• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL (SOCIAL SUPPORT) DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ODHA (ORANG DENGAN HIV AIDS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL (SOCIAL SUPPORT) DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ODHA (ORANG DENGAN HIV AIDS)"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL (SOCIAL SUPPORT) DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ODHA (ORANG

DENGAN HIV AIDS)

SKRIPSI

Oleh :

Ghea Niasgita Faradila Uzra 13320185

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA 2017

(2)

i

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL (SOCIAL SUPPORT) DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ODHA (ORANG

DENGAN HIV AIDS)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Psikologi,

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Guna Memperoleh

Derajat Sarjana S1 Psikologi

Oleh:

Ghea Niasgita Faradila Uzra 13320185

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA 2017

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Segala puji dan syukur pada Zat yang Maha Agung, Allah Subhanahu wa taalla,

atas segala rahmat, hidayah, nikmat dan hikmah kehidupan yang dianugerahkan kepada penulis sehingga karya kecil ini ini dapat terselesaikan.

Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan para pengikutnya

Karya kecil ini penulis persembahkan kepada:

Ayah tercinta H.Ambo Asse SH.,MH dan Ibu Tercinta Hj. Nining Sumarsih

Terima kasih atas cinta, kasih sayang, perjuangan, pengertian, perhatian serta lantunan doa tak terputus serta dukungan dalam bentuk apapun yang tiada hentinya diberikan selama ini, sampai kapanpun tidak akan dapat terbalas oleh

penulis

Saudaraku Tercinta Dea Amnitra Syahid Hidayatullah SH dan Zhea Dzikra Dhaffa Dhaifullah

Terima kasih atas semangat, dukungan dan doa untuk kelancaran proses pengerjaan skripsi ini hingga selesai

Terima kasih telah berkenan menjadi saudara dan keluarga terhebat dalam hidupku

(6)

v

Teruntuk Ibu DPS Terhormat

Dr. Phil. Qurotul Uyun., S.Psi., M.Si., Psikolog

Terimakasih atas bimbingan, motivasi, bantuan dan perhatian Ibu, sehingga karya ini bisa terselesaikan dengan baik.

(7)

vi

HALAMAN MOTTO

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang

lain."

(Q. S. Al Insyirah ayat 5-7)

Dan Allah lebih mengetahui daripada kamu tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung bagimu. Dan cukuplah Allah menjadi

Penolong bagimu.”

(Q.S. An Nisaa’ ayat 45)

“Don’t put till tommorow what you can do today”

(Ghea Niasgita F Uzra)

(8)

vii PRAKATA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Alhamdulillahi Robbil‘aalamiin. Segala puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'alla, Tuhan Semesta alam. Shalawat serta salam selalu terlantun kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam beserta keluarga, para sahabat serta pengikut-pengikutnya yang shaleh dan shaleha hingga akhir waktu nanti.

Penulis menyadari bahwa selama menjalani proses penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan berupa bimbingan, dorongan, motivasi, masukan, dan doa yang diperlukan penulis dari mulai persiapan hingga tersusunnya skripsi ini. Untuk itu, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr.rer.nat Arief Fahmie, S.Psi., MA., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

2. Ibu Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

3. Ibu Dr. Phil. Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., Psikolog., sebagai dosen pembimbing skripsi, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, serta senantiasa memberikan dukungan dan perhatiannnya sehingga penulis selalu optimis dalam mengerjakan skripsi.

(9)

viii

4. Bapak R. Sumedi Nugraha, B.A.,M.Ed.,M.Sc.,Ph.D sebagai Dosen Pembimbing Akademik yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran untuk memberikan arahan, bimbingan, motivasi dan masukan yang bermanfaat bagi penulis.

5. Segenap Dosen Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, yang berkenan membagikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada penulis.

6. Seluruh staf Bagian Pengajaran, Perpustakaan, Unit Laboratorium, serta karyawan Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, atas segala bantuan dan kemudahan yang diberikan kepada penulis selama menuntut ilmu di Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya

7. Pak Samuel dan mas Yan selaku direktur dan wakil direktur yayasan VP yang telah memberikan izin dan kemudahan kepada peneliti untuk melakukan pengambilan data penelitian di yayasan tersebut

8. Teman-teman ODHA yang tergabung dalam yayasan VP yang telah membantu kelancaran pengambilan data penelitian.

9. Kepada ibu, papa, kakak, dan adik yang telah mendoakan, mendukung penulis dengan sepenuh hati menyemangati tanpa henti. Yang tidak pernah bosan mendoakan, memberikan dukungan, kasih sayang, dan restu kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

10. Kakek, nenek, pakde, budhe, semua keluarga besar terimakasih atas doa dan dukungannya kepada penulis.

(10)

ix

11. Teman seperjuangan, Irman Nuryadin Siddik, S.Psi yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi dan bekerja sama.

12. Sahabatku, Gina Khairunisa, Indi Nailufar Hamro, Dian Ratna Sari, Zulia Ady, Fuji Anugerah Emily. Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

13. Sahabat-sahabat Desy Anjani, Deby Nur Cholifah, Annisa Ramadhona, Cakra, Dinda Younfa, Uya, Riesteny Iswin, Rio, Rizki Aulia, Umi Iffah, Wibi. Teruntuk pula Mufida Azmi, Tiffania Evananda, Riska Ayunda, Farra Rosyana. Terimakasih atas pengalaman yang telah dibagikan kepada penulis 14. Teman-teman KKN Kalirejo 168 “Anak Papah Maryono” Annisa Isti, Mba Sari, Mba Ery, Fahmi, Evan, Rizki dan Hafidz. Terimakasih atas pengalaman selama sebulan yang sangat berkesan. See you on top !

15. Teman-temanku Nur Fitriana Syam, Fitria Lestari, Poppy makasih atas dukungannya. Wita, Silvia, Siti Nur, Maulita, Annisa Laksono, Rion Kurnianto teman perantauan.

16. Teruntuk keluarga LEM UII periode 2014-2015. Terima kasih untuk pengalaman berorganisasi berharganya kepada penulis. Sukses selalu untuk kalian semua dimanapun kalian berada saat ini.

17. Teruntuk bidang Jaringan dan Advokasi (JAD) LEM UII periode 2014- 2015, Adil, Bayu, Farid, Haryo, Teny, Rahmy, Dimas, Havis, Laurent, dan Wirda. Terima kasih untuk pembelajarannya yang diberikan kepada penulis selama satu periode.

(11)

x

18. Teman-teman Psikologi UII angkatan 2013 kelas C. Terimakasih atas semua dukungan dan pengalaman yang telah diberikan.

19. Teman-teman Psikologi angkatan 2013 atas kebersamaannya selama di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya.

20. Semua pihak yang terlibat selama proses menimba ilmu psikologi di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial budaya Universitas Islam Indonesia yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala mencatat semua kebaikan yang telah ditebarkan sebagai amal sholeh, diberikan pahala dan kebaikan yang sepantasnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Akhir kata dan tiada kata yang pantas terucap dari penulis selain memohon maaf apabila selama penulisan skripsi ini melakukan kekhilafan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca sebagai referensi dan terutama bagi penulis sendiri.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yogyakarta, 17 Februari 2017

Penulis

(12)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... vi

HALAMAN PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

INTISARI ……….. xvii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 12

C. Manfaat Penelitian ... 12

D. Keaslian Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 16

A. Psychological Well-Being ………...………... 16

1. Pengertian Psychological Well-Being ………... 16

2. Aspek- Aspek Psychological Well-Being ... 18 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological Well- 23

(13)

xii Being…...

