BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6 Keberlanjutan Ekosistem Hutan Mangrove
Status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera dinilai dengan menggunakan analisis Rapid Appraisal for Status of Mangrove Forest (Rap-Mforest). Status keberlanjutan dalam penelitian ini menggunakan empat dimensi yaitu, dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan. Empat dimensi terdiri dari 19 atribut, yaitu lima atribut dimensi ekologi, lima atribut dimensi sosial, empat atribut dimensi ekonomi, dan lima atribut dimensi kelembagaan. Empat dimensi dan 19 atribut ini akan
menggambarkan status keberlanjutan dari ekosistem mangrove di lokasi Penelitian (Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera).
4.6.1 Dimensi Ekologi
Dimensi ekologi merupakan salah satu faktor penting untuk keberlanjutan ekosistem mangrove di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera.
Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap dimensi ekologi terdiri dari 5 indikator yaitu:
1. Tekanan lahan mangrove
Tekanan lahan mangrove terjadi karena adanya pemanfaatan mangrove untuk budidaya, saat ini di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera sebagian besar areal mangrove dijadikan sebagai tambak udang dan bandeng, karena semakin tinggi aktivitas manusia memanfaatkan hutan mangrove maka berdampak pada kerusakan hutan mangrove. Berdasarkan modus yang muncul dari hasil wawancara dengan stakeholder, maka skor yang diberikan pada atribut ini adalah 1 artinya sudah banyak terjadi Tekanan lahan mangrove.
2. Kerapatan mangrove
Kondisi kerapatan mangrove dapat dilihat dari hasil survei ke lokasi dan wawancara dengan Kelompok Tani di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera, bahwa relung komunitas menunjukkan adanya perubahan, yang dapat dilihat dari adanya perubahan kelimpahan relatif pada semai dan pancang dari pohon-pohon pembentuk tajuk hutan mangrove jika dibandingkan dengan hutan mangrove yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia. Kelompok burung tertentu sedikit yang bisa hidup di mangrove yang alami, dan jumlah burung yang ada sudah semakin sedikit karena habitat mereka semakin berkurang luasnya. Dengan demikian, skor yang diberikan adalah 1 yang artinya banyak terjadi Kerapatan mangrove yang rusak akibat adanya aktivitas manusia.
3. Zonasi pemanfaatan lahan mangrove
Informasi yang diperoleh dari data sekunder bahwa zonasi pemanfaatan lahan mangrove sesuai dengan peraturan pemerintah yaitu zona pemanfaatan dan tidak
boleh di zona inti, mulai tahun 2010 peraturan tersebut sudah dipatuhi oleh masyarakat Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera sehingga, skor yang diberi 2 artinya zonasi pemanfaatan lahan mangrove tersedia dan terpenuhi.
4. Tingkat keragaman hutan mangrove
Berdasarkan hasil pengamatan ekosistem mangrove di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera, mangrove di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera, cukup beragam. Adapun jenis vegetasi yang ada saat ini adalah Rhizophora, Avicennia, dan Nypah. Oleh karena itu, skor untuk atribut tingkat keragaman hutan mangrove adalah 2 artinya mangrove di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera cukup beragam.
5. Abrasi pantai
Abrasi pantai berdasarkan hasil pengamatan di lapang bahwa sedikit terjadi perubahan karena air tambak udang dan bandeng yang menyebabkan air di sekitar mangrove yang ada tambak udangnya berubah warna, sejauh ini belum terlalu mempengaruhi pertumbuhan mangrove tapi jika sudah terlalu banyak akan berpengaruh karena air limbah dari tambak mengandung bahan kimia, demikian hasil wawancara dengan Kelompok Tani di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera. Maka, skor untuk atribut ini adalah 2 artinya sudah terjadi abrasi pantai di areal mangrove yang ada tambak di dekat areal tersebut.
Nilai skor dari dimensi ekologi untuk ekosistem mangrove kemudian di analisis menggunakan alat analisis Rap-Mforest. Hasil yang diperoleh dengan metode MDS akan menunjukkan nilai indeks keberlanjutan ekosistem mangrove dari dimensi ekologi. Axis horizontal menunjukkan perbedaan mangrove dalam ordinasi bad (0%) sampai good (100%) untuk dimensi ekologi, sementara axis vertikal menunjukkan perbedaan dari campuran skor atribut dimensi ekologi ekosistem mangrove yang dievaluasi. Analisis ordinasi menunjukkan bahwa keberlanjutan ekosistem mangrove bervariasi antar dimensi. Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah 50,23 termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan.
