• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN DI KABUPATEN TULANG BAWANG

Oleh:

Hari Kaskoyo, S.Hut., M.P., Ph.D. (NIDN 0001066904, SINTA ID 38568) Dr. Ir. Slamet Budi Yuwono, M.S. (NIDN 0023126402, SINTA ID 6122720)

Dr. Rahmat Safe’i, S.Hut., M.Si. (NIDN 0023017610, SINTA ID 5992683)

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Judul Penelitian : Strategi Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove Berkelanjutan di Kabupaten Tulang Bawang Manfaat Sosial Ekonomi : Pengelolaan mangrove yang berkelanjutan akan

meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Hari Kaskoyo, S.Hut., M.P., Ph.D.

b. Jabatan Fungsional : Lektor

c. NIDN / Program Studi : 0001066904 / Kehutanan d. SINTA ID : 38568

e. Nomor HP : 082176841089

f. Alamat surel (email) : [email protected] Anggota (1)

a. Nama Lengkap : Dr. Ir. Slamet Budi Yuwono, M.S.

b. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

c. NIDN / Program Studi : 0023126402 / Kehutanan d. SINTA ID : 6122720

Anggota (2)

a. Nama Lengkap : Dr. Rahmat Safe’I, S.Hut., M.Si.

b. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

c. NIDN / Program Studi : 0023017610 / Kehutanan d. SINTA ID : 5992683

Jumlah mahasiswa yang terlibat : 4 orang Jumlah alumni yang terlibat : 2 orang Jumlah Staf yang terlibat : -

Lokasi Kegiatan : Hutan Mangrove di Kabupaten Tulang Bawang Lama Kegiatan : 6 bulan

Biaya Penelitian : Rp 35.000.000,-

Sumber Dana : DIPA BLU Universitas

Bandar Lampung, 20 September 2021

Mengetahui, Ketua Peneliti

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.S. Hari Kaskoyo, S.Hut., M.P., Ph.D.

NIP. 19611020 1986031002 NIP. 19690601 1998021002 Menyetujui

Ketua LPPM Universitas Lampung

Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A.

NIP. 19650510 1993032008

(3)

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM

PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG 1 Judul Penelitian : Strategi Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove

Berkelanjutan di Kabupaten Tulang Bawang 2 Tim Peneliti:

No Nama Jabatan Bidang

Keahlian

Program Studi

Alokasi Waktu 1 Hari Kaskoyo,

S.Hut., M.P., P.hD.

Ketua Manajemen Hutan Mangrove

Kehutanan 8 jam/

minggu 2 Dr. Ir. Slamet

Budi Yuwono, M.S.

Anggota 1 Manajemen Hutan

Kehutanan 8 jam/

minggu 3 Dr. Rahmat

Safe’I, S.Hut., M.Si.

Anggota 2 Manajemen Hutan

Kehutanan 8 jam/

minggu

3 Objek Penelitian : Hutan Mangrove dan Masyarakat Sekitar Hutan Mangrove 4 Masa Pelaksanaan : 6 bulan

Mulai : bulan April 2021 Berakhir : bulan September 2021 5 Usulan Biaya : Rp 35.000.000,-

6 Lokasi Penelitian : Hutan Mangrove Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang.

7 Instansi lain yang terlibat (jika ada, dan uraikan apa kontributornya)

Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang memberikan izin, data dan informasi terkait lokasi penelitian.

8 Temuan yang ditargetkan

Target temuan utama dari penelitian ini adalah status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dan formulasi strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi pengambil kebijakan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan hutan mangrove dan melakukan pengelolaan secara berkelanjutan, sehingga mampu menjamin fungsi, manfaat, dan peran penting ekosistem hutan mangrove bagi kehidupan.

9 Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu

Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pengembangan ilmu pengetahuan dalam memanfaatkan potensi ekosistem hutan mangrove dan merumuskan strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan.

Oleh karena itu penelitian ini akan mendukung ilmu pengetahuan di bidang manajemen dan konservasi hutan mangrove.

Jurnal ilmiah yang menjadi sasaran untuk setiap penerima Hibah Penelitian Pascasarjana (Nasional/Internasional): Jurnal Nasional yang menjadi sasaran adalah Jurnal Sylva Lestari dan Jurnal Internasional yang menjadi sasaran adalah Journal of Forest and Evironmental Science.

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG ... iii

DAFTAR GAMBAR ...vi

DAFTAR TABEL ... vii

RINGKASAN ... viii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Khusus ... 2

1.3 Urgensi Penelitian ... 3

1.4 Target dan Luaran Penelitian ... 3

1.5 Kontribusi Terhadap Ilmu Pengetahuan ... 4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 1

2.1 Hutan Mangrove ... 1

2.2 Pengelolaan Sumberdaya Alam ... 2

2.3 Analisa SWOT ... 3

2.4 Peta Jalan/Road Map Penelitian ... 4

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 6

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 6

3.2 Objek dan Alat Penelitian ... 6

3.3 Pengumpulan Data ... 6

3.4 Analisis Data ... 8

3.4.1 Analisis Ekologi ... 8

3.4.2 Analisis Sosial Ekonomi... 9

3.4.3 Analisis Status Keberlanjutan ... 10

3.4.4 Perumusan Strategi... 13

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19

4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian ... 19

4.1.1 Gambaran Geohidrologi ... 21

4.1.2 Gambaran Geologi ... 22

4.1.3 Gambaran Klimatologi ... 23

(5)

4.2 Potensi Wilayah Kabupaten Tulang Bawang ... 24

4.2.1 Pertanian ... 25

4.2.2 Perkebunan ... 25

4.2.3 Peternakan ... 27

4.2.4 Perikanan ... 28

4.2.5 Industri ... 29

4.2.6 Sarana Transportasi ... 30

4.2.7 Wisata ... 31

4.3 Kecamatan Rawajitu Timur ... 32

4.4 Ekologi Hutan mangrove... 34

4.4.1 Komposisi Jenis Ekosistem Mangrove ... 34

4.5 Nilai Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove ... 35

4.5.1 Nilai Manfaat Langsung ... 35

4.5.2 Nilai Manfaat Tidak Langsung ... 36

4.5.3 Nilai Manfaat Pilihan... 36

4.6 Keberlanjutan Ekosistem Hutan Mangrove ... 38

4.6.1 Dimensi Ekologi ... 39

4.6.2 Dimensi Ekonomi ... 41

4.6.3 Dimensi Sosial ... 43

4.6.4 Dimensi hukum/kelembagaan ... 45

4.7 Strategi Pengembangan Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove ... 47

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Road map Penelitian ... 5

Gambar 2. Lokasi Penelitian (A) ... 6

Gambar 3. Petak contoh penelitian ... 7

Gambar 4. Kuadran analisis SWOT ... 16

Gambar 5. Diagram matrik SWOT ... 17

Gambar 6. Diagram alir penelitian ... 18

Gambar 7. Diagram SWOT ... 52

Gambar 8. Kondisi tajuk pohon mangrove Rhizopora sp ... 58

Gambar 9. Penandaan pohon pada plot pengamatan ... 58

Gambar 10. Pengukuran biodiversitas ... 59

Gambar 11. Pengukuran pada plot pengamatan ... 59

Gambar 12. Pohon mangrove jenis Avicennia sp ... 60

Gambar 13. Pengambilan data kuesioner kepada masyarakat sekitar hutan mangrove .... 60

Gambar 14. Pengambilan data kuesioner kepada petambak sekitar hutan mangrove ... 61

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Dimensi dan atribut pengelolaan ekosistem mangrove ... 10

Tabel 2. Kategori status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove... 12

Tabel 3. Nama-nama Kampung dalam wilayah Kecamatan Rawajitu Timur ... 33

Tabel 4. Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Rawajitu Timur ... 33

Tabel 5. Hasil Analisis Vegetasi Mangrove di Kecamatan Rawajitu Timur ... 34

Tabel 6. Perhitungan Faktor Internal, Unsur Kekuatan ... 50

Tabel 7. Perhitungan Faktor Internal, Unsur Kelemahan ... 50

Tabel 8. Perhitungan Faktor Eksternal, Unsur Peluang ... 51

Tabel 9. Perhitungan Faktor Eksternal, Unsur Ancaman ... 51

(8)

RINGKASAN

Kerusakan ekosistem mangrove saat ini menjadi ancaman yang serius bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat di sekitarnya. Pertumbahan penduduk dan kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat terutama di wilayah pesisir mengakibatkan adanya perubahan lahan dan pemanfaatan mangrove secara berlebihan. Luas hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sehingga menyebabkan degradasi lahan, rendahnya keanekaragaman hayati, rendahnya koordinasi antar instansi, dan kurangnya perlibatan pelaksanaan kegiatan dengan masyarakat dalam mengelola ekosistem mangrove menjadi tidak efektif. Upaya rehabilitasi ekosistem mangrove yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat saat ini belum membuahkan hasil yang nyata.