B. Dukungan Sosial ………... 26

1. Pengertian Dukungan Sosial... 26

2. Aspek- Aspek Dukungan Sosial………... 30

C. Dinamika Psikologis... 33

D. Hipotesis Penelitian ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 38

A. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian ... 38

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 38

1. Psychological Well-Being …………... 38

2. Dukungan Sosial …...…………... 39

C. Subjek Penelitian... 40

D. Metode Pengumpulan Data... 40

1. Skala Psychological Well-Being ………... 40

2. Skala Dukungan Sosial ………... 42

E. Validitas dan Reliabilitas... 43

F. Metode Analisis Data... 45

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN... 46

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian... 46

1. Orientasi Kancah... 46

2. Persiapan Penelitian... 48

a. Persiapan Administrasi... 48

b. Persiapan Alat Ukur... 48

(14)

xiii

c. Uji Coba Alat Ukur... 50

B. Pelaksanaan Penelitian ... 52

C. Hasil Penelitian... 53

1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 53

2. Deskripsi Data Penelitian... 55

3. Uji Asumsi ... 57

4. Uji Hipotesis... 5. Uji Analisis Tambahan... 59 60 D. Pembahasan ... 62

BAB V PENUTUP ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran... 70

DAFTAR PUSTAKA... 72

LAMPIRAN... 77

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Distribusi Aitem Skala Psychological Well-Being Sebelum Uji Coba...

42 Tabel 2 Distribusi Aitem Skala Dukungan Sosial (Social Support)

Sebelum Uji Coba...

43 Tabel 3 Rencana Analisis dan Taraf Signifikansi...

45 Tabel 4 Distribusi Aitem Skala Psychological Well-Being Setelah Uji

Coba...

51 Tabel 5 Distribusi Aitem Dukungan Sosial (Social Support)...

52 Tabel 6 Deskripsi Responden Penelitian...

53 Tabel 7 Data Rentang Waktu Responden Terinfeksi... 54 Tabel 8 Data Penyebab Responden Terinfeksi...

54 Tabel 9 Data Tinggal Bersama Responden ... 54 Tabel 10 Data Status Responden... 55 Tabel 11 Pembagian Persentil Data Penelitian...

55 Tabel 12 Rumus Norma Kategorisasi...

55 Tabel 13 Kategorisasi Subjek pada Variabel Dukungan Sosial (Social

Support) dan Psychological Well-Being...

56 Tabel 14 Deskripsi Data Penelitian...

56 Tabel 15 Hasil Uji Normalitas...

58 Tabel 16 Hasil Uji Linearitas...

59 Tabel 17 Hasil Uji Hipotesis ... 60

(16)

xv

Tabel 18 Hasil Uji Komponen Dukungan Sosial (Social Support) dengan Psychological Well-Being...

61 Tabel 19 Uji Regresi...

61

(17)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Try Out ………... 77

Lampiran 2 Tabulasi Try Out ………... 85

Lampiran 3 Hasil Analisa Try Out ……….. 93

Lampiran 4 Skala Penelitian... 97

Lampiran 5 Tabulasi Data Penelitian... 105

Lampiran 6 Hasil Uji Normalitas………... 109

Lampiran 7 Hasil Uji Linearitas………... 110

Lampiran 8 Hasil Uji Hipotesis………... 112

Lampiran 9 Lampran 10 Kategorisasi ... Surat Izin Penelitian ……… 113 114 Lampiran 11 Surat Keterangan Selesai Penelitian …... 115

(18)

xvii

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL (SOCIAL SUPPORT) DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA

ORANG DENGAN HIV/AIDS

Ghea Niasgita Faradila Uzra Qurotul Uyun

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial (social support) dan psychological well being pada orang dengan HIV/AIDS.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada orang dengan HIV/AIDS. Untuk menguji hipotesis penelitian, peneliti melakukan pengambilan data menggunakan skala psychological well being yang diadaptasi dari skala Ryff (1989) dan skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang dikembangkan oleh Zimet, Dahlem, Zimet, & Farley pada tahun 1988. Skala tersebut disebarkan kepada 55 ODHA yang tergabung dalam yayasan VP.

Analisis korelasi menunjukan nilai koefisien r= 0,562 dengan signifikansi (p) <

0,01 sehingga hipotesis diterima.

Kata kunci : Psychological Well Being, Dukungan Sosial, HIV/AIDS, ODHA

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada zaman sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat mendorong manusia menciptakan media untuk saling berkomunikasi tanpa adanya batasan jarak sehingga sesama manusia dapat saling bertukar pikiran, gagasan maupun budaya. Pertemuan budaya tersebut berimbas pada masuknya budaya dari luar yag bersifat negatif maupun positif tanpa dapat terbendungkan lagi. Salah satu budaya negatif yang masuk ke Indonesia adalah pergaulan bebas yang tidak sesuai dengan norma sosial maupun norma agama yang ada di Indonesia. Selain tidak sesuai dengan norma, perilaku pergaulan bebas merupakan perilaku yang lebih banyak mendatangkan mudarat daripada kebaikan dimana salah satu contoh yang menimbulkan berbagai macam penyakit kelamin. Seks bebas merupakan perilaku yang di dorong oleh hasrat seksual, dimana kebutuhan tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan sistem regulasi tradisional dan bertentangan dengan sistem norma yang berlaku dalam masyarakat (Kartono, 1997).

Diantara banyaknya penyakit yang muncul akibat pergaulan bebas terdapat sebuah penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya yaitu HIV AIDS.

Penyakit HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Menurut data WHO (World Health

(20)

Organization) tahun 2012, penemuan kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di dunia pada tahun 2012 mencapai 2,3 juta kasus, dimana sebanyak 1,6 juta penderita meninggal karena AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan 210.000 penderita berusia di bawah 15 tahun (WHO, 2012). HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah virus yang menyerang dan menurunkan system kekebalan tubuh manusia. Kekebalan tubuh sendiri merupakan pertahanan alamiah yang terdapat pada manusia untuk menangkal berbagai ancaman virus maupun bakteri yang menjadi sumber penyakit. HIV pertama kali ditemukan di benua Afrika pada abad ke-20 dan saat ini sudah menyebar keseluruh negara akibat tingginya perpindahan penduduk didunia ini.

Secara umum virus HIV ini memiliki dampak yang lambat sehingga menyulitkan untuk melakukan pendeteksian dini dan fakta tersebutlah yang memicu semakin luasnya penyebaran virus ini. Individu yang terinfeksi virus HIV akan mengalami penurunan kekebalan tubuh dengan drastis sehingga sangat rentan mengidap AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS merupakan keadaan dimana pengidap HIV sudah tidak memiliki sistem kekebalan tubuh yang efektif sehingga sangat rentan mengalami penyakit yang sebenarnya dapat dihindarkan apabila memiliki system kekebalan tubuh yang baik dan efektif (Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2009). Faktor penyebab HIV/AIDS kini beralih, dari semula sempat didominasi infeksi pada pengguna

(21)

jarum suntik (penasun), kini menjadi dipicu perilaku seks berganti pasangan (pdpersi.co.id, 2016). Beberapa pemberitaan mengenai tingginya angka penderita HIV/AIDS, seperti yang diberitakan oleh Wirastami pada laman jogja.tribunnews.com, data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta hingga Desember 2014 lalu, jumlah kasus HIV/AIDS mencapai 802 kasus. Dari jumlah tersebut 554 kasus adalah HIV dan 248 kasus adalah AIDS. Pada 2012 kasus HIV/AIDS di Kota Yogyakarta tercatat 561 kasus. Lalu meningkat menjadi 677 kasus di 2013 dan 802 di kasus 2014.

Berita yang ditulis oleh Syudaha (Seputarjabar.com, 2014) menyatakan bahwa pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan sehingga pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan.

Hal ini dapat mengakibatkan perilaku-perilaku yang negatif, seperti minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Indonesia berada di peringkat ketiga yang paling banyak mengakses situs porno dan di peringkat pertama adalah India. Dengan banyaknya pengakses situs porno di Indonesia, tidak menutup kemungkinan maraknya seks bebas berpotensi menularkan virus HIV melalui hubungan seksual. Bahkan, daerah yang paling besar mengakses situs porno adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kota ini dijuluki sebagai kota pelajar

(22)

ungkap asisten Deputi Kelembagaan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Haliq Siddiq.