Selanjutnya, analisis Rap-Mforest juga menghasilkan nilai stress dan nilai R2. Nilai stress yang diperoleh adalah 16,5%. Nilai stress sebesar 16,5% diperbolehkan, karena menurut Kavanagh nilai stress yang diperbolehkan adalah apabila dibawah
nilai 25 %. Menurut Fauzi dan Anna (2004) nilai stress atau yang dilambangkan dengan S yang semakin rendah menunjukkan good of fit begitu pula sebaliknya.
Nilai stress yang didapat sudah memenuhi kondisi fit atau hasil analisis yang didapat cukup baik karena S<25 %. Nilai selang kepercayaan yang diperoleh pada penelitian ini adalah 90,4 % yang artinya model dengan menggunakan peubah-peubah saat ini sudah menjelaskan 90,4 % dari model yang ada.
Rap-Mforest juga dapat digunakan untuk mengetahui atribut-atribut yang sensitif mempengaruhi indeks keberlanjutan ekosistem mangrove melalui analisis leverage (sensivitas dari pengurangan atribut terhadap skor keberlanjutan), selain mengetahui indeks dan status keberlanjutan. Apabila nilai atribut berada pada rentang dua persen dan enam persen serta tidak ada faktor pengaruh yang bernilai lebih dari delapan persen maka tidak ada atribut yang dominan dalam dimensi tersebut (Pitcher dan Preiskhot, 2001). Nilai atribut tidak ada yang melebihi delapan, maka disimpulkan atribut dimensi ekologi tidak ada yang dominan mempengaruhi keberlanjutan ekosistem mangrove dari dimensi ekologi.
4.6.2 Dimensi Ekonomi
Dimensi ekonomi merupakan dimensi yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan ekosistem mangrove. Masyarakat Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera sebagian besar sangat tergantung hidupnya terhadap ekosistem mangrove sehingga terjadi berbagai interaksi dalam pemanfaatan ekosistem mangrove untuk keberlanjutan hidup masyarakat. Oleh karena itu penting untuk mengetahui atribut apa saja yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi dalam pengelolaan eksosistem mangrove yang berkelanjutan.
Adapun atribut yang akan dianalisis pada dimensi ekonomi adalah:
1. Pemanfaatan mangrove oleh masyarakat
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, bahwa pemanfaatan ekosistem mangrove untuk memenuhi kegiatan hidup dan kegiatan lainnya sangat tinggi.
Pemanfaatan ini dalam bentuk ekosistem mangrove dikonversi menjadi tambak, memetik buah mangrove untuk dibuat sirup, makanan dan obat-obatan. Sebagian ada nelayan yang menangkap kepiting dan kerang disekitar areal mangrove. Oleh
karena itu skor untuk atribut ini adalah 3 artinya pemanfaatan terhadap ekosistem mangrove sangat tinggi.
2. Aksesibilitas mangrove
Kelompok Tani di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera sudah membuat rencana dalam pengelolaan hutan mangrove, sehingga saat ini mangrove di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera yang masih tersisa 58,8 ha. Peraturan yang ada sekarang melarang semua masyarakat untuk menebang mangrove dan mengambil kayu untuk bagunan, hanya diperbolehkan mengambil kayu bakar. Tetapi masih minimnya perhatian dari pemerintah, walaupun ada kerjasama dengan pemerintah tapi belum terlaksana dengan baik. Oleh karena itu skor untuk atribut ini adalah 3 artinya ada dan dilaksanakan.
3. Anggaran pemerintah untuk pengelolaan mangrove
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, bahwa Anggaran pemerintah untuk pengelolaan mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera sangat tinggi. Keuntungan yang diperoleh dari sirop yang terbuat dari buah mangrove, keuntungan yang diperoleh dari penangkapan udang disekitar area mangrove, penangkapan kepiting dan penangkapan kerang. Oleh karena itu skor untuk atribut ini adalah 3 artinya Anggaran pemerintah untuk pengelolaan mangrove sangat tinggi.
4. Rata-rata penghasilan masyarakat
Informasi yang diperoleh hasil wawancara bahwa Rata-rata penghasilan masyarakat semakin meningkat. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan sirop mangrove dan hasil tambak yang berada disekitar area mangrove. Sehingga, skor yang diberi 3 artinya Rata-rata penghasilan masyarakat sangat bervariasi.
Atribut dimensi ekonomi yang memiliki skor 3 adalah pemanfaatan mangrove oleh masyarakat, rencana pengelolaan ekosistem mangrove, Anggaran pemerintah untuk pengelolaan mangrove, Rata-rata penghasilan masyarakat, dan marjinal produktivitas dari area mangrove (MPM), sedangkan atribut yang memiliki skor 2 terdiri dari zonasi pemanfaatan lahan mangrove, hasil inventarisasi pemanfaatan ekosistem mangrove, dan peran mangrove terhadap pembangunan wilayah. Nilai
skor dari dimensi ekonomi untuk ekosistem mangrove yang dianalisis menggunakan alat analisis Rap-Mforest. Hasil yang diperoleh dengan metode MDS akan menunjukkan nilai indeks keberlanjutan ekosistem mangrove dari dimensi ekonomi. Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah 51,168 termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan.