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kondisi ekologi, sosial, dan ekonomi ekosistem hutan mangrove, menentukan status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove, serta merumuskan strategi yang tepat dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove secara berkelanjutan. Kondisi ekologi dalam penelitian ini dianalisis menggunakan metode perhitungan indeks nilai penting (INP), kondisi sosial ekonomi dianalisis dengan metode deskriptif, status keberlanjutan ekosistem mangrove dianalisis menggunakan software Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH), pihak-pihak yang berkepentingan dan dampaknya pada ekosistem mangrove dianalisis dengan analisis stakeholder serta strategi pengelolaan ekosistem mangrove ditentukan menggunakan metode SWOT dan AHP.

Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dan formulasi strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi aktor penentu kebijakan untuk mengambil keputusan yang tepat agar mampu menjamin fungsi, manfaat, dan peran penting ekosistem hutan mangrove bagi kehidupan. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan mangrove dan menentukan strategi dalam perencanaan maupun pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi baik dari nilai manfaat langsung, nilai manfaat tidak langsung, nilai manfaat pilihan dan nilai keberadaannnya. Hutan mangrove di lokasi penelitian masih dikelola dengan cukup baik meskipun keberlanjutannya masih perlu diperbaiki dalam beberapa hal terutama dari dimensi sosial dan kelembagaan.

Strategi pengelolaan ekosistem mangrove yang dipilih adalah strategi S-O dengan cara memperbaiki pengolahan hasil hutan bukan kayu dari hutan mangrove khususnya dalam mendukung wisata, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian mangrove melalui pendidikan non formal maupun formal, mendorong desa untuk segera membuat perdes pengelolaan mangrove dan meningkatkan intensitas rehabilitasi mangrove dengan dukungan Pemerintah.

Kata Kunci: ekosistem, mangrove, pemanfaatan, pengelolaan, dan strategi.

(9)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan yang memegang peranan cukup penting bagi kehidupan. Wilayah ini memiliki kekayaan sumberdaya alam yang sangat potensial dan mampu memelihara produktivitas perairan. Secara sektoral, kekayaan yang dimiliki oleh wilayah pesisir dapat memberikan sumbangan yang besar bagi perekonomian masyarakat melalui perikanan, kehutanan, industri, pariwisata, pertambangan, dan sektor lainnya (Suwarsih, 2018). Transisi antara daratan dan lautan di wilayah tersebut telah membentuk ekosistem yang dapat memberikan berbagai macam manfaat. Salah satu komponen wilayah pesisir yang memiliki peran penting dengan beragam manfaat adalah ekosistem hutan mangrove.

Ekosistem hutan mangrove mempunyai fungsi startegis sebagai produsen primer yang mampu menopang dan menstabilkan ekosistem lain disekitarnya. Keberadaan ekosistem ini memiliki daya tarik tersendiri dari berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung ataupun meregulasi pemanfaatannya. Beragamnya manfaat ekosistem hutan mangrove dapat dirasakan secara ekologi, sosial, maupun ekonomi, tetapi manfaat tersebut juga dapat memberikan konsekuensi ancaman yang besar bagi keberadaannya. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi, menyebabkan perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan (Langoy et al., 2019). Akibatnya, daya dukung lingkungan terhadap aktivitas manusia akan semakin berkurang dan berdampak pada degradasi lingkungan.

Masalah kerusakan lingkungan, perubahan kebijakan, dan dinamika sosial ekonomi mendorong terjadinya penurunan fungsi ekosistem hutan mangrove. Beberapa stakeholder kunci seperti pemerintah, pengusaha, dan masyarakat yang berperan dalam pembangunan wilayah pesisir memiliki perbedaan motif dalam memanfaatkan ekosistem tersebut. Jika kebijakan pemanfaatannya tidak sesuai dengan kesepakatan antar stakeholder, maka kerusakan ekosistem ini dapat terjadi

(10)

secara terus-menerus. Hal ini perlu diatasi dengan cara merumuskan strategi dan kebijakan yang tepat untuk menciptakan kelestarian dengan tetap mempertahankan fungsi, manfaat, dan peranannya. Strategi kebijakan pengembangan ekosistem hutan mangrove perlu dibangun berdasarkan kondisi ekosistem saat ini, evaluasi pengelolaan, dan analisis kebutuhan pemangku kepentingan dalam pemanfaatan mangrove di masa depan (Fatima et al., 2018). Pemahaman elemen tersebut adalah dasar untuk mengembangkan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove, sehingga terjadi sinergi antara pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam.

Salah satu ekosistem hutan mangrove yang saat ini mengalami kerusakan dan memerlukan perhatian khusus adalah hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Menurut Miasto (2011), luas hutan mangrove di kabupaten tersebut mencapai 3.215,5 ha dan telah mengalami kerusakan sebesar

±587 ha, hingga saat ini belum ada penelitian lanjutan di lokasi tersebut. Kawasan ini telah lama dimanfaatkan untuk sektor perikanan budidaya khususnya tambak udang, sehingga dapat menyebabkan perubahan sistem ekologi kawasan setempat.

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk tetap mengoptimalkan pemanfaatan kawasan pesisir sebagai areal budidaya udang tanpa menyampingkan penurunan kualitas lingkungannya, maka diperlukan suatu upaya agar prokduktifitas lingkungan perairan tetap terjaga.

Berbagai upaya rehabilitasi sudah dilakukan oleh stakeholder terkait, tetapi belum memperoleh hasil yang maksimal. Upaya pengelolaan terhadap kawasan hutan mangrove masih terbatas (dana, sumberdaya manusia, sarana prasarana, dan ketersediaan informasi), sehingga tidak mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan mendorong keberlanjutan fungsi serta manfaat kawasan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan sebagai salah satu langkah untuk meminimalisir terjadinya kerusakan mangrove dan menentukan strategi yang tepat dalam perencanaan maupun pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

1.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dilakukannya penelitian ini yaitu:

(11)

1. Mengidentifikasi kondisi biofisik ekosistem hutan mangrove

2. Menganalisis kondisi sosial ekonomi masyarakat dan bentuk pemanfaatan yang dilakukan terhadap ekosistem hutan mangrove

3. Menganalisis status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove

4. Memformulasikan strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan

1.3 Urgensi Penelitian

Dengan mengetahui kondisi biofisik, kondisi sosial ekonomi masyarajat, bentuk pemanfaatan terhadap ekosistem hutan mangrove, dan status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove, maka tim peneliti akan memberikan rekomendasi berupa model strategi pengelolaan hutan mangrove kepada pengambil kebijakan di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Selain itu, dengan adanya model strategi pengelolaan hutan mangrove yang dihasilkan, diharapkan pengelolaan hutan mangrove di masa yang akan datang mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, pengusaha, maupun pemerintah daerah. Selanjutnya peneliti akan mempublikasikan hasil penelitian di jurnal internasional terindeks scopus dan jurnal nasional terakreditasi dikti.