Pada kehidupan masyarakat, ODHA dianggap sebagai seseorang yang membawa penyakit berbahaya dan dijauhi oleh masyarakat lainnya. Seperti yang diberitakan oleh Ya`kub (antaranews.com), bahwa diskriminasi dan stigma dari masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS sebagai kelompok `hitam` membuat penderita menyembunyikan penyakit mereka. Stigma seperti yang terjadi pada masyarakat sendiri yaitu merujuk pada persepsi yang negatif pada suatu keadaan yang sebenarnya tidak terbukti kemudian digunakan oleh seseorang atau kelompokdalam menggangap suatu keadaan negatif yang kemudian akan dipakai menjadi suatu norma pada seseorang atau kelompok dalam masyarakat (Busza, 2004). Stigma negatif yang ditujukan terhadap ODHA menimbulkan persepsi yang keliru. Hukuman sosial oleh masyarakat di berbagai daerah berupa tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang terkena penyakit tersebut (Humas BNN, 2011). Ditjen PP (Pengendalian Penyakit) dan PL (Penyehatan Lingkungan) Kemenkes RI tahun 2016 dalam data statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia melaporkan bahwa penderita HIV pertanggal 1 Januari sampai dengan 31 Maret 2016 jumlah penderita HIV sebanyak 32.711 dan AIDS 7864 yang berasal dari Sabang hingga Merauke. Daerah Yogyakarta sendiri memiliki kasus pelaporan penderita dengan kumulatif HIV dengan prevalensi per 100.000 penduduk sebesar 36.12. Penderita yang meninggal dikarenakan

(23)

terjangkir HIV/AIDS berjumlah 171 orang. (Infodatin AIDS) Pada tahun 2013, di seluruh dunia terdapat 35 jura orang mengidap HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta anak berusia dibawah 15 tahun. Jumlah infeksi baru HIV pada tahun 2013 sebesar 2.1 juta yang terdiri dari 1.9 juta dewasa dan 240.000 anak berusia dibawah 15 tahun. Jumlah kematian akibat AIDS seanyak 1,5 juta yang terdiri dari 1,3 juta dewasa dan 190.000 anak berusia dibawah 15 tahun.

Di provinsi DIY, pada tahun 2016 terdapat 1314 orang menderita AIDS yang mana 874 penderita berjenis kelamin laki-laki, 430 penderita berjenis kelamin perempuan dan 10 lagi tidak diketahui. Sedangkan untuk HIV terdapat 3344 yaitu 2215 penderita berjenis kelamin laki-laki, 1051 penderita bernenis kelamin perempuan dan 68 tidak diketahui (aidsyorga.or.id). Berdasarkan dari data yang ada faktor resiko penularan tertinggi yaitu melalui hubungan heteroseksual dengan jumlah 908 kasus dari total 1314. Sedangkan sisanya dari berbagai sebab seperti hubungan biseksual, transfusi darah, dan penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Penderita HIV/AIDS yang semakin meningkat setiap tahunnya memiliki implikasi yang meliputi fisik, psikologis, dan sosial. Implikasi fisik meliputi menurunnya kekebalan tubuh yang dimiliki oleh ODHA serta rentannya tubuh dalam menghadapi berbagai penyakit. Implikasi psikologis seperti mudahnya putus asa, kehilangan rasa percaya diri, munculnya rasa frustasi serta konflik yang akan timbul ketika ODHA memberitahukan statusnya kepada lingkungan

(24)

terdekatnya yang kemudian akan menjauhi dirinya. Sedangkan implikasi sosial berkaitan dengan stigma sosial yang muncul dikarenakan masyarakat beranggapan bahwa ODHA merupakan aib yang menjadikan individu mendapatkan perlakuan diskriminatif. Mengidap HIV/AIDS di Indonesia masih dianggap aib, sehingga dapat menyebabkan tekanan psikologis terutama pada penderitanya maupun pada keluarga dan lingkungan disekeliling penderita (Nursalam & Kurniawati, 2007)

Penderita penyakit ini banyak ditemukan belum dapat menerima kenyataan bahwa dirinya terjangkit HIV/AIDS. Ada yang merasa bahwa dirinya merasa kesulitan dengan membuat dirinya merasa nyaman dengan lingkungan yang mengetahui penyakitnya. Ada banyak individu yang mengalami penderitaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Savira & Budiman (2015) pada sebuah LSM di Bandung menunjukan bahwa sebanyak 62,07% ODHA stadium IV memiliki psychological well-being yang rendah dan 37,93% ODHA stadium IV memiliki psychological well-being yang tinggi, artinya lebih banyak ODHA stadium IV di LSM RCB yang merasa kurang mampu menerima dirinya, kurang mampu menjalin hubungan positif dengan orang lain, kurang mandiri, kesulitan dalam menguasai lingkungannya, belum memiliki tujuan hidup yang jelas, dan merasa bahwa dirinya tidak berkembang. Meskipun demikian, banyak juga individu yang berhasil dalam mengatasi kesulitan dan perasaan-perasaan tidak menyenangkan akibat penderitaannya. Mereka mampu mengubah kondisi penghayatan dirinya dari penghayatan tidak bermakna menjadi bermakna. Kehendak untuk hidup

(25)

secara bermakna merupakan motivasi utama pada diri manusia. Hasrat inilah yang memotivasi orang untuk bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan penting yang lain dengan tujuan agar hidupnya menjadi berharga dan dihayati secara bermakna (Bastaman, 2007).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa ODHA yang berada di yayasan VP, didapatkan hasil bahwa beberapa ODHA yang tergabung dalam yayasan, terjangkit HIV/AIDS dikarenakan faktor hubungan seksual, dan penggunaan jarum suntik. ODHA dalam yayasan VP menyadari bahwa hubungan seksual merupakan perilaku yang dilarang tetapi mereka tetap melakukannya bahkan bukan bersama pasangan resmi. Para ODHA mengalami gejala awal terkena HIV/AIDS seperti demam, kelelahan, ruam pada kulit, menurunnya daya tahan tubuh, dan infeksi. Beberapa ODHA cenderung pasrah dan putus asa terhadap penyakit yang mereka derita. Tetapi beberapa ODHA ada yang memiliki semangat hidup dan tujuan yang jelas ketika telah di vonis terkena HIV/AIDS.

Inilah yang disebut psychological well-being dimana manusia menghayati kualitas potensi dirinya dan pencapaian tujuan hidupnya sehingga dapat memberikan arti dalam kehidupannya. Ketika individu memiliki serta mengetahui sebuah tujuan hidup atau untuk apa dia hidup, individu akan sanggup dan tangguh didalam menghadapi hampir semua yang terjadi atas dirinya serta kesulitan hidup sebesar apapun (Koeswara, 1992). Berdasarkan kasus di atas, dapat disimpulkan

(26)

bahwa psychological well-being yang ada dalam diri ODHA sangat berpengaruh terhadap berbagai mekanisme pertahanan dan tujuan hidup ODHA. Pada dasarnya ketika seorang penderita ODHA memiliki psychological well-being yang rendah akan muncul perilaku negatif dan psychological well-being yang tinggi memunculkan perilaku positif sehingga tujuan hidup dari ODHA menjadi berarti.