Nilai stress sebesar 14,39 %. Nilai stress yang didapat sudah memenuhi kondisi fit atau hasil analisis yang didapat cukup baik karena S<25 %. Nilai selang kepercayaan yang diperoleh pada penelitian ini adalah 94,94 % yang artinya model dengan menggunakan peubah-peubah saat ini sudah menjelaskan 94,94 % dari model yang ada. Nilai atribut tidak ada yang melebihi delapan, maka disimpulkan atribut dimensi ekonomi tidak ada yang dominan mempengaruhi keberlanjutan ekosistem mangrove dari dimensi ekonomi. Kondisi ekonomi ekosistem mangrove banyak mengalami gangguan (perturbation) yang ditunjukkan oleh plot biru yang menyebar.
4.6.3 Dimensi Sosial
Dimensi sosial memiliki keterkaitan yang erat terhadap keberlanjutan ekosistem mangrove. Masyarakat Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera memiliki kehidupan sosial yang beragam karena masyarakat yang tinggal di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera berasal dari berbagai suku dan etnis, tetapi yang lebih dominan adalah suku Jawa. Dengan kemajemukan tersebut maka terjadi berbagai interaksi sosial dalam pemanfaatan ekosistem mangrove untuk keberlanjutan hidup masyarakat. Oleh karena itu penting untuk mengetahui atribut apa saja yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi sosial. Atribut yang akan dianalisis pada dimensi sosial adalah:
1. Pengetahuan masyarakat tentang manfaat hutan mangrove
Pengetahuan masyarakat tentang hutan mangrove masih sedang dan banyak masyarakat yang belum memahami arti penting mangrove secara ekologi.
Sehingga, keinginan untuk menjaga mangrove masih kurang. Skor untuk atribut ini adalah dua.
2. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove dalam kondisi sedang, pengelolaan ini sudah dirintis dan diwadahi oleh Kelompok Tani di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera. Skor untuk atribut ini adalah dua.
3. Banyaknya masyarakat yang melakukan kerusakan mangrove
Kerusakan ekosistem mangrove disebabkan oleh manusia sehingga terjadi sedimensi dan abrasi. Skor untuk atribut ini adalah 1.
4. Tingkat pendidikan masyarakat
Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat masih rendah dan sebagian besar tamat sekolah dasar. Berdasarkan data wawancara bahwa ada sebagian masyarakat yang buta huruf terutama umur enam puluh lima ke atas. Skor untuk atribut ini 1 artinya dibawah rata-rata nasional.
5. Rehabilitasi hutan mangrove
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sumberdaya hutan mangrove dalam kondisi sedang karena masyarakat berorientasi pencapaian ekonomi tanpa mengindahkan aspek ekologi, yang penting kebutuhan ekonomi masyarakat terpenuhi. Walaupun, pandangan seperti itu sudah mulai berkurang semenjak adanya pemberdayaan perempuan yang dibuat oleh Kelompok Tani di Desa Bumi Dipasena Abadi dan Bumi Dipasena Sejahtera, yaitu memberdayakan para perempuan untuk membuat produk dari mangrove. Skor untuk atribut ini adalah 2.
Atribut dimensi sosial yang memiliki skor 3 adalah koordinasi antar lembaga, akses masyarakat lokal terhadap ekosistem mangrove. Atribut yang memiliki skor 2 adalah kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sumberdaya hutan mangrove, pola hubungan antar stakeholder, pengetahuan masyarakat tentang hutan mangrove, dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove.
Atribut yang memiliki skor 1 terdiri dari kebijakan dan perencanaan pengelolaan hutan mangrove, tingkat pendidikan masyarakat, dan kerusakan sumberdaya hutan oleh masyarakat. Nilai skor dari dimensi sosial untuk ekosistem mangrove kemudian di analisis menggunakan alat analisis Rap-Mforest. Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial adalah 50,43 termasuk dalam kategori cukup
berkelanjutan. Nilai stress adalah 14,98 %. Nilai stress yang didapat sudah memenuhi kondisi fit atau hasil analisis yang didapat cukup baik karena S<25 %.