1.4 Target dan Luaran Penelitian

Target temuan utama dari penelitian ini adalah status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dan formulasi strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi pengambil kebijakan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan hutan mangrove dan melakukan pengelolaan secara berkelanjutan, sehingga mampu menjamin fungsi, manfaat, dan peran penting ekosistem hutan mangrove bagi kehidupan.

Luaran dari penelitian ini meliputi laporan akhir penelitian, satu artikel ilmiah yang telah accepted di jurnal internasional terindeks scopus (Journal of Forest Idea) dan satu artikel ilmiah yang telah accepted di jurnal nasional (Jurnal Sylva Lestari).

(12)

1.5 Kontribusi Terhadap Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dalam memanfaatkan potensi ekosistem hutan mangrove dan merumuskan strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan. Data yang diperoleh dari penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan rujukan dan masukan dalam merencanakan pengelolaan hutan mangrove secara terpadu di Kabupaten Tulang Bawang. Oleh karena itu penelitian ini akan mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen dan konservasi hutan mangrove.

(13)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hutan Mangrove

Ekosistem hutan mangrove adalah keanekaragaman hayati wilayah pesisir, didominasi oleh jenis tumbuhan terestrial yang dapat menginvasi serta tumbuh di lingkungan air laut (Rosyada et al., 2015; Warpur, 2016). Hutan mangrove disebut juga hutan payau karena terdapat di daerah perairan dengan kadar garam/ salinitas yang cukup tinggi. Kemampuan hutan mangrove yang mampu hidup dan tumbuh di bibir pantai serta merambah ke zona air laut merupakan salah satu ciri khas yang tidak dimiliki oleh jenis tumbuhan lain (Idrus et al., 2018). Terdapat beragam organisme hidup di dalamnya dan saling berinteraksi (Mustika et al., 2017). Adanya sumber daya yang melimpah di hutan mangrove, menyebabkan daya tarik tersendiri dari berbagai pihak untuk memanfaatkannya secara langsung maupun tidak langsung.

Hutan mangrove adalah sumberdaya alam wilayah pesisir yang memiliki fungsi dan manfaat yang besar (Hairunnisa et al., 2018). Manfaat sosial ekonomi hutan mangrove sangat berpengaruh dalam menunjang kehidupan masyarakat sekitar karena mampu menambah pendapatan masyarakat (Setiawan et al., 2017). Jika ditinjau dari segi ekologinya, hutan ini memiliki manfaat yang dapat mendukung keseimbangan ekosistem di wilayah pesisir, seperti pencegah intrusi air laut, penahan abrasi, penyerap karbon, habitat biota laut, dan sebagai stabilisator garis pantai serta pelindung pantai dari angin, badai, dan gelombang (Warpur, 2016;

Samosir dan Restu, 2017; dan Kusrini et al., 2018).

Pemanfaatan hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan manusia harus diperhatikan agar dapat memberikan manfaat yang mampu menunjang kesejahteraan dengan melihat aspek lingkungannya, sehingga manfaat yang diperoleh pun dapat lestari dan berkelanjutan (Niapele dan Hasan, 2017). Apabila pemanfaatan hutan yang dilakukan secara berkesinambungan kurang bijaksana, maka dikhawatirkan dapat mengurangi fungsi hutan (Batubara dan Affandi, 2017).

Dampak negatif yang timbul akibat pemanfaatan hutan mangrove secara berlebihan

(14)

adalah terjadinya kerusakan fisik ataupun hilangnya ekosistem mangrove, sehingga berdampak pada penurunan fungsi ekologi, sosial, dan ekonomi hutan mangrove.

Secara umum, kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan karena kerusakan yang terjadi terus meningkat dari tahun ke tahun (Purwowibowo dan Gianawati, 2016). Saat ini tercatat sekitar 48% hutan mangrove Indonesia dalam keadaan rusak sedang dan 23% lainnya rusak berat (Damanik, 2014).

Kontribusi masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hutan mangrove merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan potensi yang dapat diperoleh dari hutan mangrove (Burhanuddin, 2016).

2.2 Pengelolaan Sumberdaya Alam

Pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia secara umum masih berbasis pemerintah. Pada rezim ini pemerintah bertindak sebagai pelaksana mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan, sedangkan kelompok-kelompok masyarakat pengguna (user groups) hanya menerima informasi tentang produk- produk kebijakan dari pemerintah. Pengelolaan berbasis pemerintah ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu aturan-aturan yang dibuat kurang terinternalisasi dalam masyarakat sehingga sulit ditegakkan dan biaya transaksi yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaan dan pengawasan sangat besar sehingga menyebabkan lemahnya penegakan hukum (Sutrisno, 2014).

Pengelolaan berbasis masyarakat sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dengan pengambilan keputusan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan berada di tangan kelembagaan lokal di daerah tersebut. Biaya pelaksanaan dan pengawasan dalam pengelolaan berbasis masyarakat jauh lebih rendah daripada pengelolaan berbasis pemerintah (Dewi, 2018). Hal ini disebabkan pengambilan keputusan dan inisiatif dilakukan pada tingkat lokal sehingga semakin menyentuh aspirasi masyarakat. Model pengelolaan berbasis masyarakat akan memberikan insentif bagi masyarakat untuk mandiri dalam wadah kelembagaan lokal. Pengawasan terhadap pelaksanaan lokal

(15)

pun lebih efektif karena dilakukan oleh masyarakat secara lembaga dan tidak individual.

Peran serta masyarakat secara langsung dalam kegiatan pembangunan merupakan bentuk interaksi sosial dalam menentukan keberhasilan di setiap sektor. Hal ini juga dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat untuk pelestarian dan motivasi masyarakat untuk bermitra dengan pemerintah dalam kegiatan tersebut. Pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan adalah kegiatan yang tepat dalam pemanfaatan lahan dan hasil hutan di daerah pesisir karena merupakan langkah yang baik untuk mempertahankan dan mengurangi kerusakan ekosistem mangrove (Davinsy et al., 2015).

2.3 Analisa SWOT

Analisis SWOT dapat digunakan secara kuantitatif dan deskriptif.

Penggunaan analisis SWOT secara deskriptif yaitu hanya menjelaskan bagaimana pengembangan suatu organisasi tanpa menjelaskan strategi faktor-faktor internal dan eksternalnya. Sedangkan penggunaan analisis SWOT secara kuantitatif yaitu menjelaskan dengan terperinci faktor-faktor internal dan eksternalnya dengan menggunakan bobot dan bagaimana strategi pengembangan tersebut bermanfaat bagi suatu perusahaan atau organisasi (Sirappa dan Sirappa, 2019).

Strategi adalah cara untuk mencapai suatu tujuan yang dicapai perusahaan atau suatu organisasi baik untuk tujuan dalam skala jangka panjang ataupun jangka pendek serta program tindak lanjut dan prioritas alokasi sumberdaya. Strategi merupakan suatu cara untuk menanggapi kondisi faktor eksternal yang berupa peluang dan ancaman, dan faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan yang dapat mempengaruhi suatu perusahaan atau organisasi (Rangkuti, 2014).

Penggunaan metode SWOT digunakan dalam penyusunan strategi yang akan digunakan untuk tujuan tertentu, analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) merupakan salah satu metode analisis strategi pengembangan. Analisis SWOT mengidentifikasi berbagai faktor untuk merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat

(16)

memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (David, 2006).

Analisis SWOT dilakukan dengan fokus pada dua hal (David, 2009) yaitu:

1. Fokus mendasar pertama adalah peluang yaitu situasi atau kondisi yang menguntungkan didalam lingkungan perusahaan, serta ancaman yaitu situasi yang tidak menguntungkan didalam lingkungan perusahaan.

2. Fokus mendasar kedua adalah identifikasi terhadap kekuatan internal yaitusumberdaya, keterampilan atau keunggulan-keunggulan terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani perusahaan, serta kelemahan internal yaitu keterbatasan atau kekurangan dalam sumberdaya.