Secara umum penderita HIV/AIDS harus berhadapan dengan masalah yang dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu menghadapi masalah kesehatan yang berkaitan dengan akibat dari virus HIV, menghadapi kemungkinan akan datangnya kematian yang cepat. Menghadapi reaksi lain, terutama masyarakat umum sehubungan dengan stigma dan diskriminasi terhadap HIV/AIDS. Sampai saat ini sikap diskriminasi dan stigmatisasi terhadap penderita HIV/AIDS masih melekat pada masyarakat. Stigma ini tidak bersifat sementara, ini mengikuti penderita HIV/AIDS sepanjang hayat karena sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkannya. Banyak anggota masyarakat yang menolak atau menghindari berinteraksi, bersentuhan dan berurusan dengan pengidap HIV/AIDS. Terdapat banyak berita yang mengatakan bahwa orang yang HIV positif dan pengidap AIDS didiskriminasi dan dilayani secara negatif oleh masyarakat. Diskriminasi yang diperoleh dari banyak pihak akan semakin menambah beban yang dipikul oleh orang dengan HIV/AIDS karena sebenarnya orang dengan HIV/AIDS sudah terbebani oleh tanggung jawab terhadap tubuhnya sendiri. Stigma negatif dan diskriminasi yang dialami orang dengan HIV/AIDS

(27)

dapat memberikan efek negatif pada harga diri, memengaruhi penyesuaian diri, sosial, dan kesejahteraan (Mohammad, 2002).

Dari stigma negatif yang didapatkan, ODHA memerlukan persepsi positif yang berasal dari dirinya terhadap lingkungannya untuk memperoleh kepercayaan diri atas penyakit yang dihadapi. ODHA dalam menjalani aktifitasnya diharapkan untuk dapat menerima serta sabar menghadapi perlakuan yang diberikan oleh masyarakat terhadapnya. Hurlock (2002) menyatakan bahwa penerimaan diri adalah suatu kemampuan dan keinginan dari individu untuk hidup dengan karakteristik yang ada pada dirinya. Ketika seorang ODHA memiliki dukungan sosial yang baik, maka psychological well-being yang dimiliki semakin tinggi dan sebaliknya. Salah satu faktor yang mempengaruhi individu dalam menerima dirinya sendiri adalah adanya dukungan sosial yang dapat membantu seseorang untuk dapat menerima dirinya ketika menghadapi penyakit tersebut.

Dukungan sosial menurut Sarafino (1994) mengacu pada bantuan emosional, informatif, instrumental dan finansial, dimana hal tersebut dapat diberikan oleh keluarga, teman, dan orang sekitar (Zimet, Dahlem, Zimet, &

Farley, 1988). Dukungan sosial bisa efektif dalam mengatasi tekanan psikologis pada masa-masa sulit dan menekan (Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Hal ini pula yang terjadi pada seorang ODHA. Saat ODHA berada pada masa sulit dan tertekan yang dapat menimbulkan stres, dukungan sosial menjadi penting untuk mengembalikan tujuan hidup dengan psychological well-being pasien terkait

(28)

dengan kondisi psikologisnya. Dukungan sosial bukan sebagai penyebab dari berbagai kesembuhan penyakit, tetapi dapat digunakan pada beberapa penyakit tertentu, termasuk ODHA dalam mengembalikan kepercayaan diri pasien untuk berjuang dari sakitnya (Sarafino, 1994).

Dukungan sosial diperlukan oleh ODHA agar dirinya dapat menerima keadaan dirinya maupun lingkungannya serta dapat berkomunikasi dengan baik.

Kaplan (1993) menyatakan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh melalui individu-individu yang diketahui dapat diandalkan, menghargai, dan memperhatikan serta mencintai kita dalam suatu jaringan sosial. Dukungan sosial tersebut dapat diperoleh dalam suatu jaringan yang didalamnya menyangkut kehidupan ODHA. Dukungan yang diberikan dapat berasal dari internal maupun eksternal individu tersebut seperti keluarga, teman, sahabat, bahkan beberapa orang yang tergabung dalam LSM yang menaungi beberapa individu dengan penyakit yang sama. Beberapa dukungan sosial yang dapat diberikan berupa emotional support, esteem support, instrumental support, informational support, dan companionship support (Sarafino, 2011).

Pendekatan psikologis pada ODHA sangat penting agar ODHA tidak jatuh dalam kondisi stress, cemas, depresi yang pada gilirannya akan menurunkan imunitasnya (kekebalan tubuh) yang amat penting dalam kehidupannya, dengan kehidupan yang bermakna akan menampilkan pribadi yang bersemangat, tidak merasa bosan, tidak merasa hampa dan mempunyai tujuan hidup yang diketahui

(29)

baik jangka pendek atau jangka panjang sehingga kegiatan yang dilakukan terarah dan juga dengan adanya tujuan hidup maka seseorang akan lebih mampu mempertahankan hidupnya pada berbagai kondisi.

Dukungan yang ada dapat memberikan rasa nyaman meliputi fisik maupun psikologis kepada individu. Individu yang tidak mendapatkan dukungan sosial dapat mengalami stress dalam jangka panjang yang mengakibatkan buruknya kondisi kesehatan. Tetapi dengan adanya dukungan yang diberikan, individu yang sedang menghadapi atau mengalami stress dapat mempertahankan daya tahan tubuh dan meningkatkan kesehatannya (Baron & Byrne, 2000). Dukungan dalam upaya pencegahan terhadap perilaku-perilaku yang dapat merugikan individu itu sendiri. Dukungan yang diterima, memunculkan sikap positif berupa kesabaran, ketabahan, dan adanya penerimaan serta hubungan yang positif dengan oranglain yang ditunjukan oleh ODHA terhadap penyakit yang dihadapi. Sikap tersebut mengarah kepada terbentuknya kondisi psikologis yang positif (positive psychology functioning) yang membawa menuju terciptanya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dalam diri seseorang. Dukungan sosial diharapkan menjadi faktor yang meningkatkan psychological well-being seorang ODHA dalam menjalani kehidupan lebih positif.

Berdasarkan latar belakang masalah dan uraian pustaka singkat keterkaitan di antara keduanya, penelitian ini merumusakan masalah penelitian sebagai

(30)

berikut : Apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada ODHA?

B. Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empirik hubungan antara dukungan sosial (social support) dan psychological well-being pada ODHA. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui tipe dukungan sosial yang memberikan pengaruh paling signifikan terhadap psychological well-being pada ODHA.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memberikan sumbangan penelitian ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu Psikologi Klinis. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khasanah dan memberikan manfaat bagi peneliti yang tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik mengenai psychological well-being dan dukungan sosial.

(31)

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan kepada orang-orang di sekitar lingkungan ODHA untuk lebih mengerti mengenai ODHA dan diharapkan dapat memberikan dukungan sosial dengan positif sehingga ODHA dapat bertahan hidup dan memiliki tujuan dalam menjalani kehidupannya meskipun menghadapi permasalahan.

D. Keaslian Penelitian

Penelitian Vania dan Dewi (2014) dengan judul “The Relationship between social support and psychological well-being in schizophrenia caregiver”. Pada penelitian ini meneliti hubungan antara dukungan sosial dan psychological well- being. Selain itu, dalam penelitian ini menggunakan teori dari Sarafino (2011).

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu caregiver penderita gangguan skizofrenia sebanyak 60 subjek. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tipe dukungan sosial yang memberikan pengaruh paling signigfikan terhadap psychological well-being adalah dukungan jaringan sosial dan memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh antara dukungan sosial yang dirasakan dengan psychological well-being pada caregiver penderita gangguan skizofrenia.

Somlai & Hackman (2000) melakukan sebuah penelitian yang bertema

“Correlates of spirituality and well-being in a community sample of people living

(32)

with HIV disease” yeng bertujuan untuk menguji korelasi antara spiritualitas dengan well-being guna pengembangan intervensi yang berbasis spiritual.

Penelitian ini menggunakan 275 orang yang sudah di diagnosis terinfeksi HIV AIDS. Hasil penelitian menunjukkan tingkat spiritualitas yang tinggi sebanding dengan kepuasan hidup yang dialami oleh orang yang terinfeksi HIV AIDS.

1. Keaslian Topik

Penelitian ini memiliki keaslian topik karena dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vania dan Dewi (2014) meneliti tentang hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being. Selanjutnya Milatina dan Yanuvianti (2015) dengan kasus hubungan antara dukungan sosial dengan Psychological well-being pada wanita menopause (di RS Harapan Bunda Bandung). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Susanti (2012) meneliti hubungan antara harga diri dengan psychological well-being pada wanita lajang ditinjau dari bidang pekerjaan.