Nilai selang kepercayaan yang diperoleh pada penelitian ini adalah 94,94 % yang artinya model dengan menggunakan peubah-peubah saat ini sudah menjelaskan 94,94 % dari model yang ada. Pada dimensi sosial tidak ada atribut yang sensitif dan nilai atribut tidak ada yang melebihi delapan, maka disimpulkan atribut dimensi sosial tidak ada yang dominan mempengaruhi keberlanjutan ekosistem mangrove dari dimensi sosial. Kondisi sosial ekosistem mangrove banyak mengalami gangguan (perturbation) yang ditunjukkan oleh plot biru yang menyebar.
4.6.4 Dimensi hukum/kelembagaan
Nilai skor dari dimensi hukum/kelembagaan untuk ekosistem mangrove kemudian di analisis menggunakan alat analisis Rap-Mforest.
Atribut dimensi hukum/kelembagaan yang memiliki skor 2 adalah ketersediaan lembaga masyarakat lokal, peranan kelembagaan formal yang mendukung pengelolaan ekosistem mangrove dan peranan kelembagaan lokal (informal) yang mendukung pengelolaan sumberdaya mangrove. Atribut yang memiliki skor 1 adalah ketersediaan peraturan formal dan informal pengelolaan ekosistem mangrove, koordinasi antar stakeholder, komitmen pemda untuk konservasi, dan tingkat kepatuhan masyarakat.
Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial adalah 70,21 (kategori cukup berkelanjutan). Nilai stress adalah 12,12 %. Nilai stress yang didapat sudah memenuhi kondisi fit atau hasil analisis yang didapat cukup baik karena S<25 %.
Nilai selang kepercayaan yang diperoleh pada penelitian ini adalah 92,24 % yang artinya model dengan menggunakan peubah-peubah saat ini sudah menjelaskan 92,24 % dari model yang ada.
Atribut yang sensistif adalah keterlibatan stakeholder dengan nilai leverage lebih dari delapan, sehingga atribut ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah agar adanya keterlibatan stakeholder dalam pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dari nilai root mean square change atribut tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan atribut-atribut lainnya. Berdasarkan
analisis Monte Carlo diketahui bahwa kondisi hukum/kelembagaan ekosistem mangrove banyak mengalami gangguan (perturbation) yang ditunjukkan oleh plot biru yang menyebar. Analisis keberlanjutan yang dilakukan dengan menggunakan Rap_Mforest menghasilkan indeks keberlanjutan yang berbeda setiap dimensi.
Analisis ordinasi menunjukkan bahwa keberlanjutan ekosistem mangrove bervariasi antar dimensi yaitu, dimensi ekologi, ekonomi dan sosial masih dalam kondisi cukup berkelanjutan dan dimensi hukum/kelembagaan dalam kondisi cukup berkelanjutan. Berdasarkan analisis leverage dari keempat dimensi, terlihat bahwa dari aspek hukum/kelembagaan atribut keterlibatan stakeholder merupakan atribut yang sensisitif. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa atribut keterlibatan stakeholder berpengaruh sangat besar terhadap keberlanjutan dari sisi dimensi hukum/kelembagaan. Dari sisi dimensi ekologi, sosial, dan ekonomi, terlihat bahwa atribut memiliki nilai leverage dibawah 8, artinya tidak ada yang berpengaruh secara signifikan terhadap keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove. Bagian luar diagram menunjukkan skor baik (100%) sementara bagian dalam menunjukkan skor buruk (0%). Analisis keberlanjutan ekosistem mangrove menggunakan Rap_Mforest harus memperhatikan aspek ketidakpastian, dimana hal ini dapat disebabkan oleh (Fauzi dan Anna, 2010):
a. Dampak dari kesalahan dalam skoring akibat minimnya informasi b. Dampak dari keragaman dalam skoring akibat perbedaan penilaian c. Kesalahan dalam entri data
d. Tingginya nilai stress yang diperoleh dari algoritma ALSCAL
Melihat permasalahan diatas, maka analisis monte carlo merupakan serangkaian proses simulasi yang berlangsung untuk menguji pengaruh dari beragam kekeliruan (ketidakpastian), baik yang berkenaan dengan skoring maupun dalam proses ordinasi status keberlanjutan ekosistem mangrove. Nilai indeks keberlanjutan yang didapat pada setiap dimensi tidak banyak mengalami perbedaan (<5). Menurut Fauzi (2004) nilai perbedaan <5 mengindikasikan bahwa (1) kesalahan dalam pembuatan skor pada setiap atribut relatif kecil, (2) ragam pemberian skor akibat perbedaan opini relative kecil, (3) proses analisis yang dilakukan secara berulang stabil, dan (4) kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari.
Dengan demikian, diketahui bahwa hasil analisis keberlanjutan yang dilakukan dengan teknik Rap_Mforest untuk ekosistem mangrove memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.