Faktor internal dan faktor eksternal berasal dari bahasa Inggris intern dan ekstern.

Untuk faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam terdiri dari dua poin yaitu kekuatan dan kelemahan (Rangkuti, 2014). Keduanya akan berdampak lebih baik dalam sebuah penelitian ketika kekuatan lebih besar dibandingkan kelemahan (Zakarial dkk., 2018). Dengan demikian kekuatan internal yang maksimum jelas akan memberikan hasil penelitian yang jauh lebih baik (Rangkuti, 2008). Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar suatu perusahaan atau organisasi (Puspanigrum dan Agustina, 2016). Faktor eksternal pada analisis SWOT terdiri dari peluang dan ancaman. Adanya peluang serta ancaman ini tentu saja akan memberikan data yang harus dimasukkan dalam jurnal penelitian sehingga menghasilkan strategi untuk menghadapinya (Santoso dkk, 2016).

2.4 Peta Jalan/Road Map Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan tidak terlepas dari penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh peneliti lain. Penelitian Miasto (2011) menemukan bahwa hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang mengalami kerusakan mencapai ± 587 ha dengan luas total hutan mangrove sebesar 3.215,5 ha. Qohar et al. (2017) menyebutkan bahwa luas tutupan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2015 adalah 22% dari luas kabupaten tersebut. Penelitian yang sama juga

(17)

dilakukan oleh HN (2019) yang menyatakan bahwa luas hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang adalah ± 1000 ha. Penurunan luas hutan mangrove di kabupaten ini terjadi secara terus-menerus, sehingga perlu dilakukan pengelolaan hutan mangrove secara tepat dan terpadu untuk mempertahankan keberagaman manfaat, fungsi, dan perananannya (Ana et al., 2015).

Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, maka diperlukan penelitian lanjutan mengenai strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan. Penelitian terkait sosial kapital masyarakat pengelola hutan mangrove menghasilkan kesimpulan bahwa hanya ada sedikit masyarakat yang berpartisipasi dalam pengelolaan mangrove secara lestari yang biasanya kegiatan tersebut berasal dari proyek pemerintah (Qurniati et al., 2017). Dalam penelitian kesehatan hutan mangrove di Lampung Timur diperoleh hasil bahwa status kesehatan hutan mangrove berada dalam kondisi sedang (Apriliyani et al., 2020) Data yang telah diperoleh dapat dijadikan dasar kebijakan bagi pemerintah agar dapat meminimalisir terjadinya kerusakan dan melakukan perencanaan yang tepat terkait pengembangan dan pengelolaan ekosistem hutan mangrove di Kabupaten Tulang Bawang. Road map penelitian disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Road map Penelitian

partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove secara lestari masih rendah (2017)

Status kesehatan hutan mangrove dalam kondisi sedang (2020)

Strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove (2021)

(18)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2021 di Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa hutan mangrove di lokasi tersebut mengalami kerusakan yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan pengelolaan terpadu secara berkelanjutan. Lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Lokasi Penelitian (A)

3.2 Objek dan Alat Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah hutan mangrove, flora dan fauna penyusun ekosistem mangrove, pemangku kepentingan, dan masyarakat wilayah pesisir di Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Alat yang digunakan meliputi GPS, kamera, alat tulis, tali rafia, pita meter, binokuler, haga meter, rollmeter, tally sheet, kuesioner, dan tape recorder.

3.3 Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi kondisi biofisik ekosistem mangrove (luas tutupan mangrove dan

A

(19)

keanekaragaman hayati), kondisi sosial ekonomi dan bentuk pemanfaatan masyarakat sekitar hutan mangrove, serta keberlanjutan ekosistem hutan mangrove.

Data sekunder yang diperlukan meliputi keadaan umum lokasi penelitian, data statistik penduduk, data kebijakan pemerintah terkait perencanaan tata ruang dan pengelolaan ekosistem hutan mangrove, serta referensi penunjang lainnya terkait penelitian.

Luas tutupan mangrove diperoleh melalui observasi langsung di lapangan dan Citra Satelit Landsat, sedangkan keanekaragaman flora dan fauna diperoleh menggunakan petak contoh yang berukuran 20x20 m (Gambar 3).

Gambar 3. Petak contoh penelitian

Keterangan:

a. Ukuran 2x2 m digunakan untuk pengambilan sampel tumbuhan bawah b. Ukuran 5x5 m digunakan untuk pengambilan sampel pancang

c. Ukuran 10x10 m digunakan untuk pengambilan sampel tiang d. Ukuran 20x20 m digunakan untuk pengambilan sampel pohon.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan bentuk pemanfaatan ekosistem hutan mangrove diperoleh melalui metode survei responden dengan teknik wawancara terstruktur dan mendalam kepada pemangku kepentingan dan masyarakat menggunakan kuesioner. Pemilihan responden untuk wawancara terstruktur menggunakan simple random sampling, sedangkan untuk wawancara mendalam menggunakan snowball sampling. Data sekunder diperoleh dari dinas, lembaga, atau instansi terkait seperti pemerintahan desa, pemerintahan kecamatan, Badan Pusat Statistik, dan mengutip dari berbagai literatur yang telah tersedia dalam bentuk buku ataupun artikel penelitian.

(20)

3.4 Analisis Data

3.4.1 Analisis Ekologi

Data tutupan mangrove dianalisis menggunakan software ArcGIS dengan teknik overlay yang digunakan untuk membandingkan keadaan mangrove sebelumnya dengan keadaan mangrove saat ini. Struktur komunitas penyusun mangrove dianalisis dengan menggunakan perhitungan kerapatan jenis, kerapatan relatif, frekuensi jenis, frekuensi relatif, dominansi jenis, dominansi relatif, dan indeks nilai penting. Perhitungan mengenai analisis vegetasi ekosistem hutan mangrove disajikan pada rumus-rumus berikut ini.

a) Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) K = Jumlah suatu spesies

Luas petak contoh

KR = Kerapatan satu jenis

Kerapatan seluruh jenis x 100%

b) Frekuensi (F) dan Frekuensi Relatif (FR) F = Jumlah plot ditemukannya spesies

Jumlah total plot pengamatan

FR = Frekuensi suatu jenis

Frekuensi seluruh jenis x 100%

c) Dominasi (D) dan Dominansi Relatif (DR) D = Jumlah bidang dasar spesies

Jumlah total luas petak contoh

DR = Dominansi suatu jenis

Dominansi seluruh jenis x 100%

d) Indeks Nilai Penting (INP) INP = KR + FR + DR

(21)

3.4.2 Analisis Sosial Ekonomi

Data sosial ekonomi masyarakat dianalisis secara deskriptif terhadap peran serta dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan kawasan mangrove, penilaian masyarakat terhadap keberadaan kawasan mangrove dan upaya perbaikan lingkungan, serta kebutuhan stakeholders. Selain itu, analisis deskriptif juga dilakukan terhadap kebijakan, kelembagaan, dan kegiatan pengelolaan hutan mangrove yang telah dan akan dilakukan dimasa mendatang. Bentuk pemanfaatan ekosistem hutan mangrove dianalisis menggunakan pendekatan nilai manfaat langsung dan nilai manfaat tidak langsung. Kemudian analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan aktivitas masyarakat yang melakukan pemanfaatan terhadap sumber daya ekosistem hutan mangrove.

Nilai manfaat langsung (direct use value) ekosistem hutan mangrove untuk setiap jenis pertahun yang diperoleh oleh masyarakat dianalisis melalui pendekatan metode harga pasar (market value method). Metode ini merupakan suatu cara penilaian atau upaya kuantifikasi barang dan jasa sumber daya alam maupun lingkungan ke nilai uang, terlepas ada tidaknya nilai pasar (market value) terhadap barang dan jasa tersebut (Triyanti et al., 2010). Nilai keberadaan (existence value) merupakan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat setempat atas adanya keberadaan ekosistem hutan mangrove setelah manfaat lainnya di keluarkan (Purnamawati et al.,2015). Nilai keberadaan ekosistem hutan mangrove dianalisis menggunakan metode kontingensi (contingent valuation method) untuk mengetahui keinginan membayar (willingness to pay) masyarakat atas keberadaan ekosistem hutan mangrove.