2. Keaslian Teori

Penelitian ini memiliki keaslian teori karena dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vania dan Dewi (2014) meneliti tentang hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being menggunakan teori dari Sarafino (2011). Selanjutnya Aryani (2014) dengan peran psychological well- being meneliti tentang “peran psychological well-being dan social support yang

(33)

berasal dari rekan kerja terhadap self-determination guru dalam upaya memperoleh sertifikasi menggunakan teori psychological well-being dari Ryff (1989). Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Susanti (2012) dan Amawidyati &

Utami (2008) menggunakan teori psychological well-being yang dikemukakan oleh Ryff (2006).

3. Keaslian Alat Ukur

Penelitian ini menggunakan skala yang diadaptasi dari Ryff’s psychological well-being (RPWB). Sebelumnya RPWB telah diadaptasi oleh Konow dan Earley (2008) dengan tujuan mengungkap psychological well-being pada setiap individu.

Sedangkan untuk alat ukur dukungan sosial (social support) dalam penelitian ini menggunakan alat ukur skala psikologi yang disusun oleh penulis berdasarkan alat ukur dukungan sosial yang digunakan peneliti adalah adaptasi dari Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang dikembangkan oleh Zimet, Dahlem, Zimet, & Farley (1988) dan RPWB yang telah diadaptasi oleh Konow dan Earley (2008)

4. Keaslian Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan berbeda dengan penelitian sebelumnya. Peneliti memilih Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang berada di wilayah Yogyakarta sebagai subjek penelitian.

(34)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pychological Well-Being 1. Definisi Psychological Well-Being

Psychological well-being adalah suatu keadaan wellness yang merupakan manifestasi dari kesehatan mental. Kesehatan mental sendiri adalah sebuah istilah psikologis yang tidak mudah untuk didefinisikan. Menurut Ryff (1989), psychological well-being merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan kriteria fungsi psikologi positif (psychological well-being). Bradburn (1969) berpendapat bahwa psychological well-being dapat dilihat dari dua dimensi yaitu dimensi positive affect dan dimensi negative affect dimana keduanya mempengaruhi tingkat kebahagiaan seorang individu yang dianggap sebagai indikator psychological well-being. Psychological well-being sendiri merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya apa adanya (self-acceptance), membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain (positive relation with others), memiliki kemandirian dalam menghadapi tekanan sosial (autonomy), mengontrol lingkungan eksternal (environmental mastery), memiliki tujuan dalam hidupnya (purpose in life), serta mampu merealisasikan potensi dirinya secara continue (personal growth).

Konsep psychological well being yang dikembangkan oleh Ryff berdasarkan konsep kesejahteraan dari perspektif psikologi perkembangan dan

(35)

perspektif psikologi klinis. Perspektif psikologi perkembangan mengacu pada tahapan psikososial yang dikemukakan Erikson dimana kepribadian seseorang dipengaruhi oleh keberhasilan dalam setiap tahapan yang dilalui dan curve of life, yaitu tentang perbedaan ketercapaian antara kesejahteraan psikologis dengan kesejahteraan fisik yang dikemukakan Buhler. Perspektif kedua mengacu pada konsep aktualisasi dari Maslow, kematangan secara personal yang dijelaskan oleh Allport dan pendapat Rogers mengenai keberfungsian secara penuh dari seorang individu dimana dapat hidup sepenuhnya dengan perasaan yang dimiliki individu tersebut (Wells, 2010).

Ryff (1989) berpendapat pula bahwa istilah psychological well being merujuk kepada kesahatan psikologis yang ditinjau dari ketercapaian fungsi psikologi positif pada seorang individu. Ryff (1989) menjelaskan lebih lanjut bahwa psychological well-being merupakan ketercapaian segala fungsi psikologi secara maksimal serta kemampuan seorang individu menerima kekuatan serta kelemahan yang dimilikinya sehingga seluruh potensi yang tersimpan di dalam dirinya dapat diaktualisasikan.

Bradburn (1969) berpendapat bahwa psychological well-being dapat dilihat dari dua dimensi yaitu dimensi positive affect dan dimensi negative affect dimana keduanya mempengaruhi tingkat kebahagiaan seorang individu yang dianggap sebagai indikator psychological well-being. Johada (dalam Ryff, 1989)

(36)

mengatakan bahwa kesehatan mental tercapai apabila seorang individu terbebas dari penyakit fisik.

Berdasarkan pemaparan dari tokoh di atas, psychological well-being yaitu keadaan atau kondisi yang menggambarkan kesehatan psikologis seorang individu untuk menerima keadaan dirinya dalam kondisi apapun sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

2. Apek-aspek Psychological well-being

Ryff (1989) mengemukakan enam dimensi dari psychological well-being yaitu :

a) Penerimaan Diri (self-acceptance)

Penerimaan diri merupakan suatu ciri utama dari kesehatan mental yang sama dengan karakteristik individu yang mengaktualisasi diri, berfungsi optimal dan memiliki ciri kematangan. Penerimaan diri dalam hal ini ketika seorang individu dapat menerima keadaan dirinya secara positif, menengenali dan menerima segala aspek yang terdapat pada dirinya.

Seorang individu dikatakan memiliki penerimaan diri yang tinggi ketika dirinya mampu menerima segala sesuatu yang berada dalam hidupnya dengan sikap positif dan mampu menerima apa yang terjadi masa lalu dengan sikap positif. Sebaliknya, individu yang memiliki penerimaan diri yang rendah cenderung kecewa dengan keadaan yang ada pada dirinya sehingga merasa tidak

(37)

puas dan menyesali apa yang terjadi pada masa lalunya. Penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan menerima diri baik segi positif maupun negatif.

Individu yang menerima dirinya sendiri akan bersikap positif tehadap penilaian dirinya.

b) Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others)

Dimensi penting lain dari psychological well-being adalah kemampuan individu untuk membina hubungan yang hangat dengan orang lain. Individu yang matang digambarkan sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki perasaan empati dan kasih sayang yang kuat terhadap sesama manusia dan mampu memberikan cinta, memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain dengan baik.

Selain itu, menurut teori perkembangan masa dewasa, individu juga perlu untuk memiliki kedekatan (intimacy) dengan orang lain dan mampu memberikan bimbingan dan arahan kepada orang lain (generativity). Semua ciri yang ditekankan di atas merupakan karakteristik penting dari konsep psychological well-being. Erikson (dalam Feist & Feist, 2010) mengatakan bahwa seorang individu harus melewati tahapan intimacy yaitu menjalin hubungan yang mendalam dan membuat komitmen dengan sesama manusia. Seorang individu yang berhasil melewati tahapan ini akan memiliki interaksi yang baik dan hangat dengan individu lainnya.

(38)

c) Otonomi (autonomy)

Ryff (1995) memformulasikan bahwa individu dengan karakteristik skor yang tinggi pada dimensi ini memiliki rasa percaya akan kemampuan dirinya dpat menentukan nasibnya sendiri, dapat menahan tekanan sosial ketika memilih melakukan sebuah tindakan dan mampu mengevaluasi diri sesuai dengan standar dirinya sendiri. Dimensi otonomi menyangkut kemampuan untuk menentukan nasib sendiri (self-determination), bebas dan memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri. Menurut Maslow (dalam Calhoun & Acocell, 1990) dalam konsep aktualisasi diri, individu yang otonomi adalah individu yang memiliki rasa puas diri yang tinggi dan mampu untuk bertahan sendirian. Individu ini akan bertahan pada pendapatnya sendiri meskipun yang lain tidak setuju.

Kekuatan yang ada di dalam diri mampu membuat individu tersebut bertahan menghadapi tekanan dan gangguan dari luar. Ryff (1989) menyatakan sependapat dengan pandangan Rogers yang menyatakan bahwa individu yang otonomi merupakan individu yang dapat menentukan kondisi diri sendiri dalam bertindak. Dalam kondisi ini, individu mempunyai kepercayaan terhadap pengalaman sendiri sebagai sumber dalam pengambilan keputusan.

