PERDAGANGAN, JASA DAN INVESTASI) PERIODE 2009-2012
II. LANDASAN TEORI 2.1 Usaha Kecil Menengah
2.2 Kebangkrutan Usaha
Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba
(Almilia & Herdiningtyas,2005).
Kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan dalam dua arti yaitu: (Adnan & Kurniasih,2000)
1. Kegagalan Ekonomi
Kegagalan dalam ekonomi adalah perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri,
sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat labanya lebih kecil daripada biaya modal atau dengan kata lain nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajibannya.
2. Kegagalan Keuangan
Kegagalan keuangan dapat diartikan sebagai insolvensi dari sudut pandang arus kas. Insolvensi berdasarkan arus kas dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu insolvensi teknis dan insolevensi dalam pengertian kebangkrutan. Insolvensi teknik adalah perusahaan dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo walaupun total aktiva melebihi total hutang atau terjadi insolvensi teknis bila perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya. Insolvensi teknis ini juga dapat terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran kembalian pokok pada tanggal tertentu. Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan adalah kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai sekarang atau arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajibannya.
2.3 Faktor Makro Ekonomi dan
Kebangkrutan Usaha
Faktor makro ekonomi terdiri dari inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar, dan produk domestik bruto.
Forum Manajemen Indonesia 6 Medan 2014
Proceeding FMI 6 Medan
a. Infasi
Adanya peningkatan harga-harga barang dan jasa disebabkan karena adanya kenaikan dari biaya produksi, kegagalan panen, atau terjadinya bencana alam yang dapat menyebabkan harga-harga produk menjadi meningkat.
Inflasi yang tinggi juga dapat berimbas kepada perusahaan terutama perusahaan yang menghasilkan produk karena dengan meningkatnya harga produk dan tidak didukung oleh daya beli masyarakat maka produk yang dihasilkan akan menumpuk di gudang, sehingga dapat menyebabkan perusahaan mengalami kerugian.
Adanya hubungan antara tingkat inflasi dengan kebangkrutan usaha ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Lee et al (2007), Tirapat & Nittayagasetwat (1999), dan Liou & Smith (2006) menyatakan bahwa inflasi merupakan faktor penting dalam memprediksikan kebangkrutan dan memberikan pengaruh terhadap kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
b. Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga merupakan angka yang dikeluarkan oleh bank untuk memberikan kompensasi kepada pihak yang memiliki kelebihan dana dan untuk memperoleh
pendapatan bagi bank dari pihak yang berhutang kepada bank.
Tingkat suku bunga yang tinggi dapat menyebabkan pengeluaran biaya bunga yang merupakan biaya perusahaan yang besar. Apabila besarnya biaya tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima oleh perusahaan maka perusahaan akan mengalami kerugian, kondisi yang demikian lama kelamaan akan menyebabkan perusahaan mengalami kebangkrutan usaha, hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Shepard & Collins (1982) yang menyatakan bahwa tingkat bunga merupakan indikator yang penting dalam pembentukan model kebangkrutan. Penelitian yang dilakukan oleh Firdhausyah (2010) menyimpulkan bahwa tingkat suku bunga merupakan variabel makro yang dominan terhadap antisipasi risiko kebangkrutan dan didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Salman et al (2009) yang menyatakan bahwa tingkat bunga pinjaman yang tinggi menyebabkan kebangkrutan
c. Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah merupakan harga Rupiah terhadap mata uang negara lain. Nilai tukar Rupiah dapat mengalami pergerakan peningkatan dalam arti nilai tukar Rupiah mengalami penguatan terhadap mata uang asing, bila kondisinya demikian maka
Forum Manajemen Indonesia 6 Medan 2014
Proceeding FMI 6 Medan
perusahaan yang menggunakan mata uang asing dalam pembiayaan modal usaha dan pembayaran biaya produksi karena bahan baku yang diimpor dari luar negri akan mengalami keuntungan karena membeli mata uang asing dengan harga murah dan sedikit mengeluarkan rupiah untuk dapat membayar biaya bahan baku dan biaya modal usaha. Bila nilai tukar Rupiah mengalami pergerakan penurunan dalam arti nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan terhadap mata uang asing, maka biaya produksi akan mengalami peningkatan bila bahan baku diimpor dari luar negri sehingga dapat meningkatkan harga produk. Harga produk yang naik bila tidak diimbangi dengan pendapatan dari penjualan maka dapat
menyebabkan perusahaan mengalami
kerugian dan apabila tidak ditangani dengan cepat maka perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan dan lama kelamaan akan mengalami kebangkrutan usaha. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saragih (2010) yang menyimpulkan bahwa variabel nilai tukar mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap risiko kebangkrutan usaha. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa nilai tukar Rupiah dapat memberikan pengaruh kepada munculnya kebangkrutan usaha suatu perusahaan.
d. Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk domestik bruto adalah merupakan indikator ekonomi yang memberikan informasi mengenai jumlah agregate barang dan jasa yang telah diproduksi oleh ekonomi nasional untuk suatu periode tertentu (Harianto & Sudomo, 2001). PDB yang meningkat menandakan bahwa jumlah agregate barang dan jasa yang telah diproduksi mengalami peningkatan karena adanya permintaan yang meningkat sehingga dapat dikatakan daya beli masyarakat mengalami peningkatan. Dengan daya beli masyarakat yang mengalami peningkatan maka pendapatan perusahaan akan mengalami kenaikan dan kondisi perusahaan jauh dari kebangkrutan usaha sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan PDB yang meningkat maka kelangsungan hidup perusahaan akan semakin baik. PDB memberikan pengaruh terhadap pembentukan model prediksi kebangkrutan usaha dimana hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Liou & Smith (2006) yang menyatakan bahwa PDB memberikan kontribusi pada pembentukan model kebangkrutan perusahaan Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa variabel makro ekonomi yang tediri dari tingkat inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar Rupiah, dan produk domestik bruto (PDB) dapat memberikan pengaruh terhadap kebangkrutan usaha, hal tersebut didukung
Forum Manajemen Indonesia 6 Medan 2014
Proceeding FMI 6 Medan
oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Nam et al (2008) yang menyimpulkan bahwa faktor makro ekonomi mempunyai peranan dalam pembentukan model prediksi kebangkrutan usaha dan untuk memprediksikan kebangkrutan usaha sebaiknya menyertakan variabel-variabel makro ekonomi. Dengan demikian hipotesis penelitian yang muncul berdasarkan uraian diatas adalah:
H1: Faktor makro ekonomi berpengaruh
terhadap kebangkrutan perusahaan.
2.4 Faktor Kinerja Keuangan dan
Kebangkrutan Usaha
Rasio-rasio keuangan terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio pasar sering digunakan oleh perusahaan maupun analis keuangan untuk melihat kinerja perusahaan dan juga dalam melihat kesehatan perusahaan yang dapat menimbulkan probabilitas kebangkrutan perusahaan.
a. Rasio Likuiditas
Rasio ini digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva lancar untuk menutupi hutang lancar yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin besar rasio likuiditas yang dimiliki oleh perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aktiva lancar yang Penelitian yang dilakukan oleh Glezakos et al (2010)
memberikan kesimpulan bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang baik untuk digunakan dalam model prediksi kebangkrutan usaha. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rasio likuiditas dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan model kebangkrutan usaha.
b. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Pembiayaan aktiva dengan hutang dapat memberikan pengaruh terhadap struktur modal perusahaan karena pembiayaan dengan hutang yang terlalu besar menyebabkan struktur modal yang merupakan campuran antara penggunaan modal sendiri dan hutang dalam membiayai belanja aktiva menjadi tidak optimal, bahkan dengan adanya peningkatan jumlah hutang yang terus menerus walaupun dapat mengurangi pembayaran pajak tetapi dapat menyebabkan perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan bahkan kebangkrutan usaha. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Mensha (1984) yang menyatakan dalam penelitian bahwa rasio solvabilitas merupakan variabel penting
dalam membentuk model prediksi
kebangkrutan usaha. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rasio solvabilitas berpengaruh terhadap pembentukan model prediksi kebangkrutan usaha.
Forum Manajemen Indonesia 6 Medan 2014
Proceeding FMI 6 Medan
c. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva yang dimiliki baik dalam bentuk aktiva lancar maupun tetap dapat mendukung aktivitas perusahaan dalam menciptakan penjualan. Hubungan antara rasio aktivitas dengan kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan dapat dilihat pada penelitian yang dilakukan oleh Rodliyah (2004) yang menyatakan bahwa rasio yang dominan dalam pembentukan model prediksi kebangkrutan salah satunya adalah rasio aktivitas yang diwakili oleh rasio total assets
turnover, hal tersebut juga dapat dilihat
dalam persamaan model prediksi kebangkrutan Altman bahwa rasio total
assets turnover menjadi salah satu variabel yang digunakan dalam memprediksi kebangkrutan usaha.
d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan serta memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan (Kasmir, 2008). Hubungan antara rasio profitabilitas dengan kebangkrutan usaha dapat dilihat pada penelitian yang dilakukan oleh Keasy & McGuinness (1990) bahwa indikator dari profitabilitas memberikan hasil yang signifikan dalam menjelaskan keadaan
bangkrut. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut dapat dikatakan bahwa rasio profitabilitas memiliki pengaruh terhadap pembentukan model kebangkrutan usaha. e. Rasio Pasar
Rasio pasar berhubungan dengan nilai pasar dari saham perusahaan dimana rasio pasar memberi petunjuk pada investor seberapa baik perusahaan mengelolah hasil dan risiko. Hubungan antara rasio pasar dan kebangkrutan usaha ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan Atiya (2001) dan Mensah (1983) yang menyatakan bahwa rasio pasar dapat digunakan untuk membantu pembentukan model prediksi kebangkrutan usaha.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diperoleh simpulan bahwa rasio-rasio keuangan yang diperoleh dari laporan keuangan dapat memberikan pengaruh terhadap kebangkrutan usaha, hal tersebut didukung oleh kesimpulan yang diberikan oleh Zavgren (1985) yaitu rasio keuangan merupakan ukuran yang signifikan untuk digunakan dalam melakukan evaluasi terhadap risiko kebangkrutan usaha. Dengan demikian hipotesis penelitiannya adalah:
H2: Rasio-rasio keuangan memberikan
pengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan.
Forum Manajemen Indonesia 6 Medan 2014
Proceeding FMI 6 Medan
III. METODOLOGI PENELITIAN