Perhitungan yang digunakan untuk menganalisis data ekonomi masyarakat sekitar ekosistem hutan mangrove antara lain:

1. Nilai Manfaat Langsung

Keterangan:

DUV = Nilai manfaat langsung (Rp/tahun) T = Produksi olahan mangrove (kg/tahun)

DUV = (T x H) – B

(22)

H = Harga jual (Rp/kg)

B = Biaya operasional (Rp/tahun)

Nilai manfaat langsung masing-masing produk olahan mangrove kemudian dijumlahkan, sehingga diperoleh total nilai manfaat langsung ekosistem hutan mangrove di Kecamatan Rawajitu Timur.

2. Nilai Eksistensi

Nilai eksistensi ekosistem hutan mangrove Kecamatan rawajitu Timur dapat dihitung deng menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

EV = Existence value/nilai keberadaan (Rp/tahun) n = Responden (orang)

EVi = Nilai eksistensi responden ke-i

3.4.3 Analisis Status Keberlanjutan

Keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dianalisis dengan pendekatan multidimensional scalling (MDS) menggunakan 4 dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Metode ini dilakukan dengan menentukan atribut dari masing-masing dimensi yang dapat merepresentasikan keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove. Masing-masing atribut memiliki skor yang berkisar antara 0, 1, dan 2.

Penentuan dan penilaian atribut keberlanjutan pengelolaan ekosistem mengrove dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Dimensi dan atribut pengelolaan ekosistem mangrove

Dimensi Atribut Baik Buruk Skor Kriteria Nilai

Ekologi Tekanan lahan mangrove

2 0 0 Terjadi alih fungsi lahan mangrove tanpa

memperhatikan lingkungan 1 Perubahan luas lahan

mangrove secara alami 2 Tidak terjadi perubahan luas

lahan mangrove Kerapatan

mangrove

2 0 0 Jarang (<1000 pohon/ha) 1 Sedang (1000-1500

pohon/ha)

EV =∑ni=1(EVi/n)

(23)

Dimensi Atribut Baik Buruk Skor Kriteria Nilai 2 Tinggi (>1500 pohon/ha) Keragaman

ekosistem mangrove

2 0 0 Rendah

1 Sedang 2 Tinggi

Abrasi pantai 2 0 0 Terjadi abrasi

2 Belum terjadi abrasi Zonasi

pemanfaatan lahan mangrove

2 0 0 Tidak tersedia

1 Tersedia, tetapi belum dipatuhi

2 Tersedia dan dipatuhi Ekonomi Pemanfaatan hasil

ekosistem mangrove oleh masyarakat

2 0 0 Rendah (<10% KK)

1 Sedang (10-30% KK) 2 Tinggi (>30% KK) Rata-rata

penghasilan masyarakat

2 0 0 Lebih rendah dari UMR

1 Sama dengan UMR 2 Lebih tinggi dari UMR Anggaran

pemerintah untuk pengelolaan mangrove

2 0 0 Rendah

1 Sedang 2 Tinggi Aksesibilitas

mangrove

2 0 0 Rendah (sulit diakses) 1 Sedang (dapat diakses dengan prasarana yang belum memadai) 2 Tinggi

Sosial Pengetahuan masyarakat tentang manfaat ekosistem mangrove

2 0 0 Rendah

1 Sedang 2 Tinggi Partisipasi

masyarakat dalam pengelolaan mangrove

2 0 Rendah

1 Sedang 2 Tinggi Banyaknya

masyarakat yang melakukan kerusakan mangrove

2 0 2 Rendah

1 Sedang 0 Tinggi

Tingkat pendidikan masyarakat

2 0 0 SD

1 SMP

2 SMA

Rehabilitasi mangrove

2 0 0 Tidak ada

1 Ada, tetapi tidak dikelola dengan baik

2 Ada dan dikelola dengan baik Kelembaga

an

Koordinasi antar stakeholder

2 0 0 Rendah

1 Sedang 2 Tinggi Komitmen pemda

untuk konservasi

2 0 0 Rendah

1 Sedang 2 Tinggi Keterlibatan

lembaga masyarakat

2 0 0 Masyarakat dan lembaga

tidak terlibat dalam pengawasan dan evaluasi

(24)

Dimensi Atribut Baik Buruk Skor Kriteria Nilai 1 Masyarakat dan lembaga

hanya terlibat secara prosedural

2 Masyarakat dan lembaga terlibat aktif dalam memberikan informasi , proses, mekanisme, pengawasan, dan evaluasi Kelembaga

an

Ketersediaan peraturan formal pengelolaan ekosistem mangrove

2 0 0 Tidak tersedia peraturan pengelolaan lingkungan 1 Tersedia, tetapi tidak

dipahami masyarakat 2 Ada peraturan, tersosialisasi

dengan baik, dan dipahami masyarakat

Tingkat kepatuhan masyarakat

2 0 0 Tidak Patuh

1 Sedang 2 Patuh

Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan software Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) untuk mengetahui status keberlanjutan ekosistem hutan mangrove (Saman, 2017). Status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove berdasarkan nilai indeks analisis RAPFISH dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kategori status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove Nilai Indeks Kategori

<25 Tidak berkelanjutan 26-50 Kurang berkelanjutan 51-75 Cukup berkelanjutan 76-100 Berkelanjutan Sumber: Santoso (2012)

Atribut paling sensitif akan memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan dalam bentuk Root Mean Square (RMS). Selanjutnya strategi pengelolaan ekosistem mangrove ditetapkan menggunakan analisis SWOT dan AHP yang hasilnya adalah perumusan strategi alternatif dan program prioritas yang mendukung keberlanjutan pengelolaan mangrove.

(25)

3.4.4 Perumusan Strategi

Analisis Strength, Weaknesses, Oppurtunities, dan Threats (SWOT). Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengelola. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (oppurtunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses), dan ancaman (threats) yang dihadapi pengelola ekosistem hutan mangrove. Perencanaan strategis menganalisis faktor eksternal dan internal berdasarkan kondisi yang ada saat ini. Strategi untuk menghadapi faktor eksternal ditetapkan dengan mengetahui ancaman (threats) dan peluang (opportunities), sedangkan faktor internal dianalisis dengan mengetahui kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). digunakan untuk menentukan strategi yang tepat dalam pengembangan pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tulang Bawang. Tahapan analisis SWOT sebagaimana penjelasan berikut ini.

a. Pengumpulan Data dan Analisis SWOT

Pada tahap ini dilakukan analisis lingkungan pengelolaan ekosistem mangrove di Kecamatan Rawa Jitu Timur. Lingkungan usaha ini dibagi menjadi dua yaitu lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal merupakan lingkungan di luar yang relatif bukan dalam kendali pengelolaan ekosistem mangrove. Sedangkan lingkungan internal merupakan lingkungan di dalam pengelolaan ekosistem mangrove yang relatif dapat dikendalikan sendiri. Menurut David (2006), analisis lingkungan eksternal usaha meliputi analisis ekonomi, analisis sosial, budaya, demografi, dan lingkungan, analisis politik, pemerintah, dan hukum, analisis teknologi, dan analisis persaingan. Adapun analisis lingkungan eksternal usaha meliputi analisis manajemen, analisis pemasaran, analisis keuangan/akuntansi, analisis produksi/operasi, analisis penelitian dan pengembangan, serta analisis sistem informasi manajemen.

b. Matriks Faktor Strategi Internal

Menurut Rangkuti (2008) cara penentuan faktor strategi internal:

(26)

1. Menyusun 5 sampai dengan 15 faktor kekuatan dan kelemahan usaha perhutanan sosial dalam kolom 1.

2. Menilai bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Pemberian nilai didasarkan pada perbandingan berpasangan antara dua faktor secara relative berdasarkan kepentingan atau pengaruhnya terhadap usaha perhutanan sosial.