Konsekuensinya, individu itu akan mampu untuk bersikap mandiri dan tidak hanya mengandalkan norma-norma sosial yang berlaku atau pendapat orang lain, sehingga berpikir dan bertingkah laku dengan cara tertentu.

d) Penguasaan Lingkungan (enviromental mastery)

(39)

Allport (dalam Feist & Feist, 2010) berpendapat bahwa individu yag matang merupakan individu yang tidak terpusat pada dirinya sendiri serta mampu terlibat dalam masalah dan aktivitas yang tidak terpusat pada dirinya. Selain itu individu harus memiliki persepsi yang realistis sehingga tidak berpikiran dapat selalu membelokkan kenyataan sesuai harapan yang dimilikinya dan lebih berinteraksi dengan dunia luar. Kemampuan individu untuk memilih, menciptakan dan mengelola lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologisnya dalam rangka mengembangkan diri. Ini merupakan definisi karakteristik dari kesehatan mental.

Individu yang matang, digambarkan segabai individu yang mampu mengelola dan mengontrol lingkungan sekitarnya. Individu juga mampu mengembangkan diri secara kreatif melalui aktivitas fisik ataupun mental, serta menggunakan setiap kesempatan yang ada di lingkungan sekitar. Partisipasi aktif dalam lingkungan dan penguasaan lingkungan merupakan karakteristik penting dari psychological well-being.

e) Tujuan Hidup (purpose in life)

Adanya tujuan hidup yang jelas merupakan bagian penting dari karakteristik individu yang memiliki psychological well-being. Individu yang berada dalam kondisi ini diasumsikan memiliki keyakinan yang dapat memberikan makna dan arah bagi hidupnya. Individu yang memiliki psychological well-being perlu memiliki pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah hidup yang dijalaninya, misalnya individu dapat mengabdikan dirinya pada masyarakat. Koeswara (1992)

(40)

tentang kesehatan psikologis menekankan pada keinginan atau kehendak untuk bermakna (the will to meaning). Individu yang merasa kehilangan makna hidup (meaningless), tanpa tujuan dan arah akan membuat individu tersebut merasa bosan dalam menjalani kehidupannya. Perasaaan tidak bermakna merupakan perasaan dimana individu tidak berhasil menyadari arti hidup yang bermanfaat bagi dirinya. Apabila pekerja sosial mengalami kondisi ini, maka ia tidak akan dapat mengisi pekerjaannya dengan baik, merasa bosan, jemu, kosong dan hampa.

f) Pertumbuhan Pribadi (personal growth)

Fungsi psikologis yang optimal tidak hanya mampu mencapai karakteristik- karektisitk pribadi dari pengalaman-pengalaman terdahulu, melainkan juga mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai individu dapat berfungsi secara penuh (fully functioning). Individu yang dapat berfungsi secara penuh adalah individu yang dapat terbuka terhadap pengalaman sehingga akan lebih menyadari lingkungan sekitarnya

Berdasarkan penjelasan diatas, penelitian ini menggunakan dimensi psychological well-being yang dikemukakan Ryff & Singer (2008) yang mampu menggambarkan tingkat kesejahteraan psikologi pada orang dengan HIV AIDS.

(41)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Psychological well-being

Melalui berbagai penelitian yang dilakukan, Ryff (1989) menemukan bahwa faktor-faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan budaya mempengaruhi perkembangan psychological well-being seseorang.

a) Faktor Usia

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989), ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka semakin mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan keadaan dirinya. Individu yang berada dalam usia dewasa akhir memiliki skor psychological well-being yang lebih rendah dalam dimensi tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi, individu yang berada dalam usia dewasa madya memiliki skor psychological well-being yang lebih tinggi dalam dimensi penguasaan lingkungan; individu yang berada dalam usia dewasa awal memiliki skor yang lebih rendah dalam dimensi otonomi dan penguasaan lingkungan dan memiliki skor psychological well-being yang lebih tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi. Dimensi penerimaan diri dan dimensi hubungan positif dengan orang lain tidak memperlihatkan adanya perbedaan seiring dengan pertambahan usia .

(42)

b) Jenis kelamin

Satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan signifikan antara laki- laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan orang lain. Sejak kecil, stereotipe jender telah tertanam dalam diri anak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia dkk., 2001). Tidaklah mengherankan bahwa sifatsifat stereotipe ini akhirnya terbawa oleh individu sampai individu tersebut dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina keadaan harmoni dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.

c) Status sosial ekonomi

Status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan pribadi. Individu yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya.

d) Budaya

Sistem nilai individualisme-kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki

(43)

skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain

e) Dukungan Sosial

Menurut Ryff & Keyes (dalam Mami & Suharnan, 2015), dukungan sosial menjadi salah satu faktor pada psychological well being. individu-individu yang mendapatkan dukungan sosial memiliki tingkat psychological well being yang tinggi. Dukungan sosial sendiri diartikan sebagai rasa nyaman, perhatian, penghargaan, atau pertolongan yang dipersepsikan oleh seorang individu yang didapat dari orang lain atau kelompok. Dukungan ini dapat berasal dari berbagai sumber, diantaranya pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, dokter, maupun organisasi sosial.

f) Religiusitas

Ellison (1991) menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara ketaatan beragama (religiosity) dengan psychological well-being. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa individu dengan religiusitas yang kuat menunjukkan tingkat psychological well-being yang lebih tinggi dan lebih sedikit mengalami pengalaman traumatik.

g) Kepribadian

Schumutte dan Ryff (1997) telah melakukan penelitian mengenai hubungan antara lima tipe kepribadian (the big five traits) dengan dimensi-dimensi yang

(44)

mengarah kepada psychological well-being. Individu yang memiliki kepribadian cenderung negatif akan mudah marah, mudah terpengaruh, dan labil akan menunjukan tingkat psyhological well being yang rendah dan sebaliknya (Schmutte & Ryff, 1997).

Mirowsky dan Ross (Schied & Brown, 2009) menyatakan bahwa well-being dipengaruhi beberapa faktor, seperti keadaan ekonomi, pekerjaan, pernikahan, kondisi masa lalu, kesehatan, dan fungsi fisik. Berdasarkan penjelasan diatas diketahui banyak faktor yang mempengaruhi psychological well-being yang saling berkaitan atau secara mandiri mempengaruhinya. Oleh karena itu, psychological well-being merupakan salah satu bagian dari faktor kepribadian yang akan mempengaruhi tujuan hidup sehingga dapat mempengaruhi psychological well- being pada orang dengan HIV AIDS.

B. Dukungan Sosial (Social Support)

1. Definisi Dukungan Sosial (Social Support)

Dukungan sosial menurut Zimet, Dahlem, Zimet & Farley (1988) merupakan keyakinan individu akan ketersediaan dukungan sosial yang diberikan oleh orang-orang terdekat, meliputi keluarga, teman, orang-orang di sekitar sewaktu individu membutuhkannya. Kaplan (1993) menyatakan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh melalui individu-individu yang diketahui dapat diandalkan,

(45)

menghargai, dan memperhatikan serta mencintai kita dalam suatu jaringan sosial.

Lebih lanjut menurut Cobb (Maslihah, 2011) dukungan sosial menjadi pertolongan dan dukungan yang diperoleh seseorang dari interaksinya dengan orang lain. Dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamananpada orang lain, merawat ataupun menghargainya. Beberapa aspek dukungan sosial yang dapat diberikan berupa emotional support, esteem support, instrumental support, informational support, dan companionship support (Sarafino, 2011). Dukungan sosial sebagai satu diantara fungsi pertalian atau ikatan sosial menurut Rook (Smet,1994). Sarason dalam Kuntjoro (2002) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan.

