman dapat berasal dari lingkungan rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja individu tersebut.

c. Dukungan Orang-Orang Terdekat (Significant Others Support)

Dukungan orang-orang terdekat merujuk kepada dukungan sejumlah orang yang dianggap berperan penting dalam kehidupan individu, yang berasal dari lingkungan yang berbeda dengan individu tersebut. Pasangan, dokter, dan perawat merupakan contoh orang-orang yang dapat dikatakan sebagai Significant others.

Dukungan orang-orang terdekat merujuk kepada dukungan sejumlah orang yang dianggap berperan penting dalam kehidupan individu, yang berasal dari lingkungan yang berbeda dengan individu tersebut. Pasangan, dokter, dan perawat merupakan contoh orang-orang yang dapat dikatakan sebagai Significant others.

Dokumen terkait