Bila lebih penting nilainya 1, bila sama penting nilainya 2 dan bila tidak penting nilainya 3.

3. Menghitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan bersangkutan. Pemberian nilai rating untuk faktor kekuatan bersifat positif (kekuatan yang semakin besar diberi rating +4, tetapi jika kekuatannya kecil, diberi rating +1). Pemberian nilai rating kelemahan adalah kebalikannya.

Misalnya, jika nilai kelemahannya sangat besar, ratingnya adalah 1.

Sebaliknya, jika nilai kelemahannya sedikit ratingnya 4.

4. Mengalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.

5. Memberikan komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung (pada kolom 5).

6. Menjumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya

c. Matriks Faktor Strategi Eksternal

Menurut Rangkuti (2008) cara penentuan faktor strategi eksternal sebagai berikut:

1. Menyusun 5 sampai dengan 15 faktor peluang dan ancaman pengelolaan ekosistem mangrove dalam kolom 1.

(27)

2. Menilai bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Pemberian nilai didasarkan pada perbandingan berpasangan antara dua faktor secara relatif berdasarkan kepentingan atau pengaruhnya terhadap pengelolaan ekosistem mangrove. Bila lebih penting nilainya 1, bila sama penting nilainya 2 dan bila tidak penting nilainya 3.

3. Menghitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 (outstandimg) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan faktor tersebut terhadap kondisi pengelolaan ekosistem mangrove. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4, tetapi jika peluangnya kecil, diberi rating +1). Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya, jika nilai ancamannya sangat besar ratingnya adalah 1 dan jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4.

4. Pada kolom 4, mengalikan bobot kolom 2 dengan rating pada kolom 3.

5. Memberikan komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung (pada kolom 5).

6. Menjumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan. Nilai total ini menunjukan bagaimana pengelolaan ekosistem mangrove bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya.

d. Matriks SWOT

Matriks SWOT merupakan alat pencocokan yang digunakan dalam mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengelolaan ekosistem hutan mangrove di Kecamatan Rawajitu Timur. Setelah melakukan analisis matriks IFE dan EFE selanjutnya ialah hasil analisis matriks IFE dan EFE diolah pada diagram atau kuadran SWOT. Hasil untuk mencari kuadran SWOT pada faktor internal ialah dengan cara jumlah skor total pada faktor kekuatan dikurang dengan jumlah skor total faktor kelemahan setelah itu diketahuilah nilai pada faktor internal, sedangkan pada faktor eksternal ialah jumlah skor total pada faktor ancaman dikurang dengan jumlah skor total faktor peluang

(28)

setelah itu diketahuilah nilai pada faktor eksternal. Hasil kuadran SWOT dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Kuadran analisis SWOT

Cara menentukan strategi yang paling berpengaruh untuk diterapkan pada pengelolaan ekosistem hutan mangrove ialah menggunakan kuadran analisis SWOT. Kuadran analisis SWOT ini ditentukan dengan menghubungkan titik-titik sesuai posisi yang ada pada beberapa rekomendasi strategi dengan menggunakan hasil skor strategi pengelolaan pada matriks IFAS dan EFAS. Setelah didapatkan posisi kuadran, maka didapatkan alternatif rekomendasi strategi pengelolaan hutan mangrove. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi masyarakat dan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dan mengembangkan empat tipe strategi (Rangkuti, 2014).

Faktor-faktor strategis perusahaan disusun dengan matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis (Gambar 5).

(29)

IFAS Strengths (S)

Menentukan 5-10 faktor kekuatan internal

Weakness (W)

Menentukan 5-10 faktor

kelemahan internal EFAS

Opportunies (O) Menentukan 5-10 faktor peluang eksternal

Strategi SO

Menciptakan strategi yang

menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

Strategi WO

Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfatkan peluang Threats (T)

Menentukan 5-10 faktor ancaman eksternal

Strategi ST

Menciptakan strategi yang

menggunakan kekuatan untuk mengatasi

ancaman

Strategi WT

Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan

menghindari ancaman.

Sumber: Rangkuti (2008)

Gambar 5. Diagram matrik SWOT

Keempat alternatif strategi yang dimaksud berdasarkan matrik SWOT adalah:

1. Strategi SO (Strength-Opportunity): strategi ini menggunakan kekuatan internal untuk meraih peluang-peluang yang ada di luar stakeholders.

2. Strategi WO (Weakness-Opportunity): strategi ini bertujuan untuk memperkecil kelemahan-kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang-peluang eksternal.

3. Strategi ST (Strength-Threat): melalui strategi ini stakeholders berusaha untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman eksternal.

4. Strategi WT (Weakness-Threat): strategi ini merupakan taktik untuk bertahan dengan cara mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal.

(30)

Diagram alir penelitian ini disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Diagram alir penelitian .

(31)

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian

Setelah Pemerintah Pusat menetapkan Undang-undang No 49 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Mesuji dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Tulang Bawang Barat, maka terjadi pemekaran 2 (dua) daerah otonomi baru, dan Kabupaten Tulang Bawang sebagai Kabupaten Induk.

Kabupaten Tulang Bawang berada pada koordinat 40° 08' – 04° 41' Lintang Selatan dan 105° 09' – 105° 55' Bujur Timur. batas wilayah administrasi Kabupaten Tulang Bawang adalah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Mesuji.

 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur.

 Sebelah Timur : berbatasan dengan kawasan pantai (Laut Jawa).

 Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Kabupaten Tulang Bawang mempunyai beberapa kecamatan. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Dentes Teladas (± 19,78 %), sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Meraksa Aji (± 2,73 %). Akan tetapi dari segi kepadatan penduduk eksisting, penduduk lebih terkonsentrasi di pusat-pusat kegiatan, seperti di Kecamatan Banjar Agung, Kecamatan Banjar Margo, Kecamatan Rawajitu Selatan serta Kecamatan Menggala. Sedangkan kecamatan lainnya masih rendah yang menandakan perlunya suatu intervensi perencanaan untuk mencapai efisiensi penggunaan sumber daya dan efisiensi alokasi distribusi sumber daya.

Secara topografi Kabupaten Tulang Bawang dapat dibagi dalam 4 (empat) unit topografi, yaitu :

a. Daerah dataran hingga dataran bergelombang

Merupakan daerah dataran sampai dengan dataran bergelombang, berada pada kemiringan antara 15% – 30% yang dimanfaatkan untuk area pertanian, perkebunan dan cadangan pengembangan transmigrasi.

(32)

b. Daerah Rawa

Daerah Rawa terdapat di sepanjang Pantai Timur dengan ketinggian 0 – 1 m yang merupakan muara dari Way Tulang Bawang dan Way Mesuji. Rawa-rawa tersebut terdapat di 3 (tiga) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Rawajitu Timur, Kecamatan Rawajitu Selatan dan Kecamatan Dente Teladas. Daerah- daerah tersebut merupakan areal yang cukup produktif untuk pengembangan budidaya tambak dan perikanan laut.

c. Daerah River Basin

Di Kabupaten Tulang Bawang terdapat 2 River Basin yang utama yaitu River Basin Tulang Bawang dan River Basin sungai-sungai kecil lainnya. Daerah ini merupakan daerah cekungan yang memungkinkan untuk diisi air pada musim penghujan membentuk rawa-rawa atau lebung-lebung. Areal River Basin Way Tulang Bawang dengan anak-anak sungainya membentuk pola aliran

”dendritic”. Luas daerah ini 10.150 Km² dengan panjang 753 Km yang digunakan untuk pengembangan tambak udang.

d. Daerah Alluvial

Daerah ini tertetak di pinggir pantai timur yang merupakan bagian hilir (down steem) dari sungai besar yaitu Way Tulang Bawang dan Way Mesuji yang dimanfaatkan untuk pelabuhan dan areal persawahan pasang surut. Di lokasi Rawa Pitu telah dimanfaatkan areal seluas ± 36.000 Ha dan ± 20,000 Ha (Rawa Pitu I dan II).