Dukungan sosial akan mempengaruhi individu tergantung pada ada atau tidaknya tekanan dalam kehidupan individu. Tekanan tersebut dapat berasal dari individu itu sendiri atau dari luar dirinya untuk menghindari gangguan baik secara fisik dan psikologis. Individu membutuhkan orang lain disekitarnya untuk memberi dukungan guna memperoleh kenyamanannya. Menurut Gottlieb (1983) dukungan sosial merupakan informasi verbal atau non verbal, saran, bantuan nyata, atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dalam hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.

(46)

Hal ini juga didukung oleh Taylor, dkk., (2009) yang mendefinisikan dukungan sosial sebagai pertukaran interpersonal yang dicirikan oleh perhatian emosi, bantuan instrumental, penyediaan informasi, atau pertolongan lainnya, dimana dukungan sosial dipercaya mampu bisa menguatkan individu dalam menghadapi efek stres dan meningkatkan kesehatan fisik individu. Menurut Santrock (2002) dukungan sosial juga dipandang sebagai informasi dan umpan balik dari orang lain bahwa seseorang mencintai, menghargai dan memperhatikan seseorang yang dicintainya, yang kesemuanya merupakan kewajiban bersama.

Cobb, Gentry & Kobasa (Sarafino, 1994) mendefinisikan dukungan sosial mengacu pada kenyamanan yang dirasakan, kepedulian, harga diri, atau sebagai bentuk penerimaan seseorang terhadap orang lain maupun suatu kelompok.

Menurut Cobb (Sarafino, 1994), orang dengan dukungan sosial percaya bahwa mereka dicintai dan diperhatikan, dihargai dan bernilai, serta merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari jaringan sosial, seperti organisasi keluarga atau masyarakat, yang dapat menyediakan barang, jasa, dan pertahanan pada saat dibutuhkan atau bahaya. Sarafino (1994) mengartikan dukungan sosial sebagai suatu kesenangan yang dirasakan sebagai perhatian, penghargaan, atau pertolongan yang diterima dari orang lain atau suatu kelompok.

Selain itu, Sarafino (1994) juga menjelaskan pengaruh dukungan sosial terhadap kesehatan dengan mengusulkan dua teori, yaitu "buffering (penyangga)"

dan "direct effects (efek langsung)" hipotesis. Menurut buffering hypothesis,

(47)

dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dengan melindungi orang tersebut terhadap efek negatif dari stres yang tinggi. Fungsi dari buffering hypothesis (hipotesis penyangga) hanya akan efektif pada orang yang mengalami tingkat stres yang kuat. Namun pada keadaan stres yang rendah, akan sedikit bahkan tidak ada penyangga yang terjadi. Cohen & Wills (Sarafino, 1994) menjelaskan ada dua cara untuk menjelaskan buffering hypothesis (hipotesis penyangga). Cara pertama adalah dengan melibatkan proses penilaian kognitif. Ketika individu menghadapi stressor yang kuat, individu dengan dukungan sosial yang tinggi dapat mengharapkan seseorang yang dikenal untuk dapat membantu, misalnya dengan memberikan saran tentang hal tersebut. Cara kedua untuk mencegah pengaruh stres adalah memodifikasi respon masyarakat terhadap stressor. Individu dengan dukungan sosial yang tinggi mungkin memiliki seseorang yang dapat memberikan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi, dan meyakinkan bahwa masalah tersebut tidak terlalu penting, atau sekedar menghibur individu tersebut.

Direct effects hypothesis (hipotesis efek langsung) menyatakan bahwa dukungan sosial bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan terlepas dari pengalaman stres seseorang. Menurut hipotesis ini, efek yang menguntungkan dari dukungan sosial sebanding dengan tinggi rendahnya stressor (Sarafino, 1994).

Individu dengan tingkat dukungan sosial yang tinggi mungkin memiliki harga diri lebih besar dibandingkan individu dengan sedikit dukungan sosial. Hal ini bermanfaat bagi kesehatan khususnya terhadap pengalaman stres.

(48)

Menurut Sarafino (1994) tingginya dukungan sosial dapat mendorong individu memiliki gaya hidup yang lebih sehat daripada individu yang memiliki dukungan sosial yang rendah. Individu yang memiliki dukungan sosial merasa bahwa orang lain peduli kepada kondisinya dan membutuhkannya, sehingga individu tersebut harus memperhatikan kondisinya sebelum masalah menjadi lebih serius.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan bentuk dari perhatian, rasa menghargai, dan mencintai seseorang yang ditunjukkan baik dalam bentuk verbal atau non-verbal untuk menunjukkan penghargaan terhadap seseorang.

2. Aspek-aspek Dukungan Sosial

Menurut Zimet, dkk., (1988) dukungan sosial memiliki sumber-sumber spesifik, diantaranya:

a. Dukungan Keluarga (Family Support)

Dukungan keluarga sebagai sumber independen atau internal yang menjadi sumber dari dukungan sosial. Dukungan yang diberikan oleh keluarga, seperti orang tua, suami, dan saudara dekat dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi individu.

(49)

b. Dukungan Teman (Friends Support)

Dukungan teman sebagai sumber internal dari dukungan sosial yang berasal dari lingkungan individu, dimana dukungan tersebut berguna bagi individu untuk menciptakan perasaan senang dan diterima di suatu lingkungan. Teman dapat berasal dari lingkungan rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja individu tersebut.

c. Dukungan Orang-Orang Terdekat (Significant Others Support)

Dukungan orang-orang terdekat merujuk kepada dukungan sejumlah orang yang dianggap berperan penting dalam kehidupan individu, yang berasal dari lingkungan yang berbeda dengan individu tersebut. Pasangan, dokter, dan perawat merupakan contoh orang-orang yang dapat dikatakan sebagai Significant others.

Menurut Sarafino (2011) aspek-aspek dukungan sosial yaitu : a) Dukungan Emosional

Terdiri dari ekspresi seperti perhatian, empati dan turut prihatin kepada seseorang. Dukungan ini akan menyebabkan penerima dukungan marasa nyaman, tentram kembali, merasa dimiliki dan dicintai. ketika, memberi bantuan dalam bentuk semangat, kehangatan personal dan cinta dalam upaya memotivasi pekerjaan pasangan.

(50)

b) Dukungan Pengahargaan

Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain dalam lingkup pekerjaannya.

c) Dukungan Instrumental

Merupakan dukungan yang paling sederhana untuk didefinisikan, yaitu dukungan yang berupa bantuan secara langsung dan nyata seperti memberi atau meminjamkan uang atau membantu meringankan tugas seseorang.

d) Dukungan Informasi

Orang-orang yang berada di sekitar individu akan memberikan dukungan informasi dengan cara menyarankan pilihan tindakan yang dapat dilakukan individu dalam mengatasi masalah. Dapat berupa : nasehat, arahan, saran ataupun penilaian tentang bagaimana individu melakukan sesuatu.

e) Dukungan Kelompok

Merupakan dukungan yang dapat menyebabkan individu merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dimana anggota-anggotanya dapat saling berbagi.

Sumber-sumber dukungan sosial menurut Goetlieb (Maslihah,2011) menyatakan ada dua macam hubungan dukungan sosial, yaitu pertama, hubungan profesional yakni bersumber dari orang-orang yang ahli di bidangnya, seperti

(51)

konselor, psikiater, psikolog, dokter maupun pengacara, dan kedua, hubungan non profesional, yakni bersumber dari orang-orang terdekat seperti teman, keluarga.

Berdasarkan beberapa aspek diatas, penelitian ini menggunakan aspek yang dikemukakan oleh Zimet, dkk., (1988) yaitu dukungan keluarga, dukugan teman, dan significant other support.