Kabupaten Tulang Bawang beriklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau berganti sepanjang tahun. Temperatur rata-rata 31°C. Kabupaten Tulang Bawang merupakan daerah amat basah, dengan perbandingan devisit air 0 – 1,5 bulan. Kenyataan ini menunjukan bahwa budidaya sawah dengan harapan produksi sedang atau kurang optimal, atau apabila diusahakan secara luas memerlukan usaha dan pertimbangan ketat dalam menentukan jadwal tanamannya. Guna mendapatkan keandalan dalam budidaya sawah perlu dikembangkan jenis padi lokal dengan suplai air berasal dari tadah hujan.

Kabupaten Tulang Bawang merupakan daerah yang mengalami siklus musiman dengan dominasi kondisi basah di mana bulan Desember merupakan bulan terbasah di Kabupaten Tulang Bawang. Daerah basah terdapat di bagian

(33)

Barat atau hulu sungai, sedangkan daerah yang kering terdapat di bagian Timur mendekati pantai. Kondisi topografi Kabupaten Tulang Bawang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya hamparan rawa di daerah sepanjang aliran sungai sebelah hulu yang mengindikasikan adanya sistem drainase alam yang kurang baik secara permanen.

Ketersediaan air yang paling rendah di Kabupaten Tulang Bawang terjadi pada bulan Juli dan Agustus sehingga pada bulan-bulan tersebut pada umumnya terjadi kekeringan khususnya di wilayah pantai. Hal ini ditandai dengan ketersediaan hujan yang relatif rendah (75 mm/bulan) dan lama hari tidak hujan mencapai 16 hari (rerata). Kondisi ini mempengaruhi kualitas air setempat terutama pada kualitas air sungai yang ditandai dengan adanya intrusi air laut yang semakin ke hulu. Hal ini akan berpengaruh terhadap situasi dan kondisi peri kehidupan masyarakat dan tata kehidupan flora dan fauna.

4.1.1 Gambaran Geohidrologi

Kabupaten Tulang Bawang memiliki potensi yang tinggi untuk perkembangan sektor pertanian sebab sebagian besar sungai-sungai yang mengalir dari barat ke timur berpotensi untuk pengembangan irigasi, sungai-sungai yang dimaksud adalah Way Tulang Bawang. Way Tulang Bawang merupakan sungai yang membelah dari barat ke timur di wilayah Kabupaten Tulang Bawang, dengan panjang 136 Km dan daerah alir 1.285 Km2.

Secara umum, kondisi sistem hidrologi di suatu daerah dapat ditinjau dari kajian Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS merupakan suatu bentang alam yang dibatasi oleh pemisah alami berupa topografi pegunungan/perbukitan dan berfungsi mengumpulkan, menyimpan dan mengalirkan air, sedimen dan unsur hara ke sungai utama yang akhirnya bermuara pada satu outlet tunggal.

Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Kabupaten Tulang Bawang memiliki potensi Sumber Daya Alam yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat luas terutama masyarakat Kabupaten Tulang Bawang dan salah satunya potensi Sumber

(34)

Daya Alam itu ialah air bawah tanah yang mempunyai peran sangat penting dalam memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan rakyat dalam memanfaatkan air bersih, pembangunan industri dan sektor-sektor lain.

Belum adanya aturan yang mengatur tentang pemanfaatan air bawah tanah, mengakibatkan pengeboran sumber daya air kurang terkontrol oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang baik pengeboran air bawah tanah yang mempunyai izin maupun yang tidak mempunyai izin. Berkurangnya debit air akan mempengaruhi sektor-sektor perekonomian dan sektor kebutuhan masyarakat akan air bersih, sehingga mengakibatkan kehawatiran terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat di daerah Kabupaten Tulang Bawang untuk waktu jangka panjang.

4.1.2 Gambaran Geologi

Berdasarkan peta Geologi Lembar Menggala, 1985 (Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, P3G, Bandung), diketahui wilayah Tulang Bawang secara geologis tersusun oleh batu-batuan dari berbagai unsur, mulai dari yang termuda sampai yang tertua, diantaranya adalah :

a. Endapan Rawa (Qs) : terutama terdiri material lumpur, lanau, dan pasir.

Endapan rawa ini dijumpai di sepanjang pantai timur, kiri kanan daerah aliran Way Tulang Bawang. Secara administrasi termasuk wilayah Kecamatan Rawajitu Timur, Rawajitu Selatan, Gedung Meneng dan sekitar Penawar Tama;

b. Endapan Aluvial (Qa) : terdiri dari material kerakal, kerikil, pasir, lempung dan gambut. Penyebaran endapan aluvial ini terutama terdapat di daerah dataran dan di sekitar aliran sungai;

c. Pasir Kwarsa (Qak) : Pasir kasar kerikilan sampai sedang, lepas, penyusun dominan mineral kwarsa. Penyebarannya setempat yaitu sekitar Gedung Jaya, Rawa Ragil, Hargo Mulyo, Bumiratu wilayah Kecamatan Rawajitu Timur dan Kecamatan Dente Teladas sekitar aliran Way Palembang anak sungai Way Seputih;

(35)

d. Formasi Terbanggi (Qpt) : terdiri dari batu pasir dengan sisipan batu lempung.

Formasi batuan ini diantaranya ditemui di sebagian wilayah Gedung Meneng dan Rawajitu Selatan;

e. Formasi Kasai (Qtk) : terdiri dari tuf, batu lempung tufaan, batu lempung, batu pasir dan konglomerat. Formasi ini ditemui setempat dengan penyebaran yang luas, disekitar wilayah Gedung Aji, Menggala, Penawar Tama, dan Banjar Agung;

f. Formasi Muara Enim (Tmpm) : terdiri dari perselingan batu lempung pasiran dan batu lanau, tufaan dengan sisipan batu pasir tufaan, dan batu lempung hitam. Terutama dijumpai di bagian utara wilayah Kabupaten Tulang Bawang sekitar Penawar Tama, Banjar Margo dan Banjar Agung.

Secara garis besar tanah di wilayah Tulang Bawang dapat dikelompokkan menjadi 8 (delapan) jenis tanah (Masterplan Pengendalian Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten Tulang Bawang, 2008), yaitu: Dystropepts, haplodux, hydraquents, kanha pludults, sulfaquents, sulfihemists, tropaquents, tropaqueps dan tropop samment.

4.1.3 Gambaran Klimatologi

Kabupaten Tulang Bawang beriklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau berganti sepanjang tahun, temperatur rata-rata 31°C. Kabupaten Tulang Bawang merupakan daerah amat basah, dengan perbandingan devisit air 0 – 1,5 bulan. Kenyataan ini menunjukan bahwa budidaya sawah dengan harapan produksi sedang atau kurang optimal, atau apabila diusahakan secara luas memerlukan usaha dan pertimbangan ketat dalam menentukan jadwal tanamannya. Guna mendapatkan keandalan dalam budidaya sawah perlu dikembangkan jenis padi lokal dengan suplai air berasal dari tadah hujan.

Kabupaten Tulang Bawang merupakan daerah yang mengalami siklus musiman dengan dominasi kondisi basah dimana bulan Desember merupakan bulan terbasah di Kabupaten Tulang Bawang. Daerah basah terdapat di bagian Barat atau hulu sungai, sedangkan daerah yang kering terdapat di bagian Timur mendekati pantai. Kondisi topografi Kabupaten Tulang Bawang merupakan salah satu faktor

(36)

yang menyebabkanterbentuknya hamparan rawa di daerah sepanjang aliran sungai sebelah hulu yang mengindikasikan adanya sistem drainase alam yang kurang baik secara permanen.

Ketersediaan air yang paling rendah di Kabupaten Tulang Bawang terjadi pada bulan Juli dan Agustus sehingga pada bulan-bulan tersebut pada umumnya terjadi kekeringan khususnya di wilayah pantai. Hal ini ditandai dengan ketersediaan hujan yang relatif rendah (75 mm/bulan) dan lama hari tidak hujan mencapai 16 hari (rerata). Kondisi ini mempengaruhi kualitas air setempat terutama pada kualitas air sungai yang ditandai dengan adanya intrusi air laut yang semakin ke hulu. Hal ini akan berpengaruh terhadap situasi dan kondisi peri kehidupan masyarakat dan tata kehidupan flora dan fauna.

4.2 Potensi Wilayah Kabupaten Tulang Bawang

Menempati posisi geografis yang strategis di wilayah Sai Bumi Ruwa Jurai, Kabupaten Tulang Bawang, memiliki prospek yang cerah dalam mengembangkan daerah di masa mendatang. Dengan memiliki luas wilayah sekitar 346.632 hektare, kabupaten ini memiliki banyak potensi. Bukan hanya sektor pertanian dalam arti luas yang menjadi andalan perekonomian warganya, Kabupaten Tulang Bawang juga menjadi lokasi industri besar, termasuk Sugar Group, salah satu perusahaan produsen gula terbesar di Indonesia.

Dengan luas lahan 3.466,32 kilometer persegi atau 9,79 persen luas wilayah Provinsi Lampung, Kabupaten Tulang Bawang memang masih mengandalkan sektor pertanian. Namun, sejumlah perusahaan besar (PMA-PMDN) dan perusahaan kecil juga beroperasi di kabupaten ini. Kabupaten Tulang Bawang selama beberapa tahun terakhir ini terus mendorong berbagai sektor untuk memacu pertumbuhan ekonomi masyakarat. Kabupaten Tulang Bawang memiliki strategi tetap tangguh di sektor pertanian, namun terus memacu tumbuhnya industri manufaktur yang memberi nilai tambah lebih besar.

Potensi-potensi yang ada di Kabupaten Tulang Bawang, dapat dijabarkan sebagai berikut :

(37)

4.2.1 Pertanian

Dengan memiliki potensi wilayah yang cukup luas, pembangunan sector pertanian di Kabupaten Tulang Bawang dilakukan dalam rangka memantapkan/meningkatkan swasembada pangan, ditempuh melalui kegiatan intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi dengan kegiatan meliputi kegiatan pembibitan, penanaman/ budidaya, pasca panen, pengolahan dan pemasaran serta kegiatan-kegiatan lainnya. Pada sektor pertanian, dari potensi lahan pertanian yang ada yaitu 149.420 Ha, terdiri dari lahan basah 47.315 Ha dan lahan kering 102.104 Ha, serta didukung 79.709 Keluarga Tani dan 1.184 Kelompok Tani, produktivitas sektor ini rata-rata setiap tahunnya cukup signifikan dan mengisyaratkan bahwa Kabupaten Tulang Bawang sampai saat ini, masih memiliki ketahanan pangan yang cukup kokoh.

Dari berbagai komoditas pertanian yang ada, produktivitas sektor ini didominasi terutama oleh komoditas unggulan diantaranya padi, jagung, dan ubi kayu. Gambaran produktivitasnya yaitu untuk tanaman padi sawah, luas panen mencapai 36.714 Ha dengan produksi 178.705 ton, padi ladang luas panen 4.376 Ha dengan produksi 21.314,40 ton, luas panen kedelai 298 Ha dengan produksi 346,46 ton, dan ubi jalar luas panen 197 Ha dengan produksi 5.178,96 ton serta ubi kayu luas panen 20.668 Ha dengan produksi 481.329,17 ton.

4.2.2 Perkebunan

Secara statistik, potensi pengembangan perkebunan di Tulang Bawang sangat menjanjikan. Adapun usaha-usaha yang dilakukan bagi pengembangan perkebunan di Tulang Bawang, ditempuh melalui budidaya perkebunan industri perkebunan, dan pengembangan usaha investasi perkebunan dengan cara Pola Perusahaan Besar Swasta (PBS), Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR), serta Pola Kemitraan (kemitraan melalui KUD dalam berbagai usaha dengan perkebunan besar).

(38)

Sasaran yang akan dicapai dalam pembangunan di bidang perkebunan adalah tercapainya target penerimaan Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) sub sektor perkebunan, tercapainya luas areal perkebunan yang maksimal melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tulang Bawang, swadaya petani dan pihak swasta/investor, tercapainya kualitas SDM perkebunan, terjalinnya kerjasama pembangunan pabrik pengolahan karet rakyat antara koperasi dengan swasta, dan pelaksanaan pembangunan perkebunan pola kemitraan Kelapa Sawit dan Tebu.

Berbagai produk perkebunan yang potensial dan sedang dikembangkan di Tulang Bawang antara lain: Karet, Kelapa, Kelapa Sawit dan Tebu, dengan hasil produksi perkebunan, diperkirakan lebih kurang Rp. 1,933 trilyun per tahun atau Rp. 161 milyar per bulan. Pada sektor perkebunan, pembangunan di sektor ini potensi lahan perkebunan yang ada, komoditas unggulan adalah karet dan kelapa sawit. Produktivitas dua komoditas ini mengalami peningkatan setiap tahunnya dan bahkan telah menjadi mata pencaharian utama sekitar 54% dari jumlah masyarakat Tulang Bawang. Adapun data terakhir untuk karet produksinya mencapai 48.315,21 Ton dan Kelapa Sawit 14.717,05 Ton Karenanya dengan besarnya potensi sektor perkebunan, maka saat ini di Kabupaten Tulang Bawang juga sedang dikembangkan pemanfaatan sumberdaya perkebunan. Wilayah pengembangan komoditi unggulan tanaman pangan dan perkebunan tersebar di daerah Kabupaten Tulang Bawang dengan rincian sebagai berikut :

a) Padi, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Rawapitu, Rawajitu Selatan, Menggala, Menggala Timur, Gedung Aji Baru, Penawar Tama dan Gedung Aji.

b) Jagung, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Menggala, Menggala Timur, Gedung Meneng, dente Teladas, Banjar Baru, Rawajitu Selatan dan Gedung Aji Baru.

c) Ubi Kayu, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Menggala, Menggla Timur, Gedung Meneng, Dente Teladas, Banjar Baru, Banjar Agung, Banjar Margo, Penawar Tama, Gedung Aji Baru, Penawar Aji, Gedung Aji dan Meraksa Aji.

Gambar

Gambar 2. Lokasi Penelitian (A)
Gambar 4. Kuadran analisis SWOT
Diagram alir penelitian ini disajikan pada Gambar 6.
Tabel 4. Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Rawajitu Timur
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Sungai Burung, Kabupaten Tulang Bawang, pesisir timur Propinsi Lampung, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan ekosistem

Melalui Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP), Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gresik berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/ kegagalan serta

MOHAMMAD SUBHAN, Analisis Tingkat Kerusakan dan Strategi Pengelolaan Mangrove di Kawasan Suaka Perikanan Gili Ranggo Teluk Seriwe Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara

Berdasarkan jawaban pada masing- masing indikator pemandu wisata dalam berkomunikasi di tempat kerja secara umum bahwa masing-masing indikator saat ini sudah berada pada

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu isolasi fungi simbion mangrove Avicennia sp., uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri MDR, kultur dan identifikasi

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Desa Sidodadi Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.. Program Pasca Sarjana

Nama/NIM Dibiayai oleh : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Jaya Sesuai dengan Kontrak Penelitian Nomor : .../PER-P2M/UPJ/..... BULAN dan

Biaya Produksi pertanian organik Seperti sebelumnya faktor-faktor ini kemudian ditanyakan kembali kepada experts mana yang sesuai dan disepakati bersama, sehingga dengan perhitungan