C. Hubungan antara Dukungan Sosial dan Psychological well-being

Dukungan sosial akan mempengaruhi individu tergantung pada ada atau tidaknya tekanan dalam kehidupan individu. Tekanan tersebut dapat berasal dari individu itu sendiri atau dari luar dirinya untuk menghindari gangguan baik secara fisik dan psikologis. Individu membutuhkan orang lain disekitarnya untuk memberi dukungan guna memperoleh kenyamanannya. Menurut Zimet, dkk., (1988) terdapat tiga aspek dukungan sosial yang mempengaruhi kehidupan seseorang yaitu dukungan keluarga, dukugan teman, dan dukungan dari orang lain (significant other support). Berdasarkan penjelasan terkait dukungan sosial yang telah dikemukakan, Sarafino (2006) menyatakan bahwa terdapat dua model teori untuk mengetahui bagaimana dukungan sosial ini bekerja dalam diri individu salah satuya adalah The Buffering Hypothesis. Menurut teori ini, dukungan sosial melindungi individu dengan melawan efek- efek negatif dari tingkat stres yang tinggi, yaitu dengan dua cara berikut yaitu ketika individu menghadapi stress dan

(52)

yang kedua adalah dukungan sosial dapat merubah respon seseorang terhadap respon dari stressor yang telah diterima sebelumnya.

Dukungan sosial yang dikemukakan oleh Zimet, dkk., (1988) yang pertama yaitu adanya dukungan keluarga. Dengan adanya dukungan keluarga, psychological well being yang dimiliki oleh ODHA akan semakin meningkat.

Penelitian yang dilakukan oleh Siboro (2014) terhadap ODHA menunjukan hasil yang positif terhadap berfungsinya kehidupan sosial seorang penderita ODHA.

Hal ini menunjukan bahwa dengan adanya dukungan keluarga, psychological well being yang dimiliki ODHA akan meningkat dan menjadikan ODHA seseorang yang memiliki tujuan hidup. Dukungan yang diberikan oleh keluarga, seperti orang tua, suami, dan saudara dekat dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi individu (Zimet, dkk, 1988).

Keberadaan keluarga dan jaringan sosial yang memberikan dukungan kepada lansia menunjukkan kontribusi terhadap peningkatan tingkat well-being (Litwin, 2006). Psychological well-being terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), hubungan positif dengan orang lain (positif relation with others), kemandirian (autonomy), penguasaan terhadap lingkungan (environtmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan pertumbuhan pribadi (personal growth) (Ryff & Keyes, 1995). Menurut Penelitian Loree (2003) dengan judul “Social Support and The Well-Being of The Elderly” menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan psychological well

(53)

being pada seorang lansia. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Beyene, Becker, dan Mayen (dalam Brehm, 2002) terlihat jelas bagaimana kualitas dukungan sosial mempengaruhi derajat psychological well being. Hasil ini diperkuat dari hasil identifikasi yang menunjukkan bahwa persentase dukungan sosial keluarga sebagian besar subjek pada kategori dukungan sosial keluarga sebesar 51,42%. Hal ini bahwa dukungan sosial keluarga yang dimiliki berada pada kategori tinggi. Sedangkan untuk psychological well being, sebagian besar subjek berada pada kategori tinggi, dengan persentase 84,29%. Hal ini menunjukkan bahwa psychological well being yang dimiliki subjek tinggi.

Dukungan lainnya yang berpengaruh adalah dukungan teman (Zimet, dkk, 1988). Teman dapat berasal dari lingkungan rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja individu tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Erikson (dalam Sprinthall & Collins, 1995) mengemukakan bahwa remaja menerima dukungan sosial dari kelompok teman sebaya. Oleh karena itu, remaja berusaha menggabungkan diri dengan teman-teman sebayanya. Pada penelitian tersebut, teori ini bukan hanya berlaku bagi remaja tetapi juga bagi orang dewasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2014) juga menunjukan bahwa dukungan yang berasal dari teman memiliki peran penting dalam peningkatan kehidupan seseorang.

Dukungan teman menjadi penting dikarenakan subjek lebih banyak berada diluar rumah bersama teman-temannya. Berdasarkan hasil wawancara pula yang

(54)

dilakukan peneliti dengan subjek bahwa teman menjadikan subjek sebagai seseorang yang tidak merasa sendiri dan merasa bahwa memiliki tempat untuk berbagi dan memiliki keadaan yang sama. Hal tersebut serupa dengan pernyataan yang diberikan oleh Alicondro & Purnamasari (2011) yang mengatakan bahwa dukungan sosial didapatkan dari banyaknya kontak sosial yang terjadi atau yang dilakukan individu dalam menjalin hubungan dengan sumber-sumber yang ada dilingkungan.

Kehidupan ODHA tidak lepas dari adanya kelompok atau lingkaran dimana ODHA berada dan mendapatkan kenyamanan. Orang-orang yang berada dalam kelompok yang sama akan saling memberikan motivasi dan dukungan untuk terus memiliki kebermaknaan hidup yang tinggi. Dukungan tersebut berupa dukungan kelompok atau significant other support (Zimet,dkk,1988). Dukungan yang dapat menyebabkan ODHA merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dimana anggota-anggotanya dapat saling berbagi dan membuat anggota kelompoknya merasa nyaman. Penelitian yang dilakukan oleh Kirana dan Eryani (2016) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara significant other dan ODHA. Dukungan dari sesama ODHA akan membuat psychological well-being pada setiap ODHA semakin meningkat dan tidak memiliki rasa putus asa karena mereka hidup memiliki tujuan dan ingin bermanfaat bagi setiap individu maupun dirinya sendiri meskipun sedang dalam keadaan dengan HIV/AIDS.

(55)

D. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada ODHA. Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima maka semakin tinggi psychological well-being pada ODHA dan semakin rendah dukungan sosial yang diterima maka semakin rendah pula psychological well-being yang dimiliki oleh ODHA.

(56)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian

Variabel-variabel yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini antara lain :

1. Variabel Tergantung : Psychological Well-Being

2. Variabel Bebas : Social Support (Dukungan Sosial)

B. Definisi Operasional Variabel 1. Psychological Well Being

Secara operasional, psychological well-being adalah skor yang didapat oleh responden setelah mengisi skala dengan menggunakan skala yang diadaptasi dari Ryff’s psychological well-being (RPWB). Sebelumnya RPWB telah diadaptasi oleh Konow dan Earley (2008) dengan tujuan mengungkap psychological well-being pada setiap individu. Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek, maka semakin tinggi psychological well-being individu.

Begitupun sebaliknya semakin rendah skor psychological well-being subjek, maka semakin rendah pula tingkat psychological well-being individu. Aspek-aspek yang termasuk adalah penerimaan diri, hubungan positif, kemandirian, penguasaan lingkungan, pertumbuhan pribadi, serta tujuan hidup.

Gambar

Tabel 1  Distribusi Aitem Skala Psychological Well-Being Sebelum Uji  Coba.............................................................................................
Tabel 18  Hasil Uji Komponen Dukungan Sosial (Social Support) dengan  Psychological Well-Being.............................................................

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2015-2019 ini disusun dengan maksud agar tersedianya dokumen panduan dan

Hasil identifikasi cacing dari 60 sampel ikan yang telah diperiksa pada saluran pencernaan ikan salem ( scomber japonicus ) di Pangkalan Pendaratan Ikan.. Muara Angke

Dukungan informasi dari suami memiliki peran penting bagi istri yang sedang menjalani pengobatan pasca operasi kanker payudara.Pemberian informasi oleh suami pada

Hampir seluruh ahli ekonomi Islam, termasuk al-Māwardi, berpandangan bahwa mekanisme pasar yang benar diajarkan Rasulullah adalah mekanisme pasar bebas, tidak ada

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukan berbagai macam hasil yang berbeda mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi kebijakan

Engel, et al., 1990 (dalam Tjiptono, 2008: 24), menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya

57 Rencana Strategis Dinas Pendidikan Tahun 2010 - 2015 Meningkatan Kompetens guru 2 Masih tingginya persentase guru yang belum memahami pembelajaran berbasis IT

Program Peningkatan Mutu Publikasi Ilmiah, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan Pangkalan Data Karya Akademik DIKTIS diselenggarakan untuk memberikan akses yang luas bagi